Aku hanya duduk bersandar di sofa sementara si Junsu mengompres kakiku yang memerah dengan es yang dibungkus handuk basah. Awalnya kukira Nona Malaikat yang akan mengurus hal ini, tapi rupanya si Junsu berinisiatif, mungkin karena ia merasa bersalah. Tapi wajahnya malah datar-datar saja seperti ini bukan salahnya. Nona Malaikat duduk di sebelahku dengan cemas, terus saja memandang kakiku yang kulitnya sudah semerah kepiting rebus. Mungkin dia tak sadar tangannya ditaruh di lengan bajuku sejak tadi. Tapi dengan ini aku cukup bersyukur meski pun bukan dia yang mengobatiku, dia duduk begitu dekat denganku. Soal si Changmin, dia tidak terlalu peduli denganku, drama kolosal di tivi mungkin lebih menarik baginya.

"Kau menginap saja di sini, mobilmu tidak mungkin selesai diperbaiki dengan cepat, apalagi baru masuk bengkelnya malam-malam begini." tawar si Junsu padaku. Harusnya si nona malaikat yang bicara begitu tapi entah mengapa aku merasa rumah ini sudah seperti rumahnya sendiri. Mungkin mereka pernah tinggal bersama dulu.

Aku hanya melirik Nona Malaikat meminta pendapat.

"Ya, jangan pulang dengan keadaan begini. Menginaplah, Direktur." sungguh tak sopan jika aku menyunggingkan senyum. Tapi aku melakukannya.

"Terima kasih…"

"Akan kupinjamkan baju Changmin, dan kau bisa tidur dengannya." ucap Nona Malaikat.

"Lalu aku tidur denganmu, Mameha." si Junsu tersenyum.

"Jangan panggil aku begitu! Aku tidak mau tidur denganmu, tidurlah dengan Changmin kalau kau mau menginap juga!"

"Maaf. Aku tidak menerima tamu di kamarku." sahut si Changmin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca.

"Changmin…" Nona Malaikat mendesah. "Kalau begitu kau tidur denganku saja. Biarkan Direktur dan Junsu tidur di kamarmu."

Aku benar-benar tidak percaya si nona malaikat tidur dengan lelaki. Tapi aku ingat perkataan si Junsu kalau Nona Malaikat memperlakukan Changmin seperti anaknya sendiri. Jadi dia mungkin tak segan tidur dengan si wajah bayi itu. Ahh, tetap saja… Rasanya janggal. Aku yang merasa janggal. Aku memikirkan macam-macam hal yang mungkin terjadi jika mereka tidur di ranjang yang sama.

:::

Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

Chapter 5: Ayo Maju, Yunho!

A TVXQ FANFICTION

DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES

YUNJAE/MINJAE/SUJAE

GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!

ROMANCE/COMEDY

OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN

DON'T LIKE DON'T READ!

:::

Si Junsu itu memang pria yang baik, tapi cerewetnya sama seperti Boa. Bukan maksudku dia selalu mengomentariku dalam hal ini-itu, tapi dia semacam pemanduyang akan terus bercerita tentang sejarah tempat wisata tanpa perlu ditanya. Seperti itulah. Di kamar, bahkan ketika pintu sudah tertutup rapat dan lampu dimatikan ia masih saja berbicara macam-macam. Aku pura-pura tidur agar dia berhenti berkicau. Jurus itu ampuh rupanya. Melihatku sudah lepas landas ke alam mimpi, dia sepertinya memutuskan untuk tidur –setelah 2 jam aku menunggunya diam–.

Aku kepikiran si Nona Malaikat dan si Changmin. Sedikit banyak aku cemas. Bagaimana pun, meski dia dan Changmin sudah seperti ibu dan anak, tetaplah tak wajar laki-laki dan perempuan tidur seranjang begitu. Aku dan Jihye pun tidak pernah tidur bersama meski kami saudara kandung.

Pada akhirnya karena terus memikirkan hal itu aku jadi tak bisa tidur. Dalam keremangan, kulihat si Junsu sudah tidur pulas dengan dengkuran keras. Aku keluar dari kamar itu untuk sekedar duduk di ruang tamu seperti saat aku datang ke rumah ini –setelah kulepaskan pelukan si Junsu dengan susah payah, agaknya dia menganggapku guling mungkin–.

