Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment


Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 5 : Sebuah Ide

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC,

Kata-kata Kasar, Mature Scene, Ga Jelas, Ribet.


Athrun Zala mengira dia hanya akan menjalani "misinya" seperti biasa, ia sudah merencanakan semuanya, ia yakin pertemuan hari itu akan berjalan seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Namun, kenyataan bahwa ibunya akan memperkenalkannya dengan Cagalli, sungguh diluar dugaan. Cagalli Yula, wanita berwarna rambut cerah dan bermanik amber yang sudah beberapa kali bertemu pandang dengannya tanpa sengaja.

Athrun ingat kapan pertama kali mereka berjumpa, saat itu ia sedang mencari suku cadang untuk motornya. Mendengar toko itu adalah toko suku cadang terlengkap di ORB, maka tanpa pikir panjang, Athrun segera mengunjungi toko itu. Di sana tak sengaja ia menabrak Cagalli hingga gadis itu terjatuh, namun karena sedang terburu-buru ia pergi begitu saja, ia cemas karena ibunya menelpon memintanya segera pulang. Hal pertama yang Athrun ingat dari Cagalli waktu itu adalah warna matanya yang menyala keemasan. Tentu saja Athrun menganggap kejadian itu hanya sambil lalu.

Sampai mereka bertemu kembali di pertandingan road race pertamanya di ORB. Athrun sempat tidak yakin bahwa pembalap wanita di sebelahnya itu adalah gadis yang sama dengan yang ia tabrak di toko suku cadang beberapa waktu yang lalu. Namun mata ambernya yang tajam dan menyorotkan semangat itu tidak bisa Athrun lupakan begitu saja. Saat itu Athrun meyakinkan diri bahwa semua itu hanya kebetulan, ia yakin gadis itu tidak akan bertahan lama di pertandingan balap itu. Ternyata Athrun salah besar, tanpa diduga ternyata gadis itu merupakan lawan yang harus ia perhitungkan.

Selain di arena balap, mereka bertemu kembali saat ia menjadi tamu di acara pernikahan Yzak Joule, yang merupakan salah satu klien bisnisnya. Athrun menolong wanita itu dengan menumpahkan isi gelasnya di atas jas seorang pria berambut ungu yang penampilannya sangat eksentrik. Tentu saja Athrun tidak sengaja melakukan hal itu, ia bahkan tidak sadar bahwa wanita itu adalah gadis yang sama sampai iris mata mereka bertatapan. Athrun yang sangat mengenal mata itu sempat curiga, jangan-jangan ia sebenarnya dibuntuti oleh wanita bertubuh langsing itu. Namun nyatanya, hari itu Athrun mengerti, bahwa tidak seperti dirinya, gadis itu sama sekali tidak mengingat Athrun.

Itulah mengapa saat mereka hampir bertabrakan di depan gedung apartemen Athrun, ia menyangka pertemuan itu juga tak disengaja. Ia sama sekali tidak tahu bahwa waktu itu Cagalli sedang mencarinya. Athrun mengerti jika Cagalli tidak mengenalinya. Ia selalu menggunakan helm dan masker saat bertanding, sehingga wajahnya tidak banyak terlihat. Ia memang tidak ingin banyak yang tahu identitas dirinya, karena selama ini ia menyembunyikan hobi balap motor dari kedua orang tuanya.

Sikap dingin dan arogan yang ditunjukkannya kepada Cagalli adalah cara Athrun agar Cagalli tidak mendekat atau memintanya lagi menjadi partner balap di kemudian hari. Cara yang cukup ampuh untuk membuat para wanita yang dikenalkan ibunya tidak betah berlama-lama dengannya, karena pada dasarnya Athrun merasa ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan Cagalli. Athrun merasa hubungan mereka cukup dengan hanya bersilang jalan secara tak sengaja, tidak perlu diubah. Dengan begitu hidupnya akan tetap normal seperti biasanya.

Namun kalkulasi Athrun meleset saat ibunya mengenalkan Cagalli kepadanya minggu itu, sejak saat itupun Athrun mulai mempertanyakan pertemuan-pertemuan mereka. Kenapa di kota sebesar ORB mereka bisa bertemu secara tidak sengaja terus menerus? Tiba-tiba saja sebuah ide gila terlintas di kepalanya.

"Athrun, ada apa Nak? Sejak minggu kemarin kau banyak melamun." Lenore bertanya pada anak semata wayangnya yang sedang duduk di depan televisi, tapi jelas sekali pikirannya sedang mengawang.

"Ah tidak bu. Hanya sedang memikirkan sesuatu." Jawab Athrun yang sekarang tersadar dari lamunannya.

