Dalam suatu malam yang tak terduga, beberapa hari setelah aku datang ke café itu, aku bertemu lagi dengan si nona malaikat di sebuah konbini. Aku yang kala itu kelaparan di tengah jalan, dan entah mengapa mobilku mendadak mogok sehingga aku tidak bisa melanjutkan perjalananku pulang ke rumah, berhenti di depan sebuah konbini di pinggir jalan. Aku, dengan tak percayanya melihat Nona Malaikat berjalan di depanku entah dari arah mana, dan dia berhenti ketika dia sadar sedang dipandangi oleh makhluk seperti aku, yang mungkin ia sama terkejutnya denganku hingga kami sama-sama tidak memalingkan pandangan selama beberapa saat.
"Direktur?"
Sampai akhirnya dia memecah keheningan dengan suaranya yang lembut namun bagiku bernada seperti bentakan.
Aku masuk ke konbini tanpa mengatakan apa-apa padanya hingga mungkin membuatnya heran sendiri dengan gelagatku yang tidak jelas. Ya, saat itu kuakui sangat canggung bagiku untuk mengajak Nona Malaikat bicara. Dia mengikutiku masuk konbini, dan terus mengikutiku sampai aku berhenti di bagian deretan ramen instan. Aku menoleh padanya dengan niat pura-pura marah karena diikuti. Tapi betapa malunya aku karena ternyata dia mengambil beberapa bungkus ramen dengan menatapku begitu instens seperti orang linglung. Kupikir keheranannya semakin menjadi ketika aku mengerutkan wajahku seperti menuduhnya menguntit, padahal dia hanya ingin mengambil barang yang akan dibelinya saja –yang kebetulan sama denganku, ramen–. Aku terlalu percaya diri!
:::
Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho
:::
YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない
Chapter 4: Aku Hanyalah si Pelancong yang Singgah Di Rumah Minum Teh
A TVXQ FANFICTION
DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES
YUNJAE/MINJAE/SUJAE
GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!
ROMANCE/COMEDY
OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN
DON'T LIKE DON'T READ!
:::
"Kau makan ramen?" meluncurlah pertanyaan bodoh dari mulutku. Rasa-rasanya setiap bertemu dengan Nona Malaikat aku akan kehilangan IQ-ku sebagian.
"Kenapa kau bertanya seperti aku makhluk planet lain yang tidak makan ini?" tunjuknya pada sebungkus ramen yang ia pegang.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Wajahnya mencebik bingung.
"Kukira kau tidak makan makanan instan yang… Yaah, banyak penyedapnya seperti ini."
"Oh! Kau bukan orang Jepang kalau tidak makan ramen!"
Dia bergurau dan tertawa. Aku masih merasa agak canggung untuk tertawa jadi aku hanya tersenyum saja.
"Aku tidak pernah melihatmu di sini. Di mana rumahmu, Direktur?"
Wajahku bagai lampu neon yang baru ditekan saklarnya. Menyala tiba-tiba. Tak bisa kupungkiri kalau aku senang karena dia bertanya di mana rumahku.
"Di Easton Park."
"Wah! Apartemen mewah itu ya? Letaknya 'kan cukup jauh dari sini!"
"Emm… Mobilku mogok dan aku lapar jadi aku mampir ke sini untuk membeli ramen…"
Nona Malaikat ber-oh ria seperti waktu itu. Tapi kali ini wajahnya lebih cerah.
"Ngomong-ngomong… Sedang apa Nona di sini?"
"Tentu saja membeli ramen!"
"Maksudku, bukankah Nona seharusnya ada di La Storia di malam hari begini?"
"Oh! Hahaha, maksudmu itu. Aku sedang libur."
Dari raut wajahnya bisa kulihat dia sepertinya sedang bahagia. Aku akhirnya mulai berpikir kalau waktu itu dia bukan menghindariku, hanya tak punya waktu untuk berbincang denganku. Buktinya dia berbicara tanpa maksud minta diri untuk pergi. Sangat santai dan ramah.
"Nona sendiri… Di mana rumahmu? Tak mungkin sama denganku 'kan, yang kelaparan di tengah perjalanan pulang dan terhenti di depan konbini gara-gara mobil mogok?"
