"Shinomiya-san tiba-tiba menghilang. Sudah kucari ke mana-mana dan hanya menemukan kacamata ini di kamar mandi," jelasnya.

"Eeeh!? Menghilang!? Tanpa kacamata!?" pekik Shou.

"G-gawat," kata Otoya dan langsung keluar mencari Natsuki, begitu juga Tokiya.

Michiko berdiri dari kursinya. "H-hei! Apa yang terjadi?"

"Kita harus mencari Satsuki!" seru Shou dengan nada panik.

"S-Satsuki?" bingung Michiko, Minato, dan Cecil karena belum tahu tentang kepribadian ganda Natsuki yang akan berubah jika kacamatanya dilepas. "Akan kujelaskan nanti, yang penting sekarang harus cari Sat—maksudku Natsuki sebelum ada korban!" Mendengar ucapan Shou, sontak Michiko dan pemain lainnya mencari laki-laki tersebut.


Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli

Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan

Rate : M (ya! pada akhirnya rating dinaikan! #Laugh)

Genre : General, Romance, Drama, Friendship

Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.

Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.


I Need You, S! (Part II)


Michiko terus berlari di belakang Shou dan anggota STARISH lainnya sambil membuka pintu ruangan yang mereka lewati untuk menemukan sosok Natsuki. Kemeja putih berlapis sweater hitam tanpa lengan yang dipakainya ia gulung sampai sikut karena keringat dingin. Gadis itu terdiam sebentar saat Shou menghentikan langkahnya dan berusaha untuk menelpon teman sekamarnya tersebut. Namun tak ada jawaban selain suara operator.

"Shou-chan, se—" Sadar bahwa dirinya memanggil laki-laki itu dengan nama depan, ia langsung menutup mulutnya. "Mm, m-maksudku Kurusu-san, sebenarnya ada apa dengan Shinomiya-san?"

Yang ditanya tertegun lalu berbalik membelakanginya. "Tak apa."

"Eh?" Raut bingung nampak di wajah manis Michiko.

"Tak apa jika kau memanggilku dengan panggilan itu lagi."

Untuk beberapa detik mereka terdiam, Michiko samar-samar melihat rona merah di wajah Shou yang tengah menelpon Natsuki sedari tadi. Laki-laki itu terlihat frustasi karena tidak diangkat. Senyum tipis terlihat di wajah sang gadis, namun itu tidak berlangsung lama karena sebuah bayangan aneh muncul di benaknya secara tiba-tiba. Tangan kirinya menyentuh kepala sementara tangan kanannya pada dinding untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Untung Shou tak melihatnya karena terlalu sibuk menelpon.

Siapa itu? Bayangan itu semakin tersamarkan walau ia tahu dengan jelas apa yang terjadi. Seorang gadis—entah kenapa mengingatkannya pada Haruka—tengah terpojok di dinding. Di depan gadis itu nampak laki-laki tinggi mendekatinya dan secara cepat langsung mengurungnya dengan kedua tangan. Bayangan itu hilang saat Michiko membuka mata.

"S-sebenarnya kenapa dengan Shinomiya-san jika kacamatanya dilepas?"

Kegiatan Shou terhenti setelah mendengar nada penuh kecemasan dari Michiko lalu menengok. "Apa kau pernah bertemu seseorang yang memiliki kepribadian ganda?"

Ia berpikir sebentar dan mengangguk. "Contohnya... aku?"

Shou melongo melihat kepolosan Michiko yang menunjuk dirinya sendiri.

"Jadi, Shinomiya-san punya kepribadian ganda bernama Satsuki?" tanyanya serius dan berusaha bertingkah biasa. Michiko jadi teringat sesuatu tentang Natsuki yang pernah ditemuinya sewaktu ia masih bersekolah di Saotome Gakuen. Dulu, Michiko sempat menabrak sosok itu di koridor menuju kantin. Natsuki yang ia kenal sebagai laki-laki yang baik dan ramah, seketika berubah dan menatapnya dingin karena menabraknya secara tidak sengaja. Michiko jadi yakin karena Natsuki tidak memakai kacamatanya waktu itu.

Tertunduk. "Ya, dan sosok itu berbahaya jika ada orang lain yang menganggunya."

"..."

"M-Michi, jika kau menemukan Natsuki, tolong hubungi aku," kata Shou.

Michiko terdiam sebentar kemudian mengangguk.

"Aku akan cari ke daerah barat."

