Author : ZaKhazaKaizzz
Cast : Kim Baekhyun
Oh Sehun
Pairing : HunBaek
Other carst : bisa ditemukan sendiri setelah membaca
Warning : GS for Baekhyun
Woohoo.. ada yang terkejut? Sepertinya tidak, hehehe..
Sebenernya za emang dari awal niatnya mau bikin beberapa chapter dengan tokoh yang sama. Tapi, ada beberapa hal yang dibahas di setiap chapter, jadi mohon maaf banget bagi yang mengira ff ini oneshoot tapi ternyata berchapter. Tapi, setiap chapternya END kok, jadi gak ngegantung di hati para readers.
Sudah ya curhatnya, langsung dibaca aja ff nya…
Happy reading…
Jam yang melekat pada dinding kamar Sehun menunjukkan pukul sepuluh siang. Si pemilik kamar baru saja keluar dari kamar mandi, mengingat hari ini adalah hari libur yang seharusnya digunakan pria berkulit hampir seperti albino tersebut untuk bersantai di rumah atau bermanja-manja dengan kekasihnya. Namun keinginan klien yang ingin bertemu dengannya, membuat jadwal liburnya lebur. Hingga dijam yang cukup siang ini ia sudah mulai merapihkan diri dan bersiap-siap dengan seragam kantornya.
Objek pertaman yang ia lihat setelah berurusan di dalam kamar mandi adalah kekasihnya, Kim Baekhyun. Gadis kecilnya yang sudah memegang dua buah gantungan pakaian untuk ia pakai hari ini, sedangkan dirinya masih menggunakan bathrobe dan handuk kecil dibahunya untuk mengeringkan rambut yang baru saja ia keramasi.
"bagaimana dengan pakaian ini? Apakah ahjussi suka?" Tanya Baekhyun dengan menjulurkan kedua gantungan yang terdapat setelan jas dan kemeja kerja juga celana untuk dipakai pria tersebut.
"apapun yang kau pilihkan pasti aku menyukainya"
"gomawo, chagi" lanjutnya setelah mengambil alih kedua gantungan tersebut dari tangan sang kekasih dan menghadiahi kecupan terima kasih pada kening Baekhyun.
"jangan lama-lama!, ini sudah cukup siang, nanti ahjussi terlambat dan klien membatalkan kontraknya lalu perusahaan bangkrut dan ahjussi dipecat dari perusahaan" Baekhyun mengucapkannya dengan sangat cepat dan tanpa jeda membuat Sehun terkikik mendengarnya.
"kau berlebihan, sayang. Baiklah.. tunggu aku di ruang makan"
"johda" Baekhyun sengaja seperti ini. Sebenarnya ia masih sedikit tidak rela kalau harus menukar janjinya dengan klien menyebalkan yang tidak tahu waktu tersebut. Kalau saja tidak demi masa depan perusahaan, ia tidak akan rela menukar kencannya bersama ahjussi menyebalkan itu dengan apapun.
Meskipun Baekhyun masih berada di kelas pertama sekolah menengah atas, namun ia sudah memikirkan kelanjutan hubungannya dengan pria berumur tersebut. Ia benar-benar ingin Sehun lah pria yang akan menjadi pendamping hidupnya sampai akhir hayat nanti, ya! Baekhyun memang sangat mencintai pria tersebut dan jangan salah menduga, sikapnya yang selama ini sedikit acuh, bukan berarti ia tak memiliki perasaan apapun pada pria tersebut. Justru seperti inilah caranya mengungkapkan betapa ia sangat mencintai pria tersebut.
Ia jadi ingat awal pertemuannya dengan Sehun yang langsung membuatnya jatuh hati
#flashback on#
Pria berparas tampan nan mempesona baru saja memasuki kawasan rumah yang penuh dengan nuansa kesegaran yang baru saja diisi dan sepertinya akan menjadi tempat tinggal dalam waktu yang sangat lama oleh pemilik barunya.
Rumah yang sudah lama ini kosong, kini sudah diisi oleh sebuah keluarga kecil yang hanya berisikan ayah, ibu dan seorang anak. Kepala keluarga mereka adalah sahabat dekat dari pria yang sudah berdiri di depan pintu dan bersiap untuk memencet belnya, dan karena itu kini dirinya berniat untuk menyambut sahabatnya yang akan memulai hidupnya menjadi tetangga barunya.
"sepertinya aku sudah terlambat untuk membantumu" ia sedikit memberikan gurauan kecil saat melihat isi rumah baru tersebut telah rapi dan harum. Benar-benar menyejukkan berada di sini. Penuh dengan nuansa taman yang segar.
"hahaha tidak perlu seperti itu. Kalau kau membantuku akan semakin membuatku menjadi tidak enak hati, membantu kami mencarikan rumah saja sudah lebih dari cukup, Sehun-ah"
Kedua pria mapan tersebut saling bercerita mengenai pekerjaan dan kenangan-kenangan lainnya saat pertama kali bertemu hingga mereka harus berpisah dan menjalani persahabatan jarak jauh karena dirinya dan keluarga yang harus meninggalkan Korea untuk membangun cabang perusahaan di Rusia.
"apakah terlalu banyak yang berbeda selama di Rusia, hyung?" Tanya Sehun saat melihat beberapa makanan yang di suguhkan oleh nyonya rumah baru tersebut
"terlalu banyak, dan Joonmyun oppa selalu memintaku untuk selalu memasakkan makanan Korea, tapi setelah mencoba makanan Rusia, ia selalu menyuruhku belajar membuat makanan Rusia" sahut sang istri
"itu agar kau memiliki banyak menu untuk selalu kau masak, yeobo"
Dan dimenit-menit selanjutnya, mereka bertiga kembali berbincang dan sesekali tertawa bersama saat menceritakan masa lalu mereka bertiga, hingga teriakan seorang yeoja meleburkan suasana tersebut.
