Half Demon
Disclameir : Naruto bukan milik saya tapi punya om-om keche berinisia MK.. ^^v
Pairing : SasuNaru.
Genre : romance/supranatural.
a/n : setengah bagian ff ini umur para cast masih sama namun untuk beberapa scene selanjutnya udah berubah kok..
Warning : BL, ga jelas, kalau ada typo tolong di maklum author ngetiknya setengah molor (kadang2), ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya, buat yang ga suka ama cerita saya di harapkan jangan memaksakan diri untuk membaca silahkan Klik back.
Bag 2.
Bocah berambut pirang itu sedang duduk di sisi kolam dengan kedua kaki yang ia sengaja ia celupkan kedalam kolam renang di belakang rumahnya. Namikaze sulung itu memang banyak berubah, ia jadi cenderung pendiam dan jarang berkomunikasi dengan kedua orangtuanya dan juga sang adik, Deidara.
Penyakitnya memang sudah sembuh secara ajaib, Naruto bahkan sudah diijinkan oleh Kushina untuk jalan-jalan keluar jika ia mau, namun sayang seribu sayang Naruto memang bukan Naruto yang dulu lagi yang akan berbinar senang jika di perbolehkan melihat dunia luar, ia kini menjadi Naruto yang kaku dan jarang berekspresi.
''Disini kau rupanya.'' Sapa sebuah suara yang baru di dengar oleh si pirang, ia menoleh lalu di lihatnya sosok bocah seusia adiknya kini berdiri disampingnya lalu ia pun meniru cara Naruto duduk.
''Siapa?" tanya Naruto datar, ia bergeser beberapa senti dari posisinya semula.
''Jangan takut, perkenalkan aku Uchiha Sasuke. Teman sekelas adikmu.'' Jelas Sasuke, tangan putih itu terulur pada sipirang yang langsung di hadiahi kerutan di dahi berwarna tan itu.
Naruto sedikit ragu namun akhirnya menjabat tangan kecil di depannya, "Naruto.'' Ucapnya pelan sangat pelan hingga Sasuke tak bisa membedakan apakah itu ucapan atau desisan.
''Nah, mulai sekarang kau tidak boleh takut lagi padaku, karena aku akan selalu menemuimu setiap hari kau mengerti.'' Naruto bingung harus menjawab apa pada bocah di depannya namun sepertinya tak salah jika mencoba toh selama ini dia jarang memiliki teman.
''Ya.'' Satu kalimat namun sukses membuat Sasuke berbinar, dewa batinnya bersorak gembira.
.
"Naru darimana saja?" tanya Minato begitu melihat Naruto masuk kedalam rumah, sejak mendengar cerita sang anak ia memang jadi berubah lebih protektive pada anak sulungnya, jika Naruto sudah dimana atau akan kemana ia pasti akan selalu menanyakannya lalu akan menuntun sang anak ketempat tujuannya, Minato selalu memperlakukan Naruto bagai benda yang mudah pecah jika tersenggol.
''Dari luar, bertemu teman baru.'' Jawab Naruto dengan nada bicara rendah.
''Teman baru? Siapa dia?"
''Sasuke.'' Minato menghela nafas lega, ia memang sudah sangat mengenal bocah Uchiha itu jadi ia tak perlu merasa khawatir.
"Ingat Naru, jangan terlalu sering berada diluar kau harus ingat siapa dirimu sekarang.''
''Huum, dimengerti.'' Jawabnya.
''Tousan hanya tak ingin siapapun menyakitimu dengan kondisimu yang sekarang ini.'' Tukas Minato lalu memeluk anak pertamanya, Minato selama ini selalu menganggap dirinya ayah yang gagal, apa yang di alami oleh Naruto merupakan pukulan berat baginya, untuk itulah ia ingin merubah semuanya dengan memilih untuk tak terlalu sibuk dalam pekerjaannya.
Ia akan pulang lebih awal dan akan membawa pekerjaanya kerumah jika memang ia harus kerja ekstra, ia tak ingin karena terlalu sibuk bekerja hal yang sama akan terulang kembali.
