He is our baby, right?
Author : Ai Mochie
Rate : T
Pair : HunHan
Slight : ChanHan, ChanBaek
Disclamer : Semua Char di sini milik Tuhan Yang maha Esa. dan tentunya milik EXO-L. EpEp ini murni dari otak author^^
Char :
Xi Luhan
Oh Sehun
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
All Other...
Length : Chapter
Genre : Hurt/Comfort
Warning :GS, ETC berantakan, typo(s) bertebaran dimana-mana..XD
Summary : Bagaimana jadinya jika Xi Luhan harus menjadi bully-an para yeoja karena sikap pendiamnya dan selalu di lindungi oleh namja tampan yang terkenal di sekolahnya, seorang Park Chanyeol. Apakah hidupnya akan bahagia? Sedangkan luka mendalam 2 tahun yang lalu dari namja berkulit putih pucat yang membuat Luhan mempunyai seorang replika namja itu. Bagaimana hidupnya setelah ini?
Don't Like Don't read
Chapter one
Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Luhan masih setia menimang malaikat kecil. Ia tersenyum tulus melihat malaikat kecilnya mulai tertidur di gendongannya. Ia tahu rasa lelah, ia tahu penderitaannya selama 2 tahun ini. Tapi ia merasa bahagia saat mendengar bahwa bayi di kandungnya akan lahir, ia sangat bahagia saat ia mendengar suara tangis bayi untuk yang pertama kalinya.
Berat bagi Luhan untuk menjalani hidupnya yang seperti ini di usianya masih 18 tahun. Ia masih harus sekolah, meski ada hari dimana ia tak sekolah untuk mencari penghasilan demi mencukupi kehidupannya bersama seorang bayi mungil yang masih berumur satu tahun ini.
Ia tersenyum pahit saat mengingat namja yang membuatnya memiliki seorang bayi di umurnya yang sangat belia ini, mengingat pengusiran keluarganya karena kehamilannya dan bayinya. Apa ia mencintai namja itu? Ia tak tahu. Yang ia tahu ia pernah bertemu pertama kali di club malam saat ia masih berumur sangat muda, 16 tahun bersama Baekhyun.
Byun Baekhyun adalah sahabatnya dari kecil, ia menghabiskan masa-masa sekolah bersama, bercanda bersama. Dan orang tua mereka pun bersahabat. Tapi tidak lagi saat ia selesai pergi ke club malam atas ajakan Baekhyun yang membuat ia kehilangan keperawanannya dan mendapatkan seorang bayi karena itu. Meski terbesit rasa bersalah di diri Baekhyun, tetapi rasa itu tertutupi oleh rasa cemburunya pada Luhan, Karena namja yang di cintai Baekhyun sedari SMP malah lebih perhatian pada Luhan, dan mereka berdua seperti sepasang kekasih.
Luhan tak pernah membenci siapapun, ia tahu semua ini adalah kesalahannya, dan bukan salah orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Ia mempunyai hati yang mulia, bahkan ia tak membeci namja berkulit pucat bernama Oh Sehun yang notabenenya adalah Appa biologis dari bayinya, ia malah merelakan semua, ia tahu harus menghadapi hidup ini sendiri bersama bayi mungilnya.
Setelah pertemuanya yang kedua kali dengan Sehun setahun yang lalu, Ia masih ingat tatapan dingin Sehun yang saat itu kelas 3 SMA mengatakan 'Cih, anakku? apa kau bisa membuktikannya? Aku tak pernah berhubungan badan denganmu adik kecil' 'Gugurkan bayi itu jika memang kau meminta pertanggung jawaban dariku, aku tak akan mengakuinya. Kutekankan sekali lagi, jangan pernah muncul di hadapanku'. Ya Luhan saat itu masih terlihat seperti anak kecil yang berusia 16 tahun. Dan Luhan hanya menangis dan mengatakan 'Aku tak apa-apa,kau tak perlu mengakuinya, aku tak ingin membunuhnya, biarkan aku memilikinya. Aku yang berdosa bukan bayi yang ada di perutku' yang akhirnya ia harus keluar dari keluarganya dan hidup sendiri di usianya yang sangat belia.
"Hahhh, kenapa kau selalu menangis eum? Apa kau merindukan Appamu?" tanya Luhan dengan menidurkan bayi mungil itu di ranjang sempit miliknya. Iapun tersenyum, lagi-lagi wajah namja itu terpatri di ingatannya.
"Apa ia baik-baik saja?" tanyanya dengan mencoba menutup jendela yang terbuka. Ia masih mengingat, kabarnya lelaki itu sekarang ada di Los Angeles, mustahil bagi Luhan bertemu dengannya lagi. "Apa ia akan mengingatku?"