"appa….. kenapa kamar Baekhyun di sebelah sana? Aish… jinjja, Baekhyun tidak suka, Baekhyun tidak mau"
"apa itu anak kalian?" Tanya Sehun heran
"iya, jangan terkejut saat melihatnya. Dia benar-benar menjadi gadis cerewet dan menyebalkan, tapi dia anakku yang paling cantik dan lembut perasaannya"kedua pria yang berada di sana hanya dapat ber-sweatdrop- ria mendengar penuturan nyonya Kim.
Gadis berambut panjang itu keluar dari persembunyiannya dan hendak protes pada sang ayah mengenai lokasi kamar yang sangat sangat tidak diinginkannya.
"appa-ya –" tubuhnya terpaku, lidahnya yang ingin mengomel sedari tadi mendadak kelu saat melihat sosok pria yang tengah duduk di hadapan kedua orang tuanya yang masih menggunakan pakaian kantornya.
Bukan, bukan karena pakaian kantor yang ia kenakan. Itu tidak menjadi masalah. Hanya saja ia sendiri juga bingung harus berbuat apa. Tubuhnya mendapatkan reaksi yang aneh saat melihat pria tersebut, seperti ada remot kontrol untuk mengatur tubuhnya. Ditambah dengan mata sabit yang kini menatapnya juga, membuat kedua tangan yang sedari tadi memeluk boneka kodok berwarna pink menjadi turun dan menyisakan tangan kanannya yang masih memegang boneka tersebut.
Sehun yang diselimuti rasa penasaran, semakin berdetak tak nyaman jantungya setelah mendengar teriakan anak keluarga Kim ini. Awalnya ia merasa biasa saja, toh saat baby Kim tersebut lahir, ia juga sudah melihatnya dan menggendongnya juga terkadang ikut memandikannya dan memakaikan ia baju saat Joonmyun belum pulang bekerja dan Yixing –istri Joonmyun- membuatkan masakkan untuk makan malam mereka.
Saat usianya yang masih bersekolah di tingkat menengah atas, Sehun memang memutuskan untuk menginap di kediaman keluarga Kim. Selain karena keluarga mereka yang sangat dekat, ia juga dapat menghemat uang jajannya. Sampai tiba saat dimana Yixing melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan imut di salah satu rumah sakit di Korea.
Keberadaan Sehun kala itu benar-benar membantu keluarga Kim, karena saat Joonmyun dan Yixing pergi keluar rumah, ia bisa menitipkan anak mereka pada Sehun meski itu tidak berlangsung lama. Setelah dokter membolehkan nyonya Kim untuk bepergian jauh setelah kelahirannya, Joonmyun langsung membawa keluarganya ke Rusia untuk mengawali bisnis baru di Negara tersebut.
Dan semua itu berakhir tanpa beban apapun, semuanya benar-benar berjalan seperti biasa. Sehun pun tidak terlalu memikirkan putri Kim yang selalu ia rawat tersebut.
Tapi kenapa hari ini terasa berbeda? Apa karena ia terpesona dengan teriakan gadis tersebut? Ah~ itu terdengar sangat mustahil. Dan kini sosok yang membuatnya gelisah benar-benar nampak di hadapannya. Iris wajahnya yang masih sama seperti pertama kali ia menggendongnya, begitu cantik dan imut. Matanya yang hitam kecokelatan, hidungnya yang begitu terlihat manis, kedua rahangnya yang sempurna terbentuk, bibir tipisnya yang jika tersenyum akan membentuk persegi empat. Kini sosok yang pernah ia gendong tersebut telah bertambah tinggi, rambutnya semakin panjang dan terlihat begitu halus, juga kulitnya yang semakin putih dan wanginya pun sampai ia dapat rasakan.
Haishhhh, Oh Sehun… apa yang sedang kau fikirkan?
"apakah dia Kim Baekhyun, hyung?" Tanya Sehun yang sudah bangkit dari alam bawah sadarnya
"ne, kau masih mengenalinya?"
"tentu saja, dia masih cantik seperti enam belas tahun yang lalu"
"haha, hanya saja saat ini ia lebih cerewet. Hey Baekhyunnie, kau tidak ingin menyapa Sehun ahjussi yang sering merawatmu saat kecil?" tegur Yixing membangunkan khayalan gadis yang masih dengan setia berdiri seperti patung dengan tangan yang juga masih memegang boneka kodok kesayangannya.
Mendengar kata 'Sehun' membuatnya tersadar dari bayangan mengenai perasaannya yang tiba-tiba aneh saat melihat pria yang sepertinya dimaksud dengan nama 'Sehun' oleh ibunya tersebut.
"annyeonghasibnida, Kim Baekhyun ibnida" sapanya dengan sopan dan membungkuk 90 derajat
"kau ini… seperti bertemu dengan orang lain saja. Duduklah dulu!" titah Joonmyun membuat anaknya mengerenyit bingung dan menatapnya horror
"appa, disini hanya ada tiga kursi, kau menyuruhku duduk dimana? Lantai? Sirheo!" Gadis tersebut memang benar-benar cerewet. Tapi, menyadari hal tersebut, Joonmyun hanya menepuk dahinya tanda ia menyadari kebodohannya. Di sana hanya ada tiga buah kursi single karena keluarga mereka hanya tiga orang dan sebuah meja di tengah-tengah, ia lupa untuk memesan kursi yang panjang.
"kemarilah!, ahjussi sangat rindu padamu" demi seluruh bubble tea yang selalu dibelinya, Sehun memberanikan diri untuk berkata demikian. Dan sekarang ia meruntuki lidahnya yang dengan lancang secara tidak langsung meminta Baekhyun untuk duduk bersamanya.
Belum selesai berkelahi dengan batinnya, ia mendapati keterkejutan saat dengan nyamannya ada seseorang yang tengah duduk di pangkuannya. Tak hanya dirinya, bahkan kedua orang tua Baekhyun juga merasa sangat terkejut.