"Kau lihat apa?"

Si Changmin menyambutku dengan ketus. Bocah itu rupanya tak tidur. Dia sedang duduk di depan tivi dengan buku dan setoples bola-bola cokelat. Kupastikan anak itu sedang belajar. Tapi mengapa malam sekali?

"Apa aku boleh… Duduk di sini?" sebelum aku duduk, aku minta izinnya terlebih dahulu. Tapi rupanya dia sama sekali tidak memedulikanku dan melanjutkan kegiatannya tanpa menjawab sepatah kata pun.

Kalau saja dia adikku, sudah pasti aku akan memitingnya keras-keras supaya dia lebih ramah.

"Kau tidak tidur?" aku mencoba mencari topik supaya di ruangan ini tidak hanya ada suara tivi dan bunyi bola-bola cokelat yang si Changmin kunyah.

"Kau tidak lihat aku sedang apa? Kalau kau mau, tolong kerjakan tugasku supaya aku bisa tidur."

Astaga, bahasamu, 'nak…

"Kau sudah kelas berapa?" aku mencoba bertahan dengan keketusannya.

"Kelas tiga."

"Berarti baru naik kelas ya…"

Dia memasang wajah tak suka. Iya, dia tidak suka aku banyak bicara.

"Maaf kalau aku mengganggu."

Lebih baik aku pergi dan kembali ke kamar. Dipeluk si Junsu sepertinya lebih baik daripada duduk bersama si Changmin dengan tatapan penjagalnya.

Hari masih subuh ketika aku terbangun oleh tenggorokanku yang kering. Aku ingin minum. Aku melangkahkan kakiku ke dapur, karena kupikir di rumah mana pun air ada di tempat itu. Mungkin tak sopan jika aku mengambil air sendiri tanpa sepengetahuan pemilik rumah, tapi aku sudah berniat melakukan itu. Sampai di dapur aku tak menemukan siapa-siapa. Mungkin karena ini masih terlalu pagi.

Kudengar suara pintu terbuka, dan langkah kaki yang pelan.

Aku mematung diam tak bersuara ketika Nona Malaikat muncul, menghampiriku dan tiba-tiba saja memelukku erat.

Dia menggesek-gesekkan kepalanya di dadaku dan mengelus punggungku lembut. Kudengar gemaman kecil dari bibirnya. Nampaknya ia mimpi sambil jalan, karena tidak mungkin dia tiba-tiba memelukku seperti ini!

"Changmin, kau bangun pagi sekali?"

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ini seperti bentengmu kena serangan fajar yang tak terduga. Lalu tentara-tentaramu mati seketika. Sisanya kabur entah ke mana. Aku tidak bisa bicara dan hanya diam dalam pelukannya. Lidahku kelu.

"Changmin?"

Nona Malaikat mendongakkan kepalanya dan mengerjapkan matanya lambat-lambat.

"Emm… Ohayou." (Selamat pagi)

Yang kudengar setelah sapaanku adalah teriakannya yang melengking tinggi. Dia melepaskan pelukannya dengan histeris –atau lebih tepatnya seperti melemparku hingga aku terhuyung–.

"Direktur! Ma-maafkan aku!"

Si nona malaikat berdiri memunggungiku dengan tangannya yang terlipat di depan dada, memegang lengannya sendiri. Ia terus menundukkan kepala tanpa mau menoleh. Andai saja tadi aku tidak bicara apa pun, mungkin dia masih mengira aku adalah si Changmin dan terus memelukku.

"Justru aku yang harus minta maaf, Nona Kim."

"Tidak, tidak, aku yang minta maaf. Kukira kau adalah Changmin! Maaf sudah lancang memelukmu!"

Oh astaga, memelukku bahkan bukan sebuah dosa!

"Tidak apa-apa, tidak masalah." aku ingin dia berbalik dan melihatku. Maka kuturunkan nada bicaraku agar terdengar sedikit lebih tenang. "Aku merasa haus dan ingin minum, jadi aku ke dapur pagi-pagi begini." begitulah, kukatakan alasanku yang sejujurnya.

