Assassination Classroom – Yuusei Matsui
WARNING : humor garing, OOC, gaje, typo, bahasa kasar, dll.
.
Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.
.
Kehidupan Sehari-hari Warga Kunugigaoka
.
.
Enjoy!
.
.
Karma.
"Truth or dare! Pokoknya! Pokoknya harus!" Nakamura ngotot. Ia berusaha mempertahankan pendapatnya.
"Gak mau! Pokoknya gak mauuu!" Nagisa menolak pendapat sang gadis pirang secara terang-terangan.
"Kenapa gak mau? ToD an itu asyik, lho~" bujuk Karma dengan seringaian yang lebar.
Kataoka yang duduk berhadapan dengan Karma mengangguk pelan. "Kita sudah lama tidak bermain ToD, Nagisa. Mungkin kali ini bermain truth or dare bukanlah masalah yang besar."
Seluruh murid kelas E kompak mengangguk bersamaan.
Nagisa menarik helain birunya dengan frustasi. "TIDAAAK!"
Tidak memperdulikan teriakan dari lelaki berambut biru tersebut, Isogai segera mengambil sebuah botol kaca– yang entah didapat dari mana– dan meletakkannya di tengah-tengah lingkaran terkutuk murid-murid kelas 3E.
Botol kaca tersebut segera diputar oleh sang ketua kelas. Berputar, berputar, berputar– pada akhirnya botol tersebut berhenti berputar. Mulut botol tersebut menghadap kea rah sang berandalan cilik kelas E.
"Nah, Karma, pilih truth atau dare?" Kataoka bertanya.
Karma tidak langsung menjawab. Yang bersangkutan menengadahkan kepalanya ke atas, terlihat menimbang-nimbang pilihan yang tepat.
"Aku pilih.. mmm.. dare ajalah."
Mendengar jawaban dari si surai merah, Nagisa yang sebelumnya tampak sedikit frustasi pun kini menyeringai lebar. Perasaan Karma jadi tidak enak.
"Beneran pilih dare?" Nagisa memastikan pendengarannya dengan bertanya.
"Ya. Aku memilih dare," Karma menjawab mantap.
Nagisa berbalik dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia sibuk merogoh isi tasnya selama beberapa saat. Seleuruh murid kelas E masih dengan setia menunggu si biru. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Mata Karma menyipit saat memperhatikan benda yang berada dalam genggaman sahabat birunya tersebut. Itu bukannya–
"…cosplay maid, ya?"
Kata-kata Nagisa seolah menusuk jantung Karma hingga tembus kebelakang.
Nagisa bertukar pandangan dengan gadis bersurai pirang yang duduk tak jauh darinya. Sesaat kemudian, keduanya menyeringai bersamaan.
Murid-murid kelas 3E yang lain juga saling menatap satu sama lain. Seolah bisa membaca pikiran yang lain, mereka kompak menyeringai.
Yah, Karma dapat karma lucu kali, yak?
Oh, ini benar-benar sial, rutuk Karma dalam hati.
Lelaki sejati tidak pernah menarik kata-katanya– begitulah pikir Karma. Namun, prinsip tersebut tidak berlaku untuk situasi mendesak seperti yang terjadi sekarang. Bagaimana pun juga, ia harus menolaknya.
"Gak mau!" Karma langsung menolak secara terang-terangan.
Seringaian murid kelas E semakin melebar. Ngisengin orang yang suka iseng memang menimbulkan kesenangan tersendiri.
"Halah, cemen! Masa gitu aja gak mau!"
"Cupu! Penakut!"
"Lelaki sejati tidak pernah menarik kata-katanya." Tunggu, siapa yang mengatakan ini?
"Dasar penakut! Sama tantangan kecil macam gini aja takut!"
"Sama tantangan gini aja takut! Situ cowok? Atau jangan-jangan cewek?"
Berbagai ejekan datang dari berbagai penjuru. Harga diri seorang Akabane Karma benar-benar dipertaruhkan di sini.
Karma berjalan menuju Nagisa. Ia segera mengambil kostum maid dalam gengaman si surai biru.
"HEY! LIHAT! AKU AKAN MELAKSANAKAN DARE DARI KALIAN! PUAS?!" Karma berteriak seraya melambai-lambaikan kostum maid di hadapannya.
Karma baru saja termakan oleh provokasi dari murid kelas E. semuanya lagi-lagi kompak menampakkan seringaian.
