Nenekku selalu melihat almanak untuk meramalkan apa yang akan terjadi di hari esok dan seterusnya. Beliau percaya bahwa ramalan dalam almanak adalah benar adanya. Hari ini tidak baik melakukan anu, besok hari yang baik untuk anu, lusa si anu akan begini, begini, dan begitu. Peruntungan dan kesialan seperti sudah tergambar jelas pada almanak bagi nenekku. Dulu beliau rajin meramalku setiap ada kesempatan. Tapi karena aku tidak pernah percaya, nenek berhenti meramalku setelah almanak miliknya beliau lempar padaku sembari menyumpahiku. Nenek yang sakti, nenek telah menyumpahiku agar aku tak menikah seumur hidup–aku baru ingat kutukan ini barusan–. Tapi percayakah nenek jika aku baru saja menemukan seorang malaikat yang menjelma menjadi wanita yang kemungkinan besar adalah jodohku?

Ting! Aku sampai. Lift terbuka. Aku baru merasakan manfaat adanya dua lift yang bersebelahan di sini. Gunanya untuk mengejar orang. Ini efektif. Jadi meski pun si malaikat sudah duluan naik ke lantai tiga, aku bisa menyusulnya dengan lift yang satu. Kau mau bilang ini hanya kebetulan? Lalu berkata jika liftnya penuh aku tidak bisa mengejarnya? Jodoh tidak kemana, pasti ada jalannya.

Aku mengikutinya sampai ke cafeteria seperti seorang penguntit. Aku tahu ini salah. Ya ampun, biasanya wanita yang akan mengejar-ngejarku dengan membuang harga diri mereka. Tapi sekarang malah aku yang berbuat seperti itu demi seorang wanita yang bahkan baru 5 menit lalu kutemui. Aku tidak peduli. Kalau aku tidak mendapatkan apa-apa, bolehlah aku menyesal melakukan ini. Tapi kuharap aku dapat sesuatu dari pergerakanku yang cepat bagai ninja.

:::

Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

Chapter 2: Halo, Aku Tuan Penguntit!

A TVXQ FANFICTION

DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES

YUNJAE/MINJAE/SUJAE

GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!

ROMANCE/COMEDY

OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN

DON'T LIKE DON'T READ!

:::

Kulihat ada seorang pria yang sudah menunggunya di dalam cafeteria. Pria itu pasti dari divisi lain. Aku tidak mengenalnya. Atau mungkin aku yang tidak terlalu suka memerhatikan. Hei, wajar. Untuk apa aku memerhatikan pria?

Wanita yang masih ingin kusebut malaikat itu membungkuk hormat padanya sebelum ia duduk dengan anggun. Mereka saling tersenyum dengan canggung. Cih! Kenapa aku merasa tak suka melihatnya? Seperti menonton adegan drama di mana tokoh utama wanitanya akrab berbincang dengan figuran. Mereka duduk berduaan seperti itu pasti karena urusan pekerjaan. Ya, tidak mungkin mereka ada urusan asmara. Tidak cocok. Atau bisa kubilang tidak pantas. Masa' seorang malaikat pacaran dengan pria yang rambut depannya saja hampir habis karena masalah kebotakan dini? Dibandingkan denganku, rambutku masih kuat dan lebat karena aku rajin merawatnya setiap hari. Aku lebih baik!

"Maaf, Tuan, permisi…"

Seorang pelayan yang menegurku baru membuatku sadar kalau sedari tadi ternyata aku bersembunyi di balik sebuah tiang besar di dekat kasir seperti orang bodoh.

Akhirnya aku pindah tempat ke sebuah meja kosong yang cukup jauh dari tempat malaikatku –boleh 'kan kusebut begitu?–tapi strategis untukku mencuri pandang padanya. Tak lupa aku memesan secangkir kopi. Supaya tidak terlalu jelas terlihat kalau aku sedang memerhatikan seseorang.

Kopiku datang dengan cepat. Aku tak pernah meragukan pelayanan dari cafeteria ini. Selalu memuaskan. Aku pura-pura meminum kopi sambil memandangnya. Aku sangat berterima kasih pada pilihan cerdasku karena dari tempatku duduk aku dapat melihat wanita itu secara utuh, tidak terhalangi oleh si botak. Sinar matahari yang menembus kaca membuatnya begitu terang. Kulitnya jadi nampak seperti selembar sutera yang tipis dan lembut. Ada sesuatu yang berkilauan di antara tulang selangkanya. Kupikir itu pasti liontin kalungnya. Aku cukup jeli untuk mengamati sesuatu. Tapi aku tidak bisa menebak apa ukuran bra yang menyangga payudaranya yang cukup besar. Kalau dia punya anak pasti dia bisa memproduksi air susu yang banyak. Oke. Aku mulai ngelantur.

