"Cerita hantu, yok! Aku pingin denger cerita yang serem-serem gitu!" usul Maehara tiba-tiba. Semuanya langsung menoleh ke arahnya.

"Hmm.. kayaknya seru, tuh. Ya udah, ayo kita saling berbagi cerita hantu! Daripada gak ngapa-ngapain," Isogai, sebagai ketua kelas yang baik (?), pun memutuskan.

"Eh? Jadi cerita hantu, nih?" mendengar penuturan Isogai sebelumnya, Kayano langsung berdiri dari tempatnya.

"Iya, itu benar, Kayano. Hoo.. jangan-jangan kau takut, ya~?" goda Nakamura. Yang digoda pun wajahnya memerah.

"A-apaan, sih? Hantu itu gak ada! Mana mungkin aku takut!" bantah sang surai hijau cepat.

"Oke-oke. Siapa yang mau cerita hantu?"

"Aku aja!"

"Baiklah, waktu dan tempat dipersilahkan~"

"Ehem, jadi–"


Assassination Classroom – Yuusei Matsui

WARNING : gak ada humornya, horror gak serem, OOC, gaje, typo, bahasa kasar, dll.

.

Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.

.

Saya ingatkan sekali lagi. Di chapter ini dijamin gak ada humornya. Chapter ini merupakan edisi sepesyial (?) cerita hantu.

.

Kehidupan Sehari-hari Warga Kunugigaoka

.

.

Enjoy!

.

.


Bantuan.

Chiba mengelap peluh yang telah menuruni pipinya. Ia diminta oleh Karasuma untuk mengangkat beberapa meja dan kursi yang telah digunakan untuk sebuah kegiatan di luar beberapa saat yang lalu.

"Ya ampun, lelahnya.." keluh Chiba seusai mengangkat sebuah bangku kembali kedalam kelas.

Sebenarnya, tidak hanya Chiba yang dimintai untuk melakukan pekerjaan melelahkan tersebut, Akabane Karma dan Nakamura Rio juga dimintai oleh Senseinya yang keras kepala tersebut. Namun, jangan lupakan bahwa Karma dan Nakamura diduga titisan iblis. Jadilah Chiba yang bekerja sendirian, ditinggal oleh dua sobatnya yang diduga titisan iblis tersebut.

Mata Chiba– yang sebenarnya tidak terlihat karena tertutup poni– melirik ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan sosok yang mungkin dapat membantunya. Namun, ia ingat betul bahwa dialah satu-satunya manusia di gedung tersebut.

Pemuda tersebut menghela napas, pasrah terhadap nasib yang tengah menimpanya. Kemudian, ia berbalik menuju lapangan, hendak melanjutkan pekerjaannya tersebut. Namun, matanya menangkap sosok berkacamata dan poni belah tengah.

"TAKEBAYASHIII!" seperti bertemu malaikat penolong, manik yang tertutup poni tersebut berbinar.

Yang dipanggil menoleh sebagai respon. Kemudian, Takebayashi menghampiri orang yang telah memanggilnya.

"Kamu belum pulang, toh. Sini, gih. Bantu-bantu ngangkat bangku. Tinggal empat bangku aja, kok," Chiba menuntun sobat berkacamatanya tersebut menuju depan kelas. "Yang tiga ada di sini, yang satu lagi masih di luar, tuh. Kamu tolong angkatin bangku yang di sini ke dalem kelas. Aku mau ngambil bangku yang ada di luar dulu." Chiba menepuk-nepuk tiga bangku yang dimaksudnya barusan.

Takebayashi menatap bangku yang ditepuk-tepuk tersebut dan mengangguk mengerti. Kemudian, pemuda di hadapannya segera berlalu menuju lapangan. Samar-samar terdengar Chiba yang berteriak dari kejauhan, "Hati-hati ngangkatnya, ya. Gak usah buru-buru, pelan-pelan aja. Habis ini tak bantu.."

Chiba segera mengangkat bangku yang masih tersisa di luar gedung kelas E, dan membawanya ke dalam gedung.

Namun, alangkah terkejutnya Chiba saat mendapati tiga bangku di depan kelas E tersebut sudah hilang. Ralat, sudah dimasukkan kedalam kelas. Oleh Takebayashi– hanya seorang.

"Eh, sudah dimasukin semua? Cepet amat... Pake kekuatan jin apaan, nih? Jin botol? Hahaha.."

Takebayashi hanya terdiam, tidak menanggapi gurauan Chiba.

Mendapati orang di depannya terdiam, Chiba juga ikut terdiam. Ia menggaruk-garuk poninya.