"Aku bahkan tidak punya mobil!" tawanya berderai. Aku memang bergurau tapi tak kusangka reaksinya akan begini. Dia menganggapku lucu. Padahal kukira dia akan mengatakan kalimat itu sambil memasang wajah tersinggung. "Rumahku dekat sini, dan kebetulan ramenku habis jadi aku harus membelinya dulu sebelum kumasak untuk Changmin."
Sebetulnya ingin kutanyakan siapa yang dia maksud 'Changmin' itu. Tapi aku malah ber-oh ria seperti yang dia lakukan.
"Jaejoong!"
Aku mendengar seseorang berseru bersamaan dengan suara pintu konbini yang terbuka.
"Changmin?"
Nona Malaikat menoleh, dan lagi-lagi ia menyahut dengan nada bentakan seperti saat dia memanggilku di depan konbini. Aneh memang. Nadanya aneh betul.
Lelaki yang memanggilnya adalah lelaki yang sama dengan yang menubrukku di La Storia waktu itu. Jadi dia kekasih Nona Malaikat? Dia yang namanya Changmin?
"Kenapa kau menyusulku?"
"Ada si Junsu datang ke rumah. Sepertinya kau harus membeli lebih banyak ramen. Dia mungkin datang ke rumahmu untuk minta makan."
"Laki-laki satu itu! Dia tidak bilang akan ke rumah!"
"Mana kutahu?"
Aku seperti debu di antara dua vas bunga yang berdampingan. Aku memposisikan tubuhku agak mundur ke belakang, sedikit menjauh dari mereka yang sedang bercakap-cakap tapi terlihat seperti orang bertengkar. Baru kutahu ada model pacaran yang seperti itu. Aku pura-pura memilih-milih ramen lain dan meninggalkan ramen yang tadi sudah kuambil dari tempatnya. Tapi mataku sesekali melirik pada mereka. Aku tahu aku mungkin dilupakan begitu saja oleh si nona malaikat ketika kekasihnya datang.
"Maaf, Tuan yang di sana. Mengapa kau terus saja melihat ke arah wanita ini? Apa ada sesuatu di rambutnya yang mengganggumu? Ketombe sebesar biji semangka, mungkin?"
"Changmin!"
Perkataan lelaki muda itu jelas membuatku tercengang. Nona Malaikat menegurnya dengan memukul lengannya kencang. Wanita yang tadinya memunggungiku itu berbalik dan menatapku dengan rasa bersalah.
"Maafkan dia, Direktur. Dia memang tidak sopan!"
"Direktur?"
Alis si wajah kekanakan itu naik sebelah.
"Nanti saja kujelaskan di rumah." Nona Malaikat memutar tubuh bocah itu dan menyuruhnya pergi –atau menunggunya di luar mungkin–. "Sungguh tidak sopan jika aku tidak mengundangmu untuk singgah ke rumahku di saat seperti ini. Lagipula Direktur sedang lapar 'kan? Bagaimana kalau Direktur makan bersama dengan kami di rumahku?"
Ini kesekian kalinya aku mendengar si nona malaikat berbicara seperti geisha –yang menurutku sopannya keterlaluan–. Aku tidak berkomentar apa pun selama wajah bocah itu masih menatapku tak suka meski pun ia berada di luar. Tapi aku juga tak enak jika menolak. Nona Malaikat sudah sangat baik menawarkan rumahnya untuk kusinggahi. Mengingat aku belum sepenuhnya menghilangkan ketertarikanku pada wanita itu, mana mungkin aku tolak mentah-mentah?
Akhirnya aku mengiyakan tawarannya. Aku berpura-pura ponselku mati karena habis baterai dan berkata tidak bisa menelpon sopirku untuk menjemputku pulang. Dengan bantuan penjaga konbini yang menelpon entah-siapa-itu-aku-tidak-tahu, mobilku di derek ke bengkel terdekat. Dan akan kuambil jika telah selesai. Aku tak tahu kapan mobil itu akan beres diperbaiki karena aku tak mengerti rusaknya di mana. Ini ulah dewa kemalangan atau memang takdir baik yang mempertemukanku dengan Nona Malaikat? Aku tak tahu mana yang harus kuyakini di antara keduanya.
