Kencanku hari itu awalnya memang tidak berjalan lancar karena ibu dan nenekku. Tapi setelah kabur dari mereka aku dan Jaejoong akhirnya dapat menikmati waktu berduaan –sebenarnya aku 'sih yang menikmatinya–. Sehabis melihat sakura di kuil Sojiji kami makan siang di sebuah restoran bergaya western di persimpangan jalan dekat kuil itu. Di sana banyak orang asing, dan Jaejoong seperti jadi satu-satunya wanita berkimono di restoran itu. Pria-pria asing yang duduk dan makan steak mereka bahkan memandanginya dengan kagum. Bukannya kesal aku malah bangga akan hal ini. Aku, yang duduk di satu meja bersama Jaejoong tentu jadi punya hak untuk mendelik pada mereka dan memberi kode bahwa Jaejoong adalah milikku.
Tunggu.
Aku baru ingat bahkan sampai kami pulang dan aku mengantarkannya ke rumah pun dia belum mengatakan apa pun soal pernyataan cintaku.
Jadi, salah ya, kalau kubillang dia milikku?
Astaga…
Pantas saja setiap aku melamun memikirkan Jaejoong, seperti ada yang menggaruk-garuk perasaanku.
Bagaimana ini? Dia belum memberi jawaban. Haruskah aku datang menemuinya dan bertanya; 'Apa kau mau jadi pacarku?'
:::
Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho
:::
YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない
Chapter 7: Jaejoong dan Junsu
A TVXQ FANFICTION
DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES
YUNJAE/MINJAE/SUJAE
GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!
ROMANCE/COMEDY
OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN
DON'T LIKE DON'T READ!
:::
Aku mengirimkan pesan padanya untuk bertanya bolehkah aku menemuinya. Boleh, katanya. Tapi ada sebaris pesan lagi yang menyusul setelah jawaban itu. Dan aku harus pergi ke SMU Yamanaka kalau ingin menemuinya. Ya tentu saja aku langsung meluncur ke tempat itu tanpa basa-basi…
Di jalan, aku sempat berpikir sedang apa Jaejoong di sekolah, apa mengantar Changmin? Atau… Menemui Junsu?
Aku ingat dia pernah bicara padaku kalau profesinya adalah seorang guru olahraga sekolah menengah atas.
Aku tiba di sekolah itu sekitar jam dua siang. Banyak anak-anak berseragam sekolah berkeliaran di mana-mana. Tak sedikit yang melihatku sampai terbengong-bengong ketika aku berjalan melewati mereka. Mungkin aneh ada orang setampan diriku datang ke sekolah itu –ehem, maksudku aneh ada eksekutif bersetelan jas sepertiku datang ke sekolah mereka–. Aku jadi kangen masa-masa sekolahku dulu. Waktu SMU aku dinobatkan jadi King di prom nite, tapi sayangnya Queen yang mendampingiku bukanlah gadis yang kusukai –saat itu aku bahkan tidak punya orang yang kusuka–.
Jaejoong memberitahuku lewat pesan singkat bahwa ia sedang berada di lapangan olahraga. Aku berjalan ke sana dengan bertanya terlebh dahulu pada siswa yang kebetulan berpapasan denganku. Aku tidak pernah masuk ke sekolah ini sehingga aku tidak tahu ke mana arah yang harus kutuju.
"Direktur!"
Sahut Jaejoong memanggilku ketika aku masuk ke area luas yang merupakan lapangan olahraga SMU Yamanaka. Duduknya langsung tegak dan tangannya terangkat untuk melambai padaku. Dari kejauhan, rupanya dia dapat melihatku. Itu karena matanya jeli, atau pakaianku yang mencolok, atau memang dia sudah menunggu-nunggu kedatanganku sejak tadi? Ah, yang terakhir itu aku yang berharap.
"Jaejoong, sedang apa kau di sekolah siang-siang begini?" ucapku seraya duduk di sampingnya. Rindangnya pohon di belakang melindungi kami dari teriknya sinar matahari.
