Aku dan si pengirim pesan itu –yang kau tahu pasti siapa– membuat janji untuk bertemu di taman bermain dekat stasiun Shinjuku. Aku tidak mengerti mengapa dia memilih tempat itu, padahal kukira dia akan memintaku untuk datang ke sekolah, atau dia yang datang ke kantorku. Lagi-lagi aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkannya. Ya, si Junsu itu.

Meski begitu, aku tahu asalannya ingin bertemu denganku adalah untuk membicarakan tentang hubunganku dan Jaejoong. Maka aku menyiapkan segala jawaban dari pertanyaan yang mungkin dia utarakan padaku. Aku tahu dia orang yang baik, makanya aku merasa tidak enak. Tapi kalau pun terus begini, tidak ada tindakan yang bisa aku lakukan.

Aku jadi bingung sendiri.

Apa aku harus bertanya pada nenek dan memintanya meramal peruntunganku, juga apa-apa saja yang pantang kulakukan?

:::

Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

Chapter 8:

A TVXQ FANFICTION

DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES

YUNJAE/MINJAE/SUJAE

GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!

ROMANCE/COMEDY

OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN

DON'T LIKE DON'T READ!

:::

Boa dan kru lainnya bertanya mengapa aku sering bolos kerja, dan kalau kerja pun datangnya di jam-jam yang tidak menentu. Ada yang khawatir aku sakit ini itu. Ada juga yang menggodaku dengan mengatakan kalau aku pergi kencan –yang ini benar–. Kukatakan saja pada mereka kalau aku punya urusan di luar, mereka semua maklum dengan itu. tapi beda dengan Boa yang tidak mudah percaya begitu saja. Seusai rapat, dia bahkan menyeretku ke cafeteria untuk memaksaku bicara.

Kukatakan saja padanya dengan jujur apa yang terjadi selama beberapa waktu ini. Awalnya dia tidak percaya kalau aku sudah dua hari menjadi kekasihnya. Aku bercerita panjang lebar. Butuh waktu satu jam makan siang untuk menghabiskan ceritaku. Boa mendengarkannya dengan setia sambil makan. Aku sendiri saking seriusnya bercerita sampai lupa pesan makanan –dan dia juga tidak memesankan apa pun untukku ternyata–. Akhirnya aku makan di ruanganku setelah jam istirahat berakhir. Sekertarisku nampak heran ketika aku menyuruhnya menyeduh ramen cup untukku. Entah mengapa saat itu aku ingat ramen buatan Jaejoong.

Mengingat Jaejoong membuatku mengingat si Junsu juga. Aku ada janji dengannya sore ini. Kalau begitu, karena aku harus bertemu dengan Junsu, aku tidak bisa ke café La Storia. Jadi hari ini aku sama sekali tidak bertemu dengan Jaejoong. Aku bahkan lupa untuk mengirim pesan singkat padanya, atau menelponnya. Jadi, sebelum aku berangkat menemui si Junsu, aku mengirim pesan pada Jaejoong yang berbunyi;

'Semangat, Nona Kim!'

Itu saja. Singkat bukan? Kau tidak tahu aku berkali-kali menghapus kalimat yang kutulis karena merasa tidak pantas untuk mengirimnya?

Aku menunggu balasan darinya tapi tak kunjung kudapatkan juga, bahkan sampai aku tiba di SMU Yamanaka sekali pun. Akhirnya aku membesarkan hatiku sendiri, aku berpikir kalau dia mungkin sedang sibuk di café dan tidak sempat melihat pesan masuk di ponselnya. Ya sudah 'lah.

Aku merasa dungu karena ternyata taman bermain itu hanya berjarak beberapa meter ke timur dari gerbang masuk sekolah. Padahal aku tinggal jalan sedikit dan menengok ke kanan-kiri, tapi dasar aku manusia masa depan yang terlalu bergantung pada teknologi, aku malah mencarinya lewat GPS tadi.

"Kau tidak bosan ya, setiap hari pakai jas begitu?"

