"Jongin! cepat kebawah!"

Jongin menyibak selimut nya segera setelah mendengar suara nyaring Jongdae dari bawah. Ia segera turun menyusul kakaknya, menengok ada apa kakaknya sampai berteriak seperti itu.

Jongin berhenti melangkah di anak tangga terakhir melihat penyebab kakaknya berteriak. Dia membeku ditempat, menatap shock siapa wanita yang berdiri tersenyum diantara kakak juga ayahnya.

"Hai, Jongin. Lama tidak bertemu."

' '

Jongin dengan cepat berbalik, kemudian berlari kembali ke kamarnya. Ia membanting pintu. Jongin bertanya-tanya kenapa wanita itu datang kemari. Apa karena mereka bertemu kemarin? atau Hanya datang untuk berkunjung?

Dibawah, Ayah Jongin terkekeh canggung merasa tidak enak akan sikap tidak sopan Jongin pada . Wanita cantik itu hanya tersenyum maklum menatap tangga dengan pandangan menerawang. Mereka mempersilahkan untuk duduk.

Senyum Jongdae sangat lebar memperhatian paras ayu . Wanita yang pintar, Dia sangat mengagumi nya.

"Apa Jongin masih sama?" Tanya tiba-tiba membuyarkan lamunan keduanya. Jongdae melirik ayah nya yang tampak ragu. "Masih belum membuka suara?"

Jongdae tersenyum begitu lebar, "Mungkin dia sudah mulai membuka diri. Dia berucap satu kata. Yah meskipun.. tidak begitu jelas."

satu-satu nya Pria paruh baya disana merasa senang luar biasa mendengar kabar baik dari putra sulung nya. Sudah begitu lama, Dia menebak bagaimana suara Jongin sekarang. Sedangkan Wanita berkacamata bernama Seohyun itu mengulas senyum simpul.

"Syukurlah. Setidaknya dia mau bersuara." Ucap nya sopan, Sebagai dokter yang pernah membimbing Jongin—Ia juga ikut senang.

Tidak perlu menunggu lama Seohyun berdiri, berniat untuk segera pergi. Ia membungkuk memberi salam formal. "Kenapa buru-buru? kami belum memberikanmu minuman lalu Jongin—" Ucapan Tuan Kim terhenti melihat gelengan dari dokter Seo.

"Tidak, Aku hanya berkunjung sebentar. Sampai jumpa lagi, dan sampaikan salamku untuk Jongin, Tuan Kim."

Jongdae beserta ayahnya berdiri di tengah pintu, mereka memperhatikan punggung dokter muda itu. "Ayah, Apa kau tidak merasa aneh?" Tanya nya tiba-tiba membuat tuan Kim bergumam kebingungan.

"Pada apa?"

"Jongin. Jika diingat, Dia selalu menghindar dari dokter Seo. Kenapa ya?"

Tuan Kim terdiam, dia memutuskan untuk menutup pintu kemudian duduk bersandar pada sofa beludru tua di ruang tamu. Jongdae menghempaskan dirinya di sofa lainnya.

"Ayah juga tidak tahu."

Jongin mengintip dari lantai atas, Dia menghela nafas mendengar jika Dokter Seo telah pergi. Dia akhirnya melangkah turun kembali, Sudah jam sembilan—Jongin merasa akan lebih baik jika dirinya berangkat bekerja lebih awal. Beruntung Dia mendapat shift sore hari ini, dia tidak perlu takut jika ia terlambat masuk bekerja.

"Jongin, Mau kemana?"

Jongin menengok kesamping, Melihat kakak dan ayahnya yang sedang duduk menonton suatu acara televisi. Dia menunduk sejenak lalu menggerakkan jari nya membuat frasa isyarat yang dimengerti ayahnya.

"Baiklah, Hati-hati dijalan. Mau diantar?" Tawar tuan Kim namun Jongin menggeleng cepat dan segera keluar rumah lalu berlari menuju kafe tempat dia bekerja.


"Auh, merepotkan." Keluh seseorang bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam. disampingnya ada pria berambut ikal sebahu yang memutar bola mata mendengar keluhan orang itu.

"Berhenti mengeluh, Leader macam apa yang mengeluh tentang mengunjungi kafe bandmate nya?" Tanya Heechul sarkas, Sebagai manager grub dia selalu jengkel dihadapkan dengan sosok Kris yang payah.