"Aku habis menemui gurunya Changmin."
Aku membulatkan mulutku sambil mengangguk. Berarti ini sekolah Changmin, dan salah satu dugaanku benar kalau dia memang ada di sekolah karena si wajah bayi itu.
"Lalu di mana Changmin?"
"Tentu saja sedang belajar." Jaejoong tertawa.
Kulitnya makin terang karena sinar matahari, begitu pun rambut pirangnya. Hari ini dia tidak menyisir sebagian rambutnya ke belakang seperti yang biasa kulihat. Bagian samping rambutnya sedikit menutupi tulang pipinya.
Ia mengenakan kemeja putih polos yang bagiku cukup tipis hingga aku bisa mlihat branya yang berwarna hitam. Aku tidak mesum! Salahkan mataku yang terlalu jeli!
"Ada apa, Direktur?"
"Ah, tidak."
Mungkin dia merasa heran karena aku memandang ke bagian yang tidak seharusnya kupandang. Yah, semoga saja dia tidak tahu kalau aku memandangi dadanya tadi.
Kami duduk di tangga di tepian lapangan olahraga. Anak-anak berseragam olahraga sedang berlari mengitari lapangan. Seperti cumi yang diasinkan di bawah sinar matahari. Sebenarnya aku kasihan pada mereka, mengapa jadwal pelajaran olahraga sesiang ini? Aku terkejut ketika guru olahraga mereka memukul kepala salah satu siswa laki-laki dengan map absensinya. Dia memarahi anak itu karena sudah bolos pelajaran selama beberapa kali. Semakin lama kudengar suara guru itu, semakin aku kenal suaranya.
"Si Junsu?"
Kutanyakan saja pada Jaejoong untuk memastikan kalau aku tidak salah.
"Iya."
Sejak tadi guru olahraga itu memang berdiri memunggungi kami hingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Namun kalau dipikir-pikir harusnya aku mengetahuinya lebih awal kalau dia itu adalah si Junsu. Rambut cokelatnya yang berjambul seperti Tin Tin harusnya membuatku bisa langsung mengenalinya.
"Aku malas pulang karena cuacanya panas seperti ini, jadinya aku duduk-duduk saja, menunggu sampai sejuk sedikit. Kebetulan ada Junsu jadi aku tidak seperti orang hilang yang sendirian." tuturnya sambil tertawa. "Dan sekarang ada Direktur." dia menunduk dan tersenyum.
"Ya, Jaejoong. Aku menemuimu karena ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa itu?"
Aku memantapkan hatiku sambil menatap langit sejenak. Lalu pandanganu kembali padanya.
"Kau ingat 'kan, dua hari yang lalu aku pernah bilang padamu kalau aku mencintaimu?" andai ibuku ada di sini, aku akan langsung membenamkan kepalaku di perut buncitnya untuk menahan malu. Aku tidak berbakat untuk ini!
"Ahh…" Jaejoong mengangguk lambat-lambat. Senyumnya canggung sekali.
"Sekarang yang ingin kukatakan adalah…" aku memberanikan diri menyentuh tangannya yang ia pangku di atas lutut. "Maukah kau jadi pacarku?"
Dia menatapku lekat dengan matanya yang berklai-kali harus kuakui sangat-sangat indah. Tapi kemudian dia menundukkan kepalanya. Aku menyingkirkan tanganku sendiri darinya.
"Direktur, aku… Aku tahu kau pria yang sangat baik. Kau bahkan membelikanku sebuah kimono, benda berharga yang sangat mahal harganya. Aku betul-betul berterima kasih. Tapi… Aku belum tahu bagaimana perasaanku terhadapmu…"
Apa aku ditolak?
"Emm… Yaa… Aku mengerti… Ini memang terlalu dini." ucapku dengan kecewa. Sungguh, aku tidak tahu harus mengatakan apa.
"Meski pun begitu, kupikir aku bisa mencoba untuk menyukaimu, Direktur."