Karena tak ingin merepotkan lebih banyak, Chiba memutuskan untuk memasukkan bangku yang tengah dibawanya ke dalam kelas.

"Fuh.. akhirnya selesai juga. Makasih sudah– Loh? Kok ngilang?" Chiba menengok ke kanan dan kiri saat menyadari bahwa bocah empat mata tersebut sudah tidak berada pada tempatnya sebelumnya.

Chiba kembali menggaruk-garuk poninya. Ia kebingungan.

"Sudah pulang, ya? Padahal mau kutraktir karena sudah membantu angkat-angkat.." gumam Chiba pada dirinya sendiri.

Tak ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi, Chiba segera meninggalkan gedung bobrok kelas E tersebut. Saat menuruni bukit, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Kok rasanya kayak gimaanaa gitu, ya? Kayak ada yang aneh sama Takebayashi barusan, deh, Chiba berikir dalam hati. Halah, masa bodo. Yang penting angkat-angkatnya sudah selesai. Beres!

Saat berjalan melewati sebuah maid cafe, pemuda dengan poni yang menutupi matanya tersebut menemukan sosok yang dicarinya. Takebayashi. Ia segera menghampiri sosok tersebut.

"Yaelah.. dicariin dari tadi juga, akhirnya ketemu. Kok cepet banget bisa sampai sini? Beneran pakai jin botol, ya? Haha.." Chiba tertawa pelan, tapi Takebayashi justru mengerutkan keningnya. Melihat respon tidak mengenakkan tersebut, Chiba cepat-cepat melanjutkan, "aku mau ngasih kamu traktiran, nih. Kamu, kan, sudah bantu-bantu tadi di kelas, gak ada salahnya, kan berterima kasih?"

Kening Takebayashi makin berkerut. "Eh, Chiba, kepala kamu habis kebentur apaan? Pohon di bukit kelas E? Makanya, hati-hati, dong,"

Yah, dia malah ngomong kaya gitu.

"Ngomong-ngomong, aku bantu-bantu apaan, sih? Seingetku, aku tadi gak ngasih contekan ke kamu waktu ujian IPA, ngapain ngucapin terima kasih? Pakai traktiran-traktiran segala pula," jelas Takebayashi seraya membenahi letak kacamatanya.

Oh, jadi, bandar contekan kelas E itu si Takebayashi? Aku baru tau, Chiba salah fokus.

"Kamu kali yang kepalanya abis kebentur pohon, jadi amnesia gitu."

"Hah?"

"Masa kamu lupa, sih? Tadi, kan, kamu bantu ngangkat bangku di kelas. Belum sehari masa udah lupa? Periksa ke dokter, gih. Udah pikun dini kali," Chiba jadi agak emosi.

"Kamu ngomong apa, sih? Dari pulang sekolah aku ada di sini, di maid cafe. Aku gak bantu-bantu kamu di kelas," Takebayashi menjelaskan.

"Hah?"

"Kamu juga pergi ke dokter THT, gih. Telinga kamu mulai bermasalah, kayaknya. Potong juga tuh poni, ganggu pandangan. Sampai salah ngira orang gitu," Takebayashi menarik-narik poni Chiba.

Hening. Chiba membeku di tempat.

"Heh, Chiba? Napa? Kok wajahmu shock banget?"

"Takebayashi kamu serius? Kamu gak di kelas tadi? Gak bantu ngangkat bangku tadi? Takebayashi, jangan bercanda sekarang. Aku serius."

Pemuda berkacamat tersebut mengerutkan keningnya. "Aku daritadi udah serius, Chiba. Emang siapa bilang aku lagi–"

Chiba menggoncang bahu Takebayashi dengan sedikit kencang. "TERUS, SIAPA YANG BANTUIN AKU TADI? MASA HANTU? GIMANA KALAU AKU DIHANTUIN SAMPAI MATI?!"

"Masa bodo, ah."

"LAH? KOK GITU? TOLONGIN AKU, DOONG! SUMPAH, AKU TAKUT BANGET SEKARANG!"

Mau tak mau, bulu kuduk Takebayashi meremang. Faktanya, ia jugalah penghuni kelas E. Jika memang kelas E berhantu, maka dia juga akan terkena akibatnya.

Jadi, siapa–atau mungkin apa–yang membantu Chiba Ryuunosuke di kelas?

.

.

Tidur.

"Aduh, maak.. capek banget. Pinggangku sakit pula," ucap Nakamura setelah mengangkat beberapa barang dari kelas menuju lapangan.

