Jaejoong mencebikkan wajahnya. Aku tahu dia marah. Marah padaku dan si Junsu. Aku juga sebal pada si Junsu. Jadi dia dapat poin dua dan aku satu. Oke, apa aku bisa ikut-ikutan Jaejoong kalau dia memarahi si Junsu? Ah, tapi dia tidak mungkin ada di pihakku. Lihat saja, dia menatapku sama seperti dia menatap pria urakan itu.
"Ini masalah laki-laki Jae, perempuan tidak usah ikut campur."
Tanpa basa-basi Jaejoong menyentil dahi si Junsu dengan keras. Aku bisa mendegar bunyinya. Salah sendiri membahas masalah gender. Mungkin Jaejoong tersinggung karenanya. Tapi aku juga jadi takut, takut disentil seperti itu…
"Direktur, apa kau mau mengatakannya padaku?"
Kalau situasinya begini entah kenapa sifatnya yang lembut lenyap entah ke mana. Rasanya seperti sedang berhadapan dengan si Changmin yang ketus itu.
"Ahh… Emmm… Anu…"
Jung, kau harus pintar-pintar memilih kata-kata karena jika tidak kau mungkin akan kena hukuman yang lebih buruk lagi daripada disentil!
"Kami… Bertengkar karenamu."
"HAH?!"
Baik Jaejoong atau pun si Junsu amat kaget mendengar ucapanku.
Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba saja aku jadi anak manis yang jujur?
:::
Terinspirasi dari lagu berjudul "Tattoos & High Heels"-U-Know Yunho
:::
YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない
Chapter 11: Ah… Umm… Begitulah
A TVXQ FANFICTION
DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES
YUNJAE/MINJAE/SUJAE
GENDERSWITCH FOR JAEJOONG!
ROMANCE/COMEDY
OOC, ALUR SUKA-SUKA, FULL OF TYPO(S), DIKSI NGACO, NGEBOSENIN
DON'T LIKE DON'T READ!
:::
"Jadi… Sebelumnya kami sempat membicarakanmu ketika kau sedang keluar, dan… Yaah, aku menghajarnya karena dia sudah mengatakan sesuatu yang membuat aku kesal. Katanya, kalau aku tidak sanggup menjagamu, dia akan merebutmu kembali dariku. Jelas aku marah. Aku tidak mau kalau sampai hal itu terjadi, karena… Aku mencintaimu."
Ibu, nenek, aku harus bagaimana? Kenapa ketika panik mulutku selalu meracau tidak jelas? Sekarang aku harus apa? Jantungku rasanya mau meledak. Ini sangat memalukan! Aku melirik si Junsu untuk meminta dukungan moral tapi dia malah menatapku sambil menggigit jarinya dengan tawanya yang mesum. Ini dukungan moral macam apa?!
Aku kembali memandang Jaejoong dan kulihat dia sedang menutup mulutnya sambil berpaling. Pipinya merona merah sekali.
Tak kusangka, jadi dia benar suka digombali?!
"Aah… Anu… Jaejoong… Maafkan aku…"
"Direktur minta maaf untuk apa?" tak terlalu jelas dia bicara apa karena mulutnya tertutup tangan tapi yang kutangkap begitu. Aku sendiri bingung harus menjawab apa.
"Karena aku sudah janji… Aku akan pergi setelah makan. Oke, kurasa aku bisa meninggalkan kalian berdua sekarang. Selamat malam."
Si Junsu dengan cepat berdiri dan hendak pergi tapi kutarik celananya supaya dia tidak meninggalkanku dalam situasi seperti ini!
"Tunggu!"
Bet!
"WOI! LEPASKAN CELANAKU! SEMPAKKU JADI KELIHATAN,'NIH!"
Eh?
Aku melepaskan tanganku dan membiarkan dia menaikkan lagi celananya yang merosot karena ditarik olehku.
