He is our baby, right?
Author : Ai Mochie
Rate : T
Pair : HunHan
Slight : ChanHan, ChanBaek
Disclamer : Semua Char di sini milik Tuhan Yang maha Esa. dan tentunya milik EXO-L. EpEp ini murni dari otak author^^
Char :
Xi Luhan
Oh Sehun
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
All Other...
Length : Chapter
Genre : Hurt/Comfort
Warning :GS, ETC berantakan, typo(s) bertebaran dimana-mana..XD
Summary : Bagaimana jadinya jika Xi Luhan harus menjadi bully-an para yeoja karena sikap pendiamnya dan selalu di lindungi oleh namja tampan yang terkenal di sekolahnya, seorang Park Chanyeol. Apakah hidupnya akan bahagia? Sedangkan luka mendalam 2 tahun yang lalu dari namja berkulit putih pucat yang membuat Luhan mempunyai seorang replika namja itu. Bagaimana hidupnya setelah ini?
Don't Like Don't read
Chapter Six
Liquid bening itu senantiasa mengalir dari kedua kelopak matanya. Sungguh Luhan tak mengerti kenapa hatinya berdenyut sakit. Setelah mendengar apa yang dikatakan Jongin, bahwa Sehun akan menikah. Rasanya hati Luhan bergetar sakit. Ia tak tahu apa yang ia rasakan. Sungguh ia tak tahu. Tapi ini keputusannya, ia memutuskan untuk menjauhi Sehun, karena ia takut akan membuat Sehun menderita karena Appa Sehun sama sekali tak menyukai dia dan anaknya.
Ia mengeratkan pelukannya pada bayi kecil yang tidur di ranjang kamar di rumah Jongin dan Kyungsoo. Luhan sungguh tak ingin hal itu terjadi, tapi ia tak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk mengatakan untuk Sehun ada disisinya, iapun tak bisa.
"Seharusnya aku tak boleh seperti ini hiks, Aku harus merelakannya hiks" gumamnya. Ia pun mengusap air matanya kasar.
"Haowen. Appamu akan menikah, Appamu hiks akan bahagia hiks.. jangan membenci Appamu" tangisnya semakin menjadi, Luhan tak kuasa menahan semuanya. Semua beban ini dan sakit ini, Tapi Luhan tak bisa melakukan apapun. Ia lemah, bahkan terlalu lemah untuk bisa melawan kenyataan ini.
"Kurasa, aku mulai takut kehilanganmu Oh Sehun"
Keesokan harinya Luhan merapikan semua pakaian dan perlengkapannya. Ia akan kembali ke flat kecilnya, dengan senyum yang dipaksakan, ia mengemas semuanya. Haowen pun masih setia berada di gendongan Kyungsoo
"Apa kau yakin akan kembali ke flatmu? Kau sudah merasa baik kan Lu?" Tanya Kyungsoo yang langsung di balas senyuman oleh Luhan
"Aku sudah merasa lebih baik Eonnie. Tak enak rasanya jika aku terus berada disini, merepotkan kalian berdua"
"Tak ada kata merepotkan Lu, Aku sudah menganggap kau seperti adikku sendiri"
"Terimakasih Eonnie, aku tak akan pernah melupakan kebaikan Eonnie dan Jongin Oppa" Ucap Luhan "Jja.. sudah selesai Aku akan kembali Eonnie" Luhan meraih Haowen dari gendongan Kyungsoo.
"Maaf Lu, Jongin tak bisa membantu mu membereskan ini dan membawa ke rumahmu, ia ada meeting tadi pagi"
"Gwenchana Eonnie, aku bisa melakukan sendiri" Ia pun menjinjing tas besar yang cukup berat itu dengan sebelah tangannya, dan sebelahnya lagi mengendong Haowen. Ia melangkah keluar rumah Kyungsoo.
