Tok. Tok. Tok. Suara jam dinding masih setia mengisi keheningan kamar milik dua heir berbeda marga yang tengah tertidur pulas di beda tempat. Heir Hijirikawa di atas kasur hangat nan empuk, sedangkan heir Jinguji berada di atas sofa panjang berwarna merah dengan selimut menutupi tubuh hingga dada. Sinar matahari pagi nampak berusaha menyusup masuk ke dalam ruangan dari balik gorden.
"Nngh..." Erangan pelan mengintrupsi. Pemilik suara sedang mencoba membuka kedua mata secara perlahan.
Sepasang kaki yang mencuat dari balik sofa menjadi sesuatu yang pertama kali ia lihat setelah mata itu benar-benar memperlihatkan iris sapphire-nya. "Jinguji..." bisik pemuda tersebut seraya memposisikan tubuh untuk duduk. Mata kirinya yang sulit terbuka, ia usap pelan agar bisa terbuka sepenuhnya.
Masih dengan fokus pandangan tertuju pada sepasang kaki itu, Masato Hijirikawa bangkit dari kasur yang bukan miliknya. Melainkan milik 'teman' sekamarnya, anak bungsu dari keluarga Jinguji. Tanpa bersuara, ia melangkah mendekati sofa.
Memori tentang apa yang terjadi semalam kembali merasuk dalam otak Masato ketika matanya menatap wajah tenang Ren yang masih tertidur. Percikan amarah mencuat ke permukaan. Kedua tangannya mengepal, namun yang keluar hanya helaan napas berat. Rupanya ia urung menyalurkan amarah itu dengan aksi tinju mentah ke pipi mulus Ren sebagai 'morning kiss'. Meski rasanya akan menyenangkan jika hal tersebut benar-benar terjadi.
Tapi Masato pernah meninju Ren dulu. Sewaktu mereka masih menjadi murid Saotome Gakuen. Hmm...
Lebih baik ia bersiap-siap menuju lokasi syuting daripada ribut memikirkan hukuman yang pantas atas tindak 'pelecehan' teman sekamarnya ini. Masato juga muak jika harus bicara dengan Ren di pagi hari ini. Sebenarnya pemuda itu malah tidak ingin bertemu dengan Ren karena takut diserang lagi.
Iya, tahu. Masato paham kalau itu tidak mungkin terjadi sekarang. Bagaimana nasib STARISH kalau dirinya atau Ren tidak ada?
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar mandi yang berada di wilayah Ren. Pintu kamar mandi sudah terkunci rapat. Tak sedikit pun Masato menurunkan rasa waspadanya. Serius, kenapa ia jadi parno begini coba? Bunyi gemeletuk gigi yang beradu terdengar dari mulut Masato.
Sebuah pantulan dirinya di cermin terlihat sangat kacau. Kimono hitam yang ia kenakan nampak berantakan. Sabuk obi putih di pinggang pun tidak terikat kencang. Tapi itu lebih baik ketimbang tanpa busana saat bangun tidur. Ia akan benar-benar terlihat sebagai korban pemerkosaan sungguhan.
Memikirkan hal tersebut saja sudah membuat Masato bergedik ngeri. Hiiih! Kalau tak ada rasa cinta di antara mereka, pemuda itu takkan sudi merelakan tubuhnya. Tapi kalau ada...
Plak!
"Tenanglah, Masato! Kau masih waras, kan!?"
Tangan kanan pemuda itu yang sempat menampar pipi kini menggapai gelas kecil berisi sikat gigi warna biru dan pasta gigi miliknya. Mata beriris dark sapphire mendelik tajam pada gelas lain lalu menyingkirkan benda tersebut hingga ujung wastafel.
Sambil menyikat gigi, ia terus memandangi wajah pucatnya di cermin. Tak lama kemudian, Masato menyipitkan kedua matanya begitu menangkap sesuatu yang ganjil di leher bagian bawah sebelah kanan. Sontak ekspresi wajahnya campur aduk setelah menyibakkan kerah kimono hingga memperlihat seluruh bahu kanan Masato. Kesal, horor, suram, malu. Semuanya jadi satu!