"Hmm, memikirkan Cagalli kah?" Tanya Lenore sambil sedikit menggodanya.

"Hmm, kenapa Ibu berpikir seperti itu?" Athrun tak menyangka Ibunya bisa menebak dengan tepat.

"Ya, karena kau mulai banyak melamun sejak kita pulang dari rumah keluarga Athha minggu lalu. Sayang sekali Cagalli tidak ikut makan bersama kita kemarin. Padahal Ibu ingin sekali mengenalnya. Sepertinya ia anak yang baik dan mandiri kalau dari cerita Via. Dia juga cantik sekali ya, Ibu-"

"Bu." Athrun tiba-tiba memotong pembicaraan Ibunya.

"Ya?"

"Kalau aku menikah, apakah Ibu akan senang?"

"Kenapa kau bertanya begitu?" Menaikkan alisnya sebelah, Lenore agak terkejut dengan pertanyaan Athrun kali ini.

"Kumohon jawab saja." Athrun menjawab sambil tersenyum, membuat Ibunya ikut membalas senyumannya.

"Tentu saja Nak. Ibu akan sangat bahagia dan sangat bersyukur jika anak semata wayang Ibu akhirnya menemukan pendamping." Jawab Lenore sambil tersenyum. Lenore tahu Athrun anak yang baik. Untuk menghormati dirinya, Athrun selalu mengikuti keinginan Lenore untuk dikenalkan kepada gadis-gadis anak teman atau kerabatnya. Walaupun pada akhirnya Athrun selalu bilang pada ibunya bahwa gadis-gadis itu tidak ada yang menyukainya. Padahal ibunya tahu, sebaliknya, gadis-gadis yang ibunya kenalkan, banyak yang tertarik pada Athrun karena wajahnya yang tampan dan bisa dibilang statusnya lebih dari sekedar berkecukupan.

Selama ini, Lenore hanya berpura-pura tidak tahu akan "misi" Athrun menyingkirkan wanita-wanita yang ibunya kenalkan padanya. Athrun tidak sadar bahwa Ibunya mengetahui alasan-alasan para wanita itu berhenti berkencan dengan Athrun. Pernah satu kali, salah satu gadis yang ia kenalkan berkata bahwa selama berkencan Athrun tidak berbicara satu patah kata pun, apa yg si gadis tanyakan tidak ada yang dijawab oleh Athrun, sehingga gadis itu akhirnya pulang lebih awal karena tidak tahan. Athrun juga pernah meninggalkan teman kencannya sendirian di tempat makan tanpa berkata apa-apa, sang gadis sampai menangis karena malu sekali. Tentu saja wanita-wanita itu mundur perlahan. Mereka tidak tahan dengan sikap Athrun. Namun, Lenore tidak marah, dia hanya menganggap bahwa berarti memang belum ada wanita yang bisa menggerakkan hati Athrun dan pasti ada alasan kenapa Athrun bersikap seperti itu terhadap mereka.

Namun Lenore menyadari, ada yang berbeda saat ia memperkenalkan Athrun dengan Cagalli. Di luar ekspektasinya, Athrun ternyata sudah lebih dulu mengenal Cagalli. Lalu di sisi lain, Cagalli juga bukan tipe wanita yang langsung terpesona dengan ketampanan Athrun. Buktinya Cagalli langsung pamit pergi sebelum makan bersama mereka dimulai. Sepertinya gadis itu tidak ingin mengikuti acara "perjodohan" berkedok makan bersama kemarin. Via sampai meminta maaf kepada Lenore berkali-kali. Padahal sebenarnya tidak perlu, Lenore mengerti jika memang Cagalli tidak suka dijodohkan. Lagipula tujuan awal Lenore juga sebenarnya hanya ingin berkunjung ke rumah Via dan menyambung pertemanan mereka yang sempat terputus, acara perjodohan terselubung itu hanya bonus. Anehnya, Athrun agak berbeda setelah pertemuan kemarin. Ada sesuatu yang Athrun pikirkan dan sebagai Ibu, Lenore bisa merasakan hal itu.

"Kata Ibu, Cagalli tidak mau menikah bukan?"

"Ya, begitulah kata Via, tapi kau lihat kan anaknya? Cantik sekali. Tidak mungkin dia tidak populer, kelihatannya juga anaknya baik dan mandiri. Hmm, mungkin agak sedikit tomboy."

"Menurut Ibu apa Cagalli mau menikah denganku?"

"Nak?" Lenore tersentak, ia tidak menduga Athrun mengajukan pertanyaan seperti itu.

"Kalau aku menikah dengan Cagalli, apakah Ibu akan senang?"