Entah apa yang menarik Baekhyun untuk seperti ini. Tubuhnya seakan terhipnotis oleh ucapan Sehun yang menyuruhnya untuk mendekat. Dan kini justru ia lebih berani untuk mendudukkan diri di pangkuan Sehun dengan saling berhadapan. Diantara keduanya ada sebuah boneka yang sedari tadi ia bawa. Boneka kodok.
"kau sudah besar, rupanya… tapi masih terlihat cantik, seperti saat aku pertama kali menggendongmu" ujar Sehun, tangannya membelai lembut rambut panjang Baekhyun yang dibiarkan terurai
"kenapa teriak-teriak? Apakah ada masalah dengan kamarmu, eum?" tanyanya lembut saat melihat kembali kerucutan bibir gadis tersebut. Mungkin ia kembali teringat dengan niat awalnya menghampiri sang ayah yang berakhir di pangkuan Sehun. Ia mengangguk lucu, membuat Sehun gemas.
"ne, Baekhyun tidak mau jika kamar Baekhyun dekat dengan dapur, itu menakutkan. Padahal ada satu kamar lagi di samping kamar eomma dan appa, Baekhyun ingin kamar yang dekat kamar eomma dan appa" adunya yang terkesan sangat manja bagi Sehun.
Mungkin jika untuk Sehun ini sudah tak terasa aneh, mengingat memang ia sudah mengenal gadis tersebut sejak ia dilahirkan. Namun bagi Baekhyun? Kenapa dengan semudah itu ia akrab dengan Sehun? Apakah ini semacam… ikatan batin?
"hyung, biarkan saja Baekhyun menempati kamar dekat kamar kalian. Kalian tidak ingin bukan, kalau sampai-sampai Baekhyun tidak bisa tidur karena takut dan nanti nilai sekolahnya menjadi buruk. Bukankah tahun ini awal ia memasuki sekolah menengah atas?"
Kedua orang tua Baekhyun akhirnya setuju dan mengizinkan Baekhyun untuk menempati kamar di sebelah kamar mereka, padahal ia tidak ingin meracuni otak polos anaknya jika mendapati mereka berdua tengah melakukan sesuatu yang 'iya-iya'. Namun apa boleh buat? Mereka juga tidak mau jika anak semata wayangnya mengalami keterpurukan nilai karena mendapatkan gangguan tidur.
"yeayyyy… gomawo ahjussi" teriaknya senang saat mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya
"ayo! Biar ahjussi bantu mengemasi barang-barangmu ke kamar"
"ne, kajja" dan pertemuan awal mereka berdua berakhir dengan saling bergandengan menuju kamar Baekhyun untuk memindahkan semua barang-barang yang sempat ia taruh di kamar dekat dapur.
Hari mulai terlihat mendung, udara yang semakin kencang berhembus mengiringi kabut-kabut hitam yang menggulung di atas sana. Padahal para siswa sekolah menengah atas baru saja selesai kelas, tapi saat keluar gerbang sekolah sudah disambut dengan pemandangan yang kurang mengenakkan. Yaa,,, siapa yang mau jika harus hujan-hujanan menggunakan seragam sekolah yang esok hari juga harus dipakai?
"siapa yang menelfon?" Tanya Sehun saat mendapati ponsel milik gadis yang duduk di sebelahnya berbunyi
"appa…"
"yeoboseyo, appa?" sapa Baekhyun pada orang yang diseberang telfon
"…."
"gwaenchana, appa. Baekhyun sudah bersama Sehun ahjussi"
"…"
"ne"
"…"
"oke"
Pik
Ia mematikan ponselnya dan embali menaruhnya di saku seragam sekolah yang ia pakai.
"appa hanya memastikan bahwa ahjussi benar-benar menjemputku. Dan appa juga minta maaf karena merepotkan ahjussi, katanya terima kasih karena mau menjemputku" ucapnya saat mendapati tatapan Sehun yang penasaran akan apa yang mereka bicarakan
"eo, aku tidak merasa direpotkan"
Waktu yang semakin lama berlalu, mereka lalui dengan kebersamaan.
Baekhyun merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan sahabat dari ayahnya tersebut, jantungnya selalu terasa berdetak lebih cepat saat ia berada dalam jarak yang dekat dengannya. Tapi, ia selalu ingin bersama ahjussinya itu. Selalu.
Dan karena itu, ia selalu meminta Sehun yang menjemputnya pulang sekolah dan ia juga akan ikut berangkat bersama, Sehun pergi ke kantornya dan ia pergi ke sekolah. Selain itu, ia juga selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah Sehun saat sedang tidak ada pekerjaan apapun di rumahnya. Ia akan ke rumah Sehun saat malam hari, setelah selelsai mengerjakan tugas dan tentunya saat Sehun juga sudah ada di rumah.
Awalnya hanya sekedar main-main saja ke rumah yang berdampingan dengan rumahnya tersebut, namun semakin ke sini ia jadi semakin sering berada di rumah tersebut. Saat Sehun pulang dari kerja, ia langsung ke rumah tersebut dengan membawakan makanan yang dititipkan dari eommanya. Yixing terbiasa memasakkan lebih untuk ia berikan pada Sehun, keluarganya sudah menganggap Sehun seperti keluarga sendiri, sehingga terkadangpun ia mengajak Sehun untuk makan pagi dan makan malam bersama dan sudah pasti yang memanggil Sehun untuk ke rumahnya adalah anak semata wayang keluarga Kim.
Baekhyun terus memikirkan perubahan sikapnya selama ini. Kenapa setiap hari ia jadi selalu rindu pada ahjussi itu? Kenapa ia selalu ingin bersama pria tersebut? Menyebalkan sekali… seharusnya ia dapat menggunakan waktu luangnya untuk belajar menyambut ulangan esok lusa, tapi kali ini berbeda.. separuh banyak otaknya bukan ia gunakan untuk berfikir, melainkan untuk memikirkan ahjussi yang tinggal di samping rumahnya itu.
