Assassination Classroom – Yuusei Matsui

WARNING : humor garing, OOC, gaje, typo, bahasa kasar, dll.

.

Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.

.

Kehidupan Sehari-hari Warga Kunugigaoka

.

.

Enjoy!

.

.


LDR.

Geng Terasaka sedang duduk di sebuah kafe langganan mereka. Hazama sedang membaca buku. Terasaka sedang meneguk kopi. Muramatsu dan Yoshida sedang pergi memesan makanan. Sedangkan Itona sedang memandangi pemandangan di luar sana melalui jendela.

"Eh, kok 'krik krik' gini, seh?" Muramatsu yang sudah kembali dari memesan makanan pun memulai pembicaraan. "Eh, Ter, kamu manggil kita kesini buat apaan?" Muramatsu kembali melanjutkan.

Terasaka mengedarkan pandangan ke teman-temannya. "Ekhem.. aku mau bahas masalah, ekhem, status kita yang masih menjomblo," ucap Terasaka kemudian, sambil menekankan pada kata 'jomblo'.

Ekspresi semuanya pun berubah menjadi datar.

"Yah.. masa bahas masalah itu, sih.." ucap Yoshida malas. Ia memang tidak suka jika sudah membahas masalah percintaan begitu. Itona ikut mengangguk, mengiyakan pendapat Yoshida.

"Kalau gini terus, bisa-bisa kita dijuluki 'geng jones gak laku-laku'! Kita harus memikirkan sesuatu!" teriak Terasaka seraya menggebraki meja. Seketika seluruh pengunjung kafe tersebut menoleh ke arah Terasaka.

"Eh, anying! Kalau ngomong pelan-pelan napa? Malu tau, ngomongin aib kaya gini!" Hazama memukul tangan Terasaka. Terasaka pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Hazama.

"Memang benar kata Terasaka, kita harus mulai bertindak!" Itona ikut menyampaikan pendapatnya.

"Mungkin kita bisa mulai pedekatein doi, deh" Yoshida memberi usulan.

"Sebelum itu, perbaikin dulu penampilan kita. Takutnya doi malah nolak mentah-mentah setelah lihat penamilan kita yang kayak begini," Hazama ikut mungutarakan pendapatnya.

"Kita juga harus memperbaiki image kita. Tau sendiri, kan, image kita itu kayak gimana?" Terasaka juga ikut menyampaikan pendapatnya.

"Oke-oke, aku setuju- eh, Muramatsu! Kok diem aja, sih?" Itona bertanya sambil menunjuk-nunjuk Muramatsu yang sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.

"Aku, kan, gak perlu ikut-ikut pembicaraan kalian.." Muramatsu kemudian kembali menimpali, "Aku, kan, gak jomblo- aku LDR an"

Semuanya tersentak mendengar kata-kata Muramatsu. "HEH? KAMU LDR-AN?!" mereka serempak bertanya pada Muramatsu. Muramatsu tersenyum penuh gaya seraya menganggukkan kepalanya.

"MASA? SAMA SAPA? EMANG ADA YANG MAU SAMA KAMU?!"

"BERAPA JARAKNYA? BEDA KOTA? KAMU DITIPU KALI!"

"EH.. SEJAK KAPAN? KOK GA BILANG-BILANG? BOONGAN, YHA?"

Pertanyaan dilayangkan kepada Muramatsu secara bertubi-tubi. Muramatsu menggelengkan kepalanya pelan.

"Iya-iya, satu-satu aja nanyanya," ucap Muramatsu. "Ayo, silahkan tanya apa aja.." lanjut Muramatsu dengan senyum penuh gaya.

Semuanya saling berpandangan, bingung memutuskan siapa yang akan bertanya lebih dahulu. Pada akhirnya, Terasaka lah yang mendapat giliran pertama untuk menanyakan pertanyaannya.

"LDR an sama siapa?" tanya Terasaka pelan.

"Yuuki Asuna," jawab Muramatsu singkat. "Lanjuut.."

Eh, kok kayak ga asing sama namanya, ya? Kayak pernah denger dimana gitu, batin Terasaka garuk-garuk kepala. Ia berusaha untuk menggali ingatannya mengenai gadis bernama 'Yuuki Asuna' tersebut.

"Berapa jaraknya? Beda sekolah? Beda kota?" tanya Hazama, yang mendapat giliran setelah Terasaka. "Salah semua~" jawab Muramatsu seraya menggelengkan kepalanya.

Kening Itona menjadi berkerut. "Bukan beda sekolah, bukan beda kota juga. Terus beda apa? Negara?" tanya Itona kebingungan.

"BEDA DIMENSI! AHAHA- lanjut.." Yoshida yang mendengar jawaban Muramatsu pun mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai hubungan temannya tersebut. Semuanya menatap datar ke arah Muramatsu.

Tiba-tiba saja, Terasaka mendapat sebuah pencerahan. Ia ingat sesuatu mengenai gadis benama 'Yuuki Asuna' tersebut.

