He is our baby, right?
Author : Ai Mochie
Rate : T
Pair : HunHan
Slight : ChanHan, ChanBaek
Disclamer : Semua Char di sini milik Tuhan Yang maha Esa. dan tentunya milik EXO-L. EpEp ini murni dari otak author^^
Char :
Xi Luhan
Oh Sehun
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
All Other...
Length : Chapter
Genre : Hurt/Comfort
Warning :GS, ETC berantakan, typo(s) bertebaran dimana-mana..XD
Summary : Bagaimana jadinya jika Xi Luhan harus menjadi bully-an para yeoja karena sikap pendiamnya dan selalu di lindungi oleh namja tampan yang terkenal di sekolahnya, seorang Park Chanyeol. Apakah hidupnya akan bahagia? Sedangkan luka mendalam 2 tahun yang lalu dari namja berkulit putih pucat yang membuat Luhan mempunyai seorang replika namja itu. Bagaimana hidupnya setelah ini?
Don't Like Don't read
Chapter Five
"Chanyeol.. ak-aku..." Luhan tergagap. Ia sebenarnya ingin menjawab itu tetapi lidahnya seakan-akan kaku, dan terputar wajah Sehun dan semua kata-katanya di dalam otaknya. Sungguh ia tak mengerti, perasaan apa ini yang telah menggerogoti hatinya.
Suasana menjadi hening. Chanyeol menatap Luhan yang sekarang merundukkan kepalanya. Sungguh Chanyeol ingin sekali mendengar jawaban Luhan sekarang, tetapi ia tak mungkin memaksa bukan.
Luhan semakin mengingat wajah Sehun, dan anaknya. Ia tak mengerti apa yang harus ia lakukan, ia ingin sekali membalas pernyataan Chanyeol, tetapi hatinya mengatakan ia ingin berada di sisi Sehun sekarang setelah apa yang terjadi kemarin.
"Chanyeol.." Luhan memberanikan diri membuka suaranya.
"Ne Luhan, Apa kau menerima pengakuanku?" Tanya Chanyeol. Iapun menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya. Chanyeol menatap tak percaya. Iapun mengenggam tangan Luhan.
"Benarkah itu?"
"Ne Chan-" suaranya tercekat, hatinya berdebum sakit sekarang.
"Aku sangat bahagia" Chanyeol mendekap tubuh kurus Luhan. Sungguh Luhan merasa dirinya sangat egois saat ini. Ia tak mengerti, kenapa ia menganggukkan kepalanya, Bukankah hal ini yang terbaik sekarang, Bahwa dengan Chanyeol disisinya sekarang ia akan terlindungi sekarang? Dan Haowen menyukai Chanyeol. Itu sangat melegakan bagi Luhan. Dan dengan hal ini, Sehun dan anaknya tak tersakiti lagi bukan?
Tes..
Tapi airmatanya menetes sekarang, bukan karena Chanyeol yang bisa melindunginya sekarang. Tapi hatinya saat sakit saat ia sendiri menentukan pilihannya saat ini. Satu yang Luhan sadari bahwa Oh Sehun adalah orang yang diharapkan ada disisinya saat ini, dan mengucapkan kata cinta untuk Luhan, tapi itu adalah hal mustahil yang tak akan pernah terjadi.
Airmata Luhan semakin deras menetes, membuat baju Chanyeol basah karenanya. Chanyeol melepaskan dekapannya. Iapun mengusap jejak airmata Luhan.
"Luhannie Gwaenchana?" ucap Chanyeol yang dibalas senyum tipisnya. Iapun menangguk.
"Gwaenchana Yeol" Chanyeol tersenyum dan mendekap Luhan sekali lagi.
"Terima kasih Luhan"
Disisi lain namja berperawakan tinggi ini terus melangkah, sampai akhirnya ia berhenti di sebuah rumah berdesain kuno. Iapun membaca tulisan yang ada di buku note kecilnya. Ia tersenyum tipis.
Iapun menghela nafasnya, dengan segera ia mengetuk pintunya beberapa kali sampai pintu berkayu yang berwarna coklat tua kuno itu terbuka.
"Annyeong, Ahjumma" ucap namja berkulit pucat itu. Yeoja paruh baya itupun mengernyitkan dahinya berfikir, sampai akhirnya ia menatap tak percaya namja di depan pintu itu.
"Omona, Tuan Sehun" Ahjumma itu memeluk Sehun.
"Panggil aku Sehun seperti dahulu Ahjumma" Ia hanya tersenyum mendapat perlakuan dari yeoja paruh baya yang notabene nya adalah pengasuh Sehun di masa kecilnya dulu.