Itu yang dikatakan si Junsu saat aku datang. Dia menertawaiku entah karena apa. Kupikir tidak ada yang salah dengan penampilanku.

"Kerja di kantor 'kan harus memakai pakaian formal seperti ini…"

"Kau memang pantas disebut direktur."

Karena tidak ada kursi –ada mungkin, tapi aku tidak melihatnya–, maka aku duduk di ayunan sama seperti si Junsu. Dia duduk di ayunan dengan mendorong tubuhnya sendiri, sedikit-sedikit ayunannya bergerak maju-mundur. Agak aneh memang pria dewasa seperti dia main ayunan. Tapi saat kulihat diriku sendiri aku pun sama saja, aku duduk di ayunan, lalu apa bedanya aku dengan dia?

"Sebetulnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

"Em… Apa, ya…?"

Dia menengadah pada langit sore. Langit tak berawan hingga warna jingganya begitu terang. Aku hanya bisa menunggunya bicara.

"Tentang Jaejoong?"

Akhirnya kutanyakan sendiri.

"Hu-um." gumamnya.

"Maaf…"

"Kenapa kau minta maaf?"

"Entahlah, aku ingin minta maaf saja padamu."

Saat itu aku sendiri tidak tahu mengapa kata maaf itu meluncur dengan mudah dari mulutku. Mungkin karena perasaanku yang… Yaah, lagi-lagi aku merasa tidak enak pada si Junsu.

"Kalau kau memang pacaran dengan Jaejoong, jagalah dia baik-baik."

Krincing! Saat si Junsu bicara ada seekor kucing muncul entah dari mana, kalungnya bergemerincing ketika kucing berbulu kuning itu berjalan. Si Junsu membungkuk untuk menjangkau kucing itu dan kemudian dia gendong, untunglah si kucing bukan tipe yang galak sepertinya, karena disentuh oleh manusia ia tidak banyak berontak.

"Aku yakin kau bisa dipercaya." dia mengelus-elus kucing itu lalu diciuminya seperti mencium bayi.

"Ngomong-ngomong… Kenapa kalian bisa putus?" aku menanyakan pertanyaan yang selama ini jadi pikiranku, tapi tanpa sadar, dan aku agak menyesal telah mengatakannya. Mungkin ini terlalu pribadi.

"Emm… Bagaimana ya… Mungkin kau tidak bisa membayangkan bagaimana aku dan Jaejoong memutuskan hubungan kami waktu itu, melihat kami yang sekarang seperti teman lama bagini 'kan?"

Dia benar. Persis sekali seperti yang kupikirkan.

"Aku yang mengakhirinya."

Shock. Si Junsu menertawaiku karena aku hanya bisa ternganga. Ya, sungguh, aku tidak percaya kalau wanita cantik dan baik hati seperti Jaejoong pernah dicampakkan oleh seorang pria, oleh si Junsu ini!

"Masalahnya bukan karena Jaejoong, tapi karena diriku sendiri."

"Apa kau punya selingkuhan dan lebih mencintai wanita itu ketimbang Jaejoong? Atau… Kau dijodohkan oleh orangtuamu?"

"Dijodohkan? Kau pikir ini jaman shogun?" tawanya berderai keras, kucing dalam pangkuannya hampir saja kabur. "Lagipula aku tidak punya selingkuhan saat aku pacaran dengannya, kau pikir aku bisa menyia-nyiakan wanita seperti Jaejoong?"

Si Junsu memeluk si kucing dengan gemas. Aku makin bingung dan ingin si Junsu cepat-cepat bercerita. Waktu itu, saat menginap satu kamar dengan dia aku sama sekali tidak tertarik pada ceritanya, tapi kali ini aku sangat ingin dia bicara banyak.

"Waktu itu si Mameha benci sekali padaku, dia marah selama berminggu-minggu, kuhubungi tidak bisa, datang kerumahnya pun selalu diusir oleh si Changmin. Anak itu kejam sekali kalau mengusirku, dia seperti security penjaga brankas bank."