Iapun terduduk dan mengusap kepala bayi itu, bahkan ia belum memberinya nama, padahal anaknya sudah mencapai usia 1 tahun. Ia ingin Oh Sehunlah yang akan memberikan nama untuk jagoan kecilnya yang benar-benar mirip dengan Sehun. Iapun menidurkan dirinya , masih ada waktu 3 jam beristirahat, kemudian ia harus mengantarkan koran dan susu di kompleks dekat flat kumuhnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, iapun segera bergegas mandi dan memakai baju yang cukup hangat. Pemanas ruangan ia nyalakan, agar bayi mungilnya bisa tidur dengan tenang. Iapun keluar dari flat kumuhnya. Dan ia berpapasan dengan Kyungsoo, Ibu muda yang tengah hamil sedang bersama suaminya.
"Annyeong Luhannie" Sapa ibu muda itu, membuat Luhan membungkuk memberikan hormat pada yeoja yang lebih tua 5 tahun darinya.
"Annyeong, Unnie, Oppa" Senyum Luhan terlukis indah di bibir cherry nya.
"Apa kau berangkat kerja lagi? Ahh kau benarbenar yeoja kuat Luhan" Pernyataan Suami Kyungsoo yang diketahui bernama Jongin itupun membuat Luhan hanya tersenyum.
"Apa aegyamu ada dirumah, bolehkah kami menghampirinya?" tanya Kyungsoo dan membuat senyum Luhan semakin melebar. Unnienya ini yang sudah dikenal selama setahun disini selalu membantu Luhan merawat bayi mungilnya saat ia sekolah maupun kerja sambilan.
"Ne Unnie, gomawo sudah merawatnya saat aku tak ada"
"Ne. Seharusnya aku yang berterimakasih, karena aku diperbolehkan merawat bayi mungil yang benar-benar tampan" Jawab yeoja itu sembari mengusap perut besarnya. Terbesit rasa iiri saat melihat sepasang suami istri ini, mereka sangat bahagia dan Unnienya hamil ditemani oleh namja yang notabenenya suaminya. Sedangkan Luhan melakukan semua sendiri.
"Hehe, sekolahku hanya kurang beberapa bulan lagi Unnie, aku akan berusaha merawatnya juga. Tak enak rasanya jika aku terus merepotkanmu" Luhan tersenyum dan berpamit akan pergi menuju tempat kerjanya mengantar susu dan koran di pagi hari "Annyeong Unnie, Oppa... aku pergi dahulu. Semoga hari kalian menyenangkan"
"Ne Luhannie, Semoga harimu juga menyenangkan" ucap Kyunsoo dengan melambaikan tangannya seiring Luhan yang menaiki sepedanya menjauhi mereka berdua.
Luhan telah mengantarkan kotak-kotak susu itu dan koran di seluruh rumah di kompleks ini. Ia mendengus lelah. Iapun teringat bayi mungilnya dan terlihat matahari mulai bangun dari peraduannya. Iapun mengayuh sepeda bututnya kembali ke flatnya. Dua jam lagi, bel masuk sekolahnya akan berbunyi. Ia harus bergegas sekarang.
Luhan sudah mulai memakai seragamnya. Ia tersenyum saat melihat pantulan dirinya di cermin. Dengan segera ia memberikan susu pada bayi mungilnya.
"Makanlah yang banyak, Chagi" ucapnya dengan mengusap rambut tipisnya. "Kau benar-benar mirip dengan Appamu" gumam Luhan. Bayi mungilnya pun mengangkat kedua tangannya, Ia ingin digendong Umma tercintanya ternyata.
Ia mengedong bayi mungilnya dengan hati-hati. Iapun mengambil tasnya dan keluar dari flat kecilnya. Menuju rumah yang ada tak jauh dari flatnya, kerumah Kyungsoo Unnie yang sudah ia anggap sebagai kakaknya.
Ting Tong..
Ting Tong..
"Unnie" Panggil Luhan. Pintu itupun terbuka. Terpampang jelas Kyungsoo yang tersenyum padanya.
"Omo.. Luhan kecil sudah datang ternyata" ucapnya dengan merentangkan kedua tangannya, meminta bayi mugil Luhan digendong olehnya. Tetapi bayi itu menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Luhan. Dia tahu kalau bayinya tak ingin di tinggal pergi.
"Chagi, kau ikut Kyung Komo dulu ne, Umma hanya akan pergi sebentar" jelas Luhan pada bayi kecilnya. Bayi itu menggeleng seolah tak mau jauh dari Eommanya.
