Saa Let's song!

Yume wo utaou (Let's shout!)
Sora ni utaou (Let's go!)
Hajikeru monogatari ni shichaimashou
Mirai no chizu wo (Yes Yes!) kimi to egakou
Kono REBORYUUSHON (We are!)

Ikimashou (ST RISH!)
Ai wo Change the star
Check it out!

"Lagu ini..." Michiko Sawaragi bergumam seraya mencari-cari asal lagu tersebut. Ia bangkit dari posisi duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan laptopnya di bawah pohon. Gadis berpenampilan mirip boneka lolita itu terus melangkah dengan hati-hati karena penerangan di sekitarnya sangat minim.

GIRI GIRI na mune no kodou
Uh baby gouin ni naru koi no shoudou
Docchi wo erabu? PURINSESU
KURA KURA shichau kurai 1000% LOVE

Tap.

"Suara Ittoki-san dan Ichinose-san?"

Tap, tap, tap, tap, tap.

Michiko mempercepat langkahnya, namun suatu cahaya membuatnya berhenti melangkah mendekati gedung sekolah. Cahaya hijau yang sangat mencolok tiba-tiba saja muncul dari balik pepohonan.

Naze ka?
Kimi de
Afureteru
Kokoro
Sawagu

Fushigi na RAVE

Sekali lagi sang gadis ingin beranjak untuk mendekati suara yang ia tahu milik Ren Jinguji dan Masato Hijirikawa. Namun cahaya itu makin bersinar dan membuatnya berbalik. Ia berjalan sambil bersembunyi di balik pohon. Rasa takut dan penasaran mulai muncul tatkala sinar yang dilihatnya semakin terlihat dekat.

Mada minu seiza wo
Futari de tsumuide
KISU yori
Sugoi!
Uta de sekai wo tsukurou

Kali ini Shou-chan dan Shinomiya-san..., katanya dalam hati dengan pandangan ke arah atap gedung sekolah yang terlihat bercahaya jingga. Perlahan kepala gadis itu menengok ke belakang, tempat cahaya hijau tersebut berasal. Ia memicingkan kedua matanya sambil berbalik.

Saa Let's dance!

Yume wo odorou (Let's shout!)

Sora ni odorous (Let's go!)

Yarisugi na kurai ga ii sa

Junbi wa OK?

Ikkai kiri no (Yes Yes!)

SUPESHARU jinsei

Kyoukashou ni wa (We are!)

Nottenai (ST RISH!)

Ai wo Change the star!

Check it out!

Koyoi wa hora futari de 1000% LOVE!

"Sonna..." Kedua tangan Michiko menutup mulutnya.

Tap. Ia mundur selangkah dengan pandangan tak percaya.

Sesosok laki-laki yang terlihat sepantaran dengannya muncul di tengah-tengah sinar hijau tersebut. Tapi yang membuat Michiko tak percaya adalah seekor kucing hitam yang sering ia lihat bersama Haruka Nanami kini berubah menjadi sesosok laki-laki misterius dengan aura berwarna hijau di sekelilingnya.

Deg, deg, deg.

A-apa yang terjadi...? tanya Michiko dalam hati seraya terduduk di bawah pohon.


Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli

Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan

Rate : M (Doakan saja mudah-mudahan ada di chapter selanjutnya-_-)

Genre : General, Romance, Drama, Friendship

Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.

Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.


I Miss You, A! (Part I)


Bayangan masa lalu kembali merasuki pikiran Michiko saat ia ingin tertidur. Ada apa denganku? Sejak aku tinggal di dekat mereka, kenangan masa laluku selalu muncul setiap hari, keluhnya sambil mengambil posisi duduk. Mata amethyst-nya menatap sang komposer STARISH, Haruka yang tengah terlelap di kasurnya.

"Sekarang jam berapa?" tanyanya entah pada siapa.

01.17 P.M..

Ia bangkit dari kasur. "Masih ada waktu..."

