Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.
The Commitment
Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor
Chapter 2 : Ibu
WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Mature Scene, Ga Jelas, Ribet.
"Cagalli Yula." Cagalli menyebutkan namanya pada speaker yang terletak di samping pintu gerbang masuk yang sangat tinggi dan berwarna hitam pekat di depannya.
"Silahkan masuk." Suara dari speaker menjawabnya.
Tidak berapa lama, gerbang berwarna hitam tinggi di depannya terbuka secara otomatis dan Cagalli melaju dengan motor hijaunya menelusuri ruas jalan aspal yang lebarnya cukup untuk 2 mobil. Ia mengendarai motornya menuju mansion[1] besar yang kira-kira 3 kilometer jauhnya dari gerbang besar yang ia lalui tadi.
Di kanan kiri ruas jalan, terlihat pepohonan hijau yang cukup rindang dan rimbun memperindah pemandangan. Semakin dekat dengan mansion, pemandangan pepohonan rimbun pun berganti menjadi semak-semak kecil yang di bagian tengahnya ditumbuhi bermacam-macam bunga. Jelas sekali orang-orang yang menyukai keindahan akan merasa terhibur dengan taman di sekitar ruas jalan tersebut. Dalam lima menit, Cagalli sampai di area parkir yang tidak jauh dari pintu masuk utama rumah besar itu, ia pun memarkirkan motornya.
Sudah sejak lima tahun yang lalu Cagalli tidak lagi tinggal di rumah ini, tepat setahun setelah ia lulus kuliah. Terakhir kali ia berkunjung kesini mungkin setahun yang lalu, ia tidak begitu ingat. Matanya berkeliling, memandangi area rumah besar yang tidak banyak berubah ini, taman besar di halaman depan masih sangat terawat, jendela dan pintu-pintu yang melengkapi mansion ini terlihat masih mengkilap, pastinya para asisten rumah tangga di sini tidak pernah absen untuk membersihkannya setiap hari.
Terpaku di depan pintu kayu besar berpelitur coklat tua, Cagalli mempertanyakan keputusannya untuk datang hari ini. Ia sebenarnya ragu untuk datang makan malam dengan ibunya, hanya saja ia harus segera memberikan undangan pernikahan dari Shiho. Selain itu, ia sudah berjanji pada Kira bahwa ia akan datang. Walaupun ia enggan datang, bukan berarti ia tidak pernah berkabar dengan ibunya, ibunya cukup sering menelponnya dan hubungan mereka cukup baik, hanya saja ada beberapa hal yang membuatnya tidak nyaman bertemu secara langsung dengan ibunya. Mengumpulkan segenap keberanian dan niatnya, akhirnya ia membunyikan bel yang terletak di samping pintu masuk.
Ting tong
Suara bel rumah berbunyi, beberapa saat kemudian terdengar seseorang membukakan pintu dari dalam.
"Nona Cagalli? Oh, syukurlah anda benar-benar datang!" Seorang bibi separuh baya menyapanya.
"Halo Myrna, apa kabar?" Cagalli membalas sapaannya sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya. Myrna adalah kepala asisten rumah tangga di rumah ini, ia sudah bekerja sangat lama, bahkan sebelum Cagalli merubah nama belakangnya menjadi Athha.
"Oh nona, kau semakin cantik saja, ayo masuk semua sudah menunggu di meja makan." Myrna memberikan senyum terlebarnya sambil menarik lengan Cagalli, memaksanya untuk segera masuk ke dalam. Lalu tanpa diminta, Myrna menceritakan hal-hal yang menurutnya cukup penting yang terjadi di rumah selama Cagalli tidak berkunjung. Sambil berjalan ke arah ruang makan, Myrna memulai kisahnya, ia bercerita tentang Rhylee yang memecahkan beberapa perabot China mahal milik ibunya. Lalu ia menginfokan tentang beberapa pekerja yang telah mengundurkan diri, sepertinya Cagalli kenal seorang di antaranya. Myrna juga bercerita tentang Kira dan Lacus yang sering berkunjung untuk makan malam di sini, ternyata kakak dan iparnya sering sekali kesini bersama buah hati mereka.
