Aku tak bisa menahan keingintahuanku akan si nona malaikat. Akhirnya aku mendekati karyawan-karyawan di divisi humas untuk mendapatkan informasi. Setidaknya tentang café La Storia tempatnya bekerja. Tentulah aku mendekati yang wanita, tapi betapa sialnya aku ketika mereka menunjuk si botak untuk menceritakannya padaku. Alasannya karena ia yang menangani rubrik jam dan La Storia. Tapi tetap saja aku enggan! Aku tidak suka mengobrol dan minum es kopi bersama pria! Tapi… Demi malaikatku…

Aku mengabaikan perasaan geli setiap aku tak sengaja menatap kulit kepalanya yang terlihat dari balik helai-helai rambut tipisnya itu. Pemandangan di luar lebih menarik ketimbang dirinya. Kalau yang duduk di hadapanku adalah seorang wanita, meski pun wajahnya tidak cantik, aku masih bisa memandang bagian lain di tubuhnya yang bisa saja lebih bagus dari wajahnya. Tapi kalau laki-laki? Mau pandang apa? Lebih baik aku memandang iklan di layar besar di gedung seberang. Ada wanita cantik yang jadi model iklan kosmetik.

Aku menanyakan padanya hal-hal yang ingin kutahu dan dia menerangkannya dengan runtut. Termasuk jadwal La Storia akan diliput. Katanya mereka dari divisi humas dan beberapa orang fotorgafer akan datang pada hari Sabtu minggu depan.

"Ngomong-ngomong… Apa saya boleh tahu mengapa Direktur begitu tertarik dengan café ini?"

Si botak dengan lancangnya bertanya padaku dengan tampang polosnya yang menjemukan.

Aku tersenyum setelah menyedot habis es kopiku yang memang tinggal sedikit.

"Kau pikir aku akan menjawabnya?"

Aku hanya meninggalkannya dalam kebingungan yang canggung. Tentu setelah aku membayar dua es kopi yang telah kupesan.

:::

Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

Chapter 3: Lampu Café yang Temaram

A TVXQ FANFICTION

DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES

YUNJAE/MINJAE/SUJAE

GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!

ROMANCE/COMEDY

OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN

DON'T LIKE DON'T READ!

:::

Aku memang tidak bisa melupakan tragedi di mana aku melihat Nona Malaikat memeluk kekasihnya–yang setelah kuceritakan pada Boa–, lelaki itu kuyakin hanyalah seorang anak SMA. Nona, lihatlah aku, umurku sudah matang, aku mapan, tampan, dan menawan! Aku bisa mengantarmu ke mana pun kau mau dengan mobil mewah, aku bisa membelikan apa pun yang kau mau tanpa perlu pikir-pikir soal harga –kecuali kau meminta rumah, akan kupikir-pikir dulu–, aku, aku. Dan aku terus menggerutu dalam hati sampai aku kesal sendiri, tapi berakhir dengan keputus asaan ketika aku berpikir mungkin saja Nona Malaikat memang mencintai kekasihnya tanpa memandang usia, status, penampilan atau pun penghasilan sekali pun…

Boa siap menyulut dupa di mejaku untuk mendoakanku yang akan mati mengenaskan.

Menyedihkan sekali memikirkan hal itu.

"Kau tidak pulang? Si Yoyo pasti sudah menunggumu."

"Aku tidak mau pulang. Dia akan menggigitku dengan gigi-giginya yang tajam."

Boa meninggalkan gelasnya di atas mejaku sementara ia pergi lagi entah ke mana. Mungkin membereskan letak buku-buku di rak yang tak beraturan. Aku mulai berpikir mengapa waktu itu aku memutuskan untuk membeli seekor kucing dan memeliharanya di rumahku. Padahal kucing itu tidak begitu lucu seperti kucing lain yang kulihat di pet shop. Hanya saja bentuk tubuhnya yang lebih gemuk dari kucing lainnya membuatku merasa tersinggung. Aku pernah punya otot-otot yang membentuk tubuhku di usia dua puluhan, yang belakangan ini menghilang entah ke mana. Aku dan Yoyo seperti memiliki ikatan batin. Tapi Boa bilang itu hanya omong kosong.

Bfffftttt! Aku menyemburkan air yang baru saja kuminum dari gelas milik Boa. Mejaku, sekaligus dokumen-dokumen di atasnya basah.