Cklek. Dengan langkah mengendap-endap, Michiko pergi keluar kamar lalu menuruni tangga sambil menyelimuti piyama putihnya dengan sweater berwarna biru. Masih bisa ia lihat secara samar-samar, semua anggota STARISH tertidur di ruang keluarga. Sang gadis yang identik dengan warna ungu itu hanya bisa menahan tawa begitu melihat gaya tidur mereka, sampai saat matanya menemukan sosok Cecil Aijima yang tertidur di samping Otoya.

Oi, oi, oi...

Sweat drop muncul begitu melihat satu sosok lainnya di sebelah Otoya, yaitu Tokiya.

Lagi, ia berjalan menuju keluar base camp dengan pandangan berkunang-kunang.

.

.

.

Suasana malam yang damai menemani sosoknya yang tengah terduduk dan memejamkan mata. Angin semilir menggoyangkan helaian rambut indigo-nya ikut melambai mengikuti gerakannya. Cahaya keunguan mulai keluar di sekitar tubuhnya seiring makin kencangnya angin bertiup.

"Feel my bond... feel my breath... feel my soul..."

Sriiing...

Cahaya itu terlihat semakin gelap. Hembusan angin pun semakin kencang.

Srak! Suara ranting patah seketika membuat cahaya dari tubuh Michiko menghilang.

"Siapa di sana?" tanyanya dengan nada datar, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. "Sumimasen. Sepertinya, kedatanganku membuat ritualmu jadi batal." Suara khas dari seorang Cecil Aijima terdengar dan itu cukup membuat Michiko tertawa pelan. "Aku tahu, cepat atau lambat, kau pasti akan mengetahuinya lebih dulu dari yang lain karena kita... sama," sahut Michiko seraya bangkit dari posisi duduknya.

Cecil memandang tajam ke arah gadis tersebut. "Apa maksudmu dengan 'sama'?"

Sang gadis membalas tatapan itu dengan senyum mengembang di wajah manisnya.

"Kau... aku... punya kekuatan sihir. Bukan begitu, Cecil Aijima?"

Syuuuh... Tiupan angin malam mengisi kesenjangan yang tiba-tiba terjadi di antara keduanya. Selang beberapa menit kemudian, terdengar tawa kecil disertai suara langkah kaki mendekati Michiko yang tengah berdiri di bibir danau. "Sejak awal aku memang curiga denganmu, terlebih saat pertama kali melihat novelmu di toko buku. Entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang aneh keluar dari novelmu dan membuatku harus membelinya," ceritanya.

"..." Michiko menjaga jarak dengan mengambil satu langkah ke kanan.

"Kau takut denganku, Michiko Sawaragi?" tanya Cecil.

"Untuk apa aku takut padamu, Pangeran Agnapolis?" tantang si gadis.

"Sekarang... aku jadi tahu, kenapa novel-novelmu laku terjual."

Deg. Mendadak sosok laki-laki itu sudah berada 5 centi meter di hadapannya dan sontak membuat Michiko mundur selangkah. "A-ap-apa yang ma—" Suaranya tertahan karena terlalu terkejut saat tangan yang lebih besar darinya tiba-tiba menahan lengan kirinya.

"Apa selama ini kau menjual novel-novelmu dengan kekuatan sihir?"

"..."

Sadar atau tidak, genggaman Cecil menguat. "Aku benci orang sepertimu," akunya.

Tangan Michiko terkepal. "Aku juga benci orang sepertimu." Ia menatap lurus ke arah kedua mata emerald Cecil. "Kau tak berhak menuduhku seperti itu! Kau tak tahu 'kan kekuatan apa yang sebenarnya kupunya!?" Dengan sekali sentakan, genggaman Cecil terlepas.

"...g-gomen."

"..."

Cecil nampak menundukkan kepala, menyesal. "Gomen, aku terbawa perasaan."

Senyum tipis mengembang di wajah Michiko. Ia pun memilih berjongkok lalu memeluk kedua lututnya. "Sebenarnya... aku tidak punya kekuatan sihir seperti yang kau pikirkan sebelumnya. Kekuatan sihir milikku otomatis diberikan pada anak-anak yang terlahir di keluarga Sawaragi, dan aku... sama sekali tak menginginkannya," cerita Michiko dengan pandangan meredup.