"Terimakasih Eonnie" ia membungkukkan badannya. "Sampai nanti"
"Maaf tak bisa membantu Lu, sampai nanti"
Luhanpun melangkah menuju flatnya yang tak jauh dari rumah sederhana milik Jongin dan Kyungsoo. Tapi baru berjalan beberapa meter, Ia sungguh merasa letih, keringat menetes dari pelipisnya.
"Ini hal mudah, kenapa aku jadi lemah begini" gumamnya, sedangkan Haowen hanya mengedot jempol kirinya dengan mengoceh tak jelas.
"LUHAN" langkah Luhan terhenti, saat mendengar panggilan dari belakangnya.
"Luu... tunggu aku" ucap orang yang memanggil itu. Luhan mendengar suara larian, Luhan yakin orang itu berlari menghampirinya.
"Hai Lu" Namja itu berdiri di depan Luhan dengan memamerkan senyum limajarinya. "Kenapa kau tak bilang akan pindah ke flatmu hari ini?"
"Maaf Chan, Aku ingin mengatakannya padamu semalam. Tapi-" Ia menghentikan ucapannya. Bahkan Luhan sampai lupa, kalau ia harus mengatakan sesuatu pada Chanyeol semalam, Akibat Oh Sehun yang akan meninggalkannya untuk sekali lagi. Menikah dengan yeoja lain dan membiarkan Luhan juga Haowen hidup menderita sendirian lagi. Hatinya pun berdenyut sakit. Dan Bahkan Luhan sudah lupa jika ia sudah menerima pengakuan cinta Chanyeol.
"Lu? Kau melamun" Chanyeol mengerakkan tangannya di depan wajah Luhan.
"Ahh.. mian Chanyeol" Ia merasa amat jahat pada Chanyeol.
"Gwenchana Lu" Chanyeol pun meraih tas besar yang ada di tangan Luhan. "Sudahlah Lu, apapun itu jangan di pikirkan, akan kubantu kepindahanmu kali ini" Chanyeol tersenyum
"Gomawo Chanyeol" Luhan merasa tak enak hati pada Chanyeol.
"Dan jagoan tampan, apa kau tak merindukan Hyung" Chanyeol mencoba bertanya pada Haowen. Haowen mengeleng mendengar kata-katanya, Chanyeol merubah mimik wajahnya menjadi sedih.
"Sungguh kau tak merindukan Hyung tertampan seantero korea ini? Sungguh malang diriku. Haowen rindukan Hyung ne ne" Chanyeol menggunakan puppy eyesnya pada Haowen. Dan Haowen membalasnya dengan memukul kepala Chanyeol.
"Yahh Haowen, Kenapa kau pukul kepala Hyung tampan ini" rengek Chanyeol yang dibalas tawa oleh Haowen. Luhan yang melihatnya pun sukses tertawa. Merekapun menghiasi langkah demi langkah dengan tawa dan senyuman. Sungguh Luhan nyaman dengan hal ini, dan hal ini yang membuat Luhan selalu kagum dengan Chanyeol. Tetapi di ujung hatinya terdapat rasa yang sulit diartikan, ia hanya ingin berbahagia dengan Oh Sehun, dan itu mustahil.
Di sisi lain namja bermata elang ini sedang duduk di meja restoran mewah di kota Seoul. Tatapan datar tak pernah lepas dari wajahnya. Dalam hatinya ia sungguh tak ingin melakukan ini, tetapi ia tak bisa mengelak apapun karena ini demi orang yang di cintainya dan demi malaikat kecilnya.
"Jadi ini yang namanya Oh Sehun, sungguh tampan sekali" ucap yeoja paruhbaya bermarga Jung itu. Sehun hanya tersenyum pahit menanggapinya.
"Terimakasih atas pujiannya Nyonya, dan yeoja cantik di sebelah nyonya ini benarkah bernama Jung Krystal" Appa Sehun membalas ucapan yeoja itu, sedangkan yang di bicarakan, Krystal tersenyum manis semanis-manisnya.
