Gadis kecil yang masih berumur lima tahunan itu berlari kecil menuju taman kota. Senyuman ceria tampak jelas di wajahnya yang lugu dan polos. Seragam sailor-nya terlihat basah karena keringat. "Michi! Ayo pulang! Kaa-san sudah menunggu kita di rumah!" Gadis itu tak mempedulikan bocah lainnya yang sedari tadi mengejarnya. Ia terus berlari memasuki hutan dan bersembunyi dari satu pohon ke pohon lainnya untuk mencari tempat yang aman.
Tap, tap, tap.
Kepalanya menengok ke kanan lalu ke kiri sambil bersembunyi di semak-semak.
Ia menghela napas lega karena tak ada orang lagi selain dirinya.
"Natsuki, coba mainkan lagu yang kau buat kemarin." Namun dugaan gadis yang tadi sempat dipanggil 'Michi' itu salah. Ternyata ada dua orang di sana tengah duduk di bawah pohon sakura dengan beralaskan tikar. Sepertinya mereka tengah piknik... atau latihan memainkan alat musik karena ia sempat mendengar si wanita berumur kira-kira dua puluh tahunan itu menyuruh bocah laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Michi untuk memainkan sebuah lagu?
"Tapi, aku tidak yakin lagunya bisa enak didengar," kata bocah tersebut.
"Kau pasti bisa, mana muridku bernama Natsuki yang kukenal percaya diri, hm?"
Bocah berambut pirang dengan sedikit ikal itu menatap wanita yang tersenyum lembut padanya, bermaksud untuk memberi semangat. Mau tidak mau, ia pun berdiri dan mengambil sebuah biola yang masih tersimpan dengan rapi di tasnya. Michiko Sawaragi—gadis yang dipanggil 'Michi' tadi—menatap mereka berdua dari balik semak-semak. Gadis itu sedikit penasaran dengan kemampuan dari bocah bernama Natsuki tersebut karena umur mereka sepantaran. Ia berpikir, apa bocah itu benar-benar bisa memainkannya dan lagi, apa bisa Natsuki membuat lagu yang enak didengar sementara dirinya masih berumur lima tahunan.
Terlihat Natsuki kecil—tanpa kacamata—menghirup udara karena sedikit gugup.
Dengan pembawaan yang tenang, ia mulai memainkan biolanya.
Suara lembut terdengar dan membuat Michiko tertegun untuk sesaat. Perasaan... apa ini? Tanpa sadar, ia menatap telapak tangan kanannya yang gemetar. Sebuah bayangan yang samar-samar terlihat membuatnya memejamkan mata. Perlahan senyuman manis tampak di wajah Michiko saat musik yang dimainkan bocah bernama Natsuki itu mempercepat temponya, walau terdengar ada nada yang kurang sesuai.
Set! Srak! Bruk!
"A-aw! Ittai na..."
Michiko meringis kecil setelah tas gendongnya ditarik ke belakang dengan lumayan keras sehingga membuat gadis kecil itu terjatuh dari posisi berjongkoknya. Ia menatap kesal pada laki-laki yang lebih tua tiga tahun darinya itu. "Nii-chan... sakiiit," keluhnya dengan mata berkaca-kaca.
"Geez, kau ini. Ayo pulang sebelum Kaa-san mengomel padaku," paksanya.
Raut wajah cemburut tampak di wajah gadis berambut indigo itu.
"Michi, kau mau kakakmu ini dimarahi Kaa-san, hm?"
"Biarin, Nii-chan ini yang kena marah."
Sang kakak memaksa Michiko untuk bangun dengan menarik tangan kanannya. Tanpa diduga, ia membopong si adik yang masih berwajah cemberut di bahu kanannya dan membuat dirinya kena pukulan bertubi-tubi di pungungnya. "Michi, sakit tahu!" ringis bocah berambut perak dengan iris mata amethyst itu.
"Uuugh! Turunkan akuuu!" Michiko terus memberontak dengan suara pelan.
"Tidak, nanti kau malah kabur lagi."
"Uuugh." Kedua mata Michiko tak pernah lepas dari sosok Natsuki kecil yang sepertinya tidak terganggu dengan percakapan dirinya dengan si kakak. "Kau pasti bisa melaluinya, Natsuki Shinomiya," bisiknya dan membuat sang kakak yang mendengarnya tersenyum tipis.
Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli
Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan
Rate : M (ya! pada akhirnya rating dinaikan! #Laugh)
Genre : General, Romance, Drama, Friendship
Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.
Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.
I Need You, S! (Part I)
Michiko Sawaragi terdiam di depan pintu kamarnya dengan tangan kanan menggantung di kenop pintu. Ingatan masa lalu saat dirinya pertama kali bertemu dengan seorang Natsuki Shinomiya kembali muncul di benaknya. Beberapa saat kemudian, tangan itu terlihat gemetar. Raut wajahnya pun berubah seperti orang yang baru saja melihat hantu.
Cklek.
"Baka! Lepaskan akuuu!"
Teriakan Shou Kurusu di belakangnya membuat Michiko menengok. "Kurusu-san?" Sweat drop nampak di belakang kepalanya begitu melihat apa yang membuat laki-laki termuda di STARISH itu berteriak. "S-Shinomiya-san...?"
Natsuki terlihat tengah memeluk Shou dari belakang dengan wajah gemas.
"U-ugh! Aku t-tidak bisa b-bernapas, baka Natsuki!" seru Shou lagi.
"Uwaaa! Shou-chan, kawaii!" Laki-laki bertubuh jangkuk tersebut seperti menulikan pendengarannya dari seruan teman sekamarnya itu untuk melepaskan diri dari pelukan mautnya. Dari belakang mereka, nampak sosok Cecil Aijima dengan pakaian santainya menatap Michiko lalu pada kedua teman sekamarnya itu secara bergantian.
"Ohayou gozaimasu," sapa gadis tersebut sopan plus dengan wajah datar.
"Uwaaa! Aku tak tahu kalau ada Michi-chan di sini." Natsuki tersenyum.
Shou terbatuk-batuk setelah Natsuki melepas pelukannya. "Baka! Kau mau membuatku mati, hah!" serunya galak dan hanya ditanggapi wajah innocent dari laki-laki tersebut. Ia pun pergi ke lantai bawah tanpa membalas sapaan Michiko.
"Ohayou gozaimasu, Michiko."
Tatapan tajam yang semula dialamatkan pada Cecil, kini berubah setelah ia menyapa balik padanya. "Ayo ke ruang makan, satu jam lagi kita harus sudah sampai di studio," ajak Michiko sambil menatap jam tangan hitamnya lalu tersenyum manis. Senyuman itu tentu saja berefek pada Natsuki dan Cecil, mereka terlihat sedikit blushing.
.
.
.
Anggota STARISH memperhatikan sosok Michiko yang bertingkah seperti sedang memikirkan sesuatu. Kedua alisnya pun terlihat berkerut. Sesekali ia bergerak ingin memakan sup miso yang lagi-lagi dibuat oleh Haruka, namun tidak jadi disentuhnya.
"Kau kenapa sih, Sawaragi? Tingkahmu makin aneh," kata Shou blak-blakkan.
"Aku sedang berpikir. Diamlah."
Walau nadanya terkesan datar, tapi sukses membuat laki-laki itu agak emosi.
"Cepat dimakan supnya sebelum dingin, Shou-chan, Michi-chan," tegur Natsuki.
Suasana kembali tenang seperti sebelumnya, walau atmosfer sedikit lebih mencekam. Sang komposer hanya menghela napas seraya menyuap sesendok sup miso. Selalu seperti ini tiap pagi. Apa tidak apa-apa, ya? pikirnya khawatir. Sesaat ia mendengar sosok gadis di sampingnya bergumam tidak jelas sebelum memulai sarapannya. Haruka melirik sebentar ke arahnya, namun yang dilirik terlihat ikut melirik ke arah yang lain. Wajah Michiko sedikit menyiratkan rasa cemas dan takut pada... Natsuki? Kenapa dengan Michi-chan? bingung Haruka dalam hati. Teman sekamarnya itu memang sedikit aneh kalau diperhatikan.
"Little Heiress, mau nambah sup misonya?" tanya Ren tiba-tiba.
Michiko yang sedari tadi melirik terus ke arah Natsuki hanya menggeleng.
Kedua mata Masato terus memperhatikan gadis berambut indigo itu dalam diam. Aneh.