Kau tahu rasanya melihat pelangi sehabis hujan? Aku ternganga mendengar perkataan Jaejoong. Dia mengatakan itu sambil melemparkan senyumnya padaku.
"Jadi…?"
"Emmm…" dia menelengkan kepalanya seperti kucing. "Aku mau jadi pacarmu."
Serius?
Aku hampir pingsan mendengarnya. Rasanya nyawaku hilang tiba-tiba. Aku bisa mendengar suara Jaejoong yang memanggilku, juga bisa melihatnya yang duduk di sampingku dengan wajah bingung. Ini seperti mimpi. Bukan! ini bukan mimpi!
Buakh! Aku tahu ini bukan mimpi karena aku bisa merasakan pandanganku mengabur ketika ada sebuah bola yang mengenai kepalaku. Seseorang pasti menendangnya dengan keras sekali. Aku mengaduh-aduh nyeri, membungkuk dan tanpa sadar bersandar di paha Jaejoong.
"Maaf!"
"Kau ini! Tendang yang benar! Tendang untuk dioper pada temanmu! Bukan tendang sembarangan seperti itu!"
"Junsu!"
Lalu kudengar suara si Junsu yang berteriak memarahi anak yang sudah menendang bola itu. Kudengar juga Jaejoong memanggil nama si Junsu.
"Jaejoong, kukira bola itu mengenaimu!" si Junsu berjalan ke arah kami. "Sejak kapan kau duduk bersama seorang pria? Tunggu, sepertinya aku kenal orang ini."
"Dia ini Direktur Jung!"
"Wah, yang benar?"
Aku menyembunyikan wajahku, tapi aku tahu kalau si Junsu berjongkok di depan kami.
"Hei, kau tidak apa-apa?" punggungku ditepuk.
Dalam kesakitan aku mengambil kesempatan untuk berlama-lama bersandar di paha Jaejoong dengan mengabaikan si Junsu. Wangi celananya, dan empuknya paha wanita yang kusukai ini benar-benar membuatku senang.
"Ahh itu pasti sakit…" Jaejoong menyentuh punggungku dan memegangi tanganku yang kupakai untuk menutupi wajahku.
"Aduh…" ucapku berdusta.
"Kalau begitu kita ke ruang kesehatan saja 'lah. Hei Yun… Yun, siapa 'lah itu namamu, kau bisa berdiri 'kan? Kurasa kakimu masih bisa berjalan karena hanya kepalamu yang kena bola!"
Dia sarkastik sekali. Akhirnya aku bangun dengan mencebikkan wajahku.
Aku dibawa ke ruang kesehatan sekolah untuk diobati. Memang 'sih aku pura-pura merasa kesakitan seperti kepalaku habis dipukul benda tumpul, padahal mungkin pelipisku hanya memar dan lecet sedikit. Aku berakting berlebihan di depan Jaejoong supaya dia tidak lepas dariku. Buktinya dari lapangan sampai ke ruang kesehatan pun dia terus menggantungkan tangannya di lenganku. Hei, kau jangan sebut aku jahat karena menipunya. Kau tidak tahu rasanya dapat perhatian ekstra dari orang yang kau sukai?
Di ruang kesehatan, aku diobati oleh si Junsu –seperti saat kakiku kena bubur panas waktu itu–, sementara Jaejoong menemaniku duduk di ranjang yang tipis. Di mana-mana ranjang ruang kesehatan rupanya tidak ada yang nyaman. Bahkan dulu di sekolahku yang elit sekali pun ranjangnya sama saja. Tipis, keras. Tidak enak untuk dipakai tidur. Mungkin karena itu juga jarang ada yang sengaja bolos dan pura-pura sakit agar bisa tidur di ruang kesehatan. Tidur siang saat jam pelajaran berlangsung itu paling enak memang di atap sekolah.
"Direktur, kau baik-baik saja, 'kan?" Jaejoong berdiri dan menyentuh pelipisku lembut. Oh astaga, rasanya seperti dibelai malaikat. Ya, dia memang malaikat.