"Tuan Oh bisa saja. Ia lulusan dari Harvard. Dia sangat mahir berbahasa, dan ia sekarang sedang bekerja sebagai entertainer, Yang Tuan Oh tau sendiri kan?" Balas yeoja paruh baya itu.
"Ia aku tau Nyonya Jung"
Perbincangan berlangsung cukup lama, sampai akhirnya mereka memakan jamuan itu. Nyonya Jung dan Tuan Oh pun keluar dari ruangan itu, dan tinggal mereka berdua di ruang ini.
Krystal merubah mimik mukanya dan menatap malas Oh Sehun di depannya.
"Sungguh memuakkan" Gumam yeoja itu. Sehun hanya menarik ujung bibirnya mendengar ucapan Krystal. "Sampai kapan mereka akan seperti ini, seperti hidup di era Joseon saja" Tambah yeoja itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Sehun padanya.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja" Yeoja itu menghela nafas. "Intinya aku tak akan mau menikah denganmu" jelasnya. Sehun menautkan kedua alisnya.
"Maksudmu?"
"Aku tak akan menikah denganmu Oh Sehun, Aku mencintai namja lain. Bahkan ada benih namja itu di perutku. Aku tak akan menikah denganmu"
"Bagus"
"Kalau begitu, bisakah kita buat kesepakatan?" ucap Krystal dengan senyum penuh arti.
Sedangkan Luhan membereskan flat kecilnya bersama Chanyeol, tak terasa jika waktu berjalan cepat, sehingga ia tak sadar bahwa hari sebentar lagi akan gelap. Canda tawa pun tak pernah absen diantara mereka bedua dan juga Haowen yang sudah mulai bisa berbicara dan berjalan meski sesekali ia terjatuh. Senyum Luhan tak pernah lepas dari bibir manisnya, maskipun di dalam hatinya menangis merasakan kenyataan hidup ini.
Sempat Luhan merasa mempersulit hubungan ini ketika menerima Chanyeol ada disisinya, melindunginya, dan membawa tawa untukknya. Ia menyesalinya dulu, tetapi sekarang ia mengubur rasa sesalnya. Karena ia yakin bahwa Sehun tak pernah menoleh pada dirinya, Sehun tak mencintainya dan ia akan berbahagia dengan yeoja yang dinikahinya. Padahal Luhan sendiri tak tahu kenyataannya adalah kebalikan dari apa yang ia pikirkan.
"Nahh Selesai semuanya" Ucap Chanyeol dengan mendudukkan dirinya disamping Luhan yang sedang menggendong Haowen yang tertidur dipangkuannya.
"Terimakasih Chan" Luhan merasa tak enak sudah merepotkan Chanyeol.
"Ah sudahlah jangan difikirkan" Chanyeol tersenyum pada Luhan. Dan Luhan membalasnya. "Lu, foto itu terlihat manis, kenapa bukan Sehun Hyung yang menggendong Haowen di foto itu" tanya Chanyeol ragu. Terselip rasa yang janggal setiap melihat foto cukup besar yang didalamnya ada Luhan sedang menggendong Haowen yang mungkin baru saja lahir dengan senyum menawannya. Dan banyak foto perkembangan Haowen tertempel di dinding. Dan tak satupun ada foto Sehun dan keluarga Luhan
Luhan gugup dengan pertanyaan Chanyeol. Iapun menelan salivanya. "Sebenarnya Chanyeol, i-itu" Luhan tergagap. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa.
"Apa kau merawat Haowen dari bayi? Aku yakin dia sangat lucu" tanya Chanyeol mengalihkan pembicaraan saat melihat Luhan gugup.
"Ya, saat itu dia masih sangat kecil dan lemah. Tetapi aku sangat mengingat wajah tampan dan manisnya" Jelas Luhan. 'Seperti wajah Sehun, hal itu yang selalu membuat aku semakin mengingat Sehun, dan merindukannya setiap detik' tambahnya dalam hati.