"kenapa ada sepatu wanita di luar?" Tanya gadis tersebut saat berada tepat di depan rumah Sehun. Ini adalah waktunya untuk mengantarkan makan untuk ahjussinya itu.
Suara bel pintupun berdering dan tak lama kemudian tampaklah sesosok yang memenuhi hari-hari sang gadis pelaku pemencet bel rumah tersebut.
"eomma menitipkan ini untuk ahjussi" ia bingung harus seperti apa, hingga seperti inilah rekasinya saat berhadapan langsung dengan pria yang perlahan mulai membuat detak jantungnya tidak karuan.
"ah, gomawo Baekhyun-ah.. kau ingin masuk?"
"eum. Eomma sudah selesai dengan acaranya dan sedang menunggu appa pulang,, dan aku bosan harus apa di rumah. Kamar? Ah aku mulai bosan berada di ruanganku itu, televisi? Ck, bahkan ini adalah waktu milik eomma menonton drama-drama. Menyebalkan berada di rumah" jelasnya menyetujui ajakan Sehun untuk masuk ke dalam rumahnya, lagi pula ia penasaran sebenarnya siapa pemilik sepatu wanita di rak depan rumah ahjussinya itu. Ahjussi-NYA? Ah, mungkin ia ingin mengikat pria tersebut untuk menjadi miliknya.
"ini adalah masakanku yang terakhir" seseorang berteriak senang dari dinding pemisah di ruang makan, dan sepertinya itu dapur. Mwo? Wanita? Dapur?
"eo, ada tamu lain, ya?"
"ne, dia anak dari Joonmyun hyung, rumahnya di sebelah rumahku" dan entah kenapa, tapi sepertinya Baekhyun tidak dapat menerima kenyataan dan fakta yang tertangkap oleh kedua matanya karena ia merasa tiba-tiba saja kelopak matanya semakin berat seperti menahan sesuatu yang ingin keluar.
"Baekhyun-ah, eodisseo?" teriak Sehun saat melihat gadis yang sudah ia anggap sebagai keponakannya itu berjalan dengan cepat menuju pintu keluar
"a-aku lupa kalau ada PR untuk besok" dan itu adalah kata terakhir yang ia keluarkan hari itu dan berakibat untuk hari-hari berikutnya.
Malam yang sangat hangat tercipta di kediaman keluarga Kim yang tengah berbagi kebahagiaan dalam lingkar hidup berkeluarga mereka di sebuah ruangan yang cukup untuk ketiganya saling berbagi cerita hari ini. Tidak semua, hanya sepasang suami istri yang tengah tertawa karena menyesapi setiap cerita lucu yang dilontarkan oleh lawan, sangat berbeda dengan anak tunggal mereka yang sedari tadi hanya menatap layar persegi panjang di hadapannya. Tidak ada yang menarik memang, tapi ia lebih tidak tertarik untuk bercerita apapun pada kedua orang tuanya, terlebih kejadian tadi sore.
"appa. besok… aku ingin berangkat sekolah bersama appa saja" dan sepertinya kekesalan Baekhyun karena kejadian tadi sore di rumah Sehun sudah di mulai
"bukankah biasanya kau berangkat bersama Sehun? Kenapa tiba-tiba ingin berangkat bersama appa?"
"ck, pokoknya Baekhyun ingin berangkat bersama appa"
"niga wae? Apa terjadi sesuatu diantara kalian?" gadis tersebut tertunduk kesal mengingat kejadian tadi sore. Aneh juga sebenarnya, ia tidak memiliki hak untuk seperti ini. Namun hatinya menuntut dirinya untuk demikian.
"aniya, hanya ingin berangkat bersama appa saja, sekali-sekali" jawabnya lesu
"tidak bisa, sayang. Appa besok harus berangkat pagi-pagi sekali"
"Baekhyun bisa bangun lebih awal, jam berapa apa berangkat?"
"jam seperti biasa kau bangun"
"geurae- hooh? kenapa sepagi itu?"
"karena meetingnya akan dimulai pukul 6" kini sang ibu rumah tangga mencoba memberikan penjelasan pada anak tunggalnya.
"baiklah baiklah, Baekhyun berangkat sendiri saja" kemudian ia buru-buru berjalan dengan cepat menuju kamarnya, kerucutan pada bibirnya pun tak luput dari wajah masamnya.
Benar saja, Baekhyun hari ini berangkat sendirian, ia keluar dari rumah 15 menit lebih pagi dari biasanya. Karena,,, 'biasanya' ia diantar oleh ahjussinya yang menyebalkan itu, eh… ngomong-ngomong tentang ahjussi yang tinggal di samping rumahnya itu, kenapa hari ini batang hidunya tidak kelihatan juga? Setidaknya, biasanya Sehun akan ke rumahnya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi pada kedua orang tua Baekhyun kemudian meminum kopi yang Yixing buatkan untuknya dan lantas kembali ke rumahnya dan balik ke rumah Baekhyun untuk menjemput gadis tersebut.
"aishhh… dasar pak tua menyebalkan… arggggh"
Tang
Pluk
"aw" belum lama ia menendang kaleng bekas yang tak berdosa, ternyata ada korban yang lebih tak berdosa karena harus terkena imbas dari tendangan kaleng dari gadis manis tersebut.
Pria tersebut menghentikan laju motornya, kemudian melepas helm yang ia pakai. Untung saja ia pakai helm, kalau tidak, mungkin akan tumbuh sedikit benjolan di bagian kepalanya.
"ha.. b-bagaimana ini? Bagaimana kalau dia marah-marah? Oh tidak… jangan mendekat!" jerit Baekhyun dalam hati dengan bibir yang menggumam agar pria tersebut pergi, tangannya pun ia gunakan untuk menutupi wajahnya agar tidak terlalu dikenali oleh pria yang berseragam sama dengannya.