"Kenapa?" tanya Cecil seraya ikut berjongkok.

"Kakakku... mati karena kekuatan ini."

Rasa simpati nampak dari kedua mata Cecil.

"Di sisi lain, aku memang membencinya. Tapi tak bisa kupungkiri, berkat kekuatan ini, aku bisa bertemu dan menjadi dekat dengan kalian semua. Aku selalu berpikir, apa di kehidupan selanjutnya aku bisa bertemu dengan orang-orang yang menakjubkan seperti kalian lagi?" Ia tertawa pelan sebelum kembali bercerita. "Konyol, bukan? Seolah-olah aku bergantung pada kalian."

"Tidak kok. Aku juga pernah berpikir seperti itu." Cecil tersenyum ramah.

Entah sejak kapan suasananya menjadi lebih ringan dari sebelumnya.

"Memang sihir apa yang kau punya?" tanya Cecil secara hati-hati.

"Sihir... indera keenam? Entahlah, itu disebut sihir atau bukan, aku masih meragukannya," aku Michiko dengan wajah frustasi. "Tapi... kalau bukan sihir, tak mungkin aku bisa mengubah takdir seperti yang kulakukan waktu itu," tambahnya dengan nada bergumam sehingga Cecil tak mendengarnya.

"Lalu, apa kau bisa melihat masa depanku?" tanya Cecil semangat.

Michiko hanya tertawa seraya menganggukkan kepala.

"Eh? Ceritakan padaku apa yang terjadi di masa depan, Michiko," pintanya.

"Maaf, Aijima-san. Aku tak mau takdir yang sudah ditulis untukmu hancur karena kuceritakan apa yang kulihat." Melihat wajah laki-laki itu tertekuk, mau tak mau membuat Michiko kembali tertawa. "Padahal baru beberapa menit lalu kita berseteru, tapi sekarang suasananya berubah total, ya?" candanya.

"Sepertinya, kau bisa melihat dengan jelas, ya? Bahkan tanpa melihat orang tersebut."

"Walau begitu, tetap saja kekuatanku ini punya kelemahan."

Cecil menyangga dagunya di atas lipatan tangannya. "Aku juga bisa melihatnya tapi tidak sejelas itu. Lagipula, aku harus menatap ke matanya terlebih dulu jika aku mau melihat masa depan mereka," ceritanya lagi.

"Sekarang aku sadar," kedua mata Michiko menatap ke arah langit, "sihir itu... aneh."

"Aa. Banyak macamnya pula." Cecil memilih untuk berbaring di samping Michiko.

"Apa yang kau lakukan?" heran sang gadis sambil mengambil jarak.

"Ne, kalau sudah begini, kau mau menemaniku melihat bintang sampai pagi?"

"Hah?"

Senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya terlihat di wajah Cecil. "Aku sering melakukannya dengan Otoya."


._. Maji Love STARISH '-'


"Cecil! Awas!" Belum sempat ia kembali berbalik untuk menghadap ke depan, keningnya berbenturan dengan tiang lampu. Dug! "Ittai...," lirihnya sambil berjongkok di depan tiang tersebut. Tak lupa kedua tangannya menutupi kening yang kemungkinan sudah memerah.

"C-Cecil, daijoubu ka?" tanya Otoya yang sempat memperingatkannya tadi.

"A-a, daijoubu desu."

Shou nampak berpikir sebentar. "Sejak pagi tingkahmu terlihat aneh, Cecil."

Laki-laki itu hanya tertawa pelan seraya bangkit. "S-sou ka?" Dalam hati ia merutuki perkataan Michiko saat dirinya memergoki apa yang dilakukan gadis itu. "Apa novelku mulai mempengaruhimu, Aijima-san?" Pandangannya sontak tertuju pada sosok gadis yang dengan santainya berjalan di samping Minato.

"Aku taruh barang bawaanku ke tempat penginapanku dulu, ya," pamit Otoya.

Cecil mengangguk dengan pandangan aneh tatkala matanya melihat sosok Tokiya di depan Otoya.