Akhirnya dia mau menolehkan kepalanya padaku.

"Maaf kau harus melihatku yang seperti ini. Aku bahkan belum mencuci mukaku." ucapnya sembari menunduk dan menangkup wajahnya sendiri.

"Tidak apa-apa, kau bahkan tetap sangat cantik meski pun baru bangun tidur."

Mendengar itu dia langsung menjatuhkan pandangannya padaku. Jujur aku kaget, rasanya seperti ditodong pistol. Dadaku berdegup tidak jelas ketika aku melihat wajahnya yang tanpa make up, kecantikannya tak berkurang sama sekali. Rambutnya yang berantakan, dan kaosnya yang kebesaran hingga mempertontonkan sebagian dari bahunya dengan gratis kepadaku tanpa ia sadari, membuatku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti… Yaaah… Seperti kau membaca majalah porno untuk pertama kali.

Tentu saja aku tidak melupakan kakinya yang tak tertutupi apa pun selain celana pendek.

Kaki itu bahkan jauh lebih seksi dari pada kaki-kaki model di majalah yang pernah kubaca.

"Kalau kau mau minum, airnya di dalam kulkas."

Dia melenggang pergi. Kuyakin dia merasa malu. Sayang aku tidak bisa melihat keseksian yang luar biasa itu karena setelah sepuluh menit dia kembali dengan penampilan yang berbeda. Rambutnya sudah disisir, wanginya wangi sabun, dan ia mengenakan pakaian yang lebih tertutup. Dia heran mengapa aku masih dam seperti orang linglung setelah sekian menit. Dia kira aku sudah puas minum air dari kulkas karena dia menyuruhku mengambilnya sendiri, ternyata tidak begitu. Sejak ditinggal di dapur sendirian, aku tidak melakukan apa-apa selain mengelus dada.

Ujung-ujungnya dia sendiri yang mengambil sebotol air dari kulkas yang kemudian dia berikan padaku. Sementara aku minum, Dia mengenakan celemek bunga-bunganya dan membuka kulkas lagi untuk mengambil beberapa bahan makanan. Perlu kau tahu, dia yang bercelemek terlihat seperti seorang istri yang sempurna. Seperti melihat istriku sendiri –padahal aku belum punya istri–.

"Hari ini sepertinya aku harus memasak lebih banyak untuk sarapan tiga laki-laki di rumahku." dia bergurau dan tertawa kecil.

"Maaf ya, merepotkan." yang bisa kukatakan hanya itu.

"Tidak apa-apa, jarang pula ada tamu seperti ini. Paling-paling yang datang ke rumahku hanya Junsu."

"Apa dia sering datang ke rumahmu?" dan aku seperti memulai interogasi.

"Aku bahkan sudah tidak ingat berapa kali dia datang ke rumahku."

"Kalian sudah lama saling mengenal, ya?" maafkan aku jika pertanyaan yang begini menyinggung privasimu, Nona. Tapi semoga saja kau tidak marah padaku.

"Sudah sekitar… Hmm… Dua belas tahun mungkin?"

Aku seperti disambar petir. Dua belas tahun? Astaga. Mungkin karena itu setelah jadi mantan pacar pun mereka masih akrab begitu? Dibandingkan denganku yang baru mengenal Nona Malaikat selama beberapa minggu, aku tidak ada apa-apanya!

"Dia teman sekelasku waktu SMA. Dan kami sering menjemput Changmin ke TK waktu itu. Lucu ya? Teman-temannya Changmin heran kenapa orangtuanya masih pakai seragam sekolah." dia tertawa lagi. Tapi entah mengapa aku merasa sedikit tak suka mendengarnya. Ceritanya membuat aku membayangkan, bukankah lebih pas jika mereka dikira kakaknya si Changmin, ketimbang orangtuanya? Ini mengundang keingintahuanku.

"Memangnya… Emmm… Di mana orangtuamu sehingga kalian harus menjemputnya?"

