Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment

Chapter 1 : Red Knight

Warning : OOC, AU


Drrrtt drrrt drrrt

Drrrtt drrrt drrrt

Drrrtt drrrt drrrt

Sudah beberapa menit berlalu, suara ponsel bergetar di atas meja lampu tidur tidak kunjung berhenti. Dengan malas, Cagalli mengangkat ponselnya dan mendekatkannya ke telinga, keadaannya masih setengah tertidur.

"HALO? ATTHA?" suara keras dari seberang telepon membuatnya benar-benar terbangun. "Kau ikut road race [1] besok malam kan?" pria di telepon itu bertanya dengan cepat dan terburu-buru. Dari nadanya, Cagalli langsung tahu siapa yang menelponnya. Menggelengkan kepala, ia merubah posisi tidurnya menjadi duduk, masih berada di atas tempat tidur. Ia memeriksa jam di atas meja tidurnya, ternyata masih pukul 2 siang.

"Ya, itu sudah jelas, lalu? Hoaaaaaahm." dia menjawab sambil menguap dan mengusap-usap matanya.

"Bagaimana dengan partnermu kau sudah mendapatkan yang baru? Hahnenfuss sudah pensiun kan?" Cagalli sudah menduganya, orang ini akan menelepon untuk bertanya hal itu.

"Jika kau mengganggu tidurku di hari Minggu siang hanya untuk membuatmu menjadi partnerku, teruslah bermimpi Asuka. Lebih baik aku berkompetisi tanpa partner." Kesadaran Cagalli sudah kembali penuh, rasa kantuknya hilang seketika.

"Ayolah Athha, kau tahu kesempatan menangmu akan menipis jika tidak berpartner?" Masih belum menyerah, pria itu masih kukuh dengan permintaannya.

"Ya, tapi kau masih belum cukup umur dan aku tidak mau mengambil resiko! Dengar, kalau kau berani mengganggu waktu tidurku lagi, akan kupastikan kau tidak akan pernah bisa berkompetisi di balapan manapun!"

Cagalli tidak menunggu jawaban dari seberang, ia langsung mematikan ponselnya dengan kesal. Waktu tidur siang di hari minggunya sudah terganggu. Sekarang dia sudah tidak bisa kembali tidur. 'Shinn Asuka sialan!'

Cagalli bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Hari yang seharusnya ia pakai untuk tidur seharian jadi terganggu karena telepon dari Shinn. Shinn sendiri adalah tetangga di rumah lama Cagalli yang selalu ingin mengikuti jejak Cagalli menjadi pembalap road race. Cagalli sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu, ia tahu Shinn punya potensi, hanya saja Shinn masih seorang pelajar yang masih berusia 17 tahun, sedangkan pertandingan balap yang diikuti Cagalli mengharuskan pesertanya berumur minimal 25 tahun.

Balap road race semi-resmi yang diikuti Cagalli adalah kompetisi balap motor untuk para pembalap motor amatir. Kompetisi ini biasanya diadakan dalam distrik wilayah sampai ke tingkat kota. Balapannya sendiri dilaksanakan di track racing untuk para amatir, namun untuk final terkadang tracknya dapat menggunakan track profesional. Kompetisi yang memberlakukan sistem penyisihan grup ini diadakan setahun sekali. Sistem seperti ini, membuat Cagalli bisa bertanding berkali-kali dalam setahun. Yang dapat lolos dari babak penyisihan adalah tim yang rata-rata kecepatannya menempati tiga ranking teratas. Biasanya ada 10 tim yang bertanding dalam setiap babak penyisihan wilayah. Satu tim terdiri dari 1-2 orang dan tidak boleh lebih. Setelah lolos dari babak penyisihan, peserta akan bertanding melawan peserta dari distrik wilayah lain yang masih berada dalam satu kota. Sistemnya juga memakai klasemen, namun bedanya di penyisihan tingkat kota biasanya tim yang bertanding bisa sampai dengan 20 tim dan hanya akan diambil satu tim saja untuk bertanding di final. Tahun lalu Cagalli dan Shiho berhasil merebut gelar juara, yang membuat mereka seharusnya menjadi ace [2] pada kompetisi tahun ini, namun sangat disayangkan ternyata Shiho tidak bisa melanjutkan pertandingan sebagai partner Cagalli.

