Mulai sekarang aku tidak akan menyangkal lagi kalau kau mau bilang aku mesum, cabul, maniak atau semacamnya.

Harus kuakui sejak pelukan dan kecupan singkat malam itu, aku sering memimpikan Jaejoong… Yaah, kau tahulah mimpi yang kumaksud seperti apa.

Sejak saat itu setiap aku bertemu dengannya aku tidak pernah bisa menatapnya dengan cara yang sama. Gosh, aku ingin buru-buru tapi aku tidak bisaaaa!

Tahan Yunhoooo!

:::

Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

Chapter 10: Jadi Aku Harus Sedih Atau Senang, Ini?

A TVXQ FANFICTION

DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES

YUNJAE/MINJAE/SUJAE

GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!

ROMANCE/COMEDY

OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN

DON'T LIKE DON'T READ!

:::

Semalam aku memimpikan Jaejoong lagi. Lalu sekarang ini aku ada di rumahnya untuk menemaninya makan malam. Jaejoong sedang libur. Si Changmin menginap di rumah temannya karena urusan tugas sekolah. Si Junsu tidak datang. Dan hanya ada aku dan Jaejoong berduaan. Berdua saja! Kau percaya itu? Gara-gara mimpi sialan kemarin malam sekarang aku gundah gulana setiap menatap Jaejoong.

"Kenapa Direktur? Kau pusing?"

Sudah kuduga dia akan heran melihatku begini. Sejak tadi aku mengerutkan dahi bukan karena aku pusing atau apa, tapi karena aku berusaha menahan diri. Malam ini dia begitu seksi dengan kaos putihnya yang entah-terbuat-dari-bahan-apa, seperti kapas yang dicabik-cabik dan sangat tipis hingga aku bisa melihat kulit putih di baliknya beserta branya yang berwarna hitam. Um, berapa kali aku mendapati Jaejoong mengenakan bra hitam? Dua kali mungkin. Sayangnya dia tidak mempertontonkan pahanya karena dia memakai celana yang panjangnya sampai bawah lutut.

"Tidak…"

Aku menggelengkan kepala dan melanjutkan makanku yang tertunda. Dia nampaknya tidak curiga aku sedang memikirkan dirinya.

"Rasanya sedikit sepi, ya."

Kupikir dia merasa bosan karena hanya ada aku di rumahnya. Tunggu, berarti aku masuk hitungan orang yang membosankan 'dong?

"Kalau kau mau kita bisa jalan-jalan ke luar…"

"Tidak, aku hanya agak merasa aneh karena tidak ada Changmin. Biasanya anak itu berisik sekali kalau makan, pasti minta tambah terus, sudah begitu protes kalau rasa makanannya ada yang kurang." dia terkekeh. Kenapa wajahnya saat tertawa itu sangat manis?

"Tapi masakanmu 'kan enak… Tidak mungkin ada yang kurang… Dia mau protes apa?"

Jaejoong tertawa lagi.

"Dia bahkan tidak pernah bilang masakanku enak, 'lho. Dia minta tambah juga karena dia lapar katanya, bukan karena enak. Kadang aku ngambek dan berteriak 'Aku tidak mau lagi masak untukmu!' begitu, lalu dia akan segera menyusulku ke dapur dan minta maaf, hahaha."

"Aku juga mau dimarahi olehmu, Jaejoong."

Jder! Apa yang sedang kupikirkan?! Apa aku sudah berubah jadi masokis? Mengapa aku justru minta dimarahi olehnya?

"Hah?"

Dia jelas akan bingung. Ya Tuhan. Salahkan pikiranku yang makin hari makin kacau!

"Kau… Selalu bersikap manis padaku, mungkin sekali-kali kau bisa memarahiku kalau kau mau…"

Malunya. Ish, ini sama sekali tidak keren ketika kau merona di depan pacarmu sendiri. Aku gugup.

"Aku tidak bisa marah tanpa alasan, Direktur. Lagipula aku harus memarahimu karena apa?" tuh, 'kan. Sudah kuduga dia akan bilang begitu. Dia bukan tipe yang menurut saja kalau diminta melakukan sesuatu.

"Kalau kubilang masakanmu tidak enak, apa kau akan marah padaku?"

Dan entah hasrat apa yang mendorongku terus membujuk Jaejoong untuk memarahiku. Apaan 'sih ini?!

