"Kapan kau bisa hidup normal, Michi?" Perkataan atau lebih tepatnya gumaman dari Minato Higarashi kemarin kembali terngiang di benak Haruka. Ia mengambil roti yang sudah dipanggangnya dari mesin pemanggang lalu menaruhnya ke atas piring. Perlahan ia menghela napas lewat mulut. Apa maksud ucapan Higarashi-san? Memang, kehidupan Michi-chan tidak normal? Kalau iya, dari mananya bisa dibilang tidak normal? pikir gadis itu sambil memasukkan kembali sepasang roti lainnya ke panggangan roti.
"Perlu bantuan?"
"Eh?" Dengan cepat sang komposer menggelengkan kepalanya.
Masato yang menawarkan bantuan tadi menatapnya khawatir. "Ada masalah?"
"A-a, iie. Aku hanya sedikit melamun tadi," sahut gadis itu.
Tap, tap, tap. Suara langkah kaki dari arah tangga membuat keduanya menengok. Terlihat sosok gadis lainnya yang kini tinggal di base camp STARISH, yaitu Michiko Sawaragi. "Are? Sepertinya aku telat bangun lagi, ya?" katanya seraya mendekat. Dari wajahnya, terlihat dengan jelas kalau ia kurang tidur.
"Apa Michi-chan terbangun tengah malam lagi?" tanya Haruka khawatir.
"T-tabun?" Michiko hanya tersenyum kecil lalu duduk di kursinya.
Lagi, Haruka menghela napas.
Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli
Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan
Rate : M (Masih belum ada adegan serius yang mengarah ke sana-_-)
Genre : General, Romance, Drama, Friendship
Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.
Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.
I Feel You, S! (Part II)
Seperti suasana di pagi hari yang lalu-lalu, semua penghuni base camp STARISH menyantap sarapannya dengan khidmat. Walau terkadang ada beberapa keributan karena tingkah aneh Michiko seperti yang ia lakukan sekarang. Shou berhenti sejenak sambil menatap gadis tersebut dengan wajah—err—konyol? "Omae, bisa tidak untuk bertingkah senormal mungkin saat sarapan?" tanyanya atau... menyindir?
"Hmm~? Doushite, Shou-chan?" tanya balik Michiko setelah memasukkan sepotong roti yang sudah dicelupkan ke dalam segelas susu putih ke mulutnya.
Ren menyangga dagu. "Mungkin itu sudah jadi ciri khasnya Sawaragi, Ochibi-chan."
"Ochibi...tte?" geram Shou yang terlihat tersinggung.
"Michi-chan wa kawaii, ne Haru-chan?" tanya Natsuki yang meminta pendapat Haruka.
Yang ditanya hanya tersenyum. "Mau tambah lagi rotinya, Michi-chan?"
Michiko menggelengkan kepalanya sambil memakan potongan roti kelimanya. "Mm, arigatou ne, tapi perutku sudah penuh syu~ syu~." Ia tersenyum kecil lalu meminum sedikit susu putihnya. Nafsu makanku jadi bertambah sejak aku tinggal di sini, pikir Michiko. Mata amethyst miliknya memperhatikan keadaan sekeliling begitu merasa ada yang aneh. "Sepertinya Aijima-san belum bangun, ya?"
"Sumimasen, aku kesia—hoaaam—ngan," sahut seseorang diiringi uapan rasa kantuk.
"Memang Kurusu dan Shinomiya tidak membangunkanmu?" tanya Masato.
Cecil duduk di samping Masato. "Tidak."
"Cecil-kun keliatan lebih lelah dari biasanya. Jadi tidak kubangunkan," jelas Natsuki.
Laki-laki berkulit kecoklatan itu mulai mengoleskan selai kacang ke atas roti panggangnya. Lalu ia nampak mencari-cari sesuatu. "Otoya, bisa kau oper selai stoberinya?" pinta Cecil setelah menemukan apa yang ia cari. Nampaknya laki-laki berambut 'nyentrik' tersebut sedang asyik melamun, sampai-sampai tidak menyahut. "Otoya?" panggilnya ulang.
"Ittoki-kun? Daijoubu ka?" tanya Haruka khawatir.
"..." Bukannya menyahut, Otoya terus saja memakan sepotong demi sepotong rotinya.
"Otoya, jangan melamun saat makan," kata Tokiya seraya menaruh selai stoberi yang diinginkan Cecil ke depan piring teman sekamarnya itu.
"Eh? N-nani?" tanya Otoya bingung.