''Tou-chan aku ingin kekamar.'' Ucap Naruto. Minato mengangguk lalu menuntun sang anak menuju kamarnya.
.
"Aniki.'' Panggil Deidara yang sudah masuk kedalam kamarnya, Naruto yang seperti biasa berdiri di di dekat jendela menoleh padanya.
''Ada surat untukmu.'' Sambungnya seraya menyodorkan amplop biru tua padanya.
Naruto mengambilnya lalu membuka amplop itu di keluarkannya sebuah kertas berwarna sama dengan amplopnya itu lalu membaca isinya, beruntung ia menjalani home schooling jadi ia tak kesulitan saat membaca sederetan hurup-hurup dalam kertas itu.
Hari minggu nanti aku akan mengajakmu bermain ketaman hiburan, bersiap-siaplah dengan pakaian terbaikmu. –Sasuke
"Cieee, ada yang mengajak kencan.'' Goda Deidara seraya menyenggol lengan atas Naruto dengan sikutnya lalu menumpukannya di bahu anikinya, Naruto menoleh sekilas pada adiknya lalu kembali membaca surat di tangannya, jika di cerna dengan baik memang kalimat dalam surat itu mengandung unsur ajakan kencan.
''Aku baru mengenalnya.'' Sahut Naruto pelan.
''Kau mungkin baru mengenalnya aniki, tapi asal kau tahu Sasuke itu sangat populer loh walau usianya masih anak-anak. Kau adalah orang yang beruntung bisa di ajak main olehnya.'' Papar Deidara.
''huumm.'' Gumam Naruto seolah mengerti apa maksud ucapan sang adik.
''Yosh, untuk soal penampilan serahkan padaku.'' Deidara membusungkan dadanya dengan bangga.
''Aku ingin memakai kimono orange.'' Background blink-blink di belakang Deidara langsung retak dan punah seketika begitu mendengar penuturan sang kakak.
''Hei, orang-orang akan melihatmu dengan aneh jika kau pergi dengan memakai kimono." Tukas Deidara.
''Aku tak akan pergi kalau begitu.''
"Eitzss, tunggu, tunggu, tunggu. Oke, oke. Jika aniki memang ingin memakai kimono, tapi aku yang pilihkan bagaimana?"
Naruto terlihat berpikir lalu ia pun mengangguk, Deidara kembali sumringah dengan semangat ia membongkar lemari milik Naruto lalu mengeluarkan isinya dimana kini lemari itu lebih di dominasi dengan kimono.
.
Hari yang di tunggu telah tiba Sasuke sudah tiba dengan gaya yang menurutnya keren di rumah Naruto menunggu sosok pirang itu datang menghampirinya. Deidara menuntun Naruto dari atas tangga dengan pose mirip pengantar mempelai pengantin yang akan menyerahkan calonnya.
"Lihat Sasuke sangat kerenkan.'' Bisik Deidara, Naruto hanya diam memperhatikannya, bocah raven itu memang sangat tampan walau usianya terbilang masih anak-anak.
''Sudah siap rupanya.'' Ucap Sasuke begitu melihat sipirang sudah berjalan mendekat padanya.
Bocah raven itu meraih tangan Naruto lalu membawanya keluar rumah setelah sebelumnya berpamitan pada kedua orangtua Naruto dan Deidara.
.
Tiba di taman hiburan Sasuke langsung menarik Naruto menuju berbagai wahana yang menurutnya menarik disana.
''Kau menyukainya?" tanya Sasuke begitu selesai menaiki semua wahana, kini keduanya beristirahat di sebuah kedai.
Naruto mengangguk walau wajahnya terlihat biasa saja namun dalam hatinya ia sangat merasa senang karena jujur ini adalah pertama kalinya ia pergi ketaman hiburan yang memang dulu sangat di impikannya.
''Jika kau ingin pergi kesini lagi, kau hanya perlu berkata padaku karena aku pasti akan mengajakmu.'' Ucapnya, Naruto tertegun seraya menatap lekat wajah bocah seusia adiknya itu.
