Secara perlahan, kedua mata itu terbuka. Memperlihatkan iris mata emerald-nya yang sehijau dedaunan. Senyum ramah yang biasanya muncul tiap kali melihat sosok itu, kini menghilang entah ke mana dan tergantikan oleh senyuman miris dengan pandangan sayu. "Bukannya selama ini 'dia' tak memperdulikanmu, Otoya?" Ia tahu, sangat tahu. Perkataannya semalam membuat seseorang yang kini tertidur di hadapannya berpikir.
Tapi mau bagaimana lagi? Memang begitu 'kan, kenyataannya?
Ia terdiam memandangi wajah bak malaikat di depannya tersebut.
"Kau orang pertama yang menerimaku apa adanya... Otoya," bisiknya.
Tangan berwarna kecoklatan itu perlahan menyentuh pipi sosok di hadapannya.
Aku... tidak tahu disebut apakah perasaan yang kurasakan saat bersamamu. Aku juga tidak tahu, sejak kapan perasaan aneh ini muncul. Tapi hanya satu yang kutahu dan kuinginkan saat ini... yaitu menjalani hari-hariku bersamamu... Otoya. Tes. Air mata dari ujung mata sebelah kanannya mengalir menuju hidung lalu menetes membasahi bantal.
"Gomenasai..."
Bersamaan dengan menetesnya air mata, kedua mata itu pun bisa terpejam dengan rapat.
"Suki da..."
Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli
Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan
Rate : M (Siapkan jantung, hati dan pikiran Anda. Jangan sampai Anda terbawa dengan suasana yang ada *maksud lo!? #lol)
Genre : General, Romance, Drama, Friendship
Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.
Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc. Saya sudah peringatkan ya di chapter sebelumnya XD
I Miss You, A! (Part II)
Suara kecipak-kecipuk air dari ujung rumah penginapan terdengar saat Michiko keluar dari penginapannya. Ia menengok dan terlihat sosok Cecil tengah bermain air dengan kedua kakinya. Tak lupa pandangan kosong nampak di kedua mata emerald-nya. Karena terlalu memperhatikan Cecil, Haruka Nanami yang baru saja sampai di lokasi syuting setelah bertemu dengan sang nenek ikut mengarahkan pandangannya ke tempat laki-laki itu berada.
"Apa ada masalah dengan Cecil-san?" tanya sang komposer.
Yang ditanya hanya tersenyum simpul. "Bisakah kau temani dia sementara waktu?"
"Eh? Aku?" Haruka menunjuk hidungnya.
"Emm! Bagianmu 'kan masih lama, jadi mohon bantuannya ya!"
"Eeeh!?"
Sosok itu pun hilang di tengah-tengah para staf yang berlalu-lalang menyiapkan keperluan syuting selanjutnya. Sejak awal ia datang, entah kenapa suasana menjadi berubah. Terasa lebih berat... sepertinya? "Apa aku melewatkan sesuatu?" gumam Haruka seraya berjalan mendekati si Pangeran dari Negeri Agnapolis yang tengah dilanda—ehem—galau, mungkin?
"Cecil-san?" panggil gadis itu.
"..." Mungkin karena terlalu larut dengan dunianya, ia tak mendengar suara Haruka.
"Cecil-san? Daijoubu ka?" Kini ia memilih untuk menepuk bahu Cecil.
"A-a? Nani nani?"
Suara yang terdengar gelagapan itu membuat Haruka teringat akan sosok Otoya yang tengah dilanda masalah. Ternyata tingkah Ittoki-kun dan Cecil-san beda-beda tipis, pikirnya. Senyum tipis mewarnai wajah Haruka dan sukses membuat laki-laki di hadapannya terlihat agak merona sedikit. "Kenapa sendirian di sini?" tanyanya dengan nada hati-hati sambil mengambil posisi duduk di sebelah Cecil.
Ia tertunduk sebentar. "Tidak apa-apa, hanya... ingin saja."
"Tidak biasanya Cecil-san menyendiri. Ada masalah dengan syutingnya?"
"..."