"Luhannie, aku tak pernah melihat orang tua mu. Dimana orang tuamu?" Tanya Chanyeol sekali lagi ragu
"Mereka ada di Beijing" raut Luhan berubah, ia teringat pada Mama dan Baba nya. Yang tega mengusirnya. Tapi ia tak mernah membenci kedua orang tuanya. Luhan sangat mencintainya.
"Kenapa Sehun Hyung memberikan tanggung jawabnya padamu Lu, Apa dia belum menikah?"
"Dia akan menikah Chan" terbersit rasa sakit dalam hatinya saat mengatakan hal itu. Chanyeol tersenyum padanya.
"Pasti Sehun Hyung akan bahagia Lu"
"Iya, pasti" Terselip rasa sakit dalam hati Luhan. Tapi ia tetap memaksakan senyum nya di depan Chanyeol.
"Aku mencintaimu Lu" Ucap Chanyeol dan di lanjut dengan mencium pipi tirus Luhan. Luhan membeku dan tak menolak apapun. Ia hanya terdiam. Kemudian Chanyeol menatapnya dengan senyum menawannya. Sekali lagi Luhan bingung dengan ini, ia merasakan kalau ia mencintai Chanyeol, Bahkan ia merasa nyaman dan aman bersama Chanyeol. Tapi kenapa semenjak Sehun hadir, merasakan sakit yang mendalam di hatinya saat Chanyeol berlaku manis padanya.
Setelah beberapa saat Chanyeol pamit untuk pulang, karena hari sudah gelap. Luhan hanya bisa mengucapkan banyak terimakasih pada Chanyeol yang selalu membantunya
Iapun melangkah masuk. Dan menatap sekeliling flat kecilnya. Sepintas teringat wajah Sehun dalam benaknya. Namja yang dicintainya untuk pertama kalinya dulu. Namja yang selalu membuat Luhan tersippu saat mengingat kejadian 2 tahun yang lalu. Namja yang membuatnya mempunyai Haowen dalam hidupnya. Dan namja yang membuatnya yakin bisa bertahan menjalani kehidupannya. Tapi tidak untuk sekarang, Ia harus sadar bahwa ada Chanyeol disisinya sekarang, Dan Sehun akan menikah dengan wanita lain sesegera mungkin. hatinya mencelos, Ia tak tahu. Ia hanya terdiam tanpa ia sadari airmata itu jatuh dari mata rusanya.
Keesokan harinya Luhan harus membawa Haowen kerumah sakit. Meski tawa selalu menghiasi wajah tampan Haowen, tapi dalam diri Haowen terdapat penyakit yang menggerogoti tiap detiknya. Seperti semalam yang tak henti-hentinya Haowen menangis dan membuat Luhan bingung dan berharap anaknya akan baik-baik saja.
"Bagaimana dok?"
"Keadaanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya sel itu sudah tidak berkembang seperti yang saya duga seminggu yang lalu. Tetap bawa Haowen kesini untuk cek perkembangannya. Dan mungkin kerontokan rambut maupun muntah juga efek dari kemo yang di berikan. Dia anak yang kuat, jadi saya yakin ia akan sembuh segera"
Luhan menangis haru, Sungguh, ia ingin anaknya akan sembuh. Iapun segera menggendong Haowen setelah kemoterapi selesai. Iapun membayar biaya pengobatan dengan mengeluarkan uang dari amplop yang Jongin beri beberapa hari yang lalu, Jongin bilang ini dari Sehun. Iapun sangat berterimakasih karena Sehun masih mau membantunya untuk membiayai hidup dan pengobatan anaknya.
Iapun berjalan menuju supermaket yang tak jauh dari rumah sakit. Haowen sedang tertidur di gendongannya. Bayi kecilnya terlihat lemah, dan itu membuatnya sedih.