Setelah laki-laki itu pun pergi, ia melirik ke samping sebentar dengan rona merah di kedua pipinya. Sudah lama sekali sejak Shou-chan memanggilku dengan nama kecilku, pikir Michiko sambil menggaruk pelan pipi kanan. Saat kedua matanya melihat sebuah tangga darurat di sisi kiri koridor, ia pun berlari menuju lantai atas. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan hampir membuat jatuh ketika dirinya ingin ke lantai teratas, yaitu atap gedung. Gadis itu berlari kecil sambil berpegangan pada penyangga besi agar tidak jatuh lagi.

.

.

.

Satsuki, entah nama itu berasal dari mana. Sosok yang bertolak belakang dengan Natsuki dan mendiami tubuhnya sejak ia mengalami keputusasaan karena lagu-lagunya dicuri oleh gurunya sewaktu masih kecil. Konon katanya, ia pernah menghabisi puluhan orang dan berhasil menghancurkan sebagian kota. Anggota STARISH tak ada yang tahu sebelum Shou—teman sejak kecil Natsuki—memberitahu mereka.

Sosok itu kini terlihat tengah terbaring di atap gedung dengan mata terpejam.

Angin musim semi yang terus bertiup membuat Satsuki sempat tertidur.

BRAK!

Mata kirinya terbuka lalu melirik ke arah pintu berbahan baja yang dibuka dengan keras oleh seorang gadis bertubuh—agak—mungil yang dikenalinya bernama Michiko Sawaragi. Terpaksa ia bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk sambil bersandar pada dinding yang tingginya tidak lebih dari dua meter. Terlihat dengan jelas Michiko kaget seraya menengok ke kanan lalu ke kiri. "Kau mencari seseorang, Michiko Sawaragi?" tanya Satsuki datar dan sedikit emosi karena sudah membangunkannya.

"Eh? Kau mengenalku, Satsuki-san?"

"Che!" Pandangan laki-laki itu kembali tertuju pada langit.

Tap, tap, tap. Entah karena bodoh atau memang dasarnya gadis itu punya rasa keberanian yang tinggi, ia mendekati sosok Satsuki dengan tenangnya. "Kukira kau bersama Haruka-chan, ternyata hanya ada aku," kata Michiko. Ia berhenti tepat lima langkah dari posisi Satsuki. Rasa was-was terpancar jelas di wajahnya setelah teringat akan bayangan yang pernah terlintas di benaknya.

"Kalau kau takut denganku, kenapa kau malah ke sini?"

"Aku hanya ingin mengajakmu ke gakuya karena syuting belum selesai."

Mendengar hal itu, tentu saja Satsuki langsung mengirimkan death glare-nya pada Michiko yang nampak tidak berpengaruh dengan tatapannya. Tapi who knows kalau hati gadis itu berdebar karena takut? "Ah! Aku harus menelpon Shou-chan dan bilang kalau kita sedang ada di atap." Tangan Satsuki terkepal begitu melihat sang gadis mengambil ponselnya dari saku rok kotak-kotak berwarna hitam-putih selutut yang ia kenakan.

Set! Srak! Bruk!

Deg!

Iris mata amethyst gadis itu melebar. "S-Satsuki-...san..." Ia terkejut karena gerakan Satsuki terlalu cepat dan begitu sadar, ponselnya sudah terlempar beberapa puluh centi dari tempatnya berada. Michiko meringis saat rasa sakit di punggung akibat didorong ke dinding oleh laki-laki itu secara tiba-tiba. "U-ugh." Lagi, ia meringis karena Satsuki mengunci kedua pergelangan tangannya pada dinding. "A-apa yang mau k-kau lakukan? Ugh!" tanyanya disertai suara meringis.

Senyum miring nampak di wajah tampan nan garang Satsuki. "Menurutmu?"

Dengan napas memburu Michiko menatap lurus pada kedua iris emerald-nya.

Perlahan tangan kiri laki-laki itu melonggarkan genggamannya lalu menyentuh pipi Michiko yang sedikit basah karena keringat dingin. Ketakutan. Gadis itu ketakutan saat Satsuki mempersempit jarak di antara mereka berdua. "Aku membencimu, Michiko Sawaragi." Ia berbisik tepat di telinga kanan sang gadis. "Kau menggunakan kekuatan yang secara turun-temurun diwariskan di keluargamu kepada generasi baru Sawaragi—termasuk kau—untuk membuat novel itu."

Deg! Jantung Michiko berdegup kencang mendengarnya.

"B-bagaimana..."

"Memang kau kira, kau sedang berhadapan dengan siapa, heh?"

