Saat aku hendak membungkus kimono merah marun itu, ibuku bertanya mengapa aku membeli sebuah kimono wanita. Dia terlalu percaya diri dan menyangka aku membelikan kimono itu untuknya sebagai hadiah. Dia sudah protes macam-macam melihat warna merah yang tidak dia sukai dan motif kimononya yang kurang cocok menurutnya. Wajar dia tidak suka karena ini bukan untuknya, ini untuk Jaejoong. Kukatakan saja pada ibuku secara langsung, bahwa sebentar lagi ibuku akan bertemu calon menantunya –dan dia langsung menciumiku dengan brutal, kemudian memanggil nenekku–.

Lagi-lagi aku harus berurusan dengan almanak setelah sekian lama. Nenekku tidak percaya jika aku sedang mengejar seorang wanita. Dia sangat senang dan mendukungku sama seperti ibu. Aku tak berkomentar, tapi dalam hati aku kesal juga mengingat dulu neneklah yang mengutukku jadi lajang seumur hidup! Harusnya aku rajin memberinya kopi hitam supaya beliau tidak pikun, agar ia mengingat akan kutukan kejamnya padaku dulu!

Nenek melihat almanaknya dan membaca tanggal-tanggal baik dan buruk untukku seminggu kedepan. Hari jumat, hari yang baik untuk pergi keluar, namun ada hal yang membuatku harus melakukan sesuatu dengan hati-hati, kalau tidak nasib akan berubah.

Aku tidak cukup mengerti akan ini tapi kuignat baik-baik dalam kepalaku tentang ramalan almanak nenek. Siapa tahu memang benar. Tapi aku juga tak sepenuhnya percaya.

Yang pasti, aku harus mengirim kimono ini ke alamat yang sudah kudapat dari si botak. Terima kasih, Botak…

:::

Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

Chapter 6: Aduh! Kenapa Begini Jadinya!

A TVXQ FANFICTION

DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES

YUNJAE/MINJAE/SUJAE

GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!

ROMANCE/COMEDY

OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN

DON'T LIKE DON'T READ!

:::

Hari yang kunanti tiba. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun –bukan untuk pergi bekerja melainkan kencan bersama Jaejoong–. Aku sudah memberitahu sekertarisku bahwa aku tidak datang hari Jumat ini. Kemudian aku mendapat telpon dari Boa dan kukatakan saja kalau aku kena sembelit. Kurasa dia tidak akan sampai datang ke rumahku kalau sakitnya hanya masalah perncernaan seperti itu. Ibu dan Nenek bersekongkol untuk berbohong pada ayah kalau aku ada pekerjaan ke luar kantor. Untung ayahku tidak curiga. Aku juga memasang wajah paling manisku untuk Ayah supaya dia percaya. Bohong sedikit tidak apa-apa, lah…

Aku datang ke rumah Jaejoong sekitar pukul sepuluh pagi. Kuketuk pintunya tapi tak ada yang menyahut. Jaejoong sedang keluar, kukira. Tapi beberapa saat kemudian ada yang membuka pintu untukku, dan ternyata itu dia. Jaejoong, yang mengenakan kimono merah marun yang kubelikan.

"Maaf…" yang dikatakan olehnya saat melihatku hanya itu.

Akhirnya aku sadar kalau kimono yang dikenakannya bahkan belum terikat obi. Dia memegang sisi kimono dengan tangannya agar tidak terlepas –sempat aku berharap sesuatu di balik kimono itu dapat kulihat –.

"Changmin tidak ada. Aku tidak bisa memasang obi sendirian."

Begitu katanya. Harusnya aku sadar lebih cepat kalau dia memintaku membantunya mengikat obi, tapi yang kulakukan malah menanyakan di mana anak itu –yang sudah jelas-jelas sedang belajar di sekolah–. Dia melenggang masuk ke kamarnya meninggalkan aku. Setelah aku sadar maksudnya apa –meski pun agak terlambat– aku mengikutinya. Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar wanita selain kamar Jihye, ibu, nenek, dan Boa. Ketika masuk aku mencium wangi yang tak bisa kujabarkan. Sungguh harum. Seperti wangi buah berry yang segar. Tapi juga ada sediit wangi bunga mawar yang lembut. Aku tidak tahu itu wangi parfumnya atau wangi pengharum ruangan.