"Yaah… Karena muridku sudah membuatmu begini, aku akan mentraktirmu es krim."
Es krim?
"Tenang, aku juga akan membelikannya untukmu, Mameha…"
Aku tidak tahu apa hubungannya antara terluka dan es krim. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan si Junsu itu. Ini seperti kau mencoba mencoba membaca novel dengan hufur Rusia yang sama-sekali tidak kau mengerti –kecuali huruf-huruf yang seperti terbalik, dan kau terka itu dibaca apa–. Setelah memaksa otakku untuk berpikir akhirnya aku dapat kesimpulan bahwa ini mungkin wujud permintaan maafnya padaku. Tapi kenapa harus es krim? Memangnya aku anak kecil yang menangis karena permennya jatuh kena tendangan bola nyasar?
Si Junsu pergi. Tinggallah aku berdua dengan Jaejoong di ruang kesehatan. Aku heran mengapa tidak ada yang berjaga. Kalau-kalau ada siswa yang terluka atau sakit, siapa yang akan mengobati mereka? Masa' ambil obat sendiri?
"Ahh… Apa aku membawa kesialan bagimu? Waktu itu mobilmu mogok saat kita bertemu di konbini, lalu kakimu kena bubur panas di rumahku, dan sekarang kepalamu kena tendangan bola…" Jaejoong nampak muram.
"Ah, tidak, tidak! Itu bukan karenamu! Aku saja yang kurang hati-hati dan kadang tidak beruntung!" aku mencoba menghiburnya.
Kalau dipikir-pikir memang sudah beberapa kali aku mendapatkan kesialan saat aku bersamanya. Tapi kesialan itu jugalah yang justru menciptakan kesempatan bagiku untuk semakin dekat dengannya. Bahkan saat kencanku diganggu ibu dan nenek, aku bisa mengutarakan perasaanku padanya –meski pun tanpa sengaja–. Kupikir segala kesialan itu bukan karena Jaejoong, mungkin dewa kemalangan saja yang senang menggangguku.
"Aku mulai berpikir… Bagaimana nantinya, kalau kau bersamaku, kau akan terus mengalami kesialan seperti ini."
"Bukan kau yang menyebabkan hal-hal buruk itu terjadi, Jaejoong. Aku tidak akan sering-sering sial kalau aku berhati-hati."
"Tapi…"
"Kau tidak perlu khawatir. Kalau pun aku mengalami kesialan yang membuatku sakit atau terluka, ada kau di sisiku. Aku tidak salah ingat, 'kan, kalau kau sudah setuju jadi pacarku?"
Eitts… Sebentar. Rasanya kata-kataku sungguh seperti dalam skrip drama tivi. Aku jadi malu sendiri. Apalagi ketika aku sadar kalau ternyata sedari tadi tanganku menggenggam tangan Jaejoong.
"Iya…"
Selama beberapa saat kami sama-sama tidak saling menatap, sampai ketika ponsel Jaejoong berbunyi. Kupikir ada telpon, ternyata hanya pesan singkat. Jaejoong mengusap layar dan membaca pesan itu.
"Ish! Dia ini! Menyebalkan sekali!"
Aku terkejut melihatnya menghentakkan kaki ke lantai dengan kesal. Sepertinya dia marah akan sesuatu.
"Ayo, Direktur. Junsu sangat merepotkan hingga kita harus pergi ke lapangan untuk mengambil es krim!"
Akhirnya kami kembali ke lapangan olahraga tempat aku bertemu dengan Jaejoong tadi. Di tangga yang terpayungi pohon rindang itu, si Junsu sedang duduk melipat sebelah kakinya dan menikmati es krim dalam cup. Dia menoleh ketika kami datang.
"Untung kalian cepat ke sini. Kalau menungguku di sana, es krimnya akan meleleh sebelum aku sampai."
"Kau 'kan bisa berlai ke ruang kesehatan supaya cepat sampai!"