"Ittoki-kun," panggil Michiko tanpa mengalihkan pandangannya pada semangkuk sup miso di hadapannya. Merasa yang dipanggil menengok, ia pun ikut menengok dan menatap kedua iris ruby itu dengan wajah datar. "Tolong lebih serius lagi dari yang kemarin. Apalagi, scene yang akan diambil nanti adalah scene yang ditunggu para penggemar."
"Eeeh? D-ditunggu?" Sontak Otoya menengok pada Tokiya.
"Apa ada yang aneh di wajahku?" tanya Tokiya tanpa menoleh.
"B-bukan apa-apa," jawab laki-laki enerjik itu dengan nada gugup. Kini ia takkan bisa bernapas tenang lagi begitu Michiko mengingatkannya pada scene di mana dirinya dan Tokiya harus melakukan adegan kissing secara tidak sengaja seperti yang tertulis di naskah dan novel. Sejak pertama baca bagian itu, firasatku jadi tidak enak. Adegannya persis seperti 'waktu itu', pikir Otoya pundung sambil menangis dalam hati.
"Kau harus bisa berakting secara profesional, Ittoki," nasihat Masato.
Otoya menengok pada teman sekelasnya di Class A itu dengan wajah ingin menangis.
"Ne, Ikki, Ichi." Ren yang selesai dengan sarapannya terlihat ingin menggoda Otoya dan Tokiya, lebih tepatnya sih hanya Otoya. Ia menyangga dagu lalu tersenyum miring. "Aku penasaran, apa kejadian di novel itu benar-benar terjadi pada kalian atau tidak. Kalau dilihat-lihat kalian juga sangat dekat, padahal bukan teman sejak kecil seperti aku dan Hijirikawa."
"Akting kalian benar-benar terlihat alami," kagum Cecil.
"Ahaha, m-mungkin itu karena ada Tokiya."
Tokiya nampak melirik sebentar ke arah teman sekamarnya tersebut.
"Kalau kubilang 'nyata', bagaimana?" tanya Michiko dengan wajah usil. Perkataan gadis itu sukses membuat jantung kedua orang yang dibicarakan berhenti mendadak. Dalam hati Michiko tertawa lepas melihat wajah mereka yang samar-samar memerah. Anggota STARISH lainnya dan Haruka menatap mereka berdua dengan wajah yang sulit diartikan.
"E-eh? Serius Otoya-kun dan Tokiya-kun...?" kata Natsuki dan langsung tutup mulut.
"Sulit dipercaya ternyata Ikki dan Ichi..." Ren memasang wajah kaget yang dibuat-buat.
"Mana mungkin dia bisa tahu apa yang terjadi antara kami. Bertemu dan bicara secara langsung saja baru-baru ini, kan?" Tokiya merapikan sedikit vest berwarna putih yang dipakainya seraya bangkit dari kursi. "Maaf, aku ada urusan di kantor agensi, jadi aku duluan," pamitnya dan justru membuat yang lain jadi curiga.
"Heeeh? Gerak-gerik Tokiya terlihat mencurigakan," kata Shou seraya melirik pada teman yang sehati dan satu pemikiran dengannya, Otoya.
Diam. Hanya itu yang dilakukan Otoya, dalam hati ia merutuk.
Cecil menatapnya sambil menyuap satu sendok sup miso.
._. S for Shinomiya '-'
Natsuki Shinomiya menatap serius pada buku dongeng berjudul 'Alice in Wonderland' di atas kasurnya. Saat ia membalikkan halamannya, wajah Natsuki langsung berubah begitu melihat seekor manusia setengah kelinci di halaman tersebut tengah memakan wortel bersama Alice. Dalam benaknya kini tergambar dirinya yang menjadi kelinci, lalu teman seperjalannya, yaitu Alice diperankan oleh Haruka. Selanjutnya, mereka bertemu seekor serigala kecil dan langsung mengingatkannya pada Shou Kurusu, teman bermainnya sejak kecil.
Cklek. Pintu kamarnya terbuka secara tiba-tiba.
"Fyuuuh. Akhirnya terbebas juga dari tugas," kata Shou seraya berjalan ke kasurnya.
Tidak seperti biasanya, Natsuki tidak menyambutnya dan terus membaca.
Heh? Tumben dia tidak menyambut kedatanganku? Biasanya langsung meluk, inner Shou ngeri. Ia pun berniat untuk membersihkan diri namun tertahan begitu melihat ekspresi Natsuki yang terlihat seperti orang yang ingin kehilangan jiwanya. "Oi, Natsu—"
"—serigala!"