"Tampangmu udah persis kaya orang tua yang kena encok, haha.." Kurahashi mengejek puas di samping Nakamura.

"Anjir, diem kamu!"

Jadi, hari ini murid kelas E akan mengadakan beberapa perayaan di sekolah. Hanya perayaan kecil-kecilan karena berhasil melewati ujian dan mendapatkan nilai yang cukup memuaskan. Mereka juga akan menginap di gedung kelas E tersebut.

Beberapa murid pun ada yang dimintai untuk mengambil beberapa barang di kelas dan dibawa menuju lapangan. Ya, seperti itulah nasib yang dialami oleh Nakamura Rio dan Kurahashi Hinano.

Beberapa murid lainnya ada yang disuruh untuk mencari kayu bakar di hutan, membersihkan lapangan, mencari bahan makanan, dan lain-lain. Tugas masing-masing anak ditentukan melalui undian. Untungnya (atau sialnya?), Nakamura dan Kurahashi kebagian tugas angkat-angkat.

Dan, beginilah mereka berdua berakhir– tangan mati rasa, kaki capek, dan badan yang sakit semua.

"Hah.. hah.. untung sudah selesai semua, kita jadi bisa istirahat," ucap Kurahashi seraya duduk di samping Nakamura yang sudah ambruk duluan.

"Badanku sakit semua.. rasanya pingin tidur aja," keluh Nakamura. "Eh? Apa aku tidur aja, ya?"

Kurahashi memukul pelan lengan gadis di sampingnya. "Jangan ngawur! Dimarain Koro-sensei kapok kamu."

Nakamura mengangkat bahunya, tidak peduli dengan omongan gadis penyuka serangga si sampingnya. "Tugas kita, kan, sudah selesai. Ngapain sensei marah ke kita?" jawab Nakamura acuh.

Kurahashi menghela nafas sebelum berkata, "ya udah, terserah kamunya. Yang jelas, aku gak ikut-ikut."

Kemudian, gadis tersebut segera beranjak dari istirahat sesaatnya dan berjalan meninggalkan kelas.

Nakamura menatap kepergian temannya tersebut sesaat, sebelum pandangan berubah menuju ke seluruh penjuru kelas. Ia mencari tempat yang nyaman untuk tidur-tiduran. Setelah mengamati sebentar, gasid pirang tersebut memutusakan untuk tidur-tiduran di bagian belakang ruang kelas.

Gadis tersebut memposisikan tubuhnya seperti hendak tidur. Kedua tangannya di silangkan di belakang kepala.

"Hmm.. kelas kalau sepi gini, nyaman juga, ya.." ucap Nakamura kepada dirinya sendiri.

Angin pun berhembus perlahan melewati jendela yang terbuka. Suasana kelas begitu nyaman, membuat siapapun yang berada di dalamnya menjadi mengantuk. Tidak terkecuali untuk Nakamura Rio.

Gadis tersebut menggeliat perlahan, berusaha mencari posisi ternyamannya.

"Tidur sebentar gak papa, kan?" tanya Nakamura dengan mata yang sudah terpejam.

Beberapa saat kemudian, gadis berambut pirang tersebut sudah tertidur pulas.

.

Nakamura Rio terbangun dari tidurnya karena suara cekikikan beberapa cewek. Saat itu, hari sudah gelap. Penerangan di ruang kelas pun tidak dinyalakan– atau mungkin sudah dimatikan.

Sial, tidak ada yang membangunkanku. Aku jadi melewatkan acara perayaannya, rutuk Nakamura dalam hati.

Karena keadaan di luar sudah hening dan lampu kelas sudah dimatikan, Nakamura menarik kesimpulan, bahwa sekarang sudah jamnya tidur.

Suara cekikikan masih saja terdengar. Gadis pirang tersebut jadi geram.

"Eh, kalian yang lagi ketawa-ketiwi! Cepet tidur sana, suara kalian ganggu anak-anak yang lagi tidur!" perintah Nakamura. Kemudian, suasana kelas menjadi hening.

Gadis tersebut segera memejamkan matanya dan kembali menuju dunia mimpinya.

.

Nakamura kembali terbangun saat hari sudah pagi. Mungkin, sekarang sudah pukul 6 pagi.

Ia mengusap matanya berulang kali. Kemudian, ia duduk dengan perlahan– mengumpulkan jiwanya yang masih berserakan.

Manik biru miliknya mengerjap. Ia menyadari sesuatu yang berbeda dengan keadaan kelasnya. Kelas tersebut sudah kosong.