"Mungkin tuan Kira merasa nyonya besar kesepian." Ucap Myrna di sebagian ceritanya.
Myrna terlihat sangat antusias dengan kedatangan Cagalli, dari satu cerita ke cerita lainnya dilontarkan hampir tanpa jeda, sehingga tidak ada ruang untuk Cagalli berkomentar. Sekitar 7 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di ruang makan. Cagalli melihat beberapa anggota keluarganya sudah duduk bersama di salah satu meja makan di dalam ruangan tersebut. Myrna pun minta ijin untuk meninggalkannya.
"Cagalli!" Kira menyapanya dengan riang saat ia menyadari kehadiran Cagalli. Cagalli pun segera berjalan mendekati mereka.
"Rhylee, lihat ternyata bibi Cagalli datang hari ini." Lacus, kakak iparnya yang bersurai merah muda itu ikut tersenyum ke arahnya. Anak perempuannya yang bernama Rhylee, sedang duduk di kursi makan bayi di sebelahnya.
"Hai semua, maaf aku terlambat." Dengan canggung Cagalli menjawab sapaan hangat kakak dan iparnya. Dilihatnya disitu hanya ada ibunya, Kira, Lacus dan Rhylee, nampaknya sang ayah sedang sibuk sehingga tidak bisa menghadiri makan malam bersama hari ini.
"Duduklah Cagalli, kami baru mau memulai makan." Ibunya meminta. Cagalli pun duduk di kursi kosong di sebelah ibunya, karena kursi itu paling dekat dengan posisinya. Setelah Cagalli duduk mereka pun memulai makan malamnya. Kira bercerita banyak hal tentang pekerjaannya. Cagalli hanya tersenyum, terlihat sekali sang kakak amat menyukai karirnya. Kira selalu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motor sejak lama. Selain skill balap motornya yang hebat, kemampuan Kira dalam mengutak-atik motor racing juga diatas rata-rata. Sejak kuliah, teman-teman Kira sering memintanya untuk memperbaiki atau memodifikasi motor mereka. Berbekal pengalaman itu, Kira mendapat ide untuk mendirikan bengkel Morgenrete, bengkel langganan Cagalli yang sekarang menjadi tempat memperbaiki motornya. Awalnya ia sendiri yang bekerja sebagai montir, lama kelamaan dia mulai kewalahan dan memperkerjakan beberapa orang. Dengan bantuan dana dan saran bisnis dari ayah mereka, tidak lama Morgenrete pun menjadi besar. Namun, hal itu tidak membuat Kira besar kepala. Ia seringkali meminta karyawannya untuk tidak menganggapnya sebagai atasan, tapi teman sejawat. Kadang kala ia juga masih ikut memperbaiki motor pelanggan yang memintanya, biasanya itu permintaan khusus dari teman, sahabat atau kerabatnya. Sebenarnya Cagalli tahu walaupun Kira sangat menyukai pekerjaannya, hal ini tidak akan berlangsung lama. Suatu hari nanti, Kira harus menyerahkan pekerjaannya karena ayahnya akan menyerahkan perusahaan Athha kepada Kira dan mau tidak mau ia harus menerimanya. Maka dari itu, sekarang Kira mencoba menikmati masa-masa bebasnya, sebelum ia mulai terbebani dengan tugasnya sebagai pewaris perusahaan Athha.
Setelah Kira cukup banyak bercerita, Cagalli mengalihkan pandangannya ke arah Rhylee. Dilihatnya keponakannya yang seperti miniatur Lacus itu sedang melahap kentang rebus di tangannya. Lacus yang memperhatikan Cagalli, secara otomatis mulai bercerita tentang Rhylee kepada Cagalli. Maklum, Cagalli jarang sekali bertemu Rhylee. Acara makan malam bersama keluarga Athha memang sering diadakan, tapi Cagalli hampir tidak pernah datang. Ia juga jarang mengunjungi rumah kakaknya. Ia merasa sedikit bersalah karena jarang mengunjungi atau bahkan bertanya tentang kabar keponakannya yang manis itu. Dalam hati Cagalli berjanji akan lebih sering menanyakan Rhylee kedepannya.
