Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment


Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 7 : Kontrak Nikah

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan Mature Scene, Ga Jelas, Ribet.


Sinar matahari pukul 8 pagi sudah meninggi, cahayanya pun masuk menerangi kamar Cagalli dan membuat penghuninya menggeliat terbangun dari tidur. Terduduk di tempat tidurnya, ia menyadari hari ini adalah akhir pekan yang berarti ia akan libur kerja dan banyak beraktivitas di rumah saja. Sambil menghela nafasnya, Cagalli kembali teringat dengan permasalahan yang sedang dihadapinya.

Hampir dua minggu terlewati sejak Athrun mengajaknya menikah kontrak. Cagalli masih belum bisa memutuskan langkah apa yang akan ia pilih. Awalnya ia ingin meminta pendapat Shiho untuk membantunya, namun setelah dipikir-pikir akhirnya ia mengurungkan niatnya. Cagalli paham, walaupun Shiho masih sahabat dekatnya, tetap saja sekarang sahabatnya itu sudah menikah dan pasti banyak hal penting dalam rumah tangganya yang lebih penting untuk ia pikirkan dibandingkan mendengar masalah yang Cagalli hadapi.

Bersyukurnya, dua pekan ini pekerjaan editorial di kantornya cukup banyak, membuat Cagalli tidak terlalu memikirkan masalah Athrun. Walaupun tetap saja pada malam hari atau akhir pekan, kurangnya aktivitas membuat dia kembali memikirkan masalah pelik tersebut.

Sejujurnya kalau disuruh memilih, tentu saja Cagalli sangat tidak ingin berhenti balapan, kalau saja permintaan Athrun tidak seperti itu mungkin Cagalli dengan mudah menerimanya. Namun, permintaan Athrun bukan hal sepele, walaupun mereka hanya menikah kontrak, tetap saja mereka akan menikah secara sah dan legal di awalnya, yang berbeda hanya bagaimana mereka menjalani kehidupan rumah tangga itu nantinya. Permintaan Athrun adalah hal yang besar, maka dari itu ia tidak bisa tergesa-gesa untuk menyetujuinya. Jika kasus terburuknya adalah Cagalli menolak pengajuan Athrun dan merelakan hobi balapnya, maka yang akan dikorbankan dengan keputusan ini adalah Shinn. Walaupun Cagalli sering terganggu dengan kehadiran Shinn, tetap saja ia tidak tega jika Shinn harus terkena dampaknya karena sebenarnya ialah yang mengajak Shinn demi kepentingan pribadinya.

"Aaaaaaaargh, ini gila!" Gerutu Cagalli sambil mengacak-acak rambutnya.

Ting tong ting tong

Ting tong ting tong

Terdengar suara bel apartemen Cagalli yang ditekan dengan terburu-buru, membuyarkan lamunannya. Jelas sekali siapapun yang datang berkunjung sepertinya tidak sabar ingin segera dibukakan pintu.

"Siapa yang datang Sabtu pagi begini?" Tanya Cagalli pada dirinya sendiri. Seingatnya tidak ada janji temu dengan siapapun hari ini. Ia juga tidak berbelanja online minggu ini, jadi tidak mungkin ada kurir yang datang ke apartemennya. Dengan malas ia bangkit dari tempat tidurnya menuju pintu depan untuk melihat siapa yang mengunjunginya.

Ting tong ting tong

Ting tong ting tong

"Sabar!" Cagalli pun bergegas, rasanya ia akan menyemprot siapapun yang sekarang berada di depan apartemennya. Benar-benar merusak ketentraman di akhir pekannya. "Siapa sih?!" Cagalli membuka pintu apartemennya sambil berteriak. Membulatlah kedua bola mata Cagalli saat yang ia lihat di depannya adalah pria yang sudah mengganggu ketenangan batinnya selama dua minggu ini.

"Ath-Athrun?"

