Half Demon

Disclameir : Naruto bukan milik saya tapi punya om-om keche berinisia MK.. ^^v

Pairing : SasuNaru.

Genre : romance/supranatural.

Warning : BL, ga jelas, alur di percepat biar pas #dilemparpiso, kalau ada typo tolong di maklum author ngetiknya setengah molor (kadang2), ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya, buat yang ga suka ama cerita saya di harapkan jangan memaksakan diri untuk membaca silahkan Klik back.

Bag 3 A semi ending.

Beberapa menit telah berlalu kedua pemuda yang sudah resmi menjadi sepasang kekasih itu saat ini masih berdiam diri atau lebih tepatnya hanya si pemuda emo bermata onyx yang masih setia menunggu jawaban dari sosok pirang di depannya.

''A-aku… tidak tahu.'' Hanya itu yang terucap dibibir tipis sewarna cerry milik Naruto, si pirang sungguh bingung untuk jawaban yang satu itu, baginya pernikahan bukan sesuatu yang harus di jalani secara terburu-buru, seingatnya kedua orangtuanya ketika bercerita tentang pernikahan mereka sempat berkata jika kita menikah dengan pasangan kita maka keduanya harus benar-benar memiliki pemikiran yang matang karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan merupakan ikatan yang suci.

''Kenapa kau hanya menjawab seperti itu? Kau jangan merasa cemas tentang segala sesuatunya karena aku yang akan menjaminnya, Naru.'' Ujar Sasuke, raut wajahnya mengeras karena kecewa dengan jawaban yang di terimanya.

''Bukan masalah jaminan Sasuke, aku hanya berpikir apa pernikahan itu memang begitu penting bagimu, lalu apa yang menjadi alasanmu ingin menikahiku di usiamu yang bahkan masih muda saat lulus nanti?" tanya Naruto, pemuda itu terlihat tenang walau sempat di tekan oleh ucapan Sasuke.

''Alasanku terlalu banyak, salah satunya karena aku ingin memilikimu.''

Naruto tak berkutik dari kalimat telak yang terucap dibibir Sasuke, pemuda emo itu terlihat tak main-main dengan ucapannya barusan.

''Terserah padamu,'' ucap Naruto pada akhirnya.

Sasuke berbinar senang dengan gerakan spontan ia menghambur memeluk calon pengantinnya kelak.

''Tapi kau pun tak mungkin hanya berkata padaku sajakan? Kau pun harus memintaku pada kedua orangtuaku dan juga adikku.'' Suasana sekitar tampak berubah sunyi begitu juga dengan apa yang di rasakan Sasuke saat ini, ibaratkan kau sedang terbang tinggi lalu tiba-tiba kau terjatuh dan merasa sakit.

Sasuke memang belum berpikir tentang hal itu, ia hanya memikirkan jawaban dari Naruto saja tanpa memikirkan jawaban calon mertua dan juga calon ehemadikehem iparnya, walau sebenarnya ia sangat yakin jika Deidara akan menerimanya.

''Tentu saja hal itu akan kulakukan juga saat aku sudah lulus, aku akan melamarmu di depan kedua orangtuamu dan juga Dei.'' Sasuke berkata mantap dan Naruto sudah kehabisan kalimat untuk mengelak ucapan kekasihnya.

.

.

Naruto pulang kerumahnya setelah di antar oleh Sasuke, ia pun berjalan perlahan menuju kamarnya saat melewati kamar kedua orangtuanya samar-samar ia mendengar percakapan kedua orangtuanya, di dorong rasa penasaran ia pun mencuri dengar percakapan mereka.

''Tak ada pilihan lain lagi Kushina, kita harus segera pindah dari rumah ini ketempat jauh dari jangkauan mereka, ini demi keselamatan Naruto.''

Naruto terkejut mendengar ucapan Minato di balik pintu kamar kedua orangtuanya, jika ia dan keluarganya pindah itu artinya ia tak akan bertemu dengan Sasuke lagi.

''Tapi apa tidak di pikirkan secara matang-matang dulu Minato-kun?"

''Tidak, keputusanku sudah bulat, kita harus segera pindah jika perlu secepatnya.'' Ucapnya dengan nada mutlak.

Tak ada sahutan dari Kushina dan Naruto merasa yakin jika sang ibu tak mampu membantah ucapan sang ayah.

Ceklek

Pintu kamar kedua orangtua Naruto terbuka, baik Minato dan juga Kushina sama-sama terkejut begitu melihat Naruto berdiri mematung di depan pintu kamar mereka.