Lelaki China itu memiliki popularitas tinggi berkat film nya tahun lalu, tapi tetap tidak menghilangkan sifat-sifat memuakkan nya. Heechul selalu berkicau Jika seorang Leader harus ini harus itu, tidak boleh begini tidak boleh begitu. Bukan maksud mengatur tapi ini termasuk pekerjaannya juga untuk menuntun setiap member nya guna mendapat image publik goodboy yang sangat sulit diraih.

Sebenarnya, Kris adalah Leader yang tegas. Cepat dalam keputusan. Tidak mudah merasa tertekan oleh posisi nya sebagai Center yang selalu disorot. Tapi sayangnya dia mudah untuk ditindas dan sangat sering mengeluh. Itu menyebalkan sampai-sampai Heechul akan sering mengumpat mendengar eluhan menyedihkan dari lelaki tinggi itu.

Kris mendesah, "Terserah. Dimana Dobi?" tanya nya ketika mereka masuk dan disambut beberapa karyawan perempuan. Heechul kembali memutar bola mata mendapati para karyawan itu terpesona oleh pria payah disampingnya.

"Kalian lihat apa? Kembali bekerja!" Semua karyawan disana tersentak dan langsung berlari melalukan tugas nyaasing-masing. Kris mendecakkan lidah namun ia tetap terkekeh.

"Kau terlalu sadis, Hyung."

Belum sempat Heechul melempar umpatannya, Dari lantai atas terdengar derap langkah kaki seperti berlari menuruni tangga. Seperti yang ditebak, Chanyeol menyambut Kris dengan senyum lebar.

"Wow. Kau benar-benar datang!?" seru nya menggema diseluruh ruangan.

"Yeah, Karena paksaan." sanggah Kris malas lalu melirik Heechul disampingnya. Raut Chanyeol berubah bingung, "Oh benarkah?"

Sruk!

"Ouch! hyung!"

Kris memegang rusuk kiri nya, dia mengernyit nyeri merasakan sikutan maut sang manager. Benar-benar orang sadis, dia bahkan tidak menoleh kebelakang padanya setelah melakukan hal ini.

"Lupakan saja. Dimana Jongin?"

Chanyeol melihat kesekeliling mencari Jongin, namun memekik menerima pukulan keras di belakang kepalanya. Dia menoleh cepat, melototi Heechul yang kini malah berwajah bosan.

"Dia shift sore, bodoh."

"Apa?! Kenapa?"

DUK!

"Akh Hyung!" Seru Chanyeol melompat-lompat memegangi kaki nya yang barusan ditendang oleh sang manager.

"Kau yang membuat jadwal nya. Kau lupa? Auh, Aku akan memotongmu jika kau bertanya lagi."

Chanyeol mundur mendekati Kris yang bersandar pada tembok. Mereka diam saja memperhatikan punggung Heechul hilang di ujung tangga lantai dua. Dengan heran Chanyeol bertanya, "Kenapa dia?"

"Kurasa dia sedang dalam mood terburuk. Jangan menganggu nya." Chanyeol mengangguk patuh. Dia masih mengelus tulang keringnya yang terasa ngilu begitu juga sang Leader yang juga mengerang akan rasa sakit di rusuk kiri nya.

"Oh ya, Mana Sehun?"

"Dia akan menyusul."

"Oh."

Trring~

Kedua nya menoleh kompak ke pintu masuk. Melihat seorang remaja berkulit tan masuk dengan wajah terkejut. Jongin langsung membungkukkan badan pada Keduanya lalu berlari menuju ruang staff. Tidak lama kemudian dia kembali dengan nampan juga seragam pelayan.

"Jongin?" panggil Chanyeol sebelum Jongin memasuki dapur.

Jongin segera berbalik menatap si pemilik kafe dengan wajah menggemaskan. Pipi Chanyeol menghangat, Dia menahan senyum lebarnya.

"umm..?"

"Bukankah kau shift sore?" Jongin mengangguk menjawab pertanyaan Chanyeol. Lalu menunduk merasa bersalah karena ingin bekerja lebih awal. Dia menulis sesuatu dalam note kecil dan memperlihatkannya pada dua lelaki tinggi yang sedang menatapnya penasaran.

oh ya, Pria disamping Chanyeol.. Jongin seperti pernah melihatnya disuatu tempat.

dimana ya?

