Assassination Classroom – Yuusei Matsui
WARNING : humor garing, OOC, gaje, typo, bahasa kasar, dll.
.
Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.
.
Kehidupan Sehari-hari Warga Kunugigaoka
.
.
Enjoy!
.
.
Poni.
Asano Gakushuu sedang berjalan menuju ruang OSIS bersama Sakakibara Ren. Mereka berdua hendak berdiskusi bersama anak-anak OSIS yang lain mengenai beberapa dokumen yang sedang dikerjakan mereka.
Jujur saja, Asano gak suka jalan bareng sama Ren. Nanti dikira gay? Gak, bukan itu. Asano jijik banget sama gayanya Ren. Dikit-dikit nyisir rambut– yang modelnya sangat naujubileh itu– sambil pasang pose-pose tamvan. Anjir, dikira Asano bakal terpesona gitu? Yang ada malah Asano yang pingin muntah ngeliat Ren.
Saat itu juga, Ren sedang menyisir rambutnya dengan dramatis. Sumpah, Asano jadi pingin gampar muka Ren yang lagi senyum-senyum ganteng itu. Tapi, sebagai ketos baik hati dan sayang ortu, ia akan menahan hasrat ingin gampar muka itu.
Ren masih saja menyisiri rambutnya. Asano hanya bisa menatap Ren dengan tatapan jijik. Perlahan-lahan, ia mulai mengambil jarak diantara mereka. Asano ogah deket-deket sama orang narsis semacam Ren.
Ren, yang tiba-tiba saja sadar telah ditatapi oleh sang Ketos, langsung kegeeran. Ia cepat-cepat tersenyum tamvan dan berkata, "kalau kamu terpesona sama aku, bilang aja. Jangan natap terus gitu, dong.. jadi malu, ih"
DEMI TUHAN! Rasanya Asano ingin ngacir ke kamar mandi dan muntah beneran di sana.
"Atau.. kau terpesona dengan model rambutku? Aduh.. ga papa kamu niruin gaya rambutku, kok. Aku sudah ikhlas," Ren kembali menyibakkan rambutnya dengan dramatis.
Asano makin risih dan jijik melihatnya.
"AMIT-AMIT, DAH! MENDINGAN DIGUNDUL AJA SEKALIAN!" teriak Asano. Kemudian, ia meninggalkan Ren yang melongo mencerna kata-katanya.
Coba model gundul, ah. Siapa tahu aja malah makin keren. Mirip-mirip sama superhero dari anime sebrang, kan? Batin Ren kemudian.
.
.
Ada Sekertaris OSIS di balik batu.
"Buk, batagor satu porsi, yak," pinta Asano kepada ibu-ibu penjaga kantin. Sang ibu penjaga kantin hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Kemudian, Asano pergi menuju bangku kantin yang ada di pojokan, ia memilih untuk duduk di sana. Sambil menunggu pesanan datang, Asano pun memperhatikan murid-murid yang sedang lalu-lalang di dalam kantin. Sapa tau aja, ada cewek cantik yang– gak, gak, hanya bercanda, kok. Dia hanya sedang bosan.
"ASANOOOO!" si poni alay memanggil Asano seraya melambaikan kedua tangannya. Ren pun mulai berjalan mendekati bangku yang diduduki oleh Asano. Yang didekati pun memicingkan matanya, memandang Ren dengan pandangan tidak suka.
Ini aneh banget, sumpah. Biasanya, Ren bakal ngehindari Asano. Yah, kalau ketemu Asano, bahasannya jadi masalah dokumen OSIS mulu, jelaslah kalau Ren menghindari dia.
Tapi, barusan apa yang dilihat Asano? Ren terang-terangan berjalan mendekati Asano. Aneh banget, kan? Perasaan Asano berubah menjadi tidak enak.
"Aelah, ketos sendirian aja.. masih jomblo juga, nih?" tanya Ren sambil menyeringai.
Tahik kau Ren! Pakai ngungkit-ngungkit masalah status yang masih menjomblo pula, batin Asano seraya tersenyum pahit. Ia masih memandang Ren dengan tidak suka. Tiba-tiba saja, si sekertaris OSIS itu menarik kursi di hadapan Asano dan mendudukinya. Perasaan sang Ketua OSIS makin gak enak.
"Single, bukan jomblo," ralat Asano yang merasa harga dirinya telah dijatuhkan oleh Ren.
Ren terkekeh pelan. "Iya-iya, aku tau, kok, kalau ketos itu orangnya ganteng, pinter.." Ren mengeluarkan kata-kata pujian secara tiba-tiba.
Tiba-tiba saja, Asano menyadari maksud tersembunyi dari pujian-pujian yang dilontarkan oleh Ren. Kalau Ren sudah muji-muji gitu, sudah jelas ada maksud yang tersembunyi.
".. tajir pula," Ren masih saja memuji Asano.
Asano hanya memandangi Ren sebelum berkata, "udah, to the point aja. Gak usah pakai muji-muji segala."
Kemudian, Ren menyeringai. "Yah.. karena elu tajir-" jeda sesaat sebelum Ren melanjutkan, "-traktir, dong,"
NAH, KAN! NAH, KAN! Ketahuan sudah niat busuk Ren.
Asano tersenyum asem mendengar perkataan Ren barusan. Ia sudah menduganya.
Kampret banget nih anak! Sekalinya deketin malah minta traktiran! Dasar sekertaris OSIS kampret!
Tiba-tiba saja sebuah ide, yang jelas bukan ide yang bagus, terlintas di benak Asano. Kemudian, ia berkata kepada Ren, "ya udah, aku traktir." Asano berpura-pura menghela nafas, sehingga terlihat pasrah.