Gadis berambut indigo panjang itu bergedik setelah Satsuki menjilat keringat dingin yang turun di pipi kanannya. Bersamaan dengan itu, wajah manisnya terlihat memerah, sangat, Tubuh Michiko bergetar karena Satsuki tidak berhenti menjilat keringat yang terus meluncur di pipinya. "H-hentikan—u-ugh, S-Satsuki-san," pintanya dengan nada memohon.

"Aku benci, kenapa Natsuki harus dipasangkan dengan Shou?" kesal Satsuki.

"B-bukannya, Natsuki-san m-menyukai Shou-chan?"

Tangan kurusnya berusaha mendorong laki-laki itu untuk melepaskan kunciannya. Namun Satsuki malah mencengkeram lebih kuat lagi pergelangan tangan Michiko. "Heh? Apa kau bilang? Natsuki menyukai Shou? Yang benar saja! Dan sejak kapan kau memanggilnya dengan sebutan seperti itu!" bentaknya sambil menepis tangan gadis tersebut yang terus berusaha mendorongnya. Dengan paksa ia mengangkat wajah Michiko untuk menatapnya dan sukses membuat Satsuki menyeringai begitu melihat gadis itu menahan tangisnya.

"Ternyata wajahmu makin manis kalau diperhatikan lagi."

Melihat gelagat Satsuki, sontak Michiko berontak. "S-Satsu—mmph!"

Belum sempat Michiko menyelesaikan perkataannya, Satsuki sudah menciumnya secara paksa lebih dulu. Kedua mata laki-laki nampak menggelap saat ia mencium gadis di hadapannya. Dengan tangan kirinya yang bebas, ia menarik kepala Michiko untuk memperdalam ciumannya lalu tangan kanan memeluk pinggang sang gadis yang sukses membuat kedua tubuh mereka saling menempel.

"Hmmmph! L-lepas—mmmmmph!"

Michiko meronta di tengah-tengah ciuman mereka. Tapi sayang. Kekuatannya kalah jauh dengan kekuatan Satsuki yang seperti monster itu. Kedua kakinya lemas seketika karena tenaganya sudah terkuras habis dan membuatnya berhenti berjinjit.

Satsuki yang sepertinya sadar akan hal itu langsung membungkukkan sedikit tubuhnya.

Napas Michiko semakin memburu saat pelukannya makin mengerat.

"S-Satsuki-san..." Mendengar namanya dipanggil selirih itu disela-sela kegiatannya oleh gadis tersebut, mau tidak mau membuat hati Satsuki seperti dicabik-cabik. "Urusai!" Dengan sekali bentak, ia sukses membuat Michiko terdiam dan perlahan mengeluarkan air mata. Memilih tidak memperdulikannya, Satsuki kembali mencium bibirnya dengan semakin beringas. Rontaan kecil bisa ia rasakan di dada bidangnya. Terpaksa Satsuki mencengkeram kembali tangan kanan Michiko dengan tangan kirinya.

"S-Satsuki—mmph!"

"K-kumohon, hentika—aah!"

Sekali lagi Michiko berusaha menghentikan Satsuki namun hal itu justru memberikan peluang bagi laki-laki itu untuk menjelajahi rongga mulutnya dengan lidah. Ia memukul tubuh Satsuki dengan tangan kanan dan lagi-lagi tidak berefek banyak pada laki-laki yang sudah termakan hawa nafsunya tersebut.

"A-aah! Nn! Mmph!"

Rontaan gadis itu semakin menjadi ketika tangan kanan Satsuki bergerak menelusuri lehernya yang masih tertutupi oleh kerah kemeja. Dengan sekali tarikan, ia sukses membuka paksa bagian kerah kemeja tersebut sehingga terekspos leher putihnya. Bahkan karena terlalu kencang, ada dua kancing teratas rusak dan pakaian dalam yang ia kenakan sedikit terlihat. Ingin rasanya Michiko lari menjauhi sosok di hadapannya ini, tapi kekuatannya untuk melepaskan diri masih tidak sebanding dengan Satsuki.

Onii-chan... tolong aku, hiks! jerit gadis itu dalam hati.

Deruan napas hangat menyapu leher Michiko. "Nnnh! S-Satsuki-san! Aah!"

BRAK! "SATSUKI!"

Gerakan Satsuki yang sudah menggigit leher gadis tersebut terhenti seketika karena pintu yang menjadi akses Michiko ke atap tadi terbuka. Seringaian tiba-tiba muncul di wajahnya begitu tahu bahwa pasangan Natsuki di Maji Love STARISH sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh emosi. Terlintas sebuah ide di benaknya. "Aku ingin tahu, apa yang kau katakan itu benar-benar terjadi atau tidak," bisik Satsuki seraya menggigit leher Michiko lagi lalu menghisapnya sehingga membuat gadis itu melenguh sambil terisak.