Trang, tring, trang, tring. Pisau, garpu dan sendok berdenting seperti pedang yang beradu. Cafeteria ini sedang ramai, banyak orang yang makan dan banyak juga yang mengobrol. Aku tidak bisa mendengar apa yang si botak dan malaikatku bicarakan di sana. Terlalu berisik.

Ara! Aku tidak sadar sudah menghabiskan secangkir kopiku seperti menenggak sake.

"Pelayan, aku pesan kopi lagi!"

Bentring! Sendok yang kutaruh di atas tatakan gelas jatuh ke lantai ketika aku mengangkat tangan. Pelayan yang datang buru-buru lari untuk mengambil sendok itu tapi dia kalah cepat denganku. Sendoknya telah kuambil duluan dan kuletakkan lagi di atas tatakan.

"Direktur Jung?"

Aku menoleh ke arah di mana sinar matahari terhalang dua orang yang berdiri tak jauh di depanku. Baru saja aku berpaling sebentar, mereka sudah selesai berbicara lagi? Sungguh singkat.

"Konnichiwa!" (Selamat siang!)

Satunya membungkuk dalam hingga helaian rambut yang disisirnya rapi melintang di atas kepalanya jatuh tak beraturan. Ia menyisir rambutnya dengan jari setelah membungkuk padaku. Jangan tanya, itu si botak. Lalu yang disebelahnya…

Dia nampak bingung dengan matanya yang melompat-lompat seperti bola pingpong. Ia melihat ke arahku dan si botak itu bergantian.

"Ah, tak kusangka kita bertemu lagi, Nona." kumulai saja basa-basiku padanya seolah-olah sebuah kebetulan kami bertemu di cafeteria ini. Kau pasti tahu siapa yang sedang kuajak bicara 'kan?

"Ahh, sou desu ne." (Ah, iya.) sayangnya dia hanya menjawab singkat dengan senyumnya yang kaku. Ish! Ini pasti gara-gara si botak itu yang telah memangilku direktur! Jadinya aku ketahuan! Kalau canggung begini 'kan tidak enak!

'Kurasa pertemuan kita ini adalah sebuah takdir'. Awalnya aku ingin mengatakan itu tapi aku jadi seperti pria-pria tukang merayu di drama-drama tivi. Tidak usah. Tidak jadi. Gantinya aku melemparkan senyumanku yang paling menawan padanya secara cuma-cuma. Kupikir wanita itu akan langsung tersipu malu tapi ternyata tidak. Dia lagi-lagi hanya tersenyum canggung. Bentengnya cukup kuat juga!

Sesaat kemudian aku terpikir untuk bertanya sesuatu pada si botak.

"Apa yang sedang kau lakukan dengan membawa map di jam makan siang begini? Kau tidak makan seperti yang lainnya?" demi cerpelai nenekku, aku geli bersikap ramah pada pria. Tapi kulakukan demi terlihat baik di depan malaikatku.

"Tadi saya habis berbincang dengan nona ini perihal café yang akan disorot di rubrik jam."

Oohh, jadi si botak ini dari divisi humas?

"Café?"

"Ya, Direktur. Café La Storia akan masuk di Gratia bulan depan."

Aku memang tidak pernah ingat tempat mana dan siapa saja nama orang yang terlibat dalam isi majalah Gratia. Tapi aku agak menyesal tidak mengingat nama café ini. Kalau saja aku ingat dan aku tahu kalau malaikatku bekerja di La Storia, kupastikan pertemuan kami akan terjadi lebih awal. Kukorek informasi tentang pekerjaannya di café itu dari si botak yang senantiasa menjawab setiap pertanyaanku untuk mewakili nona malaikat itu. Padahal aku ingin mendengar jawabannya dari malaikatku sendiri secara langsung tapi si botak rupanya terllau baik hati. Membuatku ingin mengoles rambut tipisnya dengam pomade.

Nona malaikat itu, yang setelah kuingat-ingat lagi bernama Kim Jaejoong, adalah seorang penyanyi yang menghibur pengunjung café La Storia setiap malam. Katanya ia diminta untuk datang ke kantor ini mewakili menejer operasionalnya. Café La Storia. Café dengan live music. Sudah kubayangkan ada lampu-lampu temaram tergantung di langit-langitnya dengan dekorasi yang didominasi kayu. Aku menyesal tidak pernah datang ke tempat itu. Rasanya seperti kau tidak pernah makan es krim yang dijepit dua biskuit.

