Jongin berjalan melewati kawasan pertokoan, melintasi trotoar yang padat akan pejalan kaki juga pedagang makanan. Hampir malam, tapi pemuda manis itu tidak mau pulang terlalu cepat. Ini masih pukul tujuh. Setidaknya itu yang dilihat dari layar ponselnya. Oh ya, tambahan juga 5 pesan dan 3 panggilan tidak terjawab dari Jongdae kakaknya.

Entahlah, hari ini Jongin ingin sedikit berjalan-berjalan. Dia tidak bermaksud membuat Jongdae khawatir—apalagi ayahnya. Pria itu sangat sayang padanya. Hanya saja Jongin tak pernah keluar rumah kecuali ada alasan. Baru kali ini ada keinginan melihat gedung-gedung di kota tempat tinggalnya, Seoul.

Kenapa berjalan, kenapa bukan motor atau mobil?

Walaupun diumur Jongin, dia sudah mendapat SIM saat hari kelulusan. Jongin tidak pernah menggunakan benda itu untuk mengemudi kendaraan seperti yang ayahnya suruh. Pria itu khawatir Jongin lelah jika terlalu sering berjalan kaki bahkan jarak yang jauh sekalipun. Tak masalah, dia sudah terbiasa dan menyukai nya.

Selain itu—Jongin tak mau mengingat kekecelakaan ibunya dulu.

Ah, Sekitar dua jam yang lalu, dia baru pulang dari cafe Chanyeol. Sekarang Jongin mulai berfikir jika wajah Chanyeol mirip dengan seorang pria di papan iklan merk ice cream didepannya. Dia berhenti sejenak memperhatikan iklan itu baik-baik.

"O—"

Kedua mata Jongin membulat, apa yang dilihatnya memang Park Chanyeol. Orang yang beberapa jam lalu menerimanya bekerja di cafe nya. Oh tunggu, Jongin baru mengingatnya sekarang. Pria sebelum Chanyeol mengaku sebagai manager grup band dan designer.

'..H-hun hyung?'

Dan tak ada yang lebih mengejutkan dari papan iklan itu selain wajah seorang lelaki tersenyum disamping Chanyeol. Jongin mengigit bibir bawahnya, dia ingin menemui lelaki itu lagi. Jongin merindukan lelaki itu—ingin bertatap muka seperti tempo hari. Saat tak sengaja bertemu di supermarket tak jauh dari rumahnya. Itu pertemuan mereka yang pertama setelah bertahun-tahun tidak bertemu.


HUNKAI FFAN


Jongin memasuki kamarnya dengan kepala tertunduk, tidak menyadari keberadaan Jongdae yang melihatnya antusias. Dia memikirkan sesuatu, yang sudah tentu adalah seorang anak laki-laki yang menghiburnya di rumah sakit saat dirinya dirawat saat kanak-kanak.

"Ha! Jongin!"

"Aa!"

Jongin memekik lalu tak lama memukul bahu lelaki yang lebih pendek. Jongdae menertawainya setelah berseru tiba-tiba tepat disamping telinga. Hyungnya meminta maaf setelah Jongin merengut dan membuang muka.

Jongin melirik Jongdae dari ekor matanya, lelaki itu memberinya pelukan erat dengan tatapan memohon.

"Ayolah, kau tau jika hyung hanya bercanda. Maafkan aku."

Jongin menggeleng.

"Pretty pleaseee with cherry strawberry, Nini."

Jongin akhirnya kembali menatap hyungnya. Dia bisa apa jika Jongdae memanggilnya dengan pet name pemberian sang mendiang umma.

Detik selanjutnya, Jongin berteriak kecil karena pelukan Jongdae seperti cekikan. Dia tidak bisa bernafas. Jongdae terkikik melepaskan pelukannya. Dia tak tahan jika sehari saja tidak mengganggu adiknya yang manis ini.

"Ok. Sekarang beritahu aku. Apa kau diterima? Dimana? Dan sebagai apa?"

Jongdae bertanya dengan nada antusias, ya dia penasaran akan hasilnya. Jongin dan kekurangannya—coba pikir.. Belahan bumi mana di era modern ini yang tidak membutuhkan sebuah hm? Kesempurnaan?