"Oh! Hujan!"
Hujan tiba-tiba turun di perjalanan menuju rumah si nona malaikat. Aku melepas jasku untuk melindunginya dari hujan, tapi rupanya aku kalah cepat dari kekasihnya yang entah bagaimana sudah melepas jaketnya lebih dulu, tahu-tahu dia sudah berlindung berdua dengan Nona Malaikat. Aku bengong sesaat seperti kucing kehilangan ikannya.
Si wajah bayi –kusebut begitu karena wajahnya amat sangat muda seperti anak kecil– tak berbicara apa-apa padaku atau pun pada Nona Malaikat sampai kami tiba di rumahnya. Nona Malaikat menggedor pintu cukup keras karena rupanya pintu itu dikunci. Mungkin oleh si Junsu yang menunggu mereka di dalam –entah mengapa dengan mudah aku ingat namanya–. Benar saja, tak lama pintu itu terbuka dan menampakkan sosok seorang laki-laki yang wajahnya seberantakan rambutnya. Dia seperti baru bangun tidur –bangun karena gedoran keras dari Nona Malaikat kukira–.
"Di luar hujan, ya?"
Ucapnya ketika si wajah bayi masuk, disusul Nona Malaikat. Lalu ketika aku akan melangkahkan kakiku masuk ke dalam mengikuti mereka, di mulut pintu si Junsu itu menatapku aneh dengan memicingkan matanya.
"Siapa ini?"
Dan dia membuatku bingung yang mana di antara kedua lelaki ini yang merupakan kekasih Nona Malaikat sebenarnya.
Nona Malaikat menjatuhkan kantung plastik belanjaannya ke lantai, dengan cepat kembali ke depan pintu untuk menyambar tanganku dan menyeretku masuk tanpa memedulikan si Junsu. Aku tahu pria itu bingung. Sama, aku juga.
"Maaf rumahku sempit. Tapi duduklah di sini sementara aku memasak. Changmin, ambilkan handuk kering dan buatkan teh untuk Direktur."
Keyakinanku akan si wajah bayi yang berstatus sebagai kekasih Nona Malaikat mulai hilang setelah wanita itu berkata demikian. Mana mau seorang pria diperintah begitu oleh kekasihnya? Tapi dia menurut saja tanpa protes –padahal mungkin bisa menolak–, hanya saja mulutnya bergumam kecil dan tak ku mengerti. Dia pergi ke sudut lain rumah ini dan entah ke mana, Nona Malaikat pun sama. Tinggallah aku berdua dengan si Junsu di ruangan itu. Matanya mengerjap-erjap lambat dengan mulut mengecap-ngecap. Ia menggaruk-garuk rambutnya yang sekusut benang sisa. Aku tidak yakin apa yang harus kubicarakan dengannya.
Aku melonggarkan ikatan dasiku dan sepertinya si Junsu melihatnya.
"Ayo perkenalkan dirimu, Tuan Dasi. Seingatku Mameha tidak pernah membawamu ke sini sebelumnya."
Mameha? Dahiku berkerut bingung. Awalnya aku tak mengerti yang dia maksud, tapi akhirnya aku tahu kalau 'Mameha' yang dia sebut adalah Nona Malaikat.
Changmin, si wajah bayi, datang dengan melempar selembar handuk kering yang tepat jatuh di kepalaku sebelum aku menangkapnya. Si Junsu tertawa tapi matanya tak terbuka. Setelah itu si wajah bayi pergi lagi entah ke mana. Tanpa teh untukku.
"Sampai mana tadi? Oh ya. Kau belum memperkenalkan dirimu."
"Aku Jung Yunho."
"Namaku Junsu, salam kenal. Pasti ada alasan mengapa Mameha membawamu ke sini."
"Sebenarnya aku ingin bertanya mengapa kau memanggil emm… Jaejoong dengan nama 'Mameha'?" aku agak kelu menyebut nama Nona Malaikat secara langsung.
