Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 4 : The Guest

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Mature Scene, Ga Jelas, Ribet.


Pertandingan road race tingkat kota tinggal dua minggu lagi. Namun, Cagalli masih belum berhasil menemui Athrun Zala. Saat Cagalli menceritakan apa yang terjadi pada Shiho, ia menyarankan agar Cagalli memeriksa alamat itu untuk kedua kalinya. Walaupun Shiho masih berharap bahwa Athrun Zala menolak Cagalli sebagai partner, dia tetap ingin membantu Cagalli yang terlihat murung selama dua minggu ini.

"Kenapa tidak kau cek?", tanya Shiho setelah Cagalli menyelesaikan ceritanya.

"Maksudmu?"

"Tanyakan pada penghuni apartemen itu apakah ia kenal dengan Athrun Zala? Siapa tahu kan memang Athrun Zala itu memang menggunakan alamat itu. Lagi pula Cagalli, kau tahu kan kita punya teknologi telepon genggam? Untuk apa kau menanyakan alamatnya?"

"Hmm, aku hanya ingin bersikap sopan dengan menemuinya langsung."

"Oh begitu, oke cukup masuk akal." Shiho mengangguk setuju.

Maka disinilah Cagalli, berdiri di depan pintu masuk apartemen berdinding coklat tua itu. Mencoba peruntungannya sekali lagi. Selama lima menit dia hanya berdiri di samping panel bel apartemen yang terletak di samping kanan pintu masuk utama apartemen itu, mencoba mengumpulkan segenap keberaniannya. Setelah yakin, akhirnya ia memberanikan diri menekan bel berlabel unit 29 itu.

Cagalli menekan belnya satu kali, tidak ada jawaban. Menekannya dua kali, masih sama. Sampai ketiga kalinya, masih tidak ada respon. Cagalli mulai kehilangan kepercayaan diri.

'Apakah memang ia tidak ditakdirkan berpartner dengan Athrun Zala? Apa sebaiknya ia pulang saja?', tanyanya dalam hati.

Namun mengingat ia masih ingin memenangkan kejuaraan road race tahun ini, tekadnya kembali muncul. Ia putuskan untuk menekan belnya sekali lagi, sambil berdoa agar ada jawaban. Namun ternyata hasilnya tetap nihil. Merasa kecewa, Cagalli menyandarkan bahunya pada dinding loker yang terletak di sebelah panel bel. Nampaknya ia harus menyerah, mungkin memang ia tidak ditakdirkan berpartner dengan Athrun Zala, pikirnya.

Saat ia memutuskan untuk beranjak meninggalkan apartemen itu, matanya tiba-tiba menangkap sebuah motor berwarna merah marun yang baru saja memasuki pekarangan parkir apartemen itu. Motor sport tipe Justice ZGMF-X09A yang sepertinya ia kenali itu baru saja mengisi salah satu slot parkir motor di depan area lobby. Selain motornya, yang menarik perhatian Cagalli adalah helm yang digunakan sang pengendara. Cagalli ingat, helm itu adalah helm yang digunakan Athrun Zala saat mereka bertanding beberapa waktu yang lalu.

Harapan Cagalli yang tadi sudah sirna kembali merekah, pengemudi motor Justice itu bisa jadi adalah Athrun Zala. Tidak akan banyak orang yang memiliki motor langka seperti Justice dengan kombinasi helm yang sama, bukan? Merasa harus memastikan dugaannya, ia segera bergegas mendekati sang pengendara motor yang sekarang sudah berjalan menuju ke arah pintu masuk apartemen. Pengendara itu masih menggunakan maskernya, walaupun helmnya sudah di lepas. Saat jarak mereka sudah cukup dekat, mata mereka pun bertatapan. Mata hijau emerald itu, benar, itu adalah sepasang mata yang Cagalli lihat pada pertandingan balap waktu itu, tapi tunggu sepertinya Cagalli mengingat hal lain tentang mata itu, Cagalli segera menggelengkan kepalanya. Bukan saatnya dia memikirkan hal itu, lagi pula mana mungkin itu dia.

