Drrrt, drrrttt! Getaran ponsel dari saku roknya membuat Michiko Sawaragi tersadar dari lamunannya. Alis sebelah kanannya terangkat sedikit seraya bangkit dari kursi yang ia duduki. Ia sempat berpapasan dengan Shou Kurusu dan memilih untuk menghindar. "Moshi moshi, Kao-chan?" katanya dengan nada berbisik.
'Gomen, Michi-chan. Apa aku mengganggumu?'
"A-a, iie. Daijoubu desu yo, Kao-chan. Ada apa menelponku?"
'Mm, apa nanti malam kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan malam.'
Gadis yang kini sudah berganti baju itu (ingat chap sebelumnya) terdiam sebentar karena merasa ada yang memperhatikan gerak-geriknya dari belakang. "Ada kok. Oke, mau ketemuan di mana?" sahut Michiko sambil sedikit melirik ke belakang sebentar.
'Aku akan menjemputmu di lokasi syuting, boleh?'
"Eh? Kau serius, Kao-chan? Apa tidak apa-apa?"
'Un, tak apa-apa. Kebetulan aku ingin bertemu kakakku.'
Senyum tipis tercetak jelas di wajah manis sang gadis. "Baiklah, aku akan bilang pada kakakmu untuk menunggu sampai kau tiba di sini." Tanpa meminta persetujuan dari si penelpon yang ternyata adalah adik kembaran Shou itu bernama Kaoru Kurusu, Michiko sudah memutuskan sambungannya. Ia pun kembali ke kursinya lalu memandangi kedua siluit laki-laki yang akan memainkan adegan selanjutnya secara bergantian.
Tawa pelan terdengar dari bibirnya saat laki-laki berambut merah 'nyentrik' tengah ditenangkan oleh Haruka karena terlihat panik. "Apa mereka percobaan pertamamu?" Merasa ditanya, Michiko langsung menengok ke samping. "S-Satsuki-...san?"
Sosok lain dari Natsuki Shinomiya itu tampak memandang lurus ke depan.
"Mungkin ini terdengar konyol untukmu." Michiko menunduk sedikit.
"Kau belum menceritakannya, bagaimana bisa aku menilai?"
"Ahaha, ternyata kau bisa melawak ya? Walaupun sedikit garing." Merasa dapat death glare gratis dari sosok tersebut, ia berdeham dan memandang Otoya dan Tokiya yang terlihat berdebat kecil. "Aku ingin membuat penggemar mereka—STARISH—senang. Kau pasti takkan percaya ini, tapi penggemar kalian menginginkan STARISH yang lama—sebelum Aijima-san datang—jadi couple sesuai kamar yang kalian dapat sewaktu di Saotome Gakuen," jelasnya.
"Konyol sekali," sahut Satsuki dengan wajah yang terlihat menyebalkan.
"Sudah kuduga kau takkan percaya."
Tiba-tiba Shou mendekati Satsuki dari belakang yang nampak tak menyadari keberadaannya dengan kedua tangan memegang kacamata milik Natsuki untuk mengembalikan tubuh itu ke pemiliknya yang asli. Namun sayang, tinggal selangkah lagi Shou berhasil mendekati Satsuki, laki-laki itu sudah menatapnya tajam. Tentu saja Michiko dan Shou langsung bergedik.
Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli
Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan
Rate : M (ya! pada akhirnya rating dinaikan! #Laugh)
Genre : General, Romance, Drama, Friendship
Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.
Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.
Be As One copyright W-INDS
I Feel You, S! (Part I)
Cecil Aijima menyangga dagu sambil memperhatikan sekelilingnya yang tengah menyiapkan kamera untuk adegan selanjutnya. "Doushiyo~?" Laki-laki itu menengok ke samping kanan dan terlihat Otoya dengan wajah frustasi sedang berjongkok. Tangan kanannya ia pakai untuk mengacak-acak rambut sementara tangan kiri menggenggam naskah. "Otoya, kau ada masalah dengan adegan selanjutnya?" tanya Cecil dengan wajah tanpa dosa.
"Tentu saja ada, Cecil! Uuugh!" Aura suram terpancar jelas dari tubuh Otoya.
"Apa kau punya semacam taktik?"