Tunggu…
Seragamnya sama dengan yang ia pakai? Mengetahui hal tersebut, semakin membuat jantung gadis tersebut berdetak ketakutan, dan bagaimana jika orang tersebut adalah seniornya? Jeritnya lagi dalam hati. Dan bagaimana jika Baekhyun diteror terus menerus karena kesalahannya ini?
Baekhyun berjalan melewati korbannya tersebut dengan menghalangi wajahnya, kakinya sudah gemetar hebat, takut akan di apa-apakan.
"hey"
'mati aku' batinnya, ia mengambil ancang-acang untuk segera lari meninggalkan pria tersebut. Tapi, tentu saja ia akan kalah, pria tersebut kembali menaiki motornya untuk mengejar Baekhyun.
"m-maaf, maaf sunbaenim. A-aku tidak sengaja. Ku mohon, jangan habisi aku. Ku mohon, sunbaenim" pasrah. Baekhyun meminta maaf sambil berlutut seperti sedang meminta ampun pada Tuhannya.
"hahaha,, siapa yang akan menghabisimu? Ayo bangun" Baekhyun akhirnya kembali berdiri dengan bantuan dari kedua tangan pria korban tendangan kaleng tersebut.
"s-sunbae tidak marah pada ku?"
"siapa bilang? Aku sangat marah padamu. Siapa namamu?" cecarnya dengan nada tegas
"b-Baekhyun. Kim Baekhyun. Ku mohon sunbae, aku rela melakukan apapun asalkan pulang nanti aku masih dalam keadaan baik" pria tersebut kembali terkekeh mendengar ucapan gadis ini
"berteman?"
"apa? M-maaf suaramu terlalu kecil"
"aku ingin kau berteman denganku"
"hanya itu? Ah, aku menerimanya. Mulai sekarang kita berteman" Baekhyun mencoba untuk mengulurkan kelingking kirinya pada teman yang baru ia dapat hari ini.
"ne, Baekhyun-ah. Namaku Kris"
.
Ini sudah lima hari semenjak Baekhyun marah pada pria yang mulai ia sebut 'pak tua' itu, dan pria tersebut sama sekali tidak mecoba untuk menemuinya. Apakah dia benar-benar tidak merasa bersalah atau kehilangan,,, mungkin?
Sama seperti lima hari yang lalu semenjak Baekhyun berangkat dan pulang sekolah sendirian, ia menyusuri pinggir jalanan dengan tidak bernafsu. Kenapa semuanya jadi begini? Andai saja Sehun ahjussinya datang dan mengatakan maaf lalu berkata untuk tidak mengulanginya lagi, mungkin saat itu juga Baekhyun akan luluh.
Jujur saja, ia juga merindukan kehadiran Sehun, ia merasa kehilangan selama lima hari ini. Ia rindu bermanja-manja dengannya bahkan ia juga rindu sentuhan tangan Sehun yang selalu membelai rambut dan pipinya atau punggungnya saat ia ingin tidur.
"menyebalkaaaan"
Saat tengah dalam keadaan yang tidak berkonsentrasi, tiba-tiba ada sebuah mobil yang sangat ia kenali mendekat, namun ia terlalu enggan untuk mengingat siapa pemilik mobil tersebut.
Seorang pria yang memiliki garis rahang yang tegas keluar dari dalam mobil dan mendekat ke arah Baekhyun.
"kenapa pulang duluan? Aku tadi menjemputmu di sekolah" pria tersebut adalah pria yang sedang ia fikirkan saat ini. Bagaimana bisa dia ada di sini?
"wae? Apa urusanmu sudah selesai dengan gadis itu?" bodoh, Baekhyun mengumpat bibirnya yang berkata demikian.
"kau ini kenapa? Ayo kita pulang!" ajaknya saat melihat Baekhyun membalikkan punggungnya hendak melanjutkan perjalannya menuju rumah.
"lepas!" ucapnya tegas tanpa menoleh
"tidak sebelum kau pulang bersamaku"
"ku bilang lepaskan aku Oh. Sehun. Ahjussi." Pria tersebut tidak berani berbuat lebih setelah mendengar penekanan disetiap namanya, sepertinya gadis kecil itu tengah dalam keadaan yang tidak baik.
Baekhyun akhirnya dapat terlepas dari Sehun. Pria tua itu memutuskan untuk membiarkan Baekhyun dalam beberapa saat.
Memang, kalau difikir-fikir, belakangan ini Sehun merasa kalau Baekhyun menghindar darinya. Berangkat sekolah selalu lebih pagi, sehingga setiap Sehun datang ke rumahnya, yang ia dapati hanya Yixing yang sedang menyirami tanaman depan rumahnya.
'sebenarnya apa yang terjadi pada Baekhyun?' Sehun mulai bermonolog ria dalam perjalannya kembali menuju kantor setelah gagal untuk mengantar Baekhyun pulang.
.
"Kyungieeeee" Baekhyun berteriak dengan tidak berperi kekupingan saat telefonnya berhasil tersambung dengan seseorang di sana
"aish, yak! Bacon-ah! Jangan teriak! Telingaku jadi berdengung"
"hehe… mian, aku hanya sedang bosan. Rumahku sepi sekali. Eomma dan appa pergi ke rumah Jongdae ahjussi, istrinya baru saja pulang dari rumah sakit karena melahirkan" adu Baekhyun pada Kyungsoo
"ah, kasihan sekali bacon-ku ini. Memang ahjussi yang tinggal di samping rumahmu itu belum pulang dari kantor?" Baekhyun sedikit membuka tirai kamarnya dan melongok ke arah jalanan saat ia mendengar deru khas dari mesin mobil.
