Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 3 : Mimpi

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Mature Scene, Ga Jelas, Ribet.

Double WARNING : Tolong yang belum 20 tahun ke atas JANGAN baca ya. Ga akan ada adegan yang hot banget disini. Cuma cerita ini temanya untuk dewasa. Thank you.


Cagalli meronta, namun orang ini tetap tidak mau melepaskan pelukan dan ciuman di bibirnya.

"Ugh!"

Cagalli mendongak, mencoba menerka wajah pria yang sedang mencengkramnya, namun tetap saja hanya mata hijaunya itu yang terlihat, mata hijau yang selalu menghantuinya di mimpi-mimpinya. Bagian lainnya seperti buram, sulit untuk dilihat.

Tidak memberi kesempatan Cagalli melihat lebih jauh, tangan kanan pria yang menciumnya itu menahan bagian belakang kepala Cagalli, sehingga wajah Cagalli kembali menunduk, seperti memerintah Cagalli untuk fokus dengan ciuman mereka. Pria ini mencumbunya semakin dalam dan Cagalli yakin sebenarnya ia tidak menyukai ciuman ini. Wanita mana yang suka dicium secara intens oleh pria asing yang tidak dikenalnya? Namun aneh sekali, Cagalli seperti terbuai dan tanpa sadar malah membalas ciuman pria itu. Mereka bercumbu cukup lama, hingga Cagalli merasa lemas dan kehabisan napas. Cagalli tidak kuat, kakinya melemah, kesadarannya mulai hilang, matanya sedikit demi sedikit mulai menutup dan seketika semua menjadi gelap.


"Jadi? Bagaimana bulan madunya? Kau suka disana? Kau kemana saja selama disana?" Cagalli sedang makan siang bersama Shiho di sebuah pusat perbelanjaan modern yang tidak jauh dari kantor mereka. Mereka memang biasa makan siang bersama, karena jarak kantor mereka pun tidak terlalu jauh. Ini pertama kali mereka makan siang bersama lagi setelah Shiho kembali dari bulan madu dan cuti kerjanya selama 2 minggu.

"Hmm, begitulah, yah tapi- sebenarnya kami tidak banyak keluar dari hotel." Wajah Shiho merona, namun Cagalli tidak memperhatikannya.

"Oooh, sayang sekali, kudengar pantai di Onogoro sangat indah. Apakah cuacanya buruk?" Tanyanya polos sambil melahap kentang gorengnya.

"Bukan, tapi-" Shiho ragu, apakah masalah pribadi seperti ini harus dibicarakan dengan Cagalli? Merasa tidak perlu, Shiho kembali menjawab, "Sebaiknya kita tidak usah membicarakannya."

"Tapi apa? Oh ayolah, kau seperti baru kenal denganku kemarin, apa kalau menikah sekarang kau akan menyimpan banyak rahasia dariku? Hal ini membuatku semakin tidak ingin menikah. Pernikahan merenggut sahabat baikku." Jawab Cagalli sambil pura-pura sedih dan cemberut.

Shiho memutar kedua bola matanya. "Kau berlebihan sekali! Kau yakin mau mendengar alasannya?"

Cagalli mengangguk mantap. Mendesah, Shiho pun menjawab dengan pelan dan ragu. "Hmm, baiklah, Itu jadi, hmm, itu, kau tahu Yzak tidak mau berhenti err-"

Cagalli sepertinya mulai mengerti maksud Shiho dan dia sungguh tidak mau mendengarnya. Sambil menutup kedua telinganya, ia sedikit berteriak. "STOP! aku tidak mau mendengarnya!"

"Sudah kubilang kan sebaiknya kita tidak usah membicarakannya." Jawab Shiho sambil tertawa kecil melihat temannya sedikit pucat." Kau sendiri ada berita apa selama aku cuti?" Shiho mengalihkan topik pembicaraan.

"Hmm apa ya, ah, Sai mengajakku makan siang."

"Akhirnya dia melakukan sesuatu juga, sudah kubilang kan dia itu naksir padamu. Lalu? Apa kau menerimanya? Apa yang akan kau lakukan?"

"Satu-satu ya kalau bertanya." Cagalli mengerlingkan matanya.

"Hehe, jadi?"