Sambil keluar dari kamar mandi, Cagalli mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tiba-tiba saja ia teringat bahwa dia harus ke bengkel sore itu jika ia ingin mengikuti pertandingan besok malam. Kemarin sore dia merasakan ada sesuatu yang salah dengan shock breaker motornya. 'Ternyata telepon dari Asuka ada gunanya juga', pikirnya dalam hati. Bengkel langganannya hanya buka sampai jam 5 sore. Saat menyadari bahwa ini sudah pukul tiga, Cagalli segera bergegas keluar dari apartemennya hanya dengan kaos polos putih, jaket hitam dan celana jeansnya. Mengendarai motor kesayangan, ia melaju kencang menuju bengkel langganannya.


"Ah, nona Cagalli, mencari Kira pasti?" Sang resepsionis yang Cagalli tahu bernama Kuzzey itu langsung menyapanya.

"Ya, kurasa ada yang salah dengan shock breaker [3] motorku."

"Baik tunggu disini, akan ku panggilkan dia."

Sang resepsionis pergi meninggalkan Cagalli di depan. Sambil menunggu, ia berdiri melihat-lihat beberapa etalase kaca di depan meja resepsionis yang berisi sample berbagai aksesoris motor. Cagalli sangat suka bengkel ini, walaupun bengkel ini bukan bengkel resmi, tapi bengkel ini sangat terkenal, bangunannya luas dan kualitas montirnya setara dengan bengkel resmi. Alat-alat service yang digunakan pun canggih. Di salah satu sisi gedung, terdapat toko besar yang menjual berbagai macam aksesoris dan suku cadang, seperti toko swalayan tapi khusus motor. Jadi sambil menunggu motor di service, pelanggan bisa cuci mata di toko tersebut. Selain itu, ada alasan lain mengapa ia hanya memilih bengkel itu.

"Cagalli?" Seorang pria beriris ungu yang terlihat usianya tidak terlalu tua dari gadis itu menyapanya dan menghampirinya. "Kudengar ada masalah dengan shock breaker motormu?"

"Yap, aku lupa kalau besok malam aku ada pertandingan. Sepertinya pernikahan Shiho cukup menyita perhatianku."

Lelaki yang biasa dipanggil Kira itu berjalan menuju motor sport hijau milik Cagalli yang berada di parkiran motor khusus pelanggan di ruang sebelah resepsionis. Setelah sampai dia langsung mengecek bagian ban depan motor. Cagalli memperhatikannya dari belakang. "Bukankah harusnya kau mengikuti jejak Shiho? Kau sudah terlalu tua untuk pertandingan seperti ini Cags?" Sambil mengecek Kira bertanya santai.

"Kau mau ceramah lagi?" Jawab Cagalli sambil mengerlingkan bola matanya.

Menghela nafasnya, Kira tidak menjawab, ia fokus memeriksa motor Cagalli. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Kira berdiri dari posisi jongkoknya. "Kau bisa menunggu di ruang tunggu, sepertinya tidak akan lama, kau benar shockbreaker nya agak kendor."

"Oke. Bisakah kau cek suspensinya juga? Aku akan menunggumu sambil melihat-lihat di toko suku cadang."

"Oke akan kucek sekaligus dengan yang lainnya." Kira menjawab sambil mengacungkan salah satu ibu jarinya.


Toko spare part [4] dan aksesoris yang Cagalli kunjungi amat luas. Terdapat beberapa lorong yang menyediakan berbagai tipe spare part motor. Mulai dari tipe motor cub, sport, road bike, cruiser, matic sampai offroad. Cagalli berniat melihat-lihat sebelum dia menuju lorong aksesoris umum.

Tidak terasa sejam berlalu, langkahnya sekarang menuju ke bagian aksesoris umum. Sambil berjalan, mata Cagalli menyapu berbagai jenis barang yang ditawarkan di lorong aksesoris umum, sampai dia menghentikan langkahnya saat matanya menangkap sebuah sarung tangan kulit coklat yang tergantung di salah satu rak pada lorong tersebut. 'Hmm kurasa satu sarung tangan baru akan membuatku terlihat lebih keren.'

Cagalli mencoba meraih sarung tangan itu, tapi tiba-tiba saja badannya kehilangan keseimbangan dan terhuyung.

Bruk!

Ia terjatuh duduk di atas lantai. Ternyata seorang laki-laki berperawakan cukup tinggi, memakai hoodie berwarna biru tua dan masker putih di wajahnya yang menabraknya. Anehnya pria yang menabraknya itu hanya terdiam terpaku menatapnya. Mata mereka saling beradu tajam dalam beberapa detik, sampai sang pria menoleh dan tanpa mengucapkan kata maaf, pergi meninggalkan Cagalli yang masih terduduk di lantai. Cagalli mengedip-ngedipkan matanya, masih terkejut dengan tatapan tajam dari pria yang menabraknya itu. Saat Cagalli sadar, ia mencari di sekelilingnya, namun pria itu sudah menghilang.