Hanya sebentar aku berbicara dengan si botak karena dia masih ada pekerjaan lain. Tidak usah membahas itu.

Malaikatku turun untuk pulang. Katanya ia masih harus kembali ke café. Aku –yang berpura-pura ada urusan lantai satu–mengantarnya sampai ke lobby. Untunglah dia bukan tipe wanita yang akan menggigit kalau didekati. Seperti ekspektasi awal, ia wanita yang baik –meski pun sedikit dingin seperti teh yang diberi daun mint–. Aku tak bisa memungkiri kalau mataku tak juga berpaling dari sosok indah yang berjalan tepat di sampingku itu. Rasanya tanganku seperti punya pikiran sendiri untuk bergerak mengamit jari-jarinya. Tapi aku berusaha keras untuk menahan diri karena itu sungguh tak sopan. Bisa-bisa aku dikatai direktur genit.

Si malaikat berjalan dengan anggun, langkahnya seperti langkah kucing. Aku mencuri-curi kesempatan untuk memandanginya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki –sementara dia menatap lurus ke depan seperti robot–, dan dia tidak menyadari tatapanku sepertinya. Ia cukup tinggi, dengan tambahan high heelsnya yang kira-kira 5 cm. Tapi serius, kalau pun tidak pakai high heels mungkin tinggi badannya sekitar 175cm. Tinggi yang pas untuk jadi pramugari. Dia jelas jauh lebih tinggi dari Boa. Kepalanya saja melewati ketiakku. Yang kusukai adalah kakinya yang seputih susu kontras dengan high heels suedenya yang merah marun. Nampak sangat seksi. Orang mungkin memandangku aneh karena terus menundukkan kepala seperti bocah kumal yang mencari kelereng.

"Nona Kim."

"Ya, Direktur?"

Boleh tidak aku menerjangnya? Rasanya ada bom meledak ketika dia memanggilku direktur. Seperti dipanggil oleh sekertarisku saja. Tapi yang ini sensasinya luar biasa.

"Jangan panggil aku Direktur… Panggil saja namaku."

"Eh?"

Si malaikat menatapku bingung. Dan sedetik kemudian aku ingat kalau aku belum memperkenalkan diriku padanya. Sial, aku malu.

"Namaku Jung Yunho. Kau bisa panggil aku Yunho kalau mau."

Dia berkedip-kedip lucu. Sejuta kali lebih lucu dari kucing peliharaanku yang selalu memandangku dengan mata bulatnya.

"Ah… ya, Tuan Jung."

"Yunho saja 'lah…"

Demi Tuhan! Aku kelepasan merengek manja seperti yang sering kulakukan pada ibuku. Imejku hancur seketika!

"…Baiklah…"

Entah dia risih atau tidak, aku tidak mau tahu. Aku sudah terlalu malu. Semoga saja dia tidak jijik padaku. Semoga saja senyuman yang mempertontonkan gigi kelincinya itu bukan senyum yang dipaksakan.

Aku berharap dia menyebut namaku tapi nyatanya tidak…

Akhirnya kuputuskan memulai percakapan lagi.

"Jadi… Setelah ini kau masih harus kembali ke café?" pertanyaan bodoh. Jung Yunho, tadi 'kan kau dengar sendiri kalau dia akan kembali ke tempatnya bekerja!

Dia menoleh ke arahku dan mengangguk. Sekaligus mengulum senyum yang sangat-sangat manis.

'Kim Jaejoong! Angkat telponnya! Kim Jaejoong!'

"Aduh! Maaf!"

Awalnya aku bingung mengapa ia tiba-tiba meminta maaf. Tapi akhirnya aku sadar ia minta diri untuk mengangkat telpon. Dari wajahnya sepertinya ia merasa malu karena aku mendengar nada dering ponselnya yang tak lazim. Ya. Suara lelaki.

Jangan-jangan itu suara pacarnya? Sampai dijadikan nada dering?

Dia berjalan menjauhiku beberapa langkah, lalu menempelkan ponselnya di telinga.

"Ya, aku sudah selesai. Kau di mana?"

Mataku menangkap sosoknya utuh dari tempatku berdiri. Astaga, bahkan dari belakang pun dia begitu cantik. Padahal wajahnya tidak terlihat.

"Apa? Di depan kantor?"

Dia membungkukkan tubuhnya sedikit, condong ke arah jalanan di depan. Matanya memicing seperti mencoba menangkap sesuatu.

"Ya, ya aku melihatmu. Tunggu sebentar."