Tapi bicara tentang keduanya, Jongdae pikir Jongin tidak memiliki satupun kekurangan. Adiknya itu punya satu ayah dan kakak laki laki yang sangat menyayanginya, dia pintar selalu juara kelas bahkan adiknya pernah loncat kelas. Wajahnya tampan dan manis secara bersamaan. Tubuhnya tinggi ramping seperti model. Bahkan kulit kecoklatannya terlihat sexy.

Tapi hanya satu hal fatal. Jika dulu Jongin tidak terlibat kecelakaan yang lalu, dia bisa bicara. Mengeluarkan suara tanpa rasa takut. Adiknya yang manis ini takkan mengalami trauma dan—menyimpan suara nya. Ya.. Jongin bukan tunawicara. Hanya entahlah.. Dia seperti enggan mengeluarkan suaranya. Jongdae dan ayahnya takut jika Jongin masih membisu dan sama sekali tidak bicara. Karena diagnosa mengatakan jika adiknya bisa benar-benar lupa untuk bicara.

Dia melihat Jongin menulis di nota kecil dan menunjukan padanya sebuah tulisan rapi.

'Ya aku diterima. Tempatnya rahasia. Hanya pelayan.'

"See? Pesanku tadi berguna kan. Haha sudah pasti. Hyungmu ini jeniu—aww!Jonginn. Jangan memukul kakakmu."

Sebelum mendengar lebih banyak keangkuhan kakaknya yang kambuh, Jongin memukul lengan nya. Tidak keras hanya pukulam biasa yang dipikirnya masih termasuk pelan. Jongdae hanya berlebihan.

"Ok-ok. Then, What about your first.. Um your new boss?"

Jongin membeku beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya ke lantai. Dia jadi mengingat wajah bossnya, Park Chanyeol adalah boss nya mulai besok dan dia mungkin teman Sehun. Dia lelaki tapi.. Entah kenapa pipinya panas sekarang.

"Eyy, kenapa wajahmu yang malu-malu inii? Apa boss mu itu tampan?"

Jongin tetap menjauhi wajah Jongdae yang tersenyum jahil padanya. Dia mengangkat bahunya sebagai gesture tidak tahu.

Jongdae menyunggingkan senyum tipis. Dia hanya menggoda adiknya sedikit, sebelum berdiri mengusak sayang surai Jongin.

"Sudah malam. Kau mau tidur atau kumasakan sesuatu?"

Jongin menepuk ranjang, berjalan-jalan sebelum pulang membuatnya sedikit mengantuk sekarang. Jongdae mengerti. Dia mengucap 'goodnite' lalu segera keluar menutup pintu kamar adiknya.


10.09 KST

Jongin mengintip dari celah pintu dapur, mata mencari letak meja nomor 5. Ini hari pertamanya bekerja. Sejak dua jam lalu sebenarnya. Tapi dia gugup sekarang. Dia tangannya terdapat nampan besi berisi Empat gelas greentea dan sepiring lasagna porsi besar.

Jongin berjalan mengantar pesanan ke meja yang diduduki empat perempuan—mungkin lebih tua dari nya. Setelah menarun menu makanan di meja, Jongin ingin pergi ke dapur secepatnya.

"Tunggu, boleh kami tau nama mu?" pinta salah satu dari mereka.

Jongin menulis huruf hangul dari namanya di nota kecil. Lalu memberinya pada empat perempuan itu. Jongin dapat melihat ekspresi gemas mereka padanya. Tak sadar dia menunduk meremas nampan erat.

"Terima kasih, Jonginnie."

Mata Jongin berkedip kemudian dengan kikuk berjalan cepat menuju dapur. Dia menghindari tatapan jahil dari Heechul hyung. Pria itu yang mengatur cafe karena Chanyeol akan datang lebih lambat.

"Hei-hei. Kau menjadi primadona disini rupanya. Mereka mengajakmu berfoto?" Jongin mengangguk menanggapi godaan Heechul lalu segera berlari memasuki dapur.

Heechul terkekeh pelan, memang sejak cafe ini dibuka untuk umum. Banyak fans Chanyeol datang berkunjung untuk seledar berharap bertemu dengan idolanya. Dan nyatanya mereka harus kecewa karena Chanyeol belum datang. Tapi saat beberapa pelayan keluar dari dapur guna menanyakan pesanan, Jongin menjadi pusat perhatian.