Ternyata benar, katanya dalam hati begitu melihat tak ada reaksi yang berarti dari Cecil. Manik jingga kehijauan miliknya menangkap sosok Michiko Sawaragi yang tengah membaca dengan serius sebuah naskah. Sementara di dekatnya nampak si kembar Kurusu serta Natsuki yang terlihat sedang memperdebatkan sesuatu. Hening melanda keduanya dan hanya terdengar suara cipratan air dari kaki Cecil.
"Aku... kepikiran sesuatu..."
Tanpa sadar, Haruka menelengkan kepalanya. "Soal?"
"Kejadian semalam..."
.
.
.
Otoya berjalan pelan menuju tempat penginapannya yang agak jauh dari tempat ia menginap semalam di tempat Cecil. Suasana sekitarnya masih nampak sepi, padahal waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Beberapa titik air hujan masih bisa ia rasakan sehingga membasahi pakaian milik Cecil yang ia pinjam sejak semalam. Salahkan hujan deras yang tiba-tiba mengguyur permukaan tanah saat mereka tengah bermain pasir.
Langkahnya terhenti tepat beberapa meter dari tempatnya menginap. "Tokiya?"
Sosok yang dipanggil Otoya menatapnya balik sambil berjalan mendekat.
"Kau... habis dari mana dan kenapa... bajumu basah?" tanya laki-laki itu penasaran.
Tokiya membuka mulutnya lalu tertutup kembali. "Baju siapa yang kau pakai?"
Bukannya menjawab, ia malah bertanya balik pada Otoya. Sesaat kedua mata ruby itu menatap pakaian yang ia kenakan sekarang dan berubah panik. "A-a, etoo, aku bisa jelaskan ini! J-jadi jangan salah paham dulu." Otoya kelihatan panik tingkat akut karena dari nadanya terdengar seperti ia tengah tertangkap basah melakukan perselingkuhan oleh sang kekasih. "Anoo, semalam aku tidur di tempat C-Cecil karena terjebak hujan dan m-maaf karena tidak mengabarimu," jelasnya dengan wajah pucat dan jantung berdebar.
"...oh." Pandangan Tokiya terlihat semakin datar.
Tentu saja hal itu membuat Otoya semakin panik. "K-kau tidak me-mencariku, kan?"
"..."
"T-Toki—"
"—tidak, untuk apa aku mencarimu? Kau pasti bisa jaga diri sendiri."
Jleb! Hening untuk sesaat, yang terdengar hanya suara air hujan yang semakin lama semakin deras. "A-ahaha-haha-ha, s-sou desu. M-mana mungkin kau mencariku, ya? Seperti tak ada kerjaan lainnya saja," kata Otoya dengan diiringi tawa kecil. Namun tawa itu tak menunjukkan rasa ceria seperti biasanya, melainkan tawa untuk menutupi rasa kecewa.
Tanpa laki-laki itu sadari, tangan kanan Tokiya terkepal beberapa detik.
"Mm, aku... mau ganti baju dulu lalu mengambil bajuku yang basah di tempat Cecil."
Sosok Otoya menutup pintu dan meninggalkan Tokiya sendiri.
"CU—hasyim!"
Tawa pelan terdengar di sana-sini begitu mendengar suara Minato yang tengah dilanda penyakit flu ringan. "Aaargh! Flu ini menggangguku!" gerutunya lalu menengok pada Natsuki dan si duo Kurusu. "Bagian kalian dan Haruka-chan akan dimulai lima belas menit lagi!"
"Siap!"
Minato menatap Michiko yang terus menatap layar monitor. "Apa ada masalah?"
Pandangan gadis itu nampak sayu ketika menatap sosok Otoya dan Tokiya. "Tidak."
._. Maji Love '-'
Syuting Maji Love STARISH sudah mencapai pada klimaksnya setelah sebulan lebih syuting tersebut dimulai. Beberapa konflik ringan pun sudah terselesaikan dan kini sampai pada klimaks yang pertama. Proses pengambilan gambar berada di studio teater dengan setting tempat tengah berada di dalam kamar Otoya dan Tokiya. Para staf terutama kameramen semakin sibuk menaruh kamera di titik yang tepat agar gambar terlihat bagus dan menarik.