Nona Malaikat berhenti memotong wortelnya sejenak, sebelum dia menghela napas dan melempar senyuman padaku. Dalam senyuman itu tersirat suatu kesedihan hingga aku sangat merasa bersalah sudah menanyakan hal itu.

"Mereka tidak pernah sempat untuk mengantar Changmin sekolah…" ujarnya. "Ceritanya panjang, aku tidak yakin kau mau mendengarnya."

"Tidak apa-apa, aku pendengar yang baik."

Tadinya mungkin ia enggan, tapi kemudian dia bercerita padaku.

Katanya, dulu ia dan Changmin tinggal di panti asuhan yang sama. Ketika Changmin masih bayi, dia sudah berusia tigabelas tahun. Usianya memang sudah cukup tua untuk terus dirawat di panti asuhan. Anehnya, selama ini tidak ada yang meliriknya untuk di adopsi. Sampai si ibu pengasuh sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri karena sudah tinggal lama di tempat itu. Suatu ketika ada sepasang suami istri yang hendak mengadopsinya. Nona Malaikat awalnya menolak, namun melihat keinginan besar dari mereka ia akhirnya mau diadopsi. Suami istri itu tidak hanya mengadopsi si nona malaikat, melainkan bayi satu tahun itu juga, yang kemudian diberi nama Changmin. Mungkin ceritanya akan berakhir di sini ketika mereka disebut kakak-adik. Tapi ada satu bagian yang tidak kukira akan terjadi.

Orangtua yang mengadopsi Nona Malaikat dan si Changmin tewas dalam kecelakaan pesawat. Itu terjadi baru dua tahun kemudian setelah mereka menjadi keluarga. Ini membuat Nona Malaikat harus hidup sendirian di Tokyo dengan Changmin sebagai tanggung jawabnya –karena orangtua mereka tak diketahui punya saudara–. Rumah yang sekarang ia tinggali adalah warisan orangtuanya. Sejak saat itu Nona Malaikat harus sekolah sambil bekerja, mengerjakan apa pun yang bisa menghasilkan uang, karena ia tak mau terus mengharap bantuan orang lain. Katanya, dia juga pernah ikut ajang pencarian bakat saat SMP, dan mendapat juara dua. Hadiahnya cukup untuk biaya hidupnya selama beberapa bulan. Kurasa aku pernah membaca artikel pencarian bakat itu dulu, di mana ada sederet nama yang menjadi juara 1, 2 dan 3, beserta finalis 10 besar. Dan aku ingat, foto anak perempuan yang diberi gelar si runner-up sangat mirip dengan si nona malaikat. Ternyata itu dia. Hanya saja dulu rambutnya hitam.

"Changmin, kau sudah bangun?"

Aku menoleh dan kudapati si Changmin berjalan setengah sadar menghampiri kami –menghampiri Nona Malaikat lebih tepatnya–. Kau tahu apa yang kemudian mereka lakukan?

Berpelukan dengan mesra. Penuh kasih sayang.

"Aku bermimpi kau teriak keras sekali, tapi aku lupa kau teriak karena apa… Bahkan dalam mimpi sekali pun kau membuat telingaku sakit…"

"Aah… Maaf yaa…"

Aku jadi mengerti mengapa tidak ada jarak di antara mereka. Mengapa Nona Malaikat begitu menyayangi anak itu, dan mungkin sama juga dengan Changmin. Sejak anak itu bisa mengingat, mungkin si nona malaikatlah yang pertama ia lihat.

Aku merasa seperti burung yang lama terkungkung di sangkar. Segala kemudahan yang kudapat, bahkan sejak aku lahir, membuatku tidak pernah tahu apa itu kehidupan yang sebenarnya. Susah senangnya hidup. Rumitnya masalah yang harus dihadapi hari demi hari. Atau cinta yang hadir di antara semua hal itu. Aku… Apa ya? Seperti bukan manusia.

"Aku lapar…"

"Iya, aku mau memasak dulu. Kau bersiap-siaplah…"

Entah si Changmin masih mengantuk, atau dia memang tidak peduli, ia tidak berkomentar apa-apa dengan keberadaanku di dapur. Ia pergi ke kamar mandi begitu saja.