"Ini apa 'sih?" ucapku sembari membersihkan mulutku yang basah.

"Hahahaha! Kenapa kau meminumnya?"

"Kukira ini kopi!"

"Itu obat pereda nyeri haid!"

Lalu aku marah pada isi cangkir itu.

"Sekertaris Ma! Ambilkan kain lap!"

Boa menertawaiku keras-keras.

Besoknya, aku bergegas pulang dari kantor. Setelah menghabiskan berhari-hari untuk berpikir keras mengenai langkahku yang harus maju atau tidak, akhirnya aku memantapkan keputusanku untuk maju. Dengan mengabaikan apa pun yang terjadi, termasuk kenyataan bahwa malaikatku sudah punya pacar, aku akan maju untuk mengenalnya lebih jauh. Ibuku pasti bangga karena aku tak lagi menjadi pembeli ikan di toko, tapi akulah si pemancing ikan itu sendiri!

Tanpa menunggu orang-orang dari kantor meliput café La Storia, aku datang sendiri untuk menemui si malaikat. Dalam perjalananku menuju café itu, aku tak henti-hentinya mencemaskan penampilanku. Apakah rambutku sudah rapi? Apa bajuku tidak kusut? Apa aku masih wangi sewangi ketika aku baru sesesai mandi? Apa retsleting celanaku sudah tertutup rapat? Dan lain lain yang terus kupikirkan. Tapi semoga saja aku masih terlihat baik.

Aku memastikan wajahku masih tetap tampan lewat kaca spion. Entah mengapa aku tiba-tiba merasa tidak nyaman dengan bentuk rambutku yang ikal berundak-undak. Aku membayangkan diriku seperti anak SD kelas tiga tukang makan es krim dan pergi ke sekolah dengan mengenakan over all.

Ckiittt! Tanpa pikir panjang aku langsung putar balik ke arah salon langgananku.

"Yacchi! Tolong potong rambutku dengan cepat, ya!"

Ketika sampai, aku langsung memanggil tukang cukur yang sudah biasa memangkas rambutku di salon ini.

Maaf ya, aku tidak datang ke salon di mana ada wanita-wanita berjejer di kursinya menunggu rambutnya selesai di creambath. Salon langgananku adalah versi elit dari tempat pangkas rambut biasa. Dan khusus laki-laki. Jadi tidak ada wanita di sini. Baik itu pelanggannya atau pun tukang cukurnya –kecuali jika ada wanita yang disuruh menunggu kekasihnya cukur rambut, tapi itu juga jarang–.

"Kau sedang buru-buru? Kau mau ke mana? Ada janji?"

"Yaaa begitu 'lah!"

Yamada atau yang sering kusebut Yacchi segera mengeluarkan senjata cukurnya ketika aku duduk di sebuah kursi yang kebetulan kosong. Aku bingung mau mengatakan apa padanya. kalau kuceritakan mungkin akan panjang lebar. Mungkin ia akan menertawaiku kalau tahu aku akan menemui seorang wanita dan mendadak minta dicukur secara tiba-tiba. Saat itu tidak terpikirkan olehku untuk bohong dan mengiyakan saja pertanyaannya.

"Kau mau model yang seperti apa?"

Aku tercenung di depan cermin. Betul juga, aku datang ke sini tanpa memikirkan model rambut apa yang kuinginkan –atau model rambut yang malaikatku sukai–.

"Yang seperti itu saja 'lah!"

Aku tidak terlalu peduli bagaimana hasilnya, aku langsung saja menunjuk salah satu foto yang terpampang di dinding salon. Jangan kau kira foto-foto itu foto model lama yang terlihat kuno. Semuanya model baru yang sedang tren.

Yang kupikirkan saat itu, aku harus memiliki potongan rambut yang maskulin. Pendek dan bagian depannya bisa kusisir ke atas. Karena kupikir penampilanku agak kekanakan saat ini, aku harus terlihat lebih dewasa di depan Nona Malaikat.

Tapi…

Mengapa aku sedikit sedih ketika Yacchi selesai memangkas rambutku?

Bukan karena potongannya yang jelek dan tidak rapi. Tapi tiba-tiba terpikirkan olehku kalau saja si malaikat memang suka laki-laki yang kekanakan. Dan aku telah membuang rambut ikal berundak yang menutupi kepalaku. Aku telah membuang satu poin kekanakan yang mungkin saja malaikatku sukai.

