He is our baby, right?

Author : Ai Mochie

Rate : T

Pair : HunHan

Slight : ChanHan, ChanBaek

Disclamer : Semua Char di sini milik Tuhan Yang maha Esa. dan tentunya milik EXO-L. EpEp ini murni dari otak author^^

Char :

Xi Luhan

Oh Sehun

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

All Other...

Length : Chapter

Genre : Hurt/Comfort

Warning :GS, ETC berantakan, typo(s) bertebaran dimana-mana..XD

Summary : Bagaimana jadinya jika Xi Luhan harus menjadi bully-an para yeoja karena sikap pendiamnya dan selalu di lindungi oleh namja tampan yang terkenal di sekolahnya, seorang Park Chanyeol. Apakah hidupnya akan bahagia? Sedangkan luka mendalam 2 tahun yang lalu dari namja berkulit putih pucat yang membuat Luhan mempunyai seorang replika namja itu. Bagaimana hidupnya setelah ini?

Don't Like Don't read

Chapter Four

Setelah Luhan menahan tangannya .Suasana ruangan ini begitu hanya terdiam dan tak berani sedikitpun menatap Luhan yang ada di sampingnya yang sedang duduk di ranjangnya. Luhan melepaskan tangannya. Sedangkan Luhan menatap Sehun yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Luhan menghela nafasya. Sudah 15 menit lamanya mereka dalam posisi seperti ini. Dan Luhan membenci suasana seperti ini.

Ingin rasanya ia memulai pembicaraan. Tapi rasanya lidahnya kelu dan tak bisa mengatakan apapun. Perasaan yang entah apa menggerogoti hatinya. Benci, marah, sedih, bahagia dan apapun itu berkecamuk di hatinya. Ingatannya kembali pada saat Sehun menolaknya dan menolak kehadiran darah dagingnya sendiri dan ingatannya kembali pada saat dimana Ia bertemu Appa Sehun yang menampar pipinya dan mengucapkan kata-kata yang kasar dengan mengancam Sehun dan anaknya saat itu. Tubuhnya menegang, dan bulir bening itu lolos dari kelopak mata rusanya.

Ia tak tahu, bahkan tak menyangka jika sosok yang selama ini diharapkan kedatangannya ini ada di sampingnya setelah satu tahun menghilang dan pergi ke Los Angeles. Ia menampik semua kebencian pada namja itu demi anaknya, Ia melakukannya karena tak ingin darah dagingnya juga membenci Appa kandungnya.

Airmatanya terus menetes. Iapun menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Dan menangis sejadinya. Luhan tak apa sendirian, Luhan mampu melakukan dan memperjuangkan anaknya sendrian. Tapi Luhan tak ingin semua akan celaka setelah ini, jika Sehun kembali padanya, hidup Sehun akan celaka, begitu juga dirinya dan anaknya. Entahlah, Luhan tak mengerti dengan perasaannya, ia tak tahu, apa ia mencintai namja yang membuatnya memiliki seorang anak di umurnya yang sangat belia ini? Yang ia tahu, Ia tak ingin melihat namja ini celaka karenanya, karena itu membuat dirinya merasa sakit setelah itu.

"Uljima" Sehun membuka suaranya. Ia mengira bahwa Luhan menangis karena kedatangannya. Setelah penolakannya pada Luhan setahun yang lalu, Sehun mengira Luhan menangis karena itu. Dan Sehun akan menerima jika Luhan membencinya.

"Uljima Luhan, kumohon berhentilah menangis" Luhan semakin menangis mendengar ucapan Sehun. Sehun pun menatap Luhan yang menggelamkan wajahnya pada tangannya yang basah karena airmatanya.

"Aku tahu, aku tahu ini semua salahku, aku tahu Luhan, kau boleh membenciku, kau boleh menghukumku, Ini semua salahku. Aku minta maaf padamu, aku mohon maafkan aku" Sehun mendekati ranjang Luhan. Dan mendudukkan dirinya di samping Luhan.