Di lain sisi, sang ibu yang duduk di sebelahnya hanya fokus pada makanannya, ia tidak banyak bicara. Kenyataan yang aneh, karena biasanya sang ibu sangat senang mengkritik atau mengomentari dirinya. Seperti ibunya, dalam makan malam ini, Cagalli juga memilih untuk lebih banyak diam, dia tidak mau menyulut pembicaraan yang akan membuat sang Ibu melontarkan sederet pesan masyarakat yang ditujukan kepadanya.
Tidak terasa makan malam mereka berakhir. Rhylee terlihat mengantuk karena kekenyangan. Mata ungunya hampir menutup saat ia melahap puding coklat di tangannya. Lacus pun undur diri dari ruang makan untuk menidurkan sang bayi. Tersisalah Cagalli, Kira dan ibunya di ruang makan.
"Jadi bagaimana denganmu Cagalli? Ada berita baru?" Cagalli tersentak, ibunya yang sedari tadi diam saja akhirnya buka suara.
"Tidak. Oh tapi-" Cagalli ingat tujuan utama ia datang ke rumah ini. Ia segera mengambil dua amplop berukuran sedang dari tas ransel di belakangnya. "Ini undangan pernikahan Shiho. Ibu dan Ayah diundang, Kira sekeluarga juga."
"Shiho akan menikah?" Nada suara sang ibu terdengar terkejut, tapi wajahnya berusaha untuk tetap tenang.
Cagalli mengangguk tanpa berkomentar, dia tahu obrolan macam apa yang akan ibunya lontarkan karena hal ini. Pembicaraan tentang jodoh dan pernikahan. Ibunya cukup mengenal Shiho, wajar ia sedikit terkejut.
"Apa Shiho juga masih ikut balap motor?" Tak dinyana sang ibu ternyata mengubah topik pembicaraannya. Selain soal jodoh, hobi Cagalli balapan motor juga menjadi momok bagi ibunya. Hal inilah yang sebenarnya membuat dia sangat enggan bertemu ibunya. Sudah lama ibunya melarangnya balap motor, tapi Cagalli tidak memperdulikannya karena ia merasa itu adalah hobinya dan caranya menghilangkan stress, lagi pula ia tidak hidup bersama orang tuanya lagi, jadi menurutnya tidak ada masalah dan tidak ada yang dirugikan.
"Kira, bisa tinggalkan ibu dengan Cagalli sebentar?" Sebelum Cagalli dapat menjawab pertanyaan ibunya, sang ibu mengusir kakaknya secara halus. Mendengar perintah ibunya, Kira beranjak dari meja makan dan berjalan meninggalkan ruang makan.
"Cagalli.." Sang ibu tiba-tiba meraih kedua tangan Cagalli sambil menatapnya. Cagalli tidak siap, ia merasa ibunya sangat aneh dan tidak bersikap seperti biasanya. "Ibu tahu kau pasti sudah sangat bosan mendengar omongan ibu." Sempat terdiam sejenak, ibunya melanjutkan, "Kau tahu, kalau seorang ibu sudah tidak peduli pada anaknya lagi, ia akan berhenti mengingatkan anaknya. Seorang ibu itu hanya ingin anaknya bernasib lebih baik dari dirinya. Percayalah."
Cagalli terdiam, dia tidak menyangka ibunya akan memainkan jurus menjadi bijak saat ini. Ini pertama kalinya ibunya terdengar bijak saat membicarakan soal kehidupan Cagalli. Biasanya sang ibu selalu bersikap bahwa ia adalah yang paling benar dan apa yang dilakukan Cagalli selalu salah.
"Ibu sangat tahu kau sangat lelah dengan apa yang Ibu katakan, tapi sejak kau tidak tinggal disini lagi, kau tidak pernah mau mendengar permintaan Ibu."
"Tidak semua permintaan Bu, hanya yang menurutku tidak masuk akal saja." jawab Cagalli tidak terima.
"Bagian mana yang tidak masuk akal? Ibu hanya memintamu segera menikah dan berhenti balap motor, apakah itu konyol?" Ibunya mulai meninggikan suara, sepertinya ia tidak sanggup berpura-pura menjadi Ibu yang bijak dan lembut terlalu lama.