"...h-hah?"
Mendadak laki-laki yang masih memakai kemeja sekolah itu berseru dan membuat teman sekamarnya bingung. Nampaknya ia mulai berimajinasi, seolah-olah orang yang berada di hadapannya itu adalah serigala jadi-jadian seperti gambar yang ada di buku dongeng. Walau ia berseru 'serigala', tapi Natsuki tidak terlihat takut sama sekali melainkan memandang Shou dengan mata berbinar-binar.
"A-apa katamu barusan? Serigala? Maksudmu itu aku?" tanya Shou.
Dari nadanya, ia terdengar tengah menahan emosi.
Natsuki mengangguk dengan polosnya."Shou-chan! Coba kau pakai kos—"
"—iya da!" Belum sempat Natsuki menyelesaikan perkataannya, Shou langsung memotong. Apalagi setelah melihat kostum aneh—yang entah dari mana datangnya itu—di tangan Natsuki.
"Eeeh? Padahal Shou-chan akan terlihat lucu kalau pakai kostum serigala ini."
Twitch! "Sudah berapa kali kubilang, aku tidak suka dibilang 'lucu', Natsuki!"
"Eeeh? Sekali saja, Shou-chan. Ya, ya, ya?"
"Iya!"
"Sho-cha~n." Pandangan memelas tertuju pada Shou dan membuatnya emosi. "Aku lelah, ingin istirahat!" seru Shou sambil berjalan ke kamar mandi. Ia menyempatkan diri untuk mengambil pakaian baru di lemari.
"Kalau begitu, aku akan buatkan kue kering dan teh hijau untuk Shou-chan!"
Deg! Dengan gerakan patah-patah, Shou menengok.
"J-jangan, Natsuki! Cukup teh hijau saja!" serunya.
"Eeeh? Kenapa lagi memangnya, Shou-chan?" tanya Natsuki setelah menaruh buku dongengnya ke atas bantal untuk ia baca lagi nanti.
Orang ini... benar-benar menginginkanku untuk mati apa, ya? inner Shou.
"Baiklah, aku akan buatkan chocolate cookies saja."
"IYAAA!"
"CUT!" seru Minato seraya tersenyum pada kedua pemain tersebut. Ia sempat menengok pada si penulis novel Maji Love STARISH dengan pandangan heran. "Kalian bisa beristirahat, Shou-kun, Natsuki-kun," suruhnya.
"Hai," jawab keduanya.
"Maaf sebelumnya, tiba-tiba harus improve karena Natsuki salah adegan," kata Shou.
Minato menggelengkan kepalanya. "Tak apa. Michi juga kelihatan nggak keberatan dengan improfisasi kalian. Sepertinya Natsuki-kun sedang ada masalah, ya?" Ia memandangi sosok Natsuki yang sudah pergi duluan ke gakuya.
"Entahlah, dia memang seperti itu kalau melihat hal-hal yang lucu."
"Hahaha, oke, oke. Kau boleh istirahat sekarang, Shou-kun."
Shou pun pergi mengikuti Natsuki setelah membungkukkan badan.
"Tumben kau tidak menghentikan syuting saat pemain tidak sesuai dengan dialog dalam naskah?" tanya Minato sambil menekan tombol replay.
"Tidak masalah, selama mereka bisa berimprofisasi dengan baik."
Lagi-lagi, tingkah Michiko membuatnya bingung.
"Aku ingin ke gakuya sebentar untuk mengecek, apa Ichinose-san sudah datang atau belum."
Minato hanya mengangguk pelan. "Tolong bilang pada pemain Kelas S untuk bersiap sepuluh menit lagi." Gadis itu pergi setelah menganggukkan kepala menuju ruang tunggu atau biasa disebut green room atau dressing room untuk para artis. "Ada apa lagi dengan anak itu? Biasanya Michi selalu menuntut kesempurnaan dari semua pengambilan gambar," gumamnya seraya menatap serius pada naskah.
.
.
.
Cklek. Pintu gakuya terbuka, terlihat sosok Michiko Sawaragi dengan wajah datarnya. Ia memandangi satu persatu anggota STARISH dan menghela napas lega begitu melihat Tokiya Ichinose sedang membaca naskah. "Untuk pemain Kelas S, bersiaplah sepuluh menit lagi," katanya dengan nada datar.