"Kau boleh membenciku, Kau boleh membenci ku seumur hidupmu, tapi maafkan aku, maafkan aku yang telah membuat hidupmu menderita selama ini, maafkan aku yang telah membuat kau menjadi seperti ini. Dan maafkan aku yang meninggalkanmu, menolakmu padahal aku tahu kau mengandung anakku. Kumohon maafkan aku" Sehun meneruskan pembicaraannya, Luhan sangat bahagia mendengar permintaan maaf ini, dan ia sangat bahagia bahwa Sehun disini sekarang tetapi ia mengingat sesuatu bahwa, Sehun tak boleh ada disisinya, karena jika Sehun disisinya, semua akan celaka.

"Aku tahu aku namja brengsek, tak seharusnya yeoja baik sepertimu bertemu namja brengsek seper-"

"Tinggalkan kami Sehun hiks" Luhan memotong pebicaraan Sehun. Sehun menegang. Ia tahu bahwa pasti Luhan akan menolak kehadirannya saat ini. Luhan pun menghapus airmatanya dan menatap Sehun. Ia ingat bahwa Sehun tak boleh ada disisinya sekarang, dan sampai kapanpun. "Aku memaafkanmu Sehun, Dan kumohon tinggalkan kami"

"Luhan?"

"Kumohon tinggalkan kami hiks" ucapnya dengan menahan airmata yang ingin menetes. 'Ini semua demi dirimu dan anak kita Sehun' batinya menahan sakit.

Sehun mengangguk dan berkata "Gomawo Luhan, sudah memaafkanku" Iapun berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Luhan. Koper di ujung ruangan itupun diseretnya keluar. Iapun keluar dan menutup pintu ruang inap Luhan. Kakinya melemas dan ia menyandarkan badannya pada tembok di depan ruangan itu. Tubuhnya melorot sampai akhirnya ia terduduk dan airmata sukses berebut untuk keluar dari pelupuk mata elangnya. Ia menangis sejadinya di depan ruang inap Luhan.

Sedangkan Luhan menatap pintu yang tertutup setelah Sehun meninggalkannya beberapa detik yang lalu. Bulir bening kembali menetes dari kelopak mata rusanya. Dan disini ia memegang dadanya dan menangis sejadinya.

"Hiks.. hiks aku benar-benar tak menginginkan kau pergi Sehun. Hiks Aku selalu ingin kau bisa menemaniku dan merawat anak kita bersama hiks.. maafkan aku Sehun.. tapi ini semua diluar kuasaku hiks kumohon jangan pergi hiks Sehun.. Hiks aku ingin kau disini Sehun hiks kajima hiks hiks kajima" Ia terus menangis dengan memukul-mukul dadanya. "Hiks kajima"

Sehun sekarang duduk di halte yang berjarak lumayan jauh dari rumah sakit. Ia tersenyum pahit. Ia tak tahu harus kemana sekarang. Ia pergi dari rumah, dan Luhan menolaknya. Ia menundukkan kepalanya. Iapun menatap ponsel yang dibawanya. Dan mendial nomer yang ada di screennya saat itu.

"Yeoboseyo"

"Kkamjjong ini aku"

"Wae Albino, aku sedang sibuk bekerja sekarang. Apa ada sesuatu?"

"Luhan menolakku"

"Mwo?"

"Kuharap kau bisa menjaga Luhan dan anakku, Kkamjong"

"Eh? Apa maksudmu Albino?"

"Aku akan pergi dari kehidupan mereka Kkamjong, Sudah tak ada tempat lagi bagiku disisi Luhan. Ia menolak kehadiranku. Dan ia mencintai namja lain"

"Hey Albino, bukan Oh Sehun namanya jika kau menyerah seperti ini bung?"