"Aku tidak ingin membicarakan hal ini, Bu."
"Mau sampai kapan? Sebentar lagi kau berusia 30 tahun, umurmu sudah tidak muda lagi!" Suara ibunya semakin menekan, sepertinya jurus menjadi orang bijak yang digunakan ibunya tadi benar-benar sudah buyar.
"Ibu-"
"Kalau kau tidak bisa berhenti balap motor, bisakah setidaknya kau menikah? Ibu sangat ingin melihatmu menikah. Kalau Ibu bilang, umur Ibu sudah tidak lama lagi, apakah kau mau memenuhi permintaan ibu?"
'Wow, sekarang ibunya mau memakai jurus -sebentar lagi aku mati-?', Cagalli tak sanggup berkata apa-apa. Sang ibu meremas kedua pundak Cagalli, menatap kedua matanya dengan tajam.
"Cagalli, lupakanlah masa lalu."
Cagalli membeku dengan pernyataan yang baru saja ibunya lontarkan. "Apa?" Cagalli bertanya kembali, berharap ia hanya salah mendengar.
"Oh Cagalli, sudah menjadi rahasia umum semua perubahan sikapmu yang drastis dimulai sejak saat itu."
Menjatuhkan kedua tangan ibunya, Cagalli berdiri dari tempat duduknya, merasa marah. Ia sangat tidak menyangka Ibunya akan mengungkit hal itu. Selama ini stidak ada seorang pun di sekitarnya yang pernah mengungkit-ungkit hal itu, tapi disini sang ibu untuk pertama kalinya sejak 5 tahun yang lalu dengan mudahnya mengingatkan luka lama yang sama sekali tidak ingin ia ingat.
"Aku pamit bu."
Sadar dengan kesalahan yang ia lakukan, sang ibu tiba-tiba merangkul tangan Cagalli dan mulai terisak.
"Cagalli! Ibu mohon, bahkan Shiho sudah akan menikah. Ibu hanya ingin melihatmu bahagia, Ibu tidak ingin kau sendirian selamanya."
Cagalli tidak menyangka, setelah bermain pura-pura bijak, lalu menyebut-nyebut tentang kematian dan mengungkit masa lalu, sekarang ibunya berubah menjadi seorang drama queen[2]. Kejutan apa lagi yang akan diberikan olehnya? Seputus asa itukah sang Ibu untuk membuatnya menikah?
"Cagalli..." Ucapnya masih dengan terisak.
"Ibu, kumohon jangan seperti ini." Cagalli mencoba melepaskan tangannya dari rangkulan ibunya.
"Satu! Hanya satu, berikan Ibu satu kesempatan lagi untuk menjodohkanmu. Kali ini ibu yakin-"
"Tidak Bu, Ibu sudah kehilangan satu kesempatan itu enam tahun yang lalu dan aku tidak akan mengulanginya. Aku pamit Bu. Sampai jumpa di pernikahan Shiho." Berhasil melepaskan rangkulan Ibunya, Cagalli segera mengambil ranselnya di atas bangku dan segera beranjak pergi meninggalkan sang Ibu di ruang makan. Bulan ini bulan yang sangat buruk bagi Cagalli.
BRUK!
Terjatuh dari tempat tidur Cagalli terbangun dari mimpinya, napasnya seperti terburu. Pakaian tidurnya basah karena keringat. 'Mimpi apa aku barusan?'
Mengintip jam di atas meja lampu tidurnya menunjukkan pukul 6 sore. Mata Cagalli terbelalak, dengan tergesa-gesa Cagalli menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Tidak ada waktu untuk mandi. Setelah itu ia mengganti bajunya dengan kemeja merah berlengan pendek dan celana bahan hitam. Melirik ke arah jam dindingnya lagi, waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit sedangkan ia harus sudah berada di gedung pernikahan Shiho sejak pukul setengah enam.
Dengan tas ransel sudah berada di pundaknya, dia mencomot satu lembar roti tawar di atas meja makan dapurnya dan dengan segera dia berlari menuju parkiran dimana motor sport kesayangannya berada.
