Assassination Classroom – Yuusei Matsui
WARNING : humor garing, OOC, gaje, typo, bahasa kasar, dll.
.
Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.
.
Kehidupan Sehari-hari Warga Kunugigaoka
.
.
Enjoy!
.
.
Cerita Hantu.
Hazama Kirara, Hara Sumire, dan Yada Touka sedang mengerjakan tugas kelompok bersama di kelas. Ketika tugas mereka sudah selesai, mereka memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Walaupun sudah sore, mereka tetap ingin menghabiskan waktu di dalam ruang kelas E tersebut. Ditengah-tengah pembicaraan, seseorang menginterupsi.
"Kalian mau disini sampai jam berapa? Sekarang sudah hampir jam 5. Kalian tidak pulang?" Karasuma bertanya dari luar kelas.
"Ehm.. mungkin sebentar lagi, sensei. Kami masih ingin mengobrol disini sebentar," jawab Yada yang diikuti anggukan dari lainnya.
Karasuma mengangguk kecil sebelum menjawab, "Baiklah. Jangan pulang terlalu malam, berbahaya. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Setelah kepergian Karasuma, Hara pun kembali membuka pembicaraan. "Cerita apa, nih? Aku sudah kehabisan cerita, nih."
"Bagaimana kalau cerita hantu? Aku lagi punya cerita hantu. Bagaimana? Kalau mau, aku ceritain sekarang." Hazama mengajukan pendapatnya. Yada dan Hara mengangguk setuju.
"Ehm.." Hazama berdeham sebelum melanjutkan, "suatu hari, ada tiga gadis yang sedang bercerita hantu di kelas, lebih tepatnya di gedung kelas 3-E, pada jam 4 lebih 50 menit."
Hara seketika menoleh ke arah jam dinding. Jam 4 lebih 50 menit.
"Salah satu dari ketiga gadis tersebut memiliki rambut coklat yang dikuncir kuda."
Kening Yada mulai mengkerut.
"Yang satunya lagi, memiliki badan yang sedikit gendut."
Sekarang, kening Hara ikut mengkerut. Perasaannya jadi tidak enak.
"Sedangkan yang satu lagi, memiliki rambut hitam ikal pendek."
Yada dan Hara berpandangan satu sama lain. Mereka masih menampakkan wajah kebingungan.
"Sebelum mereka saling bercerita hantu, seorang guru sudah mengingatkan mereka. Namun, mereka tidak meneruti perkataan gurunya, dan tetap bercerita hantu di kelas."
Sang pendengar masih terus lirik-lirikan satu sama lain. Kemudian, sikut Hara menyenggol perut Yada.
"Eh, tadi Karasuma-sensei bilang apaan, ya, waktu dating ke sini?" Hara bertanya dengan berbisik-bisik, berusaha agar Hazama tidak mendengar apa yang dikatakannya.
"Entah. Yang jelas, Karasuma-sensei nyuruh kita pulang. Katanya bahaya. Tapi kitanya masih kepingin di kelas," Yada ikut berbisik-bisik.
Hazama kembali melanjutkan ceritanya. "Sang gadis berambut hitam ikal pendek tersebut bercerita tentang 3 orang gadis yang dulu pernah saling bercerita hantu di kelas E yang kemudian berakhir dengan salah satu gadis tersebut menghilang. Teman-temannya tidak ada yang percaya."
Mendengar lanjutan cerita tersebut, Yada kembali berbisik, "Kok ceritanya gitu? Perasaanku jadi gak enak." Hara mengangguk mengiyakan.
"Setelah bercerita hantu, mereka memutuskan untuk pulang bersama. Kemudian, mereka berpisah di sebuah perempatan–"
"Setop, Haza–" perkataan Yada tidak digubris oleh Hazama. Ia masih melanjutkan cerita hantunya tersebut.
"–Keesokan harinya, salah satu dari gadis tersebut menghilang. Banyak yang menduga bahwa gadis tersebut dibawa ke dunia lain, karena–"
"UDAH, SETOP, HAZA. SETOOP! ANJIR BANGET, SIH!" Yada berteriak ketakutan. Ia mulai menggebraki meja tak bersalah di hadapannya.
"ANJIR BANGET, SUMPAH! KAMU NGERTI GAK, SE, KALAU AKU PULANG LEWAT PEREMPATAN! KALAU AKU NGILANG GIMANAAA?" Hara ikut-ikutan berteriak. Yada mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yah, itu, sih, urusan kalian, bukan urusanku. Yaudah, aku mau pulang," ujar Hazama santai seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Kampret banget kamu, Haza."
"Tahik bener lah kau, Haza."
Karena cerita hantu Hazama tersebut, Yada dan Hara memutuskan untuk pulang melewati jalan memutar, agar tidak melewati perempatan yang dimaksud oleh Hazama dalam cerita hantunya.