Kiss mark dari Ren Jinguji adalah mimpi buruk Masato Hijirikawa hari ini.
Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli
Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan
Rate : M
Genre : General, Romance, Drama, Friendship
Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.
Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc. Saya sudah peringatkan ya di chapter sebelumnya XD
I Kiss You, R! (Part II)
Ren Jinguji menguap seraya membuka pintu gakuya. Ia izin ke kamar mandi sebentar sesampainya di lokasi syuting. Dalam hati, pemuda berjaket leaves hitam dengan kaos putih polos sebagai dalamannya serta celana bahan warna krem untuk menutupi kaki jenjangnya itu sedang panik. Apalagi ketika anggota STARISH yang lain bertanya tentang alasan Masato menggunakan syal.
Seandainya tatapan bisa membunuh, Ren yakin 2000% ia sudah tewas saat penghuni base camp STARISH sarapan bersama tadi. Nyalinya benar-benar ciut. Masato adalah korban dari nafsu bejatnya semalam. Tentu Ren sebagai tersangka yang paling bersalah dan kepikiran. Meski ia sudah mengaku sekaligus meminta maaf, sih.
Sambil menutupi kegelisahan di hati, Ren duduk di samping Masato yang sedang dirias. Ia mengambil naskah dari dalam tas selempang warna jingga miliknya. Pemuda itu berusaha menenggelamkan diri di antara kalimat-kalimat dalam naskah film MLS.
"Jinguji-san, di-make up dulu, ya," ucap staf perias wajah meminta izin.
"Oke."
Mata sapphire Ren sempat melirik Masato yang sudah berjalan keluar gakuya untuk ganti baju. Staf perias wajah nampak heran begitu mendengar helaan napas berat dari sang artis jingga ini. "Jinguji-san sedang tidak enak badan?" tanyanya cemas.
"A-aa, tidak. Aku baik-baik saja, Nona," balas Ren dengan senyuman menggoda.
Tangan kanan si perias terkibas seolah menghalau pesona pemuda tersebut.
Michiko Sawaragi selaku pembuat naskah hanya menghembuskan napas dari mulut. Tanpa diberitahu pun ia sudah 'mengetahui' apa yang terjadi. Ren dan Masato 'bertengkar'. Masato lebih memilih menjauh dan Ren tak bisa berbuat apa-apa. "Ha-ha... Salah Jinguji-san juga, sih..." gumamnya kemudian pergi ke lokasi syuting.
.
.
.
Haruka Nanami kembali merapihkan seragam sekolahnya yang kini menjadi kostum film. Hari ini ia akan beradu akting dengan Ren. Plus ada adegan pelukan. Walaupun sempat terjadi hal yang demikian di dunia nyata, tapi ini sudah diatur. Sebuah tuntutan pekerjaan. Mau tidak mau ia harus bersikap profesional. Masalahnya... Haruka tidak ingin bersikap salah tingkah secara berlebihan.
Ia memandangi penjuru ruangan. Para kru film sibuk mengatur peralatan. Minato Higarashi nampak sedang memberi arahan pada beberapa kameramen. Tak jauh dari tempat Minato, Ren dan Masato sibuk membaca naskah.
Mata Haruka menyipit setelah menangkap pergerakan mata Ren yang melirik aneh pada Masato. Sekitar tiga detik lirikan itu tertahan hingga si obyek lirikan menyadarinya. Bukannya membalas, Masato malah buang muka. Ren masih tidak mau menyerah. Ia terang-terangan menghentikan kegiatan 'membaca naskah' dan terus menatap Masato. Berharap dapat sambutan baik, seperti diberi pertanyaan sarkastik misalnya?