"Maaf, Sawaragi. Tadi tiba-tiba aku dan Natsuki harus improve," kata Shou pelan.
"Tidak masalah, yang penting di situ kalian terlihat akrab," sahut Michiko.
Perlahan gadis itu berjalan menghampiri Haruka lalu duduk di sampingnya. "Aku merasa tidak bersemangat untuk hari ini," gumam Michiko sambil menaruh kepalanya di atas kedua tangan yang ia lipat di atas meja rias.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu sejak pagi?" tanya Haruka.
"Sebenarnya... ada."
"Apa itu?"
"Jangan menguping pembicaraan khusus para gadis, Aijima-san," katanya tiba-tiba setelah merasa diperhatikan atau bisa dibilang Cecil ingin menguping pembicaraannya dengan Haruka. Yang diperingatkan malah tersenyum dan berkata, "ketahuan ya? Baiklah." Ia pun mengambil jarak dari kedua gadis tersebut.
"Jadi?" Haruka tersenyum, walau dalam hati tidak yakin bahwa Michiko mau bercerita.
"Shinomiya-san terlihat aneh sejak berangkat ke sini."
"Eh?"
'-' Natsuki x Shou x Satsuki ._.
Sosok Natsuki Shinomiya terus berjalan lurus mengikuti koridor. Pandangan matanya pun terlihat kosong, seperti tak ada kehidupan di sana. Ia terus berjalan dan terhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Setelah terdiam untuk beberapa detik, Natsuki masuk ke dalam.
Cklek.
Helaan napas terdengar dari mulutnya setelah pintu tertutup.
Perlahan ia berjalan menuju westafel. Natsuki menatap pantulan dirinya di cermin.
"Padahal aku sudah berjanji untuk tidak terbawa suasana," lirihnya. Karena terlalu kesal, Natsuki menonjok cermin tepat di pantulan wajahnya. Walau tidak pecah, tapi tangannya sukses memerah. Ia terpaku beberapa menit saat pantulan dirinya sedikit bergerak. Terlebih setelah ia melihat pantulannya itu tersenyum miring. Natsuki yakin, sangat yakin kalau dirinya tidak pernah tersenyum semenyeramkan itu dan mampu membuatnya membeku.
"S-siapa...?"
Tanpa sadar, Natsuki menyentuh bibir dari pantulan dirinya.
Ya, sosok itu masih tersenyum miring sampai Natsuki mengedipkan matanya sekali dan pantulan itu pun berubah. Terlihat sosok dirinya yang seperti orang terpuruk di cermin. Ia menghela napas seraya melepas kacamatanya untuk membasuh muka. Tubuh itu tak bergerak setelahnya.
.
.
.
Syuting kembali berlanjut di Kelas S. Di sana terlihat Shou, Ren, dan Tokiya bersama siswa-siswi lainnya tengah menunggu sang guru datang. Minato menyuruh Ryuuya untuk masuk. Dengan gaya cool khas miliknya, ia pun masuk sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Ohayou," sapanya.
"Ohayou, Hyuuga-sensei."
"Aku akan mengabsen lebih dulu."
Tak butuh lama untuk Ryuuya mengabsen anak muridnya.
"Hari ini, kelas kita kedatangan siswa baru. Sebenarnya nggak sih karena memang baru hari ini dia bisa datang ke Saotome Gakuen." Guru muda tersebut berjalan ke arah pintu. "Aijima, kau bisa masuk sekarang," katanya pada seseorang yang tengah bersandar di daun pintu.
Di monitor yang Minato lihat, Cecil terlihat tengah tersenyum misterius sebelum masuk ke dalam Kelas S.
"Perkenalkan dirimu."
"Hai."
Ren melipat kedua tangannya ke depan dada sambil memperhatikan Cecil. Shou menatap malas ke luar jendela dengan tangan kanan terus memutar pensil di atas mejanya. Sementara itu, Tokiya terlihat tidak memperdulikannya, walau pandangannya terus tertuju ke depan. Ada pun siswi-siswi yang berbisik tentang Cecil.
"Hajimemashite. Watashi wa Cecil Aijima. Pangeran dari Kerajaan Agnapolis."
"Huh? Pangeran? Aku belum pernah dengar tentang Agnapolis," sahut Ren.
