Assassination Classroom – Yuusei Matsui
WARNING : humor garing, OOC, gaje, typo, bahasa kasar, dll.
.
Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.
.
Kehidupan Sehari-hari Warga Kunugigaoka
.
.
Enjoy!
.
.
Rupanya.
Hari ini adalah hari yang cerah. Matahari bersinar terang. Angin berhembus sepoi-sepoi. Burung pun juga bernyanyi dengan merdu. Sungguh hari yang cerah. Bawaannya jadi senang terus.
Sama seperti pasangan Karasuma dan Irina.
Mereka tengah duduk berdua di halaman depan gedung kelas 3-E, mengamati peserta didiknya yang sedang berolahraga di lapangan.
Lho, guru olahraganya, kan, Karasuma? Au ah, males jelasin.
Yang jelas, murid-murid kelas 3-E sedang belajar olahraga mandiri. Jadi, Karasuma, dan kebetulan ada Irina, hanya mangamati dari kejauhan. Ya, hanya mengamati. Ngomong-ngomong, hanya melihat saja tanpa bisa menjamah itu sa maaf, saya salah bicara.
"Kucinta padamu, kusayang padamu.. ku kan persembahkan seluruh milikku untukmu.. oh~" Karasuma bernyanyi pelan dengan nada ancur-ancur ga jelas. Mendengar Karasuma bernyanyi lagu gak jelas, yang isinya menjurus ke cinta-cintaan, Irina langsung menoleh.
Irina pun meneteskan air mata, ia terharu. Karasuma akhirnya peka juga. Irina akhirnya dinotis juga.
"Oh.. Karasuma~ apakah lagu itu untukku? Oh.. sungguh romantis.." ucap Irina dengan mata yang berbinar-binar. Hati Irina sedang berbunga-bunga.
Karasuma menoleh ke arah Irina. Terdiam sesaat sebelum mengatakan, "oh, lagu ini? tentu saja bukan. Ini lagu untuk anjing-anjingku di rumah,"
Krak, suara retakan hati Irina terdengar sampai ujung dunia. Oke, ga mungkin banget.
"Oh, begitu ya.. maaf sudah salah paham," jawab Irina datar, kemudian kembali mengamati murid-muridnya yang sedang berolahraga di lapangan. Irina kembali menitikkan air mata. Namun, kali ini adalah air mata kesedihan.
Jadi, anjing di rumahmu lebih penting dariku, ya? INI ANJING SEKALEEEH!
Keheningan pun kembali menyelimuti keduanya. Tidak ada yang berani membuka pembicaraan. Irina sudah terlanjur badmood sama Karasuma. Karasumanya malah enjoy-enjoy aja, masih mengamati murid-muridnya yang sedang berolahraga, gak ada masalah dengan keheningan yang menyelimuti dirinya dan Irina.
"Hei, Karasuma. Aku sedang mengabaikanmu."
"..."
"Sekali lagi kukatakan, aku sedang mangabaikanmu."
Karasuma tidak merespon. Ia masih saja terdiam seperti sebelumnya.
"HEI, KARASUMA! JANGAN DIAM SAJA DAN MENGABAIKANKU! SAAT INI AKU SEDANG MENGABAIKNMU! AKU SEDANG MARAH DENGANMU!"
Karasuma masih saja terdiam. Irina tepok jidat. Kemudian ia menggeleng-gelengan kepalanya. Ia makin badmood saja dengan guru olahraga yang keras kepala itu.
Pada akhirnya,
Irina terus berharap.
Tapi, Karasumanya malah gak peka-peka.
.
.
NTR.
"Isogaaaaai... gua di NTR in anak gedung utama.. huaa.. masa dia yang punya poni alay ga jelas, yang jelas oke an punya gua lah, yang malah dapetin Kanzaki! Padahal gua duluan yang pedekatein Kanzaki, Gai! Elu tau sendirikan usaha gua buat dapetin Kanzaki kaya gimana? Kokoro gua sakit, bruuh.." Sugino curhat panjang lebar ke Isogai sambil mewek. Isogai pun menepuk pelan punggung temannya tersebut.
"Sabar aja, ya, No. Segala masalah pasti ada jalan keluarnya," hibur Isogai yang seolah menjadi Mario Teduh dadakan.
Sugino menghapus air mata di pipinya. "Makasih, ya, Gai, sudah bolehin gua curhat, lo emang teman yang paling baik," ucap Sugino kemudian.
Isogai tersenyum kecut.