Si Junsu tertawa. Dia kemudian bercerita mengapa Nona Malaikat dia sebut dengan nama itu. Katanya baru-baru ini dia menghabiskan waktu untuk membaca sebuah buku tebal tentang kisah seorang geisha, dan di dalamnya ada tokoh yang begitu cantik, bijak, dan dewasa bernama Mameha. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia seenak hati mengganti nama Nona Malaikat –maksudku Kim Jaejoong– menjadi Mameha. Katanya dia suka. Dan alasan dari suatu rasa suka bukanlah sesuatu yang bisa dideskripsikan. Dia bertanya macam-macam padaku, mulai dari yang tidak penting sampai yang menurutku agak pribadi, namun kebanyakan dialah yang bercerita tentang dirinya sendiri dan kehidupannya. Dari penuturannya, kupikir dia orang yang pikirannya dewasa dan tahu banyak hal, tapi penampilan luarnya menutupi semua itu seakan dia hanyalah ubi bakar biasa, yang ternyata isinya legit dan manis.
Kekasih Nona Malaikat mungkin bukan bocah kasar itu, tapi pria ini. Mungkin. Aku masih menerka dan belum punya jawaban jelas. Tapi yang jelas pria ini lebih ramah dari yang kukira.
"Eh, mumpung si Mameha sedang sibuk di dapur… Bagaimana kalau kita sedikit bergosip?" dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menantang meja yang memisahkan kami, dengan tangan terbungkus saku jaket parasutnya.
"Maksudmu?"
"Katakan padaku apa yang kau sukai dari wanita itu."
Aku yakin keterkejutanku begitu terlihat jelas di matanya. Dia terkikik geli seperti melihat kerupuk senbei jatuh dari mangkuknya. Mungkinkah ini bentuk kecemburuannya padaku karena Nona Malaikat telah membawaku ke rumahnya?
"Aku tidak tahu." kujawab senaif mungkin.
"Tukang bohong! Mana mungkin ada pria yang tidak tahu apa yang dia sukai dari seorang wanita, apalagi wanita seperti dia!" si Junsu mengangkat dagunya marah. "Jujur saja padaku, tidak akan kukatakan pada Mameha!"
Akhirnya aku mencoba menyusun kata-kata di kepalaku untuk kuucapkan.
"Aku suka… Kakinya."
"Wuah!" dia menegakkan tubuhnya kaget. "Apa yang sudah kau lakukan dengannya sehingga kau bisa melihat kakinya?"
"Emm… Aku hanya kebetulan bertemu dengannya beberapa waktu lalu dan kupikir kakinya begitu cantik dengan high heels merah yang dipakainya, juga punggung kakinya yang sedikit terlihat." aku tak tahu mengapa aku mengutarakan ini secara gamblang pada pria yang kemungkinannya berkali-kali lipat lebih besar dari pada si wajah bayi kalau dia kekasihnya Nona Malaikat.
"Hmm… Kukira kau sudah tidur dengannya atau apa…" dia mengangguk-angguk. "Jadi kalian baru kenalan?"
Aku hanya tertawa getir.
"Kalau begitu kau pasti belum pernah melihat kakinya secara utuh 'kan? Atau pun bagian tubuhnya yang lain?"
Aku menelan ludah dan mengatupkan bibirku rapat-rapat. Si Junsu mencondongkan tubuhnya lagi.
"Aku pernah melihatnya telanjang bulat… Dan aku mengangkatnya keluar dari bak mandi karena dia kelelahan, collapse dan tidak bisa bangun. Changmin tak cukup berani melakukan ini tapi aku melakukannya dengan senang hati."
Kali ini aku benar-benar seperti senbei yang pecah menjadi remah-remah.
"Jangan katakan ini pada Mameha karena dia tidak pernah tahu aku yang melakukannya. Dia hanya percaya pada Changmin…"
Bisiknya semakin pelan saat menyebut nama bocah itu. Kepalanya menengok kesana-kemari takut-takut ada yang mendengar. Tapi setelah ia memastikan tidak ada yang menguping ia tersenyum puas dan merogoh saku jaketnya lebih dalam.