"baru saja datang"
"kalau begitu, tunggu apa lagi? Bukannya kau selalu bermain dengannya? Kau pernah bilang kalau kalian bisa menghabiskan waktu seharian penuh walau hanya mengobrol tidak jelas, kan?"
"kau tahu aku sedang marah padanya. Kenapa memberi usul hal aneh seperti itu?" seketika Baekhyun melemas
"kau aneh. Kenapa kau seperti ini? Kau sendiri belum tahu kan siapa yeoja yang di rumahnya itu? Kenapa bertindak secepat ini untuk menghindarinya?"
"tapi perempuan itu mengenakan pakaian kantor, jadi mana mungkin kalau ia salah satu saudara Sehun ahjussi. Bagaimana kalau perempuan itu mencari-cari kesempatan untuk bisa dekat dengannya? Bagaimana kalau ternyata perempuan itu-"
"bagaimana kalau perempuan itu menyukai Sehun ahjussi? dan karena kau terus saja menghindar darinya, ia menganggap kalau kau itu tidak keberatan dengan kehadiran perempuan itu dan akhirnya Sehun ahjussi memilih untuk berkencan dengannya dan kau suatu hari nanti menerima sebuah surat undangan pernikahan yang tertera namah Oh Sehun ahjussi dan nama perempuan tersebut. Bagaimana? Hah? Bagaimana?" Kyungsoo dengan cepat menyela semua fikiran-fikiran aneh Baekhyun dengan teorinya yang lebih aneh. Dan lebih anehnya lagi, otak Baekhyun sedikit tercuci dengan ucapan Kyungsoo.
Semenjak ia mulai berteman dengan Kyungsoo di sekolah barunya di high school, ia sering menceritakan Sehun. Mulai dari pertemuan mereka saat hari pertama ia pindah ke Seoul sampai dirinya yang sering menginap di rumah ahjussi itu.
Kyungsoo menanggapinya dengan wajar, mungkin ini semacam rekasi yang selalu tumbuh pada gadis-gadis remaja seperti dirinya dan Baekhyun. Tapi, gadis pemilik 'huge eyes' itu mulai merasa aneh saat menyadari bahwa sepanjang mereka berteman akrab, Baekhyun tidak pernah menceritakan apapun selain Sehun.
Oh, tidak, ia pernah bercerita tentang selain Sehun. Baekhyun selalu menceritakan mengenai kesukaannya terhadap hal yang berbau strawberry. Selain itu, Kyungsoo hanya menangkap nama Sehun disetiap curhatan Baekhyun.
"sebenarnya aku tidak mau seperti ini terus, aku ingin berbaikan dengannya" Kyungsoo menghela nafas sabar. Lagi pula siapa yang bermusuhan? Baekhyun sendiri kan yang marah pada Sehun, tidak dengan Sehun.
"kalau begitu, kau harus menemuinya, buat hubungan seperti dulu lagi. Aku tahu, sebenarnya kau menyukai ahjussi-mu itu, kan? Jangan sampai kau benar-benar kehilangan dia, Baekhyun-ah"
"ne. Akan ku coba. Gomawo kyungie"
Baekhyun melirik jam yang terdapat di atas meja belajarnya. Waktu sudah hampir malam, tapi kedua orang tuanya belum juga pulang. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di rumah pamannya itu? Atau mungkin mereka malah pergi ke tempat lain juga. Dan jangan sampai kalau Baekhyun mendapati kenyataan kalau kedua orang tuanya pergi berkencan setelah dari rumah Jongdae.
Untuk membuang kebosanannya, Baekhyun kadang mengajak bicara boneka kodok yang besar, mengajaknya untuk bermain kartu-kartuan, dan bermain tebak-tebakan. Kebosanan ini membuat Baekhyun hampir masuk ke dalam daftar orang yang mengalami gangguan kejiwaan (read: gila).
Tok tok tok
Rumah seorang pria yang sudah tidak remaja lagi tapi masih saja gemar dengan minuman bernama bubble tea diketuk dengan cukup kasar oleh seseorang dari luar. Ini sudah sangat larut bagi seorang tamu untuk berkunjung.
Dan betapa terkejutnya sang pemilik rumah saat mendapati siapa yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya, lengkap dengan boneka kodok yang besar dengan wajah yang antara terlihat takut juga kesal.
"eomma dan appa pergi ke rumah Jongdae ahjussi dan belum pulang sampai sekarang" gadis itu, Baekhyun, menjelaskan apa yang membuatnya datang tengah malam begini ke rumah ahjussi yang ia hindari beberapa hari belakangan ini.
"begitu, ya? masuklah!" Sehun kembali menutup pintu setelah Baekhyun masuk ke dalam rumahnya.
"a-aku takut sendirian berada di rumah malam-malam begini, jadi dari tadi tidak bisa tidur" lanjutnya setelah duduk di sofa dengan memangku boneka kodoknya.
"kau ini seperti pada siapa saja. Kau bahkan ku izinkan untuk masuk ke dalam rumah ini meskipun aku sedang tidak ada di rumah" Sehun ikut duduk di sebelah kiri Baekhyun. Tangannya sedikit mengusuk pucuk kepala gadis tersebut karena gemas.
Kedua mata mereka berdua sama-sama mengarah pada layar televisi yang tengah menyiarkan berita sepak bola pertandingan tadi sore. Namun, keduanya hanya menatap benda persegi tersebut, tidak menyimaknya.
Baekhyun yang sibuk mengatur kata-kata untuk berbaikan dengan Sehun dan Sehun yang lebih memilih untuk diam saja. Seperti ini pun sudah lebih baik daripada harus dihindari dari gadis ini, jangan sampai ia salah bicara dan akhirnya Baekhyun akan semakin menjauhinya.
"kau belum mengantuk? Besok harus masuk sekolah, kan?" tanya Sehun yang sadar bahwa sekarang ini sudah hampir tengah malam.