''Bolehkah?"
''Tentu saja.'' Jawabnya penuh keseriusan, ''Malam ini maukah kau menginap dirumahku?"
''Tapi…''
''Jangan khawatir, aku sudah meminta ijin pada Minato-san dan juga Kushina-san. " dan Naruto sepertinya tak punya pilihan lain selain mengiyakan tawaran si raven.
.
Rumah mewah dengan lambang kipas di puntu gerbangnya itu tampak terlihat suram jika dari luar, Naruto dengan langkah sedikit kaku memasuki halaman rumah tersebut, pintu rumah itu sudah terbuka tanpa di perintah karena para maid yang bekerja di rumah itu dengan sigap membukanya begitu melihat sang majikan akan masuk kedalamnya.
Para maid itu memberi hormat padanya dan juga Naruto, ''Ano.. apa dirumah ini hanya ada kau?" tanya Naruto saat sadar jika di rumah Sasuke ia hanya melihat maid dan juga butler yang berseliweran mengerjakan tugas masing-masing.
''Mereka sibuk di luar kota dan aku hanya tinggal disini sendirian.'' Jawab Sasuke dengan nada lirih.
''Lalu saudaramu?'
''Aniki bersekolah di luar negri dan tinggal bersama paman dan bibiku yang kebetulan berada disana.''
''Kau pasti sangat kesepian.''
''Yah, tapi sekarang ada kau jadi aku tak merasa kesepian lagi.'' Ucapnya.
Sasuke menarik tangan Naruto lalu membawanya kelantai dua dimana kamar bocah raven itu berada.
.
Usai makan malam dua bocah berbeda warna rambut itu kembali kekamar milik sang Uchiha bungsu, Sasuke sudah berganti baji sedangkan Naruto ia tak mau mengganti pakaiannya jika bukan kimono yang di pakainya.
''Ayo ganti bajumu Naru-nii.'' Naruto bergeming seraya menatap piyama dan pemiliknya bergantian lalu ia pun kembali menggeleng seperti sesaat yang lalu.
"Jika kau tak mengganti bajumu memangnya kau mau memakai baju itu lagi esok.'' Dengan pertimbangan yang memakan waktu sangat lama akhirnya Naruto terbujuk juga.
''Aku tak merasa nyaman memakai ini.'' Gumamnya.
''Benarkah? Tapi kau terlihat sangat manis saat mengenakannya.'' Naruto merona mendengarnya, walau terlihat samar namun Sasuke masih bisa menangkapnya, dan ia pun tersenyum dalam hati.
"Ayo kita tidur.'' Ajaknya lalu naik keatas kasur, keduanya tidur dalam posisi terlungkup dengan wajah saling berhadapan, menatap lekat bola mata masing-masing.
Sasuke mengulurkan tanganya lalu mengelus pipi bergaris kumis kucing itu, ia tersenyum samar.
''Naru-nii, jika sudah besar nanti menikahlah denganku.''
''Kenapa kau ingin menikah denganku?"
''Entahlah, kata kaa-chan jika aku ingin hidup bersama dengan seseorang berarti aku harus menikah dengan orang itu.'' Tak ada tanggapan dari si pirang ia hanya sibuk menatap obyek yang kini juga masih menatapnya dengan tangan yang masih setia mengelus pipinya.
Hubungan keduanya semakin akrab dari hari ke hari Sasuke bahkan hampir setiap hari kerumah Naruto dengan embel-embel belajar bersama atau memang karena ia ingin dan berujung dengan mengajak sipirang ke berbagai tempat, Kushina dan Minato tentu tak melarangnya, mereka sudah mengenal baik Sasuke sejak dulu karena keluarga Uchiha dan Namikaze pernah menjalin hubungan kerjasama dalam bidang bisnis.
Minggu ketiga sejak keakraban Naruto dan Sasuke terjalin, keluarga Namikaze hendak pergi berlibur salah satu yang menjadi tujuannya adalah kota Oto, karena kota itu memiliki daerah pariwisata yang menakjubkan salah satunya adalah pantai dengan pasir putih dan juga batu karang berbentuk bulan sabit yang berada hampir di tepi pantai.