Otoya berpikir sebentar lalu menggelengkan kepala. "Aku tak tahu lagi, apa yang harus kulakukan agar adegan ciuman ini tidak terjadi. Setidaknya, ini hanya terlihat seperti ciuman tapi sebenarnya tidak. Tapi... bagaimana caranya? Di naskah aku harus melakukannya dengan Tokiya secara tidak sengaja," cerita laki-laki berambut merah itu.
Mata Cecil melirik ke belakang tubuh Otoya, terlihat sosok Michiko sedang tertawa garing dengan Shou setelah mendapat death glare dari Satsuki.
"Ne, Cecil. Apa kau punya taktik?" tanya Otoya dengan puppy eyes no jutsu.
"Etoo, sepertinya memang kau harus melakukannya, Otoya."
Wajah Otoya kembali suram. "Aku sudah tanyakan ini ke Nanami juga, tapi tetap saja jawabannya sama denganmu."
"Kenapa kau tidak bertanya pada pembuat naskah dan sutradara?"
"Eh?"
Cecil tersenyum kecil. "Mungkin mereka mau membantumu."
"Aku tak yakin," gumam Otoya seraya menatap kedua orang yang dimaksud temannya itu secara bergantian kemudian menatap lawan mainnya yang tengah membaca naskah tanpa ekspresi apapun keluar dari wajahnya. "Kenapa Tokiya bisa setenang itu? Padahal adegan ini 'kan adegan ciuman dengan sesama laki-laki," lirihnya dengan wajah cemberut.
"Apa kalian belum pernah melakukannya?" tanya Cecil tiba-tiba.
Deg. "Eh? A-apa maksudmu?"
Pandangan sang Pangeran Agnapolis itu tertuju pada Tokiya. "Aku berpikir, kalian pernah melakukan ini sebelumnya, makanya Tokiya terlihat tenang-tenang saja.
"Mm, sebenarnya memang... p-pernah."
"Eh?"
.
.
.
Adegan selanjutnya dimulai dengan Otoya yang keluar dari kamar mandi. Ia bersenandung pelan sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk putih. Perlahan laki-laki itu melangkah menuju kasurnya tanpa menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya. Hanya setengah menit ia berakting seperti itu, setelahnya Otoya memakai kemeja putih dan mengalungkan dasi merahnya ke kerah kemeja.
"Zzz." Suara dengkuran Tokiya terdengar di telinga Otoya.
"Are? Belum bangun? Padahal satu setengah jam lagi jam pelajaran dimulai."
Otoya terlihat berpikir sebentar sebelum mendekati teman sekamarnya itu.
Semua orang yang melihat adegan mereka langsung terdiam dengan jantung berdebar keras. Adegan berbahaya akan datang sebentar lagi, begitulah pemikiran mereka setelah melihat Otoya yang berhenti di sisi ranjang Tokiya. Michiko menatap serius layar monitor di mana gambarnya terbagi menjadi enam gambar dengan pengambilan gambar dari sudut yang berbeda. Minato juga ikut menatap monitor dengan raut wajah was-was di samping Michiko.
"Semalam, sepertinya ia pulang larut lagi," gumam Otoya.
"Zzz."
Kedua tangannya perlahan menyentuh selimut yang membungkus tubuh Tokiya, sementara laki-laki berambut biru gelap itu masih—berakting—tertidur membelakangi Otoya. "Tokiya? Sampai kapan kau mau tidur? Satu setengah jam lagi masuk sekolah lho," kata Otoya sambil menggoyangkan tubuh Tokiya. Tubuh itu bergerak menghadap Otoya, namun kedua matanya masih terpejam rapat. Bahkan suara dengkuran halus Tokiya masih terdengar.
"Mirip beruang hibernasi," gumam Otoya, sesuai naskah. Sugoi! akting Tokiya hebat!
"Zzz."
Sekali lagi ia menggoyangkan tubuh Tokiya agar terbangun dari dunia mimpinya.
"Tokiya? To~ki~ya-cha~~~n? Ayo ba—"
—set! Gerakan cepat dari tangan Tokiya membuat semua orang tersentak, terutama Otoya. Secara natural, laki-laki yang identik dengan merah itu jatuh ke atas tubuh Tokiya yang masih memejamkan mata, setelah tangan kiri Tokiya menarik tangan kanan Otoya seolah-olah ia adalah guling tidur. Entah karena apa ini terjadi, Otoya mencium teman sekamarnya tepat di mulut. Akan Author ulang, Otoya mencium Tokiya tepat di MULUT dan itu benar-benar tidak sengaja! Para kru melongok, apalagi anggota STARISH.