"Taka! Tolong kau ambil gambar dari atas!"
"Baik!"
"Tsuna! Coba kau taruh kameranya agak miring ke kiri!"
"Baik!"
Minato Higarashi tak henti-hentinya memberikan instruksi kepada para kameramen kepercayaannya sejak satu jam yang lalu. Michiko yang tumben-tumbennya hanya memakai kaos berwarna merah dan jeans tiga per empat itu hanya diam memperhatikan aktivitas mereka, termasuk Haruka yang kini tengah berdiri di sampingnya.
"Memang... apa yang terjadi semalam?"
"Seharusnya aku tidak berkata dengan nada seperti itu."
Kedua alis Haruka berkerut. "Aku nggak ngerti."
Cecil tersenyum dengan pandangan yang sulit diartikan. "Aku... serius melakukannya."
Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti apa maksud ucapan Cecil-san, pikir Haruka seraya menoleh pada sosok yang kini dipikirkannya. Sejak pulang dari resort milik Shining seminggu yang lalu, sosok itu sedikit menghindarinya dan anggota STARISH yang lain, terutama Otoya. Jika ditanya, ia akan mencoba mengelak dan mengalihkan pembicaraan. "Michi-chan, boleh... aku bertanya sesuatu?" tanyanya dengan nada hati-hati.
"Soal?"
"Sebenarnya apa yang terjadi sewaktu aku tidak ada?"
"..."
Dari wajah dan mata amethyst Michiko, tergambar dengan jelas bahwa ia kesulitan untuk bercerita. "Pasti ada masalah 'kan dengan Cecil-san?" tanya Haruka lagi. Ia tahu, walau dari luar terlihat cuek dengan keadaan, Michiko tetap saja seorang perempuan yang peka akan suasana sekitar. "Beritahu aku apa yang terjadi waktu itu, Michi-chan," pintanya.
"Tapi, jangan kaget, ya?"
Haruka menganggukan kepalanya sekali.
"Aijima-san sepertinya... terbawa suasana."
"Eh?"
"Jangan asal berbicara, Little Heiress," kata Ren yang tiba-tiba ada di belakang Haruka. Laki-laki itu tersenyum penuh pesona seperti biasa pada sang komposer. Ketika matanya menatap Michiko, justru pandangan tajam yang ia terima. "Tak bisakah kau memandangku dengan pandangan yang sewajarnya saja, Sawaragi?"
"Kuharap kau tidak seperti Aijima-san, Jinguji-san."
Ren dan Haruka menengok satu sama lain dengan pandangan heran.
"Maksudnya?"
.
.
.
"Huaaa! Akhirnya sampai juga!" seru Otoya gembira dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia memeluk guling kesayangannya seraya duduk layaknya bocah umur lima tahun yang ingin diberikan sebuah kado ulang tahun. Kedua mata ruby-nya memperhatikan sosok lainnya yang baru saja masuk ke dalam kamar. "Tokiya," panggilnya pada sosok tersebut sambil tersenyum penuh ceria. Namun kelihatannya Tokiya tak mengindahkan panggilan Otoya dan sibuk dengan barang-barang bawaannya.
"..."
"Kau marah padaku?"
"..."
Wajah Otoya perlahan berubah menjadi suram.
Hening melanda keduanya. Tokiya terus memasang wajah datar sambil mengeluarkan barang-barang dari dalam tas. Gerakannya tiba-tiba terhenti begitu kedua matanya menangkap suatu benda yang tergeletak di atas tas berwarna merah milik Otoya. Dari raut wajahnya, Tokiya terlihat menyembunyikan rasa kecewa dan sedih yang ia rasakan. "Otoya, bisa... kau jawab pertanyaanku?" tanyanya.
Senyum kembali mengembang di wajah Otoya. "Tentu! Apa?"
"Sejak kapan kau mengenal Aijima?"
"Aijima? Maksudmu Cecil Aijima?"
"Memang siapa lagi orang bermarga Aijima selain dia?"