''Naru, kau sudah pulang?" tanya Kushina dengan suara yang sedikit kaku.

''Tou-san, Kaasan, aku… tidak ingin pindah.'' Naruto berujar lirih.

Wajah Minato berubah sendu, ''Maaf Naru, tapi ini semua sudah di putuskan, kita akan tetap pindah.''

''Kenapa harus pindah rumah?"

''Para biksu di kuil itu sudah lama mengintai kita Naru, terutama dirimu. Dan mereka berencana untuk menangkapmu kelak.'' Jelas Minato.

Naruto menunduk lesu, dirinya memang sudah lama mengetahui jika ia memang sedang diincar para biksu kuil api itu sebenarnya bukan hanya para biksu saja ia pun terkadang sering merasa jika sosok bermata menyala mirip ular yang dulu pernah bertemu dengannya pun ikut mengintai namun dengan jarak yang cukup jauh.

''Tapi…''

''Semua demi kebaikanmu Naru.'' Minato menepuk bahu putra sulungnya, Naruto mendongak menatap netra biru milik Minato yang kini tengah memancarkan kesedihan.

''Baiklah, aku mengerti.'' 'Sasuke, maaf. Bukan mauku untuk pergi menjauh darimu.'

"Segeralah berkemas Naru. Kita tidak memiliki banyak waktu.''

.

.

Sasuke merasa gelisah pagi ini, entah kenapa tiba-tiba ia merasa dadanya sesak dan juga lemas. Di perhatikannya sekitar kelasnya dan ia menemukan sebuah kejanggalan, ya teman sekelasnya Deidara tak terlihat sejak pagi tadi karena biasanya adik dari tunangannya itu selalu datang lebih dulu darinya.

'Kenapa Dei hari ini tidak masuk kelas apa dia sedang sakit?' batin pemuda emo itu bertanya-tanya.

''Eh, kudengar katanya Deidara-kun keluar dari sekolah ini ya?'' tanya salah satu teman sekelas Sasuke pada teman sekelasnya yang lain.

''Ya, katanya ia akan pindah kota makanya ia keluar.'' Jawab siswa tersebut, Sasuke tersentak ia sontak berdiri dan langsung menghampiri dua teman sekelasnya itu.

''Apa maksud kalian? Deidara akan pindah kota?" tanya Sasuke menggebu-gebu, dadanya berdebar tak karuan karena terlalu kaget dengan apa yang baru saja di dengarnya.

''Ya begitulah, aku bertemu dengannya tadi saat ia akan masuk keruang kepala sekolah dan ia terlihat murung saat mengatakan jika ia akan keluar dari sekolah ini karena kedua orangtuanya memutuskan untuk pindah kota.'' Jelas siswa tersebut.

''Apa dia masih di ruang kepala sekolah?"

''Ya, sepertinya masih.''

Tanpa ba bi bu lagi Sasuke langsung berlari keluar dari kelasnya menuju ruang kepala sekolah dengan secepat mungkin, tiba di depan ruangan kepala sekolah Sasuke yang hendak mengetuk pintu masuk harus mengurungkan niatnya karena sosok yang di tunggu kedatangannya baru saja membuka pintu ruangan tersebut dan kini keduanya saling berhadapan.

"Sasuke?"

''Apa maksudnya semua ini Dei? Jelaskan padaku? Kenapa kau harus pindah rumah?" Sasuke membrondong Deidara dengan pertanyaan.

''Maaf sebelumnya Sasuke, tapi ini bukan kemauan aku dan Naru-nii. Tou-san yang memutuskan semuanya dan kami hanya bisa menurutinya saja.'' Sahut Deidara, kepalanya menunduk karena terlalu takut bertatap mata dengan mata sehitam malam milik Sasuke.

''Apa yang menjadi alasan ayahmu?"

''Kau tak akan mengerti Sasuke, dan aku yakin jika kau tahu semuanya belum tentu kau akan menerima keadaannya kan. Jadi mulai sekarang ada baiknya lupakan kakakku.'' Onyx kelam milik Sasuke membola, tak percaya dengan apa yang baru saja masuk kegendang telinganya, Deidara menyuruhnya untuk melupakan Naruto, yang benar saja.