"Aku tidak tahu apa aku akan marah padamu atau tidak, tapi yang jelas itu akan menyakiti hatiku…"

Dia cemberut! Ya Tuhan, dia cemberut! Cemberutnya pun sangat manis begitu! Aku tidak percaya si Junsu sudah menyia-nyiakan wanita semanis Jaejoong!

"Kalau begitu aku tidak akan mengatakannya karena makananmu enak…" aku mencoba menghiburnya. "Tapi bisakah kau pura-pura saja sedang memarahiku? Ingin rasanya kudengar kau memakiku sekali saja." sepertinya ada setan maso yang merasukiku. Mengapa aku malah terus memaksanya?!

"Bagaimana caranya aku memarahimu? Kenapa aku harus marah padamu, Direktur?" dia entah bingung entah takut. Yang jelas aku justru semakin ingin mendengar bentakannya.

"Pura-pura saja, anggap saja aku sudah seligkuh dengan wanita lain di belakang–"

"KOK BISA-BISANYA KAU MELAKUKAN ITU?!"

"…–mu…"

Aku tersentak kaget mendengarnya tiba-tiba berteriak dan menggebrak meja.

"J-J-Jaejoong, ini hanya pura-pura 'kan?" aku yang takut. Untung jantungku tidak copot.

"M-mmaaf… Aku… Terbawa suasana…" wajahnya sangat jelas menggambarkan kalau dia merasa bersalah. Bisa kutebak kalau dia juga tidak sengaja melakukannya.

"T-tidak apa-apa… Aku juga hanya kaget tadi. Yang jelas aku sudah cukup puas…" ini jadi pelajaran bagiku untuk tidak cari masalah dengannya.

"M-maaf…"

Tiba-tiba dia menaruh mangkuk nasinya dan menggeser bokongnya memutari meja kecil diantara kami untuk duduk di sampingku. Kali ini jantungku rasanya memang copot. Dia memelukku!

"Maaf… Aku sungguh minta maaf… Aku tidak bermaksud untuk berteriak padamu… Aku sungguh minta maaf…"

"J-Jangan! K-Kau tidak perlu minta maaf begitu, Jaejoong! A-aku tahu 'kok! Aku ngerti! Tidak masalah buatku!"

Dia tidak kunjung melepaskan pelukannya dariku dan aku main kikuk karena ini. Aku sungguh tidak tahan, dia lembut, hangat, dan wangi! Sabar Yunho! Kau pria kuat!

"Aku sungguh merasa tidak enak karena sudah membentakmu tiba-tiba…"

"Sudah… Kau tidak perlu merasa bersalah… Aku… Aku senang 'kok waktu kau marah saat kubilang aku selingkuh…" sial, pipiku pasti merah sekali. "Itu berarti kau tidak mau aku kencan dengan wanita lain, 'kan?" bagus, Yunho! Gombal sekali kau! Terlalu percaya diri!

Dia melepaskan pelukannya dariku. Sudah kuduga dia pasti mual mendengar kata-kataku yang memalukan.

"Kau tidak akan selingkuh dibelakangku, 'kan?"

Mengapa perkataannya terdengar protektif sekaliiii?

"T-tentu tidak… Jadi pacarmu saja sudah suatu anugerah buatku. Buat apa aku selingkuh?"

"Kau berlebihan, Direktur."

Ya ampun dia menyerudukku dan memelukku lagi! Jadi dia suka digombali begitu?

"Um… Jaejoong?"

"Ya?"

"Sepertinya posisi kita agak… Umm… Punggungku sakit…." leherku juga. Posisi duduk dan pelukan kami tidak menguntungkan bagiku karena aku harus menahan tubuhku ke belakang.

"Maaf!"

Saat dia melepaskan pelukannya aku segera ambil kesempatan untuk menangkapnya.

Hap! Kulingkarkan tanganku di punggungnya dan dia masuk dalam pelukanku.

"D-direktur?"

Dan aku baru sadar sepertinya aku dirasuki setan lain selain yang maso itu. Berani-beraninya aku memeluk Jaejoong tanpa ijin begini?! Sudah begitu hidungku ada tepat di belahan dadanya! Aaaaa! Apa yang sudah kau lakukan, Jung Yunho!