"Kalau kau mau berbuat mesum lakukan saja pada dia, jangan padaku! Aku mau pulang, bye!"
Blam! Dia pergi.
Kami benar-benar ditinggal berduaan sajaaaaa!
Aduh, gawat. Aku harus apa? Apa sebaiknya aku pulang?
"Umm… Emmm… Jaejoong…"
"…Ya?"
Bahkan minum pun aku tidak sanggup. Seseorang tolong selamatkan akuuu!
Rrrrr! Demi Tuhan, siapa pun yang membuat ponselku bergetar dialah penyelamatku!
Aku segera mengeluarkan ponselku dari saku celana dan melihat layar, ada panggilan masuk. Kau tahu siapa? Ternyata yang kusebut penyelamat adalah ibuku sendiri. Mmm… agaknya aku kecewa. Dia ada perlu apa telpon malam-malam begini?
"Moshi-moshi?" kuangkat telpon itu dengan malas.
Aku menjawab telpon sambil memandang Jaejoong yang terlihat tidak penasaran dengan obrolanku dan ibu. Dia dengan santai membereskan meja lalu beranjak ke dapur.
"Kyaaaaa!"
Kudengar dia berteriak tiba-tiba dan aku tanpa ba-bi-bu langsung melempar ponselku ke sembarang arah demi mengejar Jaejoong. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan dia sudah berlari ke arahku duluan, sudah begitu dia menubrukku seperti banteng dan mencengkram punggungku dengan kuatnya! Ow! Tak kusangka dia punya tenaga sebesar ini!
"Ada apa, Jae? Kau tiba-tiba berteriak, aku kaget sekali!"
"S-si-singkirkan itu…"
Singkirkan apanya? Aku tidak mengerti. Singkirkan pikiran kotorku maksudnya?
"Ada apa memangnya?" tapi aku mencoba berpikir jernih.
"Cicak itu…"
Cicak? Lalu arah pandanganku berubah pada lantai di depanku. Oke. Aku melihat target di sana. Sedang diam tak bergerak di tengah jalan menuju dapur. Aku selalu heran mengapa kebanyakan dari cicak tidak mati saat mereka jatuh dari langit-langit. Apa mereka makhluk super? Atau nyawanya banyak seperti kucing?
"Singkirkan cicak itu… Kumohon…"
Selamat datang pada khayalan cabulku. Mendengar Jaejoong memohon membuatku frustrasi, sungguh.
"A-aku akan menyingkirkannya."
Padahal sebenarnya aku jijik juga pada cicak. Aku tidak pernah berani menyentuhnya secara langsung. Kalau pun disuruh membuang cicak, aku akan menggunakan sapu. Tapi kali ini, demi malaikatku tercinta, aku rela menyentuh kulit cicak yang empuk dan lengket itu… Ewww…
"Bisa kau lepaskan aku dulu? Aku akan membuang cicak itu keluar jadi tolong buka pintunya, ya?"
"Ba-baiklah…"
Aku harus rela melepaskan pelukan Jaejoong. Tak apa, mungkin kalau akau berhasil menyingkirkan cicak itu aku akan dapat lebih dari ini. Semoga. Berharaplah saja kau, Jung.
Pada akhirnya aku menyentuh cicak itu! Aduh… Kubayangkan saja cicak yang aku pegang adalah permen jelly yang kenyal. Tapi tetap saja… Sudahlah, aku pasrah. Aku hanya perlu cuci tangan dengan sabun sampai puas nantinya.
"Kubuang ya…?"
Wing! Cicak itu terbang dan tanpa perlu tahu jatuh di mana, Jaejoong sudah menutup pintunya rapat-rapat. Aku jadi ingat kalau dulu dia pernah menangis gara-gara belalang. Lalu sekarang dia lari ketakutan karena cicak. Ini baru wanita. Takut macam-macam jadi pantas dilindungi. Kalau si Boa… Takut apa, ya, dia? Takut disebut kurcaci, mungkin?