Setelah itu ia menjauhkan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Dia kembali padaku untuk berpamitan.

"Maaf aku harus segera pergi. Sampai jumpa, Tuan Jung."

'Panggil Yunho sajaaa!' lagi-lagi aku merengek, tapi dalam hati.

"Ya, hati-hati Nona Kim. Terima kasih karena telah menolongku."

Dia diam sejenak lalu terkekeh. Kekehannya seperti orang tersedak.

"Sama-sama. Aku permisi."

Aku yang tak rela perpisah begitu saja–lagi-lagi–secara diam-diam membuntutinya pergi. Catat gelar baruku sekarang. Aku seorang penguntit.

Si malaikat menuruni tangga dengan cepat tanpa takut jatuh dan terkilir karena high heels yang dipakainya. Langkahnya ringan tapi mantap. Rambutnya tersibak angin yang menantangnya dari arah jalanan. Kulihat dia melambaikan tangan pada seorang lelaki yang duduk di atas sepeda motor. Begitu si malaikat mendekat, lelaki itu melepaskan helm full facenya dan bangkit dari duduk. Tapi kemudian aku agak menyesal karena menyaksikan malaikatku memeluk lelaki itu mesra. Dengan kedua tangan yang melingkar di lehernya. Hatiku mendadak sakit.

Ahh, begitu ya? Si malaikat dijemput oleh pacarnya. Pasti yang tadi menelpon. Pasti yang suaranya jadi nada dering.

Aku menyandarkan diri pada tiang penyangga dengan pasrah sembari memandang mereka tak rela. Dari geraknya, malaikatku sepertinya senang sekali bertemu dengan lelaki itu. Ya, aku memang tak akan pernah mengerti bagaimana senangnya seorang wanita ketika bertemu dengan kekasihnya. Hiks, aku iri.

Eh, sebentar.

Aku menajamkan penglihatanku untuk memastikan sesuatu yang kurasa janggal. Untunglah mataku tidak bermasalah jadi ketika aku fokus pada satu titik, aku bisa melihatnya lebih jelas. Mataku membidik wajah lelaki yang kuduga berstatus sebagai kekasih si malaikat. Sungguh tak percayanya aku pada diriku sendiri. Aku berani bersumpah bahwa wajah lelaki itu bahkan terlihat jauh lebih muda dari pada adikku! Dan apa itu? Aku beralih pada pakaiannya yang sangat kekanakan dengan jaket versity biru putih dan celana krem. Aku yakin celana itu terbuat dari bahan drill untuk seragam sekolah. Seragam sekolah? Ya ampun, aku bahkan melihat ujung kemeja putih dari balik jaketnya! Mengapa dia berpenampilan seperti anak sekolahan begitu?

"Kau sedang memerhatikan apa? Serius sekali."

Jedakk. Kepalaku terbentur tembok saking kagetnya.

"Boa!" aku berteriak padanya karena kesal. Kepalaku sakit! Aku benci ketika dia selalu muncul dengan tiba-tiba seperti hantu.

"Apa?" dengan datarnya dia bertanya. Aku geram.

"Minggirlah!"

Aku mencoba mengabaikannya dan kembali fokus pada malaikatku–dan kekasihnya–. Sayangnya sepeda motor itu sudah meninggalkanku dengan tega.

Aku kecewa. Bersandarlah aku pada tembok seakan itu adalah bahu ibuku.

"Kenapa 'sih? Kau terlihat sedih sekali."

"Malaikatku…"

"Siapa? Jodohmu itu?"

"Dia sudah punya pacar…"

"Lho? Lalu kau…?"

Boa mengikuti arah pandangku ke jalanan.

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

TO BE CONTINUED

:::

Waduh waduh direktur Jung!

Saya sebetulnya nggak pingin bikin Yunho cerewet loh. Tapi kayaknya narasi dari povnya Yunho terkesan bawel banget ya! Hahahahaha.

Disini juga saya banyak pake gaya perumpamaan. Soalnya saya sendiri kalo mendeskripsikan sesuatu pasti kayak begitu hehehehe. Tokoh aku di sini sebetulnya saya sendiri yang bakal menuturkan kecantikan Jejung dengan sederet kalimat panjang, muahahahaha. Jadi maaf ya kalo Yunho saya pinjem buat tokoh aku. Padahal Yunho nggak begini, ini mah curhatnya saya aja *dihajar*

Kira-kira, siapa terduga anak sekolah yang jemput Jaejoong? Hayolo Yunho, siapa tuh?

:::

THANKS FOR READ!

MIND TO REVIEW?

:::