Enam tahun ia menunggu saat yang tepat untuk dapat mengungkapkan perasaannya pada Naruto dan kini tinggal selangkah lagi ia bisa memiliki si pirang Deidara malah menyuruhnya untuk melupakan Naruto dengan begitu mudahnya, sungguh itu adalah hal yang sangat mustahil di lakukannya.

''Aku tak bisa.'' Tolaknya, wajah seputih salju itu berubah datar dengan aura hitam di sekelilingnya.

''Terserah padamu, seberapa keraspun kau mencegah, itu takan merubah keputusan Tou-san.'' Tukasnya, Deidara pun melangkah melewati Sasuke namun lagi-lagi tangan Sasuke mencegahnya untuk pergi di cengkramnya kedua bahu Deidara dengan kedua tangannya.

''Deidara tolong kau katakan ini padanya, sejauh apapun dia pergi dan dimanapun kini dia berada aku Uchiha Sasuke suatu saat pasti akan menemukannya kembali tak peduli kapanpun itu dan saat itu dia tak akan pernah kulepaskan sekalipun aku harus berhadapan dengan ayah kalian.''

Sasuke melepaskan cengkramannya pada bahu Deidara lalu melangkah pergi meninggalkan sosok Deidara yang masih mematung di depan ruangan kepala sekolah.

.

.

3 tahun kemudian

Hari kelulusan di SMA Konoha telah tiba, Sasuke Uchiha melangkahkan kakinya keluar area sekolahnya setelah menerima surat kelulusannya, wajahnya terlihat datar dan tak memiliki ekspresi bahagia sedikitpun sama seperti saat kelulusannya di SMP dulu.

Sejak Naruto pergi dari hidupnya ia tak lagi memiliki semangat apapun, ia lebih sering mengurung diri dan akan keluar jika ia akan sekolah atau mengisi perutnya jika sudah lapar, namun hal itu bukan berarti terpuruk pada kenyataanya ia diam-diam mencari keberadaan keluarga Namikaze yang sampai saat ini bak hilang di telan bumi.

'Naru, dimanapun dirimu tinggal saat ini aku pasti akan menemukanmu,' batinnya.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di sampingnya, seseorang berambut perak pun keluar dari dalam mobil tersebut.

''Selamat siang Sasuke-sama, silahkan masuk kedalam mobil.'' Ucap pria itu.

Sasuke masuk kedalam mobil pria tersebut di susul sang pemiliknya dan tak lama mobilpun kembali melaju.

''Jadi, informasi apa saja yang kau dapat Kakashi?" tanya Sasuke langsung pada pria bernama Kakashi atau lengkapnya adalah Hatake Kakashi seorang detektive yang kerap di juluki detektive jenius.

''Seperti biasanya, keluarga Namikaze sangat sulit di temukan, aku yang bahkan seorang detektive jenius pun sempat ingin mundur dari tugas ini.'' Sasuke melirik Kakashi memalui ekor matanya, ini sudah yang kesekian kalinya ia mendengar ucapan itu dari para detektive sewaannya dan akhirnya pun akan sama pula sepertinya yakni menyerahnya para detektive itu untuk mencari keberadaan keluarga Namikaze.

''Jadi kau sudah menyerah?"

''Tentu saja tidak Sasuke-sama, aku hanya sempat ingin saja karena aku menemukan sebuah fakta unik pada akhirnya.'' Tukasnya, Sasuke kali ini menoleh pada pria di sampingnya.

"Apa itu?''

"Aku sempat menyelidiki sebuah SMA di sebuah desa bernama Uzushio dan aku bertemu dengan seorang bocah bermarga Uzumaki dan bocah itu sungguh menarik perhatianku.''

''Lalu apa hubungannya bocah Uzumaki itu dengan keluarga Namikaze, dan apa maksudmu bocah itu menarik, kau jatuh cinta padanya lalu…"

''Dengarkan dulu Sasuke-sama, yang kumaksud dengan ucapanku adalah nama dari bocah itu, dan percaya atau tidak bocah itu bernama lengkap Deidara Uzumaki.''

Sepasang onix milik Sasuke membola, tentulah ia tak mungkin akan lupa dengan nama teman kecilnya itu tapi yang membuatnya mengerutkan kening adalah marga bocah itu bukanlah Namikaze.

''Aku sempat menyelidiki latar keluarganya dan dia tidak tinggal di desa itu, ia tinggal di sebuah rumah jauh di dalam hutan Uzushio, saat aku mengobrol dengannya dan bertanya tentang orangtuanya ia tak menyebutkan nama ayahnya ia hanya menyebutkan jika nama ibunya adalah Kushina Uzumaki, dan hal itu pun tak luput dari penyelidikanku dan saat aku kembali mulai mencari informasi tentang Kushina baru aku menemukan sebuah fakta bahwa suami dari Kushina Uzumaki adalah Minato Namikaze.''