Sementara itu, Hazama ngakak gulung-gulung karena mendapati temannya melewati jalan memutar. Ia hanya tidak menyangka bahwa teman-temannya akan sepercaya itu dengan cerita bualannya tersebut.
.
.
Kecoa.
Yoshida menunggu Muramatsu di depan warnet langganan mereka berdua. Mumpung hari libur, mereka ingin ngegame bareng di warnet. Tapi, sudah 15 menit Yoshida menunggu kedatangan sobatnya tersebut dari jam perjanjian. Namun, Muramatsu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Yoshida melirik jam tangannya sekali lagi, sudah jam10 lebih 15 menit. Padahal mereka janjian jam 10.
"Oi, Yoshidaaa!" terlihat Muramatsu yang sedang berlari dari kejauhan seraya melambaikan tangannya.
"Yaelah, kamu la– kok nyeker gitu? Sandalmu dicolong orang?" Yoshida mengerutkan keningnya ketika menyadari sobatnya datang tanpa alas kaki.
Yoshida garuk-garuk kepala. Ia memang tahu betul sikap Muramatsu. Ia memang lebih suka berpenampilan sederhana saat berpergian. Sederhana, sih, sederhana. Tapi gak perlu nyeker juga, kan?
"Kalau gak mau pake sepatu, pake sandal suwallo napa? Jangan nyeker gitu, ah!" Yoshida memandang Muramatsu dengan tatapan jijik.
Muramatsu malah nyengir-nyengir gak jelas. "Tadinya emang mau pake sandal suwallo, tapi.." Muramatsu memberi jeda sesaat dalam kalimatnya. "Tapi?" lawan bicaranya bertanya tidak sabaran.
Muramatsu kembali cengengesan seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya. Yoshida mengerutkan keningnya kebingungan.
"Sendalnya dihinggapin kecoa."
Yoshida langsung tepok jidat.
Muramatsu masih saja cengengesan.
"Ya, kan, bisa dipukul sama batu kecoanya. Nanti juga bakal mati," Yoshida geleng-geleng kepala, masih tidak percaya dengan alas an yang diberikan oleh sobatnya tersebut.
Muramatsu ikut menggelengkan kepalanya dengan dramatis, "Yoshidaaa, Yoshida. Kesian kecoanya. Kamu ini tidak berperi kecoaan apa?"
Yoshida tersenyum kecut. Yaelah, kamunya aja takut sama kecoa, batinnya dalam hati.
"Hhh.. kalau gitu, kan, bisa diusir," Yoshida kembali memberikan saran.
"Lah, kalau gitu kecoanya bisa masuk dalam kondisi fly-mode. Kalau sudah fly-mode, bahaya jadinya. Udah akhir dunia kali, haha– bercanda, bercanda."
Yoshida tepok jidat untuk kedua kalinya.
"Ya, gitu ceritanya. Makanya aku gak– loh? Mau kemana? Katanya mau main game? Warnetnya bukan kearah sana, tapi– OI, YOSHIDA! JANGAN NGACANGIN NAPA?!"
Yoshida menoleh ke arah Muramatsu dan melayangkan pandangan sebal. Yang ditatap membalas dengan tatapan kebingungan.
"Mau ke alpamaret, beli baigon."
"Hah? Buat apa?"
"Buat ngeracunin kamu– YA GAK LAH, BUAT KECOA! KECOA DI SANDALMU!"
Yoshida segera berlalu menuju Alpamaret. Ia sudah lelah berbicara dengan Muramatsu.
Sementara itu, Muramatsu hanya bisa garuk-garuk kepala. Entah mengapa, ia gagal paham dengan perkataan orang dihadapannya tersebut.
.
.
Melerai.
"–Terus, dia bilang kalau dia gak paham kata-katanya. Hahaha.." Karma menceritakan cerita lucunya kepada Nagisa dan Sugino, kemudian diikuti tawa yang berasal dari dirinya dan pihak pendengar.
"HAHANJIIR…. ADUH PERUTKU, HAHA.. ADUH LUCU BANGET, MA.."
"YA AMPUN, MA.. HAHAHA.. PERUTKU SAKIT, ADUH!"
Mereka terus tertawa sampai menitikkan air mata. Murid-murid kelas E lainnya hanya menata keheranan kepada mereka bertiga.
"Aduh, lucu banget, sih. Dapet darimana ceritanya?" tanya Nagisa seraya menepuk-nepuk punggung Karma. Mungkin karena Nagisa terlalu banyak menggunakan kekuatannya, Karma merasa bahwa sahabat birunya tersebut sedang menabok punggungnya.
Karma sedang agak badmood hari ini. Ia pun merasa tidak terima dengan perlakuan Nagisa. Karma pun mendorong bahu Nagisa sehingga sang empunya bahu hampir saja terjatuh.
Nagisa menatap tidak suka kearah sang surai merah, kemudian ia melayangkan balasan, berupa dorongan pada bahu, kepada Karma.
