Le véritable amour #2
KimJongIn
OhSeHun
ParkChanYeol
ByunBaekHyun
DoKyungSoo
ZhangYiXing
WuYifan
?
KimJongDae
Hurt/ComFort || Fluff-Romance || Family || Life || Fiction.
PG-16
WARN!DLDR!Yaoi!BoysL ove!BoyXBoy!ShounenA i!CrackCouple.
Oo
Happy Reading
Oo
Sore yang dingin di awal bulan desember, membuat pria tinggi pucat berteriak tertahan karena kedinginan. Tanpa pakaian penghangat, dia nekat berlari ke kedai ramyun dekat dorm. Dia bernafas lega setelah mendudukan pantatnya dikursi hangat dalam kedai. Karena D.o dia tidak bisa bergelung nyaman di kasur. Andai saja jika salah satu Hyung nya tau,betapa malasnya dia keluar ruangan hanya untuk membelikan pria pendek itu dua bungkus ramyun panas.
Setelah mendapatkan bungkusan ramyun, Sehun berteriak pada sang penjual yang bernama paman Yang lalu segera berlari ke basement dorm. Aih, dingin. Ukh dingin.
.
.
.
"Hah, ini. Hyung."
D.o tersenyum menepuk kepala sang maknae tanda terima kasih, Sehun memang adik yang baik tapi kadang keterlaluan juga. Meski begitu, karena dia yang termuda, dia jadi terlalu banyak menerima kasih sayang. Di natal nanti, sudah dipastikan berapa banyak kotak yang akan di buka Sehun.
"Gomawo. Kau mau?"
Sehun menggeleng menggosok hidungnya yang merah. Walaupun ini belum memasuki musim dingin, ternyata pikiran dangkal Sehun salah. Kota Seoul justru sekarang sangat dingin di luar. D.o mengangguk membawa bungkusan ramyun ke dapur. Tersisa satu, disimpannya di meja. Mungkin Baekhyun atau Chanyeol mau memakannya nanti.
"Soo Hyung. Dingiin." Sehun menggigil seperti anak kecil, berlebihan sekali.
"Mandi air panas sana."
"AKHH!"
Sehun menurut dan langsung berlari ke kamar dengan diiringi teriakan tertahan. D.o yang mengernyit bingung antara berkonsentrasi pada ramyun atau teriakan Sehun. Baru dipuji, maknae satu itu sudah menyebalkan lagi.
"HUA! HYUNG! PAAANAS!"
"YAK!"
D.o membanting sumpit, dia balas berteriak. Kapan dia makannya ini. jarang-jarang dia marah, kecuali jika itu Baekhyun. Si lead vocal itu sering menguji sabarnya. Sekarang simaknae juga tertular.
"Jongin.. Sedang apa?"
Sebuah kepala menyembul dibalik pintu kayu kamar Jongin. Mendengar suara nyaring itu, tentu tanpa melihatpun Jongin tau itu kakaknya. Dia berbalik mengulas senyum.
Saat Jongdae memanggil, kebetulan Jongin sedang membaca koran. Ini diluar kebiasaannya karena dia tidak menyukai koran. Jongdae melompat ke atas ranjang adiknya, membuat Jongin memukul pahanya pertanda kesal. Jongdae jadi gemas sendiri melihat wajah manis adiknya, apalagi mata bulat itu menukik menatapnya tajam. A menggemaskan sekali.
"Aaaa"
Jongin berteriak kesal karena jemari nakal kakaknya sudah merambat pipi nya. Jongdae mencubit pipi Jongin lalu menggerakkan kanan-kiri dengan tawa pelan.
"Hehe, sudah jangan marah."
Jongin mengangguk, hanya mengangguk. Kedua matanya terfokus sepenuhnya pada setiap iklan di koran. Jongdae tersenyum kecut, tak seharusnya begini. Tak seharusnya adik manis nya hidup seperti ini. Tanpa suara. Dia merasa tidak berguna, dan tidak mampu melindungi Jongin.
"Jongin, kau mau masuk kuliah? Kau bisa punya banyak teman nanti."
Jemari tangan Jongin berhenti, dia memberi jeda sesaat sebelum menoreh senyum pada kakaknya. Mengatakan semua baik-baik saja lewat mata nya. Dia memang ingin punya banyak teman. Tapi untuk ke universitas, sepertinya itu lebih sulit daripada mencari teman. Dia butuh bersuara nanti jika wawancara masuk universitas. Sedangkan sejak kejadian beberapa tahun silam yang melibatkan dirinya kehilangan suara. Hanya bisa berteriak. Mengerikan.
"Kau yakin?"