"Tinggal si Junsu yang belum bangun." ucap si nona malaikat menggerutu. "Laki-laki satu itu susah sekali bangunnya." gerutuannya terdengar seperti ibu-ibu. Tanpa sadar aku menertawainya.

"Nona Kim, apa kau juga akan mengantar Changmin ke sekolah, nanti?"

"Dia sudah SMA, dan dia punya kendaraan sendiri, buat apa kuantar?" dia mencebilkan bibirnya. Manis sekali. Kalau kesal mungkin begitulah wajahnya.

"Kau baik sekali, Jaejoong."

"Eh?"

Dia menatapku dengan matanya yang bulat.

"Mulai sekarang aku akan memanggilmu Jaejoong saja."

Kau boleh katakan kalau aku terdorong untuk jadi pria yang lebih baik. Menjadi pria yang pantas untuk bersanding dengannya.

Dan pagi itu kami makan bersama. Makanan yang dibuat sendiri oleh Nona Mala –maksudku Jaejoong– sangat enak. Benar seperti masakan seorang ibu. Si Junsu makan dengan berantakan, si Changmin duduk memisahkan diri dari kami untuk mencegah lelaki urakan itu mengotori seragam sekolahnya. Sementara aku duduk berdampingan dengan Jaejoong, kebetulan, karena ia agak risih duduk di sebelah orang yang tidak bisa diam, kukira. Atau ada alasan lain, aku tidak tahu.

Yang jelas aku sangat senang, ia memerhatikanku dengan menaruh potongan brokoli di mangkuk nasiku –karena melihatku tak menyentuh sayur hijau itu sama sekali–. Tapi, sadar di depanku ada si Junsu, aku mulai berpikir apa alasan Jaejoong dan pria itu putus.

"Hei, Tuan Dasi, oh, kau tidak pakai dasi ya, sekarang? Siapa namamu? Yun…"

"Yunho."

"Ya, ya. Kenapa ku baru sadar kalau badanmu bagus? Hei Changmin, lihatlah, kaosmu pas sekali di badannya!"

Aku sontak merasa malu, segera saja kututupi lengan besarku dengan tangan. Aku tidak tahu si Junsu itu memuji atau mengejekku gendut.

"Aku tidak peduli. Besok-besok tidak akan kupakai lagi kaos itu."

"Changmin…" Jaejoong menegur anak itu dengan nada lembut.

Aku sedikit mengerti mengapa si Changmin bersikap tidak ramah padaku. Seperti kau tahu ibumu punya teman lelaki baru. Dan kau tidak suka melihat mereka dekat. Aku belum bisa menyesuaikan diri untuk akrab dengan anak itu. Yaa… Mungkin seperti ini rasanya mendekati wanita dengan bonus satu anak. Tapi yang ini bukan benar-benar anaknya.

Sekitar jam sepuluh, Jaejoong mendapat telpon kalau mobilku sudah selesai diperbaiki –semalam nomor ponselnya yang dia berikan pada orang bengkel–. Ini berarti tidak ada lagi alasan untukku berlama-lama di rumahnya. Aku segera berganti pakaian dan bersiap untuk pergi.

Jaejoong ingin mengantarku sampai ke bengkel. Di jalanan yang rindang terpayungi bunga-bunga sakura yang mekar itu, kami berjalan berdampingan. Changmin dan si Junsu pergi sudah sejak pagi tadi, jadi Jaejoong memutuskan untuk mengantarku dari pada sendirian di rumah, katanya. Aku 'sih senang-senang saja.

"Jaejoong, apa… Akhir minggu ini kau ada waktu?"

Dia menoleh, mengulum senyum sembari menggelengkan kepala.

"Aku harus bekerja akhir minggu ini. Kau tahu, jadwal liburku hanya sekali seminggu dan sudah kuambil semalam."

Lagi-lagi dia bukan menolakku karena enggan, tapi ada alasan yang benar-benar nyata yang membuatnya mengatakan tidak.

"Kalau minggu depan 'sih… Jumat aku dapat libur."

Ini seperti kode kalau dia mau jalan denganku. Tentu saja aku menyambut ikan besar ini dengan kail pancing yang paling bagus.