Tawa kecil terdengar kemudian. "Ahaha, iya ya. Hmm, kalau tidak salah sejak dua minggu yang lalu," jawabnya seraya berjalan mendekati tas yang ia geletakkan begitu saja di dekat pintu masuk. Ia pindahkan tas tersebut ke atas kasur sambil duduk di tepi kasur dan melepas kancing kedua kemeja kotak-kotaknya. "Aku tak tahu soal Pangeran dari Agnapolis yang menjadi anak baru di kelasmu. Kau juga tidak pernah bercerita padaku. Jadi saat pertama bertemu dengan Cecil, aku tak menyadari tentang statusnya itu," cerita Otoya lagi.
"..." Tokiya menempelkan telapak tangan ke atas meja dengan pandangan sedikit mengabur. Tubuhnya terlihat tak bisa menjaga keseimbangan.
"Ne, Tokiya. Apa Cecil selalu sendirian di kelas?"
"Mungkin."
Mendengar jawaban Tokiya yang ala kadar, Otoya hanya meliriknya sekilas lalu berkutat dengan barang-barang bawaannya. Mata ruby-nya menatap baju pinjaman dari laki-laki yang baru saja menjadi bahan pembicaraan mereka berdua. Lagi, ia melirik Tokiya, namun nampaknya laki-laki tersebut tengah memikirkan sesuatu sampai-sampai tubuhnya tidak bergerak sama sekali. "Kau kenapa, Tokiya? Ada masalah?" tanyanya khawatir.
"...tidak apa-apa."
Merasa ada yang tidak beres, Otoya mendekati sosok tersebut. "Yakin?"
Tangan kurus itu ingin menyentuh kening Tokiya, tapi tiba-tiba ia menepisnya. Plak.
Suasana nampak hening dan mendadak atmosfirnya berubah.
"Tokiya..."
"Berhenti bertingkah seolah kau mengkhawatirkanku."
Deg. Jantung Otoya berhenti di saat itu juga. Bagaimana bisa ia berkata begitu padaku? Memangnya salah ya, kalau aku mengkhawatirkannya? Kedua matanya perlahan meredup bersamaan dengan merosotnya kedua bahu Otoya yang sempat menegang karena kaget. "M-maaf jika sikapku mengganggumu, tapi aku benar-benar khawatir. Apalagi kemarin pagi, aku melihatmu basah kuyup, jadi aku pikir kau terkena demam," jelas laki-laki itu dengan tangan kanan terkepal di sisi tubuhnya.
"Bohong."
"B-bohong? Aku tak bermak—"
"—bohong kalau aku tak mencarimu."
Raut wajah Otoya terlihat bingung. "Kau bicara apa sih? Aku nggak ngerti, Tokiya."
Mendadak Tokiya menunjukkan wajahnya yang serba salah pada sosok di hadapannya. Namun itu hanya beberapa detik karena ia langsung memalingkan wajah ke samping. "Bohong kalau aku tak mencarimu waktu itu. Bohong kalau aku tak ingin kau mengkhawatirkanku. Bohong kalau aku... aku..." Lidahnya membeku seketika dan kedua tangannya terkepal untuk menahan rasa emosi yang ingin keluar. "Lupakan saja perkataanku tadi," suruh Tokiya seraya berbalik menuju pintu keluar, bermaksud untuk pergi dari kamar.
Grep!
Tiba-tiba tangan kanan Otoya menahan lengan kiri teman sekamarnya itu. "Mana bisa aku lupa dengan kata-katamu itu! Jelaskan padaku apa maksud perkataanmu barusan sebelum pergi!" seru Otoya dengan wajah marah bercampur bingung.
"Aku tak mau membahasnya lagi," kata Tokiya dengan nada dingin.
Genggaman Otoya mengerat karena sosok itu ingin menjauh. "Iya!"
"Lepaskan tanganku, aku lelah," suruhnya.