"um" Baekhyun beranjak dari duduknya dan segera pergi ke kamar yang biasa ia gunakan untuk tidur saat menginap di sini.
Belum lama pintu itu tertutup, Baekhyun kembali membukanya dengan lebar dan menampakkan mata mengantuknya. Tidak lupa dengan tangan yang masih menenteng boneka kodok itu.
"ahjussi" Sehun menolehkan pandangannya dari televisi yang sudah berganti acara
"ada apa?"
"temani tidur"
Sehun tersenyum mendengarnya. Tidak di sangka akan secepat ini gadisnya kembali bermanja-manja dengannya. Sungguh, ia sangat rindu dengan semua kemanjaan Baekhyun. Termasuk seperti sekarang ini, ia diminta untuk menemani tidur hanya karena tidak bisa tidur. Lagi pula, ini sudah larut sekali, ia tidak mau kalau besok akan muncul warna-warna hitam yang melingkari kedua kulit mata Baekhyun.
"usap-usap" pinta Baekhyun saat ia sudah berbaring dengan tertutup selimut. Sehun menurutinya dan mulai mengusap punggung tangan kiri Baekhyun dengan lembut agar gadis ini cepat tertidur.
"apa ahjussi tidak merasa kalau belakangan ini aku sedikit menghindar?"
"kau belum tidur?"
"ahjussi~~~" rengeknya saat pertanyaannya tidak dijawab dengan benar
"haha.. baiklah, aku merasa seperti itu. Hanya saja, aku takut kau semakin menjauhiku kalau aku bertindak lebih" jawab Sehun.
Baekhyun terdiam beberapa saat dengan mata yang ia pejamkan, lalu kembali terbuka saat sudah mendapatkan kalimat untuk ia ucapkan.
"aku… tidak menyukai wanita itu"
"yang mana?"
"yang ke sini tempo hari, yang memasakkan makanan untukmu" Sehun mengingatnya.
"ah dia. Kau tidak menyukainya? Dia itu wanita yang baik, dia manajer keuangan di kantorku. Apa,,, kau marah gara-gara dia datang ke sini?" tanya Sehun. Dan ia cukup terkejut dengan jawaban dari Baekhyun yang menganggukkan kepalanya. Sehun tersenyum simpul.
"beberapa hari sebelumnya, aku bertemu dengannya yang ingin ke rumah sakit untuk check up sedang berdiri menunggu taxi. Suaminya masih berada di luar kota dan karena memang aku sedang tidak buru-buru, aku memutuskan untuk mengantarnya" Sehun mencoba menjelaskannya.
"dan sebagai tanda terima kasih, ia mengajakku makan bersama di rumah" Sehun berharap mendapatkan pertanda baik dari Baekhyun.
"dia bersuami?"
"dia bahkan check up untuk memeriksa kandungannya" balas Sehun sambil sedikit tertawa melihat reaksi wajah Baekhyun yang terkejut.
"maaf" gumam Baekhyun, ia merasa sangat bersalah sudah salah menilai perempuan itu.
'ah, bagaimana ini… aku benar-benar malu sekali' batin Baekhyun
Karena tidak tahu harus seperti apa lagi, akhirnya Baekhyun memilih untuk menggeser sedikit tidurnya untuk memeluk Sehun yang sedari tadi masih saja mengusap-usap punggung tangan gadis yang tak kunjung tertidur.
Ia memberanikan dirinya untuk sedikit memeluk Sehun, berharap semoga orang tua ini tidak marah padanya. Bibirnya sedikit mengulas senyum mendapati aroma yang sudah lama sekali tidak ia cium. Biasanya jika Baekhyun meminta Sehun untuk menemaninya tidur, ia akan memeluk tubuh kekar pria tersebut. Hanya saja, dari tadi ia enggan melakukannya karena masih sedikit marah.
"kau cemburu?" Baekhyun sedikit mengangguk, karena Kyungsoo juga mengatakan demikian. Ia tidak menyukai perempuan itu karena mengira mencoba untuk menggoda Sehun, dan temannya itu mengatakan bahwa itu adalah perasaan cemburu. Polos sekali.
"apakah itu tandanya… kau menyukaiku?" tanya Sehun lagi.
Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya karena merasa mulai terbongkar perasaannya. Ia takut kalau Sehun hanya menganggap perasaan sukanya ini sekedar perasaan sebagai keluarga. Ia takut kalau Sehun tidak memiliki perasaan yang sama padanya.
"baiklah jika tidak mau menjawab. Kalau pun memang kau cemburu karena menyukaiku, aku merasa senang karena aku juga menyukaimu"
"tsk. Aku terlihat seperti pria tua yang menyukai gadis-gadis remaja, tapi itu hanya pada dirimu. Jadi sekarang, apapun jawaban yang akan kau berikan, aku akan menerimanya. Aku benar-benar mnyukaimu, aku mencintaimu Baekhyun" ungkap Sehun. Ia sudah siap untuk menerima konsekuensinya kedepan dari Baekhyun.
Ia tidak peduli jika Baekhyun akan marah atau apapun, yang jelas ia hanya ingin mengungkapkan sesuatu yang terselip dalam hatinya. Perasaan cinta untuk Baekhyun, perasaan yang ia anggap salah namun tetap mempertahankannya. Namun, dibalik semua itu, ia merasa sudah tidak ada lagi beban yang tersimpan, ini melegakan.
"Baekhyun-ah" panggilnya
"hey, kau sudah tidur?"
"ne, aku sudah tidur. Zzzzzzzz" Sehun tertawa geli mendengarnya, mana mungkin ia akan menjawab jika sudah tertidur?. Pabo.
'mungkin Baekhyun butuh waktu' fikirnya
Sehun memutuskan untuk memejamkan matanya. Ia cukup senang dengan hari ini, walau gagal menjemput Baekhyun, tapi ia bisa berbaikan dengannya dan jangan lupakan juga sesuatu yang ia ungkapkan beberapa menit yang lalu.