"Tolong oper selai itu padaku, Otoya," ulang Cecil.
Dengan cepat ia berikan selai tersebut pada Ren untuk disambung ke Masato dan terakhir pada sang Pangeran Agnapolis. "A-a, gomen, gomen. Aku melamun tadi, ahaha," jelasnya sambil tertawa pelan. Ia kembali melanjutkan makannya dalam diam yang tentu saja membuat anggota STARISH dan Haruka menatapnya heran plus cemas.
Kedua mata Michiko menatap sosok Tokiya dan Otoya secara bergantian.
"Masih... kepikiran dengan kejadian yang kema—?"
"—oh iya! Hari ini Ichinose-san dan Ittoki-kun ada pemotretan ya, karena lagu duet kalian sudah empat minggu bertahan di Oricon Chart?" Haruka memotong perkataan Ren.
"A-a, iya. Ahaha." Lagi-lagi, Otoya menyahut diiringi tawa yang dibuat-buat.
"Kalau tak mau tertawa, lebih baik tidak usah tertawa," sahut Michiko sarkastik.
Entah kenapa atmosfer berubah total.
"Aku selesai," kata Tokiya tiba-tiba seraya pergi keluar ruang makan.
"T-Tokiya, matte!" Otoya berdiri dari kursi. "Kami pergi duluan," pamitnya.
"Mereka bertengkar atau apa?" tanya Shou pelan.
._. Maji Love '-'
Uuugh~ Doushiyo~? Semuanya pasti mencemaskan kami, pikir Otoya seraya menutupi wajah tampannya ke dalam lipatan kedua tangannya. Selang beberapa menit, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tapi mau bagaimana lagi? Rasanya malu kalau bertemu dengan mereka, terutama dengan Tokiya setelah semua yang terjadi kemarin.
"Otoya? Kau tidak apa-apa?" tanya Tokiya yang baru saja berganti baju.
"A-a, daijoubu, daijoubu." Sosok itu tersenyum sambil menyisir rambutnya dengan jari.
Kini Tokiya sudah berpakaian serba hitam dengan kaos dalaman berwarna ungu tua. Kerah pada mantelnya, dibiarkan berdiri tegak dan membuatnya semakin keren. Begitulah menurut Otoya yang diam-diam memperhatikannya dari belakang. Bukan hanya Tokiya, laki-laki itu sendiri juga memakai baju yang tak kalah kerennya dengan Tokiya. Bahkan lebih lebih lebih keren. Oke, kalau itu adalah pendapat Author sendiri.
"Ittoki-san, ke sini sebentar, biar kurapikan pakaianmu," kata si penata rias.
Otoya menurut dan meninggalkan Tokiya dengan sang fotografer.
"Untuk hari ini, mohon bantuannya ya, Ichinose-san," katanya ramah.
"Kochira koso, Watanabe-san." Tokiya membungkukkan badannya sedikit kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh para staf. "Jadi, apa tema pemotretan kali ini?" tanya laki-laki itu seraya memakai sarung tangan berwarna hitam.
"Dua orang mafia yang saling jatuh cinta?" jawab Watanabe dengan nada ragu.
"Apa?" Wajah Tokiya mendadak jadi lebih datar.
Watanabe agak bergedik dan menjaga jarak. "B-bermasalah dengan temanya?"
"Iie."
.
.
.
Untuk kesekian kalinya, Tokiya Ichinose menghela napas setelah melihat laki-laki yang kini juga berpakaian sama dengannya—namun berbeda warna kaos dalamannya yaitu berwarna merah—tersebut salah tingkah jika berdekatan dengannya. Ia sadar, kali ini Otoya terlihat kaku dan lebih tegang dari pemotretan pertama mereka di suatu majalah dulu. Sebenarnya ada apa dengannya? tanya Tokiya dalam hati.
"Ittoki-san, tolong lebih dekat lagi dengan Ichinose-san," suruh Watanabe.
Laki-laki itu mendekat sesuai perintah sambil menodongkan short gun-nya. "B-begini?"
"Ya, seperti itu!" Watanabe tidak jadi memotret lagi. "Apa kalian pernah melihat film action? Gaya kalian masih terlihat kaku, terutama Ittoki-san," katanya dengan nada yang menyakitkan untuk Tokiya. Cerewet, cacinya dalam hati. Ia mengangkat tangannya, bermaksud untuk mengungkapkan pendapat. "Biar aku saja yang menodongkan pistol pada Otoya," kata Tokiya dengan nata datar.