Michiko menahan tawa saat melihat mata Otoya terbelalak.
"Tak ada adegan pengulangan," bisik Minato sambil tersenyum puas.
Gadis itu hanya mengangguk dan berbagi senyum kepuasan pada Haruka Nanami yang duduk di sampingnya.
Perlahan Tokiya membuka matanya karena agak kesulitan kalau terus-terusan dalam keadaan berciuman dengan Otoya. "Mmh~." Ia berakting seperti orang yang susah untuk membuka kedua matanya setelah tertidur pulas. Semua gigit jari melihat akting mereka, terutama Haruka yang sudah tutup mulut sedari tadi dengan ekspresi yang seolah mengatakan 'sampai kapan adegan ciuman ini berlangsung?'.
Tangan kanan Otoya mengepal dan bergetar sehingga membuat Tokiya menahan tangan itu untuk tidak bergerak. Tentunya setelah ia mengingat tak ada kamera yang menyunting bagian tangan mereka. Kumohon, jangan bergerak sekarang, Otoya, harap Tokiya dalam hati.
Kedua mata mereka mengedip beberapa kali seperti tengah me-loading apa yang terjadi.
Rona merah terlihat di kedua pipi Tokiya, sedang Otoya makin memerah.
"Hmmph!? Puaaah!"
Entah itu spontan atau alami, Tokiya bangkit dari posisi awal dan Otoya jatuh terduduk dengan punggung tangan kanan menutupi mulutnya. Suasana mencekam sangat terasa begitu pandangan kaget Tokiya berubah menjadi pandangan mengintimidasi yang ditujukan pada Otoya. Wajah meronanya pun berangsur-angsur kembali seperti semula. Beda dengan Otoya yang tak bisa mengontrol dirinya, ia masih berusaha untuk mengembalikan detak jantungnya agar kembali normal dengan mata tertuju pada sosok yang tengah menatapnya juga.
"Apa yang kau lakukan padaku, Otoya?" tanya sosok tersebut penuh intimidasi.
"..."
"..." Dalam hati Tokiya berharap pada lawan mainnya itu untuk berucap sesuai naskah.
Kepala Otoya menunduk dengan tubuh bergetar. Tentu saja hal itu membuat sang penulis naskah tersenyum tipis. Reaksinya malah beda dengan di naskah, namun sama persis seperti dalam novel. Omoshiroi desu ne, kata Michiko dalam hati. "G-gomen, Tokiya. T-tadi aku ingin membangunkanmu, tapi kau malah menarikku dan... dan..." Wajah laki-laki itu—asli—sudah seperti kepiting rebus. Ia menggaruk-garuk pelan rambutnya sambil menunduk, berusaha untuk menyembunyikan wajahnya.
Kalau boleh jujur, Tokiya ingin berteriak sekeras mungkin sekarang juga.
Aiiish! Wajahnya kenapa bisa seimut ituuu!? gerutunya dalam hati.
Sang sutradara—Minato—menahan tawa karena wajah malu-malu Tokiya tertangkap kamera dan ia yakin 1000% kalau itu asli. Rey juga ikut menahan tawa di belakangnya dan karena itu sukses dapat tendangan 2000% di kakinya dari Masato. Ia melotot pada teman sekamarnya sambil meringis. Di samping Masato, terlihat Cecil tengah memperhatikan sosok Otoya dari monitor yang khusus menyunting sosok laki-laki itu.
"Kakoi~," puji Natsuki yang entah sejak kapan sudah berubah kepribadian.
Cecil dan Shou yang melihatnya hanya ber-sweat drop ria.
"Otoya keliatan malu sungguhan, ya?" gumam Shou pelan.
Sang Pangeran mengangguk sedikit tanpa mengalihkan pandangan pada monitor.
Tiba-tiba Otoya bangkit dengan kepala masih menunduk. "M-maaf, aku ke sekolah duluan." Dengan gerakan terburu-buru, ia mengambil tas dan blazer yang sudah disiapkannya sejak semalam di atas meja lalu keluar kamar. Brak! Pintu kamar sengaja Otoya banting sesuai naskah sebelum ia benar-benar kabur dari lokasi syuting. Dalam hati laki-laki itu bersumpah untuk menolak permintaan Michiko dan Minato jika mereka menyuruhnya agar mengulangi adegan tersebut.