Otoya menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Iya." Mimik wajahnya kini terlihat tengah menahan tangis. Ia sempat melihat Tokiya melirik padanya dan dalam beberapa detik kemudian, pergelangan tangannya sudah digenggam oleh laki-laki itu. Genggamannya mengerat dan sukses membuat Otoya meringis. "T-Tokiya..."
'-'STARISH._.
Semua anggota STARISH menatap pasangan di hadapannya itu dengan seksama dan tanpa sadar membuat jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan jika dilihat secara seksama, wajah Masato dan Shou agak merona.
"Aura Ichii kelihatan berbeda," gumam Ren tanpa sadar.
Masato hanya mengangguk karena sependapat dengannya.
"Doki doki shichatta yo," bisik Natsuki yang melihatnya dan tanpa sadar sudah memeluk Shou dari belakang.
"Geez, b-baka! A-akh-ku tak b-bisa berna-akh-pas!" gerutu Shou pelan.
Haruka hanya menghela napas melihatnya sambil geleng-geleng kepala.
Sang pembuat naskah terus memperhatikan layar monitor.
Tap. Suara langkah kaki yang berhenti di sampingnya membuat Michiko menengok. Ia melirik sebentar. "Kukira kau tidak berani ke sini," ujarnya pelan. Namun ucapannya tak ditanggapi oleh orang tersebut. Pandangannya yang sayu membuat Michiko bersimpati padanya. Ia menghela napas pelan dengan pandangan tertuju pada layar monitor.
"Kalau begitu, jawab pertanyaanku." Suara tak berperasaan Tokiya terdengar kemudian.
"A-apa?" tanya Otoya gugup karena tatapan mengintimidasi dari Tokiya.
Wajah Tokiya berubah jadi lebih serius dari sebelumnya. "Apa kau menyukai Aijima?"
Dari tatapannya, Otoya merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan Tokiya secara tidak langsung. Tapi ia tak mau mengharapkan apa yang dipikirkannya sejak pulang dari resort Shining menjadi kenyataan. Perlahan namun pasti, air mata mulai terkumpul di sudut kedua matanya. "B-bagaimana bisa kau me-menyimpulkan hal itu? Aku hanya menganggap Ce-Cecil sebagai sahabatku, tidak lebih," jelas Otoya sambil memundurkan tubuhnya sesuai instruksi Minato yang ia lihat barusan.
Jawaban yang kurang memuaskan itu membuat cengkraman Tokiya megerat.
"Ugh, T-Tokiya, sakit...," ringisnya lagi seraya berusaha melepaskan cengkraman Tokiya.
"Lalu bagaimana dengan Aijima? Apa kau tak menyadarinya?"
Ucapan Cecil waktu itu kembali menghantui kepalanya untuk yang kesekian kalinya.
"Bukannya selama ini 'dia' tak memperdulikanmu, Otoya?"
Tanpa sadar Minato agak merunduk untuk melihat lebih jelas ke layar monitor yang mengambil gambar wajah Otoya secara penuh. Di sana ia terlihat kaget lalu pandangannya berubah menjadi kosong. "Sugoi...," gumam Minato tanpa sadar. Dari awal ia bertemu dengan sosok Otoya Ittoki, Minato sudah mengetahui adanya potensi Otoya dalam dunia perfilman. Apalagi jika lawan mainnya dengan Tokiya Ichinose.
"Aku... tak mengerti, apa yang kau bicarakan."
Rasa kaget menguasai Tokiya begitu melihat wajah Otoya yang mulai sembab.
"K-kenapa... kau menanyakan h-hal itu, Tokiya?"
Tiba-tiba napas Tokiya nampak memburu karena kepalanya terasa pusing dan emosinya tak bisa ditahan lagi sesuai naskah. Tap, ia berjalan selangkah dan Otoya pun ikut melangkah mundur dengan wajah ketakutan. Namun langkah Otoya terhenti karena di belakangnya ada kasur milik Tokiya. Rasa panik menguasai Otoya dan reflek mendorong tubuh teman sekamarnya agar memberinya ruang. "Sampai kapan kau pura-pura tidak peka dengan perasaan orang lain?"