"Cagalli?"

Terdengar suara nyaring khas Kira dari lorong sebelah, Cagalli segera bangkit dari posisi duduknya sambil menepuk-nepuk bagian belakang celana jeansnya, seolah debu akan pergi dengan pukulannya.

"Kira! Aku di sebelah sini!" Jawabnya agak sedikit berteriak.

"Ah, disitu rupanya, aku sudah mencarimu kemana-mana. Motormu sudah selesai diperbaiki." Kira muncul dan segera menghampiri Cagalli lalu menyerahkan kunci motor Cagalli kepada pemiliknya.

"Thank you!" Cagalli mengambil kuncinya dengan senyuman puas. "Kau sudah mengecek suspensinya?"

"Aku sudah mengecek semuanya. Sudah oke." Mereka berdua berjalan menuju kasir toko, sambil menuju kasir, Kira tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Cagalli agak sedikit tercekat.

"Ibu mengundangmu makan malam minggu depan. Kau bisa datang kan? Kau tahu dia sudah sangat merindukanmu."

Cagalli terdiam sebentar, sebelum akhirnya dia menghela napas dan berkata sedikit sinis, "Hmm, dia bisa merindukanku juga? Bukankah kau yang anak kesayangannya?"

"Cagalli, ayolah. Kau sudah lama tidak mengunjungi ibu." Kira sedikit merengut. Benar, Kira adalah saudara atau lebih tepatnya kakak kandung Cagalli. Mereka dulu tinggal bersama dengan orang tua mereka, sampai akhirnya Cagalli memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut dan tinggal sendirian di apartemen yang disewanya. Inilah alasan lain mengapa ia memilih bengkel ini. Kira kakaknya adalah satu-satunya montir yang ia percayakan dengan motornya sejak pertama kali ia mulai menggeluti hobi ini. Sebenarnya juga, alasan Cagalli mulai tertarik dengan hobi ini adalah karena Kira juga dulu suka ikut balap road race, tapi setelah menikah dan punya anak, seperti Shiho, Kira pensiun dari dunia balap motor.

"Baiklah, kumohon jangan merengut seperti itu, sangat tidak sedap dipandang. Lagipula aku harus memberikan undangan pernikahan Shiho kepada ibu." Cagalli memutuskan untuk menerima undangan makan itu, ia sadar ia sudah cukup lama tidak pulang.


Derungan suara gas motor yang sedang pemanasan memenuhi area jalanan yang kosong di malam itu. Calon penonton pun sudah banyak memenuhi area penonton. Arena balap yang sebentar lagi akan digunakan itu sudah sangat ramai. Kompetisi penyisihan wilayah masih berlangsung beberapa kali lagi. Malam ini Cagalli harus ikut bertanding jika dia masih mau lolos ke tingkat kota. Setelah berpikir seharian kemarin, akhirnya ia memutuskan untuk bermain sendiri malam ini.

"Malam Cagalli, sendiri atau dengan partner?" Seorang lelaki berkacamata yang duduk di meja pendaftaran menyapanya dengan akrab, terlihat sedikit rona merah di pipinya.

"Sendiri." Jawab Cagalli singkat sambil menyerahkan form registrasi yang sudah diisi olehnya kepada lelaki itu.

"Kemana Hahnenfuss? Jadi benar berita Hahnenfuss gantung helm? Kau tidak apa bermain sendiri?" Tanyanya khawatir.

"Sai, kau tahu kan tidak ada istilah gantung helm tapi gantung raket? Yah, dia ada sesuatu yang harus diurus, tentu saja aku baik-baik saja." Jawab Cagalli tidak antusias menjawab pertanyaan pria berambut coklat muda yang sedang duduk di depannya itu. Sang pria menatap wanita itu dengan kagum, namun tentu saja sang wanita tidak menyadarinya.

Sai Argyle menggelengkan kepalanya dan mencoba fokus kembali ke pekerjaannya. "Kau tahu Cags, hari ini sepertinya ada beberapa peserta baru, salah satunya pindahan dari kota sebelah." Sai mencoba melanjutkan percakapannya, sambil menuliskan data dari formulir registrasi yang Cagalli berikan. Ia sebenarnya ingin menarik perhatian Cagalli, hanya saja sepertinya Cagalli masih tidak tertarik. Sudah lama Sai menyukai Cagalli, namun Sai tidak pernah punya nyali untuk mengatakannya. Lagi pula, ia tahu bahwa Cagalli punya sebelumnya sudah memiliki pacar, pacar Cagalli sering datang untuk menonton pertandingan tapi sudah 2 bulan terakhir ini Sai tidak melihatnya lagi.