"Athrun Zala?"

Pria bersurai biru tua itu membalas pandangan Cagalli dengan tajam sambil membuka maskernya.

"Ya?" Jawab pria itu singkat.

Cagalli memperhatikan Athrun dengan seksama. Pria ini bisa dikatakan cukup tampan, kulitnya putih, rambut biru tuanya rapi diatas leher, bibirnya tipis, gaya berpakaiannya pun lumayan modis, tapi ekspresi wajahnya bisa dibilang tidak terlalu ramah. Tidak ingin terlihat tidak sopan, Cagalli segera memperkenalkan dirinya.

"Aku tidak tahu kau mengenalku atau tidak, tapi aku Cagalli Yula, salah satu peserta road race. Kita sempat bertanding beberapa kali." Cagalli mengulurkan tangannya untuk berjabat.

Kedua alis mata Athrun mengerut. Tanpa menjawab, Athrun membalas jabatan Cagalli dengan singkat. Cagalli agak sedikit gugup dengan sikap dingin Athrun terhadapnya, tapi ia mencoba mengabaikannya karena untuknya, memenangkan pertandingan road race tahun ini jauh lebih penting.

"Apa tidak sebaiknya kita bicara sambil duduk?" Cagalli mencoba melanjutkan pembicaraan, karena sepertinya Athrun masih tidak memiliki niat untuk berbicara.

Kali ini Athrun merespon dengan menaikkan kedua alisnya. Cagalli mengerti, Athrun pasti mencurigainya. Ia bisa jadi menganggap Cagalli seorang penipu atau semacam penjual voucher diskonrestoran dadakan yang biasanya suka mendekati orang-orang lewat.

"Ah sepertinya disini pun tidak apa-apa, aku juga tidak suka berbasa-basi." Melihat sikap Athrun, Cagalli sadar ia tidak bisa banyak berbasa-basi, harus straight to the point.

"Jadi, sebenarnya aku ingin mengajakmu menjadi partner road race ku untuk pertandingan tingkat kota. Apa kau mau berpartner denganku?" Jelas Cagalli cepat, ia tidak ingin Athrun semakin mencurigainya.

Alis mata Athrun mengendur, berbalik ke posisi asalnya. Ia sepertinya sudah tidak mencurigai Cagalli. Athrun terlihat berpikir sejenak, lalu ia menjawab, "Kurasa tidak. Aku lebih suka bermain sendiri. Selama ini aku tidak pernah berpartner dan aku selalu menang. Aku tidak melihat keuntungan berpartner dengan orang lain."

Cagalli sudah siap, ia tahu bahwa peluang tawarannya akan diterima hanya 50 persen. Namun, ia tidak menyangka bahwa Athrun akan menolaknya mentah-mentah seperti ini. Memang benar Athrun selalu dapat mengalahkannya dalam pertandingan sebelumnya, tapi waktu mereka hanya berbeda sedikit, sangat tidak signifikan.

"Tapi kesempatan menang mu akan lebih besar jika berpartner denganku. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam sebuah pertandingan balap." Cagalli mencoba meyakinkan.

"Aku tidak akan merubah keputusanku." Athrun menjawab dengan singkat, terlihat sekali Athrun enggan berdebat lebih jauh. Namun bukan Cagalli namanya, jika ia tidak berusaha lebih.

"Beri aku alasan."

"Alasan?" Athrun terlihat sedikit bingung.

"Iya alasan. Beri aku alasan yang jelas."

"Kenapa aku harus memberimu alasan?"

"Karena aku akan tetap disini sampai aku mengerti kenapa kau menolak tawaranku dengan jelas."