"Aku sudah melakukannya, aku sudah berbicara padanya Kkamjong, Kumohon jaga mereka. Dan buat ia bahagia dengan namja yang di cintainya"

"Bagaimana dengan kanker anakmu bodoh? Apa kau akan tetap pergi sedangkan anakmu sedang sakit seperti itu"

"A-aku.. aku namja brengsek Jjong. Aku yakin anakku akan sembuh. Hanya tinggal beberapa kali kemo sampai semua kankernya terangkat. Aku akan mengirimkan uang saat jadwal kemo anakku Jjong"

"Uang? Apa kau gila. Kau bahkan tak punya sepersenpun uang sekarang"

"Aku akan mengusahakannya demi anakku"

"Yakk Sehun. Apa kau akan benar-benar pergi? Hey!"

"Mianhae.. sudah merepotkan kalian semua. Aku sudah membayar administrasi Luhan sampai esok. Bukankah besok ia akan pulang? Jaga dia baik-baik Jjong, layaknya adikmu sendri, untukku"

"Hey Oh Sehun, Yakk"

"Aku Sangat mencintainya hiks. Mianhae"

pip

Ia mematikan ponselnya. Iapun mengusap airmatanya. Mulai saat ini, ia tahu bahwa.. Luhan tak mencintainya, Luhan tak ingin dirinya ada disisinya. Dan Sehun akan pergi dari Seoul..

Ini adalah keputusannya..

"Apapun yang akan membuatmu bahagia.. Jika kau ingin aku pergi, aku akan pergi Luhan.. Aku sangat mencintaimu.. Jaga dirimu Luhan.."

Bus pun datang, dan ia menaiki bus meninggalkan kota Seoul kala itu.

Esoknya...

Luhan sudah bersiap pulang dari rumah sakit, saat ini entah ia sama sekali tak bisa membuat senyuman ceria seperti biasanya. Semua senyumannya terlihat palsu, dan dimatanya, terlukis jelas kesediha. Ia menghela nafas. Dan menatap suasana Seoul dari kaca jendela ruang inapnya.

"Luhan, sudah siap? Kajja kita pulang" Suara Kyungsoo menyadarkannya dari lamunan. Iapun menatap Kyunsoo dan tersenyum mengangguk.

"Ne Eonnie"

"Haowen dan Jongin sudah menunggu kita diluar" Kyungsoo tersenyum.

"Haowen?" Luhan tak mengerti.

"Ne, Oh Haowen. Sehun memberikan nama itu pada jagoan kalian saat kau masih koma beberapa hari yang lalu. Apa dia belum mengatakannya padamu?"

Luhan terkejut, ada perasaan hangat di hatinya. 'Haowen? Oh Haowen.. nama yang indah. Dan ia mengakui anaknya' batinnya. "Ani, dia memberitahukannya padaku Eonnie, mungkin aku yang tidak mengingatnya"

"Ahh kau ini, Kajja kita keluar"

"Ne Eonnie Kajja" ia tersenyum dan berjalan keluar rumah sakit.

Di dalam perjalanan Luhan hanya terdiam dan melihat pemandangan kota Seoul yang saat itu hampir menjelang petang. Ia mengingat jelas saat dimana Sehun meminta maaf padanya, dan ia menyuruh Sehun pergi. Ia melakukan itu semua demi dirinya dan Sehun sendiri. Tapi entah mengapa hatinya berkata ia ingin Sehun disisinya saat ini. Sungguh Luhan tak tahu.

Dan mereka telah sampai di rumah Jongin. Kyungsoo memaksa Luhan untuk tinggal dirumahnya dan Jongin. Mengingat Luhan barusaja keluar rumah sakit. Luhan tak mau pada awalnya, tapi ia akhirnya menyerah dan menuruti semua paksaan Kyunsoo dan Jongin.

"Nahh Ayo kita masuk, Apa Haowen mau ikut Jongin Appa?"

"Appa?" Tanya Luhan terkejut.