"Kudengar peserta dari-" Sebelum Sai berhasil melanjutkan percakapannya, terdengar suara keras dari kerumunan penonton yang membuat ia harus berhenti bicara.

"Athha!" Terlihat seorang pemuda berambut hitam acak-acakan datang menghampiri meja registrasi.

"Oh, tidak! Itu suara Asuka." Mendengar suara itu, terlintas niat Cagalli untuk bersembunyi. Namun setelah dipikir-pikir untuk apa juga ia bersembunyi dari Shinn?

"Ath- Athha! Ba- bagaimana? Hhhh hhh.. Kau akan berpartner dengan siapa malam ini?" Pemuda itu sekarang membungkuk kelelahan sambil bertanya. Jelas sekali ia hampir kehabisan nafas karena berlari.

"Sudah kubilang aku akan bermain sendiri." Cagalli gusar, ia tahu Shinn cukup gigih, tapi sekali lagi dia masih bocah.

"Oh ayolah Athha, lihat, aku bahkan sudah membuat ini agar aku bisa masuk ke dalam tim mu." Shinn menariknya agak menjauh dari meja registrasi. Ia mengeluarkan sebuah kartu identitas dari kantong celananya dan langsung menunjukkannya pada Cagalli secara sembunyi-sembunyi. Cagalli memicingkan matanya dan alisnya terangkat sebelah. Ternyata kartu itu adalah kartu identitas palsu. 'What the hell?'

"Shinn Asuka for God sake! [5] Dengarkan baik-baik oke? Aku memang ingin menang, tapi aku tidak akan melakukan segala cara untuk menang. Aku yakin pada kemampuanku dan aku tidak akan membuat diriku terdiskualifikasi hanya karena membawa bocah ingusan sepertimu ke dalam tim!" Cagalli setengah berteriak, dia sungguh tidak percaya dengan apa yang dilakukan Shinn, apakah otaknya kosong sehingga ia tidak mengerti sama sekali yang Cagalli bicarakan? Setelah Cagalli pulang dari bengkel kemarin, Shinn menelponnya lagi beberapa kali. Lalu sejak tadi pagi sampai sore hari ada sekitar 30 missed call darinya yang memang sengaja tidak diangkat oleh Cagalli. Cagalli frustasi, apa ia harus memakai bahasa dari planet lain supaya Shinn bisa mengerti? Cagalli benar-benar sudah sangat lelah menghadapinya.

"Baiklah Athha, kau lihat saja nanti, kau pasti menyesal." Mendengus, akhirnya pemuda itu berangsur pergi meninggalkan Cagalli. Sai yang menyaksikan pertengkaran mereka dari jauh, ingin mencoba mencairkan suasana hati Cagalli. Dia mendekati posisi Cagalli dan memegang pundaknya. "Pertandingan akan segera dimulai Cags, sebaiknya kau bersiap-siap."


Semua peserta telah bersiap di garis start dengan mengendarai motornya masing-masing. Di sebelah Cagalli ada peserta baru yang tadi diinfokan oleh Sai. Cagalli tidak bisa melihat jelas wajahnya karena wajahnya tertutup oleh helm dan di dalam helmnya, orang itu terlihat memakai masker kain berwarna hitam. Peserta baru itu menggunakan motor berwarna merah maroon, seri Justice ZGMF-X09A, salah satu seri motor sport yang cukup mahal. Sebelum perlombaan dimulai, Cagalli sempat bertemu pandang dengan sang peserta baru. Cagalli menyadari bahwa kedua iris mata peserta di sebelahnya itu berwarna hijau emerald, anehnya Cagalli merasa kenal dengan mata itu. Mengalihkan pandangannya kembali ke track balap di depannya, dia tidak boleh memikirkan hal lain, saat ini dia harus fokus untuk menang.

"Mulai!"