"Hmm, tidak tahu, aku tidak tertarik padanya ke arah itu."

"Tapi kau mau kencan dengannya? Sungguh kau ini pemberi harapan palsu Cags!" Shiho menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak setuju dengan tindakan temannya.

"Hei, aku menyetujuinya karena aku butuh suatu informasi!"

"Bukankah itu lebih menyakitkan lagi? Lagi pula informasi apa yang kau butuhkan sampai kau menerima ajakannya kalau kau tidak tertarik padanya?" Sekarang Shiho penasaran. Cagalli bukan tipe wanita yang akan sembarangan menerima tawaran kencan dari sembarang orang. Yah, walaupun dia sering gonta ganti pacar, bukan berarti dia menebarkan pesona ke semua lelaki sesukanya.

Menjawab pertanyaan Shiho, Cagalli pun bercerita tentang Athrun Zala dan rencananya untuk menjadikan pembalap motor yang baru pindah itu menjadi partnernya. Shiho hanya mengangguk dalam diam, sebenarnya Shiho sedikit berharap saat ia berhenti Cagalli juga berhenti balapan motor. Sehebat apapun seorang pembalap, tetap saja tidak dapat menjamin keselamatan mereka 100 persen. Bukannya Shiho ingin menjadi teman yang sok tahu dan mengekang, tapi Shiho tahu walaupun Cagalli cukup hebat, dulu ia juga pernah beberapa kali jatuh saat balapan. Sebagai seorang pembalap individu, Cagalli tipe orang yang tidak peduli dengan bahaya, ia akan melakukan trik apapun untuk menang, walaupun nyawa menjadi taruhannya. Dulu salah satu alasan Shiho menjadi partner balap Cagalli adalah agar ia dapat memberikan saran dan masukkan sehingga Cagalli tidak terlalu ceroboh dalam balapan. Hal itu berhasil, sejak berpartner dengannya, Cagalli jadi lebih berhati-hati dalam balapan. Sekarang ia jadi kembali khawatir terhadap Cagalli, ia takut kebiasaan lama Cagalli yang reckless itu kembali, tapi ia memutuskan untuk memendamnya dan mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya. Mungkin lain kali di waktu yang tepat, ia akan membicarakannya lagi.

"Hmm, Shi, apakah kalau kita mimpi hal yang sama berulang kali ada arti khususnya?" Pertanyaan Cagalli menarik Shiho dari lamunannya.

"Hmm, mimpi seperti apa?" Shiho bertanya sambil menyeruput soda lemon dari gelasnya.

"Aku memimpikan seseorang berkali-kali."

"Hmm siapa?"

"Aku tidak tahu, kurasa aku tidak mengenalnya. Aku hanya melihat iris matanya berwarna hijau, tapi wajahnya selalu buram. Aku tidak tahu siapa orang itu."

"Iris hijau?" Alis Shiho mengkerut, mungkinkah yang cagalli mimpikan itu dia? Tapi melihat raut wajah Cagalli yang tenang sepertinya bukan. "Memang apa yang terjadi di mimpimu?"

"Hmm.." Cagalli berpikir cepat, kalau ia menceritakan bahwa isi mimpinya dipenuhi cumbuan mesra dengan seorang pria tak dikenal, pasti Shiho akan heboh dan Cagalli merasa hal itu akan mengganggunya, maka Cagalli memutuskan untuk tidak memberitahunya. "Dia hanya berdiri di depanku tanpa melakukan apa-apa."

"Aneh ya, tapi apakah selalu orang yang sa-"

"Shiho Hahnenfuss?" Seorang pria tampan dengan mata biru muda dan berambut orens kecoklatan menginterupsi pembicaraan mereka.

"Rusty? Kau sedang apa disini?"

"Oh, ada yang harus kubeli dan teman-teman memintaku membelikan kopi di kafe ini." Pria yang dipanggil Rusty itu berdiri di samping meja tempat Cagalli dan Shiho berada.