'Aku ingin masuk lebih awal.'

membaca nya membuat Chanyeol tertawa. Sedang Kris disampingnya hanya diam memperhatikan, Mengetahui ada nya orang asing membuatnya langsung memasang wajah dingin.

"Kau terlalu bersemangat. Tapi tidak apa. ssa, Silahkan bekerja." Jongin mengangguk kaku, dia segera berlari kecil memasuki dapur.

Kris menyiku lengan teman satu grub nya pelan, "Siapa?"

Chanyeol menyunggingkan seringai lebar, "Kenapa? dia manis kan? Jangan sentuh, He's mine." peringat nya dengan alis naik-turun. Kris meninju bahu Chanyeol tidak berminat oleh candaan konyol Chanyeol.

"Tsk, Just talk to my hand. You asshole."

Chanyeol tertawa terbahak karena berhasil menggoda sang Leader. Dia lalu mengajak Kris ke lantai dua, Dimana takkan ada sembarangan pengunjung yang akan duduk disana. karena itu areal privat. hanya untuk beberapa orang. Bahaya juga jika mereka mengobrol di bawah. Kafe nya mungkin akan penuh oleh perempuan-perempuan yang meminta tanda tangan mr.Galaxy mereka.

yah.. diantara mereka, Kris bisa dibilang member yang paling digemari.

Chanyeol berdecih, Dibandingkan dengannya.. Kris adalah lelaki yang payah—lebih dari payah. Alasannya nanti saja.


"Jongin, besok kau tidak usah kemari. Semua pekerja diliburkan." Celetuk Heechul yang duduk di meja kasir. Jongin menoleh, menatap pria itu dengan tanda tanya besar.

Kenapa?

Melihat tampang Jongin segera saja Heechul beranjak menghampiri Jongin, Dan langsung menarik kedua pipi gemil Jongin.

"Ukh. Manis sekali kau iniii.."

"Aa!"

Jongin memekik pelan. Cubitan dari Heechul sama sekali tidak sakit tapi setelahnya pasti akan meninggalkan bekas kemerahan disana. Heechul terkekeh melepaskannya.

"Kafe ini dipakai satu hari penuh untuk fansign Sehun, Lay, dan Baekhyun juga Chanyeol—Of course. Tapi.. Jika kau mau datang juga tidak apa. Kau bisa membantu ku. Mau?"

Jongin mengerjap, meraba saku celana hingga kemeja mencari kertas note. Tapi tidak ada. Jadi dia hanya diam saja menanggapi Heechul yang berucap panjang lebar.

Besok..

Uh

"Kau mau?"

ha?

"—Ayolah. Kau tidak mau melihat Oh Sehun melakukan aegyeo untuk para fans?"

eh?

Jongin terpaksa mengangguk. Kapan lagi melihat nya. lagipyla melihat senyum lebar Heechul membuat ia seperti tidak memiliki pilihan lain selain setuju.

Heechul bertepuk tangan terlalu senang. Masa bodoh, dia sudah muak bekerja di kumpulan orang-orang sok sibuk. Dia juga ingin bersama dengan lelaki manis macam Jongin.

"Oh, Aku lupa. Antarkan Spagetti dan Roti isi di dapur ke lantai atas. Chanyeol memanggilmu." Heechul menepuk bahu Jongin, "Baiklah, kembali bekerja." perintahnya sebelum melangkah keluar Kafe.

Jongin menggembungkan pipi nya beberapa kali. Bukan tidak mau atau apapun. Tapi Tatapan teman Chanyeol tadi pagi benar-benar membuatnya tidak nyaman. Jongin yakin ini pertemuan pertama mereka namun kenapa lelaki itu harus menatapnya dingin seolah Jongin telah melakukan hal bodoh?

Namun belum sempat ia masuk ke dapur, Seseorang memanggil namanya disertai bunyi lonceng pintu masuk. Jongin mendapati Sehun melambai padanya untuk tetap disana dan jangan pergi.

Jongin melihat Lelaki pucat itu mendekat. Dia harus menunduk saat mereka bertemu pandang. Padahal orang ini baru saja terlintas di benaknya, dan sekarang telah berdiri tegak menatapnya.