Sasuke tercengang benarkah selama ini mereka bersembunyi dengan cara mengganti marga mereka, pantas saja Sasuke sampai harus berkali-kali menyewa detektive untuk mencari keberadaan keluarga itu selama 3 tahun dan baru kali ini semuanya terungkap, ternyata kekasihnya selama ini tinggal di sebuah desa yang konon hampir tak berpenghuni itu karena dulu ia pernah mendengar jika desa itu pernah mengalami masa krisis ekonomi dan juga bahan pangan sehingga para penduduk disana banyak yang berpindah-pindah bahkan desa itu sudah hampir di lupakan sebagian orang-orang.

"Kau memang benar-benar seorang jenius Hatake Kakashi, tapi ngomong-ngomong apa Deidara tak mengenalimu secara kau dulu pernah mengajar di sekolah dasar tempat kami bersekolah dulu?" tanya Sasuke, ya pemuda raven itu memang masih penasaran dengan sosok detektive jenius itu yang dulunya merupakan guru di sekolah dasarnya dan merupakan wali kelasnya juga.

''Mana mungkin aku terang-terangan menunjukan identitasku padanya kan, aku pun awalnya tak mengenalnya begitu saja karena dia banyak berubah tapi setelah kami saling berkenalan barulah aku mengetahuinya.'' Terang Kakashi.

"Menjadi seorang detektive memang tak mudah. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu? Bukankah kau itu seorang detektive tapi kenapa kau malah menjadi guru di sekolah kami?" tanya Sasuke, dari awal ia kembali bertemu dengan Kakashi pertanyaan itu sudah ia ingin keluarkan.

Kakashi tersenyum di balik maskernya, ''Ada sesuatu yang harus kucari saat itu, dan aku sampai saat inipun belum bisa menemukannya,''

''…''

''Sama halnya denganmu akupun hampir putus asa untuk menemukannya bahkan gelar jeniusku pun tak berarti apa-apa sampai sekarang dan aku sudah menyerah, aku sudah kehilangan harapanku. Untuk itulah Sasuke-sama saat melihatmu berada di posisiku saat itu aku pun berusaha agar kau tidak berakhir sama sepertiku yang sekarang, hidup tanpa merasakan keindahannya.''

Sasuke bisa melihat perubahan raut wajah detektive di sebelahnya, wajah itu sama seperti ketika ia kehilangan sosok cahaya dalam hidupnya, separuh jiwanya dan juga nafasnya.

"Apa kau tak ingin berusaha mencarinya sekali lagi?"

''Jika pun aku bertemu kembali dengannya, apakah mungkin masih ada harapan untuk kembali. Dia pergi karena kesalahanku dan aku terlalu pengecut hanya untuk meminta maaf padanya hingga suatu hari aku mendapat kabar jika ia sudah pergi entah kemana.''

''Jika kau bersungguh-sungguh aku yakin ia akan kembali lagi padamu.''

''Yah, itu juga yang sebenarnya aku harapkan.''

.

.

''Aku pulang, Tou-san, Kaa-san, Naru-nii.'' Deidara membuka pintu rumah sederhana milik keluarga kecilnya yang terletak jauh di tengah hutan Uzushio.

Rumah itu memang bertingkat dua namun tidak terkesan mewah karena hampir seluruh struktur bagunannya terbuat dari kayu dan pintu rumah itu pun di buka dengan cara menggesernya.

''Kau sudah pulang Dei-chan? Eh~, kenapa berwajah murung seperti itu?" tanya Kushina.

Deidara mendudukan dirinya seraya melepas sepatu kets yang di pakainya, ''Kaa-san, bolehkah jika aku bekerja saja, aku tidak ingin kuliah.'' Ungkap Deidara.

Kushina terkejut, bukankah anak bungsunya itu sebelum hari kelulusan sangat bersemangat sekali ingin kuliah bahkan Kushina dan juga Minato sudah mendaftarkannya di Universitas yang cukup elit di sebuah kota bernama Kumo.

Jarak kota Kumo ke desa Uzuhio tidaklah terlalu jauh hanya membutuhkan waktu satu jam untuk bisa sampai kesana, di samping itu Minato selaku kepala keluarga Namikaze pun ikut membangun sebuah pabrik pembuatan mesin jahit yang nantinya akan di export ke beberapa negara.