"Nice! Tukar posisi!" seru si fotografer bersemangat.
"To—!" Belum sempat Otoya menyanggah, Tokiya sudah menukar posisi mereka.
"—tahan," potong Tokiya dengan nada berbisik.
Kedua manik ruby milik Otoya nampak melebar saat sebuah tangan menarik bagian leher kaos merahnya dan membuat jarak mereka semakin dekat. Tangan kanan Tokiya memegang pistol yang diarahkan pada keningnya. Pandangannya tajam seolah ingin memakan Otoya hidup-hidup. Namun justru karena itu, Otoya jadi terhanyut dan tanpa sadar terus menatap Tokiya dengan pandangan memelas.
A-apa-apaan ini!? Berhenti menatapku seper—eh?
Pandangan tajamnya perlahan memudar begitu sadar kalau tangan laki-laki itu bergetar.
Jepret! Jepret! Jepret!
"Sugoi! Sugoi! Sugoi! Keluarkan aura kalian yang sesungguhnya! Aura yang saling ingin mendominasi satu sama lain! Aura yang menginginkan untuk tetap hidup sampai titik darah penghabisan!" Berbagai seruan lainnya dari Watanabe terdengar mendominasi ruang pemotretan.
Mendadak, Tokiya mengangkat tangan kanannya yang tengah memegang pistol. "Bisa dihen—"
—grep!
Dengan napas terengah-engah, partner-nya itu menghentikan ucapannya dengan hanya menarik kerah mantel hitamnya. Pandangan Otoya pun berubah menjadi tatapan pembunuh berdarah dingin. Perubahannya itu tentu saja membuat Tokiya terpaku. Semua pasang mata menatap takjub pada sosok Otoya.
Jepret! Jepret! Jepret!
"Sugoi! Sugoi!" Watanabe sibuk memotret dari semua sudut.
"Jangan menghentikan pemotretan secara sepihak," desis Otoya.
Kaget. Hanya itu yang bisa diungkapkan oleh Tokiya. Baru kali ini teman yang paling enerjiknya berkata seperti itu dengan nada mendesis pula. Karena tak mau kalah, Tokiya kembali memasang wajah dingin. "Baiklah, kuturuti permainanmu," sahutnya dengan nada berbisik dan hanya mereka berdua saja yang mendengar.
Bisikan laki-laki itu malah berdampak pada Otoya. Wajahnya perlahan kembali seperti semula. Bahkan rona merah muncul di kedua pipinya, walau terlihat secara samar-samar.
Jepret! Jepret!
"Arahkan pistol pada dagu Ittoki-san!" suruh Watanabe sambil memotret tanpa henti.
"Seperti yang kau mau, Watanabe-san," bisik Tokiya lagi dengan wajah menyeringai.
Otoya speechless seketika. Tokiya... menyeringai...
Bluuush!
'-' STARISH ._.
Jam istirahat untuk makan siang sudah selesai beberapa menit yang lalu. Kini semua pegawai maupun idol-idol yang ikut andil dalam pembuatan film layar lebar pertama STARISH kembali disibukkan dengan pengambilan gambar yang diambil di luar studio. Tepatnya di halaman belakang studio teater milik agensi Shining.
"Maaf, aku pamit lebih dulu," kata Ren pada Minato.
"It's okay. Terima kasih untuk hari ini, Ren-kun," sahutnya seraya tersenyum.
"Ochibi-chan, ayo cepat!"
Shou Kurusu yang menjadi bintang tamu dalam siaran radio swasta bersama Ren itu memberikan death glare gratisnya. "Chibitte yuu na!"
"Terima takdir saja, Shou-chan," imbuh Michiko yang main lewat saja di tengah-tengah Minato, Shou, dan Ren. Mendengar hal itu, muncul empat sudut siku-siku di kening Shou. "Baiklah! Kita lanjutkan pengambilan gambarnya!" seru gadis manis berambut indigo tersebut dan sukses membuat kening Minato berkedut.
"Jangan seenaknya memerintah, BAKA!"
"Ittoki-kun dan Aijima-san sudah siap?" Michiko pura-pura tak mendengar seruan Minato barusan.
"Ah, m-matte, matte!" Kini sosok Otoya sudah berubah menjadi pelajar di Saotome Gakuen lagi. Sedari tadi ia nampak kesusahan memakai dasi karena terlalu terburu-buru. "Aa~ mou! Aku lupa cara memasang dasi," keluh laki-laki tersebut seraya meminta penata rias untuk memakaikannya.
