He is our baby, right?

Author : Ai Mochie

Rate : T

Pair : HunHan

Slight : ChanHan, ChanBaek

Disclamer : Semua Char di sini milik Tuhan Yang maha Esa. dan tentunya milik EXO-L. EpEp ini murni dari otak author^^

Char :

Xi Luhan

Oh Sehun

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

All Other...

Length : Chapter

Genre : Hurt/Comfort

Warning :GS, ETC berantakan, typo(s) bertebaran dimana-mana..XD

Summary : Bagaimana jadinya jika Xi Luhan harus menjadi bully-an para yeoja karena sikap pendiamnya dan selalu di lindungi oleh namja tampan yang terkenal di sekolahnya, seorang Park Chanyeol. Apakah hidupnya akan bahagia? Sedangkan luka mendalam 2 tahun yang lalu dari namja berkulit putih pucat yang membuat Luhan mempunyai seorang replika namja itu. Bagaimana hidupnya setelah ini?

Don't Like Don't read

Chapter Seven

Xi Luhan,

Jika kau sudah membaca ini, Kau pasti sudah pulang dengan keadaan yang semakin baik.

Aku tak tahu, aku harus mengatakan apa padamu, selain permintaan maaf untukmu.

Untuk semua penderitaan yang telah kuberikan padamu 2 tahun ini.

Seharusnya kau bisa bercanda, berteman bahkan berpacaran karena usiamu masih sangat belia, Tapi kau malah mengasuh anak yang dengan teganya akupun menelantarkanmu sendiri.

Dua tahun aku bersembunyi, Selama itu pula aku tak pernah berhenti memikirkanmu.

Kau wanita yang membuat jantungku bergetar dengan senyumanmu selain ibuku.

Kau wanita yang selalu kupikirkan selain ibuku,

Dan kau wanita yang selalu kurindukan.

Mungkin aku sudah terlambat, bahkan sangat terlambat.

Tapi maafkan aku, Maafkan sikap pengecutku selama ini.

Sehingga baru saat ini aku mampu menemuimu, meski keadaan saat ini bukan waktu yang tepat untuk kita.

Ingin rasanya aku kembali padamu, tapi itu tak mungkin.

Kau membenciku kan?

Jangan pernah mencintai orang brengsek sepertiku Luhan.

Hiduplah dengan baik.

Tanpa orang yang brengsek sepertiku.

Yang hanya membawa penderitaan untukmu Luhan.

Dan biarlah aku merasakan cinta ini sendiri, meski menyiksa. Penyiksaan ini tak ada bandingannya dengan semua penderitaan yang telah kuberikan untukmu.

Sehun.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Luhan sama sekali tak bisa berhenti menghawatirkan Sehun yang telah ada di depan rumahnya berjam-jam lamanya. Ia mendengus pasrah, ingin rasanya ia buka pintu itu dan segera memeluk Sehun yang telah kedinginan oleh susana hujan di malam ini. Tapi ia tak boleh melakukan itu, Sehun akan menikah, Dia akan bahagia. Tentu tidak dengan wanita sepertinya.

"Luhan, Apa kau sudah tidur?" Seseorang dibalik pintu itu kembali membuat Luhan semakin gelisah. Ia tak tega melakukan ini, tapi ia tak mampu melihat Sehun lebih lama. Perasaan sakit itu semakin menjalar dalam hatinya.

Dengan terpaksa ia buka pintu itu, Terlihat Sehun yang bersender di diding sebelah pintunya. Bibirnya membiru, Wajahnya memucat. Dan tatapan matanya yang sayu, tapi ia tetap tersenyum pada Luhan yang telah membuka pintu flatnya.

"Terimakasih" Gumam Sehun denga senyuman tulus Sehun membuat goresan luka yang menganga lebar itu seolah menutup dan mati rasa. Ia tau, dirinya terluka. Dan Sehun pun terluka.

Sontak Luhan langsung memeluk Sehun dan menangis dipelukan Sehun.