Langkahnya terhenti saat menatap seseorang yang duduk di meja dekat jendela cafe di depannya. Saat ia akan menyeberang jalan. Namja itu adalah dia, yang selama ini selalu ia rindukan. Ia terpaku menatap namja itu yang duduk bersama yeoja berambut coklat madu panjang. Dan Sehun tersenyum ke arah yeoja itu.
'Apa itu, calon istri Sehun' gumamnya.
Tes
Bulir bening itu lolos jatuh dari mata Luhan. Lampu jalan pun sudah berubah hijau, tapi Luhan masih belum bergerak dari tempatnya.
'Kenapa rasanya sakit sekali saat melihatnya tersenyum pada orang lain' Ia hanya terdiam dan menatap mereka dari kejauhan. Sampai pada akhirnya Sehun juga menatap Luhan yang ada di ujung jalan itu. Kemudian Sehun beranjak dari kursinya untuk menemui Luhan. Luhan pun membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat menuju halte yang tak jauh dari penyebrangan jalan itu.
"LUHAN!" panggil Sehun, yang membuat airmatanya semakin deras mengalir. Ia usap kasar air matanya dan kemudian mengeratkan pelukan nya pada Haowen yang tertidur di gendongannya. Sungguh ia tak tahu, apa yang tengah ia rasakan ini.
"Luhan tunggu aku" Sehun berlari menyeberangi jalan yang saat itu masih ramai mobil yang berlalu lalang.
Tinnn tinn
Sehun terus berlari dengan mengucapkan maaf pada pengguna jalan yang melintas dan di halangi Sehun.
Tapi bus sudah ada di depan Luhan, Luhan langsung memasukinya. Sehun berteriak memanggilnya agar ia menunggunya. tetapi ia mencoba untuk menulikan pendengarannya. Sungguh Luhan tak ingin menganggu kehidupan Sehun setelah ini.
"Luhan tunggu.. tunggu .. aku akan berkata sesuatu padamu, Lu. Tunggu aku" Teriaknya dengan mengejar bis yang sudah melaju menjauhinya.
Luhan hanya tertunduk dalam bis itu, dengan tangis yang menjadi "Maafkan aku" gumamnya.
Ia tak langsung menuju ke flatnya. Ia menuju taman dekat panti asuhan, dimana dulu ia selalu bercerita kepada anak panti asuhan. Ia masih mengingatnya. Di taman itu ia pertama kali melihat wajah tampan Sehun. Orang yang langsung mencuri hatinya saat melihat pertama kalinya.
Flashback on
Luhan sedang bercerita di depan anak-anak panti asuhan dengan senyum dan mimik yang sangat menarik. Iapun mengucapkan terimakasih saat semua memberikan tepuk tangan karena persembahannya. Ia membungkukkan badannya. Dan menatap ke sampingnya Terdapat namja yang memakai seragam SMA sedang duduk di bangku taman.
Ia pun terus memandangi namja itu dari jauh. Namja itu tampak memandang Luhan juga, iapun tersipu malu, dan hatinya bergetar.
"Apa yang kau lakukan Lu?" Seorang yeoja yang seumuran dengannya menyenggol lengan Luhan dan mmembuat Luhan tersadar dari lamunannya.
"Aniyo Baekkie... Gwaenchana"
"Jangan bohongi aku Lu, kau menatap namja itu bukan?" goda yeoja berambut sebahu itu dengan menyenggol lengan Luhan. Luhan hanya tersipu malu.
"Benar kan? Apa yang ku bilang kau menyukai namja itu" Goda nya sekali lagi. "Ternyata ada pangeran yang berhasil mencuri hati putri rusa ini" Wajah Luhan merah padam. Baekhyun hanya tertawa melihat reaksi Luhan yang lugu.
Sejak saat itu, Luhan merasa ada semangat hidup yang lain kecuali dari Mama dan Baba nya. Seorang namja SMA yang ia tatap di bangku taman dekat panti asuhan yang di urus oleh keluarga besarnya.