"To-Tokiya, tolong mu-mundur sedikit. Aku tak bis—"
"—sampai kapan kau mau mengalihkan pembicaraan!?"
Otoya tersentak, badannya benar-benar lemas karena dari dulu ia takut jika dibentak.
"Tubuh Ittoki-kun gemetaran," gumam Haruka cemas.
"Tipe Aries, tak bisa berkutik jika dibentak," sahut Michiko lalu menambahkan dalam hati, oleh orang lain dan orang yang disuka walau hanya dalam syuting.
Kening Tokiya yang tertutupi oleh rambutnya ia tempelkan pada kening Otoya.
"Tokiya keningmu pa—hmmph!"
Semua staf tercengang dan menutup mulutnya secara reflek.
Para gadis yang menyaksikan nampak menahan diri untuk tidak histeris.
"Ya Tuhan...," gumam Haruka dengan wajah seperti udang rebus.
Dengan sekali dorongan plus ciuman dadakan yang sesuai dengan naskah, Tokiya berhasil menjatuhkan tubuh Otoya ke atas kasur. "Hmmph! Toki—mmph! Ah—hmph!" Erangan dengan nada panik dari Otoya ia hiraukan dan terus mencium bibirnya. Tokiya menahan tangan laki-laki itu dengan kedua tangannya. Kalau boleh jujur, ada kesenangan sendiri di hati laki-laki berambut biru gelap itu saat melihat wajah panik Otoya yang—mungkin—hanya bisa ia lihat seorang. Tapi rasa cemburu juga tak bisa ia pungkiri begitu ingat kejadian yang lalu-lalu.
Deg! Tidak mungkin...
Mendadak Tokiya melepas ciumannya dan melemahkan penyerangan.
"Hmmpph! T-Tokiya!"
Jduk! Otoya yang sedari tadi terus meronta kini sukses membenturkan keningnya dengan kening Tokiya dan membuat Tokiya mendarat ke lantai. Dengan cepat ia mengambil posisi duduk sambil menutupi sebagian wajahnya yang sudah memerah dengan tangan. Keadaan yang sangat melenceng dari naskah itu membuat atmosfir jadi mencekam. Apalagi jika melihat keadaan Tokiya yang terus menunduk dan sepertinya tengah kesakitan.
Krik, krik, krik. Entah suara jangkrik itu berasal dari mana datangnya.
"T-Tokiya! Kau serius menyerangku!"
Krik, krik, krik. Suara jangkrik itu datang lagi setelah terdengar suara protes dari Otoya.
Minato Higarashi langsung menepuk kening.
Twitch! Kini tiga buah sudut siku-siku nampak di kening sang pembuat naskah. Asap putih juga keluar dari kepalanya. "It...to...ki-...kun... BAKA! Tentu saja harus serius! Lagipula, Ichinose-san hanya menciummu saja dan tidak lebih dari itu, Ittoki-kun!" seru Michiko gemas.
Melihat kemarahan Michiko, tentu saja membuat Otoya menelan ludah.
"Geez."
P-perasaanku makin tidak enak, kata laki-laki berambut merah itu dalam hati. Dengan patah-patah ia menengok pada sumber yang baru saja menggertakan gigi dan terus mengeluarkan aura hitam dari balik tubuhnya. "T-Tokiya...," panggilnya pelan.
"Bodoh! Kenapa malah mendorongku sekeras itu, Otoya!" murka Tokiya.
Reflek, Otoya menutup kedua telinganya dengan tangan.
Sementara di pihak penonton yang melihat peristiwa tadi, semuanya juga ikut tercengang. Para gadis penyuka shounen ai yang ada di sana menunjukkan wajah cerah karena akan ada sesi pengulangan dari adegan tersebut. Beda dengan wajah Masato dan Shou yang agak memucat dari sebelumnya. Astaga... nanti aku juga harus melakukan itu dengannya? pikir mereka bersamaan.
"Shou-cha~n, huaaa! Nanti kita akan melakukan itu di depan orang banyak?" tanya Natsuki dengan penuh semangat plus mata bersinar.
Tentu saja Shou melotot. "Iya da! Coba kau baca naskahmu! Kita tidak akan melakukannya, baka!"