"Kerajaan Agnapolis ada di tengah-tengah padang pasir dan berada jauh dari sini," jelas Cecil sambil tersenyum.
"Heh? Bukannya kau Pangeran? Kenapa malah datang ke Saotome?" tanya Shou tidak suka. "Aku ke sini bukan tanpa alasan." Kedua alis Shou berkerut, pertanda ia tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Aku ingin menjemput tunanganku yang katanya 'bersembunyi' di sini."
Tokiya hanya memutar kedua bola matanya, bosan.
Brak! Tiba-tiba Ryuuya menggebrak meja dan membuat Kelas S terdiam. Tiga detik berlalu, Michiko menatap Ryuuya dengan alis naik sebelah dari tempatnya duduk. "Seharusnya Hyuuga-san langsung membentak," gumamnya. Laki-laki itu malah berjongkok di balik meja. Semua kru dan anggota STARISH bengong seketika. Baik sang sutradara dan penulis naskah Maji Love STARISH yang sedari tadi duduk di depan monitor hanya menepuk kening.
"Astaga, Ryuuya. Sudah kubilang jangan terlalu keras saat menggebrak meja," kata Minato pada teman satu universitasnya itu.
"Sorry! I-ittai..." Ryuuya terdengar meringis karena tangannya memerah.
"Minato-san," panggil seorang kru dengan tergopoh-gopoh memasuki ruangan.
"Ada apa?"
Ia memberikan sebuah kacamata pada Minato. "Shinomiya-san tiba-tiba menghilang. Sudah kucari ke mana-mana tapi aku hanya menemukan kacamata ini di kamar mandi," jelasnya.
"Eeeh!? Menghilang!? Tanpa kacamata!?" pekik Shou.
"G-gawat," kata Otoya dan langsung keluar mencari Natsuki, begitu juga Tokiya.
Michiko berdiri dari kursinya. "H-hei! Apa yang terjadi?"
"Kita harus mencari Satsuki!" seru Shou dengan nada panik.
"S-Satsuki?" bingung Michiko, Minato, dan Cecil karena belum tahu tentang kepribadian ganda Natsuki yang akan berubah jika kacamatanya dilepas. "Akan kujelaskan nanti, yang penting sekarang harus cari Sat—maksudku Natsuki sebelum ada korban!" Mendengar ucapan Shou, sontak Michiko dan pemain lainnya mencari laki-laki tersebut.
To Be Continued
Ohayahooo! Kyo mo genki ka nyaaa? #HAYATOModeOn Yeah! I'm back. Gimana dengan chap ini? :) Bisa dibilang ini adalah prolog dari chap khusus Natsuki Shinomiya dan chap depan adalah epilognya (mungkin). Jujur, saya susah dapetin feel dari pairing ShouNatsuki ini dan jadilah adegan mereka yang agak aneh. Bahkan mereka terlihat OOC #Pundung Saya gak sabar mau ngetik chap selanjutnya karena terlalu suka dengan alur dari chap tersebut. :D
Special thanks for readers and reviewers yang sudah menyempatkan untuk baca fic gaje ini; NaRin RinRin (ahaha, iya :D. Dia berubah-ubah sikapnya, tergantung mood. Suka kasian sendiri liat anggota STARISH dan Haruka yang tiap hari ngadepin bocah macam Michi *Lol sip, sip! Ini udah di-update :D); Rizuki Satoru (:D tapi gak parah kok, mental saya juga belum siap(?) yaaa, abis dari awal saya punya feel untuk buat cinta segitiga antara TokiOtoCe jadi begitulah #BingungSendiri eh? Rizuki-san tau aja saya masih sekolah, ahaha. Sip, sip! Ini udah di update :D)
Chap depan adalah chap yang terduga *Lol Jadi tunggu aja ya. Masih tentang Natsuki kok dan saya mau ngingetin lagi. Alurnya akan sama seperti di anime-nya yaitu tiap 2-3 chapter itu akan mengulas tentang satu chara, walau Michiko nyempil sedikit (atau banyak?) Ya, maklumin aja ya. Di sini heroine yang sesungguhnya itu Michiko Sawaragi. :D
Ya! Terakhir, saya dengan senang hati akan menerima kritik maupun saran dari para readers, tapi lewat review ya. :) lewat PM juga bisa... oke, thank you, ne! Chau! #Kabur