"Kebetulan sekali ya kita bertemu disini. Aku jarang sekali melihat teman kita makan siang di daerah sini." Shiho menjawab, tapi tidak ada respon dari temannya. Shiho memperhatikan Rusty, walaupun temannya itu sedang berbicara dengannya, tapi matanya jelas mengarah kepada gadis pirang yang duduk di depan Shiho. Tanpa sadar, lelaki itu terdiam menatap Cagalli yang sekarang sedang sibuk dengan ponselnya. Shiho membaca situasi dengan cepat, ia pun tersenyum sambil berdeham kecil, Cagalli yang mendengarnya mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Shiho. Dehaman kecil itu juga menyadarkan Rusty yang sedang sedikit melamun.

"Cagalli, kenalkan ini teman satu timku di kantor, Rusty McKenzie, ia juga programmer sepertiku dan Rusty, ini Cagalli Yula, sahabatku."

"Senang berkenalan denganmu Yula."

"Sama-sama. Ah Shiho, aku sepertinya harus segera pergi. Barusan ada informasi dari grup chat kantor, akan ada rapat internal dalam 30 menit. Aku harus bersiap."

"Kau butuh tumpangan?" Tanya Rusty tiba-tiba, dalam hatinya ia merasa sangat bodoh karena bertanya seperti itu padahal mereka baru berkenalan. Tentu saja Cagalli akan menganggap dirinya orang aneh. Cagalli sedikit mengernyitkan dahinya karena pertanyaan Rusty, tapi dengan cepat ia memperbaiki ekspresinya dengan senyuman kecil. Ia memutuskan untuk tidak terlalu mengacuhkannya.

"Terima kasih tawarannya, tapi aku bawa kendaraan sendiri. Aku duluan ya, bye Shi!" Cagalli pun meninggalkan kafe dan segera pergi menuju tempat parkir. Sedangkan Rusty masih diam saja melihat kepergian Cagalli. Shiho kembali berdeham, kali ini agak lebih kencang. Untuk kedua kalinya dehaman Shiho membangunkan Rusty dari lamunannya.

"Sayang sekali Rusty modus menawarkan tumpangan tidak akan berhasil pada Cagalli." Shiho menyeringai, ia curiga bahwa Rusty sepertinya tertarik pada Cagalli.

"Begitukah? Lalu strategi seperti apa yang bisa berhasil?" Menarik kursi di sebelah Shiho, Rusty pun duduk sambil berharap Shiho mau membantunya mendekati wanita bermata amber itu, karena sepertinya ia sudah terpesona padanya sejak pandangan pertama.


Hari Sabtu pun tiba, hari dimana Cagalli menjanjikan makan siang bersama Sai. Cagalli memilih untuk makan siang di kafe kecil dekat pusat kota, kafenya tidak terlalu ramai tapi juga tidak sepi. Tempatnya sejuk, sangat cocok untuk berbincang-bincang. Setelah kencan bersama selama sejam, Cagalli memutuskan ingin kencan ini segera berakhir. Bukan, bukan karena Sai orang yang menyebalkan seperti Yuna, tapi Sai sangat kikuk dan pemalu. Ia tidak banyak bicara dan ia juga agak ceroboh. Sudah beberapa kali ia menumpahkan air dari gelasnya atau menjatuhkan sendoknya ke lantai. Cagalli sampai tidak tahu ia harus berbuat apa, karena kencan mereka sangat terasa canggung. Obrolan yang Cagalli buka pun biasanya terputus, karena Sai tiba-tiba berhenti bicara. Sungguh tidak menyenangkan baginya.

Dua jam berlalu, akhirnya piring dan gelas mereka sudah terlihat kosong. Artinya makan siang mereka akan segera berakhir. Walaupun kikuk dan pemalu, Sai masih bersikap layaknya gentleman. Dia sudah siap siaga membayar makanan mereka, sampai Cagalli belum sempat mengeluarkan uang, ternyata Sai sudah membayar semuanya.

Setelah membayar semuanya, Sai berkata bahwa dia ada urusan lain, jadi mereka harus mengakhiri pertemuan mereka. Sai menawarkan untuk mengantarkan Cagalli pulang, tapi Cagalli menolak dengan halus, ia bilang ada sesuatu yang harus dia kerjakan, lagipula Cagalli membawa kendaraannya sendiri. Sai agak kecewa, tapi apa boleh buat, kesepakatan mereka hanya sampai makan siang bersama. Sesaat setelah mereka keluar dari kafe, Sai dengan segera mengeluarkan secarik kertas yang berisi alamat rumah Athrun Zala dan memberikannya kepada Cagalli.