Athrun mendengus dan kemudian memejamkan matanya, sekitar 10 detik kemudian, ia membuka kembali matanya dan mulai berbicara, "Pertama, sudah berapa kali kau menang melawanku? Nol. Alias belum pernah bukan? Berarti berpartner denganmu membuat peluang menang ku semakin berkurang. Menjadi satu tim denganmu, artinya waktuku dan waktumu harus dirata-ratakan. Bukankah berarti waktuku akan menjadi lebih lambat? Kalau kita berpartner, kau yang akan diuntungkan, tapi aku akan rugi. Bukankah lebih baik aku sendiri daripada teman satu tim ku membuatku kalah? Kedua, teknik berkendara mu itu sangat kaku, kau harus lebih fleksibel dalam balapan atau itu akan berbahaya untukmu, jika kau terjatuh dan kau tertinggal sangat jauh, lagi-lagi siapa yang akan rugi? Aku lagi bukan?"

Jawaban laki-laki ini membuat Cagalli kehilangan kata-kata. Sekali lagi, ia tidak menyangka Athrun akan menghina teknik berkendaranya. Ia tidak sedih, tapi lebih ke marah dan kesal. Yang membuat dia tidak habis pikir adalah air muka Athrun tetap datar saat mengatakan semua itu. Cagalli merasa sangat bodoh dengan meminta pria arogan seperti Athrun Zala sebagai partnernya. Dari awal Athrun sudah bersikap sangat dingin dan tidak ramah, harusnya Cagalli menyadari hal ini lebih cepat.

Sepertinya Athrun memutuskan bahwa tidak ada yang perlu dibahas lagi di antara mereka saat melihat Cagalli tidak menjawabnya. Athrun berjalan meninggalkan sang wanita pirang yang sedang termangu itu menuju pintu masuk tapi setelah beberapa langkah, ia berbalik dan berkata, "Oh ya nona, dan ketiga, aku sarankan, lebih baik kau berhenti balapan, balapan seperti ini berbahaya dan tidak cocok untuk wanita." Lalu ia pun kembali pergi meninggalkan wanita yang masih terpaku di tempatnya.

Kemarahan Cagalli semakin menjadi. Menghina teknik berkendaranya sudah sangat membuatnya naik pitam dan sekarang pria itu menghina dirinya karena dirinya seorang perempuan? Ingin rasanya Cagalli melayangkan tinjunya pada wajah laki-laki itu. Namun Cagalli menenangkan dirinya, ia tahu kekerasan tidak akan membuatnya puas. Mengepalkan tangan kanannya, Cagalli berjanji, bahwa ia akan mengalahkan Athrun Zala pada kejuaraan tingkat kota, bagaimanapun caranya.


Merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Athrun baru menyadari, bagaimana wanita berkepala pirang itu bisa tahu alamat tinggalnya. Apartemen ini pun ia beli atas nama Alex Dino, bukan Athrun Zala. Orang tuanya bahkan tidak mengetahui alamat apartemen ini. Satu-satunya yang mungkin tahu hanyalah panitia balap road race, karena memang alamat apartemen ini yang ia pakai untuk mendaftar pada pertandingan. 'Apakah wanita itu tahu dari sana? Namun, bukankah semua data peserta adalah rahasia?'

Ddrrrrrt

Ddrttttt

Drrrrrrt

Getar ponsel Athrun di atas meja menyadarkan diri dari lamunannya. Athrun mengecek layar ponsel sebelum mengangkat teleponnya. Ternyata ibunya yang menelepon, ia pun segera mengangkatnya.

"Athrun?"

"Ya bu?"

"Kau tidak pulang lagi hari ini?"

"Belum bu, jadwal kerjaku masih cukup padat. Mungkin minggu depan aku baru pulang." Jawab Athrun bohong.

"Kalau begitu, bisakah kau cek jadwalmu bulan depan tanggal 19?"

Athrun beranjak dari tempat tidurnya menuju meja kerja yang tak jauh dari posisi kasurnya. Mencari jurnal kecil bersampul hitam, tempatnya menyimpan jadwal kegiatannya. Ternyata hari itu ada jadwal pertandingan balap.