Tak mengindahkan sikap Otoya, semua kru tetap terfokus pada akting Tokiya.
Ia terlihat kebingungan dan menggerakkan tangannya untuk menyentuh bibir.
"Tadi itu... apa?" gumamnya dengan wajah merona layaknya orang kasmaran.
"CUT! CUT! CUT!"
'-' Tokiya X Otoya ._.
Syuting terus berlanjut sampai petang, tentunya dengan suasana yang berbeda—sangat—dari sebelumnya. Minato selaku sutradara hanya bisa menghela napas pasrah saat pemainnya berulang kali melakukan kesalahan. "Pasti gara-gara adegan tadi, semuanya jadi kacau," gumamnya. Ia menatap gadis yang selalu memanggilnya 'Ojii-san' untuk meminta pendapat.
"Terpaksa harus dihentikan sampai sini saja untuk hari ini," putus Michiko.
"Maji da, Michi?"
"Hmm."
Minato berdiri dari kursinya. "Kita lanjutkan besok lagi," serunya pada semua kru.
Senyum tipis tersungging di wajah gadis manis bermarga Sawaragi begitu melihat semua pemainnya menghela napas lega. Ia berjalan mendekati mereka seraya melipat kedua tangan ke depan dada. "Hei, adegan Ittoki-kun dan Ichinose-san itu baru permulaan. Masa' baru pertama saja bisa membuat kalian jadi sekacau ini? Terutama Ittoki-kun, Aijima-san, dan Hijirikawa-san," katanya sambil tertawa geli.
"..." Tokiya terlihat memalingkan wajah mendengarnya.
"Mou, Michi! Yameru yo~!" keluh Otoya dengan wajah memerah dan cemberut.
"Oke, oke. Kalian boleh ganti pakaian sekarang." Michiko tersenyum manis.
Pluk! "O-kagedesama deshita," kata Minato sambil menepuk pelan kepala Michiko.
"O-kagedesama deshita!"
Set, set, set. Kedua mata amethyst milik penulis naskah Maji Love STARISH itu menatap sebuah tangan yang masih betah mengacak-acak rambutnya setelah menepuknya pelan. Pandangannya perlahan teralih ke wajah Minato yang tersenyum ramah pada para kru, pemain dan anggota STARISH. Raut wajahnya berubah dan yang menyadarinya hanya Haruka karena ia berdiri tak jauh dari tempat keduanya.
Merasa diperhatikan, Minato menoleh. "Ada yang salah?"
"Bisa kau berhenti mengacak-acak rambutku, Ojii-san?"
"Eh? Ahaha! Sorry, sorry," kata laki-laki itu sambil cengengesan.
Kepala Michiko tertunduk. Untuk sesaat, kau terlihat seperti dirinya, pikir gadis tersebut. Tiba-tiba napasnya terhenti dengan pandangan mengabur. Ia memejamkan mata begitu sebuah bayangan asing muncul di benaknya. Di dalam bayangan itu, terlihat ruang kamar yang gelap tanpa ada penerangan sama sekali. Namun Michiko masih bisa melihat sosok yang tak asing baginya tengah terduduk sambil bersandar pada ranjang. Sementara di atas ranjang tersebut, seorang laki-laki lainnya tertidur menghadap ke arahnya.
'Donna toki demo Omotteiruyo
Aenai hi mo Every Time I Feel...
Ah Atadakana te no hira Kurumareta hada sou
Hanarezu ni koko ni aru...
Nanike nai yashashisa ni megariau tabi
Subete wo dakishimetaku naru yo...'
"Michi? Daijoubu ka?" tanya Minato begitu melihat tubuh Michiko yang oleng ke samping. Napasnya juga terdengar putus-putus. "O-oi, Michi! Apa yang terjadi?" Saat ia mencoba untuk membantu sang gadis agar bisa berdiri tegap, Michiko malah menepisnya.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya kelelahan," katanya seraya berjalan keluar.
Tatapan Minato menyendu. "Kapan kau bisa hidup normal, Michi?"
.
.
.