Tanpa menjawab, pria yang lebih tinggi dari Cagalli itu langsung menerobos masuk ke dalam apartemen Cagalli tanpa dipersilahkan. Ia juga tanpa rasa malu langsung duduk di sofa abu di depan televisi kesayangan Cagalli. Cagalli yang seakan tidak percaya apa yang sedang terjadi hanya bisa menganga, terdiam tak mampu berkata-kata. Dia bertanya dalam hati, apakah semua ini hanya khayalannya?

"Ini sudah dua minggu dan kau tidak menghubungiku." Athrun sadar Cagalli masih shock dengan kedatangannya, maka ia berinisiatif membuka pembicaraan.

"Ka-kau? Ba-bagaimana? Apartemen? Bagaimana?" Cagalli tergagap, ia tak bisa berkata dengan jelas. Kejadiannya terlalu cepat, membuatnya sulit berpikir jernih.

"Kau-" mata Athrun menyisir penampilan Cagalli dari atas ke bawah. "Mungkin sebaiknya kau mandi dulu sebelum kita mulai bicara." Ia menahan sedikit tawanya. Tidak pernah sekalipun ia melihat seorang wanita yang dijodohkan dengannya berpenampilan seperti itu di depannya. Ini pertama kalinya dan buatnya ini cukup menghibur.

"Apa?" Cagalli mengikuti arah pandangan Athrun ke arah badannya, ia pun sadar bahwa ia masih memakai piyama bergambar pikachu berwarna kuning kesukaannya, pipi Cagalli memerah, dengan segera ia berlari ke kamarnya tanpa keraguan meninggalkan Athrun sendirian di ruang tamu.


Athrun tersenyum kecil, sungguh ia tidak menyangka bahwa Cagalli akan menyambutnya dengan piyama bergambar salah satu karakter pokemon yang cukup terkenal. Rasanya hal itu sangat kekanak-kanakan dan membuat Athrun berpikir bahwa Cagalli adalah wanita yang aneh.

Sambil duduk menunggu, Athrun memutuskan memeriksa ponsel pintarnya, pekerjaannya sebagai pengusaha yang bergerak di bidang internet marketer sekaligus software programmer membuatnya harus sering berkutat dengan handphone dan laptop. Kelebihannya, dengan karir itu ia bebas menentukan jadwal kerjanya sendiri. Ia tinggal menentukan deadline kerja dengan klien, Athrun bisa mengerjakannya kapan saja asal selesai sebelum deadline berakhir. Tentu saja ia tidak bekerja sendirian, ia memiliki dua orang teman yang bekerja secara tim dengannya. Sekali lagi walaupun bekerja secara tim, mereka mengerjakan semuanya dengan fleksibel.

Sudah 15 menit berlalu, Cagalli sudah selesai mandi dan berpakaian dengan pantas. Ia pun kembali ke ruang tamu dan duduk di sebuah kursi kayu coklat di sebelah sofa abu yang Athrun duduki.

"Oke, cepat katakan, apa kau menguntitku?!" Tiba-tiba pertanyaan yang ada di benaknya semenjak ia mandi, terlontar begitu saja. Pikirannya bekerja keras sekali selama ia berada di kamar mandi. Memikirkan bagaimana pria itu bisa tahu dimana apartemennya dan untuk apa ia datang.

"Aku tidak punya waktu untuk menguntitmu." Jawab Athrun singkat, masih sambil mengecek ponselnya. Ternyata ada satu request dari klien baru yang masuk.

"Lalu? Jangan-jangan kau juga bertanya pada Sai?" Cagalli tiba-tiba ingat bagaimana ia mendapatkan alamat apartemen Athrun. Ia baru sadar, mengapa semua cara yang ia lakukan yang berhubungan dengan Athrun selalu ia lalui secara ilegal?

"Sai?" Kening Athrun mengerut sambil menutup ponselnya, ia mencoba mengingat-ingat nama yang baru saja disebutkan Cagalli. "Ah salah satu panitia road race ya? Jadi benar dugaanku, kau mendapatkan alamat apartemenku dari sana."