Melihat hal itu, tentu saja membuat Masato dan Ren yang juga ikut memperhatikannya heran. Memilih untuk tidak memperdulikannya, Ren pun merentangkan kedua tangannya untuk menikmati angin laut. "Sudah lama aku tidak berlibur ke sini."

"Kita ke sini bukan untuk liburan, Jinguji," kata Masato mengingatkan.

"Hai, hai." Ren mulai beranjak mengikuti Otoya menuju ke penginapan.

"Kaoru-chan!?" Teriakan Natsuki Shinomiya membuat semua orang menengok.

Seorang laki-laki berwajah mirip Shou yang baru saja keluar dari mobil itu hanya tersenyum. "Ohayou gozaimasu, minna," sapanya sambil membungkukkan badan. Belum sempat ia berdiri dengan benar, seseorang sudah menubruk dan memeluknya. "Eh? M-Michi-chan?" tanya Kaoru ragu-ragu.

"Huaaa! Kukira kau benar-benar tak mau dataaang!" seru Michiko.

"Kaoru-chan! Aku merindukanmu!" Satu orang lagi ikut nimbrung memeluknya.

"N-Natsuki, tung—huaaa!"

Bruk!

Karena tak bisa menahan dua beban, mereka bertiga pun terjatuh dengan Kaoru berada di posisi paling bawah. "I-ittai~," lirihnya. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam menutupi wajahnya dari sinar matahari. Senyum manis tersungging di wajahnya. "Hisashiburi, Shou-chan."

Yang disapa ikut tersenyum. "Jadi, pada akhirnya kau tak bisa menolaknya, kan?"

Blush! "A-apa sih? Uuugh, menyingkir d-dari tubuhku, berat tahu!" keluh Kaoru.

Michiko dan Natsuki menurut. Keduanya hanya senyum-senyum tidak jelas.

"Hmm? Ochibi-chan kedua?" heran Ren yang tidak jadi pergi ke penginapan.

"H-hai?" Mungkin bagi Kaoru, panggilan Ren adalah hal biasa.

Berbeda dengan Shou yang mulai naik darah. Dengan tiga sudut siku-siku di keningnya, Shou memperkenalkan sosok Kaoru. "Terserahlah mau kau panggil dia siapa, aku tak peduli. Yang pasti, dia adalah saudara kembar identikku. Namanya Kaoru Kurusu dan dia adalah adikku," kata Shou sambil memegang kedua bahu sang adik.

"Aku baru tahu, kau punya kembaran, Kurusu," gumam Masato.

"Sekarang Kaoru tinggal di sekolah berasrama khusus kedokteran, jadi aku tak bisa mengenalkannya pada kalian karena kami juga jarang bertemu," jelasnya.

"Tapi Kao-chan pernah ke lokasi syuting kok, tapi Hijirikawa-san sudah pergi," imbuh Michiko. Dengan santainya ia menggandeng lengan laki-laki tersebut, tanpa tahu bahwa kedua pipi Kaoru yang sudah memerah. "Dan mulai sekarang, Kao-chan akan bekerja sama dengan kita membuat film Maji Love STARISH!"

"Sou desu ka," gumam Cecil sambil memperhatikan Shou dan Kaoru secara bergantian.

"Apa?" sewot Shou.

"Walau Shou kakaknya, Kaoru terlihat lebih tinggi, ya?" kata Cecil tanpa dosa.

Twitch! "OMAE!"

Michiko dan lainnya—termasuk Kaoru—pergi dari amukan Shou. "Kabuuur!"

Minato Higarashi—yang merasa paling tua di antara mereka—hanya bisa geleng-geleng kepala. "Dasar bocah. Ingat umur, oi! Ingat umur!" serunya.

.

.

.

Pengambilan gambar dilanjutkan sampai malam. Cuaca kala itu sangat mendukung proses syuting dengan turunnya hujan yang cukup deras dan sukses membuat repot para staf. Tapi setidaknya mereka tak perlu membuang-buang air untuk menciptakan background hujan deras saat bagian Otoya menatap keluar jendela.

Duo M nampak gemetar sambil memperhatikan layar monitor di hadapannya.