"Kau mau es krimnya jatuh di jalan? Lantas aku harus kembali ke kantin dan membelikannya lagi untukmu?"
"Lho? Aku 'kan tidak mnta es krim! Kau sendiri yang ingin membelikannya untukku!"
Aku hanya bisa diam saat mereka bertengkar seperti itu. Anehnya, aku merasa pertengkaran menunjukkan bahwa ada keakraban dalam hubungan dua orang manusia. Maksudku, pertengkarannya bukan yang seperti ibu-ibu muda bersaing untuk menentukan siapa yang lebih cantik, tapi pertengkaran yang… Yaa, begitu 'lah. Aku belum pernah bertengkar dengan Jaejoong dan aku seperti tidak merasakan apa yang mungkin Jaejoong dan Junsu rasakan ketika mereka bertengkar. Sedikit banyak aku cemburu.
"Kau mau yang vanilla atau strawberry? Pilih salah satu dan akan kuberikan yang sisanya untuk si Yunyun." si Junsu melihatku sambil tertawa. "Eh, maaf ya, namamu sulit kuingat."
"Namaku Yunho…"
"Direktur, kau mau yang mana?" tanya Jaejoong.
"Hei, Mameha, kenapa kau senang sekali melempar pertanyaan pada orang lain?"
"Eeh? Justru kau yang tidak sopan! Harusnya kau biarkan Direktur yang memilih terlebih dahulu!"
Lagi-lagi mereka bertengkar, dan akhirnya aku berinisiatif untuk menengahi.
"Ya sudah, aku mau yang strawberry saja."
"Nah, begitu 'dong." Si Junsu memberikan cup es krim strawberry yang dia pegang kepadaku. Jaejoong terlihat kesal sekali pada pria satu itu.
Yang vanilla untuk Jaejoong. Kata si Junsu, Jaejoong memang suka es krim vanilla. Kebetulan juga aku memilih yang strawberry, jadi yang satu itu bisa ia dapatkan.
Tak salah lagi memang kalau si Junsu tahu banyak tentang Jaejoong, mungkin sampai hal-hal sepele sekali pun. Jika aku memang berniat untuk menanyainya soal hal-hal yang ingin kuketahui tentang Jaejoong, bisa saja aku melakukannya. Tapi rasanya kurang etis. Seperti meminta seorang pria untuk membicarakan tentang mantan istrinya yang sekaligus juga jadi wanita yang kau sukai.
Hubungan mereka jugalah yang membuatku penasaran. Aku ingin tahu bagaimana mereka bisa putus, dan setelahnya menjalin hubungan yang entah itu bisa disebut pertemanan, persaudaraan atau apa 'lah itu namanya yang begini akrab? Jika suatu pasangan putus, meski pun itu dengan cara yang baik-baik sekali pun, tak ada yang kuyakin berakhir baik. Pasti ada rasa canggung antara satu sama lain, atau mungkin perasaan yang masih dipendam, entah itu cinta, atau benci yang tersisa. Untuk kasus mereka, aku tidak bisa menebak apa yang terjadi saat itu.
Aku makan es krim dengan memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi. Tapi aku tidak mendapatkan hasil yang nyata.
"Direktur…"
Jaejoong memanggilku dengan suaranya yang pelan. Aku menghentikan kegiatan makan es krimku dan beralih pandang padanya. Dia diam tidak bergerak sama sekali. Wajahnya kelihatan takut. Awalnya aku bingung dia kenapa, tapi akhirnya aku tahu kalau ada belalang yang hinggap di pundaknya.
Aku berniat untuk menyingkirkan belalang itu tapi si Junsu dengan cepat berdiri dan menghentikanku. Dia mendaratkan bokongnya di sebelahku dan sekarang aku yang berada di tengah, bukan Jaejoong. Si Junsu terkekeh. Jaejoong masih sama begitu, mematung.
"Hei, Mameha, kau sudah bukan anak kecil lagi, tidak bisakah kau singkirkan belalang itu sendiri? Makhluk hijau itu bukan monster!"