Bruk! Otoya memdaratkan tubuhnya ke atas kasur. "Huuuft... Untung saja Tokiya ada pemotretan dengan Masa," gumamnya setelah bernapas lega. Ia menatap langit-langit kamar yang dicat putih sebentar sebelum membalikkan tubuhnya ke samping. Begitu kedua mata Otoya menatap kasur lainnya yang kosong milik Tokiya, bayangan saat syuting hari ini langsung muncul di benaknya. Sontak wajah laki-laki itu memerah, apalagi ketika ia mengingat tangan Tokiya yang mengeratkan genggamannya untuk menghentikan rontaannya.
"Hentikan..." Laki-laki itu menenggelamkan wajahnya ke bantal.
"Kumohon, jangan memberikanku celah, Tokiya..."
Otoya menengok ke arah tembok. "Biasanya begitu, kan? Berharap, tapi pada akhirnya justru rasa sakit yang akan kuterima," lirihnya seraya bangkit dari kasur. Ia melirik sebentar pada jam weker miliknya yang ada di atas nakas. "Lebih baik aku mandi sekarang, sebelum Tokiya datang."
Ia berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil baju ganti.
Tap, tap, tap.
Langkahnya terhenti tepat di depan meja belajar Tokiya setelah pandangannya menangkap suatu benda yang menyembul dari tumpukan buku-buku milik teman sekamarnya itu. "Are? Apa ini?" tanya Otoya dan mengambil benda tersebut yang ternyata adalah sebuah foto. Saat foto itu ia balik, kedua iris matanya melebar.
"Ini..."
Pandangan Otoya teralih pada buku yang jadi tempat penyimpanan foto tersebut.
Set, srak. Laki-laki itu mengambilnya dari tengah-tengah tumpukan buku.
"Apa... maksudnya ini?" lirihnya dengan wajah memerah. Sekali lagi ia menatap foto itu dengan seksama. Kenapa Tokiya punya fotokuuu!? teriak Otoya dalam hati. Ya, di sana terlihat jelas sosok dirinya tengah tertidur di bawah pohon sewaktu ia masih bersekolah di Saotome Gakuen. Dulu memang Otoya sering tertidur di bawah pohon setelah bermain dengan gitarnya sekaligus menghabiskan waktu luang.
Bibirnya bergetar dengan wajah makin memerah. "Kenapa...?"
Tap, tap, tap, tap.
"Semuanya sudah tidur, ya?"
Deg! Suara Tokiya!
Dengan panik, Otoya mengembalikan foto dirinya ke tempat semula lalu menaruh buku itu ke tumpukan buku lainnya di atas meja Tokiya. "Paling-paling sedang berkutat dengan urusan privasi di kamar masing-masing setelah makan malam." Suara sahutan Masato disertai langkah kaki yang terdengar mendekati kamar, membuat tumpukan buku yang sudah dirapikan Otoya kembali berantakan karena ia terlalu panik. Mou! Berantakan lagiii! serunya dengan nada frustasi.
"Menurutmu, Sawaragi itu bagaimana?"
Tap. Suara langkah kaki tak terdengar lagi setelah Masato bertanya.
Otoya bisa bernapas lega sambil merapikan kembali tumpukan buku milik Tokiya.
"Aku sama sekali tak bisa membaca pikiran gadis itu." Tap, tap.
Kedua mata ruby Otoya membulat karena Tokiya kembali berjalan menuju kamarnya. Tanpa pikir panjang, ia berbaring di atas kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Tunggu sebentar, sepertinya ada yang salah. Laki-laki itu mengedipkan matanya beberapa kali. GAWAT! AKU SALAH TEMPAT TIDUR! paniknya dalam hati begitu sadar bahwa dirinya berbaring di atas kasur Tokiya dan masih memakai JAKET! Bahkan, ia juga belum sempat mandi.
"Selamat malam, Masato."
Ckleeek.
Mendengar ucapan Tokiya barusan, Otoya tidak jadi pindah kasur dan kembali membungkus tubuhnya dengan selimut. Kami-sama, bagaimana ini? Kalau Tokiya bertanya, apa yang harus kukatakan padanya? Terlebih, saat ini aku malah ada di atas kasurnya! Pikiran-pikiran frustasi kini berputar-putar di otaknya. Cklek. Pintu yang tertutup membuat detak jatung Otoya semakin keras. Gugup dan takut kembali melanda hatinya.
"...kenapa ia tidur di kasurku?" gumam Tokiya sambil menatap kedua kasur yang ada di kamarnya secara bergantian.
Otoya berusaha untuk bernapas senormal mungkin, layaknya orang tidur sungguhan.