"Ugh, samui~," gumam sang pembuat skenario. "Eh?"

Tanpa diduga Masato menyelimuti bahunya dengan selimut tebal.

Ia tersenyum. "Arigatou, Hijirikawa-san." Laki-laki itu ikut tersenyum tipis sekali lalu kembali menatap adegan yang tengah dimainkan oleh Otoya dan Cecil di depan mereka. Otoya terlihat kikuk di tepi kasur begitu Cecil memasuki ruangan setelah berganti baju. Gadis itu terkikik pelan dan kembali membaca naskah sambil sesekali melirik ke arah Tokiya Ichinose yang tengah duduk di samping Minato.

"T-terima kasih karena mau meminjamkan bajumu, Cecil," kata Otoya.

Laki-laki berambut hitam kecoklatan tersebut hanya mengangguk.

Hening beberapa detik sampai terdengar suara orang duduk di samping Otoya.

"Sejak pertama kali bertemu denganmu, kau selalu sendirian, Cecil."

Yang diajak bicara nampak menunduk dan tanpa sadar menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Aku memang suka sendirian, tapi tak apa jika ada satu-dua orang yang mau berteman denganku," kata Cecil seraya meneruskan kegiatannya.

"Bukan hanya satu atau dua orang, tapi mungkin lebih dari sepuluh."

"Walau begitu, mereka tak bisa menganggapku sebagai murid biasa."

Untuk sesaat, Otoya melupakan kenyataan bahwa sosok Cecil merupakan Pangeran Agnapolis. "A-a, gomen, gomen. Sepertinya aku salah mengambil topik pembicaraan." Ia nampak terlihat bodoh di layar monitor dengan tertawa garing sambil menggaruk-garuk pelan pipi kanannya. "Ne, Cecil. Kalau boleh jujur...," kedua mata ruby Otoya melirik sebentar ke samping, "aku selalu lupa dengan kenyataan bahwa kau itu Pangeran sungguhan, Pangeran Agnapolis. T-tapi aku janji, aku tidak akan berbuat hal yang tidak sopan terhadapmu," ikrarnya yang justru membuat Cecil terlihat kecewa.

"Aku justru senang jika kau menganggapku sebagai murid biasa," lirih Cecil.

"..."

"Hidup sebagai seorang Pangeran membuatku susah bersosialisasi," ungkapnya.

Tawa miris dari sosok yang kini duduk di sampingnya membuat Otoya menengok.

"Bahkan Haruka masih menganggapku sebagai orang asing sampai sekarang. ia juga masih tak percaya soal perjanjian yang dibuat oleh Raja terdahulu dengan Kakeknya." Cecil menatap balik Otoya yang baru-baru ini dekat dengannya dengan tatapan berkaca-kaca.

"Cecil..."

"Mungkin karena kedatanganku juga yang terlalu tiba-tiba," imbuhnya.

Grep!

Kedua mata emerald Cecil melebar. "O-Otoya?" Tak terdengar jawaban dari seseorang yang memeluknya secara tiba-tiba tersebut. Semua pasang mata yang melihat adegan mereka tentu saja ikut terbawa suasana haru. Bahkan si Kembar Kurusa dan Natsuki sudah sesenggukan—minus Shou yang sibuk nahan Natsuki untuk tidak melepas kacamatanya. "N-nanda yo, sore?" Tanpa sadar, suara Cecil terdengar bergetar. Air mata pun setetes demi setetes mulai berjatuhan menuruni kedua pipinya.

"Aku... mengerti apa yang kau rasakan, karena aku juga pernah merasakannya."

Cecil bisa merasakan pelukan Otoya semakin mengerat. "Otoya..."

"Sebenarnya kau ingin sekali berteman, tapi kau selalu menutup diri dengan berpura-pura seolah kau bisa melakukan semua hal itu sendirian," lirih Otoya sambil melepas pelukannya. Namun Cecil justru tak membiarkan pelukan itu terlepas.

"Semakin lama, kau semakin mirip Ibuku, Otoya," aku Cecil.

"Eh? I-Ibu?" pekiknya.