"Mma-maa-Mma" ucap anak kecil berusia setahun ini. Luhan hanya menghela nafasnya pasrah. Dan mengusap lembut rambut tipis bayinya.
"Eomma tak akan lama. Kau bersama Kyung Komo ne?" Jelas Luhan. Bayinya pun akhirnya mau di gendong oleh Kyungsoo. Ia tersenyum dan mencium pipi gembul bayinya.
"Eomma pergi sekolah sebentar ne, jangan nakal arra. Jangan merepotkan Kyung Komo" Luhan mengusap rambut tipisnya kasar dan meninggalkan bayinya di rumah Kyungsoo untuk berangkat kesekolah dengan sepeda bututnya.
Luhan sudah ada di pekarangan sekolah. Ia turun dari sepedanya dan memarkir sepeda itu di dekat pohon besar di area itu. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, berharap ia akan tangguh menghadapi apapun yang terjadi. Iapun berjalan menuju koridor kelasnya.
Tak sengaja ia bertemu dengan Chanyeol yang berjalan di koridor dari ujung yang lain. Chanyeol tersenyum padanya. Luhan terhenti, lagi-lagi jantungnya berdegup lebih kencang sekarang. Tak terasa Chanyeol sudah ada di depan matanya.
"Annyeong, Nona Xi" Ucap Chanyeol dengan mensejajarkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Xi Luhan yang lebih pendek darinya beberapa senti.
"E-eh, Annyeong Chanyeol" Luhan gugup dan berusaha menetralkan detak jantungnya. Ia menundukkan wajahnya, untuk kali ini ia tak sanggup melihat wajah Chanyeol.
Tangan Chanyeol menyentuh kening Luhan. "Apa sekarang kau lebih baik, akan kejadian kemarin?" Luhan mengingat kejadia ia disiram oleh Baekhyun kemarin.
"N-ne.. aku lebih baik" Chanyeol pun menarik tangan Luhan. "Ayo ke kelas Luhannie" ucap Chanyeol dan Luhan hanya menunduk malu dan mengikuti semua perlakuan Chanyeol padanya.
Bukannya ke kelas, Chanyeol malah membawanya ke cafetaria sekolah. Luhan sempat bingung, bukannya ia tadi diajak ke kelas, bukan ke cafetaria sekolah.
"Jangan bertanya apapun Nona Xi, Sekarang duduklah disini" Luhan mengangguk dan duduk di kursi di pojok cafetaria sekolah. Terlihat tatapan sengit dari yeoja-yeoja di bangku lain menatapnya. Ia menguk salivanya dan menunduk pasrah. 'Oh Tuhan, kuatkan aku' gumamnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian Chanyeol membawa dua mangkok makanan pada nampan yang ia bawa. Ia duduk di seberang Luhan, Dan menyodorkan satu mangkok itu di depan Luhan, membuat Luhan mengeryitkan dahinya.
"Temani aku makan, Luhannie" Ucap Chanyeol.
"Aku su-" belum sempat Luhan berbicara. Jari telunjuk Chanyeol menyentuh bibir Luhan untuk membuat ia tak berbicara.
"Tak ada penolakan arra? Aku tahu kau tak pernah sarapan dipagi hari" Tepat, tepat sekali kata-kata Chanyeol. Luhan mengiyakan dalam hati, tapi perasaannya tak enak seiring semua tatapan sengit yeoja-yeoja di cafetaria itu mengarah pada dirinya dan Chanyeol.
"Makanlah Luhannie" Ucap Chanyeol lagi. Luhan malah terdiam dan memandang Chanyeol yang makan dengan lahapnya.
"Apa kau ingin makan semangkok berdua denganku? Atau kau mau aku menyuapimu Luhannie?" Luhan terkejut dengan pertanyaan Chanyeol. Iapun meraih sumpit dan mencoba untuk membuat Chanyeol tahu kalau ia akan makan saat itu juga.
"Nahh anak pintar" Chanyeol mengacak rambut Luhan gemas. Marekapun menghabiskan sarapan paginya berdua dengan ocehan Chanyeol yang tak ada hentinya. Dan respon Luhan yang sedikit takut karena tatapan yeoja yeoja di cafetariia itu.
Luhan dan Chanyeol berjalan beriringan menuju kelas. 15 menit lagi bel berbunyi. Luhan masih setia memandang kebawah agar tak melihat Chanyeol di sampingnya, ia sedikit takut melihat tatapan yeoja-yeoja yang iri dengannya disepanjang langkahnya di koridor menuju kelas.