"Terima kasih, Sai." Cagalli melemparkan senyuman manisnya. Hal itu membuat jantung Sai berdegup.

"Sama-sama Cags. Aku minta maaf kalau kencan hari ini tidak berjalan lancar, tapi, apakah kita bisa makan siang bersama lagi?" Sai memberanikan diri, walaupun jantungnya berdegup sangat cepat. Ia sadar kencannya dengan Cagalli hari ini tidak berjalan mulus. Ia terlalu gugup. Namun, ia harus bertanya pada Cagalli, karena ia tidak tahu kapan lagi ia punya kesempatan.

"Sai, kau teman yang baik. Aku senang sekali punya teman sepertimu, tapi, maafkan aku, aku erm, bagaimana ya-" Cagalli ragu, ia tidak ingin menolak ajakan Sai tapi ia juga tidak mau Sai berharap hubungan mereka akan lebih dari sekedar berteman. Cagalli sudah meyakinkan diri, ia tidak akan menikah, ia pun tidak ingin memberikan harapan kepada laki-laki yang tertarik kepadanya, terlebih itu adalah Sai. Ia masih ingin berteman dengan Sai.

"Ah aku mengerti. Tidak apa Cags." Sai mencoba membuat senyuman di bibirnya, namun rasanya gagal.

"Tapi, kau tahu, kapan-kapan kita masih bisa makan bersama! Aku akan mengajak Shiho, kau juga bisa ajak temanmu, Miriallia atau Tolle? Pasti akan seru kan?" Melihat raut wajah Sai yang murung, Cagalli mencoba menghiburnya. Sebenarnya Shiho ada benarnya, Cagalli sekarang jadi merasa agak jahat karena menyetujui ajakan kencan Sai hanya karena ia ingin mengetahui alamat Athrun Zala. Ia berharap Sai tidak terlalu bersedih dan ajakannya ini bisa sedikit menghiburnya.

"Ide yang bagus! Baiklah mungkin kapan-kapan. Kalau begitu, sampai jumpa di arena Cags." Sai menjawab dengan senyuman tipis yang akhirnya bisa ia berikan. Dengan sedikit lunglai Sai meninggalkan area depan kafe. Cagalli menolak Sai secara halus. Namun, Sai merasa lega dan tak ada rasa menyesal di benaknya, setidaknya sekarang ia tahu bagaimana perasaan Cagalli terhadapnya. Cagalli masih mau berteman dengannya dan untuk saat ini, hal itu sudah cukup.


Hari yang mendung tidak menghalangi Via untuk tetap berangkat menuju toko baju bayi dan anak di mall yang sudah sering ia kunjungi itu. Sudah lama ia ingin membeli baju baru untuk Rhylee, tapi karena satu dan lain hal, baru sekarang hal itu terealisasi. Saat ia sedang sibuk memilih, seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.

"Via? Via dari SMA Junius PLANTs kan?" Menyipitkan kedua matanya, Via memperhatikan wanita yang baru saja menyapanya. Wanita berambut biru tua dari SMA Junius, Via mencoba meretas ingatannya. Matanya melebar menyadari siapa yang ada di hadapannya.

"Lenore?"

"Via!" Wanita berambut biru tua itu langsung memeluk wanita berambut coklat di hadapannya. "Sudah berapa tahun kita tidak berjumpa?" Lenore bertanya sambil melepaskan pelukannya.

"Sekitar 35 tahun lebih? Bagaimana kabarmu? Aku sangat tidak menyangka kita bisa bertemu disini. Kau dan Patrick kuliah di Heliopolis setelah kita lulus. Kita benar-benar putus komunikasi setelah SMA ya." Via menjawab sambil mengingat-ingat yang terjadi dulu.

"Begitulah, oh, aku masih ingin mengobrol, namun sepertinya Patrick sudah menungguku."

"Berikan nomor ponselmu, aku masih ingin kita mengobrol!" Via berseru.

"Kau benar! Ayo kita bertemu lagi!" Mereka pun bertukar nomor ponsel dan Lenore segera pamit dari hadapan Via.

"Aku akan menelponmu Via, oh dan salam untuk Ulen ya!"