Mendengar hal tersebut, mata Ren langsung bling-bling. Asano hanya sweatdrop melihatnya.
"Mau makanan apa minuman?" tanya Asano.
Ren terlihat berpikir sebentar. Kemudian ia menjawab, "minuman ajalah, lagi aus, nih. Terserah minumannya apa, aku terima-terima aja. Kan, kamu yang traktir."
Asano menyeringai lebar. Sekarang, giliran Ren yang perasaannya jadi gak enak.
"Es sianida ga papa, kan?" wajah Asano benar-benar serius ketika mengatakannya. Pemuda di hadaannya hanya bisa bergidik ngeri mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh anak kepsek tersebut. Bisa-bisa saja, dia benar-benar niat memberi Ren es sianida.
Ren tersenyum pahit, kemudian ia buru-buru berkata, "ga jadi, deh, No. Aku baru inget kalau belum ngerjain peer. Aku balik duluan, yha. Bye,"
Sang ketua OSIS pun tersenyum penuh kemenangan. Sekertaris OSIS yang suka meminta traktiran baru saja berhasil disingkirkan olehnya.
.
.
[Masih] Kesepian.
Murid-murid kelas E memutuskan untuk belajar di perpustakaan gedung utama hari ini. Ya, semua murid kelas 3-E, tanpa terkecuali. Niatnya, sih, mereka datang ke gedung utama dengan damai. Ralat, niatnya si ketua kelas 3-E yang bener.
Tapi, bukan kelas E namanya jika tidak membuat kerusuhan. Iya, Isogai tahu jika teman-temannya dendam kepada murid gedung utama. Kelas E selama ini, kan, didiskriminasi oleh mereka, jadi maklum saja jika mereka dendam kepada murid gedung utama.
Misalnya, saat bertemu dengan beberapa siswa kelas C yang mengejek murid kelas E. Beberapa siswa kelas C tersebut langsung dipukuli sama Karma.
Saat bertemu murid kelas D juga begitu. Mereka adu mulut dengan murid kelas D, sampai hampir tawuran– tapi dihentikan Isogai, tentu saja. Pertamanya, Isogai hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman sekelasnya. Tapi, lama kelamaan, Isogai mulai geram melihatnya. Pada akhirnya, Isogai memilih untuk menegur teman sekelasnya.
Isogai pun menghadap kebelakang, keteman-temannya. Ia berjalan mundur. Kemudian, ia mulai berkata, "Kalian ini! Tadi, kan, aku sudah bilang, kita datang ke sini dengan damai. Jangan pancing amarah anak gedung utama, dong! Kalau dikeroyok anak segedung utama, kan, repot jadinya!"
Yang lain terdiam, mendengarkan kata-kata sang ketua kelas. Kemudian Nakamura berkata, "Kan, mereka yang mulai duluan,"
Isogai menggelengkan kepalanya. "Ya, kan, bisa ditahan emosinya. Kalau begini terus, nanti jadinya malah tawur bareng bukannya– eh, kalau aku ngomong dengerin napa?!" Isogai menyadari teman-temannya berhenti berjalan seraya memandangi sesuatu di belakangnya dengan horor. Jangan-jangan—
Buk, Isogai baru saja menabrak seseorang dibelakangnya. "Ma-maaf– " Isogai langsung terdiam saat melihat orang yang berada di belakangnya.
"Wah, murid-murid kelas E datang ke gedung utama, yah," Asano Gakuhou mulai berbicara.
Ya Tuhan, ini pasti karma yang didapat Yuuma karena sudah memarahi teman-teman Yuuma. Ampuni dosa-dosa Yuuma, ya Tuhan. Yuuma Cuma nasehati temen-temen supaya berbuat baik, kok. Yuuma gak mau berurusan sama Kepsek. Serem soalnya, Isogai mulai berdoa dalam hati.
Teman-temannya pun juga ikut mendoakan keselamatan hidup ketua kelas tertjintah mereka.
"Maaf, pak Kepala Sekolah, sa-saya tidak melihat anda. Maafkan saya," Isogai menuduk begitu dalam, seraya terus merapalkan permintaan maaf berulang kali.
Sang Kepala Sekolah terkekeh pelan. Kemudian, ia mengelus puncak kepala Isogai.
Murid kelas E langsung merinding melihat perlakuan pak Kepsek dengan Isogai. Isogai pun juga mulai berkeringat dingin.
"Namamu Isogai Yuuma, kan?" tanya Gakuhou. Isogai hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Gakuhou melanjutkan, "...kamu manis juga, ya"
Sekelas langsung jantungan.
Isogai malah nyaris tak bernyawa.
Ada aura-aura pedo yang menguar keluar dari sang Kepala Sekolah. "Mau nikah sama Om, gak?"
Murid-murid kelas E jantungan ronde dua.
Kondisi Isogai malah sudah tidak bisa didiskripsikan lagi.
Tiba-tiba saja terdengar suara buku-buku yang berjatuhan dari ujung koridor yang di selangi pekikan histeris, "YAWLA, BAPAAK! INGAT UMUR NAPA, SEEH?! MASA MURID-MURID JUGA DIINCER?!"
Semua murid kelas E pun menoleh ke sumber suara. Di sana ada Asano Gakushuu yang masih shock mendengar perkataan ayahnya.
Sekelas 3-E langsung sweatdrop.
.
.
TBC (?)
Ya, gitu, bagus. Minggu depan sudah masuk sekolah. Padahal masih betah liburan -" #curhatdia
Maaf, garing banget, ya?
.
.
Mind to Review?