Jaejoong bercermin pada sebuah kaca besar dan tinggi, hampir tiga perempat tinggi badannya hingga jika ia berdiri beberapa langkah agak jauh, cermin itu dapat memperlihatkan keseluruhan tubuhnya mulai dari atas sampai bawah. Aku, yang kebetulan curi-curi pandang merasa takjub dengan refleksi wanita berkimono itu. Sungguh, bukan karena dia seksi atau apa, tapi… Ahh, sulit menjelaskannya.

"Maaf ya, merepotkanmu."

Dia menyodorkan kain panjang berwarna pink lembut padaku. Aku menerimanya tanpa mengalihkan pandanganku pada segitiga di bawah lehernya. Maksudku pada kerah kimononya yang agak sedikit terbuka hingga garis tulang selangkanya terlihat. Aku menelan ludah tanpa berkata apa-apa, hanya mengangguk satu kali –itu pun dengan gugup– saat dia berbalik dan memunggungiku. Aku semakin gugup ketika aku mendekat padanya. Ya Tuhan, tengkuknya betul-betul indah dan membuat pikiranku liar. Seperti kau melihat yakiniku setelah satu bulan tidak makan daging. Untunglah air liurku tidak menetes ke mana-mana seperti hewan buas yang kelaparan.

Aku, dengan jantungku yang tinggal menunggu waktu untuk meledak, menyelipkan tanganku di antara kedua tangan Jaejoong yang ia rentangkan. Secara otomatis tubuhku condong padanya dan aku membungkuk sedikit agar aku bisa melihat lebih jelas obi yang harus kuikat. Tapi posisi ini membuatku sangat dekat dengan tengkuknya sampai aku tidak berani bernapas –kecuali aku mundur–.

"Kau mau… Obinya diikat seperti apa?"

Aku bertanya padanya dengan membuang wajahku ke sembarang arah. Sudah kubilang aku tidak berani bernapas di tengkuknya. Aku takut dia… Ah sudah 'lah.

"Yang sederhana saja, tidak perlu yang rumit-rumit supaya aku bisa melepaskannya sendiri nanti."

"Ngomong-ngomong… Kau cantik sekali mengenakan kimono ini."

"Benarkah?" Jaejoong tertawa. "Oh! Harusnya aku berterima kasih padamu atas kimono ini! Sungguh tak sopannya aku, malah memintamu mengikat obiku!"

Dia menutup mulutnya malu dan aku bisa melihatnya dari cermin. Aku mulai gila. Setelah memandang langsung tengkuknya tadi, sekarang hal yang aneh-aneh mulai muncul di pikiranku saat aku melihat wajahnya. Jika saja aku tak menahan diri, mungkin aku akan ambil resiko dengan menaruh tanganku di pinggangnya dan memeluknya dengan mesra. Tapi aku tidak bisa melakukan itu, hiks. Dia bisa membenciku karena aku tidak sopan pada wanita.

"Aku sangat senang menerima kimono yang cantik ini. Terima kasih, DIrektur…"

"Sama-sama. Tapi aku punya satu permintaan…"

Aku mulai mengikat obinya dengan hati-hati. Untunglah aku berdiri di belakangnya jadi dia tidak bisa melihat tanganku yang ketiring seperti banci saking segannya aku menyentuhnya! Walau pun yang kusentuh mungkin hanya kain kimononya, namun di kepalaku aku seperti menyentuh kulitnya langsung tanpa penghalang apa pun. Jangan katakan aku mesum karena pikiran-pikiran seperti ini hanya kusimpan sendiri tanpa kuumbar-umbar. Ah, tapi sekarang kau sudah tahu ya?

"Apa itu?"

"Karena aku memanggilmu Jaejoong… Mengapa tidak kau panggil saja namaku? Yunho."