"Athrun? Apa kau menyukai Cagalli?" Lenore mencoba membaca wajah Athrun, ia mencoba mencari apa yang sedang anak tunggalnya itu pikirkan, tetapi gagal. Athrun pun tidak menjawab pertanyaannya.

Di sisi lain, Athrun sendiri tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan. Kalau ditanya apakah ia menyukai Cagalli? Jawabannya tidak, tapi tidak dapat dipungkiri ada ketertarikan yang ia rasakan terhadap wanita itu.

Pikiran Athrun kembali kepada ide gila yang tadi sempat muncul di pikirannya. Apa karena Athrun sudah mulai lelah dengan acara perjodohan Ibunya dan Cagalli merupakan salah satu wanita langka yang ia temui maka muncul gagasan seperti itu? Lalu pikirannya mencoba membayangkan ide itu dan ternyata setelah dibayangkan, Athrun merasa ide itu tidak terlalu buruk.


"Lepas!"

Pria itu mencengkram pergelangan tangan Cagalli dengan kencang. Cagalli mencoba melayangkan tinju ke arah wajah pria di depannya itu namun gagal, tangannya malah tertangkap oleh pria bersurai biru itu. Mata mereka bertatapan, wajah pria itu semakin jelas. Bibir tipis, kulitnya yang putih, senyumnya yang dingin.

Pria itu kemudian memeluknya dengan erat. Pelukannya sangat hangat, membuat Cagalli ingin membalas pelukan pria itu. Tanpa disadari air mata Cagalli mulai jatuh, ia tiba-tiba ingat terakhir kalinya ia merasakan dipeluk seperti ini. Sadar bahwa yang ia lakukan sia-sia, akhirnya ia membalas pelukan pria beriris zamrud itu sambil memejamkan matanya.

Cagalli terbangun dari tidur siangnya. Moodnya terjun seketika, memikirkan mimpi yang baru saja ia lewati. Pria yang ada di mimpinya sudah dapat dipastikan adalah Athrun Zala. Matanya yang berwarna hijau emerald, lalu keseluruhan wajahnya yang sudah tidak buram lagi. Dengan perasaan campur aduk Cagalli mengambil ponsel di atas meja di sebelah kasurnya. Dengan segera ia membuka mesin pencarian dan mengetik "Arti memimpikan seseorang berkali-kali."

Lalu muncullah berbagai artikel. Artikel paling direkomendasikan berjudul 5 Arti Mimpi Orang yang Sama Berkali-kali. Cagalli mengklik judul tersebut dan membacanya.

"Hmm tidak ada yang pas, mana mungkin aku merasa bersalah atau rindu padanya atau yang lebih konyol aku memiliki koneksi spiritual dengannya. Yang benar saja?"

Merasa tidak puas Cagalli kembali ke halaman sebelumnya. Lalu mengklik judul artikel di baris kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.

"Aaaah tidak mungkin! Tidak mungkin!"

Cagalli mengacak acak rambutnya merasa kesal dengan hasil pencariannya yang tidak berbuah solusi. Tiba-tiba saja hpnya berdering, menghentikannya dari pencarian absurd itu. Dilihatnya layar ponsel, ternyata telepon dari Shinn Asuka.

"ATHHA!"

"Apa sih? Jangan teriak-teriak kalau telepon, kupingku sakit tau."

"INI GAWAT!"

"Kubilang bicara pelan-pelan Shinn!!"

"AKU PANIK! Aku menjatuhkan sesuatu yang sangat penting, aku sudah mencarinya sejak pertandingan terakhir kita tapi tidak ketemu!"

"Apa yang hilang Shinn? Kalau bicara yang jelas!"

"Sesuatu yang sangat penting. Oh, aku yakin kau pasti akan membunuhku jika kau tahu."


Makasih banyak buat supportnya *

elc90 : memang ga ada yang bisa ngalahin emak emak kapanpun dimanapun yaah, apalagi yang sen kanan belok kiri, wkwkwk

Unlimited Lost Works : wah, jadi bacanya diloncat ya? emang ngerti? hehehe, makasih yaa udah dibaca dan direview. pertanyaannya kejawab yah di chapter ini hohoho.

LaNiinaViola : dia ga ada maksud lain kok, cuma dia agak sedikit heran, kok ketemu cagalli dimana-mana, maap bang jodoh emang ga kemana.

A.N : untuk kedepannya kayaknya saya mau bikin chapternya pendek-pendek deh, saya sadar klo selama ini kayaknya chapternya kepanjangan, jadi pada bosen. hahaha. makasih ya guys reviewnyaa, ditunggu next chapnya~~