"Jadi… Si Changmin itu sebenarnya siapa?" setelah menata perasaanku yang kacau, aku menanyakan bocah itu dengan suara yang sama seperti saat si Junsu menyebut namanya.
"Bisa dibilang adiknya Mameha. Tapi bukan adik kandung."
"Kukira mereka sepasang kekasih?"
"Kau bercanda! Mana mungkin! Lihatlah dari caranya memperlakukan anak itu! Seperti ibu yang mengurus anaknya sendiri!"
Aku tak mengerti dengan ini. Entah karena IQ-ku yang dikikis oleh Nona Malaikat, atau pikiranku memang masih kacau gara-gara shock mendengar cerita si Junsu soal kejadian di kamar mandi itu.
"Lalu kau pasti akan bertanya aku siapa, 'kan? Biar kujawab saja sekarang, aku hanya daun kering yang masih diselipkannya dalam sebuah buku catatan."
Dan saat Nona Malaikat datang membawa nampan berisi sepanci ramen dan tiga gelas air, aku baru sadar kalau maksud si Junsu dia adalah mantan pacarnya. Nona Malaikat pergi ke dapur dan kembali lagi dengan membawa sepanci ramen yang lain, yang sepertinya berisi dua bungkus ramen yang dijadikan satu. Lalu dia memanggil si wajah bayi dengan nada yang berbeda dari saat dia memanggilku di konbini. Nadanya naik turun manja.
"Changmiiin… Ayo sini makan ramenmu sebelum habis dimakan Junsu…!" kira-kira begitulah yang ia katakan.
Satu panci dia taruh di depanku. Ini merupakan adat kesopanan seorang tuan rumah pada tamunya mungkin, karena kukira dia akan memberikannya pada si Junsu. Aku berterima kasih padanya, saat itu pula si wajah bayi muncul.
"Mana makananku?" dia duduk dan merajuk seperti anak-anak.
"Itu." Nona Malaikat menunjuk panci di depan Junsu dengan dagunya.
"Kemarikan! Itu ramenku!" si Changmin membentak.
"Ngomong apa kau? Ini punyaku juga. Belajarlah menghormati yang lebih tua!" si Junsu memegang kedua belah gagang panci dengan tangannya.
Aku melihat mereka dengan bingung, interaksinya aneh. Aku seperti berada di satu ruangan dengan si janda, si anak, dan si mantan suaminya. Dan aku hanyalah seorang pelancong yang mampir untuk minum teh. Tapi dalam kebingunganku Nona Malaikat tersenyum di tengah-tengah dua lelaki yang bertengkar itu. Tersenyum padaku. Begitulah kukira karena dia melengkungkan bibirnya tapi meringis, seperti mengisyaratkan padaku kalau mereka memang aneh. Tentulah aku membalasnya dengan senyuman yang paling manis yang pernah kupasang.
"Begini saja!"
Si Junsu menyambar panci ramenku dan menumpahkan isinya ke dalam pancinya sendiri. Aku menganga terkejut. Begitu pun Nona Malaikat dan si wajah bayi.
"Aku tahu Changmin pasti iri karena Tuan Dasi ini dapat satu panci penuh. Padahal dalam panci ini juga sama saja, ramen yang kau masukkan dua bungkus 'kan? Apa bedanya dengan dia yang satu." si Junsu mencibir, sambil bertanya pada Nona Malaikat. "Sekarang kau bagilah saja ramen ini pada tiga mangkuk kami supaya adil."
Ahh… Akhirnya aku mengerti mengapa ia mengambil panci ramenku.
Nona Malaikat lalu mengangguk sekali. Ia mengambil mangkukku terlebih dulu. Si Changmin jelas saja melirikku tak suka. Setelah dirasa cukup, mangkuk itu dikembalikan padaku. Lalu tibalah giliran si wajah bayi yang sejak tadi terlihat sudah tidak sabaran. Terakhir si Junsu. Dan semua isi panci itu telah berpindah pada tiga mangkuk kami. Sementara tak ada yang tersisa untuk Nona Malaikat.
"Kau tidak makan?" tanya si Junsu.