"Direktur Yunho?"

"Yunho saja, tanpa direktur di depannya."

"Tapi aku sudah terbiasa memanggilmu direktur…"

"Baiklah kalau kau suka itu, aku tidak masalah."

Dengan mudahnya aku kalah dalam debat ini. Lebih tepatnya secara alamiah aku mengalah. Aneh bukan? Rasanya seperti ada mantra sihir yang membuatku patuh padanya. Atau dia memang sakti?

Setelah obinya terikat sempurna, aku menginstruksikan padanya untuk berbalik, atau berdiri menyamping supaya dia bisa melihat obi yang melilit pinggangnya. Bersyukurnya aku ketika dia tersenyum, dia senang dengan hasil kerjaku yang tak seberapa ini. Di rumah, aku sering disuruh ibu untuk mengikat obinya dan obi Jihye, nenek juga tidak ketinggalan. Jadinya aku tahu bentuk-bentuk ikatan obi yang bermacam-macam, juga bentuk-bentuk pinggang wanita. Pinggang Jihye yang kurus, pinggang ibu yang gemuk, dan pinggang nenek yang sudah tidak berlekuk sama sekali. Aku sudah seperti penata rias bagi mereka. Mungkin ini kurang keren untuk pria –malah tidak keren sama sekali bagiku– , tapi kali ini aku bangga. Aku bangga karena bisa mengikat obi wanita yang kusukai.

Soal pinggang Jaejoong… Meski pun aku tidak benar-benar menyentuhnya, tapi kurasa pinggangnya bagus.

Aku yang biasanya ketiduran saat menunggu wanita-wanita di rumahku berdandan, kali ini tidak merasa ngantuk sama sekali. Aku malah gugup menunggu Jaejoong di ruang tamu sambil sesekali membayangkan akan seperti apa wajah cantiknya sehabis berdandan. Kupikir make up yang ia poles di wajahnya akan berbeda dibanding saat ia kerja. Benar saja, saat ia muncul, wajahnya telihat secerah bunga sakura dengan riasan yang ringan namun manis. Di sudut-sudut matanya dibubuhkan warna merah yang bercampur dengan pink. Bibirnya pun sama, mengkilap lembut dengan warna merah muda. Rambutnya seperti biasa ia sisir ke belakang sebagian dan ia menyelipkan hiasan rambut yang warnanya senada dengan kimononya. Kalau dia berjalan-jalan di Kyoto dengan dandanan seperti itu, dengan sekali lihat saja orang mungkin akan berpikir kalau dia adalah geisha kelas satu yang begitu menawan. Kalau dia berjalan sambil menatap pria, kuyakin pria itu akan menabrak tiang di depannya dengan suka rela.

Kami pergi ke festival dengan perasaan gembira –maksudku, aku yang gembira–. Aku tak henti-hentinya melirik Jaejoong yang duduk di sampingku dengan manis. Rasanya aku ingin terus bicara dan memujinya cantik, tapi aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun kecuali kekehanku yang dipaksakan setiap aku ketahuan mencuri pandang. Aku bukan orang yang cerewet dan aku tidak tahu harus membicarakan apa dengannya –selain pujian yang benar-benar ingin kuutarakan berkali-kali–.

Butuh setidaknya setengah jam untuk sampai ke kuil Sojiji. Kami sampai di siang hari ketika kuil itu sedang ramai-ramainya. Orang-orang berkimono bertebaran di sana-sini, sama seperti kelopak sakura yang berguguran di mana-mana dan menutupi jalan. Aku malu sekaligus senang saat orang-orang melihatku dan Jaejoong tanpa berpaling dengan tatapan –yang kurasa– terpesona leh aura kami yang memancar. Aku tahu kau akan bilang aku terlalu percaya diri, tapi lihatlah! Aku tidak pernah dikatai jelek oleh orang, dan kurasa aku pantas berjalan berdampingan dengan Jaejoong yang kecantikannya tiada tara. Mungkin kami akan jadi pasangan yang ekstraordinari seperti para selebritis –itu pun kalau kami pacaran–. Jaejoong beberapa kali menunduk malu dan menatapku cemas. Dia takut ada yang salah pada penampilannya, kukira. Karena sepanjang jalan tidak ada pria yang tidak memandangnya. Tapi itu pandangan takjub. Mengapa dia tak menyadari kecantikannya terpancar begitu sempurna?