Namun Masato malah bangkit dari posisi duduk kemudian pergi menjauh. Tentu saja hal itu membuat Haruka khawatir. "Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka berdua?" gumam sang komposer STARISH tersebut.
Tap. Bahu kiri Haruka ditepuk pelan. Gadis itu pun menengok. "Michi-chan..."
"Tenang saja. Mereka hanya gugup dengan scene berikutnya," ucap Michiko.
"Dilihat dari manapun, mereka sedang marahan."
Michiko menggigit bibir bawahnya. Bingung harus menenangkan teman satu kamarnya dengan cara apa. "Aku yakin mereka bisa melakukannya. Lebih baik Haruka-chan fokus untuk scene-mu dengan Jinguji-san." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Michiko katakan.
Dalam hati gadis bersuara indigo itu berharap ada adegan kissing yang berulang. Lumayan dapat fanservice, pikir Michiko. Tanpa sadar suara kekehan keluar dari mulutnya hingga sukses bikin Haruka melangkah mundur.
Bugh.
"Oop!"
Sosok Otoya Ittoki yang baru saja masuk ke lokasi syuting sambil memegang segelas air putih dan naskah ditabrak oleh Haruka yang tiba-tiba melangkah mundur. Berhubung Otoya punya reflek yang bagus, naskah berhasil terselamatkan dari tumpahan air. Walaupun ada satu-dua tetes jatuh ke lantai.
"S-sumimasen, Otoya-kun!" seru Haruka.
"O-oh, tidak apa-apa, Nanami. Bikkurishita yo."
Haruka meringis pelan atas kecerobohannya. Lelaki berambut merah terang tersebut minta undur diri. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Sutradara Minato. Iris mata jingga Haruka terus mengikuti gerak-geriknya. Ada yang berubah sejak scene 'panas' Otoya dan Tokiya. Haruka sangat sadar itu. Tiap melihat mereka, seperti ada dinding tak kasat mata muncul. Hal ini diperjelas dengan sikap Tokiya tadi pagi yang pergi lebih dulu meninggalkan base camp. Ada pemotretan katanya.
Yang lain percaya saja karena tak tahu menahu jadwal anggota STARISH masing-masing. Manajer mereka yang mengurus, termasuk jadwal Haruka. Tapi bukan itu masalahnya sekarang.
"...kenapa semua jadi berubah suram begini?" tanya Haruka lirih.
Michiko yang mendengar hanya diam kemudian melenggang pergi.
"Sudah kubilang, aku tidak mau memakannya, Natsuki!"
"Eeeh... Padahal aku sudah bangun pagi supaya bisa membuat cookies-nya untukmu, Syo-chan."
Kurasa ada beberapa yang tidak berubah. Tapi aku tak tahu harus mensyukurinya atau tidak, ucap Haruka dalam hati sambil menatap duo Natsuki dan Syo sedang ribut-ribut kecil. Rasa was-was masih menghantui si gadis jingga terang, seolah akan ada badai pasir datang menerjang wilayahnya.
'-' Maji Love STARISH '-'
Kegiatan syuting dimulai dengan sosok Ren yang berdiri menghadap jendela. Tangan kirinya memegang saxophone, meski ekspresinya nampak tak ada minat untuk memainkan alat musik tersebut. Di tangan kanannya tergenggam ponsel layar sentuh berwarna hitam. Sebuah pesan dari kakaknya terlihat memenuhi layar ponsel. Pesan itu yang buat hari-hari Ren tidak tenang.
'Aku sudah bicara dengan Saotome-san dan mengurus semua keperluanmu untuk pindah sekolah ke Perancis. Cepat berkemas. Seminggu lagi kita berangkat.'
Singkat, padat, dan menyesakkan hati.
Kenapa di saat ia mulai nyaman dengan hidupnya sebagai murid Saotome Gakuen, kakaknya malah bertindak egois lagi?