Flashback Off
Hari sudah gelap, Luhan menggendong Haowen yang terlelap di pelukannya. Ia akan kembali ke flatnya yang lumayan jauh dari taman ini. Ia menunggu di halte bus dekat taman itu. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ini sudah malam pikirnya. Sungguh Luhan tak tahu apa yang ada dalam perasaannya. Ia sungguh merasa bingung dengan dirinya. 'Apa yang sudah kulakukan Tuhan. Kenapa kebahagiaan belum juga menjumpai kehidupanku' sesaat dia berfikir seperti itu dan berharap Sehun bisa disisinya sekarang dan selamanya, tetapi sesaat kemudian ia berfikir 'Sehun akan bahagia setelah ini, dengan begitu ia tak akan terusik oleh kehidupan wanita jalang sepertiku' Tanpa ia sadari jika akhir-akhir ini ia terus memikirkan Sehun sedangkan ia sudah menerima pengakuan Chanyeol beberapa saat yang lalu.
Bus sudah berhenti di halte yang dekat dengan rumahnya. Ia terus berjalan termenung dengan mengendong Haowen di pelukannya. Langkahnya terhenti saat menatap namja berperawakan tinggi itu sedang berdiri menunggu seseorang didekat pintu flatnya. Iapun menelan salivanya. Dengan menundukkan kepalanya a berjalan lebih cepat, mengingat dinginnya malam itu dan Haowen harus segera tidur di flatnya.
Namja itupun menyadari kedatangan Luhan dan dengan cepat ia memanggilnya.
"Luhan"
Luhan terhenti. Hatinya berdesir mendengar suara yang selama ini ia rindukan, Ingin rasanya ia menatap wajah namja itu tapi ia sama sekali tak berani untuk melakukannya.
"Aku ingin bicara padamu" Luhan menutup matanya. dan terdiam mendengarkan namja itu.
"Maafkan aku tak bertanggung jawab tentang Haowen dan dirimu" jelasnya. "Aku sungguh meminta maaf akan hal itu, bisakah kau memaafkanku" Luhan sama sekali tak menjawab. Malah airmatanya lolos jatuh di pipi tirusnya.
"Sungguh maafkan aku, aku tahu kau membenciku, maafkan sikap pengecutku" Sekali lagi Sehun mengatakan maaf untuknya. Luhan tak ingin mendengarnya lagi. Ia takut Sehun akan celaka jika ia kembali padanya.
Luhanpun mengusap aimatanya kasar dan berkata "Apa hanya itu yang ingin kau katakan? Kalau begitu aku akan masuk"
"Tunggu" Tangan Luhan di cegah oleh Sehun. Dan a pun dengan cepat menarik tangannya.
"Apa lagi. Aku sudah memaafkanmu. Apa itu kurang jelas?"
"Dengarkan aku Luhan" Sehun pun menarik Luhan agar berdiri di depannya. "Tatap mataku"
"Untuk apa?"
"Dengarkan aku Lu, dan tatap mataku Luhan" Dengan terpaksa ia pun menatap mata Sehun.
"Aku meminta maaf sepenuh hati padamu, dan aku berniat untuk membayar semua kesalahanku Lu, aku tahu mulutmu berkata kau memaafkanku. Tapi hatimu sangat membenciku Lu. Aku sungguh meminta maaf sekali lagi.." ia menghela nafasnya " maaf jika aku sekarang sangat mencintaimu" Iapun terpaku akan ucapan Sehun. Rasanya es dalam hati Luhan meleleh dan menghangat. Ia sangat bahagia, sangat. Dan sangat bahagia akan ucapan Sehun.
Tapi perasaan bahagianya menyusut seketika ia ingat bahwa namja yang didepannya kali ini akan menikah dengan yeoja lain. Ingin rasanya ia egois dan mengatakan bahwa ia tak pernah membenci Sehun dan ia ingin bersama namja itu. Tapi dengan hal itu akan membuat celaka diri Sehun dan Haowen. Luhan tak bisa melakukannya. Ia harus membuat Sehun menjauh dari kehidupannya.