"eo? Sudah tidur, kah?" gumam Baekhyun, tangannya sedikit ia kibas-kibaskan untuk mengecek Sehun sudah tidur atau belum.
"hihihi… ahjussi lucu sekali" ia terkikik melihat wajah terpejamnya Sehun.
"nado saranghae oppa" bisiknya sangat sangat pelan dan diakhiri dengan mengecup pelang pipi pria tersebut.
"eung" Baekhyun kaget melihat pergerakan dari Sehun, ia segera kembali pada posisi memeluk Sehun dengan membenamkan wajahnya lebih dalam lagi pada dada Sehun. Akhirnya Baekhyun bernafas lega saat kembali mendengar nafas teratur Sehun.
"kau nakal sekali"
Degh
Itu… suara serak itu… adalah suara Sehun. Bagaimana bisa Sehun terbangun? Bagaimana jika ia mendengar pengungkapan Baekhyun barusan? Dan bagaimana jika…
'ah, seharusnya aku tidak menciumnya' batin Baekhyun sambil memegang bibirnya yang sdikit terbuka karena masih terkejut.
"kalau ingin mengatakan sesuatu, jangan ketika aku teridur. Bagaimana jika aku benar-benar tertidur?"
"biarkan saja, itu lebih baik"
"jadi kau juga mencintaiku, kan?"
"a-aniya" Baekhyun mencoba untuk menolak fikiran Sehun mengenai bahwa ia membalas cinta pria tersebut.
"ah begitu ya. baiklah, berarti tidak masalah kan jika aku membawa lebih banyak wanita lagi ke rumah ini?"
"ANDWAEEEE" teriak Baekhyun. Tangannya semakin mengeratkan pelukannya, ia tidak mau itu terjadi lagi. Ia tidak mau ada wanita lain.
"ja-jangan lakukan itu… hiks…" kedua mata Sehun terbelalak mendengar sebuah isakan kecil. Ia merasakan bahwa bahu seseorang yang memeluknya sedikit bergetar.
"hey hey… ssst.. uljima… iya, aku tidak akan melakukannya, tidak akan pernah"
"saranghae saranghae saranghae. Jangan bawa wanita lain, jangan mencintai gadis lain... Ku. Mohon." Lirihnya
"tidak, aku hanya mencintaimu, percayalah. Oh Sehun hanya mencintai Kim Baekhyun"
"neomu saranghae"
"nado saranghaeyo, jeongmal"
#Flash Back off#
Hari ini adalah hari libur, hari pertanda dimana semuanya bisa tertidur lebih siang. Tapi tidak dengan orang yang berada di rumah milik tuan Oh.
Satu-satunya gadis yang menginap di sana sudah terbangun dari pukul 7 pagi untuk menyiapkan sarapan dan pakaian untuk kekasihnya. Sementara tuan Oh sendiri juga sudah bangun pagi untuk bersiap-siap bertemu dengan klien siang ini.
"apakah acaranya sangat menarik?" tanya Sehun yang membuyarkan lamunan Baekhyun sedari tadi.
Baekhyun beranjak dari duduknya untuk mendekati Sehun yang sudah rapih dengan pakaian kantornya. Ia sedikit merapihkan kembali dasi yang sudah dipakai oleh Sehun.
"aku tahu, ahjussi kesal pada klien tersebut. Tapi ahjussi harus tetap sopan dan ramah, tidak boleh terlihat marah. Ahjussi harus tetap tersenyum" ucap Baekhyun yang kini tengah memakaikan jas hitam yang sedari tadi terletak di sofa tak jauh dari tempatnya duduk.
"kalau ia membawa teman wanitanya?" goda Sehun, membuat Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Ia kembali teringat pada lamunannya barusan
"tetap tersenyum. Tapi sedikiiiiit saja, oke?"
"hahaha… kau lucu sekali" Sehun memeluk baehkyun yang tadi tampak sedikit cemburu.
Sehun sangat senang karena pada akhirnya Baekhyun selalu terbuka terhadapnya. Tidak lagi malu untuk memeluknya terlebih dahulu, tidak malu untuk menciumnya terlebih dahulu, selalu mengekspresikan apa yang ia rasakan, termasuk cemburu. Dan terbuka untuk mengatakan…
"saranghae" ucap Baekhyun
"aku juga sangat mencintaimu" Sehun mengecup kening Baekhyun, ini salah satu kebiasaannya juga jika akan pergi ke kantor sedangkan Baekhyun berada di rumah. Anggap saja sebagai tanda sayang dan ucapan terima kasih pada kekasihnya karena sudah menyiapkan semuanya pagi ini.
"hati-hati, oppa"
Mobil yang Sehun bawa sudah melaju menjauh dari rumahnya, meninggalkan seorang gadis yang sebenarnya masih kesal karena kencannya batal. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini semua resiko memiliki kekasih yang sudah bekerja, terlebih direktur utama.
'aku merasa seperti seorang istri yang melepas suaminya pergi kekantor' dan Baekhyun merasakan bahwa pipinya memanas menyadari apa yang sedang ia fikirkan saat ini.
END
Temukan moment dan kisah berikutnya dari couple hunbaek ini di chapter berikutnya
Review review review?
Hargai lah karya za yang sudah readers baca ya . So, don't be silent readers.
Balasan review :
Byun Hyerin : end nya boongan kok, noona
MissYifanCho : ahhh noona baik sekali… poppo :*
ViviPExotic46 : nanti kalo ada waktu, dibikin sequelnya deh ya, nun
: mungkin noona lupa bayar tagihan (?) gomawo za aja yng nulis iri sama moment mereka… bayangin aja kalo kris gege lebih muda dari sehun hyung ya *mana bisa -_-*
anon : hohoho za udah siapin konfliknya kok tenang aja
Lubaek : gomawo ini lanjut kok :D