Padahal dia juga yang memaksa Ren untuk masuk Saotome Gakuen demi Jinguji Corporation di awal. Ya. Ren sudah tahu betul tabiat kakaknya itu. Tapi... bisakah ia memilih jalan hidupnya sendiri? Ada banyak cara untuk bisa mensukseskan bisnis keluarganya itu, tidak perlulah sampai ia pergi ke Benua Eropa. Termasuk menjadi seorang idola di negeri sendiri.
Ren menghela napas lelah seraya menaruh ponsel ke dalam saku celana. Kedua tangannya mulai bersiap memainkan saxophone, salah satu benda peninggalan ibunya. Mata itu menutup, sedang mengingat not angka dari lagu yang dijadikan sebagai bahan tugas minggu depan.
Lagi, Ren memasang wajah frustasi. Untuk apa menyelesaikan lagu ini kalau besok ia harus pindah ke Perancis? Bodoh.
Ckleeek. Pintu ruang musik terbuka. Sosok Nanami Haruka dari kelas A masuk.
"Aa—ternyata ada orang. Kukira tidak ada, mm, maaf mengganggu—"
"—tunggu, Kohitsuji-chan!"
"H-hai?"
Pemuda berambut jingga terang tersebut berjalan lima langkah. "Apa kau mau mendengar laguku? Aku ingin menyelesaikannya tapi tak ada ide lagi," tanya Ren, sekaligus beralasan. Ia berpikir, setidaknya lagu ini tidak jadi sia-sia.
Haruka memasang wajah kaget. "Boleh?"
"Tentu saja. Aku yang menawarkannya, kan?" Ren tersenyum.
Gadis itu bergeming sebentar seolah menyadari sesuatu. Dengan tangan kanan yang sedikit terkepal di depan dada, ia melangkah mendekati Ren. Obyek yang ditatapnya nampak tidak menyadari adanya guratan rasa khawatir di wajah Haruka.
Tak lama kemudian, terdengar nada demi nada berubah menjadi sebuah lagu dari saxophone milik Ren. Kedua alis Haruka mengkerut. Lagu sedih, pikirnya.
Sekitar dua menit pemuda itu memainkan saxophone. Ia berhenti tepat setelah nada klimaks. Perlahan bibirnya menjauh dari reed yang ada di bagian mouthpiece saxophone. Ren terdiam tanpa menatap Haruka. Ekspresinya nampak kompleks. Serius dan sedih memikirkan suatu hal yang tak lain adalah masalahnya dengan Seiichirou Jinguji.
"Jinguji-san? Apa kau sedang ada masalah?" tanya Haruka cemas.
"Oh, tidak. Bukan itu. Baru saja aku berpikir, sepertinya memang tidak bisa," jawab Ren yang sukses buat gadis di hadapannya bingung.
"Maksudmu... tidak bisa menyelesaikan lagunya?"
"..."
Ren diam lalu tersenyum sebagai balasannya. Ia membereskan alat musik tersebut hingga tersimpan rapi di dalam koper khusus saxophone. Bola mata sewarna biru lautnya terlihat fokus pada satu titik. Tapi Haruka sangat tahu kalau pemuda ini sedang kepikiran sesuatu dan tak ada keinginan untuk berbagi cerita. Seolah ia sengaja membuat jarak hingga Haruka tak bisa menggapainya.
"Nanami, bisakah kau mendekat?" pinta Ren.
Tanpa bertanya, Haruka menurut.
Jarak di antara keduanya hanya tiga puluh centi meter sehingga satu tangan kiri Ren sudah cukup untuk menarik tubuh sang gadis ke dalam pelukannya. Haruka panik seketika. Tangan kanan Ren berada di belakang kepala Haruka lalu mengelus rambut, sedangkan tangan kiri masih di pinggang dan mengeratkan pelukannya.
"E-eto, Jinguji-san?"
"Sebentar saja."
Haruka diam kemudian membalas pelukan tersebut. Ia berusaha menenangkan Ren yang sejak tadi terlihat gelisah. "Semua akan baik-baik saja, Jinguji-san," ujar gadis komposer STARISH.