"Kau tidak suka?"

Aku menggeleng pelan. Masih terbawa perasaan.

"Maaf, ya. Tapi sayang sekali aku tidak bisa mengembalikan rambutmu seperti semula."

"Ah, tidak, tidak! Potongan ini bagus 'kok! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu tadi."

Aku cepat-cepat berkata seperti itu setelah melihat Yacchi kecewa. Aku memang menggelengkan kepala tadi, tapi bukan maksudku untuk mengiyakan perkataannya kalau aku tidak suka. Sebetulnya tadi jawabanku adalah 'Tidak tahu.'.

Mengingat aku masih harus mengejar waktu untuk menemui si malaikat, aku segera membayar sejumlah uang di kasir dan pergi dari salon itu. Beberapa wanita yang kebetulan lewat melirikku dengan mata yang jelas sekali ada ketertarikan di dalamnya. Mereka memasang senyum manis padaku. Ada yang melihatku tanpa berpaling sementara kakinya terus berjalan, ada juga yang sampai tersandung. Aku senang dinikmati. Itu cukup mengembalikan kepercayaan diriku yang tadi bobrok dan runtuh. Aku masuk ke mobil setelah menyisir rambutku dengan jari di depan spion samping.

Aku berharap saat aku sampai di La Storia, aku belum ketinggalan apa-apa.

Persis seperti yang kubayangkan. Dari luar saja sudah kelihatan kalau isinya temaram dengan banyak ornamen-ornamen kayu dan lampu-lampu bercahaya kekuningan tergantung di langit-langitnya. Di sisi-sisi kaca depannya ada tumbuhan yang merambat seperti bingkai. Nama cafénya terpampang jelas di depan mataku dengan tulisan sambung bercetak miring. Aku sampai kira-kira pukul setengah tujum malam saat itu. Dan Nona Malaikat sedang duduk di undakan yang menyerupai panggung bersama band pengiringnya.

Aku masuk dengan menghela napas panjang untuk mengumpulkan kepercayaan diri terlebih dahulu. Kau mungkin akan bertanya-tanya mengapa orang sepertiku masih perlu melakukan itu. Begini-begini aku masih sering merasakan yang namanya krisis kepercayaan diri. Bertemu Nona Malaikat bahkan jauh lebih menegangkan daripada bertemu Presdirku yang tampangnya sangar seperti amanojaku –setan yang suka mengganggu orang–.

Dua orang pelayan menyambutku di depan pintu. Yang satu mengantarkanku ke meja kosong –sementara meja lain ternyata sudah penuh–. Sambil berjalan aku melirik si malaikat yang terlihat menikmati musik. Cukup jazzy, dan sepertinya aku pernah mendengar intro yang sedang dimainkan ini. Sambil menutup mata dia menggoyang-goyangkan kepalanya sedikit mengikuti ketukan drum yang ringan. Santai sekali. Aku berhenti untuk menunggu nyanyiannya ia lantunkan saat kulihat ia mulai membuka mulutnya dan menarik napas.

'My beautiful man, come to me… Give me back my stopped time and heart…'

Aku terpukau. Ia sungguh memesona. Lampu-lampu di atasnya jelas kalah terang dengan pesonanya. Nyanyian yang begitu lembut itu seakan menyeretku ke awang-awang. Dia seakan membelaiku dengan pakaian kahyangannya.

"Maaf, Tuan."

Aku lupa pada pelayan yang berdiri di sampingku. Harusnya aku ingat kalau dia berkewajiban mengantarku dan segera kembali ke tempatnya untuk menyambut tamu yang lain. Aku meminta maaf padanya lalu kami berjalan ke meja kosong yang ia tunjukkan. Aku menyempatkan diri menoleh ke belakang, di mana Nona Malaikat masih melantunkan lagunya dengan indah.

"Silakan."

"Terima kasih."

Setelah aku duduk tak lama datang pelayan yang lain membawa note kecil dan sebuah buku menu. Nona Malaikat masih bernyanyi ketika aku sibuk memilih menu. Sebetulnya aku tidak ingin melepaskan pandanganku darinya tapi konyol sekali kalau aku menatapnya terus-terusan dan mengabaikan pelayan itu. Mungkin dia akan menganggapku tamu kampungan yang baru pertama kali melihat live music di sebuah café seperti ini.