Ahjumma itu mempersilahkan Sehun masuk ke dalam rumah tua itu, Sehun tersenyum, Ia tahu bahwa Ahjumma ini sangat menyayangi Sehun. Merekapun masuk kedalam, dan Sehun duduk di lantai yang beralaskan kayu.
"Jangan duduk disitu, saya akan-"
"Aniyo Ahjumma, Gwaenchana" Sehun duduk di lantai kayu rumah kuno ini. Ia tersenyum tipis. Hanya kesini lah Sehun bisa pergi sekarang, mustahil baginya untuk kembali kerumah bukan? Dan mustahil baginya untuk pergi ke flat kecil milik Luhan. Iapun menghela nafas pasrah mungkin jalan hidup yang rumit ini yang harus ia tempuh.
Ia menatap sekeliling bangunan tua ini, semua masih terlihat sama. Sejak yang terakhir kalinya ia dan Eommanya pergi kerumah kuno ini saat ia berusia 10 tahun. Sebenarnya ini rumah Eomma Sehun, tetapi Eommanya mempercayakan rumah ini pada Han Ahjumma, Sampai akhirnya Eommanya meninggal dunia saat Sehun menginjak tahun ke 3 di SMA.
"Sudah lama sekali kau tak kesini Sehun-ah"
"Ne Ahjumma, Semua terasa masih sama" Sehun tersenyum pahit. Iapun berdiri dan menyentuh foto besar yang disana terdapat dirinya yang berusia 10 tahun bersama Appa dan Eommanya sedang tersenyum bersama.
"Aku tak berniat memindahkannya, Hal itu yang selalu membuatku mengingat kebaikan Nyonya Oh" Han Ahjumma menghampiri Sehun. Sehun mengusap wajah Eommanya pada foto besar berbingkai coklat itu. Airmatanyapun terjatuh dari mata Elangnya.
"Eomma aku pulang" Sehun tersenyum pahit "Aku merindukan senyumanmu Eomma" Airmata itu semakin deras turun menyusuri pipi tirus Sehun. Han Ahjumma mengusap punggungnya, ia semakin menangis karenanya. Hari ini benar-benar berat Untuk Sehun.
Esoknya...
Luhan menyusuri koridor sekolah, ia tersenyum tulus, bagaimana tidak? ia sudah bisa kembali sekolah, meskipun masih ada perban di kepalanya, ia merasa baik-baik saja. Iapun dengan mantap melangkahkan kakinya, sampai pada akhirnya ia memasuki ruang kelasnya dan
Bugh..
Sebuah pengdapus papan mengenai wajah mulusnya. Senyum kemenangan tercetak di bibir Baekhyun. Luhan pun menundukkan kepalanya, dan membersihkan wajahnya yang memutih terkena debu kapur papan tulis dari penghapus itu. Ia sudah terbiasa akan hal ini.
Baekhyun dengan dua temannya menghampirinya. Iapun mendongakkan kepalanya pada Baekhyun yang ada di depannya. Baekhyun tersenyum mengejek, dan
Syuuurrr
Susu kotak yang dibawa Baekhyun disiramkannya pada baju seragam Luhan.
"Selamat datang Jalang" Baekhyun menyeringai. "Ahh kukira hariku bahagia tanpamu ternyata kau sudah kembali Jalang"
Byurrrr
Setimba air itu disiramkan ke wajah Luhan yang sukses membuat wajah dan seragam Luhan basah "Ahh Mianhae Jalang, kami hanya ingin membantu membersihan noda itu, tapi maaf ne kami memang sengaja" Tawa dari seluruh murid itu terdengar oleh Luhan. Luhan mencekeram erat tangannya pada ujung roknya.
"Mi-mianhae ak-" Suara Luhan tercekat saat tangan besar itu mengenggam tangan kurusnya.
"Apa yang kau lakukan pada Luhanku eoh?" Suara berat khas Park Chanyeol membuat semua murid di kelas itu terdiam. "Jangan pernah menyentuhnya lagi, atau kau akan berurusan denganku Byun Baekhyun" Chanyeol membentak Baekhyun yang sontak langsung membuat bulu kuduknya berdiri.
"Chanyeol aku han-" Baekhyun mengelak
"Jangan pernah menyentuhnya lagi walau hanya sehelai rambut saja, atau kau akan mati ditanganku Baek" Chanyeol menarik tangan Luhan dan menyeretnya ke toilet wanita. Sedangkan Baekhyun yang mendengar itu mematung di buatnya. Satu kata yang tergiang di telinganya, 'Luhanku'. Hatinya berdenyut sakit sampai airmata itu menetes dibuatnya.