Via terkejut, mendengar nama itu, air mukanya berubah cepat. Sayangnya sang kawan tidak sempat melihat raut wajah itu. Lenore sudah berbalik dan meninggalkannya sebelum Via sempat menjawabnya.


Cagalli sampai di depan apartemen besar yang dindingnya berwarna dasar coklat tua. Melirik ke arah kertas kecil yang dibawanya, dia yakin bahwa gedung apartemen ini adalah gedung yang benar. Setelah kencan dengan Sai, Cagalli berniat untuk langsung menemui Athrun Zala, ia memang sudah merencanakan hal ini dari kemarin, menurutnya hari Sabtu adalah waktu yang tepat menemui Athrun, karena ia cukup lowong saat akhir pekan.

Cagalli memasuki area apartemen. Melihat seorang sekuriti berjaga di depan pintu kaca besar gedung apartemen itu, Cagalli mendekatinya.

"Permisi. Maaf pak, apakah benar tuan Athrun Zala tinggal disini?" Cagalli bertanya sambil menunjukkan kertas kecil yang sudah diberikan oleh Sai.

"Athrun Zala? Saya baru mendengar nama itu." Sang sekuriti menilik dengan seksama kertas yang diberikan oleh Cagalli. "Ooh, unit 29, unit itu dihuni oleh tuan Alex Dino. Tidak ada yang bernama Athrun Zala disini nona." Sekuriti berseragam biru tua dan berambut hitam itu berkata yakin.

"Apa bapak yakin?" Cagalli tidak percaya, mana mungkin Sai memberikan alamat palsu kepadanya? Pasti ada yang salah, Cagalli yakin. "Coba bapak baca sekali lagi pak, mungkin bapak salah?"

"Tidak, saya sangat yakin, karena beliau memang baru saja pindah ke unit itu sebulan yang lalu. Ini alamat apartemen tuan Alex Dino. Tidak pernah ada yang bernama Athrun Zala disini."

"Begitu ya. Kalau begitu terima kasih pak." Menyerah, Cagalli beranjak dari apartemen tersebut. Langkahnya lambat, kepalanya tertunduk, ia merasa kecewa. Tanpa sadar ia hampir saja bertabrakan dengan seseorang. Namun, karena orang itu berhasil menghindar, tabrakan itu pun tidak terjadi. Cagalli masih tenggelam dengan pikirannya, ia tidak menyadari ada orang yang hampir ditabraknya. Tanpa mengalihkan pandangannya dari tanah, ia terus berjalan menuju tempatnya memarkirkan motornya. 'Mengapa begitu sulit menemui orang itu?', pikirnya dalam hati.

Berbeda dengannya, pria yang hampir saja ditabraknya tidak melepaskan pandangannya dari wanita berambut pirang itu. Dalam benaknya ia bertanya, 'Apakah kota ORB memang sesempit ini?'


Seminggu kemudian Via dan Lenore pun bertemu kembali, mereka bertemu di sebuah restoran lokal di daerah Kaguya. Daerah yang terkenal akan jajanan dan pilihan kulinernya yang lezat. Lenore yang meminta untuk bertemu di daerah itu, karena ia ingin mencoba kuliner khas ORB.

"Hari ini kita bebas, aku sudah bilang pada Patrick aku akan pulang sendiri. Nah, sekarang, bagaimana kabarmu Via? Bagaimana bisa kita tidak berkomunikasi lagi setelah SMA?" Lenore membuka percakapan mereka setelah mereka sudah selesai memesan menu makanan dan minuman yang mereka inginkan.

"Hmm, banyak yang terjadi Lenore. Bagaimana kalau kau dulu yang cerita? Kurasa ceritamu akan jauh lebih seru." Via tersenyum, berusaha menutupi kegundahan hatinya, ia tidak tahu apa ia bisa bercerita kepada Lenore perihal apa yang terjadi padanya. Ia hanya mencoba mengulur waktu, pastinya ia harus menceritakan apa yang terjadi. Tidak mungkin tidak.

"Baiklah, jadi aku ini baru saja pindah ke ORB. Kata Patrick, ia ingin mulai membesarkan bisnis di kota ini. Kau tahu kan ia seorang pengacara?"

"Ah ya, kudengar ia dulu mengambil jurusan Hukum."