Minato sweat drop. "Sebenarnya kau lulus sekolah tahun berapa sih?"
Pikirannya sedang tidak fokus, makanya jadi error begitu, sahut Tokiya dalam hati.
"Psst!" Michiko menyenggol lengannya. "Pemotretannya berjalan lancar, kan?"
"Hm."
Gadis yang kini berpenampilan ala lolicon itu tersenyum lega. "Yokatta~ syu~ syu~." Alis sebelah kanan Tokiya terangkat sedikit. Michiko hanya tersenyum manis menanggapinya seraya duduk lagi di kursi khusus yang disediakan untuknya. Ia memandangi kedua laki-laki yang kini mulai mengadu akting, yaitu Otoya dan Cecil. Matanya perlahan menutup.
"CUT!" Suara Minato membuat mata Michiko terbuka lagi.
"Seharusnya Cecil-kun terlihat seperti orang bosan dan juga sedih," kata Minato.
"A-a, sumimasen," sahut Cecil sambil garuk-garuk pipi.
Michiko menyangga dagu seraya memejamkan matanya kembali karena rasa kantuk akibat tidak tidur semalam suntuk.
.
.
.
"Apa maksudnya ini?" geram Ranmaru Kurosaki setelah membanting pintu ruangan dengan bertuliskan 'Shining Saotome' di bagian atas pintu. Tangan kanannya terlihat tengah mencengkeram sebuah majalah ternama yang baru dibelinya kemarin saat berada di Negara terakhir Road Show Tour keliling Benua Eropa mereka, yaitu Perancis. Tap, tap, tap. Dengan wajah memerah karena menahan emosi, ia mendekati sang Presdir yang berdiri membelakanginya.
"Ran-Ran! Dame yo!" Sosok Reiji Kotobuki ikut masuk ke dalam ruangan.
Brak! Suara majalah yang terbanting ke atas meja terdengar.
"Apa ada masalah dengan Road Show Tour kalian?" tanya Shining tanpa menoleh.
Suasana hening dan mencekam langsung terasa.
"Kenapa Anda menyetujui proyek ini, Presdir?" tanya Ranmaru serius.
"Tentu saja karena menarik," sahutnya seraya berbalik dan menari aneh. Pak—ehem—tua itu berputar mendekati Ranmaru lalu mengambil majalah tersebut yang menjadikan artisnya, yaitu STARISH menjadi topik utama dengan pembahasan film arahan Minato Higarashi dan Michiko Sawaragi sebagai penulis naskah. "Apa itu yang menjadi masalahmu, Kurosaki?"
Brak! "Tentu saja! Bagaimana pun juga film itu mengambil tema shounen ai!"
"Jujur saja, saya juga tidak suka dengan kerja sama yang Anda buat ini," imbuh Camui seraya masuk ke dalam ruangan diikuti Ai Mikaze.
"Menurut dataku, agensi Shining tidak pernah membuat film seperti itu sebelumnya."
"Ya~h, memang ini yang pertama kali~," kata Shining menyahuti perkataan Ai.
Reiji menatap teman-temannya dengan penuh kecemasan.
"Jadi~ kalian ke sini untuk berdemo?" tanya sang Presdir.
"—chi-chan? Michi-chan? Michi-chan?" Seseorang yang sangat ia kenal memanggil namanya berulang kali dengan nada khawatir. Rasa hangat menjalar dari sebuah tangan yang menyentuh pipinya menjalar ke seluruh tubuh. "Shinomiya-...san?" lirih Michiko seraya menengok ke kanan dan ke kiri karena ia merasa bukan lagi di tempat sebelum ia tertidur. "Di mana ini? Apa syutingnya sudah selesai?"
"Sekarang kita sedang perjalanan pulang, syuting sudah selesai sejak lima belas menit yang lalu," sahut Tokiya yang duduk di samping supir.
"Benarkah? Lalu siapa yang menggendongku sampai ke mobil?"
"Aku. Ada masalah?" Cecil tersenyum pada Michiko yang duduk di belakangnya bersama Masato dan Otoya.
"Michi tidur terlalu lama, bahkan seperti orang mati," timpal si rambut merah.
Tawa kecil terdengar. "Gomen, gomen. Aku susah tidur semalam," kata Michiko.
"Oh iya, tadi Otoya memfo—hmph!"