Gelengan pelan menjadi balasannya. Pelukan itu terlepas. Ekspresi Ren sulit ditebak ketika Haruka memandanginya. Kini tangan kanan Ren mengusap puncak kepala gadis tersebut. Senyuman tulus yang belum pernah diperlihatkan oleh si bungsu Jinguji muncul. Haruka tidak bisa berkata apa-apa karena bingung dan kaget. Ren tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, lalu kenapa sekarang...
Dan apa-apaan dengan senyum itu!? Haruka mengerang dalam hati. Padahal beberapa menit yang lalu, ekspresinya seperti orang yang punya masalah serius.
"Apa Kohitsuji-chan sedang mengkhawatirkanku?" tanya Ren dengan nada jahil.
"Tentu saja. Jinguji-san terlihat aneh," jawab Haruka.
"Gomen, gomen. Tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja." Ren menenteng koper saxophonenya, bersiap untuk pergi dari ruangan tersebut. "Terima kasih sudah mau mendengar laguku tadi," ucapnya. Ia menepuk pelan kepala Haruka sebelum pergi.
Saat mendengar pintu dibuka, gadis itu berbalik. Ren pergi meninggalkannya tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Namun sekilas ia bisa melihat wajahnya berubah jadi mendung lagi.
"Jinguji-san..."
"Oke, cut!"
.
.
.
Hari sudah berganti menjadi malam ketika mereka bersiap untuk pengambilan scene khusus Masato dan Ren. Pagi menjelang siang tadi sempat terjadi adu death glare dari semua anggota STARISH setelah adegan pelukan yang dilakukan Ren dan Haruka. Korban death glare hanya bisa berucap, "Mau bagaimana lagi? Naskahnya ditulis seperti itu," sambil memasang ekspresi penuh kemenangan. Tentu saja yang buat mereka naik darah adalah senyum mengejek Ren.
Setting tempat sudah berganti jadi kamar duo heir sewaktu mereka masih di asrama. Tapi sebenarnya itu tidak jauh berbeda dengan kamar mereka yang sekarang. Terutama di pembagian wilayah.
Ren memulai aktingnya dengan menaruh semua pakaian ke dalam koper. Sesuai naskah, ia akan pergi ke Perancis besok. Motivasi keduanya untuk tidak pindah sudah hancur tak bersisa. Jadi, pemuda tersebut lebih memilih jadi seorang adik yang penurut dan melanjutkan identitasnya sebagai boneka milik sang kakak demi image perusahaan Jinguji.
Rasanya Ren ingin berteriak karena tidak menyangka kalau dirinya bisa sepengecut ini. Ingatan mengenai kejadian sore tadi di taman belakang gedung sekolah kembali berputar. Ia menggeleng pelan lalu melanjutkan kegiatan packing-nya.
Tapi sekali lagi, ingatan itu mengacau. Ren menghembuskan napas lewat mulut seraya menjatuhkan tubuh ke atas kasur tepat di samping koper hitamnya. Melihat kedekatan antara Masato dan Tokiya tadi siang membuat mood-nya makin memburuk. Meski tidak sampai pelukan (seperti yang ia lakukan dengan Haruka), tapi oh, siapa yang tidak marah dan cemburu ketika melihat orang yang disuka lebih dekat dengan orang lain?
Bukan, bukan. Ren bukan menyukai Tokiya karena yang disukainya adalah Masato Hijirakawa. Rival sekaligus adik kesayangannya 'dulu'. Mohon diingat, mereka pernah main bareng waktu masih kecil.
Walaupun hanya sekali, tapi Ren sudah tertarik dengan anak itu sejak pertama kali melihatnya. Siapa sangka ia akan dipertemukan lagi di tempat ini? Sungguh, Ren merasa Kamisama sayang padanya. Tapi sayangnya, hampir tiap hari mereka malah bertengkar dan itu selalu sukses membuat afeksi Ren pada Masato bertambah.