''Kenapa Dei-chan tiba-tiba begitu?"

''Aku tidak ingin kuliah disana, dan jika aku ingin kuliah di Konoha pasti Tou-san tak akan mengijinkan bukan.''

''Apa yang menjadi alasanmu?"

''I-itu…I-itu ka..karena..Sa..Sasori senpai juga kuliah disana Kaa-san." Ungkap Deidara dengan gugup dan juga bisa Kushina lihat semburat merah yang menghiasi kedua pipinya yang sedikit bulat.

Sasori Akasuna adalah senpai Deidara di SMA Uzu yang tahun lalu sudah lulus lebih dulu, Sasori adalah senpai yang sempat di kagumi oleh Deidara dan merupakan cinta pertamanya namun harapan untuk bisa menjadi kekasih pemuda Akasuna itu sudah kandas semenjak pemuda itu mengumumkan jika ia sudah bertunangan, punah sudah semangat Deidara saat akan menyatakan perasaannya saat itu yang tepat di hari kelulusan senpainya.

''Memangnya ada apa dengan Sasori senpai itu Dei-chan?" Kushina tentulah sangat penasaran dengan penolakan Deidara untuk kuliah disana dan seperti apa sosok Sasori hingga membuat sang anak sepertinya enggan untuk bertemu lagi dengan seniornya itu.

''Pokoknya aku tak mau kuliah disana, atau aku akan mendaftar kuliah di Konoha walau di larang oleh Tou-san.'' Rajuknya seraya mengembungkan kedua pipinya.

Kushina terkekeh geli mungkin memang ada baiknya jika ia berbicara dulu pada suaminya dan meminta kesepakatan bersama.

''Baiklah Kaa-san akan mencoba bicara dengan Tou-sanmu." Deidara sumringah ia menghambur memeluk sang ibu sebagai tanda terima kasihnya.

.

.

Naruto sedang berjongkok sambil memetik beberapa bunga yang sengaja ia tanam tak jauh dari rumahnya, ia berencana untuk membuat mahkota bunga yang nantinya akan ia berikan pada sang ibu dan juga adiknya.

Entah sejak kapan kebiasaan itu mulai muncul yang pasti Naruto akan selalu memetik bunga-bunga yang ditanamnya ketika bunga itu sudah mekar lalu membuatnya menjadi sebuah mahkota, Kushina tentulah sangat senang ketika dipakaikan mahkota itu namun lain halnya dengan sang adik yang wajahnya pasti akan mirip orang sedang menahan buang air.

"Kita sudah sampai sejauh ini Kakashi dan ini sudah jauh masuk kedalam hutan tapi sampai detik ini kita tak menemukan apapun.''

Naruto samar-samar mendengar suara seseorang yang sedang berbicara dan juga langkah kaki yang sepertinya menuju kearahnya.

''Tapi dari info yang kudapat memang disini seharusnya.'' Sahut suara lain, dua sosok di balik semak-semak pun mulai terlihat Naruto yang mengingat pesan sang ayah langsung bangkit dan hendak bergegas.

'Ingat Naru meskipun kita berada jauh di tengah hutan namun bukan berarti tak akan ada orang yang bisa menembus sampai kedaerah sekitar kita, karena para biksu dan pria ular itu masihlah mengincarmu hingga saat ini, segera menjauh begitu kau merasakan kehadiran seseorang.'

Begitulah pesan dari Minato, si pirang dengan tergesa-gesa memasukan bunga-bunga itu kedalam keranjang lalu menutupnya dengan kain agar tidak berjatuhan saat di bawa kerumahnya nanti.

''Aku harus per…''

''Tunggu.'' Sebuah suara baritone menghentikan langkahnya, Naruto langsung berdiri kaku tak bergerak sama sekali menolehpun tak ia lakukan karena terlalu takut akan sosok yang menyuruhnya berhenti bisa saja itu adalah pria ular dan anak buahnya itu kan.

''Maa~ maa~, jangan kaku seperti itu kami hanya ingin bertanya sesuatu padamu.'' Kakashi berujar dengan nada keki, sebelah tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Perlahan Naruto berbalik kearah Kakashi dan juga sosok di sebelahnya, iris birunya kembali membola begitu melihat sosok di samping pria bermasker itu, pemuda pirang itu tentulah masih mengenali sosok yang kini semakin bertambah tinggi dan juga tampan itu, sosok Sasuke Uchiha.