"Terimakasih, Direktur…"
"Sa-sama-sama…"
Entah kenapa aku deg-degan ketika melihat wajahnya yang malu-malu begitu. Kalau si Junsu jadi aku, apa dia langsung menyerangnya?
Dag-dug serr 'nih…
Tunggu. Aku 'kan bukan si Junsu. Aku ini gentleman!
Tapi aku tidak tahan… Peluk sebentar tidak apa-apa 'kan? Sepertinya aku harus izin dulu.
"Umm… Jae…"
Aku mendekat dan menaruh tanganku di daun pintu. Dia tidak bisa membalik badannya karena aku –agak– menghimpitnya –walau tidak terlalu kena sebetulnya–. Aku bisa memandang punggungnya yang seksi dengan tato dibalik kausnya. Baru kali ini kulihat dengan jelas sedekat ini. Tak kusangka wanita bertato punya pesona tersendiri. Kemudian tatapanku naik ke tengkuknya. Huft… Aku hanya bisa tahan napas.
Akhirnya kualihkan pemikiranku dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya seraya mencium kepalanya.
"Apa boleh aku memelukmu seperti ini sebentar saja?"
"D-direktur…"
Aku yang telah membuat suasana yang berat seperti ini terbangun! Ya, aku, Jung Yunho! Luar biasa! Sekarang aku tidak tahu bagaimana caranya aku menghentikan ini! Aku ingin menangis rasanya!
"Direktur… Kalau si Junsu bicara aneh-aneh padamu… Maafkan saja dia, dia memang begitu…"
Kok dia bicarakan si Junsu 'sih?
"Umm… Jae… Apa sebaiknya kita tidak membicarakan si Junsu? Aku cemburu, 'lho."
Aduh… Untung saja dia memunggungiku, kalau tidak dia pasti tertawa aku cemburu gara-gara si Junsu.
"Maaf kalau begitu… Aku hanya… Tidak ingin Direktur bertengkar dengannya."
"Kau masih sayang pada pria itu?"
Aku merasa aneh mendengar itu dari Jaejoong. Mungkin benar dia masih memiliki perasaan pada si Junsu. Lagipula, dulu 'kan bukan dia yang minta putus, tapi pria itu. Jadi… Apa aku masih jauh dari kata menang?
"Bukannya begitu… Aku tidak ingin Direktur bertengkar dengannya karena…"
Aku mulai penasaran apa alasannya.
"… Karena memukulnya adalah bagianku."
Deg! Oke. Aku mulai takut. Maaf jika sebelumnya aku sempat cemburu karena hal tidak penting. Sekarang aku mengerti dan tidak perlu lagi aku merasa cemburu sama sekali. Baik. Baiklah.
"Kau… Punya dendam…?" aku melonggarkan pelukanku dan membiarkan dia berbalik padaku.
"Setiap aku melihat wajahnya aku selalu ingin memukulnya."
Ya Tuhan! Begini wanita kalau marah? Sungguh, si Junsu benar, jika aku berbuat suatu kesalahan mungkin saja aku tidak akan dimaafkan selamanya! Mungkin sampai ke liang lahat pun Jaejoong masih akan terus membenciku! Junsu! Aku mendoakan supaya kau tenang di alam sana! Kalau kau mati nanti!
"Aduh! Maaf ya! Aku sudah mengatakan hal yang tidak-tidak…"
Aku kaget begitu Jaejoong menampar dirinya sendiri dengan dua tangannya. Dia tak lagi nampak marah seperti barusan. Mengapa bisa dia berubah secepat ini? Wanita memang misterius!
"Aku hanya terbawa emosi…"
Dia menyesal.
"Aku mengerti, sudah, tidak apa-apa."
Aku menariknya lagi dalam pelukanku untuk menenangkannya.
Sungguh aku sangat menikmati momen romantis ini.
Sebentar.
Aku jadi ingat pada telpon ibuku tadi.