Sambil menghapus air matanya, Cecil melepas pelukan mereka kemudian berjalan mendekati tempat cerobong asap. Ia berusaha menghapus air matanya lagi dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk memasukkan beberapa kayu ke tungku pembakaran. "Mau coklat panas?" tawarnya tanpa menengok.

Otoya menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, tapi aku sudah kenyang."

"Memang kau sudah makan malam?"

"Eh? Etoo..." Dari nadanya, tentu saja ia mencoba mencari alasan.

Hening kembali merajai sampai Otoya kembali menatap sosok Cecil setelah beberapa menit memandangi keadaan di luar penginapan. "Cecil, kau punya... ponsel?" tanyanya ragu, mengingat selama ini ia tak pernah sekali pun melihat Cecil memegang ponsel.

"Aku belum beli ponsel."

"Oh."

"Kau mau memberitahu teman sekamarmu untuk tak mencarimu?"

Pertanyaan dari Cecil membuat semuanya menengok ke arah orang yang dimaksud. Otoya berakting—atau sungguhan?—gugup dan kaget di saat yang bersamaan. "Bukannya selama ini 'dia' tak memperdulikanmu, Otoya?" Intonasi yang jelas-jelas terdengar serius dan bukan pura-pura itu kembali membuat puluhan pasang mata tertuju pada sosok Cecil Aijima yang kini tengah berjongkok membelakangi semua. Bahkan Otoya sendiri juga kaget, seolah perkataan itu secara alami keluar dari mulut Cecil.

"CUT! Kita lanjutkan besok pagi! Otoya-kun dan Tokiya-kun, tolong pelajari lagi naskahnya," perintah Minato secara tiba-tiba.

"Eh? Kok berhenti?" heran Otoya dengan polosnya.

"Sudah larut malam, lagipula begitu juga sudah bagus," sahut Michiko.

Tokiya keluar dari tempat syuting secara diam-diam dan membiarkan tubuhnya terkena rintikan hujan. Laki-laki itu tak menyadari bahwa ada sepasang mata amethyst yang terus memperhatikannya sampai sosok itu menghilang di tengah kegelapan. Mata itu kemudian beralih pada laki-laki lainnya yang masih betah mengaduk-aduk abu di tungku pembakaran. "Maji ka yo...," gumamnya.

"Aku mengerti kenapa syutingnya dihentikan," kata Ren dengan senyum arogannya.

"Oh, bagus deh," sahut orang tersebut.

To Be Continued

YOSH! Akhirnya bisa diterusin juga fanfic saya yang satu ini. :) Masih adakah yang menunggu kelanjutannya? Saya harap, para pembaca mau membaca chapter ini dan memberikan ampunan pada Author laknat yang dengan teganya menunda-nunda untuk menulis lanjutan fic ini... T^T Hontou ni gomenasai!

Thanks banget buat para pembaca yang masih mau nyempetin untuk mampir ke fanfic rada-rada gaje ini dan ninggalin jejak di kolom Review (NaRin RinRin, ai-chan, dhevicka-san, dan Uzumaki Naa-chan). Maaf nggak bisa bales satu persatu karena mata sudah 5 watt. ._. Tapi secara keseluruhan, saya baca review-nya kebanyakan pada nanyain 'ke mana sosok Kaoru yang katanya mau ngajakin dinner Michiko?' Naaah, di sini terjawab dengan jelas. Kaoru bersekolah di sekolah khusus kedokteran dan berasrama, makanya jarang nongol. Soal dia gak nongol juga karena takut chapter-nya kepanjangan. :D

Huft, akhirnya saya bisa tenang mengikuti UTS yang akan dilaksanakan minggu depan setelah meng-update fic ini. Bakal di update lagi setelah selesai UTS dan siapkan diri untuk baca kelanjutannya. Saya WARNING dari sekarang, untuk yang di bawah umur agar tidak melanjutkan membaca fanfic ini. Tapi kalau tetap maksa, yaaa dosa tanggung sendiri ya! :) So, jangan salahin saya kalau otak para readers jadi teracuni. XD

Sekian dari saya.

Kurang lebihnya mohon ma—BLETAK!

See you next time!

CHAU!