Diam-diam, Tokiya tersenyum tipis seraya melepas mantel coklat miliknya.
Tak lama kemudian, terdengar suara dencitan dua buah benda yang beradu.
Deg, deg, deg. Jantung Otoya berdebar semakin keras saat sadar suara dencitan itu berasal dari kasur Tokiya yang beradu dengan lantai. A-apa yang terjadi? Mungkinkah... Berbagai pikiran negatif berputar-putar di kepalanya. Apalagi setelah ia merasakan sosok Tokiya kini tengah duduk di tepi kasur. Sebuah tangan mendarat di atas kepalanya lalu bergerak merapikan rambut Otoya yang agak berantakan dan menutupi wajahnya yang—berpura-pura—tengah tertidur pulas.
"Gomen."
Bisikan dari Tokiya membuat laki-laki itu memfokuskan dirinya untuk mendengar.
"Pasti gara-gara adegan tadi, kau sampai kabur selama beberapa jam."
Tokiya... Tanpa sadar kedua alis Otoya bertautan, membuat si pemilik kasur berpikir bahwa ia sedang bermimpi buruk. Jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kanannya menyentuh area di tengah-tengah kedua alis Otoya. Berharap laki-laki itu bisa kembali tertidur nyenyak.
Are? Bagaimana cara Tokiya melakukannya? Padahal aku tidur membelakanginya, bingung Otoya seraya berusaha menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut.
Srak. Tokiya berdiri dari tepi ranjang untuk mematikan lampu.
"Mau bagaimana lagi, terpaksa malam ini harus bertukar tempat tidur," gumamnya.
Bertukar? Tanpa sadar, senyum tipis tersungging di wajah Otoya.
Klik. Mendadak, laki-laki berambut merah itu kembali panik. Tokiya benar-benar mematikan lampunya!? Ia menggenggam ujung selimut seerat mungkin. Sementara itu, Tokiya yang baru saja mematikan lampu kini beranjak menuju kasurnya lagi. Namun ia tidak duduk di tepi kasur, melainkan duduk di bawah lantai dengan punggung bersandar pada kasurnya. Tokiya melirik ke arah teman sekamarnya yang mengubah posisi untuk menghadap ke arahnya.
Ia berbalik menghadap Otoya. Sekali lagi, tangannya menyentuh rambut Otoya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata laki-laki itu. Tokiya sempat tersenyum sebelum berbalik membelakanginya lagi.
Lagu adalah cermin yang merefleksikan hati. Kau sudah menuju ke tahap selanjutnya.
Perkataan Cecil Aijima yang bagaikan seorang peramal kembali teringat.
Tokiya menghela napas. "Aku... mencapai tahap itu karenamu dan Nanami."
Tahap? Apa yang ia bicarakan? Perlahan, Otoya membuka matanya lalu menatap Tokiya dengan pandangan sendu. Tangannya bergerak mendekati kepala Tokiya, bermaksud untuk menyentuh rambut biru kehijauannya.
"Huuu... uuuh... uuh...
Yeee... eeeh... yeeh..."
Senyum tipis terukir kembali di wajah Otoya setelah tidak jadi menyentuh rambut Tokiya. Aku suka... sangat suka suara Tokiya Ichinose, katanya dalam hati seraya memejamkan mata.
"Donna toki demo.. Omotteiruyo
Aenai hi mo Every Time I Feel...
Ah.. Atadakana te no hira.. Kurumareta hada sou
Hanarezu ni koko ni aru... uuuh..."
Aku... jadi ngantuk sungguhan, pikir Otoya sambil berusaha membuka matanya yang tiba-tiba terasa berat.
"Nanike nai yashashisa ni megariau tabi
Subete wo dakishimetaku naru yo..."
Sesuai nada yang terbesit di benaknya, Tokiya menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara tidak sadar. Kedua matanya pun terpejam dengan senyum setipis benang sutra terukir di wajah tampannya.
"I will Be As One Kimi wo mamoritai
Stay with me Suki dayo (Kimi, itoshii hito)
Afuredasu omoi kakusazu tsutaeru kara
Tatta ichido deatta kiseki sa
Hoshi tachi ga musubi kakayaku youni
Amatsubu yagate umi ni sasagu youni
Futari kasane aou LOVE Kimi ga subete..."