"Aku pesan americano dan waffle strawberry saja."

Lucu rasanya jika kukatakan ini. Ada alasan mengapa aku memesan waffle strawberry. Nona Malaikat saat itu di mataku terlihat seperti waffle dengan es krim vanilla dan potongan strawberry yang diberi saus madu. Dia mengenakan kemeja berwarna cokelat muda keemasan seperti warna waffle yang dipanggang sempurna. Rambut pirang pucatnya seperti es krim vanilla, tapi yang ini tidak berbentuk bulat karena disendok dengan scoop, melainkan agak bergelombang, dan separuh bagian rambutnya disisir ke belakang, mempertontonkan telinga kupu-kupu dan giwang merah berkilapnya. Giwang itu senada dengan sepatunya yang lagi-lagi berwarna merah –namun yang ini lebih gelap dari kemarin– yang bentuknya menutupi punggung kakinya, atau bisa dibilang itu boots, tapi punya hak tinggi yang tipis di bawahnya. Itu strawberry. Celana hitam yang ia pakai kuhitung sebagai batang vanilla yang biasa jadi hiasan waffle. Dan gelang-gelang juga cincin yang melingkar di pergelangan tangan dan jari-jarinya berkilap kekuningan tersorot sinar lampu, jadinya seperti saus madu.

Seketika aku merasa sangat lapar. Entah aku lapar sungguhan yang artinya aku benar-benar perlu mengisi perutku, atau aku hanya lapar secara konotatif yang artinya aku menginginkan Nona Malaikat. Aku tidak bisa membedakan keduanya karena ketika pesananku datang, aku tanpa ragu mencicipi saus madu yang bercampur dengan strawberry yang asam –tapi tanpa melepas pandanganku dari wanita itu–.

Prok, prok, prok! Tepuk tangan meriah dari tamu menyadarkanku kalau lagu yang dia bawakan sudah selesai. Aku terlalu terpesona hingga empat lagu yang dinyanyikan itu terasa begitu pendek dan singkat. Nona Malaikat turun dari panggung, mungkin untuk beristirahat atau sekedar minum. Ia berjalan ke suatu arah yang kebetulan melewati mejaku. Langsung saja aku ambil kesempatan untuk mencegatnya.

"Nona Kim!"

Wanita itu langsung menoleh tepat padaku.

"Ah! Direktur!"

Jujur aku agak kecewa dengan reaksinya ketika memanggilku begitu. Yang kuinginkan sebetulnya adalah sebuah panggilan akrab, tanpa embel-embel jabatan, dan hanya namaku saja. Obrolan kami berhari-hari lalu sepertinya tak berkesan banyak baginya hingga ia tak ingat siapa namaku.

Dia juga nampak bingung mengapa aku hanya sendirian di meja itu tanpa ada siapa pun menemaniku, termasuk orang-orang humas atau si botak yang bicara dengannya waktu itu. Dia menyangka aku datang ke café ini untuk urusan pekerjaan, mungkin.

"Aku senang bisa mendengarkan nyanyianmu yang begitu indah! Aku sengaja datang ke sini untuk menemuimu."

Tak sampai satu detik aku langsung menyesali kata-kataku yang terdengar begitu polos dan murah. Jung Yunho! Sebagai seorang direktur kaya, tidak bisakah kau sedikit jual mahal pada seorang wanita?!

Nona Malaikat hanya ber-oh ria dengan mulutnya yang membentuk lingkaran. Pada akhirnya dia sudah tahu kalau aku tertarik padanya. Ampuni aku nenek, jika Nona Malaikat menghindariku setelah ini.

"Aku juga dapat rekomendasi dari teman-temanku kalau café ini tempat bersantai yang nyaman… Dan kopinya enak…" aku tersenyum getir menahan rasa maluku sendiri. Sialnya, kalimatku barusan tidak menutupi kebodohan terbesarku di awal.

"Ahh begitu…" dia terkekeh. "Aku sangat ingin mengobrol denganmu tapi aku masih harus ke sana sebentar." dia menunjuk sebuah pintu kecil di belakang konter kue. Aku menoleh dan kupikir itu mungkin saja ruangan tempatnya beristirahat.