"Ada apa bu? Aku harus bertemu klien hari itu." Lagi-lagi Athrun berbohong.

"Hmm, kalau tanggal 26 bagaimana?"

Athrun kembali mengecek jadwalnya, ternyata kosong.

"Kosong bu."

"Ah, syukurlah. Tolong kosongkan jadwalmu hari itu nak. Kau dan ayah akan menemani ibu makan malam dengan kerabat lama."

Athrun membatin, kalau bukan karena ia sangat menyayangi ibunya, tentu saja telepon itu tidak akan ia angkat dan sudah pasti ia akan menolak ajakan ibunya mentah-mentah. Namun tentu saja hal itu ia tidak lakukan. Satu-satunya wanita yang ia sayangi adalah ibunya, selain ibunya, semua wanita bagi Athrun hanya menyusahkan dan tidak berguna.

"Baik bu, sudah kucatat. Apa yang tidak akan kulakukan untuk Ibu?" Athrun membalas dengan nada manis yang hanya ia tunjukkan pada ibunya.

"Kau ini, pintar sekali berkata-kata. Ibu masih tidak mengerti kenapa kau masih belum menikah." Terdengar nada bicara ibunya yang kecewa. Namun, Athrun tidak terlalu mengindahkannya.

"Mungkin memang belum berjodoh Bu." Lagi-lagi ia berbohong, untuk kesekian kalinya.

Setelah mengucapkan kata perpisahan, ibunya pun mematikan telepon. Athrun mendesah. Ia lelah dengan permainan ibunya yang menjodohkannya kesana kemari. Ia tahu sekali, mengundangnya makan malam bersama kerabat adalah salah satu kamuflase yang paling sering ibunya lakukan untuk menjodohkannya, yang artinya, lagi-lagi ia harus menjalankan 'misi'-nya.

Athrun menghela nafasnya. Ia merasa lelah dan tidak mau memikirkan makan malam bersama kerabat ibunya yang masih ada dua minggu lagi. Kembali menuju tempat tidurnya, kali ini Athrun berbaring. Ia putuskan hari ini akan tidur lebih awal.

Sambil berbaring ia teringat lagi wajah wanita yang sudah beberapa kali bersilang jalan dengannya itu. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu datang ke apartemen ini untuk menemuinya. Selama ini mereka bertemu secara kebetulan saja, walaupun wanita itu sepertinya tidak menyadarinya. "Cagalli Yula ya." Ia bergumam sambil menutup kedua matanya, tidak lama ia pun tertidur.


Semua peserta balap hari ini sudah bersiap di belakang garis start. Kompetisi road race tingkat kota ORB akan dimulai beberapa detik lagi.

"Cagalli, kau yakin?" Bisik pengendara motor sport biru berhelm hitam di sebelahnya.

"Sudah ikuti saja kataku. Jangan lupa kau harus menghalanginya. Aku akan berusaha memenangkan pertandingan. Satu lagi, jangan terlalu jauh dariku, kalau tidak kita akan kalah karena waktu. Berusaha ambil tempat kedua oke?"

"Copy that."

Bendera diangkat dan pertandingan pun dimulai. Motor hijau Cagalli melaju cepat mencoba mengambil jarak sejauh mungkin dari motor lainnya. Dibenaknya ia hanya punya satu tujuan, bahwa dia akan mengalahkan Athrun Zala.

Cagalli mengambil start dengan cepat, ia berhasil mengambil posisi pertama. Di belakangnya menyusul motor sport biru temannya dan motor merah marun yang dikendarai Athrun. Motor Justice merah marun itu sedang mencoba mengambil sisi kanan agar ia bisa menyalip motor biru di depannya, namun sayangnya pengendara motor biru itu tidak mengijinkannya lewat. Athrun berpikir sejenak lalu ia melambatkan sedikit motornya, memberi jarak yang cukup jauh diantara motornya dengan motor biru di depannya. Pengendara motor biru merasa berhasil dan menjadi sedikit lengah. Saat motor biru sedikit terlihat membuka sisi kanan. Secepat kilat Athrun menerobos dan berhasil mengambil posisi kedua.