"Aku sedang tidak ingin makan ramen."
"Kukira kau tadi membeli ramen unt–"
Aku langsung berhenti bicara ketika melihat delikan si Changmin yang bagai ular berbisa. Oke. Sepertinya aku tidak perlu ikut-ikutan bicara.
"Aku ingin yang manis-manis dan kupikir aku akan menghangatkan bubur jagungku saja."
Dia menjawab pada Junsu, tapi yang menatapnya adalah aku. Saat dia bilang bubur jagung, aku langsung teringat akan bubur jagung buatan nenekku yang suka meramal itu. Mungkin Nona Malaikat senang melihat ketertarikanku pada bubur jagungnya, sehingga ia berkata padaku untuk cepat menghabiskan ramen dalam mangkukku dan bergegas membantunya mengaduk bubur.
Aku menurut seperti anjing yang sudah terlatih untuk mematuhi perintah majikannya. Aku makan dengan cepat dan lahap, sampai si Junsu menertawaiku dan kuah ramen dalam mulutnya ke mana-mana, ada yang mendarat di mata si wajah bayi hingga bocah itu berteriak-teriak marah. Aku meninggalkan mereka yang lagi-lagi bertengkar, pergi ke tempat di mana aku mencium bau jagung manis dan gula, yang kukira berasal dari dapur.
"Nona Kim?"
Dia yang sedang berdiri di depan kompor menoleh padaku dengan terkejut.
"Makanmu cepat juga!"
Kalau aku boleh sombong, semangkuk ramen tidak ada apa-apanya. Kurang dari lima menit bisa kuhabiskan.
"Wangi." aku memandang bubur jagung dalam panci yang meletup-letup panas itu dengan mata kelaparan –padahal aku baru makan ramen–.
"Buburnya sudah cukup panas." dia mematikan kompor, lalu mengambil glove untuk melapisi tangannya agar tidak kepanasan saat menyentuh gagang panci. Dia mengangkat panci itu dengan hati-hati, hendak ia pindahkan ke meja di sudut lain dapur.
Tapi entah bagaimana bubur jagung itu kulihat melayang naik ke udara ketika pancinya oleng, dan ternyata si nona malaikat hampir jatuh terpeleset membentur lantai –kalau aku tak cepat menangkapnya dan akhirnya kepalakulah yang jadi korban–.
Klontang! Panci itu membentur lantai sama seperti kepalaku. Aku jatuh terjungkal dengan posisi memeluk Nona Malaikat di atasku. Bubur jagung itu tumpah mengotori lantai. Si Junsu dan Changmin datang setelah mendengar suara debum yang keras. Changmin panik dan segera mengangkat Nona Malakikat dari atasku, sementara si Junsu membantuku bangun.
"Wah, sepertinya aku lupa membuang bungkus minuman jellyku!" si Junsu berucap tanpa dosa terhadap kelalaiannya yang menyebabkan aku dan Nona Malaikat jatuh. Ya, tadi si nona malaikat tanpa sengaja menginjak sampah plastik yang licin itu.
"Aduh…"
Aku merasa kakiku panas dan perih, ternyata tumpahan bubur jagung itu mengenai punggung kakiku.
"Direktur!"
Nona Malaikat tiba-tiba menangis karena rintihanku.
:::
YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない
TO BE CONTINUED
:::
Nah loh! Sial banget ya, Direktur Jung?
Saya suka Junsu seme, hahahahaha. Disaat yang lain suka Yoosu, saya malah sebaliknya, suka Junchun, Suchun, Junyoo, atau apalah namanya itu. Buat saya Junsu itu tipe laki-laki yang kekanakan dan urakan tapi innernya dewasa. Dia bisa serius di saat dia mau serius, dan slebor di saat lainnya. Lucu ya? Bisa dibilang yang begini tipe yang saya sukai, sableng-sableng keren, buka keren-keren sableng *et dah*
Mungkin jarang ya, kalo Junsunya jadi seme Jejung? Tapi entahlah saya suka. Hihihi.
Kira-kira nasib Direktur Jung gimana ya?
:::
THANKS FOR READ!
MIND TO REVIEW?
:::