"Eeeh?" Wajah laki-laki itu langsung suram.
Shou sweat drop melihatnya.
Tanpa ada yang menyadari, tubuh Ren juga ikut menegang karena baru pertama kalinya melihat hal semacam itu di depan matanya. Terlebih yang memainkannya sesama laki-laki, walau hanya sebatas serang dan cium. Setidaknya aku belum melihat sampai ke tahap yang lebih pa... Tanpa sadar mata sapphire-nya melirik ke arah laki-laki yang selalu menjadi pasangannya sejak dulu.
"Baiklah! Kalian ulangi lagi dari... mm..." Nampaknya efek gugup juga menyerang Minato.
"Dari Ichinose-san mencium Ittoki-kun. Lalu untuk Ittoki-kun, tolong jangan meronta terlalu keras," perintah Michiko seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Baik."
"S-siap."
Tokiya termenung sebentar lalu melirik ke arah Michiko. Mungkinkah, dia sudah tahu sejak awal tentang semua yang akan terjadi saat ini? Tadi... tanpa sadar aku mengucapkan dialok naskah sesuai dengan perasaan yang kurasakan sekarang, pikirnya.
"Sebenarnya... siapa kau?"
"Eh?" Otoya yang mendengar gumaman lawan mainnya itu hanya menatapnya bingung.
.
.
.
Syuting kembali berlanjut dan sesuai perintah Michiko, adegan pengulangan tersebut dimulai dari Tokiya yang mencium paksa Otoya. Laki-laki itu juga sudah mulai bisa menahan rasa paniknya dan mengikuti naskah. "To-Tokiya! T-tolong hentikan—hmpph!" Otoya berusaha menahan gerakan tangan Tokiya yang ingin melepaskan kemeja kotak-kotak warna hitam miliknya.
"Kau masih tidak sadar?"
Napas Otoya memburu-buru dan tak mampu menjawab pertanyaan itu.
"Otoya..." Sosok itu memanggil namanya dengan nada lemah.
"T-Tokiya, k-kumohon berhenti," lirih Otoya diiringi isakan tangis. Wajahnya benar-benar ketakutan sekarang begitu wajah Tokiya kembali mendekat. "Sadarlah, Tokiya! Kau sedang demam!" serunya sambil mendorong kedua bahunya dan memalingkan wajahnya ke arah tembok. "Kumohon... hiks, berhenti...," lirih Otoya dan terisak lagi.
Tokiya nampak menulikan kedua telinganya. Ia terus bermain mulut di sekitar leher Otoya yang tak henti-hentinya berusaha untuk menjauh. Tanpa sadar tangan kanannya ia gunakan untuk menenangkan laki-laki yang umurnya setahun lebih muda darinya itu dengan mengelus rambut merah batanya. "Gomen," bisik Tokiya sepelan mungkin agar tak terdengar.
Deg. Jantung Otoya berdetak cepat dibuatnya. Tokiya...
"Hiks, Tokiya, y-yameru... hiks..."
Minato yang melihat wajah menangis Otoya ingin berdiri dari kursi, namun Michiko menahannya.
"Kau mau membuat mereka mengulanginya lagi?"
Akhirnya ia kembali duduk dan menonton dari layar monitor.
"Biarkan mereka berjuang sampai akhir," gumam Michiko yang ikut bersimpati.
Haruka hanya gigit jari melihat Otoya dari layar monitor. "Ittoki-kun, ganbatte."
Beberapa butir air mata yang mendarat ke bantal ikut tertangkap kamera. Tak salah lagi kalau air mata itu berasal dari Tokiya. Beberapa staf ikut terharu melihat Otoya yang terus menangis dan meminta Tokiya untuk berhenti. "Hiks, k-kenapa? Ah! Ahn~ T-Tokiya... kenap—ahn!" Lagi, Otoya terengah-engah karena Tokiya terus menciumi wajah dan lehernya yang selama ini menjadi titik kelemahannya.
"Gomen." Kali ini suara Tokiya terdengar dengan jelas oleh semua yang melihat.