Ya, kosong. Sudah tidak ada orang di dalamnya selain Nakamura sendiri.

Gadis tersebut menggaruk-garuk puncak kepalanya. Aku ditinggal lagi, nih?

Disaat yang bersamaan dengan Nakamura yang sedang sibuk dengan kebingungannya, Okano Hinata memasuki kelas.

"Lho, Nakamura, udah bangun?" tanyanya seraya berjalan mendekati Nakamura.

Gadis yang disebut namanya langsung menoleh. Kemudian ia menjawab, "eh, Okano. Anak-anak pada kemana? Udah pada bangun, malah main tinggal aja."

Okano tertawa pelan, "anak-anak masih banyak yang tidur, kok," jelasnya kemudian.

"Eh?"

"Iya, anak-anak tidur di tenda semua," Okano menunjuk jendela kelas yang mengarah menuju lapangan. Nakamura mengikuti arah yang ditunjuk.

Di lapangan depan gedung kelas E, ada beberapa tenda yang sudah berdiri. Beberapa murid kelas E pun ada yang berlalu-lalang di sekitar tenda-tenda tersebut.

"Lah, anjir. Kalian pindah tidur di tenda malem-malem. Akunya gak dibangunin, dibiarin tidur sendirian di kelas," keluh Nakamura seraya menyilangkan kedua tangannya.

Kening gadis berambut pendek tersebut berkerut. "Hah? Pindah?"

Sang gadis berambut panjang ikut kebingungan. "Iya, kan? Kalian awalnya tidur di kelas, terus pindah tidur di tenda malem-malem."

"Nggak, kok. Kita dari awal emang sudah tidur di tenda, gak tidur di kelas sebelumnya."

Nakamura makin kebingungan. "Lah? Gak usah bohong, Okano. Aku denger sendiri, kok waktu kalian cekikikan malem-malem di kelas."

"Aku gak bohong, Nakamuraaa... dari awal emang cuma kamu yang tidur di kelas.." jelas Okano, tidak terima dikatakan sedang berbohong.

"Loh? Terus yang cekikikan malem-malem itu siapa? Masa hantu? Haha.. jangan nakut-nakutin, deh.."

Okano tidak menjawab. Ia lebih memilih untuk memandangi ruang kelasnya tersebut. Tiba-tiba saja, jendela kelas tertutup dengan sendirinya. Kedua gadis tersebut bergidik ngeri.

Suasana kelas mendadak menjadi agak mencekam.

Okano dan Nakamura pun bertukar pandangan. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.

"Kok tiba-tiba jadi serem gini, yah?"

"Pergi dari sini, yok? Aku takut, nih.."

Kemudian, Okano dan Nakamura balapan lari keluar dari gedung kelas E tersebut.


"–sejak saat itu, aku jadi gak berani ke kelas sendirian," Nakamura selesai bercerita tentang pengalaman seramnya.

"Yah, anjir. Jadi gak berani dateng pagi-pagi lagi, deh," ucap Kataoka.

"Iya, hati-hati ajalah, siapa tahu– eh, Kanzaki sama Hayami, ngapain nengok-nengok pojokan kelas mulu? Ada kecoa?" tanya Nakamura kepada dua gadis yang sedari tadi sibuk menoleh kebelakang– pojokan kelas.

Dua gadis yang ditanyai pun saling bertukar pandangan.

"Aku ngerasa kayak ada yang–" kata-kata Hayami dipotong oleh kata-kata Kanzaki.

"–Memperhatikan kita dari tadi di pojokan kelas." Sambung Kanzaki.

Semua serempak menoleh ke pojokan kelas– yang katanya ada yang memperhatikan mereka dari situ. Entah mengapa, bulu kuduk mereka semua langsung berdiri.

Maehara cepat-cepat berdiri dari tempatnya. Pandangan semuanya beralih menuju Maehara. "Udah, ah. Aku mau pulang! Aku juga pernah denger suara tangisan di kelas! Gedung kelas E memang berhantu!"

Sugino dan Isogai tiba-tiba bersin.

"Ya udah, aku juga pulang!"

"E-eh?! Aku ikut aja, deh!"

"Aku pulang duluan, ya!"

Nagisa celingukan saat melihat teman-temannya pulang. Ia baru ingat bahwa ia belum membereskan barang-barangnya.

"YAH, ANJRIT! JANGAN TINGGALIN AKU!"


Cerita hantu.. tapi gak serem, yha? Maafkan.

Aku tau. Panjang per chapter ff ini labil banget. Aku tau, kok. Aku tau /udah, thor.

.

.

Mind to review?