Keluarga Namikaze hendak masuk kedalam sebuah gedung aquarium raksasa yang terkenal di Oto setelah membayar biasa masuk keluarga Namikaze pun lalu berjalan menuju pintu masuk gedung, saat akan mencapai pintu mereka berpapasan dengandua orang pria, yang satu berambut hitam panjang dengan mata mirip hewan melata yang kita kenal dengan nama ular sedangkan yang satunya lagi ia berambut perak di ikat rendah berkaca mata bulat.
Pria berambut hitam itu berhenti sejenak tepat saat Naruto melewatinya, ''Khekhekhe, setengah siluman, eh?" kekehnya lalu meneruskan kembali langkahnya.
Minato tentulah mendengar apa yang di ucapkan pria ular itu, ia berbalik dengan wajah penuh emosi dan hendak melayang sebuah pukulan padanya, namun niatannya terurung kala tangan halus milik sang istri menghentikan aksinya.
''Jangan bertindak gegabah Minato-kun, ini demi keselamatan Naruto. Aku yakin pria itu bukan orang sembarangan.'' Cegah Kushina seraya mengingatkan.
Minato menghela nafasnya lalu kembali menetralkan emosinya yang sempat meluap, ya bagaimanapun juga ia harus bersikap tenang karena jika ia bertindak seperti tadi maka ia akan mengundang seluruh orang untuk mengetahui jatidiri sang anak.
''Kau benar, aku tak harus meladeni pria ular itu.'' Tandasnya ia menarik tangan Naruto lalu merapatkan dirinya dengan sang anak bermaksud menjaganya dari hal-hal yang tak diinginkan.
Pria berambut hitam bermata ular itu masih menampilkan seringai jahat hal itu pun tak luput dari penglihatan asisten berambut peraknya.
''Orochimaru-sama, apa maksud anda mengatakan jika bocah itu…''
''Khukhukhu, kau benar Kabuto. Dia adalah setengah siluman dan aku mencium darah siluman yang sangat kental mengalir ditubuhnya.'' Jawab pria bernama Orochimaru pada asistennya yang bernama lengkap Yakushi Kabuto itu.
''Benarkah, tapi kenapa saya tak merasakannya.'' Ucapnya bingung padahal ia adalah asisten dari Orochimaru.
''Tentu kau takan bisa merasakannya Kabuto, karena dia setengah siluman yang spesial.''
''Maksud anda?"
''Dia memiliki kekuatan rubah ekor sembilan yang konon bisa memberimu kekuatan yang luarbiasa serta mampu bertahan sampai ribuan tahun.'' Jelas Orochimaru masih dengan seringai ularnya.
Kabuto mendengar nada yang sangat antusias dari orang yang di abdinya selama hidupnya tentulah ia sangat tertarik dan juga penasaran.
''Lalu apa rencana anda Orochimaru sama?"
''Purnama kesembilan, saat purnama kesembilan sudah terlihat sempurna. Kekuatan rubah ekor sembilan akan melemah dia pasti memerlukan waktu untuk menyempurnakan kekuatannya konon dari yang aku dengar siluman itu selalu meminta tumbal anak berumur 9 tahun, dan pada saat itulah kita akan melaksanakan rencana kita.'' Ungkap Orochimaru diiringi desisan yang mirip seekor ular.
"Jadi kita akan menangkap anak itu saat purnama kesembilan? Dan itu artinya…"
''Sembilan tahun lagi, karena upacara penumbalan sudah terlewat beberapa minggu yang lalu itu artinya kita masih harus menunggu sembilan tahun lagi.'' Jelas Orochimaru.
.
Setelah puas berkeliling melihat-lihat aquarium dengan berbagai jenis ikan yang di pelihara disana keluarga Namikaze pun mampir kekedai bertuliskan ramen Ichiraku yang awalnya memang berada di Konoha namun membuka cabang juga di Otto.