Jongin mengangguk mantab. Dia takkan mempersulit hidupnya lagi dengan berkuliah. Tak apa jika otak dan nilai nya sia-sia. Lebih baik begini saja, Ada ayahnya dan kakaknya. Dia takkan kesepian dengan mereka berdua.
"Baiklah. Tapi jangan simpan masalahmu sendiri. Ok?"
Jongin mengangguk tanpa memperhatikan punggung kakaknya pergi. Dia tak berkedip menatap lembaran kertas koran yang tengah dibacanya.
Tes
Tes
Ternyata dia benar-benar kesepian. Airmata nya tiba-tiba menetes membasahi kertas. Dia berkedip-kedip menahan laju airmata nya. Jongin mengusap pipinya, tersenyum menghibur diri. Benar. Apa yang dikhawatirkan nya? Tidak akan terjadi apa-apa. Dia memejamkan mata mengingat siluet ibu tercinta.
'Semua akan baik-baik saja, nak.'
"Kenapa kau taruh itu disitu, hyung? Bukan. Ya! Ah, benar disitu."
Seorang mendengus kesal karena telah diperintah oleh pemuda tinggi bertelinga lebar, artis yang dibimbingnya. Chanyeol menatap setiap sudut ruang yang rencana nya akan menjadi tempat banyak meja dan kursi disana. Dia bertepuk tangan, senang karena semua sesuai dengan apa yang dipikirkan sebelumnya.
Selain menjadi idol grub, Chanyeol telah meminta izin pada pihak agensi guna membangun sebuah cafe di myeondong. Cafe dengan tema vintage yang diimpikannya sejak lama. Dia sendiri yang men-design sudut-sudut terpenting Cafe dibantu oleh sang manager—Kim Heechul. Ternyata manager nya sangat mahir menata ruang dan memadu padankan warna. Dia juga mengambil beberapa masukan dari sang maknae, salah satunya memakai tema berbeda di setiap ruang namun masih bersambung dengan tema utama Yaitu Vintage.
Untuk urusan chef dan lalala urusan dapur, Chanyeol sudah menyerahkannya pada sang sahabat—Im Yoona. Wanita itu baru menikah tahun lalu, dengan paras cantiknya siapa yang tahu jika dia lebih senang memainkan pisau. Ibu dan kakak perempuannya nanti juga ikut bergabung mengurus Cafe nya.
"Hyung, kurang ke kiri. Auh, dasar. Bukan disitu. Yak! Hyung."
"Haish, Kau cerewet. Kerjakan sendiri."
Chanyeol memberi tanda v, dia hanya bercanda. Managernya hari ini sangat sensitiv, dia tau karena baru beberapa menit yang lalu dua pacar managernya datang dan secara bersamaan menampar wajah sang manager. Uhh, sakit kelihatannya. Haha, dia tak mau merasakannya.
"Selesai."
"Yey!"
Heechul terkapar pada sofa panjang dekat rest room. Dia kelelahan karena seharian membantu Chanyeol menata Cafe yang tidak ada habisnya. Dari hal kecil-ke besar. Anak itu terus memerintah dengan nada menyebalkan. Jika bukan suruhan orang Agensi, dia tak sudi melakukan pekerjaan melelahkan ini. Ah benar-benar.
Chanyeol datang lagi, menyuguhkan lemon tea untuk managernya yang kelelahan. Dia terkekeh karena sang manager telah tertidur karena lelah. Mungkin besok dia akan mentraktir nya beberapa botol soju dan tteokbokki. Setelah melihat Jam, Chanyeol mendesah lega karena telah menyelesaikan semua. Em, terkecuali..satu hal. Cafe ini jelas butuh beberapa karyawan dan pelayan. Tapi untunglah karena sang nunna kesayangan, membantunya lewat beberapa iklan yang disebar lewat koran dan situs online.
Kriinggg.
"Huh?"
Secara reflek Chanyeol berdiri, menghampiri pintu masuk. Tak mungkin jika itu adalah pelanggan, karena jelas ada tulisan 'tutup' di etalase. Atau.. A-atau?
"Selamat datang."
Chanyeol tersenyum ramah pada err, seorang remaja berbahu sempit yang diakuinya.. Sangat..
"A?"Pemuda itu membungkukkan badannya, dan saat tegak. Astaga..
Manis sekali.
PLAKK!
"Jangan melamun. Kau terpesona padanya?"
Heechul memukul kepala Chanyeol dari belakang, menyindirnya malas. Chanyeol merengut mengelus kepala, sialan tadi itu sakit sekali. Lagian, kenapa manager-nim jahat sekali berbicara terang-terangan seperti tadi. Dia kan jadi malu, apalagi remaja itu menunjukkan wajah terkejut yang menggemaskan.