"Apa kau tak nyaman? Mianhae Luhannie" Ucap Chanyeol yang membuat Luhan mendongakkan kepalanya karena ucapan Chanyeol.
"Ani, Gwaechana" Luhan tersenyum tipis menatap Chanyeol. Sampai pada akhirnya ia sampai di kelasnya dan menuju bangkunya di pojok belakang dekat jendela.
Chanyeol mengamati Luhan dari pintu kelas yang memang Chanyeol bukan teman sekelas Luhan. Ia terkejut saat melihat Luhan mengarah pada bangku yang penuh dengan cat basah berwarna merah dan meja yang penuh coretan itu. 'Jangan katakan itu bangkumu Luhan" gumamnya.
Luhan tersenyum pahit. Ia tahu hal ini bukan yang pertama kalinya. Iapun menuju samping kelas mengambil beberapa alat bersih-bersih dan membersihkan coretan di bangkunya.
Triiiing~
Bel berbunyi. Tapi cat itu masih terlalu basah untuk di duduki. Iapun membuka bukunya dan menaruhnya di tempat duduknya, kemudian mendudukinya.
Terpampang wajah puas di yeoja berayeliner dengan dandanan yang mencolok itu menatap Luhan Luhan hanya tersenyum melihat yeoja itu menatap dengan penuh kemenangan. Luhan menghela nafas dan mencoba mendengarkan pelajaran dipagi hari ini.
Skip time~~
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lu. Dengan segera ia mengedarai sepeda bututnya menuju rumah Kyungsoo. Ia pun tersenyum bahagia. Hari ini tidak begitu buruk baginya, tak seperti hari lalu. Dan hari ini mati-matian menghindar dari Park Chanyeol.
Sempat bersyukur dalam hatinya, ia masih bisa melanjutkan sekolahnya dengan tepat waktu, meski harus home schooling di flat kecilnya karena selama 9 bulan ia harus mengadung bayinya, dan melanjutkan sekolah sesuai tungkatnya setelah melahirkan bayinya. Kalau semua bukan karena Ummanya yang diam diam selalu membantu Luhan tanpa sepengetahuan Appanya yang sudah menganggap Luhan bukan putrinya lagi karena mencoreng harga diri keluarganya, ia tak mungkin bisa melanjutkan pendidikannya.
Pihak sekolah pun belum tahu, bahkan semua siswapun belum tahu kalau yeoja berumur 18 tahun ini sudah memiliki bayi. Maka dari itu ia menutup dirinya, menghindar dari banyak orang, dan menolak memiliki teman agar ia bisa lulus dari sekolah ini yang kurang beberapa bulan lagi.
Luhan telah sampai di rumah Kyungsoo. Ia memencet bel dan disana terlihat anak tercintanya terduduk dan tertawa dengan lelucon suami Kyungsoo, Jongin namanya.
"Masuklah Luhannie"
"Ne Unnie, maaf sudah merepotkanmu" Luhan pun memasuki rumah kecil tapi mewah itu. Sempat merasa iri hatinya melihat Jongin bisa tertawa bersama anaknya. Ia juga ingin melihat anaknya tertawa bersama Appanya.
"Luhan, Jagoan kecilmu benar-benar lucu" ucap Jongin. Membuat Luhan tersenyum. "Baby... besok anak kita namja saja ne, aku ingin punya anak namja seperti jagoan ini" rengek Jongin pada Kyunsoo.
"Ani, aku ingin yeoja, tetap yeoja. Arraseo!" Jelas Kyungsoo yang langsung membuat Jongin merubah raut wajahnya. Luhan tersenyum getir melihat kehagiaan keluarga kecil ini, Ia juga ingin merasakan kebahagiaan itu bersama namja yang merupakan Appa dari anak tercintanya ini.
"Mma-mma" panggil anak kecilnya yang menarik narik kaus kaki sekolahnya. Membuat Luhan tersadar dari lamunannya. Ananknya tersenyum girang padanya. Luhan pun mengendong jagoan kecilnya yang benar-benar mirip dengan namja itu.
"Omo.. anak Umma rindu ne" Jagoan kecilnya hanya tertawa mendengar ucapan Ummanya. Ia pun tersenyum. Semua terasa indah bagi Luhan, semua terasa mudah bagi Luhan setelah mendengar tawa dan melihat senyum anak kandungnya ini. Ia akui, ia sangat menyayangi dan mencintai anaknya ini. Meskipun kejadia yang lalu membawa luka baginya, Ia tak bisa membenci darah dagingnya sendiri bukan?