Ren juga tidak tahu kenapa ia bisa jadi seperti ini. Hei, menyukai sesama jenis berarti tidak normal, kan? Iya, kan? Tapi ia tak bisa mengelak, apalagi mengontrol dengan siapa dirinya akan jatuh cinta.
Tidak. Tidak ada yang bisa, kecuali Tuhan.
Ckleeek.
Pintu kamar terbuka. Pemilik kamar yang lain masuk ke dalan ruangan. Setelah dua kali melangkah, ia terhenti dan menatap 'teman' sekamarnya dengan mata sedikit menyipit. "Jinguji, kau mau pindah?" tanya Masato Hijirikawa.
"Menurutmu?" Ren bertanya balik sambil terus menatap langit-langit kamar.
"Kenapa?"
"Aniki."
"Lagi?"
Ren mengubah posisi jadi duduk di pinggir kasur. Masih tanpa menatap Masato, ia tersenyum bodoh. Dalam hati dirinya ingin sekali langsung pergi ke manapun asalkan Masato tidak melihat wajah frustasinya. "Besok aku akan pergi ke Perancis. Mungkin 'dia' ingin aku belajar dan dapat pengalaman langsung jadi model di sana," cerita Ren sambil memalingkan wajah.
Masato memasang wajah kaget. "Perancis? Kau bisa jadi model di sini, kan?"
"Jadi model dimanapun aku bisa, tampangku mendukung."
"Aku sedang serius, Jinguji."
"Aku juga serius, Hijirikawa," kesal Ren seraya mendelik pada pemuda yang umurnya satu tahun lebih muda darinya. Selama beberapa detik mereka saling tatap namun diputus oleh Ren.
Masato sempat melihat kilatan rasa kecewa, sedih, dan marah bercampur jadi satu di mata Ren. Kurang lebih ia paham perasaan temannya ini karena ia sendiri sedang memegang tanggung jawab atas pilihannya untuk jadi idola di masa depan. Masato harus membuktikan pada kedua orang tuanya yang tidak setuju mengenai keputusannya tersebut. Ia pun dapat dukungan, meski hanya dari kakeknya. Tapi itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan hingga sekarang.
"Mungkin kalau kau memaksaku untuk tetap tinggal, aku tidak jadi pergi."
Kini ekspresi tidak percaya yang muncul di wajah Masato. "Aku—apa?"
Ren tersenyum getir sambil menatap lurus ke arah Masato. "Kau masih tidak sadar juga, ya?" Ia bertanya dengan nada agak bergetar di akhir.
"...jangan bercanda, Jinguji."
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Tolong berhenti memandangiku seperti itu. Kau membuatku jijik," ujar Masato dingin. Tubuhnya sekilas terlihat bergetar. Ia takut dan syok di saat yang bersamaan. Takut kalau apa yang dipikirkannya selama ini ternyata benar mengenai perasaan Ren padanya. Namun yang membuatnya syok adalah kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri.
"..."
"..."
Jelas sekali dari wajahnya kalau Ren terluka akibat ucapannya tersebut. Masato bergeming dan menunduk. Ia ingin minta maaf tapi urung karena egonya terlalu tinggi.
"Lupakan ucapanku tadi. Aku hanya bercanda," putus Ren seraya berjalan mendekati lemar pakaian. Namun ia berhenti setelah dua kali melangkah.
"Sebenarnya aku mulai nyaman berada di sini dengan anak-anak dari kelas A, Icchi, Ochibi-chan, dan Nanami. Sepertinya aku juga sudah dapat motivasi untuk jadi idol setelah lulus dari Saotome Gakuen. Tapi lagi-lagi Kakakku itu bikin ulah. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Dia terus menjadikanku bonekanya. Jujur saja, aku lelah."
Belum sempat Masato membalas, Ren kembali berucap. "Oh, tentu aku tahu, dia berbuat begitu demi image perusahaan Jinguji. Tapi haruskah sampai memindahkanku ke Perancis?"