"Ne Luhannie, selama kau koma, Sehun terus mengajari Haowen memanggil Jongin dengan sebutan Appa dan aku sebagai Eomma. Lucu bukan? Kami sebenarnya tak enak, tapi Sehun memaksa, ia bilang kalau kami selalu membantumu untuk merawat Haowen. Jadi ia bilang kalau kita adalah orangtua Haowen yang lain" Kyungsoo menjelaskan. Luhan tertegun. Entah perasaan apa yang hinggap didirinya. 'Sebenarnya dia namja yang baik' batin Luhan.

"Aku tak mengira, kalau Sehun ternyata namja yang baik" ucap Kyungsoo tersenyum dan keluar dari mobil. Luhan hanya terdiam, ia mencerna kata-kata itu tadi. Perasaan bersalah menggerogoti dirinya.

"Luhannie, ayo turun. Akan ada sesuatu untukmu" Jongin menyahut.

"Eh ... n-ne Eonnie.."

Luhan memasuki rumah Kyungsoo. Ia terkejut saat memasuki rumah itu, bukan dengan makanan yang tersaji di meja sebegitu banyaknya. Tetapi seseorang berperawakan tinggi yang ada disana. Tubuhnya menegang. Ia benar-benar terkejut.

"Ch-Chanyeol" gumamnya.

"Hampir setiap hari saat kau koma dia selalu datang ke flatmu, dan mendapati flatmu kosong, jadi aku bertanya padanya, katanya dia teman baikmu Luhan" Jelas Jongin.

"Jadi Eonnie mengajaknya saat pesta penyambutanmu pulang, dan dia tidak menolak" Jelas Kyungsoo. Luhan hanya menatap Chanyeol tak percaya.

"Duduklah Luhan" Jongin menyuruh Luhan duduk. "Nahh Haowen, kau tetap bersama Appa bukan?" Haowen tersenyum dan memeluk leher Jongin. Haowen menyukai Jongin ternyata.

"Annyeong Luhan, lama tak bertemu" Chanyeol menampilkan gigi putihnya saat tersenyum, Luhan hanya menunduk ia bingung dengan perasaannya.

"Ne Chanyeol" Jawab Luhan.

Suasana makan malam dalam rangka penyambutan sembuhnya Luhan berlalu dengan guyonan Chanyeol dan Kyungsoo juga Jongin yang terus merengek karena Haowen yang selalu meminta bersama Chanyeol. Sedangkan Luhan hanya sesekali tertawa melihat itu semua.

Sampai akhirnya Haowen telah tertidur. Jongin sedang bersama Kyungsoo ber manja-manja ria mengingat Kyungsoo yang perutnya mulai membuncit karena kehamilannya. Luhan dan Chanyeol duduk di kursi teras di bawah langit yang mula bertabur dengan bintang malam ini.

"Luhannie, aku senang kau sembuh" Chanyeol membuka suaranya.

"Ne Chanyeol"

"Mianhae, aku selalu datang terlambat, bahkan aku baru tahu kalau kau koma 4 hari yang lalu"

"Gwaenchana"

"Aku datang kesana, dan saat itu kau sedang koma, dan aku melihat Oppamu sedang menunggumu"

"Oppa?"

"Ne, dia berkata kalau kau Oppa-mu. Kalau tak salah namanya Sehun"

Deg...

"Dia terlihat menyedihkan saat itu. Bahkan aku sampai melihat matanya yang membesar karena terlalu banyak menangis, dan lingkaran hitam dimatanya. Ia menunggumu tanpa tidur mungkin"

Luhan hanya terdiam mendengar penuturan Chanyeol dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Semua membuat hati Luhan merasa sakit, sungguh Luhan tak tau perasaan apa ini.

"Dia sangat menyayangimu, aku sempat bebincang dengannya. Dia namja yang amat baik Luhan, tapi tak tau kenapa kau malah hidup sendiri di flat kecil itu"

"aku yang menginginkannya" Jawab Luhan.