Luhan sudah berganti baju olahraga miliknya. Ia terlihat tak baik-baik saja. Chanyeol pun menyeret Luhan secara sepihak membuatnya mengernyitkan alisnya bingung.
"Kita akan kemana Chanyeol?"
"Ikut saja aku" Chanyeol hanya tersenyum pada Luhan. Aneh, senyuman ini sudah tak membuat hati Luhan berdebar dan pipinya merona karenanya. Luhan semakin bingung dengan perasaanya, dan kakinya terus melangkah sampai ia dan Chanyeol ada di depan ruang kesehatan.
"Kenapa kita kesini? aku baik-" Telunjuk Chanyeol menyentuh bibir Luhan. Membuatnya terdiam. Chanyeol pun tersenyum dan mengisyaratkan untuk menuruti apa maunya. Luhanpun mengangguk.
Ia dan Chanyeol memasuki ruangan itu. Terlihat sepi dan Songsaengnim yang bertugas biasanya sedang tidak ada.
"Perawat Kim sedang ada urusan mungkin. Sekarang duduklah diranjang itu" Ucap Chanyeol yang melepaskan genggaman tangan pada Luhan dan ia menunjuk sebuah ranjang di ujung ruangan itu.
"Tapi Chanyeol ak-"
"Tak ada penolakan Arra" Luhanpun mengangguk dan duduk di ranjang itu.
Chanyeol mengambil perban dan plester, kemudian duduk di samping Luhan dan berkata "Perbanmu harus di ganti, kalau tidak begitu, Lukamu tidak akan cepat sembuh" Ucap Chanyeol sembari menganti perban Luhan dengan telaten.
Semua penuh keheningan sampai pada akhirnya Chanyeol sudah selesai mengganti perban di kepala Luhan.
"Nahh begini akan lebih bagus" Chanyeol tersenyum puas dan berdiri. Kemudian menarik Luhan agar menatapnya.
Chu~
Ciuman singkat itu mendarat di perban Luhan. Luhan terkejut dengan perlakuan Chanyeol. Iapun menatap mata Chanyeol.
"Aku yakin ini akan lekas sembuh" Ucap Chanyeol yang tersenyum. Tetapi bukan Chanyeol dimata Luhan sekarang. Ia melihat wajah Sehun di depannya.
"Sehun" Gumamnya yang hampir tak didengar siapapun. Tapi Chanyeol tahu bahwa Luhan menggumamkan sesuatu.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu Luhannie" Luhanpun tersadar dan tersenyum pahit.
"Ah ne, Gomawo Chanyeol" Ucap Luhan setengah hati. Entah mengapa dipikirannya sekarang penuh dengan Sehun. Ia tak tau, bahkan meskipun Chanyeol ada disisinya sekarang, Entah mengapa batinnya semakin merasa sakit. Dan mengingat wajah Haowen, Ia menjadi lebih mengingat semua tentang Sehun. Sehun, sehun dan Sehun yang ada difikirannya saat ini. Tapi mereka tak akan bisa bersama, tak akan bisa.
Di sisi lain, di sebuah desa yang jauh dari Kota Seoul, seorang namja berkulit pucat itu tengah berdiri menatap sebuah Pohon bertulis "Oh Seul Hyo". Ia mengusap tulisan itu. Dan tersenyum pahit.
"Eomma maafkan Sehun yang baru mengunjungimu" monolognya sendiri. "Maafkan Sehun yang dulu bahkan tak pernah mengunjungimu Eomma, Sehun hanya belum bisa menerima kepergian Eomma" Tambahnya.
Suasana disini sangat hening. Han Ahjumma yang berada jauh dari Sehun, hanya menatap sedih. Han ahjumma tau bahwa Sehun sangat mencintai Eommanya. Dan benar, di pohon itulah abu pemakaman Nyonya Oh disemayamkan.
"Eomma.. maafkan Sehun" Liquid bening pun jatuh dari mata Elang Sehun. Ia terduduk dan menangis merindukan Eommanya. "Eomma tak akan membenci Sehun kan? Eomma Sehun telah membuat kesalahan besar"
"Eomma.. Sehun telah menyakiti wanita yang Sehun cintai, Eomma ... Apa yang harus Sehun lakukan.. Sehun sangat mencintainya..." Ia menangis tersedu-sedu. Ia tahu bahwa semua ini salahnya, Apapun yang sudah terjadi saat ini ia tahu bahwa itu kesalahannya.