"Kalau begitu apa kau mau nonton denganku?" dan tiba-tiba aku ingat kalau jumat malam ada festival di kuil Sojiji. Sepertinya pergi ke festival lebih bagus daripada sekedar nonton film di bioskop. "Ah tidak, bagaimana kalau kita pergi ke festival musim semi di kuil Sojiji?"

Maka dengan cepat kuganti tawaranku. Jaejoong nampak berpikir.

"Emmm… Boleh. Tapi sepertinya aku harus mencari di mana kuletakkan kimonoku karena sudah lama sekali aku tidak memakainya. Aku lupa."

Aku tersenyum sumringah mendengar jawabannya. Dia mengiyakan ajakanku!

"Kalau begitu aku akan menjemputmu nanti."

Lalu aku tiba di rumahku dengan tatapan aneh ibu –aneh karena aku tidak pergi bekerja dan baru pulang siang hari dengan baju yang masih sama seperti kemarin–. Aku tidak peduli ibuku mau bilang apa, yang jelas sejak berpisah dengan Jaejoong di bengkel itu, aku terus memikirkan bagaimana rupa wanita itu dalam balutan kimono, dengan zori sebagai alas kakinya, dan rambut pirang pendeknya disisir kebelakang sebagian, untuk memberi ruang pada hiasan rambutnya. Berdiri di antara bunga-bunga sakura yang merekah. Pasti sangat cantik. Sangat-sangat cantik. Jika orang bilang kecantikan wanita Jepang akan terpancar sempurna ketika mereka mengenakan kimono, aku sependapat.

Ini memberiku ide untuk membelikan sebuah kimono terbaik untuknya.

Esoknya, aku pergi untuk membeli kimono. Kimono dengan kualitas terbaik harganya cukup mahal, tapi tak masalah. Aku yang malu jika kuberikan kimono murah dengan kualitas yang biasa-biasa saja pada wanita secantik Jaejoong. Akhirnya aku membeli sebuah kimono berwarna merah marun dengan aksen bunga berwarna putih, yang bagai diterbangkan oleh hembusan angin bergaris keemasan, terlepas dari tangkainya yang berwarna kehitaman. Aku memilih kimono ini bukan hanya karena aku suka warna merah –dan warna merah begitu cocok bagi Jaejoong–, tapi juga karena warna-warna yang cenderung cerah lebih pantas untuk gadis remaja belasan tahun. Kurasa Jaejoong tidak terlalu cocok mengenakan warna-warna seperti pink, biru muda, atau kuning. Dia akan nampak menawan dengan warna yang sedikit gelap dan memberikan kesan dewasa. Dia lembut. Warna merah marun ini akan mengimbangi kelembutannya.

Semoga saja dia suka. Akan kukirimkan kimono ini ke rumahnya sehari sebelum kencan kami. Hei, bolehlah kusebut ini kencan. Bagiku ini bukan sekadar acara jalan biasa.

Tapi… Aku lupa kalau aku tidak ingat alamat rumah Jaejoong, dan aku juga tidak punya nomor ponselnya. Apa kutanyakan saja pada si botak, ya?

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

TO BE CONTINUED

:::

Ciye yang mau kencaaaannn~ Ciye yang udah maju selangkaaah~

Kimono memang pakaian wajib orang Jepang, tapi di sana harga kimono sendiri mahal banget. Ngga semua orang bisa beli kimono sering-sering. Karena itu mereka hanya punya beberapa untuk dipakai di hari-hari tertentu. Ada juga yang kimononya warisan dari orangtua. Kimono yang bagus itu akan tahan lama kalau dirawat baik-baik, makanya bisa sampe jadi warisan juga.

Kalau laki-laki udah ngasih kimono ke perempuan, dia udah punya niatan buat serius sama pasangannya lho… Hehehehehe. Berarti Direktur Jung juga udah mau serius nih sama Jejung. Atau karena dia kaya aja jadi beli kimono doang mah sama kaya beli perhiasan, gampang. Hahahahaha.

Terus, kencan mereka bakal gimana jadinya ya?

:::

THANKS FOR READ!

MIND TO REVIEW?

:::