"Apa Chanyeol disini?"

Jongin hampir mengeluarkan jawaban nya dari bibir jika bukan tersadar oleh sentakan Zelo dari dalam dapur. Dia dengan kaku menunjuk lantai atas.

"Ah, Terima kasih." Ucap Sehun tulus. Ia berjalan menaiki tangga lalu berhenti sejenak, "Oh ya, Satu limun dingin."

Jongin termangu ditempat memperhatikan punggung Sehun yang menghilang. Dia menunduk merasa kecewa tiba-tiba. Remaja manis itu menghela nafas kemudian menyeret kaki nya masuk ke dalam dapur.


Jongin menaruh dua piring berisi jenis makanan berbeda dan satu gelas limu untuk Sehun diatas meja persegi berwarna coklat gelap. Tanpa menyadari tatapan ketiga lelaki disana memperhatikan setiap gerakkannya.

Jongin hendak berbalik namun terhenti mendengar suara Sehun.

"Sampai kapan come back kita di tunda?"

Jongin mencuri pandang pada seseorang yang tadinya tengah memperhatikannya dingin. Jongin mengulas senyum tipis, berharap orang itu berhenti menatapnya seperti itu. Tapi sedetik kemudian Jongin merengut saat orang yang dipanggil Chanyeol Kris itu malah membuang muka dan mulai memakan spagetti di atas meja dengan tampang acuh.

oh apa memang dia seperti itu..?

"Sampai.. Yah, Sampai kita comeback nanti." bibir Jongin berkedut menyembunyikan tawanya mendengar dengusan keras Sehun.

Chanyeol menggaruk pipi, Dia menoleh kesamping mengisyaratkan Jongin untuk tidak pergi dan mengambil tempat duduk diantara ia dan Sehun. Jongin tentu menurut. Bagaimana bisa dia menolak untuk duduk di samping Sehun. Tapi..Tapi tetap saja, Dada nya berdebar. Wah!

"Kris Hyung!"

"Hm?"

Sehun dan Chanyeol saling berpandangan, lalu secara bersamaan menatap Jongin di antara mereka. mengetahui itu Jongin langsung menunduk Merasa gugup lebih dari sebelumnya. Astaga..

"Ah Kris?"

Lelaki China itu sekali lagi hanya bergumam, mendengarnya baik Sehun maupun Chanyeol berdecih dan membuang pandangan sekilas.

"Aku lupa mengenalkanmu pada seseorang. Tadi kalian bertemu dibawah—"

"Dia Jongin. Dia sedikit pendiam." Potong Sehun merangkul bahu Jongin hingga remaja itu berjengit merasakan lengan Sehun yang tiba-tiba menyentuh pundaknya. Melihatnya Chanyeol hanya melirik Sehun Jengah.

Kris mengecap bibirnya. Lalu secara penuh menatap Jongin. Tidak dengan pandangan dingin sebelumnya tapi Sebuah senyum tipis yang membuat Jongin hanya berkedip ditempat.

"Salam kenal. Kris wu." tangan Jongin diraih lelaki tinggi itu untuk dijabat. Tangan besar yang hangat hampir sama persis dengan tangan Sehun dibahu nya. Memikikan itu Jongin melirik Sehun diam-diam.

Jongin tidak tahan. Dia segera menundukkan kepalanya—menyembunyikan raut merona di wajahnya.

"Hm." Sementara itu Chanyeol kembali bertukar pandang dengan Sehun, mereka melempar senyum miring yang tidak terlalu lebar.

anak ini lucu sekali..

menarik


TBC


note :

haloo hai. uda dengerin exo yang lucky one? Suka part yg 'keep on call me' :'' manis gitu dengernya. terus yang heaven sama Cloud9 boleh juga aw..

yang lg bertanya status nya apa, Statusnya lagi berusaha update all ff. beneran berusaha. kemarin liat profil. keinget ff Heart & relationship. dapet ide dari komik di my reading manga sih. tapi lebih mirip Re-post ya. gpp lah ya.. :3

LBA nya... sedang diusahain, kalau nanti nc nya jelek jan salah in ya karena emang kurang anu kalau itu nya cewek. ngrasa geli sendiri bayangin nya terus belum lg di ketik. duh uda ngakak duluan. hm..

yang puasa selamat mnjalankan...