Setelah berpamitan dengan Kyunsoo dan Jongin, Luhan kembali ke flat kecilnya. Ia harus membuat jagoan kecilnya ini tertidur dan menyelesaikan beberapa tugas sekolahnya dan kemudian tidur untuk melakukan kerjaannya dipagi hari seperti biasanya.
Esoknya...
Luhan tak bisa meninggalkan jagoan kecilnya. Ia senantiasa menangis, tak mau meminum ASI Luhan dan suhu tubuhnya meninggi membuat Luhan kebingungan karenanya.
Dengan segera ia mengambil jaket tebalnya, dan mengedong jagoan kecilnya menuju rumah sakit yang cukup jauh dari flat kumuhnya. Iapun bertekad dalam dirinya, bahwa jagoan kecilnya harus sembuh saat ini. Iapun meraih semua uang di kaleng tabungannya selama ini. Untuk saat ini, kesehatan jaoan kecilnya yang di utamakannya.
"Taksi" ia menghentikan taksi dan terus mendekap erat jagoan kecinya yang sedari tadi menangis. 'Kumohon, jangan biarkan jagoan kecilku sakit' batinnya dengan terus mengusap lembut rambut tipis anaknya.
Ia sudah sampai di rumah sakit. Jagoan kecilnya masih harus ada perawatan dari dokter, dan tampang cemas ada di wajah Luhan setiap detik ia menunggu kabar dari dokter yang merawatnya.
KRIIEETTT
"Bagaimana Dok?" tanya Luhan seiring Dokter keluar dari ruangannya.
"Dia masih sangat kecil, aku tak meyangka ini bisa terjadi, tetapi. Ada kanker di tubuhnya"
JDEEERRR
Luhan serasa disambar listrik yang bervolt-volt jumlahnya. Pelupuk matanya pun dipenuhi liquid bening.
'Tuhan, Cobaan apa lagi ini'
Ia melihat jagoan kecilnya yang sekarang tidur lemah diatas ranjang rumah sakit ini. Dengan alat-alat yang Luhan jelas tak tahu itu apa. Luhan terdiam, ia tak tahu harus bagaimana lagi.
"Anakku" Ia hanya bergumam saatu kata itu disela sela tangisnya.
Iapun berlari keluar rumah sakit. Untuk yang pertama kalinya, ia membuka dompetnya. Mengambil kartu yang ada di dompetnya. Ia menatap sebentar. Mungkin ini saatnya, batinnya.
Ia terus berlari, samapai akhirnya...
CKIIITTT...
BRAAKKKK...
Luhan terkapar, dan simbahan darah keluar dari kepalanya..
Sang pengendara langsung berhenti dan menghampiri Luhan. Ia mendengus kesal, apa yang telah terjadi sekarang..
Luhan masih sedikit tersadar sampai akhrinya ia menutup matanya tak sadarkan diri yang sebelumnya melihat wajah tampan yang selalu ia dan anaknya rindu akan kehadirannya.
"Oh Sehun" gumam Luhan
TBC...
Hahaha .. Ai bener-bener nyesek saat mengetik ini cerita. Melihat penderitaan Luhan selama ini. Huwahhh *meluk Luhan* Tapi Ai akan membuat hidup Luhan bahagia setelah ini, Luhan terlalu menderita selama 2 tahun bukan? Apa Ai buat hidup Sehun menderita juga setelah ini?
Tapi tenang aja, Ai ini penganut Happyendingisme kok, emang ada?
Dan apa ini terlalu pendek? Maaf Ai tak ingin membuat ceritanya terlalu panjang, itu akan membuat readerdeul bosan.
Ai bener-bener ngucap "Khamsa hamnida" buat semua yang udahh meriview cerita gaje Ai, Tapi semoga readersdeul suka. Dan Ai akan menjawab pertanyaan para Readerdeul.
Q : Cinta Chanyeol tak terbalas?
A : Entahlah, Author harus meditasi dulu menjawab ini hehe
Q : Luhan punya anak sebelum nikah?
A : Iya, dan itu sudah terjawab jelas di chapter ini.
Q : Terus Oh Sehunnya kemana?
A : Ai rasa jawabnya sudah ada di Chapter pertama ini.
Q : Author update cepet ya?
A : Apa ini termasuk updat cepet .. hehe *bow*
Untuk next chap, Ai akan buat cerita dari sisi Oh sehun, nyesek kalau Lihat Lulu menderita mulu kan? Maafkan Ai yang mungkin nih cerita belum begitu menarik, dan mohon bimbingannya setelah ini bagi para sunbae, Ai masih hoobae disini..
Khamsa hamnida...
Love you...
R
E
V
I
E
W
please!