Cagalli tidak habis pikir, mengapa wanita normal bisa memakai sepatu yang bernama high heels. Buatnya high heels adalah ancaman nyata untuk kesehatan kaki dan pikiran. Sudah 20 menit dia bertahan untuk tidak berkata kasar hanya karena sepasang high heels yang membalut kedua kakinya.
'Sudah kuduga menjadi menjadi pendamping pengantin adalah mimpi buruk.' batin Cagalli berkata.
Cagalli sudah beberapa kali hampir jatuh, sulit baginya menjaga keseimbangan dengan memakai sepatu berhak 5 cm itu. Sekarang dia sedang duduk di salah satu kursi makan, saat orang-orang sibuk berdansa, ia sibuk memijat kakinya, ia yakin kakinya sedikit terkilir. Sebenarnya Cagalli sudah sangat ingin pulang, selain sepatu, ia juga tidak merasa nyaman dengan gaun yang ia kenakan. Namun, Shiho memintanya untuk tetap tinggal sampai acara selesai. Kira dan keluarga kecilnya tadi sudah sempat menemuinya, namun mereka hanya sebentar dan pamit pulang karena Rhylee agak rewel. Ibunya tidak datang, katanya sedang merasa kurang sehat. Tebakan Cagalli, mungkin Ibunya masih merasa tidak nyaman dengan pembicaraan setelah makan malam mereka kemarin.
"Oh Tuhan, sampai kapan aku harus bertahan?' Rasanya Cagalli sudah mau menangis, acara masih ada satu jam lagi, satu jam lagi baru ia bisa melepas monster yang bernama high heels dan gaun ini. Di saat ia merasa harinya sudah cukup buruk, ternyata seseorang masih bisa membuatnya lebih buruk lagi.
"Halo nona cantik, kau pasti menungguku untuk mengajakmu berdansa?"
Mau muntah, Cagalli mau muntah melihat Yuuna berdiri di depannya sambil menyeringai. Cagalli awalnya bingung saat Shiho bilang ia akan mengundang Yuuna ke pernikahan mereka, karena Shiho tidak kenal dekat dengan Yuuna. Ternyata setelah diusut, Yuuna adalah anak dari teman baik ayah Yzak di kantornya. Sungguh fakta yang sangat tragis, terutama untuk Cagalli.
Cagalli melihat pria di depannya sambil menghela napas. Gaya Yuuna yang sudah flamboyan, semakin menjadi-jadi. Rambut ungunya diberikan gel rambut, sehingga terlihat lebih klimis. Namun ada yang aneh, bagian poninya ia tarik ke atas seperti jambul burung kakak tua atau ayam jantan, mana yang lebih mirip Cagalli pun tidak tahu. Jasnya berwarna biru elektrik dengan dasi kupu-kupu warna merah menyala. Cagalli tidak bisa memutuskan bagian mana yang lebih menyakitkan untuk matanya, rambut atau pakaiannya.
"Maaf Yuuna, aku sedang tidak bisa berdansa." jawab Cagalli dingin, tapi tentu saja pria ini tidak menghiraukan nada bicara Cagalli.
"Ayolah Cagalli jangan berbohong. Aku tahu kau ingin sekali berdansa denganku."
Yuuna mulai menarik tangan Cagalli. Wanita berambut pirang itu sudah sangat kesal, dari tadi dia berusaha bersikap sesopan mungkin di pernikahan sahabatnya. Ia tidak ingin menimbulkan keributan, namun pria gila berambut ungu tiba-tiba muncul dan membuat kesabarannya hampir habis. Hampir saja ia berteriak.
BRUK! BYUUUR!
"Ah, maaf, aku tidak sengaja."
Seorang pria dengan surai biru tua menabrak Yuuna dan menumpahkan segelas red wine di atas jas biru elektrik milik Yuuna.
"Kau! Beraninya kau menumpahkan wine di bajuku! Kau tidak tahu betapa mahalnya jas yang kukenakan ini? Hah?"
"Kalau mahal, bukankah lebih baik anda segera membersihkannya di kamar mandi, kalau tidak, bekasnya akan sulit hilang."