"Lantas bagaimana dia bisa… Emm… Berhenti marah padamu? Kalau saat itu dia membencimu mungkin kalian tidak seperti ini, 'kan sekarang?"

"Dia terlalu baik hingga dia bisa memaafkanku dengan mudah. Akhirnya aku boleh menemuinya lagi."

"Apa alasanmu memutuskan hubungan dengannya?"

Si Junsu yang tadinya tidak memerhatikanku berhenti mengelus si kucing dan memandangku dengan wajah datar. Datar yang kumaksud adalah, aku tidak mengerti cara menggambarkan ekspresinya. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan ketika aku menanyakan hal itu.

"Aku tidak berharap kau bisa mengerti, tapi tak ada salahnya kau tahu."

Akhirnya dia bercerita. Katanya, ia memutuskan hubungan dengan Jaejoong sekitar empat tahun lalu. Jaejoong marah dan menangis habis-habisan karenanya. Sejak saat itu, seperti yang sudah dia katakan, Jaejoong tidak mau menemuinya selama beberapa waktu. Dia mengatakan pada Jaejoong kalau alasannya memutuskan hubugan adalah karena ia bosan. Begitu saja tanpa alasan yang jelas. Tapi yang dia ceritakan padaku lain, katanya, alasan sebenarnya bukanlah karena bosan. Tapi karena ia merasa tidak pantas mendampingi Jaejoong. Ia bukan pria yang bisa mendukung Jaejoong yang pekerja keras dan punya mimpi yang besar. Mungkin jika kusimpulkan, dia merasa tidak bisa mengimbangi Jaejoong?

Ceritanya berlanjut pada masa sekolah mereka. Rupanya si Junsu dan Jaejoong sudah jadian sejak mereka masih SMU. Ya ampun, saat itu aku malah belum pernah pacaran sama sekali. Saat itu aku terlalu sibuk mengurusi adikku yang mendadak populer di masa-masa pubertasnya. Lalu aku ingat cerita Jaejoong kalau dia dan si Junsu sering mengantar-jemput si Changmin sekolah. Yang dikatakan si Junsu tak berbeda dengan cerita itu. Tapi dia tidak terlalu suka mengurus si Changmin karena dia merasa masih terlalu muda untuk jadi ayah. Kukira dia hanya akan menceritakan dirinya sendiri, tapi ternyata topiknya beralih pada Jaejoong.

Sejak SMU Jaejoong adalah tipe yang selalu berusaha keras, giat, dan tidak pernah mengeluh. Selain wajahnya cantik, ia juga ramah pada semua orang hingga tidak ada yang tidak menyukainya. Ia pandai memasak, ia adalah wanita yang mudah merasa tidak enak hati karena dia terlalu memikirkan peraasaan orang lain.

Begitu lamanya mereka menjalin hubungan membuat si Junsu tahu segala hal tentang Jaejoong, ia mengenal betul karakter wanita itu, baik dan buruknya –meski pun menurutnya yang buruk hanya kalau Jaejoong memukulnya saja–.

Satu hal yang baru aku tahu setelah beberapa waktu mengenal Jaejoong adalah, dia punya tato! Kata si Junsu, tak lama setelah putus dengannya, Jaejoong mengecat rambutnya menjadi pirang dan mengukir tato di tubuhnya. Aku tidak pernah melihat tato itu. ya, tentu saja, karena tato yang si Junsu maksud tergambar di bagian dada Jaejoong…

Mungkin itu adalah pelampiasan Jaejoong akan kemarahan dankekecewaannya pada si Junsu. Tapi yang jelas, bagi si Junsu, Jaejoong yang dulu dan sekarang tidak berubah, pribadinya masih sama saja. Wanita yang baik hati.

"Jika kau memang ingin serius dengannya, jangan membuat dia kecewa seperti yang kulakukan."