''Naru ingin makan ramen?'' tanya Kushina karena sedari tadi anak sulungnya tak memesan apapun disaat yang lainnya sudah memesan menu pilihan masing-masing.
Naruto mengangguk lalu ia pun menunjuk gambar mangkuk berisi ramen yang bertuliskan ramen miso, sang ibu pun langsung memesankan satu mangkuk ramen sesuai pesanannya.
''Aniki, tadi saat melewati pasar Otto aku melihat ada kimono yang sangat bagus loh.'' Mendengar kata 'kimono' Naruto langsung terlihat antusias.
''Benarkah?" tanya Naruto takut adiknya hanya bercanda saja.
''Setelah ini aku akan mengantarmu kesana, bagaimana?" Naruto terlihat berpikir lalu ia pun mengiyakannya saja toh ia memang sedang ingin mengoleksi kimono walaupun orang-orang selalu melihatnya dengan pandangan aneh seolah ia adalah orang yang terlempar dari masalalu.
Tiba di sebuah toko dengan berbagai kimono terpajang disana, Naruto di seret oleh adiknya untuk memilah beberapa kimono yang menurutnya sangat bagus dan cocok di pakai olehnya dan Naruto pun terpukau melihat sebuah kimono orange dengan motip api yang persis seperti yang di pakai oleh Kyuubi kala itu, dan Naruto memutuskan untuk membelinya.
Setibanya kembali keluarga Namikaze ke Konoha, Minato sang kepala keluarga kembali di kejutkan dengan orang-orang berpakaian kimono, semuanya tak memiliki rambut dan ia tahu jika mereka adalah para biksu yang bertugas mengusir sesuatu yang mistis dan berenergi negatif.
''Ada keperluan apa kalian kerumah saya?" tanya Minato dengan raut wajah tak suka, ia tahu tujuan para biksu itu datang kerumahnya namun sebisa mungkin ia harus tetap tenang semua ini demi keselmatan putra sulungnya.
''Kami sempat mendengar rumor jika anak anda telah menjadi tumbal rubah ekor sembilan, apa itu benar?" tanya salah satu dari biksu itu.
''Tidak, kau lihat aku hanya memiliki dua orang anak dan keduanya masih bersama kami (maksudnya ia dan Kushina).''
''Tapi menurut informasi yang kami dengar…''
''Tak ada siapapun disini yang menjadi korban, anakku keduanya baik-baik saja!" hardik Minato, hilang sudah kesan wibawanya jika sudah menyangkut keluarganya terutama anak-anaknya, ia bertekad akan melakukan apapun untuk melindungi keluarganya.
''Mohon anda tenang Namikaze-sama, tapi kami hanya ingin memastikan sesuatu. Saat ini rumah anda telah di selimuti aura negatif dan kami hanya ingin mengusir…''
''Rumah kami aman-aman saja, sebaiknya kalian kembali kekuil dan jangan pernah berpikir untuk bisa datang lagi kemari. Di rumah kami tidak ada apa-apa!"
''Minato tenanglah. Maaf sebelumnya tapi kami baru saja kembali bepergian jadi mohon maaf jika suamiku bersikap kurang sopan.'' Jelas Kushina, ia mencoba menetralkan kembali suasana yang sempat memanas karena tindakan suaminya.
''Kami mengerti, maaf jika sudah membuat kepala keluarga di rumah ini menjadi emosi karena kami.'' Ucap salah satu biksu itu namun bola matanya memicing saat melihat Naruto yang ternyata juga sedang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
Minato seketika langsung merapatkan tubuh Naruto, memalingkan wajah sang anak agar tak terlihat oleh para biksu di depannya.
''Pergilah, kami butuh beristirahat.'' Tegas sang kepala keluarga, ia lalu masuk kedalam rumahnya tanpa menghiraukan para biksu yang masih bergeming di depan pintu rumahnya.