"Haowen sangat lucu, dia sangat mirip dengan Oppamu. Kata Oppamu Haowen adalah anaknya"

"Eh..Ne?"

"Hei kenapa kau terkejut eoh? Aku saja heran, dia sangat muda bahkan sudah memiliki anak yang tampan. Pasti istri Oppamu sangat cantik. Ngomong-ngomong... kenapa dia tak datang saat pesta penyambutan atas kesembuhanmu saat ini?"

Flashack on..

Chanyeol berlari sepanjang jalan menuju rumah sakit dimana Luhan dirawatnya. Ia menetralkan nafasnya yang terengah-engah memasuki rumah sakit itu. Dengan seragam yang masih menempel di wajahnya dan peluh yang bercucuran di pelipisnya.

Iapun mendekati meja resepsionis.

"Hhh.. Apa Xi Luhan di rawat disini?" Tanya Chanyeol, dan suster itu membaca setiap nama pada daftar pasien yang dibawanya.

"Maaf Tuan, tak ada pasien yeng bernama Xi Luhan"

"Coba anda cek lagi sus" iapun mengusap peluhnya. Dan nafasnya mulai normal. Oke Chanyeol sekarang sudah amat normal.

"Tidak ada Tuan, Adanya nona Oh Luhan" Chanyeol mengernyit bingung. Iapun mengangguk.

"Ne, Oh Luhan maksudku" Entah Chanyeol bingung dengan marga Luhan sekarang.

Ia berjalan menuju ruang inap Luhan. Setelah menaiki lift dan melewati beberapa ruang inap yang lain. Iapun telah sampai di ruang inap Luhan. Terlihat jelas seorang namja yang sedang menggendong seorang anak kecil sedang duduk disamping Luhan dengan keadaan yang menyedihkan. Wajahnya terlihat kelelahan, matanya membesar, Chanyeol mengira pasti namja itu telah menangis. Dan garis hitam dimatanya, Oh sungguh namja itu terlihat sangat menyedihkan.

Meskipun namja itu terlihat menyedihkan. Ia seolah-olah baik-baik saja. Dan ia tersenyum pada bayi yang digendongnya. Chanyeol ikut tersenyum, Chanyeol akui, namja itu sangat tampan, dan dia kelihatan sangat baik. Iapun meraih gagang pintu dan memberanikan diri memasuki ruang inap Luhan.

Ceklek..

Namja itu menatap Chanyeol. Hening beberapa saat, dan namja itu tersenyum pada Chanyeol.

"Annyeong, Aku Park Chanyeol. Teman Luhan" Namja itu sempat berfikir sesaat. Terlihat tatapan menyedihkan dalam matanya. Iapun tersenyum pahit pada Chanyeol.

"Duduklah, aku mengetahui dirimu sebelumnya"

Chanyeol pun duduk. Ia menatap namja itu yang duduk di sofa sampingnya. Sedangkan anak kecil berusia satu tahun itu ditaruh pada Troli yang dibawanya.

"Kau Park Chanyeol?" tanya namja itu.

"Ne, Aku Park Chanyeol"

"Aku Oh Sehun" Ucap namja itu, ia menjeda kalimatnya sampai akhirnya ia tersenyum "Aku Oppa Luhan"

"Jinja? Kukira anda kekasih Luhan?"

"Aniyo, aku Oppanya. Tak usah berbicara seformal itu padaku Arra. Teman Luhan, itu berarti Temanku juga" Namja itu tersenyum.

"Ne, Sehun-ssi"

"Panggil aku Hyung saja" Sehun tersenyum, dan senyumannya sangat tulus sekarang.

"Ne, Sehun Hyung"

"Luhan masih koma Chanyeol. Apa kau ingin berbicara sendiri dengannya"

"Ne, jika Hyung mengizinkan" Chanyeol tersenyum dengan menunjukkan gigi-gigi putihnya.