Tercekat, bukannya mendapatkan jawaban, Cagalli malah membongkar rahasianya dengan Sai. Pura-pura tidak mendengar pernyataan Athrun, Cagalli meneruskan interogasi nya. "Lalu? Dari mana?"

"Dari ibuku tentu saja, dia bertanya pada ibumu." Menghela napas dalam-dalam, Cagalli mencoba menahan emosi, bisa-bisanya Athrun menanyakan alamat apartemennya pada sang ibu dan yang membuat ia semakin panas, sang ibu juga dengan mudahnya memberikan alamat apartemennya. Bagaimana kalau Athrun bukan pria baik-baik?

Menimbang-nimbang langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya, Cagalli akhirnya memutuskan untuk berdiskusi dengan Athrun baik-baik. Ia sadar posisinya tidak menguntungkan dan langsung mengusirnya sekarang tidak akan menyelesaikan masalah. Ia harus mencoba saling bertukar pikiran dan pendapat secara terbuka dan "manusiawi" dengan Athrun. Siapa tahu dengan itu, Athrun mau berubah pikiran.

"Athrun, jujur saja aku belum bisa memutuskan apapun. Makanya aku belum menghubungimu." Ujar Cagalli, mencoba bersikap setenang mungkin, meredam amarahnya. "Selama dua minggu ini aku juga sudah memikirkannya berulang kali, tapi aku masih belum mendapatkan jawaban yang tepat." Mendapatkan masih tidak ada respon dari pria di depannya Cagalli pun melanjutkan, "Athrun, bagaimana kalau permintaanmu kau ubah? Bagaimana dengan pacaran pura-pura saja? Pernikahan itu sakral, aku tidak yakin aku bisa membohongi orang-orang terdekatku soal hal sebesar itu. Please?"

"Baca kontrak ini."

Athrun tidak menjawab pertanyaan Cagalli tapi hanya menyerahkan kepadanya empat lembar kertas yang sudah dijepit sebuah klip dengan rapi. Cagalli membaca isinya dan ia pun terkejut dengan apa yang sudah tertulis di atasnya. Kertas yang Athrun berikan kepadanya berisi kontrak pernikahan di antara mereka, lengkap dengan pasal-pasal yang menjelaskan detail kontrak tersebut. Ternyata Athrun sudah merencanakannya sejauh itu, itu berarti akan sangat sulit merubah pikirannya atau kemungkinan besar ia tidak akan merubahnya sama sekali.

"Ini?"

"Aku sudah bilang, kau harus menerima tawaranku."

"Athrun Zala jangan keras kepala!"

"Ada alasannya, kenapa harus dengan kau, oke? Aku tidak bisa menjelaskan sepenuhnya tapi salah satunya karena kau tidak ingin menikah, artinya jika nanti kita pun berpisah, tidak akan ada masalah berarti karena pada awalnya kita sama-sama tidak menginginkan pernikahan." Dalam hati pun sebenarnya Athrun tidak tahu mengapa harus Cagalli yang menjalani pernikahan kontrak dengannya. Namun, Athrun yakin kalau bukan karena Cagalli, ide seperti ini tidak akan terlintas di pikirannya.

"Lalu kau ingin aku menerima tawaranmu padahal kau sendiri tidak bisa menjelaskan semua alasanmu padaku?"

"Cagalli." Mata Athrun menatap Cagalli dalam.

Deg

Hati Cagalli mencelos, ia merasa tatapan Athrun itu sangat familiar. Tatapan mata hijau emerald itu dapat membungkamnya seketika, seperti dalam mimpinya.

"Tidak ada ruginya bukan? Kau bisa menyenangkan ibumu sekaligus terlepas dari tekanan harus menikah yang notabene tidak kau inginkan. Kau dan Shinn pun bisa menghindari hukuman dan tetap balapan seperti biasa. Apa yang membuatmu tidak mau menerima tawaranku?" Athrun berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Ini kesempatanmu, untuk terlepas dari pernikahan sungguhan Cagalli, tidakkah kau melihat ini ide yang brilian?"