"Jinguji, aku paham perasaanmu—"
"—tidak. Kau tidak paham."
"Aku menolak untuk meneruskan usaha keluarga."
"Kita berbeda, Hijirikawa. Beda. Kau tidak peduli soal usaha keluargamu dan membiarkan adikmu yang menanggungnya nanti." Ren berbalik menghadap Masato. Ekspresinya berubah total. Ia menatap serius ke arah Masato. Alisnya menukik ke bawah, pertanda ia benar-benar marah sekarang. Kedua tangannya pun ikut mengepal.
"Aku berbeda denganmu. Aku menuruti perkataannya karena kupikir tak ada salahnya membantu menyukseskan perusahaan Jinguji. Tapi aku tidak pernah berpikir akan dipindahkan sampai menyeberang ke benua lain seperti ini."
Ekspresi Ren perlahan berubah lagi. Ia jadi lebih frustasi dari sebelumnya. Namun tak ada tanda-tanda pemuda itu akan menangis.
"Kau bisa berontak, Jinguji! Kau laki-laki, kan!? Jangan jadi laki-laki pengecut yang tak bisa melawan demi masa depannya sendiri!" teriak Masato. Agaknya ia ikut kesal melihat sikap Ren yang plin-plan begini. Dalam hati Masato juga sadar, mestinya ia memberikan kata-kata penyemangat seperti yang kakeknya lakukan dulu padanya. Tapi sekali lagi, ego Masato terlalu tinggi. Mana mungkin ia mau melakukan hal itu.
"Kalau begitu bilang padaku, 'jangan pergi'! Itu yang kubutuhkan sekarang!" balas Ren dengan nada teriak juga.
"..."
"..."
"Sepertinya aku mulai gila..." Ren menjambak rambutnya sendiri. Tanpa berucap lagi, ia melangkah pergi keluar kamar. Namun saat sosok itu melewati Masato, sebuah tangan menahan lengan kirinya. Dengan nada jengah, Ren bertanya. "Apa lagi, Hijirikawa? Aku lelah berdebat denganmu."
"Tapi urusan kita belum selesai," balas Masato keras kepala.
"Urusan kita sudah selesai. Besok aku akan pindah ke Perancis. Kau senang 'kan karena tak ada lagi yang mengganggumu? Apalagi kau tak perlu lagi mendapat tatapan yang—oh, sangat menjijikkan ini," sahut Ren sarkastik.
Masato tidak membalas lagi. Ia hanya mengencangkan cengkeramannya pada lengan Ren. Pemuda itu ingin Ren tetap tinggal di sini untuk dirinya sendiri. Bukan untuk orang lain, terutama dirinya. Memang Masato siapa? Rivalnya, kan?
Tapi... apa itu berlaku juga pada Ren? Apa Ren menganggapnya sebagai rival? Bukankah tadi ia membicarakan kemungkinan yang lain? Masato sempat berpikir kalau Ren menyukainya dan pemuda itu tidak mengelak, meski ia disuruh untuk melupakannya. Ren juga bilang kalau dirinya bercanda, tapi Masato tahu dengan jelas kalau sosoknya mengatakan hal itu dengan nada serius. Seolah memang Ren berkata jujur.
Aaaaa... Masato menyerah. Yang terpenting ia harus mencegah kepergian Ren sebelum pemuda itu dan dirinya sendiri menyesal.
"Ini permintaanku yang terakhir, Hijirikawa," ucap Ren. Nada pilu terdengar bersamaan dengan tangan kanan Ren yang perlahan melepas cengkeraman tangan Masato. Ia membalikkan tubuh pemuda berambut biru tua itu hingga mereka saling berhadapan. Kedua tangannya masih tetap berada di atas bahu Masato ketika permintaan tersebut terucap.
"Jika kau ingin menahanku untuk tidak pergi, tahan aku. Bilang padaku, 'jangan pergi'."