Tapi… Apa salah aku mengikuti setan itu sekali-kali?

Aku mengecup lekuk di antara tulang selangka Jaejoong. Dia sedikit berjengit.

"Direkturrr…."

Shit! Mengapa suaranya seperti handuk kompres yang diperas? Mengapa dia memanggilku dengan suaranya yang basah begitu?!

"Direktur… Maaf… Bisa kau… Lepaskan aku…?"

Lalu aku sadar kalau bisikan setan itu sesat! Aku segera saja melepaskannya dan beringsut mundur, tapi siku lenganku membentur sisi meja hingga semua yang diatasnya bergetar. Aku meringis kesakitan. Dan saat itulah jantungku berdegup kencang sekali ketika kulihat wajah Jaejoong yang sudah merah padam sampai pada telinga dan lehernya juga! Dia menaruh tangannya di depan dadanya sendiri. Astaga! Siapa yang sudah membuatnya begitu?! Oh, aku! Bagus pria hidung belang! Aku takut selanjutnya dia akan menamparku, memukulku, menendangku dan melemparku keluar dari rumahnya! Atau lebih buruknya lagi dia akan memutuskanku! Tidaaakkk! Aku tidak ingin itu terjadiiii!

"Jaejoong… M-ma-maafkan a-a-aku…" mendadak lidahku kelu. Sial, aku jadi gugup sekali! Dadaku terasa sakit!

Cklek!

"Kenapa wajah kalian merah begitu? Ups… Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat…"

Datanglah seseorang yang sebenarnya tidak kuharapkan kehadirannya di saat seperti ini. Si Junsu berdiri di ambang pintu dengan wajah yang entahlah-ekspresinya-itu-namanya-apa. Aku mati gaya. Dia pasti sudah berpikir yang macam-macam saat melihat kami.

"Kami hanya sedang makan malam…"

Betul juga. Di meja masih ada nasi dan lauknya. Untunglah Jaejoong mengatakan ini sebagai alasan. Apa dia melindungiku?

"Kau tidak pandai berbohong, Mameha, aku tahu itu. Berhenti bersikap seolah tidak ada yang terjadi di antara kalian." dahinya mengerut. Apa si Junsu marah?

Jaejoong pun tidak bisa membalas perkataan pria itu.

"Aku hanya mau numpang makan sebentar dan nanti kalian bisa lanjutkan lagi yang tadi itu." dia tahu-tahu duduk di seberang kami. "Mamehaaa, ambilkan aku nasiiiiii~" dia merengek manja.

Sungguh, aku tidak tahu bagaimana menyebut situasi ini. Tanpa sadar aku dan Jaejoong jadi sama-sama canggung. Si Junsu pura-pura cuek tapi aku tahu kalau dia pasti menyimpulkan sendiri apa yang terjadi tadi. Sebetulnya aku juga ingin sampai ke situ, hanya saja yang tadi itu belum mendekati hal itu sama sekali. Tadi hanya kecelakaan… Gara-gara bisikan setan…

"Nasimu belum habis, kau tidak makan? Apa kau tidak selera?" tanya si Junsu padaku ketika nasinya datang. "Apa itu karena aku? Hihi, kalian bisa lanjutkan nanti, aku akan pergi setelah makan!"

Jaejoong menatap tajam pada si Junsu.

Aku hanya memandangnya tanpa berkata apa-apa. Memang 'sih aku jadi tidak mood makan… Tapi bukan karena si Junsu juga, mungkin ini karena Jaejoong. Aku melihatnya hanya diam memegang mangkuk dan sumpitnya tanpa melakukan apa-apa lagi. Dia tidak makan. Aku jadi merasa bersalah.

"Umm… Aku akan pergi ke luar, beli minum sebentar. Kalian tunggu dan makan saja."

Tiba-tiba dia menaruh mangkuk dan sumpitnya lalu pergi entah ke mana. Aku ditinggalkan bersama si Junsu. Aku makin tidak enak hati begini…

"Hei, Jung."

Aku harus bagaimana?

"Jung!"

"Ah, iya?"

"Astaga kau bahkan tidak dengar saat aku memanggilmu. Kau sedang memikirkan apa?"

"Ohh… Tidak…" aku memakan nasiku walau rasa laparku sudah hilang entah ke mana.