Dengan kata lain si Junsu mendukungku, dengan lapang dada. Au sangat berterima kasih padanya. Aku tahu mungkin ada perasaannya yang masih tersisa untuk Jaejoong, tapi kukira dia tidak akan menjadikannya alasan untuk menghentikanku. Dia pria dewasa yang baik. Meski aku berpacaran dengan Jaejoong pun, kurasa aku tidak akan menghalanginya untuk menemui wanita itu. Kupikir aku tidak berperasaan jika aku bertindak seperti itu.

Tapi… tentu aku tidak akan mengijinkannya mesra-mesraan dengan Jaejoong-ku.

"Sepertinya kita harus makan bersama sekali-kali. Aku yang akan mentraktirmu."

"Atau kita main bola sekali-kali?"

"Hahaha, ide bagus."

Aku merasa bisa berteman baik dengannya. Mengenalnya membuatku mengetahu banyak hal yang sebelumnya tak pernah kulihat dalam kehidupanku. Rasanya manusiawi sekali ketika kau bisa merasakan yang namanya kecewa, marah, sedih, dan bangkit dari semua itu.

Si Junsu memintaku membelikannya es krim sebelum kami pulang ke rumah masing-masing. Sungguh pria yang aneh, seleranya kekanakan sekali.

Langit sudah gelap saat aku berpisah dengannya di depan konbini. Di perjalanan pulang, aku mendapat pesan singkat dari Jaejoong.

'Terima kasih. Direktur sudah makan malam belum? Makan yang banyak dan istirahatlah yang cukup. Manajer café kantung matanya seperti balon air karena dia kurang tidur, aku tidak bisa membayangkan kalau kau juga seperti itu.'

Pesan itu adalah balasan dari pesanku beberapa jam lalu. Mungkin dia baru sempat memegang ponselnya dan segera membalas pesanku.

Daripada aku langsung pulang, makan dan tidur begitu saja, bagaimana kalau aku menjemputnya dari café nanti? Sepertinya hal ini bisa mengobati rasa rinduku yang tiba-tiba meluap. Hei, aku tidak berlebihan, hari ini aku sama sekali tidak melihatnya! Memangnya kau tidak tahu perasaan orang yang baru jadian?

'Jaejoong, kau pulang jam berapa? Kau mau kujemput?'

'Jam sebelas, mungkin. Ada Changmin yang akan menjemputku nanti, kurasa Direktur tidak perlu repot-repot.'

Anak itu malam-malam keluar untuk menjemput Jaejoong? Apa dia menjemputnya setiap hari? Lalu kapan si Changmin tidur? Bukannya pagi-pagi anak itu harus sekolah?

'Hari ini biarkan aku yang menjemputmu. Bilang saja pada Changmin kalau dia bisa tidur lebih cepat.'

'Baiklah, aku akan memberitahunya supaya tidak usah menjemputku.'

'Kalau begitu tunggu aku, ya, Jaejoong ;)'

Aku tipe orang yang jarang menggunakan emoticon dalam pesan, tapi entah mengapa aku menyelipkannya. Aku menunggu balasan pesannya selama beberapa menit. Akhirnya ponselku bergetar tanda ada pesan masuk.

'Oke 3'

Aku dapat tanda cinta!

Dalam mobil aku tertawa sendiri. Saking senangnya aku tidak sadar kalau lampu merah sudah berubah hijau beberapa detik lalu, hingga kudengar klakson mobi-mobil di belakangku berbunyi bersahut-sahutan.

Dari arah stasiun Shinjuku ke café La Storia itu cukup jauh dan jalurnya agak memutar. Kalau aku pulang dulu ke rumah, akan lebih jauh lagi untuk sampai ke café. Maka aku memutuskan untuk mampir di rumah Boa yang kebetulan satu jalur dengan café itu, untuk sekedar ikut tidur-tiduran sekaligus minta makan. Aku belum makan malam dan aku merasa sangat lapar.