"Aku..."
"Masato..."
"Aku takkan me—mmph!"
Lagi, Ren membuat ekspresi terluka di wajahnya sebelum memutuskan ucapan Masato dengan menciumnya tepat di bibir secara paksa. Hanya menekan bibir, tidak lebih dari itu. Ren masih tahu batasannya. Ia sudah siap dibenci seumur hidup asal Masato tahu kalau dirinya memandang Masato lebih dari rival atau teman. Suka. Cinta. Apapun itu namanya.
Ren hanya ingin terus berada di sisi Masato. Bertengkar lalu berbaikan kemudian bertengkar lagi sehingga sudah jadi kebiasaan bagi mereka. Kalau tak ada Masato, hidup Ren terasa kurang sempurna. Tak ada yang salah dengan itu, kan?
Berbeda dengan Ren, Masato berpikir kalau dirinya memang bodoh. Lebih mementingkan egonya ketimbang menahan kepergian Ren. Ia terus merutuk dalam hati. Tanpa disadari, kedua tangannya sudah mencengkeram bagian pinggang dari kaus putih yang Ren pakai. Masato bersikap tidak menolak ciuman 'terakhir' Ren yang terus memperdalam ciumannya.
"Oke, CUT! Otsukaresama deshita!"
"Otsukaresama!"
"Otsukare!"
"Otsukare!"
To Be Continued
Lohaaaaa, Minna-san! ^^ Ada yang masih ingat dengan fanfic ini? Saya rasa wajar kalau readers lupa karena hampir tiga tahun kayaknya saya gak update. Waktu itu saya ada di tahun terakhir SMK, jadi mohon maaf kalau saya milih hiatus. Setelah setahun jadi mahasiswa dan mulai terbiasa dengan kegiatannya, saya mulai aktif lagi sebagai author dan reader. Kebetulan juga mulai dapat waktu luang, ehehe. #plak
Thanks for Sarah Amalia-san atas review dan PM-nya. Saya memang lagi bangun mood untuk lanjutin fanfic ini, saya makin semangat begitu ditagih, wwww. Saya gak bercanda, oke? :)
Terima kasih juga untuk para readers yang mau menyempatkan diri mampir ke fanfic MLS ini. Apalagi readers yang sudah meninggalkan jejak dari chapter 1 sampai 10 kemarin. Rizuki Satoru, Narin Rin-chan, Rye Yureka, emuri. natsu, Lars Carriedo, dhevicka zlalu adha untukmu, ai-chan, Uzumaki Naa-chan, ikariantiana01, frozen fragment, hiroshiyamada132, HarukaGami04, Natsumi, mae-chan, icying, guest (1), Misyel, asukakizuno. ps4, Yui the devil, jessica, hanamiya minako, RiReRoNiNaYuu, Sawamura Hinami, kana akina, maya sakura, Guest (2), SarahAmalia, dan ima-chan. TAT Maaf banget gak bisa bales satu-satu. Tapi saya sangat berterimakasih. #bow Tanpa review kalian, fanfic ini bukanlah apa-apa.
Terima kasih untuk Asakura Yume, Elizca609, Mikazuki Miyuu, Narin Rin-chan, RiReRoNiNaYuu, Rizuki Satoru, SarahAmalia, Shinobu Jinguuji, blxckorz, ikiriantiana01, megitsuma, sheila-ela, tetsuya kurosaki, Akina Yumi, Lars Carriedo, Misyel, frozen fragment, guardnine, dan nurmala yang sudah men-fav dan mem-follow MLS. Honto ni arigatou gozaimasu! #bow
Saya gak bisa janji bakal update cepat atau rutin di tiap minggu atau bulan. Tapi saya sudah bertekad untuk menyelesaikannya. Jadi, mohon dukungannya. #bow ^^
Terima kritik, saran ataupun flame lewat kotak Review dan PM. Sekali lagi terima kasih. See you next chapter!
CHAU!