Oh.. jadi, waifunya si Muramatsu itu Asuna, toh, batin Terasaka menyimpulkan pemikirannya.

Yoshida pun mendekat ke Muramatsu. Kemudian, ia mengelus pelan punggung Muramatsu seraya berkata, "sudah, sabar aja. Kita semua juga jomblo, kok,"

Muramatsu menatap heran Yoshida. Yang lainnya justru ikut-ikut memberikan kalimat penghibur untuk Muramatsu.

"Yang sabar aja, ya. Ayo kita lewati masa-masa kelam ini bersama-sama," Hazama berkata seraya ikut mengelus punggung Muramatsu.

"Kamu gak sendirian, kok, Muramatsu. Kita semua juga jomblo.." Bahkan, Terasaka pun juga ikut menghibur Muramatsu.

"Loh, kok- ANJIR, KOK JADI GINI, SIH?!" ucap Muramatsu setengah berteriak setelah mendapat kalimat-kalimat penghibur dari teman-temannya. Daripada menghibur, lebih berkesan sebagai mengejek, sih.

"Waifumu gak nyata," Lah, ini. Ada makhluk gak peka yang bernama Itona.

"ANJIR BANGET KAMU, NA! GAK USAH DIENGETIN NAPAAA?!" teriak Muramatsu kepada Itona. Yang diteriakin tetap cuek-cuek aja. Itona bahkan masih memasang wajah datar.

Seketika itu juga, Muramatsu menangis, mengingat waifunya tidaklah nyata. Dan, tidak akan nyata.

.

.

Rekomendasi Anime 2

"Eh, No, pulang bareng kita yuk.." ajak Nagisa seraya menghampiri Kayano. Di belakangnya sudah ada Sugino yang ikut menatapnya.

"Oke." jawab Kayano singkat dan mengikuti Nagisa serta Sugino yang sudah berjalan meninggalkan kelas.

Saat sudah berada di luar gedung, Sugino membuka pembicaraan, "Karma mana? Gak bareng kalian? Kok tiba-tiba ngajak pulang bareng? Tumben"

Nagisa berdeham pelan. "Karma sudah pulang duluan. Yah.. sebenarnya, aku mau bicarain tentang Karma, sih," jawab Nagisa seraya menatap Sugino dan Kayano bergantian.

"Karma kenapa? Kamu naksir sama dia?!" Nagisa sweatdrop mendengar perkataan Kayano. Fujoshi pikirannya memang gitu, mah.

Nagisa menggeleng cepat, membantah pernyataan Kayano. "Bukan itu yang mau kubicarakan,"

Nagisa menoleh ke arah Kayano. "Eh, No- Kayano maksudku. Kamu masih inget, kan, waktu kita dikejar-kejar sama Asano? Waktu sebelum razia itu, lho.." tanya Nagisa kepada Kayano. Mulut Kayano membulat. Sepertinya ia langsung paham dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Nagisa.

"Oh, iya. Waktu itu reaksi Karma aneh banget, pakai acara minta maaf juga. Kalau gak salah, Asano nyebut-nyebut 'Boku no Pico' atau-"

"Oh," Sugino tiba-tiba saja memotong perkataan Kayano. "Kayaknya aku tahu, deh, penyebabnya.." lanjut Sugino seraya menggaruk-garuk kepalanya.

"Beneran? Ceritain, dong!"

"Jadi gini.."

Flashback..

"ASANOOOO!" Seo Tomoya datang ke ruang OSIS dengan teriak-teriak. Pakai membanting pintu ruang OSIS pula.

"Apaan? Aku lagi sibuk." jawab Asano dengan nada bicara yang kelewat sewot.

"Ada setan di depan gerbang! Gak ada yang berani keluar sekolah jadinya!" teriak Seo seraya menggebrai meja sang Ketos.

Perempatan muncul di dahi Asano. "Eh, Seo, kalau bercanda jangan sekarang, ya. Aku la-"

"YA AMPUN, ASANOOO! AKU SERIUUSSS!"

Seketika, Asano merasakan hujan lokal yang berasal dari Seo.

Asano mengacak rambutnya frustasi. "Ya udah. Kalau emang ada setan di depan sana, aku harus ngapain?" Asano bertanya kepada Seo.

"Ya, diusir napa.. Kamu, kan, Ketua OSIS. Siapa tahu aja setannya takut sama ketos.." jawab Seo diselingi tawa pelan.

Asano tersenyum kecut. Yaelah, yo. Bilang aja takut sama setannya!

"Hhh.. ya udah, bakal tak usir si setan sialannya. Cepet tunjukin setannya," ucap Asano seraya berjalan keluar ruang OSIS dan menuju pintu gerbang, yang katanya ada setannya tersebut. Tak lupa, Seo terus mengekori Asano.

Sesampainya di pintu gerbang, Asano segera memandang sekelilingnya. Ia tak menemukan sesosok setan yang dimaksud temannya tersebut.

"Mana setannya? Gak kelihatan, tuh," ucap Asano masih mencari sosok setan tersebut.