Heechul mengulas senyum pada remaja tan didepannya, dia memperkenalkan diri sebagai designer terkenal yang merangkap sebagai manager idol grup. Jongin menunduk gugup, matanya bahkan berkeliaran ke berbagai benda yang dilihat. Inilah sikap nya saat bertemu orang baru.
Heechul mengernyit karena remaja didepannya tidak menyahut satupun ucapannya. Dia bertukar pandang dengan Chanyeol yang juga penasaran. Mungkin remaja ini kurang sadar dengan tata krama, tidak menjawab perkataan orang yang lebih tua. Tak sopan.
"Ng?"
Mengartikan pandangan dua orang didepannya, Jongin lantas terburu mengeluarkan nota kecil dari saku celana. Menunjukan beberapa kalimat yang kata kakaknya akan berhasil membuat nya mendapat pekerjaan. Heechul mengangguk paham, dia melirik Chanyeol tanpa minat. Rupanya anak kesayangan Lee-Sajangnim benar-benar tengah kasmaran. Lihat tatapannya itu, menjijikan.
"Kau mencari pekerjaan?" Jongin tentu mengangguk antusias, Heechul mendesah canggung. Kalau di tatap imut seperti ini, mana tega dia menolak. Ditambah lagi Chanyeol memang butuh pelayan dan karyawan.
"Baiklah, kau bisa tanya orang disana, namanya Park Chanyeol. Aku pergi sebentar."
Heechul menunjuk Chanyeol yang gelagapan karena dipandang Jongin. Pria berambut blonde itu lantas menyeringai mengejek Chanyeol sebelum pergi dari Cafe. Tinggal mereka berdua. Jongin dipersilahkan Chanyeol duduk di salah satu meja.
Pria bertelinga lebar itu menggaruk pipinya, tak tau harus memulai darimana. Dia tidak menyangka akan mendapat satu pekerja secepat ini. Kiranya dua-tiga hari lagi, tapi syukurlah. Dia melihat Jongin menulis sesuatu di nota. Chanyeol baru sadar jika remaja ini tunawicara. Sayang sekali , dia ingin sekali mendengar suaranya. Ya memang manusia tak ada yang sempurna.
'—Namaku Kim Jongin. Aku melihat iklanmu dikoran. Boleh aku melamar sebuah pekerjaan?—'
Chanyeol membaca nya dengan ekspresi geli. Mencoba maklum karena yang melamar pekerjaan padanya sekarang adalah bocah, jadi dia mengerti.
"Kau tidak bersekolah?" Jongin menggeleng melempar senyum, menulis huruf hangul yang mengatakan bahwa dirinya telah lulus SMA.
Chanyeol terkejut, tentu saja. Sekali liat,dia tau berapa umur Jongin. Remaja ini sekiranya masih 17 atau 18 tahun. Bukankah itu terlalu muda untuk lulus bangku menengah atas? Wah pintar sekali.
"Tidak berkuliah?"Jongin menggeleng lagi.
"Kau yakin ingin bekerja disini?" Wajah lucu Chanyeol saat bertanya, mengingatkan Jongin pada Kakaknya. Pria itu punya ekspresi konyol yang tampan. Jadi dia tertawa pelan mengiyakan pertanyaan Chanyeol.
"Baiklah. Kau diterima, mulai besok kau bisa bekerja."
Ini wawancara pertama keduanya, Chanyeol baru kali ini mewawancarai seseorang. Biasanya dia yang diburu untuk wawancara. Dilain sisi, Jongin senang karena ternyata mencari pekerjaan tak sesulit yang dikatakan Jongdae. Ah, apa kakaknya berbohong?
"—Terima kasih. Park Chanyeol sshi—"
Chanyeol tertawa mengangguk, Walau tanpa bicara. Berinteraksi dengan Jongin membuatnya semangat menunggu satu tulisan lain untuk dibaca. Lagipula remaja ini manis, tidak membuatnya bosan atau jengah. Berbeda dari yang lain. Mungkin jika sempat, dia akan mengenalkan Jongin pada lima member lainnya. Terutama Sehun. Si maknae bodoh itu bisa diajari Jongin nanti. Aa, tapi kapan?
.
.
.
.
.
TBC
Hau, hai hao, hallo.
Readers atau siders makasih uda baca ini. Hayoloh kejadian apa yg bikin suara jongin ilang? Tebak yuk. ^^ siapa tau bener. Hehe. saya tahu ini pendek. saya janji buat brusaha manjangin lagi. yoosh!Semangat
Thanks for your reading.^^}/