Dia tak nyaman diperhatikan oleh pria. Beda denganku yang dengan senang hati mengumbar ketampananku pada setiap wanita hingga mereka terpaku melihatku. Tapi aku juga merasa risih pada beberapa pria yang menatapnya lain. Yang ingin kutahu, apakah Jaejoong merasakan hal yang sama ketika wanita-wanita itu mengagumiku?

Kami masuk ke kuil untuk berdoa di altar. Kebiasaan orang-orang yang datang ke kuil adalah melihat ramalan, kemudian menggantungkan hasilnya di tempat yang sudah disediakan. Tapi rupanya selesai berdoa Jaejoong melenggang pergi begitu saja melewati bagian ramalan, bahkan tanpa bertanya aku mau diramal atau tidak.

"Direktur, kurasa mereka memerhatikan kita sejak tadi."

Dia berbisik sambil terus berjalan. Ini membuatku penasaran dan menoleh ke segala arah. Karena aku tak kunjung menemukan siapa orang yang memerhatikan kami, Jaejoong menunjuk pada satu arah dan cepat-cepat menyembunyikan tangannya lagi. Dan akhirnya kutemukan siapa itu.

Demi bintang kejora, tak kusangka bahwa yang Jaejoong maksud ternyata adalah ibu dan nenekku sendiri!

"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?!"

Jaejoong terkejut dengan teriakanku, termasuk orang-orang yang mendengarnya. Ibu dan nenek langsung kabur entah ke mana. Aku geram. Rupanya kami dibuntuti! Astaga, aku malu sekali!

"Siapa mereka, Direktur?"

"Sudah 'lah, kita pergi saja. Lupakan saja para penguntit-penguntit itu, anggap kau tidak pernah melihat mereka."

"Direktur?"

Aku sadar sudah berbicara dengan nada ketus pada Jaejoong. Salahkan kekesalanku pada ibu dan nenek. Aku juga sadar telah menarik tangannya tanpa permisi.

"Maaf..."

"Apa kau mengenal mereka?"

"Bagaimana mengatakannya, ya…?" aku menggaruk tengkukku. "Dua wanita yang tadi memerhatikan kita adalah ibu dan nenekku…"

"EH?"

Jaejoong jelas kaget.

Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Yang jelas, ibu dan nenekku pasti mengikuti kami karena penasaran pada Jaejoong. Kenapa mereka tidak mengatakan padaku saja kalau mereka ingin bertemu dengannya? Kenapa harus diam-diam seperti ini? Kencan pertamaku jadi seperti misi membawa uang ribuan dolar ke bank sentral. Aku jadi waswas.

"Kenapa mereka membuntutimu? Apa… Mereka tidak suka kau pergi denganku?"

"Bukan begitu…"

"Mungkin begitu, Direktur… Seharusnya kau pergi bukan dengan wanita seperti aku…" dia menundukkan kepalanya. Wajahnya mendadak sedih.

Aku panik. Jelas! Aku memang sering berhadapan dengan wanita-wanita yang kecewa karena kutolak, tapi ini lain cerita! Bagaimana jika aku membuatnya menangis dan sakit hati? Aku tidak sanggup membayangkannya.

"Tidak, Jaejoong, mereka hanya penasaran denganmu, karena selama ini aku tidak pernah membelikan kimono untuk siapa pun kecuali kau… Mereka hanya ingin tahu, wanita seperti apa yang telah membuatku… Jatuh cinta."

Bagus, secara tidak sadar aku sudah meracau yang tidak jelas pada Jaejoong. Dia menatapku lurus-lurus dengan matanya yang mencari kesungguhan dariku. Tapi aku memang sungguh-sungguh!