Mendapat balasan dari sang surai biru, emosi Karma tiba-tiba saja tersulut. Ia mendorong Nagisa hingga jatuh terduduk di kursi yang berada di belakangnya. Karma segera berdiri dihadapan Nagisa.
"Apaan, sih, Ma? Kok, main dorong-dorongan gini?" Nagisa bertanya kepada orang yang berdiri dhadapannya.
Karma menatap nyalang ke arah lawan bicaranya. "Kamu masih nanya? Yang mulai duluan juga siapa?" nada bicara Karma berubah menjadi ketus.
Kening Nagisa mulai mengkerut, kemudian ia berkata, "aku, kan, cuma nepuk-nepuk punggungmu. Kamunya malah–"
Karma segera memotong perkataan Nagisa. "Hah? Nepuk? Nepuk katanya? Haha… mana ada nepuk yang sekeras dan sesakit itu? Nabok itu namanya!"
Mendengar perkataan Karma barusan, emosi Nagisa ikut tersulut.
"Oh, gitu. Masa gitu doing udah sakit? Dasar lemah!" nada bicara Nagisa sudah kelewat sewot.
"HAH? KAMU BILANG APA? COBA ULANGI?" Karma sudah mempersiapkan kepalan tangannya untuk meninju lawan bicaranya.
"Oh, kamu budeg, ya? Perlu diulangi lagi?" Nagisa menatap Karma dengan tatapan meremehkan.
"BANGSY– Ngajak beranten, hah?!" Karma sudah menampar pipi Nagisa. Nagisa pun membalas dengan mendorong bahu Karma.
"Berantem? Ayok! Siapa takut?"
Melihat teman sekelasnya mulai berantem, Isogai segera bertindak. "Udah, setop kalian berdua. Masalah bisa dibicarain baik-baik, jangan langsung berantem gitu, nanti–"
"DIEM KAMU, KETUA KELAS BERPUCUK! KAMU GAK PUNYA URUSAN DISINI!"
Isogai langsung mingkep, tak berani berkata-kata lagi.
Para kaum hawa pun mulai menjadi panik. Dua sahabat dekat tersebut sudah mulai saling melayangkan tinju. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, bisa-bisa nyawa salah satu dari mereka melayang sia-sia.
"Aduh, kalau mereka bertengkar, bisa sampai bunuh-bunuhan, nih!"
"Gak ada yang berani melerai, kah?"
"Aduuh.. Bagaimana ini? Siap-siap telpon ambulan aja!"
Murid-murid cewek yang kebetulan masih berada di kelas mulai ikutan panik. Isogai sudah tidak bisa membantu apa-apa. Ia masih membatu di depan kelas setelah di bentak oleh Karma dan Nagisa.
Sementara itu, Sugino yang berada paling dekat dengan arena pertarungan hanya bisa melongo. Ia benar-benar tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu. Tapi, apa? Apa yang bisa dilakukan olehnya? Berpikir, berpikir, berpi– OH, IYA! Tiba-tiba saja, sebuah ide melintas di pikiran Sugino.
Sugino pun berjalan mendatangi si surai biru dan si surai merah, berusaha mencari celah untuk berdiri di antara mereka. Saat sebuah celah sudah didapatkan, Sugino pun menjalankan idenya.
Sugino berdiri diantara Nagisa dan Karma. Kemudian, ia memeluk Nagisa.
Ya, hanya memeluk Nagisa, dan pertarungan tersebut terhenti.
"Sudah.. Jangan bertengkar, ya? Lebih dibicarakan baik-baik. Kalau ada cara yang lebih enak, kenapa harus cari yang susah?" ucap Sugino seraya mengelus rambut Nagisa yang berada dalam dekapannya.
Kemudian terdengar pekikan dari arah murid perempuan. Kapan lagi dapet fanservice gratis kaya gitu, ya kan?
Sementara itu, Karma hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
Isogai mengerjapkan matanya di depan kelas. Barusan itu apaan, ya? Sugino.. jadi belok? Isogai bertanya-tanya dalam hati.
Jadi, Sugino udah mop on ke Nagisa? Isogai menggaruk-garuk pucuk di kepalanya.
Bisa dicoba kali, ya, jadi belok kaya Sugino. Bisa cepet mop on, kan, jadinya.
Ya udahlah, aku jadi belok aja! Isogai menyimpulkan pemikirannya.
Kemudian, Isogai keluar kelas untuk mencari doi yang baru. Berbeda dari yang sebelumnya, ia mencari yang bercelana.
.
.
TBC (?)
Kejadian yang Sugino meluk Nagisa itu berdasarkan kisah nyata XD Di sekolahku emang banyak makhluk humu yang berkeliaran /hush.
Maaf banget kalau garing, dan juga typo-typo yang bertebaran *bow*
.
.
Mind to Review?