"Maaf Jaejoong aku mau ambil ponselku dulu!" dan aku sendirilah yang merusak mood romantis ini. Maaf! Aku akan bertanggung jawab!
Aku lari mengambil ponselku. Kulihat sambungan telponnya sudah lama terputus dan ada satu pesan singkat dari ibu. Kubaca pesan itu.
'ANAK DURHAKA! IBUNYA TELPON TAPI DITINGGAL BEGITU SAJA?! IBU TIDAK MAU TAHU POKOKNYA BAWA PACARMU KE RUMAH BESOK! TIDAK ADA ALASAN! IBU, NENEK, DAN AYAH MAU NGOBROL!'
Aku langsung lemas tak bertenaga.
"Direktur? Ada apa? Kenapa auramu suram sekali?"
Ibu marah padaku, sudah jelas … Untuk urusan Jaejoong… Aku belum siap membawanya pada keluargaku…
"Ummm…"
Bodohnya aku menunjukkan pesan singkat itu pada Jaejoong dengan tanganku sendiri. Kau benar-benar bocah, Jung Yunho. Tak bisakah kau berbohong padanya?!
"Eh? Ke rumahmu?"
Jaejoong terkejut.
Aku tahu kalau kubawa Jaejoong pada keluargaku mereka pasti tidak akan melepaskannya dengan mudah!
Mungkin kau berpikir kalau mungkin orangtuaku akan pikir-pikir dulu untuk menerima kekasih anaknya, tapi ini beda. Ibu dan nenek memang sudah pernah bertemu dengan Jaejoong duluan, tapi dengan ayah belum. Suatu kali ibu kudapati sedang ngobrol dengan ayah dan setelah kuamati ternyata mereka sedang membicarakan Jaejoong sambil melihat fotonya! Ah ya ampun! Bahkan aku tidak tahu kapan foto itu diambil dan mengapa ibuku bisa memilikinya? Ish, ibuku berbakat sekali jadi stalker. Setelah itu mungkin mereka sudah bersekongkol untuk menggiring Jaejoong masuk ke kandang beruang…
Aku harus bagaimana?
"Direktur… Apa tidak masalah kalau aku datang ke rumahmu?"
"A-apa?"
Jaejoong rupanya tidak tahu kalau dia salmon terindah yang diincar kawanan beruang di sungai!
"Kalau memang orangtuamu ingin bertemu denganku… Mungkin aku bisa ambil cuti untuk besok. Lagipula aku belum pernah ke rumahmu, Direktur…"
Dia memilin-milin kaosnya malu-malu.
Aku jadi penasaran apa yang mereka rencanakan? Aku curiga Jaejoong akan dimonopoli jika dia benar datang ke rumahku.
Awalnya aku ingin sekali menolaknya, tapi melihat Jaejoong yang sepertinya ingin sekali datang ke rumahku, aku luluh dan menyerah. Yah, kalau pun dia bertemu dengan beruang-beruang ganas itu, semoga saja dia masih akan baik-baik saja…
Besoknya, sepulang kerja aku menjemput Jaejoong. Aku deg-degan bukan main. Rasanya bukan seperti kau mau kencan untuk pertama kalinya dengan pacarmu, tapi seperti kau baru pertama kali membawa uang milyaran ke bank untuk disimpan di brankas. Kau takut ada pencuri yang mengambil hartamu di jalan!
Aku mengetuk pintunya dan si Changmin yang muncul.
"Siapa?"
"Ap-apa-apaan itu?!"
Aku hampir terjungkal ketika melihat pakaiannya yang berantakan dan ada sebuah bra tersangkut di rambut anak itu! Bra! Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi di sini?!
"Dia sedang bad mood, kau tunggu saja di luar!"
"Jangan, jangan! Jangan tutup pintunya!"