Gimana ga bolehin, coba? Orang dia dateng-dateng langsung curhat, pakai acara mewek-mewekan pula, batin Isogai.
"Ngomong-ngomong, lo masih pedekatein Kataoka?" tanya Sugino setelah menemukan topik pembicaraan yang tepat.
Isogai kaget mendengar pertanyaan Sugino, tidak menyangka akan menanyakan hal tersebut. "E-eh, iya. Rencananya gua bakal nembak dia minggu depan," jawab Isogai sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya sedikit bersemu merah.
"Beneran, nih? Wah, good luck, ya! Oh, ya, mungkin gua bisa bantu lo buat mensukseskan acara nembak Kataoka. Gue bakal gabung sama tim sukses lu," jelas Sugino dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Yaelah, pakai tim sukses segala. Emang ini ujian nasional, apa? batin Isogai dalam hati.
"Hitung-hitung, sebagai balas budi gue, karena lo sudah baik banget sama gue." lanjut Sugino kemudian.
Isogai menggaruk-garuk pucuknya. Ia masih mempertimbangkan kata-kata Sugino. "Okelah, gue terima bantuan lo."
Sugino tersenyum penuh arti. "Yaudah. Ceritain aja rencana lo."
"Rencananya, sih, gue bakal nembak Kataoka di belakang gedung waktu pulang sekolah. Tugas lo cuma mastiin gak ada orang di sekitar situ. Semisal gue ditolak, kan aman-aman aja," jelas Isogai diselingi tawa pelan.
"Ya ampun, gitu doang? Gue pikir bakal lebih ribet dari ini, lo emang orang yang sederhana, ya." Sugino memberi jeda sesaat sebelum kembali melanjutkan, "lagipula, orang ganteng macam lo kemungkinan ditolaknya kecil banget,"
Isogai tertawa pelan. "Persiapan untuk kondisi terburuk aja. Gue juga takut nanti ada yang nikung gue, hehe,"
Sugino terkekeh pelan sebelum berkatata, "tenang aja, Gai, orang baik kayak lo gitu pasti ga bakal ada yang berani nikung, kok!"
"Ahaha.. bisa aja, sih. Tapi, moga a-" kata-kata Isogai terputus setelah melihat pemandangan di luar kelas melalui jendela.
Terlihat doinya Isogai-Kataoka Megu-sedang duduk bersama dengan sahabatnya-Maehara Hiroto-di halaman gedung kelas E. Mereka sedang mengobrol bersama, sesekali diselangi dengan tawa. Pakai senggol-senggolan pula. Mereka terlihat begitu mesra, kayak orang pacaran gitu.
"Eh, kenapa, Gai? Kok mukamu jadi kayak gitu?" tanya Sugino yang menyadari perubahan ekspresi pada wajah Isogai.
Isogai menoleh ke arah Sugino. "Gua tau rasanya ditikung, apalagi sama sahabat sendiri, sakit rasanya, bro.. pas di kokoro pula," ucap Isogai seraya menatap Sugino datar.
"Sabar aja, ya, Gai. Segala masalah pasti ada jalan keluarnya," Sugino memberikan saran yang sama seperti yang sebelumnya diberikan oleh Isogai.
Isogai meneteskan air matanya. "Huaaa... padahal gue duluan yang pedekatein.. kenapa hidup ini begitu kejam, huaa.."
Sugino mengelus pelan punggung Isogai, berusaha menghiburnya. "Gua tau perasaan lu, kok, Isogai. Hiks, sakit, kah?"
Gak taunya, Sugino ikut-ikutan menangis.
"HUAA.. KOK JADI GINI, SEEH?! HUAA.."
Kemudian, Sugino dan Isogai berbaper ria bersama-sama di dalam kelas.
.
.
Angker.
"Maehara-kun! Kataoka-san!" panggil Koro-sensei setengah berteriak. Yang dipanggil pun menoleh.
"Ada apa, Koro-sensei?" tanya Kataoka kepada senseinya yang berwujud gurita kuning raksasa tersebut.
"Bisa bantu sensei, tidak?" tanya Koro-sensei dengan nada memelas.
Pandangan Kataoka bertukar dengan pandangan Maehara, kemudian mereka kembali menoleh ke arah Koro-sensei. "Memangnya sensei mau minta tolong apa? Dibelikan cemilan manis di supermarket? Sensei, kan, bisa melakukannya sendiri," ucap Maehara sambil asal menebak.