Jongin membuka pintu dapur, langsung bertemu tatap dengan salah satu juru masak didalam. Jin Hyung—baru mengenal dua jam yang lalu— menghampirinya dengan senyum jahil. Pria itu menaruh dua gelas jus jeruk dan sepotong kue red velvet di nampan Jongin.

"Bagaimana rasanya jadi idola, Jongin?" goda pria itu pada Jongin yang langsung berbalik badan malu.

"Ah baiklah. Antar itu kelantai atas, meja nomor 32. Arra?" Jongin mengangguk.

O

.

.

.

.

.

O

Jongin menaiki tangga, kelantai atas cafe yang didominasi warna merah dan hitam. Kata Heechul hyung, lantai atas cafe tidak digunakan untuk umum. Termasuk private dan untuk beberapa orang saja.

Kepala Jongin tak berhenti menoleh kesana kemari mencari letak meja nomor 32. Ah itu dia.

Tapi..

"Aa..ukh."

Kaki Jongin tidak bergerak saat mengetahui siapa yang tengah duduk di meja itu. Matanya menatap lurus pada salah satu orang disana.

Chanyeol melihat Jongin termangu di samping tangga, dia melambai seolah menyuruh Jongin mendekat mengantarkan pesanannya dengan Sehun. Pria itu terkekeh pelan memperhatikan tingkah lucu salah satu pegawainya. Tak sadar jika kekehannya itu mengundang tanya seseorang yang duduk disampingnya.

"Kau menertawai apa?" Tanya Sehun menatap aneh hyungnya. Dia mendengus mendapat gelengan dari Chanyeol.

"Cihh."

Sebuah tangan tan terulur ditengah meja, menaruh makanan dan minuman mereka diatasnya. Sehun tak sengaja melihat wajah pelayan itu. Lalu terkejut beberapa detik.

"Terima kasih, Jongin."

Jongin mengangguk kaku, dia menatap lantai dibawahnya sebelum berbalik menuruni tangga jika bukan sesuatu yang menahan lengannya. Lelaki tan itu berbalik menatap tangan siapa yang menahannya.

"Tunggu."

Chanyeol memandang sang maknae bingung. Apa mereka saling mengenal?

"Kau mengenalnya hun?" Sehun mengangguk dengan sorot mata yang menatap lurus pada Jongin.

"Kau..yang kemarin?"

Jongin tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk. Dia menahan senyumnya karena tak menyangka Sehun mengenalinya. Wajah pria itu masih sama seperti dulu, hanya tubuhnya lebih tinggi dan rahangnya lebih tegas. Sehun sangat tampan.

"Aku berhutang padamu kan?"

"Ey—tunggu sebenarnya ada apa ini? Kau berhutang apa hun?"

Chanyeol berdiri dengan wajah bingung dia tak tahan mendengar Sehun berbicara apa yang tidak dia mengerti. Pria itu menatap Jongin yang masih belum bereaksi dengan genggaman tangan Sehun. Chanyeol dengan menyembunyikan kekesalannya, dia menarik lepas tangan Sehun dan Jongin lalu kembali duduk.

"Hyung!" Chanyeol menatap sangsi pada arah lain tidak menghiraukan pekikan kesal Sehun padanya. Dan Jongin hanya diam menatap dua orang pria didepannya. Ralat, matanya terfokus penuh pada.. Pria yang dipikirkan nya semalam.

Sehun.

'H-hun hyung..'

.

.

.

.

RnR/

.

.

.

.


tbc


Hai, comeback. Di hari terakhir desember.

Aku gk dapet inspirasi berhari-hari. Jadinya iseng searching ke asian fanfic nemu recc ff bottKai. Kebanyakam ff rate m tapi sumpahhhh bahasa inggris nya membuatku terpesona #Plak . walau rate m alurnya manis banget. Jadinya aku stuck di sana sampe dua tiga hari gk selese baca. Bahkan di sana ada ff Kaisoo tapi D.O jadi seme. Bisa bayangin..

Itu sebabnya jadi lupa nerusin ff saya haha keasikan baca ff disana. Hehe