''Namikaze –sama kami hanya ingin memastikan sesuatu, kami harap…''
''PERGI!" lagi-lagi ucapan biksu itu terpotong oleh bentakan Minato yang lagi-lagi tak kuasa mengendalikan emosinya, di tariknya tangan Kushina dan juga Deidara yang masih berada diluar lalu menutup pintu rumahnya dengan keras.
''Minato tenanglah.''
''Aku tidak bisa merasa tenang Kushina jika mereka terus memantau rumah kita.'' Minato jatuh terduduk dengan lemas memikirkan nasib anak sulungnya untuk hari kedepannya, ia merasa takut jika para biksu itu tahu kebenaran tentang anaknya.
''Jangan khawatir, asal kita bisa melindunginya mereka pasti tak akan pernah tahu.''
''Benar aku juga akan melindungi aniki.'' Timpal Deidara yang sedari tadi hanya diam, agaknya ia mengerti apa maksud dari ucapan kedua orangtuanya.
''Apa mereka sudah pergi?" tanya Minato.
''Biar aku lihat,'' Deidara mengintip dari lubang kunci, ''Mereka sudah tak ada.'' Ucapnya dengan tubuh yang kembali menegak.
Minato dan Kushina menghela nafas lega, namun kekhawatiran masih terlihat dengan jelas di wajah Minato.
'Kuharap mereka tak usah kembali lagi kemari.' Batinnya.
.
Waktu terus berganti hingga berganti tahun, tak terasa kini Sasuke tengah masuk tahun ketiga di SMP konoha dan memang sudah menjadi takdir jika ia pun satu sekolah bahkan sekelas dengan Deidara.
Dan selama itu pula ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama si pirang dari mengajaknya ketempat-tempat yang menarik hingga sesekali meminta si pirang menginap dirumahnya, dan memasuki usia ke 15 nya Sasuke Uchiha putra bungsu dari Fugaku mulai mengalami yang namanya masa peremajaannya, dimana yang namanya rasa cinta mulai tumbuh bagai bibit tanaman yang setiap hari selalu di rawat pemiliknya.
Enam tahun mengenal si pirang tentulah bukan waktu sebentar dan ia sering mersakan getaran-getaran dalam dadanya semakin bergejolak seiring berjalannya waktu, mungkin saat masih kecil ia tak begitu paham akan arti dari perasaanya itu namun setelah ia paham akhirnya ia sadar jika ia mencintai pemuda pirang itu.
Namikaze Naruto , ah~ bahkan menyebut namanya dalam hati saja sudah membuat siraven buru-buru ingin pulang kerumahnya lalu berganti pakaian sekeren mungkin agar ia bisa segera menemui si pirang yang kini menjadi pujaan hatinya dan ia bertekat akan menyatakan perasaannya agar si pirang tak di curi hatinya oleh orang lain.
.
Tok tok tok
Bunyi pintu di kediaman Namikaze di ketuk, Kushina yang kebetulan mendengarnya buru-buru membuka pintu.
''Eh Sasuke-kun, mari silahkan masuk.'' Kushina mempersilahkan tamu yang menurutnya spesial itu untuk masuk kedalam rumahnya dan tanpa sungkan Sasuke pun masuk lalu duduk di ruang tamu.
''Naru…"
''Naruto sedang pergi bersama tou-sannya jadi tunggu sebentar ne Sasuke-kun.'' Jelas Kushina.
Sasuke merengut, ia agak kecewa saat tahu jika Naruto tidak ada dirumahnya padahal ia akan mengajak si pirang pergi kesuatu tempat yang menyenangkan.
"Tenang saja Sasuke pacarmu itu tak akan lari kemana-mana kok." Ucap Deidara yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya dengan senyum menggodanya.
"Ck, urusai.'' Sembur Sasuke yang tak suka di goda oleh calon adik iparnya itu, oops.
''Are~, panjang umur. Baru saja tadi kami membicarakanmu aniki.'' Sasuke sontak menoleh namun bukan Naruto yang ia lihat melainkan senyum menggoda namun terlihat mengerikan di wajah teman yang entah kenapa selalu satu sekolah dan juga sekelas dengannya itu.