"Yaelah, masa gak kelihatan, sih? Itu, lho, yang di depan. Yang rambut merah," Asano mengikuti arah yang ditunjuk oleh Seo.

Di tempat yang ditunjuk oleh Seo, terdapat Akabane Karma.

Eh, tunggu, yang dimaksud setan itu si Akabane? Tanya Asano dalam hati. Asano langsung ngakak di tempat.

Karena tak ingin membuang waktunya, Asano segera menghampiri Karma yang nyaris jamuran di depan sekolah. Ia akan segera mengusirnya dari depan gerbang sekolah.

"Oi, Akabane. Ngapain kamu ke-" mendengar suara yang dikenalnya, Karma langsung melayangkan tinjuan ke wajah Asano.

Asano langsung jatuh kebelakang. "Heh, kurang ajar! Ditanya baik-baik juga, kok! Masalah lu apaan, ha?!" tanya Asano tidak terima.

"Masih tanya masalah gua apaan? Gak nyangka, ya, ternyata Ketos goblok juga.."

"LU NGATAIN GUA APAAN? NGAJAK TAWUR, HAH?"

"TAWUR? AYOOK!"

Melihat Asano dan Karma yang sudah mulai mengadu fisik, murid-murid di sekitar gerbang pun menjadi panik. Salah seorang dari mereka pun memanggil guru. Pada akhirnya, guru tersebut berhasil melerai pertengkaran antara si surai merah dan si surai jingga.

Kemudian, mereka berdua dibawa ke ruang guru untuk membicarakan masalah mereka berdua baik-baik.

"Gua tanya sekali lagi, masalah lu apaan, Akabane?" tanya Asano sambil menatap tajam lawan bicaranya.

"Eh, elo jadi orang kok nyebelin banget, seh? Mau mancing emosi, hah?!" tanya Karma masih dengan nada emosi.

"BACOT! CEPET JAWAB AJA!" Asano ikutan emosi mendengar jawaban Karma sebelumnya.

"Mau masalah apa lagi? Pasti masalah rekomendasi animemu, lah!" Karma setengah berteriak mengatakannya.

Dahi Asano berkerut. "Hah? Rekomendasi anime apaan, sih?"

"Masih berlagak bego? Rekomendasi animemu yang itu! Yang kamu ngerekomendasiin 'Boku no Pico'! Untung a- loh, ekspresi lo kok jadi gitu?" Karma menyadari perubahan ekspresi Asano.

"E-elu sudah nonton?" tanya Asano terbata-bata.

"Untungnya belum! Kalau nggak ada yang ngasih tau, gua pasti udah kena jebakan lu!" jawab Karma seraya menatap tajam Asano.

Ekspresi Asano berubah menjadi sendu. Karma jadi kebingungan.

"Asal lu tau, ya.. aku juga korban rekomendasi 'Boku no Pico'" jawab Asano seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Disaranin sama bapak gua.."

Anjir, pak Kepsek demen begituan ternyata, batin Karma.

"Dan lagi, gua udah nonton. Sampai selesai juga." Asano melanjutkan. Karma terbelalak mendengar penuturan Asano barusan.

"RASANYA, SEMUA ADEGANNYA GAK BISA KELUAR DARI KEPALA GUA!" teriak Asano frustasi. Air matanya mulai meleleh turun.

Melihat Asano mulai terisak-isak, Karma makin bingung aja. Dia tidak pernah menenangkan orang yang sedang menangis. "E-eh, ma-af. Aku gak tau, No. U-udah, ya, jangan nangis.." Karma berusaha menenangkan Asano.

Asano menatap tajam sepasang mata Karma. "AWAS AJA, LU, YA! GAK BAKALAN TAK MAAFIN GITU AJA!" Asano berteriak penuh kemurkaan.

Yah, gak dimaafin ternyata.

Sejak saat itu, Karma selalu merasa bersalah ketika bertemu dengan Asano.

Flashback end.

YAK- HE- LAH-

"Cuman gara-gara itu?" Nagisa masih tidak percaya. Ia menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.

"Iya. Gara-gara itu aja." Jawab Sugino mantap.

Kayano ikut garuk-garuk kepala. "Aku gak habis pikir, kok cuman gara-gara itu, sih?"

Sugino tersenyum pahit. "Iya, Kayano.. cuman gara-gara itu," Untung saja kesabaran Sugino belum habis. Tanya lagi, kalian tak kubur hidup-hidup, batin Sugino.

"Nyesel aku dengernya. Harusnya aku gak perlu tau aja."

"Pura-pura gak denger ajalah. Pingin cepet-cepet ngelupain ceritanya."

Sugino sweatdrop mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh kedua temannya tersebut. Kokoronya sakit. Sudah capek-capek cerita, tapi gak dihargain sama sekali. Syiyal sekali, ya.

.

.

TBC (?)

.

.


Hanjiir.. Kok kaya gini jadinya? ;A;

Garing dan gaje, ya? maafin author, yha~ :))

.

.

Mind to Review? :))