Cagalli yang melihatnya merasa kesal dan memutuskan untuk mengubah taktiknya. Cagalli membanting kemudinya, mengambil posisi menghalangi Athrun di depannya.

"SHINN! MAJU!" Teriak Cagalli. Lalu dengan cepat pengemudi motor biru mengambil posisi pertama. Athrun mencoba menerobos dari sisi kanan, namun Cagalli mengambil posisi yang sangat beresiko. Dia sudah hampir di garis batas terluar balapan. Athrun dengan cepat membelokkan kemudi motornya untuk mengambil sisi kiri. Cagalli dengan cepat ikut mengambil posisi di sebelah kiri. Athrun hampir saja menerobos, namun posisi yang Cagalli ambil sangat berbahaya, jika Athrun tetap menerobos, motor Cagalli bisa terguling, ia pun mengurungkan niatnya.

Athrun mencari cara lain, akhirnya ia mencoba cara yang sama dengan saat ia mendistraksi Shinn, tapi berbeda dengan Shinn yang lengah, Cagalli ikut memperlambat motornya, sehingga bagi Athrun masih tidak ada celah untuk menerobos.

Tidak terasa garis finish putaran terakhir tinggal berjarak 300 meter. Melihat Shinn yang sudah lebih dulu menyelesaikan balapannya, Cagalli segera memutar gas motornya di kecepatan maksimum, meninggalkan motor merah marun di belakangnya. Ia pun berhasil mengambil posisi kedua. Cagalli dan Shinn pun berhasil memenangkan pertandingan.

Athrun tidak percaya, rekornya selama ini dipatahkan oleh seorang wanita, baiklah, mungkin bukan hanya seorang wanita. Tapi tetap saja ada unsur wanita di dalamnya. Ia masih tidak mengerti kenapa ia tidak langsung menerobos motor Cagalli tadi. Toh selama ini, ia tidak pernah berbelas kasih dalam pertandingan. Seharusnya ia masa bodoh dengan apa yang terjadi dengan orang lain, tapi tadi rasanya aneh sekali. Apakah karena Cagalli seorang perempuan, maka ia sedikit merasa kasihan? Kalau iya, maka benarlah wanita itu memang menyusahkan.


Pertandingan hari itu selesai. Athrun masih berada di posisi berdiri tidak jauh dari Shinn dan Cagalli yang terlihat sedang bersorak sambil melompat kegirangan. Para penonton yang merupakan pendukung Cagalli mendekati dan berkumpul melingkari mereka, ikut menikmati kegembiraan karena kemenangan tim Cagalli. Mereka sangat gembira, sampai Shinn sepertinya tidak menyadari ada sesuatu yang terjatuh dari saku jaketnya.

Saat kerumunan pendukung mereka mulai berparade membawa mereka menjauh dari tempat awal mereka berdiri. Athrun pun mendekat, ia memungut benda yang terjatuh dari saku Shinn sambil menyeringai. Dengan itu ia pun segera meninggalkan arena pertandingan.


Ting Tong

Myrna kembali membukakan pintu untuk Cagalli. Ia terlihat sangat riang melihat wajah Cagalli kembali datang tidak lama dari kunjungannya yang terakhir.

"Nona Cagalli kau datang lagi! Apakah artinya kau akan sering berkunjung sekarang?" Myrna bertanya dengan heboh, membuat wajah Cagalli sedikit memerah karena malu. Ternyata memang dia sudah dianggap jarang sekali pulang ke rumah.

"Ah, Kira bilang Ayah mau menemuiku hari ini. Jadi kukira aku harus datang." Jawab Cagalli menjelaskan maksud kedatangannya.