"Aku tidak yakin-"

"Kalau begitu setahun?"

"Athrun?" Cagalli tidak tahu mengapa Athrun memaksanya untuk melakukan hal ini. Padahal ia bisa saja memilih orang lain untuk menjalani kontrak seperti ini. Perasaan seperti ini, sedikit membangkitkan serpihan masa lalu yang sudah ia kubur sejak lama.

"Cagalli, aku sudah putuskan. Kau harus ikut aku ke Scandinavia."

"Eh?"

"Aku tidak menerima penolakan kau tahu?" Pria itu memberikan senyum termanisnya pada Cagalli, membuat bibirnya secara otomatis ikut merekah.

Cagalli menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan apa yang baru saja terlintas di kepalanya. Athrun mungkin benar, apa ruginya ia menerima pernikahan kontrak ini. Di dalam kontrak yang ia baca pun tertulis hal-hal yang menguntungkannya. Seperti, ia tidak perlu bertugas menjadi istri sama sekali dan ia bisa terus balapan tanpa takut rahasia Shinn terbongkar. Bahkan ada satu pasal tertulis bahwa Athrun akan memberinya uang saku setiap bulan sebagai gaji dari pernikahan kontrak yang ia jalani. Tugas utamanya hanyalah berpura-pura menjadi pasangan yang baik di depan orang-orang yang mereka kenali. Selain itu tidak ada, Cagalli bebas melakukan apa yang ia mau. Athrun tidak akan mengaturnya. Mungkin memang ini menguntungkan, apalagi Athrun mau mengurangi masa kontraknya menjadi hanya setahun. Selain berbagai keuntungan tadi, Cagalli juga akan membuat Shinn terbebas dari masalah dan mungkin Sai juga.

"Jadi kau sudah yakin?" Tanya Cagalli memastikan.

Pria itu mengangguk kecil. Lalu dengan agak ragu, Cagalli pun membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang tadi Athrun berikan kepadanya.

"Bolehkah aku bertanya? Kenapa di pasal 4 aku tidak boleh memberitahu orang tuamu tentang hobi balapmu?" Cagalli bertanya selesai menandatangani halaman kedua.

"Anggap saja, hal itu tidak baik untuk kesehatan ibuku. Jangan lupa tanda tangan di dua halaman berikutnya juga."

Sekali lagi Cagalli menatap Athrun, masih ada sedikit rasa sangsi dalam hatinya. Ia masih tidak menyangka akan setuju menikah dengan laki-laki yang baru saja ia kenal kurang dari 2 bulan. Walau kontrak, tetap saja mereka akan benar-benar melangsungkan upacara dan mengurus surat-surat pernikahan mereka secara resmi. Mendesah, ia pun melanjutkan menandatangani halaman yang belum ia tandatangani. Setelah Cagalli selesai, Athrun segera beranjak berdiri dari sofa yang ia duduki. Ia bilang ia akan mengurus surat-surat pernikahan mereka secepatnya. Athrun meminta pernikahan mereka dilaksanakan sebulan lagi, karena semakin cepat semakin baik. Athrun juga mewanti-wanti dirinya bahwa sebaiknya pernikahan mereka tidak akan diadakan besar-besaran, karena semakin sedikit orang yang tahu, akan lebih baik. Sebelum Athrun membuka pintu, Cagalli menahannya.

"Athrun, ini artinya kau akan melepaskan Shinn dan Sai 'kan?"

"Aku selalu memegang kata-kataku." Ucap Athrun singkat, lalu ia pun meninggalkan apartemen Cagalli. Menutup pintu dan matanya, Cagalli berharap semua ini hanya mimpi dan ia berdoa agar mimpi buruk ini segera berakhir.