"Terimakasih kau menerima kehadiranku untuk saat ini Luhan" Tak terasa setetes liquid bening telah jatuh dari pelupuk mata Sehun. Dia bahagia Luhan memeluknya saat ini, sungguh Sehun merindukannya.

Satu jam berlalu, Sehun hanya terduduk di samping Luhan yang hanya terdiam dan memainkan jari-jarinya. Ia gelisah, Ia bingung dengan hal yang telah ia lakukan beberapa waktu yang lalu.

"Maafkan aku" ucapnya membuka pembicaraan. "Aku tak sengaja langsung memelukmu" Sambungnya dengan perasan kalut tak karu-karuan.

"Tak apa, itu membuatku bahagia" Sehun menatap wajah cantik Luhan disampingnya. "Terimakasih"

"Aku sudah membacanya" perkataan Luhan membuat Sehun tersenyum lagi.

"Syukurlah" Sehun merasa ada perasaan lega dalam hatinya. "Kudengar kau berpacaran dengan Chanyeol"

"Aku hanya menerima pengakuannya.." Luhan menatap Haowen yang tidur di ranjangnya. "Tapi hatiku tak bisa menerimanya"

Sehun menautkan alisnya. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan Luhan.

"Haowen yang membuatku ragu, sehingga hatiku tak mampu menerimanya" jelas Luhan sekali lagi. Sehun hanya mengangguk mengerti. "Saat ini, aku bingung dengan pilihanku"

"Maafkan aku yang membuat hidupmu seperti ini"

"Tak apa"

"Aku akan menikah" Jelas Sehun. Luhan tersenyum pahit.

"Ya, aku tahu"

"Tapi kurasa aku akan merusak pernikahanku" ucap Sehun yang membuat Luhan sontak menatapnya. "Aku tak mampu menikah dengan yeoja yang tak aku cintai"

Luhan hanya diam, ia tak mengerti. "Tidurlah, kau pasti lelah menungguku" Luhan mencoba menetralkan perasaanya. Ia tak tahu kenapa perasaan dalam hatinya berkecamuk tak menentu.

Mentari telah bangun dari peraduannya. Luhan sudah siap pergi ke Sekolahnya. Hari ini ujian akhir sekolahnya. Ya sebentar lagi ia akan lulus. Setelah ini ia tak tahu harus melakukan apa.

"Haowen akan kutitipkan ke Jongin Oppa"

"Bisakah aku bersamanya saat ini?"

"Tapi.."

"Hari ini ujian akhirmu, setidaknya aku ingin membuatmu tenang disana"

"Sehun, aku hanya.."

"Luhan, kumohon percayalah padaku. Setidaknya aku ingin menebus kesalahanku, dengan menjadi ayah yang baik untuknya"

"Baiklah"

Sehun mengendong Haowen yang masih tertidur di ranjangnya. Ia tersenyum. Hari in ia akan bersifat seperti ayah untuk Haowen. Karena Haowen adalah anak satu-satunya untuknya.

Jam cepat sekali berlalu, Sehun tersenyum ceria. Hari ini hari yang menyenangkan untuknya dan Haowen. Berjalan-jalan, bermain di taman hiburan dan menyuapinya makan. Hal yang tak pernah Sehun bayangkan, bahwa rasanya bisa se-membahagiakan ini.

Sekarang ia duduk di pekarangan rumah Jongin, Sedangkan Kyungsoo sedang me-nina bobo-kan Haowen.

"Seharusnya ia sudah datang dua jam yang lalu"

"Mungkin ia sedang sibuk Noona" jawab Sehun yang membuat Kyungsoo tersenyum.

"Maafkan aku, soal di rumah sakit itu..."