Sang lelaki berambut merah berjalan menuju toilet terdekat untuk mengganti seragam sekolahnya dengan seperangkat kostum maid. Selama perjalanan, ia terus saja mengumpat dalam hati.
Berbeda dengan Karma yang terus merutuki kesialannya, murid-murid kelas E yang lainnya justru tengah tertawa penuh kebahagiaan. Kejam, memang.
"Kira-kira, penampilan Karma seperti apa ya dalam kostum maid?" tanya Nagisa pada Nakamura yang sedang duduk di sebelahnya.
"Hmm.. entahlah. Mungkin akan sedikit kontras dengan image berandalannya," jelas Nakamura. "Tapi, itu akan menjadi sesuatu yang menarik, heheh…" lanjutnya.
"Kalau menurutku–" Okajima tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan duduk di hadapan si surai biri dan si surai pirang. "–Karma akan tampak manis dan seksi dalam balutan– UWOOOH!" Okajima tiba-tiba saja berteriak seraya menunjuk sesuatu di pintu kelas.
Semuanya serempak menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Okajima.
Di sana, sudah ada Akabane Karma yang sudah berada di dalam balutan kostum maid seraya tersenyum malu-malu. Semburat kemerahan terlihat jelas di wajah tampannya. Tangannya terus menariki ujung dari gaun yang sedang dikenakannya.
"Eum.. B-bagaimana?" tanya Karma ragu-ragu.
Jujur saja, Karma kena karma memang lucu.
Geng Terasaka mulai bergerak. Kelimanya berjalan mendekati maid jadi-jadian yang sedang berdiri di depan pintu kelas.
"Eneng Karma~~" goda Terasaka.
Yang digosa tidak menjawab. Ia memilih untuk tetap terdiam.
"Kok diem aja, sih? Malu sama kita, ya?" Muramatsu terkikik pelan setelah mengatakannya.
"Diem kamu."
"Kok judes, sih? Sayang banget, kan, kalau cantik-cantik judes." Geng Terasaka tertawa bersamaan, kemudian diikuti tawa dari murid-murid sekelas.
Hancur sudah image Karma sebagai murid berandalan paling mengerikan se-Kunugigaoka dan sekitarnya. Hancur sudah semuanya.
"Ih.. eneng manis banget, sih~"
Memalukan.
"Aduh… imut banget, sih."
Ini benar-benar memalukan.
"Eneng~~ Mau gak, jadi pacar abang?"
SANGAT MEMALUKAN! Aku tidak kuat lagi!
Karma segera menepis tangan teman-temannya yang sedang mencubiti pipinya. Ia juga mendorong tubuh teman-temannya yang menghalangi jalannya. Kemudian, ia segera berlari keluar dari gedung lama Kunugigaoka.
"KARMAAA! MAU KEMANAA?!" terdengar suara sang Ketua Kelas dari dalam kelas 3E. Karma tidak menghiraukan panggilan tersebut. Yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah menjauhi gedung bobrok kelas E beserta makhluk-makhluk yang ada di dalamnya.
Bukit dituruni oleh sang lelaki bersurai merah dengan cepat. Mengenakan gaun sama sekali tidak menghalanginya dalam rintangan menuruni bukit.
Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Tanpa Karma sadari, air matanya sudah mulai meleleh menuruni pipinya. Bodo amat jika ada yang melihatnya menangis seperti cewek. Toh, penampilannya saat ini memang sudah seperti perempuan.
Dipermalukan oleh teman sekelas memang menyakitkan. Mungkin Karma akan tobat setelah ini.
Karena tidak memperhatikan jalan, tanpa sengaja Karma menabrak seseorang. Ia adalah salah satu murid gedung utama. Karma memutuskan untuk terus berlari– membiarkan orang yang ditabraknya terus mengaduh dan mengumpat.
Pada akhirnya, lelaki bermarga Akabane tersebut menemukan sebuah tempat yang sekiranya cukup aman untuk sekedar melepas lelah sesaat– di sebelah vending machine. Tapi, tiba-tiba saja–
"Mau cosplay an dimana, mbak? Hehe."
Karma menoleh patah-patah ke sosok di belakangnya– sosok yang baru saja berbicara padanya.
"ANJIR, ASANO! KOK KAMU ADA DI SINI?!"
.
.
Cinta pada Pandangan Pertama.
Sakakibara Ren, Seo Tomoya, dan Araki Teppei sedang berjalan bersama sepulang sekolah. Mereka memutuskan untuk berjalan bersama menuju stasiun.