Pengendara motor yang tadi ada di sebelahnya melaju dengan sangat kencang, Cagalli tidak pernah menemukan peserta secepat dia di kota ORB. Cagalli merasa mendapat saingan yang berarti, adrenalinnya terpacu. Motor hijau Cagalli melaju dengan cepat, satu lap sudah terlewati, pria bermata emerald itu berhasil memimpin. Cagalli tidak ingin kalah, ia merubah sedikit setting-an gearnya, lalu kembali memutar pedal gasnya dan dia berhasil mengejar si mata hijau, membalas ketertinggalannya di lap kedua. Lap ketiga adalah lap penentuan, sang pria bermata emerald itu sepertinya mulai mengerti bahwa Cagalli bukan saingan untuk diremehkan, tiba-tiba saja motor merah maroon melewati posisi Cagalli seperti angin, Cagalli tersentak dengan kecepatan saingannya itu. Dia mencoba mengejar, namun sayangnya sampai lap ketiga berakhir, Cagalli tidak dapat mengejar pria itu. Naasnya ia hanya kalah 2 detik dari si peserta baru dan itu sungguh membuatnya kesal. Selama setahun ini Cagalli selalu menjadi yang pertama, ini pertama kalinya rekornya dikalahkan orang lain dan oleh seorang peserta baru. Cagalli masih lolos ke penyisihan berikutnya, tapi tetap saja ada rasa kecewa karena kekalahannya.

"Lihat kan Athha? Kau kalah sekarang." Shinn datang kembali mengganggunya di garis finish dengan senyum penuh kemenangan. Cagalli hanya diam tidak mengacuhkannya. Setelah beberapa menit berpikir, Cagalli turun dari motornya dan berjalan cepat meninggalkan Shinn menuju meja registrasi. Ada hal penting yang ingin ia tanyakan pada Sai.

"Sai, beritahu aku siapa peserta baru itu!" Tanya Cagalli tidak sabar.

Sai yang kaget dengan kedatangan dan pertanyaan Cagalli yang tiba-tiba hanya bisa memintanya tenang. Cagalli menenangkan dirinya melihat Sai mengeluarkan buku informasi peserta dari laci meja registrasi.

"Peserta nomor urut 5 ya." ucapnya sambil membaca dengan teliti buku yang dipegangnya. "Namanya Athrun Zala."

"Athrun Zala? Dia ikut di pertandingan ini?" Tiba-tiba ada seorang wanita yang ikut masuk ke percakapan mereka. "Dia dari PLANTs kan? The red knight julukannya kalau tidak salah. Dia salah satu jagoan road race disana."

"Kau yakin Miri? Tapi memang benar dia dari PLANTs." Sai menginfokan sambil membaca detail data Athrun Zala di bukunya. Miriallia Haww adalah teman Sai, dia sering datang menjadi penonton, sepertinya dia salah satu penggemar road race. Cagalli cukup mengenalnya, walaupun tidak terlalu dekat.

"Ya, aku yakin, dia cukup terkenal di kalangan pembalap PLANTs." Gadis yang memakai kaos orange itu berkata yakin. Cagalli makin penasaran, tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya, kalau memang dia hebat bukankah berpartner dengannya akan membuat kesempatan Cagalli menang lebih besar?

"Lalu dimana dia sekarang?" Cagalli bertanya Sai sesaat setelah keluar dari lamunannya.

"Kulihat tadi dia langsung pergi." Sai menjawab. Wajah Cagalli berubah murung, sebenarnya dia belum yakin apakah berpartner dengan si peserta baru itu akan membuat dia berhasil, namun tidak ada salahnya mencoba bukan?

"Kau masih lolos Cags, apa yang kau khawatirkan?" Sai bertanya lagi. Cagalli tidak menjawabnya, pikirannya melayang memikirkan Athrun Zala, the red knight. Ia rasanya tidak pernah mendengar nama itu, tapi anehnya kenapa kedua pasang mata itu terlihat sangat familiar baginya?


A.N :

[1] Road Race ini hanya imajinasi saya, saya tidak tahu kompetisi seperti ini beneran ada apa nggak.

[2] Ace maksudnya yang diunggulkan

[3] Shock breaker adalah salah satu suku cadang pada motor yang berfungsi sebagai peredam goncangan. Suspensi juga berhubungan sama hal itu.

[4] Spare part bahasa inggris dari suku cadang.

[5] For God sake bahasa inggris dari Demi Tuhan.

Hmm, bermodalkan kemampuan menaiki motor matic, saya mengkhayal bikin fic berhubungan sama motor sport, apa-apaan ini. Jadi mohon maaf kalau ini ga sesuai kenyataan atau aslinya, anggap saja ini semua hanya imajinasi saya, seperti taglinenya ffn : unleashed your imagination. Ditunggu reviewnya semua XD