"Tak apa, aku mengerti seberapa brengseknya aku"

"Bukan, kau tak seperti itu. Aku tahu kau sungguh mencintai Luhan" Kyungsoo menghampiri Sehun yang terduduk "Aku tahu kau melakukan itu karena kekuasaan ayahmu"

"Aku rasa, aku sudah terlambat"

"Aku rasa belum Sehun" Sehun menautkan alisnya. "Aku tahu bagaimana Luhan"

"Noona.. tapi dia"

"Iya, aku tahu untuk saat ini. Aku masih mengingat jelas tatapan cintanya saat ia menceritakan hari dimana pertamakali bertemu denganmu. Aku masih ingat senyuman penuh kebahagiaan saat ia berbicara kalau Haowen mirip denganmu. Aku juga masih ingat, saat aku mencacimu karena kau pergi meninggalkannya. Ia tersenyum dan berkata jika kau bukan lah yang membuatnya menderita, tapi kau yang membuatnya bahagia memiliki Haowen"

"Tapi Noona, bagaimana dengan Chanyeol, Luhan mencintainya"

"Aku tak mengerti jalan pikirannya Hun, Tapi selama ini, Hatinya hanya penuh denganmu Sehun"

Sehun terdiam, pembicaraannya dengan Kyungsoo membuat perasaan dalam dadanya membaik. Setidaknya dulu Luhan mencintainya seperti yang ia rasakan juga selama ini. Tapi Sehun, merasa saat ini Hati Luhan sudah bukan tentangnya lagi.

Disisi lain, Luhan terdiam menunduk karena Chanyeol duduk disampingnya.

"Luhannie" panggil Chanyeol yang membuatnya tersadar dari lamunannnya. "Apa kau baik-baik saja?"

"Aku tak apa" Luhan menjawab ragu.

"Benarkah?" Luhan hanya mengangguk menjawab seuanya. Chanyeol tersenyum dan segera mengandeng tangan Luhan. "Ayo kita pulang. Hari ini melelahkan, setidaknya hari ini ujiannya berjalan lancar" Luhan hanya mengikuti langkah Chanyeol.

"Lu, Apa kau akan pergi ke perguruan tinggi? Haruskah kita ke perguruan tinggi yang sama? Setelah itu kita akan menikah, sepertinya memiliki anak semanis Haowen juga menyenangkan" Kekeh Chanyeol yang membuat perasaan bersalah Luhan menggerus hatinya. Luhanpun menghentikan langkahnya.

"Eh, Lu? Kenapa berhenti?" Chanyeol mentap wajah Luhan yang terlihat jelas, airmata dari pelupuk matanya akan jatuh. "Apa kau baik-baik saja?"

"Chanyeol"

"Kau baik-baik saja kan?"

"Maafkan aku, kurasa pernyataan cinta yang kuterima saat itu adalah kesalahan"

"Lu apa maksudmu?"

"Chanyeol, Haowen bukan hanya anak Sehun" Chanyeo menautkan alisnya bingung. "Dia anakku dengan Sehun"

"Kau bercanda kan Lu? Gak mungkin" Chanyeol merasa bingung dan sekaligus terluka dalam hatinya.

"Aku tak bercanda, dan Kurasa aku tak bisa berhubungan cinta denganmu Channyeol. Maafkan aku" Luhan melepaskan genggaman tangannya dari Chanyeol. "Aku sungguh tak bercanda, tapi itu kenyataannya. Dan aku tak mau melibatkan orang sebaik dirimu dengan wanita sepertiku. Maafkan aku"

Luhanpun membungkukkan badannya. "Terimakasih untuk selama ini" Chanyeol hanya terdiam menatap kepergian Luhan. Ia tak tahu dengan semua ini, dan ia tak mengerti dengan semuanya.

"Maaf aku terlambat" Luhan memasuki flatnya yang terlihat jelas ada Sehun di dalamnya.

"Tak apa, Haowen sudah tertidur"

"Maaf sudah merepotkanmu" Sehun hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.

"Luhan, apa kau mau ikut denganku"

"Kemana?"

"Ada temanku yang ingin bertemu denganmu"

"Besok? jam berapa?"

"Jam 9 pagi, aku akan menjemputmu".

"Sehun besok kurasa..."

"Kau tak menolaknya kan?" Sehun menatapnya. Luhan pun sontak menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku akan ikut denganmu" Biarlah ia egois saat ini. Ia lupa semua ancaman Apa Sehun, Biarlah ia merasakan kedekatannya dengan Sehun, meski sekejap saja.