"Asano mana?" tanya Seo kepada kedua temannya.
"Gak tau, tiba-tiba hilang begitu saja," jawab Sakakibara ngawur. Seo hanya membalas dengan dengusan pelan.
"Kalau Koyama kemana?" Seo lagi-lagi bertanya kepada kedua temannya.
"Katanya, sih, masih ada urusan sama klub sains." Kali ini Araki yang menjawab.
Ketiganya pun sudah sampai di depan gerbang sekolah. Kemudian, mereka berbelok ke arah kiri dan lanjut berjalan.
"Besok ada pr?" Araki memilih untuk bertanya.
Seo dan Sakakibara menoleh dengan dramatis ke arah Araki. Tatapan mereka seolah mengatakan 'apa-yang-kau-tanyakan-barusan'.
"Masa kamu lupa? Kita, kan, sudah menyelesaikan semua soal SMP sampai SMA di buku paket," jelas Seo kepada Araki.
Sakakibara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kita sudah menyelesaikannya dari 3 bulan yang lalu, kan?"
Yah, murid-murid terbaik di sekolah memang beda.
Masih berjalan bersama, Sakakibara bertanya, "Ngomong-ngomong kalian mau melanjutkan ke mana? Kelulusan– Aduh!" Kata-katanya terputus karena ada seseorang yang baru saja menabrak Sakakibara hingga jatuh terduduk.
Kedua lelaki yang berada di TKP pun segera menolong sang korban tabrak lari.
"Kurang ajar! Sudah gak nolong, masih gak minta maaf pula! Kamu gak apa-apa… Sakakibara?" kedua lelaki tersebut kebingungan melihat teman berambut mohawknya tersebut.
"Cantiknya…" gumam sang pujangga Kunugigaoka pelan.
Araki dan Seo saling melirik. Barusan di bergumam apa?
Tiba-tiba saja, Sakakibara sudah berdiri dari tempatnya dan berlari untuk mengejar pujaan hati bermabut merah yang baru saja menabraknya.
Cinta pada pandangan pertama– begitulah orang-orang mengatakannya.
"OOIII! KANZAKINYA DIKEMANAIN, WOIII!" terdengar teriakan kedua sobatnya dari kejauhan. Namun, Sakakibara memilih untuk tidak memperdulikannya dan melanjutkan pengejarannya.
Namanya juga Sakakibara Ren. Sekali-kali mendekati cewek lain bukan hal yang aneh, bukan?
Aneh? gak. Kurang ajar? iya.
Sakakibara berbelok ke jalan yang sama seperti pujaan hatinya berbelok sebelumnya. Alangkah kagetnya sang pujangga Kunugigaoka saat melihat pemandangan setelah belokan tersebut.
Ketua OSIS Kunugigaoka– Asano Gakushuu– bersama dengan pujaan hati Sakakibara– gadis berambut merah yang sempat menabraknya tadi.
Sakakibara kalah start rupanya. Jika sudah bersaing dengan ketua OSIS terhormatnya, sudah jelas jika Sakakibara sendirilah yang akan kalah.
"Kurasa, 'Akabane dari Kelas E Ternyata Ingin Menjadi Transgender' akan menjadi headline utama majalah sekolah bulan ini."
"TIDAK, ASANO! HENTIKAAAN!"
Ada apa ini? Perilaku tidak senonoh dari ketua OSIS Kunugigaoka terhadap gadis cantik dibawah umur? Sakakibara bertanya-tanya dalam hati. Ia gagal paham dengan situasi yang terpampang di hadapannya.
Tunggu– Akabane?
Sakakibara sangat yakin bahwa ia pernah mendengar nama itu. Tapi dimana? Akabane, Akabane, Akabane, Aka– Ia mengingatnya!
"Kamu Akabane Karma dari kelas 3E?!" Sakakibara bertanya setengah berteriak.
"Eh? Iya."
"KOK CANTIK BANGET?!"
Loh?
.
.
.
TBC (?)
Males banget mikir deskripsinya, jadinya sangat ancur gini :"(
Garing, typo, eyd gaje, dll mohon dimaafkan, yha? ;)
Niatnya mau sampai ch. 15, tapi karena beberapa alasana (gak) penting, ff ini akan sampai 10 chapter. Jadi, chapter depan adalah chapter terakhir! YEAY! /apalah
.
.
Mind to Review?