Sekarang aku harus mempertanggung jawabkan perkataan polosku dan mengakhirinya dengan kalimat yang biasa diucapkan pria-pria keren di drama tivi. Aku mempersiapkan mentalku dengan menarik napas panjang lalu membuangnya dengan pelit. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar, lalu jatuh kembali pada sepasang matanya. Dia masih menatapku tanpa bicara. Kemudian aku memberanikan diri untuk mengatakan ini.

"Mungkin ini terlalu dini, mengingat kita belum lama saling mengenal. Tapi… Aku tahu kalau aku… Telah jatuh cinta padamu."

Aku mengulum senyumku. Sebenarnya dalam hati aku ingin menjerit sekeras-kerasnya dan berguling-guling di tanah lalu menjambaki rambutku sampai rontok semua. Ya Tuhan, kupikir mempraktekkan adegan drama di kehidupan nyata adalah sesuatu yang berlebihan, tapi aku sudah melakukannya!

"Emmm… Jaejoong?"

Aku mulai cemas ketika dia hanya menatapku kosong, bahkan tanpa berkedip selama beberapa saat.

"Direktur…" dia bersuara pelan dan lembut. Kukira dia memanggilku tapi ternyata dia malah berjalan pergi menjauhiku bahkan tanpa menoleh sama sekali.

Aku ternganga. Segera saja kukejar dia. Kupanggil namanya berkali-kali. Untung jalannya tidak secepat burung unta, jadi aku masih bisa mengejarnya. Aku sempat-sempatnya melirik pada sekitarku dan sudah kuduga orang-orang memerhatikan kami. Mereka mungkin mengira ada syuting drama di kuil Sojiji.

Bukannya aku mendramatisir, ini memang dramatis.

"Jaejoong!"

Grep! Akhirnya aku berhasil menangkapnya dalam pelukanku. Dia terhuyung ke belakang tapi aku menahannya agar tidak jatuh. Aku memeluknya erat sekali.

"Direktur…"

"Kau mau ke mana? Maaf jika aku membuatmu tidak suka… Anggap saja tadi aku hanya membual, ya?"

Awalnya kukira dia jadi benci padaku karena tiba-tiba aku menyatakan cinta padanya. Tapi nampaknya aku salah besar. Saat dia berbalik padaku, pipinya bersemu merah seperti tomat. Katanya dia terkejut mendengar pernyataanku, jadi dia reflek berlari untuk menutupi rasa malunya.

"Kau tidak sedang… Bergurau, 'kan?"

"A-aku serius 'kok! Aku… Aku… Mencintaimu, Kim Jaejoong…"

Kali ini giliran aku yang malu. Betul-betul malu. Kurasa wajahku sudah sama merahnya dengan manisan apel yang biasa dijual di pasar malam. Aku menutup mataku rapat-rapat karena aku tidak sanggup menatapnya.

Aku tidak peduli jika orang memandang aneh pada kami.

"Astaga, manis sekali! Tak kusangka anakku berani menyatakan cinta pada seorang wanita!"

Aku hampir jatuh terjungkal saking terkejutnya saat ibu dan nenekku tiba-tiba muncul di depan kami. Aku yang rasa malunya bertambah seribu kali lipat menyembunyikan diri di balik punggung Jaejoong seperti bocah yang takut dimarahi tetangga gara-gara mendorong anak sekaligus cucu mereka ke kolam renang.

"Oh! Perkenalkan, aku ibunya pria lucu yang bersembunyi di belakangmu itu, dan ini ibuku."

"Ah… Salam kenal, Nyonya. Saya Kim Jaejoong."

Aku bisa mendegar ibu memperkenalkan dirinya dan nenek pada Jaejoong. Berharap saja jika mereka tidak menerkam Jaejoong. Mereka seperti beruang yang melihat salmon di sungai.

"Jung Yunho! Apa yang kau lakukan! Kau ini pria macam apa? Kenapa kau bersembunyi seperti itu?" nenek membentakku. Jaejoong melirik padaku dan kami saling bertatapan selama beberapa detik. Mungkin dia juga bingung sama seperti aku.