''Kau…"
''Eh, ada Sasuke-kun?" Sasuke langsung menoleh kearah sumber suara yang menyapanya, dilihatnya Minato dan juga Naruto yang sepertinya baru masuk kedalam rumah.
''Minato-san, bolehkah saya mengajak Naru-nii jalan-jalan?" pinta Sasuke langsung, Minato memasang ekspresi kaget seklias namun kembali biasa.
''Boleh saja, tapi jangan pulang larut malam ne.''
''Baiklah kalau begitu, ayo.'' Sasuke menarik pelan tangan Naruto, ''Kami pergi dulu.'' Pamitnya.
''Sasuke jangan kau apa-apakan anikiku ya~." Teriak Deidara dengan suara di buat-buat, sedangkan Naruto kedua wajahnya langsung merona hebat.
''Kita akan pergi kemana, Suke?" tanya Naruto.
''Pokoknya ketempat yang menyenangkan, nah silahkan masuk.'' Sasuke membuka pintu mobilnya lalu ia pun menyusul masuk, walau masih menggunakan jasa supir namun ia merasa senang bisa membawa pujaan hatinya kemanapun ia pergi.
.
.
Sasuke menggengam kedua tangan Naruto seraya bersimpuh ala pangeran yang akan meminang sang putri atau gadis yang di sukainya.
''Naru, entah darimana aku harus memulai tapi intinya aku mencintaimu, maukah kau menjadi kekasihku?'' di sebuah tempat di samping sebuah air terjun yang berjatuhan Sasuke mulai menyatakan perasaannya, ia bahkan memanggil Naruto tanpa embel-embel 'nii' seperti biasanya, ah jika diingat Sasuke memanggilnya 'nii' jika di depan keluarga Naruto saja, ck ck.
''Aku tidak tahu.'' Jawab Naruto yang mengundang raut kecewa di wajah Sasuke.
''Kenapa? Apa kau tak menyukaiku?"
"Entahlah tapi aku tak mengerti cinta itu seperti apa.'' Jelasnya yang membuat Sasuke menganga.
''Jika begitu bagaimana jika aku yang mengajarimu apa arti dari cinta itu.''
''Bisakah?"
''Tentu saja, nah untuk itu kau harus menerima cintaku terlebih dahulu.'' Tegas Sasuke yang entah kenapa terdengar seperti sebuah keharusan yang tak bisa di bantah atau di tolak.
''Uhmm, baiklah akan kucoba.'' Jawab Naruto pemuda raven yang masih bersimpuh itu lalu berdiri tegak dan langsung memeluknya.
''Arigatou.'' Ucapnya, kedua mata berbeda warna itu saling menatap lurus satu sama lain, dan Naruto baru menyadari jika tinggi mereka setara padahal dulu Naruto sangat yakin jika tinggi Sasuke hanya sebatas lehernya saja, apa pertumbuhan Sasuke yang terlalu pesat atau dirinya yang memang lambat untuk tumbuh.
Sasuke mulai mendekatkan bibirnya menyatukannya dengan bibir kekasihnya, di lumatnya bibir yang sudah lama sangat diinginkannya untuk di cium.
''Naruto, jika aku sudah lulus sekolah nanti, maukah kau menikah denganku?" tanya Sasuke setelah mengakhiri ciumannya.
Naruto merasa déjà vu dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir si raven, ''Aku…''
Tbc
Mohon maaf jika ini yang seharusnya menjadi part terakhir tapi malah tbc T^T, saya kehilangan mood menulis lebih dari ini,, mohon maaf, mohon maaf #bungkuk2.
balasan review guest
nitha tuh nitha : hahaha gomawo ne udah bilang bagus, moga di bag ini g berubah kadarnya ye, maklum saya kadang konslet klo lagi ngetik.
onyx sky : ini udh di lanjut.
anie chan : pertanyaannya udah kejawab kok di bag ini.
aoi shizuka : err di bag ini udh kejawab ye... XD
retno elf : ini udh lanjut makasih udh review yaaa...
yang login udh author bales lewat PM ye...