"Pakailah gaun ini Lu, dan didalamnya ada baju untuk Haowen juga" Sehun memberikan kotak dengan pita berwarna emas itu. Luhanpun membukannya, terlihat jelas, Gaun putih selutut dengan hiasan bunga pink di sekitar dadanya. Ini gaun mahal, Luhan tahu itu. Sudah lama ia tak memiliki gaun mahal rancangan desainer terkenal seperti yang Sehun berikan untuknya.

"Ini terlalu mewah untukku"

"Aku harap kau menuruti kemauanku Lu, Hanya ini permintaanku"

"Baiklah"

Hari esok telah datang, Luhan mencoba memakai gaun yang diberikan Sehun. Sungguh pas dengan ukurannya. Dan terlihat cantik. Ia tersenyum dikaca kamarnya.

"Sudah lama sekali aku tak berpenampilan seperti ini" iapun mengikat rambutnya anggun. "Kuharap aku tak tampak bodoh di depan teman Sehun, setidaknya aku tak mempermalukannya"

Dengan segera ia juga memakaikan baju kemeja dengan rompi berwarna silver di tubuh Haowen. Hawen tertawa ceria, Dia terlihat seperti tampan. Tak heran jika memang dia memiliki gen dari Sehun, Appa biologisnya.

"Lu, apa kau sudah selesai" Sehun sudah datang ternyata. Iapun membuka pintu flat Luhan dan tersenyum manis melihat Luhan telihat anggun nan cantik di balik balutan gaun pilihannya.

"Kau cantik"

"Terimakasih" Luhan merona mendapat pujian dari Sehun. Sehun pun berjongkok di depannya, dan membuka kotak di sampingnya.

"Eh" Luhan terkejut saat Sehun memakaikan Sepatu berwana silver di kakinya. "Aku bisa memakainya sendiri"

"Tidak, Seharusnya aku memberikannya kemarin tapi aku lupa. Biarkan aku memakaikannya" Sehun tertawa kecil. Iapun berdiri setelah sepatu berhak itu sukses tampil menawan di kakinya "Sempurna" Gumamnya.

"Haowen tak merindukan Appa?" Haowen yang sejak awal sibuk dengan mainannya, langsung berdiri dan berjalan menuju Sehun.

"Paaaa" panggilnya yang langsung memeluk kaki Sehun. Tersirat perasaan bahagia dalam hati Luhan dengan semua perlakuan Sehun pada dirinyaa dan Haowen. Tapi ia ingat bahwa pria di depannya ini akan bahagia bersama wanita lain.

Luhan setia duduk dan terdiam duduk di samping kemudi Sehun. Canggung, hal itu yang tergambar pada suasana yang tercipta saat ini. Luhan merasakan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri. Sampai akhirnya ia bangun dari lamunannya aat mobil Sehun terhenti

"Kita sudah sampai, Lu" Senyum Sehun padanya melihat tempat yang ia kunjungi adalah katedral yang penuh dengan bunga dan kain putih. Perasaan Luhan semakin berkecamuk, 'Apakah ini pernikahan Sehun?' batinnya.

"Sebenarnya hari ini, Aku akan menikah"

Deg...

Ucapan Sehun membuat hatinya tersentak sakit, ingin ia menangis tapi ia tak mungkin melakukan hal ini. Ia tak akan melakukan kesalahan di hari bahagia Oh Sehun.

"Bukannya aku akan bertemu temanmu?" tanya Luhan yang di angguki Sehun/

"Iya, Kuharap kau datang dan memberikan dukungan untukku Luhan"

"Aku dan Haowen akan mendukungmu" Ucapnya dengan senyuman palsunya. Ia tercekat, tak mampu berbicara apapun lagi. Jadi maksud bertemu dengan temannya, adalah bertemu dengan istrinya nanti. Hati Luhan berdenyut sakit, ia tak tahu apa yang di rasakannya

Langkah demi langkah ia susuri jalanan menuju katedral itu, dan Haowen senantiasa berada dalam gandengan tangannya.

'Saat aku memasuki katedral ini, aku akan kehilangan Sehun untuk selamanya'

TBC