Dalam mimpi Otoya, ia tertawa pelan mendengar lagu yang dinyanyikan Tokiya. Di hadapannya terdapat banyak sekali bunga-bunga matahari bergoyang mengikuti arah angin. "Kimi... itoshii hito... ka? Apa itu sungguh untukku?" gumamnya tidak jelas.
"Haru to Natsu to Aki Fuyu to...
Ikutsumo no egao wo chiribame...
Sekai de hitotsu no monogatari.. katarou itsuka..."
Entah sosok itu datang dari mana, yang pasti sekarang Otoya bisa melihat dengan jelas sosoknya. Sosok Tokiya Ichinose dengan pakaian serba putih tengah menyanyikan lagu tersebut di depannya, seolah lagu itu memang ditujukan untuknya seorang. "Tokiya?" Saat dipanggil, ia hanya tersenyum dan melanjutkan nyanyiannya.
"I will Be As One Kimi wo mamoritai
Stay with me.. Aishiteru...
Afuredasu omoi kakusazu tsutaeru kara... aaa... aa..."
Sementara itu di dunia nyata, Tokiya terlihat ikut tersenyum tipis melihat Otoya yang tersenyum dalam tidurnya. Ia menyangga dagu sambil bernyanyi.
"Ima Be As One Shinjite mitai zutto kienai ai ga arukoto
Ragareru jikan ni futari wo kizami aou
Kuyamanai kono unmei wo
Te to te awase kanjiau nukumori
Mitsumeau tabi umaeru yasuragi
Sore ga eien Only Shine Kizuitakara..."
Dengan perlahan, laki-laki yang juga memiliki identitas sebagai HAYATO di muka publik itu menghembuskan napas lewat mulut. Tangan kanannya terulur untuk merapikan rambut Otoya lalu mendekatkan wajahnya pada laki-laki itu.
Cup. Sebuah ciuman hangat mendarat di kening Otoya.
"Oyasumi, Otoya." Tokiya tersenyum pedih.
"Aku ini pengecut, ya? Hanya berani menciummu saat kau tertidur."
To Be Continued
HAYAAA! Apa-apaan lagi ini chapter!? #Cengok Ck, bahkan ini lebih panjang dari chap-chap sebelumnya yang words-nya cuma sampai 2000-an. :D Yeah, I hope readers're enjoyed this chapter. Sorry juga nih sebelumnya, bagian Natsuki dan Tokiya terlalu gak seimbang, karena saya sendiri bingung dengan karakteristik Natsuki. #GarukGarukKepala Sorry lagi, di chap sebelumnya juga masih straight, tapi di chap ini udah keliatan kan Boys Love-nya? #NgangkatDuaAlisBerulangUlang
Kalau readers nanya soal lagu yang dinyanyiin Tokiya, saya dengan senang hati akan membocorkannya. Di bagian atas (tepat di bawah tulisan WARNING) juga saya sudah tulis kalau lagu itu copyright dari W-INDS yang saya taunya dari anime Fairy Tail (anime tema sihir terfavorit saya). :D Artinya daleeem banget! Bahkan lebih dalam dari palung terdalam yang ada di Jepang! (sok tau!) Kira-kira gini nih artinya...
.
Whether spring, summer, autumn and winter, I want to set your many smiling faces
Into one of the world's stories and tell it one day
I WILL -BE AS ONE- I want to protect you
STAY WITH ME I love you...
I'll tell you my overflowing thoughts without hiding them
Now -BE AS ONE- I want to try believing
That there is such a thing as an everlasting love
Let's etch ourselves into each other
In this destiny which we won't regret
Bring our hands together and feel each other's warmth and feel the peacefulness born from each other's gaze
That is eternity ONLY SHINE Because we realize
.
Ne, ne, ne? Maji da, maji? :D
Terakhir, thanks banget buat readers yang udah review dan ngikutin fanfic pertama saya ini :) Thank a lot for NaRin RinRin (sekarang saya udah buat gak straight lagi temanya buat chap ini :D tapi di chap ke berapa gitu, bakal ada-lah beberapa. Maaf ya, buat Natsuki-nya, saya sudahi dan lanjut ke bagian Tokiya. Tapi tenang, masih ada bagian Shou—yang jadi pasangan Natsuki—yang belum tampil. :) Bahkan bagian mereka jadi klimaks dari cerita ini. eheee #CengengesanGaJe) and you, all. :*
See you next time...
UtaPri!
CHAUW!