Hampir saja si Changmin membanting pintu untuk mengusirku, sebelum kutahan dengan kakiku. Aku mengabaikan dia, aku juga mengabaikan betapa tidak sopannya aku menerobos masuk ke rumah orang tanpa permisi. Sudahlah. Aku terlalu cemas untuk ini. Aku sempat curiga kalau si Changmin melakukan sesuatu pada Jaejoong.
"Jaejoong kau baik-baik saja?!" teriakku dari pintu. "Eh?" mohon maaf bila aku lancang, tapi sungguh beruntungnya aku karena bisa melihat Jaejoong tidak mengenakan atasan apa pun selain branya.
"HYAAAA DIREKTUR JANGAN LIHAATTT!"
Aku dilempar rok. Tepat kena wajahku. Aku mundur selangkah untuk menutup pintu. Kuambil rok yang dilemparnya lalu kucium aromanya. Sungguh wangi sekali.
"Dasar maniak…"
Aku baru sadar kalau si Changmin tengah memerhatikanku.
"EH TI-TI-TIDAK!"
Aku melempar rok itu kemudian kuketuk pintu kamar Jaejoong berkali-kali. Untungnya aku cepat sadar kalau yang kulakukan itu sungguh mesum…
"Changmin, dia kenapa 'sih?" kutanya saja pada anak manis yang menyebutku maniak itu.
"Dia bingung mau pakai baju apa sampai dia kesal sendiri. Aku coba membantunya tapi dia malah marah padaku."
Jadi itu alasannya tadi ada bra yang menyangkut di kepalanya? Karena dilempar Jaejoong? Lalu bajunya yang berantakan juga apa karena dia dihajar?
Hm. Lumayan.
"Jaejoooonggggg!"
Kucoba membuka pintu itu tapi sepertinya dikunci dari dalam.
"Maaf Direktur…"
Bisa kudengar suaranya. Mungkin dia sedang berdiri di balik pintu. Di saat begini, apa yang harus kulakukan?
Aha! Aku 'kan punya jurus gombal yang sudah dipastikan mempan padanya! Baiklah, biar kucoba.
"Jaejoong, dengarkan aku. Aku tidak peduli pakaian apa yang kau pakai, karena apa pun yang kau pakai kau akan tetap cantik. Sekarang pakailah pakaian yang nyaman bagimu, tidak usah memikirkan pendapat orangtuaku nanti. Mereka pasti akan suka seperti aku menyukaimu!"
Aku tidak mendengar jawaban apa pun dari dalam sana.
"Jadi… Ayo kita pergi. Mereka pasti sudah menunggumu."
Kutunggu beberapa saat sampai akhirnya Jaejoong bersuara.
"Iya."
Yes! Aku berhasil! Aku memukul-mukul udara dengan bahagia. Aku lupa kalau si Changmin masih berdiri di situ sejak tadi. Dan lagi-lagi aku kepergok terngah melakukan hal bodoh.
"Orang aneh."
Sakit hatiku dikatai begitu olehnya. Hiks.
Selagi menunggu Jaejoong, cari obrolan dengan anak ini ah…
"Hei Changmin, bagaimana model kit-mu? Apa sudah ada yang jadi?"
Dia tidak menjawab tapi malah melangkahkan kaki ke kamarnya. Aku mengikutinya seperti anjing. Sedikit banyak aku penasaran juga sejago apa anak ini merakit mainannya.
"Tinggal tank-nya yang belum kukerjakan."
Wuah! Aku sungguh tak percaya! Di meja belajarnya tertata rapi beberapa model kit yang sudah jadi. Bahkan sudah di cat! Gundam, Zoid, pesawat, dan model kit lainnya yang kubeikan waktu itu semua sudah dirangkai sempurna! Hebat sekali! Bahkan aku yang sudah bertahun-tahun kenal model kit pun kadang tidak bisa menyelesaikan rakitanku dengan mudah. Ini belum lama, tapi dia bisa mengerjakannya dengan sangat baik! Jenius!