"Junsu…"
"Mau sampai kapan harus ada orang yang menyingkirkan serangga-serangga yang hinggap di pundakmu?"
Si Junsu terkekeh lagi. Sepertinya ia suka sekali menjahili orang.
"Direktur…"
Setelah Jaejoong memanggilku untuk kedua kali akhirnya aku singkirkan tangan si Junsu, lalu aku melempar belalang itu ke sembarang arah. Jaejoong langsung menghambur padaku. Pakaianku sudah seperti tissue yang menyerap air matanya. Ya, dia menangis! Astaga! Demi belalang sembah! Dia pasti sudah sangat ketakutan sejak tadi!
"Kau cengeng sekali, 'sih. Si Changmin saja tidak takut belalang."
Bugh! Aku terkesiap saat tangan Jaejoong tiba-tiba bergerak untuk memukul si Junsu. Dia marah sekali sepertinya.
"Itu 'kan Changmin, bukan aku!"
"Lihat itu! Begini kebiasaanmu kalau marah. Selalu memukulku!"
Jaejoong tidak bicara apa-apa tapi dia berniat memukul si Junsu lagi, aku berusaha menghentikannya dengan menariknya ke dalam pelukanku.
"Ini pertama kalinya aku melihatmu marah. Apa nantinya kau akan memarahiku juga seperti ini?"
Dia hanya menundukkan kepalanya. Matanya masih basah bekas menangis.
"Ya ampun… Kalian manis sekali, seperti yang baru jadian saja." komentar si Junsu.
"Kami memang baru jadian 'kok."
"Wah?"
Si Junsu terlihat kaget.
"Dan Jaejoong sekarang adalah pacarku. Iya, 'kan, Jaejoong?"
Jaejoong membuang wajahnya malu. Si Junsu tertawa setengah terpaksa. Aku tahu itu karena hanya sebelah bibirnya yang melengkung. Dengan apa yang kukatakan tadi, di depan si Junsu, aku merasa jadi seperti seorang antagonis dalam sebuah cerita.
Aku pulang dengan mengantar Jaejoong ke tempat kerjanya terlebih dahulu. Harusnya aku senang memang, ini hari pertamaku dengan Jaejoong sebagai sepasang kekasih. Tapi, aku merasa tidak enak setiap aku mengingat si Junsu. Entah mengapa perasaanku sejalan dengan sebaris pesan singkat yang aku terima tepat setelah aku sampai di café La Storia.
'Yunho, apa besok kita bisa bertemu? Aku ingin bicara.'
Nomor asing itu bahkan tidak ada dalam daftar kontakku. Tapi aku tahu siapa orangnya. Yang aku heran, dari mana dia mendapatkan nomor ponselku? Aku tak pernah memberitahunya sama sekali.
"Terima kasih, Direktur. Hati-hati di jalan."
Jaejoong melambaikan tangan padaku. Aku melajukan mobilku setelah itu.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahukan ini pada Jaejoong, tentang pesan yang kuterima…
:::
YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない
TO BE CONTINUED
:::
Waduh, kira-kira siapa yang kirim sms ke Direktur Jung?
Bagian Jejung takut belalang itu inspirasinya dari satu pic yang saya lihat waktu dulu, dan inget lagi ketika liat belalang di depan rumah. Di pic itu, Jejung keliatan takuuuutttt banget sampe kayaknya nahan napas karena ada serangga besar yang hinggap di pundaknya. Dia ngeliatin kru dengan mukanya yang mau nangis. Hahahaha kasian banget aduuuhh! Kalau saya di sana udah saya sentilin itu serangga jauh-jauh!
Gimana nasib Junsu? Gimana reaksi Changmin kalau tahu kakak sekaligus mamanya jadian sama Direktur Jung? Yunho harus bilang apa sama anak itu? Jejung bakal bantu nggak ya…?
:::
THANKS FOR READ!
MIND TO REVIEW?
:::