"Ayo masuk." Myrna mempersilahkan Cagalli. Cagalli pun memasuki area rumah orang tuanya. Tidak jauh dari pintu masuk, terdapat ruang keluarga yang ternyata sedang digunakan oleh Lacus dan Kira untuk bermain bersama Rhylee. Kira yang melihat adiknya datang, segera menyapa Cagalli dan mengajaknya masuk ke ruangan untuk ikut bermain. Cagalli tersenyum dan dengan senang hati bergabung bersama mereka.

Kira dan Lacus ternyata sedang mengajari Rhylee bermain menyusun balok. Tentu saja Rhylee belum bisa, ia hanya memperhatikan Kira menyusun balok-baloknya, setelahnya Rhylee datang tergopoh-gopoh untuk menghancurkan susunan balok tinggi yang sudah disusun oleh ayahnya. Berkali-kali Rhylee melakukan hal itu. Tidak dengan balok Kira, balok Lacus bahkan balok Cagalli. Suatu kali Cagalli mencoba melindungi baloknya agar Rhylee tidak bisa menghancurkannya, Rhylee pun menangis kencang. Cagalli tertawa puas, ia merasa sangat gemas dengan keponakannya. Dipeluknya keponakan satu-satunya itu dan akhirnya ia persilahkan Rhylee untuk mendorong balok buatannya. Akhirnya Rhylee kembali ceria seketika. Tidak terasa sudah setengah jam mereka bermain. Cagalli sempat lupa dengan tujuan utamanya datang ke rumah itu.

"Jadi Kira, katamu Ayah mau bertemu denganku. Apa aku sebaiknya ke ruangan Ayah?"

"Ah, soal itu-"

Kira gugup, sebenarnya ia tidak berkata jujur. Ayah Uzumi tidak meminta Cagalli kemari, tapi Ibu mereka yang memintanya. Sang Ibu meminta bantuan Kira, agar Cagalli mau ikut makan bersama kerabat lama Ibunya. Kira paham sekali jika ia mengatakan yang sebenarnya sekarang, Cagalli pasti akan marah besar dan sesegera mungkin meninggalkan rumah ini. Kira tahu betul, Cagalli tidak mau lagi dijodohkan oleh ibunya, tapi Kira sangat mendukung Ibunya. Ia pikir, siapa tahu setelah menikah, Cagalli akan berhenti balapan.

"Bagaimana kalau aku saja yang mencari Ayah? Kau disini dulu bersama Lacus dan Rhylee ya."

Lalu Kira bergegas pergi meninggalkan ruang keluarga. Ia berniat mengulur waktu. Setidaknya sampai tamu Ibu mereka datang. Cagalli yang tidak mengetahui rencana Kira, setuju saja. Dia cukup senang bermain bersama Rhylee.

"Keponakanku lucu sekali! Imutnya!" Cagalli berkata sambil mencubit gemas pipi Rhylee yang sedang tersenyum sangat lebar.

"Wah, Cagalli sepertinya mau juga ya. Ayo segera menyusul." Lacus terkekeh, menggodanya. Hubungan mereka berdua memang tidak akrab, tapi cukup dekat untuk bisa bergurau. Mungkin karena perbedaan usia mereka berdua yang tidak terlalu jauh.

"Ti-tidak! Tidak seperti itu Lacus!" Pipi Cagalli merona, Lacus masih tertawa kecil. "Kau tahu, aku menyesal tidak banyak berkunjung dan bermain dengannya." Cagalli melanjutkan.

"Tidak apa Cagalli, untuk kedepannya sering-seringlah berkunjung. Lihat, Rhylee sangat menyukaimu." Lacus tersenyum, melihat anaknya sedang bergumul di perut Cagalli, setengah memeluk bibi pirangnya itu.

"Ya, aku rasa kedepannya aku akan lebih sering berkunjung." Mata Cagalli menghangat, apa begini rasanya memiliki anak. Ah, pikiran macam apa itu, ia sudah punya keponakan yang lucu, untuk apa memiliki anak sendiri?