"Hentikan bualanmu Oh Sehun. Aku sudah memaafkanmu. Dan ucapkan kata-kata itu pada calon istrimu" Ucapnya lirih dengan Airmata yang terus mengalir dari mata rusanya.
"Darimana kau tahu tentang itu Lu?"
Seketika Haowen terbangun dan menangis di gendongan Luhan. "Maaf aku harus membuatnya tertidur"
"Aku harus menjelaskan semua padamu Lu, bisakah kita bicara lagi. Aku akan menunggumu di luar flatmu"
"Kurasa semua sudah jelas Oh Sehun. Tak ada yang perlu di jelaskan lagi" Luhan memasuki flatnya dan menutup pintu flatnya. Sehun pun mengacak rambutnya bingung. Ia terduduk di depan pintu flat Luhan.
Haowen sudah tertidur, ia sudah tak menangis. Ia melihat susana di luar latnya dari jendela kecilnya, di luar sangat dingin. Iapun hendak menutup jendelanya. Tapi perhatiannya teralih saat akan menutupnya. Ia melihat Sehun masih terduduk di depan pintunya dengan memeluk kedua kakinya. Ia tak mengingkari kata-katanya. Padahal ini sudah lebih dari 2 jam untuk menidurkan Haowen tadi.
Ia mencoba menutup mata hatinya. Ia tutup jendelanya dan membiarkan Sehun di luar. Iapun terduduk di meja belajarnya. Ia membuka Laci mejanya dan mengambil buku bersampul coklat milikya 'Diary' itu yang tertulis diatasnya. Dengan perlahan ia buka halaman per halaman. Sampai akhirnya ada sebuah tulisan yang membuat ia menautkan kedua alisnya.
Dengan perlahan ia membaca itu dan airmatanya menetes deras. Tangannya bergetar.
"Lu" Suara Sehun dari luar pintu membuatnya tersadar. Iapun melangkah mendekati pintu.
"Aku tahu kau masih belum tidur. aku tahu kau masih bisa mendengarku" Sehun melanjutkan kata-katanya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku Lu"
'Aku sudah memaafkanmu Sehun, seharusnya aku yang meminta maaf padamu' batinnya
"Sampai kapan kau akan membenciku Lu"
'Aku tak pernah bisa melakukan hal itu, aku rasa, aku tak pernah bisa membencimu. aku tak tahu tapi aku merasa sakit saat mendengarmu akan bahagia bersama wanita itu. Aku ingin kau disisiku, aku ingin kau bahagia bersamaku, aku ingin kau.. Apa ini yang di sebut cinta Sehun? aku tak tahu' iapun terhenti dan teduduk di belakang pintu dengan meraba pintu itu. Ia tahu Sehun terduduk di depan pintu itu ia tahu. "Maafkan aku hiks" ucap Luhan lirih dengan airmata yang mengalir deras.
"Aku ingin kau mendengar semua penjelasanku, dan aku ingin kau percaya bahwa aku sangat mencintaimu Xi Luhan"
"hiks.. maafkan aku" lirih Luhan yang jelas tak terdengar Sehun.
TBC
Huwahhh apa-apaan ini -_- ! kenape ceritanya makin kayak sinetron. Hadduh Ai minta maaf karena kekurang ajaran Ai yang sangat sangat terlambat mengupdate ini cerita. Josonghamnida –bow-
Ai minta doanya ya agar semua lancar dan bisa cepat update ^^
Tapi yaa untuk kelanjutan ini fanfic mah tergantung respon readers, Ai hanya ingin tahu, masih adakah yang mengharapkan Ai untuk menshare kelanjutan ff ini..
Untuk itu .. Keep Support Hunhan! Hunhan is Real! –ngibarin bendera Hunhan-
Love You :*
R
E
V
I
E
W
Please...!