Koro-sensei menggeleng pelan. "Tidak, Maehara-kun. Sensei ingin kalian melakukan ini. Hanya sebentar saja," pinta Koro-sensei seraya menyerahkan beberapa selembar kertas kepada Maehara.
Maehara mengernyit melihat kertas yang sudah berada di genggamannya. Kataoka pun ikut mengintip isi kertas tersebut. "Ini apa, sensei? Ini.. Naskah drama, kah?" tanya Kataoka pada akhirnya. Ekspresinya menunjukkan kebingungan.
"Nurufufu.. benar sekali Kataoka-san. Sensei ingin kalian mempraktikkan drama tersebut," ucap Koro-sensei. "Nanti sensei akan merekamnya.." lanjutnya kemudian.
"Hah? Direkam? Memangnya buat apa, sensei?" tanya Kataoka kebingungan.
"Nurufufu.. sensei ikut kontes film pendek.."
Kataoka dan Maehara sweatdrop. Eh, anjir! Aneh-aneh aja, nih gurita!
"Hanya sebentar saja, kok," ucap Koro-sensei. Kemudian, ia kembali menimpali, "kumohon.. tolonglah sensei.. sebenarnya sensei ingin meminta bantuan Irina-sensei dan Karasuma-sensei. Tapi, Irina-sensei sedang badmood dengan Karasuma-sensei, sensei jadi tidak bisa meminta tolong pada mereka," Koro-sensei menyeka air matanya yang sudah mulai menetes tersebut.
Melihat kondisi senseinya yang mengenaskan, lebih tepatnya menyedihkan, tersebut Kataoka dan Maehara menjadi iba. Pada akhirnya, mereka pun menyetujui permintaan aneh Koro-sensei tersebut.
Lagipula, mereka hanya perlu duduk di halaman gedung kelas E, lalu mengobrol seperti biasa sambil ketawa-ketiwi, pokoknya terlihat seperti orang yang lagi pacaran gitulah.
Untungnya, semua murid selain mereka berdua sudah pulang. Jadi, aman-aman aja mereka beradegan seperti orang pacaran, gak ada yang lihat. Gak ada gosip aneh-aneh yang akan beredar esok hari.
Kataoka dan Maehara pun memulai adegannya. Mulai dari mengobrol biasa, ketawa-ketiwi, sampai yang senggol-senggolan pun mereka praktekkan dengan baik. Setelah Koro-sensei selesai merekamnya, mereka pun menghampiri senseinya tersebut.
"Bagaimana hasilnya, Koro-sensei?" tanya Maehara kepada Koro-sensei.
"Sudah bagus, kok. Mungkin ka-" Koro-sensei berhenti bicara sejenak, kemudian menoleh ke arah Kataoka dan Maehara. "Kalian dengar itu?" tanyanya kemudian.
Kataoka dan Maehara menajamkan pendengarannya. Kemudian, pendengaran mereka menangkap suara tangisan pelan.
"Hua.. hiks.. hua.."
"S-s-sensei, i-itu, kan, suara tangisan? Suaranya berasal dari kelas pula!" teriak Maehara panik. "Kau bilang tidak ada orang dikelas?!" tanya Maehara makin panik. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak.
"I-itu benar, Maehara-kun. Terakhir kali sensei cek sudah tidak ada orang, kok!" Koro-sensei membela diri.
Bulu kuduk mereka pun mulai meremang.
"Memang, sih, aku pernah dengar cerita bahwa kelas 3-E itu angker. Katanya sering terdengar su-" ucapan Kataoka cepat-cepat dipotong oleh Maehara.
"JANGAN CERITA DISINI, KAMPRET!" teriak Maehara makin ketakutan.
"Pulang aja, hayuk," ajak Koro-sensei kemudian.
"Hayuk," jawab Kataoka dan Maehara bersamaan seraya menganggukkan kepala. Setelah itu, mereka bertiga segera saja berlari menjauhi kelas 3-E.
Tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang mengetahui kebenaran dibalik suara tangisan misterius dari dalam kelas 3-E tersebut.
.
.
TBC (?)
INI PENDEK DAN GARING BANGET, YAWLA! ;A; MAAFKAN AUTHOR GAJE INI
.
Maaf buat yang ngasih-ngasih saran, masih belum bisa dikabulkan (?) sama author. Author masih agak gaham soalnya #plak
.
Chapter selanjutnya bakal agak lama updatenya. Mungkin seminggu habis lebaran baru update ;")) maaf, ya :)
.
.
Mind to Review? ;)