Boa menyambutku dengan heran karena aku datang malam-malam. Dia menunjuk jam dinding yang menunjukkan angka sembilan kurang lima belas menit, dan ini waktu yang tidak tepat untuk seseorang bertamu. Bukannya menyuruhku masuk, dia malah memarahiku di depan pintu. Untunglah ada ibunya yang datang menyelamatkanku dan langsung membawaku ke dapur ketika kukatakan aku lapar. Aku dan keluarga Boa sudah sangat dekat seperti saudara hingga aku tak pernah segan untuk urusan apa pun. Apalagi untuk urusan makan, sudah seperti aku minta makan pada ibuku sendiri, kadang aku juga datang ke rumah Boa kapan saja sesuka hatiku.

Menunggu itu memang pekerjaan yang paling membosankan. Aku membunuh waktu dengan menonton tivi di ruang keluarga sambil tidur-tiduran di sofa. Ibu Boa menobrol dengan suaminya di kamar. Boa sendiri sibuk bertelepon degan pacarnya. Kira-kira siapa yang menelepon duluan diantara mereka? Dia atau pacarnya? Biaya telpon internasional itu 'kan mahal. Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah bertelepon dengan Jaejoong. Selama ini aku hanya berkirim-kiriman pesan saja. Bagaimana rasanya kalau mendengar suara Jaejoong lewat telepon?

Astaga, aku tidak tahan membayangkannya.

"Kau kenapa?"

Aku kepergok tengah menggeliat-geliat di sofa sambil memeluk bantal. Boa memandangku dengan wajahnya yang mengkerut bingung. Aku langsung saja memasang tawaku.

"Kau sudah selesai bertelepon dengan pacarmu?"

"Sudah. Kenapa?"

"Ingin tanya saja."

"Kau sendiri tidak menelpon pacarmu?"

"Akan kutelpon nanti, mendekati jam sebelas."

"Malam sekali! Kau mau mengganggu tidurnya, menelepon malam-malam begitu?"

"Dia baru akan pulang kerja jam sebelas… Tentu saja aku tidak akan mengganggu tidurnya!"

"Aku akan berlayar ke pulau kapuk duluan sebelum kau meneleponnya."

"Tidur saja duluan, aku akan menyuruh pelayan untuk mengunci pintu setelah aku pergi."

"Ke mana? Kukira kau datang ke sini untuk menginap?"

"Aku mau menjemput Jaejoong."

Meski pun aku berniat menelepon Jaejoong sebelum jam sebelas, tapi aku malah ketiduran, sampai ketika aku bangun aku buru-buru pergi dari rumah itu seperti maling yang takut tertangkap polisi karena merampok. Aku bangun jam sebelas lebih sepuluh! Dan aku sudah sangat terlambat dari janjiku! Astaga! Ini bahkan baru pertama kalinya aku menjemput Jaejoong dan aku sudah membuatnya menunggu!

Kulajukan mobilku dengan kecepatan tinggi supaya aku bisa sampai ke café dalam waktu tak lebih dari lima belas menit. Bodohnya, aku lupa untuk mencuci muka dan menyisir rambutku! Aku baru sadar kalau penampilanku berantakan ketika aku sampai di café La Storia. Untung saja aku belum turun dari mobil. Aku segera merapikan diri.

Aku masuk ke café. Sudah sepi sekali. Tinggal beberapa pelayan yang sedang membersihkan lantai dan merapikan meja. Salah satunya terkejut melihatku masuk, katanya café sudah tutup. Tapi tak lama Jaejoong muncul dan mengatakan kalau aku datang untuk menjemputnya. Para pelayan itu mengangguk-angguk mengerti dan mereka pun melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya sementara kami keluar dari café itu.

"Maaf, ya, aku terlambat… Padalah aku sendiri yang sudah janji untuk menjemputmu jam sebelas… Tadi aku sempat ketiduran."

"Tidak apa-apa. Kau pasti bosan menunggu sampai larut begini ya?"

"Bukan, itu karena aku kurang kerjaan saja makanya aku ketiduran." aku membukakan pintu mobil untuk Jaejoong. "Silakan."

"Terima kasih, Direktur."