Sama halnya dengan si pirang, Sasuke pun tak kalah shok begitu melihat sosok yang sudah lama ia cari keberadaannya, jadi benar jika kekasihnya itu kini tinggal jauh didalam hutan yang tentunya akan sangat sulit di jangkau para detektive yang di sewanya selama ini, ah tentunya untuk Kakashi itu pengecualian karena bagaimanapun juga berkat sosok itu ia kembali bisa melihat sosok kekasihnya.

Sasuke secepat kilat berlari kearah Naruto dan langsung menerjang si pirang hingga hampir terjungkal jika saja keseimbangannya tidak bagus, bunga dalam keranjang miliknya berhamburan diikuti dengan jatuhnya keranjang tersebut keatas rumput.

"Sa..su..ke..'' Eja Naruto lirih.

Sasuke tersenyum seraya mengeratkan pelukannya, ''Akhirnya aku menemukanmu kembali, Naru.'' Ucap Sasuke yang tanpa sungkan langsung menciumi wajah Naruto tanpa merasa malu jika disana masih ada Kakashi yang menonton adegan CLBK* kedua sejoli itu.

Merasa hanya akan menjadi pihak yang ter'abai'kan Kakashi memutuskan untuk menghentikan sejenak adengan di depannya, saat ia mencoba untuk mengeluarkan pendapatnya muncul sosok yang membuatnya harus membulatkan kedua matanya.

''Naruto-sama, saya mencari anda kemana-ma…'' sosok berambut coklat diikat tinggi serta memiliki garis luka melintang di atas hidungnya itu tak meneruskan kalimatnya, bukan, ia bukan kaget karena melihat adegan SasuNaru namun ia kaget karena melihat sosok Kakashi yang juga kini sedang menatap tak percaya padanya.

''Kakashi-kun…'' gumam sosok yang sepertinya lupa tujuannya yang semula.

''I-Iruka,''

Yah dan sepertinya yang bakal melakukan adegan CLBK bukan hanya SasuNaru saja, kkk.

.

.

"Bagaimana kabarmu Iruka?"

Iruka menundukan wajahnya yang bagi Kakashi seolah pria itu sangat enggan menatap wajahnya, ''Aku baik-baik saja, kau sendiri?" Iruka bertanya balik.

''Aku… yah bisa dibilang sangat buruk,'' Kakashi menjeda ucapannya, pria itu menengadahkan kepalanya kearah langit biru diatas sana, ''sejak kau pergi.''

"Kenapa Kau berkta seperti itu, aku pergi karena kau yang menginginkanya kan.''

''Aku hanya memintamu untuk jangan menemuiku sementara waktu bukan memintamu pergi selamanya.''

''Tetap saja itu menyakitkan, Kakashi-kun. Kau bahkan lebih mempercayai ucapan wanita itu daripada aku.'' Inotasi suara Iruka meninggi pria itu hendak pergi meninggalkan Kakashi sebelum akhirnya pria berambut perak itu berinisiatif lebih dulu untuk mencekalnya lalu membawanya kepelukannya.

''Maafkan aku Iruka, ini salahku, kau benar tak seharusnya aku percaya pada Anko saat ia berkata jika kau berselingkuh, selama ini pun kuhabiskan sisa waktuku untuk mencari keberadaanmu hingga bertahun-tahun namun aku tetap tak bisa menemukanmu hingga aku benar-benar putus asa.''

"Kau tahu pria yang tuduh selingkuhanku itu adalah sahabatku, namanya Asuma Sarutobi saat itu aku memang sedang mengantarnya untuk membeli cincin yang akan ia berikan pada kekasihnya Kurenai karena Asuma berniat melamar wanita itu, namun saat itu Anko melihat kami dan sepertinya ia memanfaatkan situasi itu.''

''Aku tahu Iruka, karena saat aku hendak datang menemuimu kembali, aku bertemu pria bernama Asuma itu dan ia pun mengatakan yang sebenarnya padaku. Iruka maafkanlah kesalahanku dan kembalilah padaku kita bisa memulainya dari awal bukan.'' Iruka bergeming, walau dari dasar hatinya ia masih mencintai dan sudah memaafkan Kakashi namun untuk mengulangnya kembali ia merasa ragu dan takut hal yang sama akan terulang dan ia tak ingin merasa tersakiti lagi.