Otoya menyumpal mulut Cecil yang coba-coba untuk membocorkan rahasianya dengan tangan kanan. "Ahahaha, tadi kau mau bicara apa sih, Cecil? Sepertinya nggak penting, ya?" Laki-laki itu terlihat kesusahan jika disuruh untuk berbohong bagi Michiko.
"Ittoki-kun, apa yang kau rahasikan, hm?" tanya gadis itu sambil berbalik.
"Eh? Tidak ada kok, sungguh!"
"Hmmmph! Mmph!"
Melihat Cecil yang megap-megap kehabisan oksigen, Otoya langsung membuka sumpalannya. "Oh iya, kira-kira Nanami mau belikan kita semua kue apa, ya?" gumamnya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kue? Memang siapa yang ulang tahun?" tanya Michiko.
"Aku," sahut Cecil dari belakang.
Sontak gadis itu berbalik lagi. "EEEH!? Majiii!?"
"31 Oktober, ulang tahunnya Cecil-kun," jelas Natsuki. Wajahnya tampak tertekuk beberapa detik kemudian. "Padahal aku ingin membuatkan kue ulang tahun untuk Cecil-kun, tapi Haru-chan bilang 'tidak perlu karena semuanya terlihat kelelahan termasuk aku'," jelasnya lagi dengan wajah cemberut. "Tapi sebagai gantinya, aku akan berikan salah satu koleksi Piyo-chan-ku sebagai hadiah! Cecil-kun mau 'kan menerimanya?" Ia menengok ke belakang dengan puppy eyes no jutsu.
"Tentu saja. Arigatou, Natsuki," kata Cecil senang sambil tersenyum.
Otoya mendekati Cecil—yang padahal sudah duduk di samping kirinya.
"Aku juga akan memberikan hadiah untuk Cecil, tapi besok. Tidak apa, kan?"
Tidak tahan jika Otoya yang memberikannya sebuah puppy eyes no jutsu, Cecil langsung mengangguk. "Terserah kau saja, Otoya. Terima kasih, ya." Tanpa ragu, ia mengacak-acak rambut Otoya yang memilik tubuh 2 cm lebih pendek darinya.
Senyum tipis terbingkai di wajah Michiko begitu sadar kalau ada sepasang mata yang menatap mereka berdua dengan pandangan tidak suka dari kaca.
"Aku juga menyusul ya, Aijima-san."
"Terima kasih, Michiko."
To Be Continued
Ohayou, Konnichiwa, Konbanwa, minna-san!^^ Yokatta, malam ini (karena saya update-nya malam) bisa nge-publish chap selanjutnya setelah nyuri-nyuri waktu luang. :D Ne, ne, ne, untuk part Tokiya habis sampai sini tapi masih ada part Cecil kok setelah ini yang pastinya bakal ngefokusin tentang cinta segitiga mereka (TxOxC). Spoiler nih ya, ceritanya. Saya gak pernah bosen untuk bilang TERIMA KASIH dan MAAF atas review dan keterlambatan update-an saya. Habis, waktu kepake terus sama kerja kelompok lah, apalan ini itu lah, ulangan harian, dan masih banyak lagi. Tapi anehnya, kalo pagi sebelum berangkat sekolah, masih sempet-sempetnya buat nonton anime "Sekaiichi Hatsukoi". Yaaah, baru-baru ini juga sih nonton dan baca manga-nya. ._.
Terima kasih ya untuk yang nge-review : Rye Yureka (eh? Kurang ya? ._. sumimasen, karena masih awal-awal jadi yaaa masih kurang. Tapi doain aja mudah-mudahan bisa bertambah. :D ini udah dilanjut walau telat banget update-nya); NaRin RinRin (terima kasih untuk support-nya :) ehehe, nanti Tokiya bakal jadi gentle kok sebentar lagi, tenang aja~ #EvilLaugh# etoo, doain aja ya mudah-mudahan gak mendominasi straight-nya :D); mae and jae-chan (oke sip! Ini udah dilanjut walau telat banget update-nya. :) sumimasen~); Karin Ryodai (sip! Ini udah di-update, silahkan dibaca lagi :D); dhevicka (etoo, karena kepanjangan jadi manggilnya vicka-san saja ya? :) arigatou dibilang keren. Etoo, ditunggu aja ya MasaRen nya. soalnya alur dibuat sesuai lagu Maji Love 2000% (tuh kan jadi spoiler lagi) :D jadi tunggu aja ya~).
Review kalian sangat berarti untuk saya. :D
Terima kasih juga yang sempet-sempetin untuk mampir ke sini.
See You Next Time!
CHAU!