"Kurasa hubunganmu dengan si Mameha sudah banyak kemajuan. Kau sudah pernah nge-seks dengannya?"

Prak! Sumpitku jatuh bebas ke meja.

"A-apa?"

"Nge-seks. Pernah?"

Ya Tuhan bagaimana bisa mulut orang ini begitu vulgaaarrrrrrr?! Dan kenapa dia bisa mengatakannya dengan wajah datar begitu?!

"Ah? Emmm?"

Dia mengerutkan dahi mendengar gumamanku yang tidak jelas. Ya! Aku bingung bagaimana menjawabnya! Aku tidak pernah melakukan seks –maksudku tidur– dengan Jaejoong satu kali pun! Meskipun itu gol yang ingin aku cetak!

"Belum, ya? Sudah kuduga!"

Dia tertawa keras. Aku merasa diintimidasi.

"M-memangnya kau pernah, apa?!" hanya itu yang bisa kukatakan untuk membalasnya. Astaga, aku benar-benar payah.

"Pernah. Beberapa kali waktu kami masih kuliah."

"APA?!"

Pernah? Beberapa kali? Waktu kuliah? Jadi mereka su-su-sudah…

"Reaksimu berlebihan begitu, seperti cewek yang baru diputus saja." si Junsu menatapku datar sementara aku sendiri hampir saja menggigit jari-jariku sendiri. Ingin nangis, rasanya.

"Kau pasti bohoooong!"

"Tanya sendiri pada si Mameha, sana. Itu pun kalau kau berani."

Laki-laki satu ini benar-benar seperti sudah membanting harga diriku! Aku seperti pesumo yang langsung keluar garis di menit-menit pertama pertandingan.

"Aku tidak percayaa… Aku tidak bisa percaya padamu, Junsu…"

"Jangan nangis begitu 'dong!"

"Kau pasti bohongg…"

"Apa aku kelihatan seperti sedang berbohong? Tentu tidak, 'kan? Lagipula itu masa lalu, sudah tidak perlu kau pikirkan!"

"Tetap saja itu menggangguuuuu!"

Aku merengek seperti anak kecil. Meski pun itu sudah lama terjadi tapi tetap saja aku baru mengetahui fakta ini! Dan aku mendadak patah hati! Jadi kalau pun aku tidur dengan Jaejoong, aku bukan yang pertama baginya, begitu? Aahh, menyedihkan sekali aku ini!

"Jaejoooooongggggggggg~!"

Aku sedih, sungguh… Aku ingin mengubur diriku sendiri di lubang galian. Membayangkan si Junsu dengan Jaejoong melakukan 'itu' saja sudah membuatku ingin menangis.

"Hei, Jung! Apa-apaan kau ini? Kau benar-benar menyedihkan, selama kau kencan dengannya tidak pernah satu kali pun kau giring dia ke kamar? Atau memaksa dia melakukan sesuatu denganmu?"

Jadi itu yang dia lakukan?! Melakukan 'itu' dengan paksaan?!

"Terakhir pipiku baru dicium olehnya… Dan tadi aku memeluknya."

"Bwahahahaha!" tawanya berderai keras.

Aku heran mengapa orang ini begitu terkesan sedang menghinakan aku? Apa karena kejujuranku yang dianggapnya begitu naïf?

"Kau ini lambat sekali seperti kura-kura! Ah tidak, kau bahkan seperti siput! Harusnya kau sudah lebih jauh dari ini, Jung! Kau payah sekali! Aku saja sudah memberinya french kiss toast dan memegang dadanya saat kami baru jadian!"

Ya Tuhan! Pria ini!

"K-KAU! JANGAN BILANG PADAKU KALAU DIA BUKANNYA MAU PADAMU TAPI KAU YANG MEMERKOSANYA?! APA-APAAN ITU, BARU JADIAN SUDAH MAIN SERANG?!"

Dia malah tertawa!

Aku kesal sekaligus bersyukur karena Jaejoong bukan lagi kekasih orang ini. Bisa-bisa dia hanya jadi bahan pelampiasan nafsu saja!

"Aku tidak pernah memaksanya sampai seperti itu. Yaah… Waktu itu aku hanya terbawa suasana saja, jadi keenakan 'deh."

Bletak! Aku memukul si Junsu dengan sendok. Dia mengaduh sambil tertawa. Herannya aku karena dia menganggap ini lucu!

"Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi darimu! Omong kosong! Aku tidak akan pernah mau main bola lagi denganmu!"

Aku kesal sekali. Jengkel. Tapi entah mengapa yang kulakukan bukan memberinya bogem mentah sampai dia semaput, malah memukulnya dengan sendok.

"Kalau kau pintar-pintar ambil kesempatan, kau pasti dapat apa yang kau inginkan. Tapi ingat jangan buat dia menunggu terlalu lama atau dia akan kecewa. Dia mau 'kok kalau dia suka padamu."

Kesabaranku sudah diambang batas. Aku bangun dan berjalan mendekatinya lalu kubanting dia ke lantai biar dia rasakan jurus hapkido-ku yang legendaris ini.

Gedebuk! Dia membentur lantai seperti karung beras yang dilempar dari truk. Aku marah padanya. Dia menggemaskan sekali, ingin kujitak kepalanya sampai benjol.

"Awawawawawaa! Dududududuhhh!"

Meski begitu sarannya ada benarnya juga. Tidak ada salahnya kucoba ikuti.

Cklek!

Kudengar suara pintu dibuka.

"Emm… Direktur? Junsu? Kalian sedang apa?"

Sial, Jaejoong melihat kami sedang bergulat. Pasti dia berpikir yang tidak-tidak. Mana si Junsu kukunci diatasku pula.

"Jadi kalian…"

"TIDAAAAKKK!"

Aku dan si Junsu berteriak serempak, lalu berlari ke arah Jaejoong, tapi sayangnya pria itu menubrukku hingga ia bisa memeluk Jaejoong duluan. Aku syok! Itu pacarku, hei!

"Aku tidak mungkin suka padanya, Mameha cantikku! Aku hanya suka wanita cantik yang seksi sepertimu!"

Jaejoong hanya berkedip-kedip bingung. Dia tak bergerak dalam pelukan si Junsu. Segera saja kusingkirkan bebek satu itu dari pacarku dan gantian aku yang memeluk Jaejoong.

"Aku tidak mungkin melakukan yang aneh-aneh dengannya! Tadi dia membuatku kesal jadi aku menghajarnya!"

"Lho? Jadi kalian bertengkar?"

Kau tahu rasanya bicara dengan nenek tetangga yang sudah dimensia? Mirip seperti ini. Mengapa Jaejoong harus dipancing dulu supaya berpikir kalau kami bertengkar?

"ADUUHHH! KENAPA KALIAN BERTENGKAR, MEMANGNYA ADA MASALAH APAAAA, TADI SAAT AKU PERGI SEMUA BAIK-BAIK SAJAAAAA?"

Polosnya!

Maafkan perilaku si Junsu yang cabul dan otakku yang kotor ini!

"Cepat katakan padaku apa masalah kalian!"

Sayangnya baik aku atau pun si Junsu tidak ada yang mau bicara. Jadi Jaejoong menatap kami dengan curiga terus-terusan sepanjang malam itu. Tidak ada kesempatan bagiku dan si Junsu untuk berkompromi untuk membuat alasan. Kami hanya bisa duduk di hadapan Jaejoong seperti sedang disidang.

"Katakan atau aku tidak akan mau bicara pada kalian lagi selamanya!"

Aku dan si Junsu saling menatap ketakutan atas ancaman yang mematikan itu.

Ampun, begini karmanya kalau membicarakan orang di belakang.

:::

YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない

TO BE CONTINUED

:::

Makanya jangan suka ngomongin orang di belakang… Jadi kena batunya deh -_-

Maaf ya updatenya lamaa TT saya keenakan liburan ama lebaran jadi kerjaan cuma males-malesan terus hibernasi TT

Jujur saya sempet keabisan ide untuk ngelanjutin cerita ini, tapi berkat baca-baca lagi manga-manga komedi saya jadi dapat ide muahahaha~

Maaf ya kalo chapter ini agak-agak menjurus bahasannya, karena selanjutnya cerita ini bakal saya naikin ratenya! Yuhu!
Saya juga mau minta maaf kalo terdapat keteledoran saya tentang makna sesuatu dalam cerita ini. kritik dan saran sangat saya nantikan. Triiimmms~

:::

THANKS FOR READ!

MIND TO REVIEW?

:::