''Maaf Kakashi-kun, aku belum siap jika harus kembali padamu.'' Jawab Iruka walau dalam hati ia merasakan ribuan penyesalan atas ucapannya.

''Aku mengerti dan aku takan memaksamu, hanya saja ijinkan aku untuk menjadi temanmu sampai kau merasa siap untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman denganku.'' Iruka terharu, Kakashi-nya tetaplah Kakashi yang dulu sosok kalem dan tak terburu-buru walau terkadang ia selalu suka terlambat datang jika akan mengajaknya kencan tapi itulah hal yang disukainya dari sosok pria yang masih merengkuhnya saat ini.

''Arigatou Kakashi-kun.''

.

Sementara itu di tempat lain dimana Sasuke dan Naruto sedang duduk bersebelahan di atas rumput dekat taman bunga milik sang pemuda pirang, keduanya tampak diam terutama si pirang yang sepertinya masih canggung berdekatan dengan kekasihnya.

"Kenapa hanya diam saja, aa kau sama sekali tak merasa rindu padaku?" tanya Sasuke.

Si pirang terhenyak, ''Aku selama ini merindukanmu.'' Sahut si pirang.

''Lalu kenapa kau tak menghubungiku, aku bisa memaklumi alasan kepindahanmu saat Deidara mengatakannya padaku tapi setidaknya kau menghubungiku melalui telpon rumahmu.''

''Tou-san sudah tak mengunakan jasa telpon rumah lagi sekarang dan aku tak diijinkan mengunakan smartphone jenis apapun oleh beliau.''

Sasuke mendengus dalam benaknya ia berpikir jika Minato sepertinya memang berniat menjaukannya dengan Naruto.

''Bukankah kau bisa mengirim surat.'' Terdengar helaan nafas dari si pirang.

''Kau lihat bangunan itu, menurutmu berapa meter jaraknya hingga ketempat kita duduk sekarang?" Naruto menunjuk kearah sebuah rumah kayu yang tak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang dan Sasuke merasa yakin jika rumah itu adalah rumah yang di tempati oleh Naruto dan keluarganya.

''Aku bahkan hanya bisa berada dalam jarak sekitar sini dan itupun aku masih harus dalam pengawasan Iruka-sensei, guru privat sekaligus penjagaku sejak dulu, kau mungkin baru melihatnya karena Iruka-sensei saat itu pindah dan kami bertemu kembali di desa Uzuhio.'' Terang Naruto.

Iris sewarna onyx milik Sasuke menatap kearah pasangan yang agak jauh di depannya dimana Kakashi kini masih setia memeluk sosok yang ia yakin adalah sosok yang selama ini dicarinya.

''Naru apa kau masih ingat hal yang dulu pernah kuucapkan padamu?"

''Sepertinya aku sudah lupa.''

''Tsk, sudah ku duga.'' Ujarnya, ''Bukankah dulu aku pernah berkata akan melamarmu jika aku sudah lulus sekolah, seharusnya aku melamarmu saat aku kelulusanku 3 tahun yang lalu namun karena kepergianmu yang mendadak dan tak pernah ada kabar mungkin aku akan melamarmu tepat hari ini.'' Lanjutnya.

Naruto terkesiap apa harus secepat itu Sasuke melamarnya, walaupun Sasuke tipe pemuda yang tak suka basa-basi tapi apa harus di lakukan tanpa berpikir lebih dulu.

''Apa tidak bisa hal itu kita tunda dulu Sasuke, aku masih belum siap sekarang.'' Tolak Naruto halus, ia memang belum siap jika saat Sasuke melamarnya lalu pemuda itu tahu kebenaran tentang dirinya yang setengah siluman, ia hanya takut jika pemuda yang dicintainya akan pergi menjauh dari kehidupannya.

''Apa yang membuatmu merasa belum siap? Apa kau meragukan ketulusanku?" iris sekelam langit malam itu menyorot tajam dan entah kenapa Naruto merasa takut akan tatapan mematikan itu.

''Tidak Sasuke, hanya saja aku merasa yakin jika kau akan menjauhiku setelah tahu kebenarannya.''

''Kebenaran? Kebenaran tentang apa?" kali ini nada suara milik Sasuke meninggi, kedua tangannya dengan spontan mencengkram bahu Naruto.

''Tentang aku yang…''

Srak

Brugh

Tubuh Sasuke terpental beberapa meter dari posisi Naruto saat seekor ular berwarna putih tiba-tiba muncul dari arah semak-semak lalu mengibaskan ekornya kearah Sasuke.