Yuuna menggigit bibirnya, ia tahu pria itu benar, merasa kesal dan akhirnya segera menuju kamar mandi. Cagalli merasa terselamatkan, ia harus mencari tempat yang lebih tersembunyi untuk istirahat agar Yuuna tidak kembali mengganggunya.
"Terima kasih. Kau menyelamatkanku." Cagalli tidak terlalu memperhatikan sang penolong karena ia ingin segera bersembunyi, kakinya yang sakit juga membuat dia tidak terlalu fokus dengan sekitarnya. Cagalli pun pergi meninggalkan penolongnya dengan kakinya yang agak pincang. Si penolong hanya menatapnya diam, melihat gadis pirang itu menjauh.
Athrun Zala kembali memenangkan pertandingan penyisihan babak terakhir, dengan ini ia dinyatakan lolos ke pertandingan selanjutnya. Setelah mengecek beberapa hal ke panitia, dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
"Tunggu!"
Suara orang berteriak di belakangnya, dari suaranya, ia yakin itu suara perempuan. Mempercepat langkahnya, dia pura-pura tidak mendengar teriakan orang yang memanggilnya dan tetap berjalan menuju motornya.
"Tunggu! Athrun Zala! Tunggu!"
Yakin bahwa perempuan di belakang memang mencarinya, dengan cepat ia menaiki dan menyalakan mesin motornya. Secepat kilat ia menghilang dari arena balap. Cagalli yang terengah-engah merasa kesal, karena untuk kedua kalinya ia gagal menemui Athrun. Hari ini babak penyisihan wilayah terakhir untuk tahun ini, tidak akan ada jadwal pertandingan untuk sebulan ke depan. Mengingat hal itu dengan cepat Cagalli mencari Sai, ia akan mencoba menanyakan alamat Athrun kepada Sai. Siapa tahu Sai mau memberitahunya.
"Maaf Cags, tidak bisa. Data para peserta sangat rahasia, apalagi alamat tinggal." Sai mengernyitkan dahinya, ia ingin sekali membantu Cagalli, hanya saja jika ia membuka data peserta, ia bisa terancam dipecat dari kepanitiaan road race.
"Kumohon Sai, aku tidak akan bilang siapa-siapa. Oh, aku juga akan mengabulkan permintaanmu!"
Tawaran yang menarik untuk Sai. Dengan ini ia bisa mengajak Cagalli kencan tanpa takut ditolak, tapi sekali lagi ia ingat kalau dia ketahuan bisa-bisa ia dipecat dari kepanitiaan. 'Masa bodohlah', pikir Sai. Ia sudah lama menyukai Cagalli dan menurutnya kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.
"Baiklah Cags, aku akan memberitahumu, asal kau mau makan siang bersamaku." Ucap Sai jujur.
"Kau mau mengajakku kencan?" Cagalli bertanya tanpa basa-basi.
"Ya ya begitulah.." Sai merasa kikuk, wajahnya merona, ternyata modusnya langsung tercium begitu saja oleh Cagalli.
"Oh tentu saja, kapan dan dimana? Sebutkan saja. Aku akan dengan senang hati makan siang denganmu, tapi kau benar akan memberitahukan alamatnya?" Cagalli menganggap makan siang dengan Sai bukan permintaan yang sulit. Toh Sai hanya meminta kencan dengannya, bukan menjadi pacarnya.
"Ya, aku janji Cags, tapi tolong jangan sampai ketahuan." Nada suara Sai memelan.
"Deal." Cagalli tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Sai, yang dengan gembira Sai terima.
A.N :
[1] Mansion : Rumah besar
[2] Drama Queen : Orang yang suka mendramatisir keadaan secara berlebihan
Para reader yang budiman dan budiwati, fic ini bakal ribet, geje, OOC, penuh drama seperti film bollywood (tapi tenang, ga ada scene mati muter-muter kelilit hordeng kok.). Jadi yang ga suka, lebih baik di drop aja. Saya memang suka sekali berimajinasi dengan ASUCAGA dan saya punya goal #3000ficsforasucaga, jadi mari have fun di FFn, seperti taglinenya : unleashed your imagination. See you!