"Kalau kau mau minum, akan kupesankan minum untukmu." aku menggeram dalam hati, mengapa kata-kataku tidak bisa direm? Aku jadi terkesan memaksanya untuk berlama-lama bersamaku.

"Tidak, terima kasih. Aku sudah punya minumku sendiri. Aku sangat menghargai kebaikanmu tapi aku permisi dulu."

Nona malaikat membungkuk padaku lalu melenggang pergi. Kata-katanya seperti bahasa geisha zaman Edo yang ramah dan menjaga perasaan lawan bicara. Dan dengan cara itu pula ia menolak sesuatu. Untuk kasus Nona Malaikat, aku tidak mengerti apa dia memang ingin bicara denganku tapi tak punya waktu atau benar-benar menghindariku dengan caranya yang halus.

Setelah bayangannya tak terlihat lagi, aku duduk –atau lebih tepatnya menjatuhkan bokongku ke kursi–, dan menghabiskan waffleku dengan tak selera.

Mungkin saja aku memang sudah di tolak olehnya. Lagi pula mengingat dia sudah punya pacar, mungkin dia juga tak suka terus kudekati.

Hahh… Kupikir setelah menghabiskan waffle ini aku akan pulang ke rumah dan bergulung dalam selimut bersama kucing peliharaanku.

Hatiku hancur.

Sekitar jam setengah delapan, aku keluar dari café itu. Kursi di atas panggung tempat Nona Malaikat duduk tadi mengingatkanku pada perbuatan bodoh yang sudah menghancurkan harapanku sendiri. Aku datang dengan semangat untuk menghabiskan waktu dengannya, mengobrol dan menikmati secangkir kopi berdua, sampai aku memangkas rambutku begini demi dia. Tapi dia malah menghindariku.

Aku mengabaikan dua pelayan di pintu yang berterima kasih atas kedatanganku dan berjalan seperti sepatulah yang menyeretku. Aku menjatuhkan pandanganku ke bawah sampai ketika bahuku ditubruk oleh seorang lelaki.

"Maaf!"

Lelaki itu membungkuk sedikit sebelum melanjutkan langkahnya yang terburu-buru. Aku acuh saja, 'toh aku tidak jatuh, atau terluka, atau bajuku kotor karena tubrukannya tadi. Lagi pula mungkin ia tak sengaja menubrukku. Aku berjalan lagi untuk mengambil mobilku yang terparkir di lahan kosong di samping café, tapi aku berhenti ketika cahaya lampu jalan yang cukup terang memayungi sebuah sepeda motor dan helm full face yang tergantung di stangnya.

Kurasa aku pernah melihat kendaraan beroda dua ini.

Mungkinkah…

Lelaki yang tadi menubrukku adalah lelaki yang sama yang menjemput Nona Malaikat waktu itu?

Aku telah melewatkan sesuatu. Aku tak melihat wajahnya saat ia meminta maaf padaku. Yang kuingat hanya jaket hitamnya, tingginya yang sama denganku, dan sebuah kantung kertas silver di tangannya.

Aku memandang pintu masuk café di belakangku dengan ekspresi yang tak bisa kugambarkan sendiri, dan aku tak ingat lagi mengapa aku bisa terbangun jam tiga pagi dengan stelan jas yang masih menempel di tubuhku dan Yoyo yang mendengkur keras di atas perutku. Ibu menegurku karena tak juga naik ke kamar setelah pulang dan malah tidur di sofa tanpa mengganti baju.

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

TO BE CONTINUED

:::

Tsah! Direktur Jung pulang dengan kecewa!

Lirik lagu yang dinyanyiin Jejung adalah lagu "Smoky Heart" punya Homin. Tapi saya pakai terjemahan bahasa inggrisnya dengan sedikit perubahan di bagian awal, di mana harusnya itu 'My beautiful woman', jadi 'My beautiful man'. Menurut saya, kata beautiful sendiri bisa digunakan secara bebas dan bukan hanya dalam artian cantik aja, tapi juga indah. Laki-laki juga masuk hitungan indah 'kan? Agak janggal kalo Jejung yang perempuan nyanyiin lagu untuk perempuan lagi. Hehehehe.

Ini siapa 'sih yang Yunho yakin banget pacarnya Jejung?

Kita tunggu kelanjutannya di chapter depan! ^^

:::

THANKS FOR READ!

MIND TO REVIEW?

:::