"Ular macam apa itu?" tanya Iruka pada Kakashi yang sepertinya sedang dalam mode terkejut sekarang.

''Akhirnya saat yang kutunggu telah tiba, kini aku bisa memiliki kekuatan rubah ekor sembilan, khukhukhu.'' Ucap ular itu seraya menjulurkan ekornya untuk melilit tubuh Naruto.

Sasuke yang sudah kembali bangkit tentunya tak akan membiarkan hal itu terjadi walau ia tak mengerti apa maksud ucapan si ular namun yang pasti nyawa kekasihnya saat ini dalam bahaya.

''Oh tidak, Naruto-sama dalam bahaya, kita harus segera mejauhkannya dari ular itu.'' Iruka menarik tangan Kakashi lalu membawanya berlari kearah Naruto, namun keduanya harus bernasib sama seperti Sasuke sebelum keduanya berhasil mendekati Naruto, tubuh Sipirang pun kini dililit oleh ekor ular itu.

''Percuma saja, kalian yang hanya orang biasa takan mampu mengalahkanku yang seorang sannin ular yang terkuat.'' Kekehnya.

''Aku tak peduli siapa kau, kembalikan Naruto kepadaku.''

''Sayangnya itu mustahil, aku sudah mengincarnya selama ini. Kekuatan rubah ekor sembilan yang abadi, malam ini adalah malam purnama kesembilan dan aku akan segera mengambil alih tubuhnya.''

''Lepaskan dia Orochimaru, aku mungkin hanya orang biasa tapi bukan berarti aku tidak bisa mencegahmu.'' Iruka mempersiapkan dirinya untuk menerjang Orochimaru yang masih dalam wujud ularnya.

''Hentikan Iruka, kita jangan gegabah. Orang ini memiliki kekuatan supranatural yang cukup kuat kita takan mampu mengalahkannya dengan mudah saat ini.'' Cegah Kakashi.

''Lepaskan aku, aku harus menyelamatkannya!" teriak Iruka, ia meronta dari cengkeraman Kakashi yang kini tengan menahan lengannya.

''Seperti apapun rencana kalian untuk mengalahkanku itu akan sia-sia dan tubuhku sudah pasti akan berpindah kedalam tubuh bocah ini." Orochimaru mengarahkan ekornya kedepan memperlihatkan sosok Naruto yang terkulai tak sadarkan diri.

''Orochimaru-sama sebaiknya kita cepat pergi, sebelum purnama muncul kita harus segera menyiapkan segala sesuatunya.'' Sosok Kabuto muncul secara tiba-tiba di samping Orochimaru.

''Ya aku mengerti, nah aku harus segera pergi.''

Dua sosok itu pun mulai beranjak namun baru beberapa langkah mereka berjalan sesuatu berwarna hitam menjalar lalu dengan cepat mengepung keduanya.

''Apa ini Orochimaru-sama.''

''I..Itu…"

Orochimaru terbelalak ia yang sudah puluhan tahun meniliti seluk beluk setiap klan yang ada di sekitar konoha tentulah tahu apa yang saat ini telah mengepung keduanya, sesuatu berwarna hitam yang berkobar itu adalah api yang hanya bisa di keluarkan oleh mereka yang berdarah Uchiha yang konon tak akan padam kecuali jika yang mengeluarkannya lah yang memadamkannya, itu adalah api kutukan atau yang lebih di kenal dengan sebutan…

''Amaterashu!"

Tbc

*CLBK = cinta lama belum kelar

Hallooo hallooo halloooo

Ada yang masih ingat ff abal ini, maaf kalau lama updatenya,, suer kimi kehabisan ide T.T dan part ini pun kimi bagi jadi dua os buat nembus endingnya pasti kepanjangan.

Mohon maaf kalau banyak kesalahan di fic ini, kimi mah apa atuh Cuma 'author amatiran' yang numpang bikin cerita disini..

Makasih yang udah kasih semangat buat kimi di review kalian mohon maaf juga jika kimi belum bisa ngebalesnya T.T.. btw diantara reader-san ada yang bisa edit gambar sasunaru g? klo ada kimi pengen minta bantuannya untuk edit pic sasunaru buat ff cute bodyguard sekalian mau kimi pajang di profil fb.. kalau ada yang bisa pm or komen aja di review…

Sampai jumpa lagi mina-san byeee =3=