Akhirnya aku mengangkat kepalaku.

"Sungguh tak kusangka wanita cantik sepertimu mau pada cucu durhaka seperti dia ini, Nona. Aku sangat berterima kasih…"

"Nona Jaejoong, apa kau seorang model? Ah bahkan model pun tidak ada yang secantik dirimu. Di mana kau berkenalan dengan anakku? Kau tahu, dia sudah terlalu lama membujang tanpa kekasih."

Aku mulai seperti objek bully senior di sekolah. Aku hanya bisa diam menunduk dan menunggu para senior itu puas mengataiku. Ibu dan nenekku memang sikapnya manis –pada Jaejoong–, tapi selalu terselip sebutan-sebutan yang menyakiti hatiku. Mereka ini, benar-benar!

"Ibu, nenek, apa kalian tidak ingin menikmati indahnya sakura yang bermekaran di kuil Sojiji ini? Mengapa kalian malah menghabiskan waktu di sini? Mengapa kalian tidak berjalan-jalan saja? Sayang 'lho, mekarnya sakura ini 'kan tidak lama."

"Oh kata-katamu sungguh manis sekali, cucuku! Tapi kami di sini untuk mengobrol dengan Nona ini, bukan denganmu! Kenapa kau mengusir kami?"

Aku langsung terdiam mendengar perkataan nenek. Bahasa diplomatisku tidak mempan pada beliau.

"Ibu benar. Sopan sekali dia mengusir kita!"

Ibuku malah menambah-nambahkan.

"Nona, bagaimana kalu kau berjalan-jalan dengan kami? Sakura di belakang kuil lebih banyak mekar dibanding di sini."

"Ah? Aku…"

Nenek mengajak Jaejoong untuk pergi. Jelas saja aku tidak mau! Aku tidak rela Jaejoong dimonopoli oleh ibu dan nenekku! Bisa saja mereka menyukainya tapi tidak berarti Jaejoong direbut dariku! Apalagi ini kencanku, bukan kencan mereka!

Aku mulai kesal. Akhirnya aku berbisik di telinga Jaejoong untuk mengajaknya pergi, sesaat sebelum aku mengangkatnya dan menggendongnya lari. Kabur lebih tepatnya. Nenek dan ibu berteriak-teriak memanggil nama kami tanpa bisa mengejar. Jaejoong melotot padaku, karena tak percaya tiba-tiba digendong ala pengantin di depan umum, kukira. Aku akan minta maaf padanya setelah ini. Setelah aku menemukan tempat yang aman dari ibu dan nenek.

Kalau kau bertemu dua beruang betina di hutan, lebih baik kau bersembunyi. Tapi kalau kau adalah salmon yang entah bagaimana ditakdirkan untuk bertemu beruang di sungai, sebisa mungkin melompatlah, atau berenang lebih kuat ke bagian sungai yang lain.

"JUNG YUNHOOO!"

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

TO BE CONTINUED

:::

Ya ampun, niatnya mau berduaan, eh malah ketemu ibu sama nenek di tempat kencan. Direktur Jung kurang mujur… Hahaha.

Zori, memang mirip geta tapi bentuknya beda. Zori seperti sandal tapi terbuat dari kayu yang dipernis. Biasanya berwarna merah tua atau cokelat. Zori potongannya seperti wedges, tinggi. Makanya Jaejoong nggak bisa lari waktu kabur dari Yunho, kecuali cuma jalan cepat. Kalau lari, yang ada jatoh deh.

Laki-laki nggak banyak yang bisa masang obi, biasanya juga yang masang perempuan lagi. Kecuali laki-laki penata rias yang pekerjaannya emang masang obi. Dulu, di zaman Edo lebih banyak penata rias laki-laki daripada perempuan.

Kencan Direktur Jung sama Nona Kim lanjut ngga nih?

:::

THANKS FOR READ!

MIND TO REVIEW?

::