"Benar! Patrick membuka kantor pengacaranya disini. Dia bilang iklim bisnis di kota ini lebih menjanjikan. Aku sangat gembira saat tahu kami akan pindah, bahkan anakku Athrun mengikuti kami pindah kesini. ORB ini kota yang modern. PLANTs juga oke, hanya saja aku ingin mencoba hidup di daerah ibukota seperti ini. Ah, Maaf aku sepertinya terbawa suasana." Lenore tertawa kecil sambil melanjutkan,"Sekarang cukup tentangku. Kalau Ulen bagaimana kabarnya? Aku ingat sekali kalian menikah tidak lama setelah lulus SMA! Aku sangat terkejut saat mendapatkan undangannya. Maaf sekali aku tidak bisa hadir saat itu. Setelah itu aku sama sekali tidak mendengar kabar darimu Via."

Ya inilah saatnya, Via mengambil napas panjang dan memulai ceritanya. "Hmm, waktu itu Ulen sepertinya terburu-buru, dia bilang dia ingin menikah sebelum menjadi mahasiswa kedokteran, ia bilang menjadi mahasiswa kedokteran akan berat dan dia butuh dukunganku dengan menjadi istrinya." Via tidak melanjutkan, ia mencoba tersenyum, tapi ia tahu mata dan nada suaranya tidak bisa berbohong. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mengorek luka lama yang sudah dilupakannya lebih dari 15 tahun yang lalu. Namun, Lenore adalah teman lamanya dan ia salah satu teman yang sangat tahu tentang hubungannya dengan Ulen saat SMA, sangat tidak mungkin jika Via tidak memberitahukan Lenore apa yang terjadi. Sebagai wanita yang cukup peka, Lenore merasakan ada yang janggal dari nada bicara Via. Ia pun melihat raut wajah Via yang agak lesu.

"Via?" Lenore memberanikan diri bertanya.

"Aku sebenarnya sudah tidak dengan Ulen. Sudah sejak lama. Kami bercerai."

Lenore terpaku menatap temannya, ia sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Seketika lidahnya pun kaku. Ia tidak menyangka bahwa Via dan Ulen sudah bercerai. Saat mereka terdiam, menu makanan yang mereka pesan datang. Via yang merasakan keceriaan Lenore menghilang mencoba mengembalikan suasana.

"Ulen masih tinggal di PLANTs, ia juga sudah memiliki keluarga baru. Kami masih memiliki hubungan baik. Cagalli dan Kira kadang mengunjunginya disana." Jawab Via sambil menyesap teh manisnya.

"Via, aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu."

Via sekarang melemparkan senyum tulusnya ke arah sahabat SMAnya itu. Tentu saja Via sama sekali tidak marah atau kesal terhadap Lenore, toh ia benar-benar tidak tahu dan memang tidak banyak orang yang tahu. Pernikahan Ulen dan Via hanya dihadiri orang-orang terdekat. Mereka tidak mengundang banyak orang, pesta pernikahan juga diadakan secara singkat dan bersahaja. Jadi tidak banyak yang tahu kalau mereka sudah menikah. Saat bercerai pun, Via segera mengambil hak asuh anak-anaknya dan memutuskan untuk pindah ke ORB. Di kota inilah ia bertemu dengan Uzumi.

"Tidak apa Lenore, kami sudah sama-sama memiliki keluarga baru."

Sebenarnya Lenore ingin tahu penyebab perceraian Via dan Ulen. Lemore ingat sekali, mereka adalah pasangan yang sangat romantis saat SMA, lalu apa yang terjadi? Lenore mengakui, berbeda dengan Patrick yang sangat kaku saat mendekatinya, Ulen sangat pintar mengambil hati Via. Namun Lenore memutuskan untuk tidak meneruskan topik sensitif ini. Mengalihkan arah pembicaraan, Lenore mencoba menanyakan perihal anak-anak Via sambil melahap makanannya, seperti Via yang sudah mulai menyantap makanannya. Via pun menceritakan tentang anak-anaknya. Kali ini raut wajah Via yang tadi terlihat sedikit murung, sudah kembali ceria. Obrolan mereka mulai mengalir, mereka berbicara tentang karir, lalu sedikit banyak mereka bernostalgia dengan masa lalu mereka. Via dan Lenore sudah saling mengenal sejak tingkat 1 SMA, mereka dulu sama-sama mengikuti ekstrakulikuler Sains Club. Tidak banyak murid yang mendaftar dalam klub tersebut, jumlah anggota yang sedikit membuat mereka berdua mudah akrab.