"H-hentikan, kumohon," pintanya dengan pandangan kosong tertuju pada sosok Shou yang masih terdiam di ambang pintu. Terlihat kedua tangan laki-laki itu terkepal dan bersiap untuk meninju pipi Satsuki.

Tap, tap, tap.

"BRENGSEK KAU, SATSUKI!"

Shou berlari mendekati kedua sejoli tersebut dan menarik paksa tubuh Satsuki untuk menjauhi Michiko. Dengan sekali tarikan, mereka berhasil dipisahkan. Tangan Shou ingin meninju pipinya namun tidak bisa. Ia tak bisa menyakiti Satsuki karena bagaimana pun juga tubuh itu milik Natsuki. "KUSOOO!" Sebagai gantinya, Shou menarik kaos bagian leher yang dipakai Satsuki.

Laki-laki bertubuh jangkung itu tidak berkutik, dan terus saja menunduk.

"Sebenarnya apa maumu, SATSUKI!?" bentak Shou.

"..."

Mata Shou melirik ke arah Michiko yang tengah terduduk di tempatnya semula sambil memandang kosong ke depan. Air mata tak henti-hentinya keluar, namun suara isakan sama sekali tidak terdengar. "Jawab aku, Satsuki! Kenapa kau lakukan itu pada Michi!?" tuntutnya.

"...bukan urusanmu."

"O-omae..."

Amarah tidak bisa terbendung lagi. Dengan sekali dorong, Shou menjatuhkan tubuh Satsuki ke lantai tanpa melepas cengkeraman di kaosnya. Tangan kanan Shou bersiap untuk meninju wajah datar Satsuki, namun... sungguh! Laki-laki itu tak bisa menyakiti Natsuki, walau saat ini tubuhnya dikendalikan oleh Satsuki.

"Kenapa? Kau takut memukulku, Shou?" tanya Satsuki seraya tersenyum miring.

"..."

"Payah..."

Tiba-tiba Satsuki mendorong tubuh Shou dari tubuhnya dan membalikkan keadaan. Merasa dirinya dalam keadaan berbahaya, ia mendorong tubuh Satsuki yang berusaha menjepit tubuhnya. "S-Satsuki! Apa kau sudah gila, hah!? L-lepaskan aku, baka!" serunya sambil berusaha melepaskan kedua tangannya yang dicengkeram Satsuki.

"Berhenti bergerak atau aku akan menciummu."

"Coba saja kalau berani!"

Senyum tipis bak orang arogan nampak di wajah Satsuki begitu mendengar Shou menantangnya. "Baiklah. Ayo, kita mulai bermain, Shou-chan," bisikmya tepat di telinga Shou.

Mendadak Shou membeku begitu melihat bayangan Natsuki tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Shou-chan... aku membutuhkanmu, tolong bantu aku menyadarkannya.

"Natsuki..." Pandangan Shou menggelap dan membuat Satsuki berhenti mendekatinya.

"Satsuki-san! Tolong hentikan!"

Tiba-tiba Michiko menarik tubuh Satsuki untuk menjauhi Shou.

Reflek, laki-laki itu menepisnya dan tanpa sengaja mendorongnya mundur.

"Eh?" Tubuh Michiko tak bisa berhenti untuk bergerak mundur. Matanya melotot karena tak bisa menyeimbangan tubuhnya untuk berhenti. Sial! Nggak ada kawat pagar pembatas! pekiknya panik dalam hati setelah melirik ke belakang. Kaki kanannya tersandung oleh pagar pembatas yang hanya setinggi dua puluh centi.

"MICHI!"

Apa aku akan mati?


._. Satsuki X Michiko(?) '-'


Haruka berhenti berlari tepat di depan gedung teater yang menjadi tempat pengambilan syuting film layar lebarnya. Anggota STARISH mulai datang menghampirinya. "Apa k-kalian berhasil menemukan Satsuki-san?" tanya gadis itu dengan penuh harap.

Otoya menggelengkan kepalanya. "Aku dan Tokiya sudah mencari ke belakang gedung, tapi tak ada Satsuki di sana."

"Di lantai bawah juga tidak ada," kata Masato sambil mengelap keringat di dahinya.

"Sebenarnya ke mana Satsuki membawa pergi tubuh Natsuki?" Ren jadi kesal sendiri.

Tokiya menatap satu persatu teman-temannya itu. "Shou di mana?"

"Eh? Tadi seingatku kau mencarinya dengan Shou, Cecil." Pangeran dari negeri Agnapolis itu menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Otoya. "Tadi memang kami bersama mencarinya. Tapi tiba-tiba dia ikut menghilang, entah ke mana," jelas Cecil.