Akhirnya kami pulang –maksudku aku mengantar Jaejoong pulang–. Kunci rumahnya diselipkan di dalam pot bunga di samping pintu. Tidak salah lagi pasti si Changmin yang menaruhnya di situ. Mungkin Jaejoong yang menyuruhnya supaya ia tidak perlu repot mengetuk pintu. Aku dan Jaejoong masuk ke dalam rumah. Lampu masih menyala. Hanya tivinya yang mati. Tidak ada suara apa pun kecuali bunyi napas teratur. Rupanya si Changmin tidur di lantai dengan buku-buku berserakan di dekatnya. Jaejoong mengelus-elus rambut anak itu dan mencoba membangunkannya. Tapi sepertinya ia sudah tidur lelap sekali hingga dipanggil-panggil pun tidak dapat membangunkannya.

Setelah diberitahu tidak usah menjemput, anak itu menggunakan waktunya untuk belajar, kukira. Aku duduk dan membuka-buka buku catatannya sementara Jaejoong mengambil selimut. Tulisan si Changmin cukup rapi. Ada selembar kertas ujian yang terselip di antara lembaran-lembaran buku catatan itu. Itu kertas ujian fisika. Aku takjub saat melihat nilai yang tertera di pojok kanan atas kertas itu. Nilainya seratus! Anak ini pintar sekali sepertinya. Entah mengapa aku bangga, padahal dia bukan adikku atau anakku.

"Sedang apa kau?"

Aku hampir menjerit ketakutan seperti melihat hantu saat tiba-tiba saja Changmin membuka matanya dan bicara padaku dengan nada dingin. tatapannya pada tanganku membuatku sadar kalau ternyata aku sedang memegang kepalanya. Jangan-jangan tadi aku sudah mengelus kepala anak ketus ini!

"Singkirkan tanganmu. Siapa yang mengijinkanmu menyentuhku?"

"Maaf!"

"Jaejooonggg!"

Kurasa anak ini akan melapor pada induk ayamnya karena aku sudah lancang menyentuh kepalanya. Aku mengusap wajahku. Apa yang akan dikatakan Jaejoong kalau anak ini mengadu yang aneh-aneh? Sudah begitu si Changmin 'kan tidak suka padaku, kalau dia mengadu, mungkin dia akan menambahkan ini-itu pada aduannya.

"Changmin? Ada apa berteriak seperti itu?"

Jaejoong muncul dengan tergesa. Ia membawa selembar selimut.

"Kenapa pria ini ada di rumah kita? Dia sangat mengganggu!"

"Changmin… Bersikap baiklah pada Direktur!"

"Kenapa aku harus bersikap baik padanya?"

"Karena…"

Jaejoong tidak melanjutkan kalimatnya. Si Changmin menatapku sengit. Sementara aku hanya bisa terdiam kaku menikmati kebeciannya padaku.

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

TO BE CONTINUED

:::

Jejung bantuin Direktur Jung dooonggg!

Tentang Hosu, saya suka hubungan mereka yang beneran bro dan bro yang saling mengerti. Persahabatan cowok yang asik banget deh! Mereka bener-bener sama-sama dewasa. Jadinya hubungan Hosu di cerita ini juga saya bikin kayak aslinya, hehehehe.

Saya mau cerita sedikit, di Jepang, para wanita yang pulang kerja malam dianggap terhormat loh. Makin malam makin dianggap rajin. Orang-orang di sana 'kan workaholic, dan itu juga berlaku buat perempuan. Buat orang-orang yang pulangnya masih sore, dianggap kurang rajin dan bukan pekerja keras. Jadi, yang kayak Yunho, yang pulangnya seenak dengkul itu nggak masuk kategori pekerja keras. Tapi karena Direktur Jung danteng, bebas deh, hahahaha.

Changmin, Changmin, Direktur Jung harus apa supaya kamu bisa nerima dia jadi papa barumu?

:::

THANKS FOR READ!

MIND TO REVIEW?

:::