"Oh, kau sangat beruntung! Aku hanya punya satu dan sepertinya sampai saat ini dia belum mau memberikanku cucu." Ujar Lenore yang sekarang kembali ke topik tentang keturunan mereka.

"Benarkah? Ada apa dengannya? Yah, tapi setidaknya pasti dia sudah punya calon 'kan? Apalagi dia laki-laki." Via yakin bahwa kebanyakan anak muda berusia 30 tahunan pasti sudah memiliki calon setidaknya. Tidak seperti putrinya yang malah baru memutuskan pacarnya.

"Belum, sama sekali belum. Anak itu agak aneh, aku menjodohkannya dengan banyak gadis, tapi tidak ada yang bertahan lama." Lenore menjawab dengan kecewa, terlihat sekali ia tidak suka dengan keadaan anaknya.

"Kalau begitu mirip sekali dengan anak perempuanku. Aku sudah mau menyerah! Sepertinya kata menikah sudah dihapus dari kamusnya. Dulu -"

Drrrt drttt drttt

Suara ponsel Lenore yang ia letakkan di atas meja bergetar, ternyata suaminya yang menelpon. Ia meminta Lenore untuk segera pulang, karena menurutnya Lenore sudah terlalu lama di luar, padahal ini kota asing dan pasti Lenore belum banyak tahu daerah disini.

"Oh, Patrick masih saja sangat protektif terhadapmu." Via tersenyum, Patrick memang orang yang kaku dan bukan pria yang suka berkata manis, tapi Patrick sangat mencintai Lenore. Via ingat sekali Patrick dulu setia menunggu Lenore setiap hari sampai klub Sains berakhir, hanya untuk mengantarnya pulang.

"Aku harus pulang Via, kalau tidak Patrick akan meracau. Hhhh, padahal kita belum banyak mengobrol." Lenore berkata sambil menghabiskan makanannya.

"Bulan depan bagaimana kalau kita makan siang bersama di rumahku? Kau harus mengajak Patrick dan anakmu! Aku juga akan mengenalkan Uzumi dan Kira kepadamu. Hmm, mungkin Cagalli juga, walaupun aku tidak yakin anak itu mau ikut."

"Ide menarik! Aku juga ingin berkenalan dengan keluargamu! Baiklah kalau begitu aku akan mencoba menyesuaikan jadwal dengan suami dan anakku. Aku akan menghubungimu lagi."

"Baik Lenore, kabari aku ya."

Setelah selesai makan, Lenore segera membayar pesanannya dan pamit pada Via. Ia memilih menggunakan taksi untuk pulang, karena ia belum terlalu hafal dengan rute kendaraan umum di kota ini. Via tentu saja sudah menawarkan tumpangan kepada Lenore karena Via membawa mobil pribadi. Namun, ia menolak, Lenore tahu rumah Via dan dengannya berbeda arah cukup jauh, jadi ia tidak mau merepotkan temannya itu. Termenung duduk di dalam taksi yang menyusuri jalan menuju rumahnya, dalam hati Lenore bertanya-tanya, apakah ini suatu kebetulan? Setelah 30 tahun lebih, ia bisa bertemu lagi dengan Via? Lalu kenyataan bahwa anaknya dan anak bungsu Via sama-sama single, belum lagi dua-duanya sama-sama belum memiliki calon pendamping. Perbedaan usia mereka pun tidak jauh. Apakah ini takdir? Lenore hanya tersenyum, tidak ia rasa tidak. Ini hanya kebetulan, tapi sesungguhnya ia tidak keberatan kalau memang mereka berjodoh. Walaupun tentu saja itu hanya secercah harapannya dan jelas Lenore tidak akan berharap banyak. Tidak, ia jujur, ia tidak berharap banyak.


A.N : Maaf masih belum ada Asucaga, ada sih tapi cuma sekilas, semoga mulai chapter berikutnya bakal banyak. Makasih teman-teman yang udah nyempetin review. Aku tanpamu bagai butiran debu.