"Mungkin Shou-kun sudah menemukan Satsuki-san," sambar Haruka.

"Mungkin sa—"

"—MICHI!"

Semua pandangan mata tertuju pada sumber suara yang berasal dari arah atas. Terlihat sosok Michiko Sawaragi—walau samar—tengah berdiri di ujung atap, bahkan ia terlihat ingin jatuh. "MICHI-CHAAAN!" Haruka berteriak histeris melihatnya. Anggota STARISH langsung berlari ke tempat yang kemungkinan menjadi pendaratan Michiko, berharap mereka bisa menangkap gadis itu.

.

.

.

"Eh?"

"MICHI!" Shou berteriak saat sosok Michiko berada di ujung atap.

"MICHI-CHAAAN!"

Suara Haruka yang memanggil namanya membuat Michiko menengok ke arah bawah sebentar. Tangan gadis itu berusaha menggapai sesuatu dan terlihat tangan lain yang lebih besar darinya terulur padanya. Ia meraih tangan itu namun tidak berhasil. Tidak menyerah sampai situ, Michiko berusaha menggapai pagar pembatas yang hanya setinggi dua puluh centi tersebut. Berhasil, tapi ia tidak mungkin bisa bertahan kalau seperti itu terus.

Rasa takut kembali menghantuinya. Onii-chan, apa aku akan mati sekarang?

"Bertahanlah!" seru Satsuki sambil menarik tangan kanan Michiko.

"S-Satsuki-san..." Air mata tak bisa terbendung lagi begitu melihat wajah Satsuki yang tengah berusaha keras untuk menarik tubuhnya ke atas. Di belakang laki-laki itu, terlihat Shou ingin menolongnya juga. "Berikan tangan kirimu, Michi!" Ia menurut dan mengulurkan tangan kirinya pada Shou.

Baik Satsuki maupun Shou sama-sama menengok lalu mengangguk.

"Ichi, ni, san!"

Pada hitungan ketiga, mereka berdua menarik tubuh Michiko ke atas dengan kekuatan penuh. Keduanya bisa bernapas lega setelah sang gadis bisa diselamatkan. Satsuki langsung terbaring dengan napas terengah-engah, Shou sendiri mengambil posisi duduk sambil menatap langit. Napasnya terdengar tersendat-sendat, sama dengan Michiko. Gadis itu duduk di hadapan Shou dengan wajah menunduk.

"Hiks, hiks."

Satsuki menengok pada gadis tersebut lalu kembali menstabilkan napasnya.

Shou yang tak bisa melihat seorang gadis menangis hanya memeluk Michiko seperti yang pernah ia lakukan pada Haruka. Ya, Haruka hampir terjatuh dari ketinggian karena kecerobohan dirinya yang lupa membawa baju ganti. "Sudah, sekarang kau selamat, Michi," lirih Shou sambil mengelus rambut indigo Michiko.

"Hiks, hiks, k-kowai. Kowai. Kowai, Shou-chan."

Senyum tipis nampak di wajah Shou. "Tak ada yang perlu ditakutkan lagi, Michi."

"Kowai..."

Tiba-tiba Satsuki terbangun dari posisi berbaringnya lalu memalingkan wajah. "Maaf," lirihnya namun masih bisa didengar Shou dan Michiko. "Aku reflek mendorongmu tadi." Bukannya berhenti setelah mendengar perkataannya, gadis itu malah semakin kencang menangis. Shou menatap Satsuki dalam diam. Baru pertama kali ini dengar Satsuki minta maaf.

"Huwaaa! Kowaiii, hiiiks!"

"Seharusnya kau yang bertanggungjawab, Satsuki," geram Shou.

Laki-laki jangkung itu langsung memalingkan wajah, tidak peduli.

Tangisan Michiko terus terdengar sampai anggota STARISH serta Haruka dan Minato datang ke atap. Minato dan Shou—yang nyatanya sedikit banyak tahu tentang kepribadian Michiko—tampak frustasi karena gadis itu susah dihentikan saat menangis.

To Be Continued

Hay, minna! :D Oto Ichiiyan come back again! Ara, gomen karena bukan NatsukixShou di chap ini :( Jujur, saya juga bingung sendiri pas baca ulang. Ahahaha! Thanks buat NaRin RinRin dan readers yang udah baca fic saya. :D Gimana nih dengan chap ini? Satsuki terlalu OOC ya? #pundung

oh oke, saya akan kembali lagi dengan chap baru! Jaa ne! :D