"Aku mengizinkan, asal kau tak menyakitinya"

"Ani, aku tak akan perah bisa menyakiti orang yang aku cintai Hyung"

Deg..

Sehun pun tersenyum pahit dan berdiri bersiap keluar dari ruang itu dengan menggendong Haowen. "Temui Luhan, pasti ia sangat merindukanmu" Chanyeol tersenyum dan mengangguk pasti. Sehunpun keluar dari ruang inap itu. Hatinya berdenyut sakit saat melihat Chanyeol berbicara pada Luhan dengan mengenggam tangan Luhan.

"Mereka saling mencintai, Seharunsnya aku tak disini"

Esoknya...

Chanyeol kembali datang di hari ini. Sehun tersenyum. Ia mengajak Chanyeol duduk di taman belakang rumah sakit. Karena Jongin dan Kyungsoo sedang ada di dalam ruang inap Luhan bersama Haowen disana.

"Chanyeol?"

"Ne Hyung, Ada apa kau mengajakku kesini" Chanyeol duduk di sebelah Sehun. Sehun pun menghela nafasnya.

"Apa kau benar-benar mencintai Luhan" Sehun menatap Chanyeol.

"Ne aku benar-benar mencintainya Hyung"

Sehun tersenyum pada Chanyeol. Iapun mengenggam tangan Chanyeol. "Aku percaya padamu, Kumohon jaga dia"

"Eh?"

"Aku selalu menyakitinya, bahkan dia merawat anakku. Membuatnya menderita, aku tahu hanya dirimu yang bisa buat dia bahagia. Bahkan Jika dia sadar dari komanya. Mungkin dia akan membenciku Chanyeol." Tak terasa bulir bening itu menetes dari mata Sehun, Chanyeol jado sedikit terkaget karena itu.

"Hyung?"

"Aku mohon padamu Chanyeol" Sehun mengusap airmatanya.

Chanyeol mengangguk. "Aku berjanji padamu, aku akan selalu menjaganya"

Iapun tersenyum, batinnya berkata, 'karena aku sangat mencintainya, dan aku tahu hanya dirimu yang dicintainya, kau orang yang tepat untuknya' Oh Sehun, benar-benar menyerah sekarang.

Flashback Off...

Sehun menatap langit yang penuh dengan bintang. Ia duduk di taman yang jauh sekali dari Seoul. Air matanya menetes, sungguh ia mencintai yeoja rusa itu. "Aku sangat mencintaimu Luhan"

Disisi lain Luhan terdiam di samping Chanyeol. Suasana begitu canggung. Sampai akhirnya Chanyeol meraih tangan Luhan. Ia menghela nafasnya. Luhan menatapnya..

"Aku mencintaimu Luhan" Chanyeol tersenyum. Luhan terkejut dengan kata-kata Chanyeol. Sebenarnya hal ini yang selalu ia tunggu, suatu pernyataan cinta dari seorang namja yang selama ini dirindukannya. Lidahnya tercekat tetapi hasrat dihatinya mendorongnya mengucap suatu kata untuk Chanyeol. Iapun menutup matanya dan menunduk..

"Chanyeol.. ak-aku..."

TBC..

Huwaa... Mianhamnida.. Ai telat.. telat pake banget lagi -_-" Mianhamnida Chingudeul.

Ai harus mediasi untuk Chapeter ini.. Mian kalau masih pendek. Ai takut bakal bosen kalau terlalu panjang.

Mian Ai belum bisa nyatuin tu Sehun sama Luhan.

Ai harap responnya bakal sebagus dulu..

Ai bener-bener minta maaf.. Josonghamnida ... *bow* dan Khamsahamnida *bow*

Ai bener-bener syok, saat ada lebih dari 3k menjadi Silent reader -_-" Ai harap banyak yang review ne :'(

Khamsahamnida ...

Love you 3

R

E

V

I

E

W

Please!