"Tokiya... hiks, kenapa? Kenapa kau l-lakukan ini p-padaku, hiks?"
Perlahan Tokiya memperlihatkan wajahnya yang agak acak-acakan pada Otoya.
Iris ruby-nya sedikit melebar saat air mata terjatuh ke atas pipi kanannya. Dengan sekali lihat ia langsung tahu kalau itu adalah air mata yang keluar dari mata Tokiya. Ya, Tokiya menangis dan itu di luar naskah. Otoya jadi tersadar kalau sosok di hadapannya ini juga menahan sakit sejak awal melakukan adegan ini.
Sosok laki-laki yang sedari tadi berdiri di samping kursi Michiko mulai mengepalkan tangan kanannya. Ia kedipkan beberapa kali kedua matanya lalu menunduk.
Kedua manik amethyst Michiko menangkap pergerakan itu.
Srak. Ia berdiri dari kursi lalu berbalik. "Aku ingin ke toilet sebentar," pamitnya pelan.
Minato yang dipamiti tidak menyahut karena terlalu fokus dengan layar monitor.
Tangan kecil Michiko menepuk sosok itu. Pluk. "Kau sudah tahu ini semua akan terjadi, kan?" bisiknya dan hanya mereka berdua saja yang mendengar.
"Bodohnya aku untuk tetap datang," sahutnya dengan nada berbisik juga.
"Menangis saja, tapi jangan di sini," kata Michiko sambil menepuk bahunya lagi.
Senyum tipis terlihat di wajahnya. "Sankyuu."
Haruka diam-diam memperhatikan keadaan sekitar dan melihat interaksi tersebut. Namun ia memilih untuk diam di tempat lalu kembali memandang ke depan.
"Karena aku..."
Tokiya mencengkeram sarung bantal yang ada di kedua sisi kepala Otoya.
Isakan tangis dari Otoya perlahan menyurut begitu kedua tangan besar Tokiya mulai melingkari tubuh bagian atas Otoya. Wajahnya nampak tak terlihat di monitor karena tertutupi oleh rambut. Tapi suara bisikannya sangat terdengar dengan jelas.
"...membutuhkanmu."
Sekali lagi, Tokiya mencium Otoya dan sosok itu tak bergerak sama sekali.
"Aku membutuhkanmu... karena aku mencintaimu... Maaf."
"Tokiya..."
To Be Continued
#NengokKeAtas Jauh beda dengan naskah yang sebelumnya saya ketik. Jujur, saya mau update chapter baru seminggu yang lalu tapi netbook-nya nge-hang dan datanya jadi gak ke simpen. Padahal udah seharian niat untuk ngelanjutin tapi malah kayak begitu. Maaf ya, semua. ;) Mungkin masih banyak yang kecewa dengan adegan di atas. Yaaah, maklumin aja ya, mereka ngelakuin hal itu di depan kamera jadi harus terbatas saat melakukannya. Istilahnya banyak sensor sana-sini kalau buat film, kan? Jadi di sini juga gak ada adegan hot yang sampai parah bangetlah. Kayak anime-nya Sekaiichi Hatsukoi (tuh kan, ngomongin anime itu lagi._.) yang cuma memperlihatkan adegan saat INGIN melakukannya dan SESUDAHnya aja (pas mereka bangun tidur doang, maksudnya #MasangMukaDatarAtauGakPuas? #Bletak!)
Oke, saya harus ngerjain tugas setelah seharian ngerjain chapter ini dan FUAH! #Cengok Words-nya sampai 3.000 ke atas! o_O Itu cuma cerita lho, belum dihitung dengan sesi tambahan dari saya. Ahaha, yosh!
Sankyuu ne buat para pembaca sekalian dan ikariantiana01 yang sudah me-review. Ehe, gimana nih dengan chapter ini? Masih belum puas ya? ._. Makasih juga dibilang fic ini luar biasa, berkat kamu saya jadi bersemangat lagi waktu ngetik ulang chapter ini. :D
Aye! Terakhir, keep smile and...
See you next time!
CHAU!