Hari telah berganti malam, Namja bermata elang ini memandang kosong kedepan. Ia sungguh tak tahu apa yang harus ia lakukan, sampai pada akhirnya pikirannya kembali pada sosok manis nan cantik dengan mata rusanya dan senyumnya yang menyejukkan hatinya. Ia merindukannya, ia merindukan sosok Xi Luhan. 2 tahun menahan rindu dan sekarang ia menelan kenyataan bahwa Luhan membencinya. Itu membuat air mukanya berubah menjadi sedih.
Dengan memaksakan senyumannya ia melihat layar ponselnya tertera beberapa kalimat di pesannya. Iapun menghela nafasnya, haruskah... haruskah hal ini yang harus ia lakukan.
Iapun mengetik nama Kai dan mendial nomernya..
"Yeoboseyo"
"Kai ini aku"
"Ya aku tahu, ada apa kau meneleponku malam-malam begini, Hei kau tak lihat ini sudah jam berapa?"
Iapun menatap jam di tangannya, tak terasa sudah 2 jam ia hanya terduduk dan memikirkan wanita itu. Iapun menghela nafas.
"Apa Luhan baik-baik saja"
"Dia baik Sehun, dan kurasa dia sekarang sedang dekat dengan pria yang bernama siapa itu, kau mengingatnya waktu di rumah sakit di-"
"Chanyeol?"
"Ya Chanyeol. Aku mendengar percakapannya kemarin malam, mereka berdua berpacaran" Hatinya berdenyut sakit.
"Iya aku tahu pasti itu terjadi"
"Apa kau tak apa?"
"Aku pantas menerima itu Kai"
"Sehun apa kau tak kembali ke Seoul?"
"Esok aku akan kembali ke Seoul, Appaku memintaku kembali... Ya dengan ancaman tentunya"
"Ancaman? Menyangkut Luhan dan anaknya"
"Iya, Appaku sangat membenci Luhan, Tapi aku sangat mencintainya"
"Sehun.."
"Kai ... Apa Luhan sudah bisa tersenyum?"
"Iya, aku melihatnya siang tadi"
"Kai.. aku akan menikah"
Disisi lain yeoja bermata rusa ini menatap sayu kedepan. Membosankan. Sudah 2 hari ini ia ada di rumah Jongin dan Kyungsoo. Ia menghembuskan nafasnya. Haowen? Ya Haowen sudah tidur dan Kyungsoo menemaninya. Kyungsoo tidak mau lepas dengan Haowen anaknya. Haowen terlihat kurus.. sangat kurus.. setelah menjalani beberapa kemo terapi beberapa waktu yang lalu. Ia merasa sangat gagal menjadi seorang ibu. Anaknya kesakitan, sedangkan dia malah tak bisa berbuat apapun.
Selama ini ia mengetahui bahwa Sehun lah yang selalu membayar apapun kekurangan Luhan. Baik itu pengobatan Luhan di rumah sakit dan pengobatan anaknya. Ia menghela nafas. Ya Sehun sudah bertanggung jawab akan hal itu. Bukankah itu sudah kewajibannya? Pikirannya kembali pada namja itu. Ya namja yang sudah diharapkan kehadirannya selama 2 tahun ini. Ia malah menyuruhnya pergi. Bodoh, Ya hanya itu yang terlintas di benak Luhan. Dan sekarang ia menerima pengakuan Chanyeol. Apa yang telah ku lakukan? aku orang paling kejam di dunia ini... Gumamnya.
Iapun berdiri dan keluar dari kamar tamu yang didalamnya tidur Kyungsoo dan anaknya. Ia merindukan flatnya. Flat kecilnya yang penuh kenangan itu. Iapun melangkahkan kakinya sampai suara Kai membuatnya ia membeku mendengarnya.
"Apa? Kau akan menikah? Bagaimana Dengan Luhan? Sehun?" Ucap Kai yang Luhan tau benar itu berbicara di telepon.
Hatinya berdenyut sakit Apa yang telah ia dengar sekarang bohong kan? Iapun terduduk dan tangannya bergetar.
"Sehun... menikah.." gumamnya. Air matapun sukses lolos dari mata rusanya. Hatinya berdenyut sakit.
'Oh Sehun'... batinnya.
TBC
Huwahh ini udah berapa bulan? -_- maafkan Ai yang bener-bener super sibuk.. Dan mereka belum nyatu ye? Yahhh Sehun sih dan Luhannya juga...
Aishhh -_-" Ai juga bingung. Tapi mereka pasti akan bersatu..
Ya sudah Mianhamnida karena ketelatan Ai.. dan
Love You :*
R
E
V
I
E
W
Please!