Ting Tong

Terdengar suara bel pintu depan berbunyi. Cagalli segera berdiri, menyapu segala pikirannya tentang memiliki anak. Ia baru sadar Kira masih belum kembali sejak tadi.

"Sepertinya tamu Ibu sudah datang." Lacus bergumam.

"Tamu?"

Cagalli mengintip dari balik pintu ruang keluarga. Terlihat lorong tempat pintu depan untuk menerima tamu. Ibunya sudah berada di depan pintu masuk, sedang menyambut seorang wanita bersurai biru tua yang datang melalui pintu depan. Wanita itu terlihat seumuran dengan ibunya, mereka kelihatan sedang bersenda gurau.

"Cagalli! Cepat kemari!" Suara ibunya membuyarkan fokusnya yang sedang mengintip, ia sedang menyelidiki wajah sang tamu, mengingat-ingat jika ia mengenalnya, tapi sepertinya tidak. Merapikan pakaiannya, Cagalli keluar sepenuhnya dari ruang keluarga dan menghampiri ibunya. Cagalli cukup penasaran dengan tamu ibunya. Tidak banyak orang yang diundang makan bersama oleh Ibunya di rumah dan wanita ini sepertinya bukan kerabat lama karena Cagalli tidak pernah melihatnya.

"Lenore, ini anak bungsuku, Cagalli." Via memperkenalkan dirinya kepada wanita cantik bersurai biru tua dan bermata teduh itu.

"Halo Cagalli. Aku Lenore. Via, kau yakin dia masih single? Anakmu cantik sekali." Lenore menjabat tangan Cagalli sambil memandangnya dengan hangat. Awalnya Cagalli mengira bahwa Lenore hanya datang sendirian, sampai ia melihat dua pria tinggi menyusul berdiri di belakangnya

"Cagalli, ini Patrick, suamiku." Lenore masih memberikan senyum cantiknya sambil menunjuk ke arah laki-laki paruh baya yang kemungkinan umurnya sudah 50 tahunan. Via sepertinya sudah mengenal Patrick, mereka saling sapa dengan cukup akrab.

Berbeda dengan Lenore yang ceria, wajah Cagalli berubah pucat saat melihat pria yang berdiri di samping Patrick.

"Oh dan tentu saja, aku hampir lupa ini anak semata wayangku, Athrun." Wajah pucat Cagalli semakin menjadi pasi. Seketika lidah Cagalli menjadi kelu, ia tak sanggup berucap. Di sisi lain, Athrun malah dengan ramah menyodorkan tangannya ke arah Cagalli. Cagalli tidak segera membalas jabatan tangan Athrun, ia masih merasa linglung, perasaannya campur aduk.

'Athrun Zala? Ada apa ini? Sebentar, apa ini salah satu acara perjodohan Ibu? Ada apa ini?' otak Cagalli bekerja keras.

"Sepertinya ORB memang sempit sekali ya, Cagalli Yula." Athrun membuyarkan pikiran Cagalli. Ia baru sadar Athrun sedang menyodorkan tangannya. Orang tua Athrun dan Via sedang memandang ke arahnya yang terlihat seperti mengabaikan keramahan Athrun, dengan cepat Cagalli membalas jabatan tangan itu. Setelahnya pikirannya kembali melayang, percakapan di antara tiga tamu itu dengan Ibunya tidak terdengar jelas oleh Cagalli. Kepalanya sedang berpikir keras, mencari jawaban apa yang sebenarnya sedang terjadi.


A.N : Maaci LaNiinaViola, JusticeRouge sama kak elc90, kalian masih baca aja sih padahal geje gini. Aku masih menunggu fic kalian juga loh ya. Maaf klo ceritanya jadi kayak drakor, tolong dimaklumi. I'm always thankful for your kind review and support. See you next chap.

Buat teman-teman yang like dan follow cerita ini makasih ya, ditunggu saran dan kritiknya. Arigatoou.