"Kau hebat sekali Changmin! Padahal merakit bukan hal mudah!"
Dia hanya menunduk malu. Hei, aku bisa lihat dari wajahnya kalau dia tersipu karena pujianku! Lihat saja itu! Dia menahan senyumnya! Aku baru sadar kalau dia cukup manis. Rasa-rasanya manisnya ini dia dapat dari Jaejoong.
"Astaga kau imut sekali."
"Apa? Imut?"
Dia langsung mengangkat wajahnya. Gignya mengerit dan dia menggeram! Gawat! Sepertinya aku sudah mengatakan sesuatu yang salah!
"KELUAR DARI KAMARKU, DASAR PAMAN CABULLL!"
Aku diusir! Segera saja aku lari terbirit-birit.
Bruk! Sayangnya aku menubruk Jaejoong di depan pintu.
"Direktur? Ada apa?" tanyanya heran.
"Sudahlah, ayo cepat kita pergi sebelum si Changmin murka!"
"Eh! Tunggu!"
Aku menggandeng tangan Jaejoong dan membawanya lari keluar. Aku mencoba tidak peduli apa si Changmin akan benar-benar murka padaku gara-gara kata-kataku tadi, ditambah Jaejoong-nya diculik olehku tanpa pamit. Mobilku kulajukan dengan kencang meninggalkan rumah itu.
"Em… Direktur…"
"Ya?"
"Aku… Belum sempat memakai sepatu tadi…"
Kulihat kakinya hanya berbalut sandal rumah! Astaga! Mengapa bisa-bisanya aku melupakan hal ini!
"Maaf… Semuanya karena aku…"
Jaejoong terkekeh.
"Tidak apa-apa…"
"Kalau begitu nanti kita mampir ke toko sepatu saja ya? Aku ingin membelikanmu sepatu sebagai permintaan maafku."
"Eh? Tidak usah sampai begitu, Direktur!"
Mau bagaimana lagi. Memang gara-gara aku dia tidak sempat mengenakan sepatunya, atau bahkan memilih sepatu mana yang mau dia pakai. Untungnya jalanan yang kami lewati adalah daerah pertokoan, jadi sambil menyetir aku sesekali melirik untuk mencari toko sepatu.
Cling! Ekor mataku menangkap sesuatu yang begitu menarik perhatian di toko yang baru saja kulewati. Aku menepi lalu memundurkan mobilku sampai ke depan toko itu.
Demi cicak yang kulempar kemarin, sesuatu yang dipajang di toko pakaian itu sangat indah!
"Jaejoong, aku ingin baju itu."
"Hah?"
Dahinya berkerut bingung. Oke. Mungkin cara penyampaianku yang salah, apalagi yang kutunjuk adalah mini dress wanita.
"Kita turun."
"Lho? Direktur?"
Aku sudah tidak mau banyak bicara lagi karena aku tak tahan ingin segera memindahkan pakaian berwarna merah menggoda itu dari manekin ke tubuh Jaejoong!
Kau tahu? Kadang kalau kita menginginkan sesuatu dan sengaja mencarinya, justru kita tidak akan mendapatkan apa yang kita mau. Tapi kadang kalau kita tak sengaja menemukannya, kita akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitulah yang kualami saat aku jatuh cinta pada Jaejoong, juga pada mini dress merah itu.
:::
YOUR TATTOOS, YOUR LEGS, AND YOUR WET HIGH HEELS: 教えない
TO BE CONTINUED
:::
Sebenernya apa yang dialamin sama Direktur Jung itu saya alamin sendiri loh, hahahha.
Kalau saya sengaja cari barang yang saya mau, pasti ga ketemu, tapi saat lagi nggak begitu ngebet nyari, eh muncul sendiri!
Terus, kalau Jaejoong dibeliin mini dress itu, dan dipakai buat ketemu ortunya Yunho, apa kata mereka yaaa?
:::
THANKS FOR READ!
MIND TO REVIEW?
:::
