Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 8 : Reason

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC,

Kata-kata Kasar, Kemungkinan Mature Scene, Ga Jelas, Ribet.


"Kau menggunakan piyama karakter lagi?" Pria berkepala biru tua itu berkomentar sambil duduk di atas kursi meja makan. Di depannya sudah ada laptop dan secangkir kopi yang terletak di atas meja.

"Bukan urusanmu 'kan?" Cagalli membalasnya dengan ketus. Hari masih pagi tapi Athrun sudah mengajaknya ribut. Sebulan lebih mengenal Athrun, seharusnya Cagalli sudah semakin terbiasa dengan berbagai sindiran dan sikap dingin dari suami kontraknya itu. Hanya saja setiap mendengar ejekannya tetap saja ada rasa kesal yang terlintas di benak Cagalli.

Hampir seminggu sudah mereka tinggal bersama sebagai "suami dan istri" di sebuah rumah bertingkat dua di pinggiran kota ORB. Tiga minggu sebelum pernikahan mereka, Athrun sudah mendapatkan rumah sewa yang akan mereka tempati bersama. Tentu saja Athrun mencari rumah yang cukup besar, agar mereka bisa tinggal di kamar yang berbeda dan memiliki ruang untuk beraktivitas tanpa merasa terganggu satu sama lain. Athrun juga cukup berpikir visioner, tidak hanya mencari, ia juga melengkapi rumah tersebut dengan berbagai furniture dan perabot rumah tangga, sehingga rumah tersebut nyaman untuk langsung ditempati. Sebagian perabotan yang ada di rumah tersebut adalah perabot baru, tapi banyak juga barang-barang Athrun yang lama karena ia harus memindahkan semua barangnya yang berada di rumah orang tuanya ke rumah itu, agar tidak dicurigai. Berbeda dengan Athrun, Cagalli hanya membawa sedikit sekali barang ke rumah itu, ia masih menyimpan sebagian besar barang di apartemen lamanya. Ia tidak berniat untuk memindahkannya, karena ia pikir mereka hanya setahun tinggal bersama.

Pernikahan mereka berlangsung di akhir pekan minggu lalu. Pesta pernikahan yang cepat dan sederhana saja, hanya dihadiri keluarga besar inti dan beberapa kerabat dekat. Awalnya orang tua mereka, terutama Patrick dan Uzumi, menentang habis-habisan saat mereka diberitahu bahwa Athrun dan Cagalli hanya ingin mengundang segelintir orang. Bagi Patrick dan Uzumi yang notabene memiliki banyak koneksi, mengundang sedikit orang adalah hal yang tidak memungkinkan dan pasti mengundang banyak pertanyaan. Namun Athrun tetap berkeras agar pernikahan mereka hanya dihadiri orang-orang terdekat saja, karena menurut Athrun, inti pernikahan itu sendiri bukan pada tamu undangan. Setelah berdebat cukup alot selama beberapa hari, Athrun pun berhasil meyakinkan orang tua mereka. Cagalli sebenarnya tidak terlalu paham bagaimana Athrun akhirnya bisa meyakinkan mereka, bahkan jujur ia sempat berharap pernikahan mereka akan batal karena selisih paham tersebut, namun sayangnya ternyata Athrun dapat memenangkan perdebatan itu.

Athrun sepertinya memutuskan untuk tidak membalas lagi kata-kata Cagalli, ia hanya menenggak kopinya dalam diam sambil mengalihkan fokus pandangannya ke laptop yang berada di atas meja makan.

'Dasar sok keren, apa salahnya memakai piyama karakter?' gerutu Cagalli dalam hati. Awalnya Cagalli memang malu, namun setelah dipikir-pikir untuk apa juga ia memikirkan penampilannya di depan Athrun. Ia lebih memilih kenyamanan dibanding memikirkan apa pendapat Athrun terhadap pilihan pakaian tidurnya, lagipula pakaian tidurnya cukup sopan, hanya gambarnya saja yang seperti anak-anak. Seharusnya tidak mengganggu atau merugikan siapapun.

Dengan cepat Cagalli berjalan mengambil roti tawar yang berada di atas kulkas dan duduk di belakang meja di seberang Athrun untuk mengoleskan selai coklat di atas rotinya.

Ruang makan dan dapur di rumah besar itu hanya ada satu, mau tidak mau mereka akan berpapasan saat jam makan, terutama saat sarapan, karena mereka biasanya belum beraktivitas di luar. Sambil Cagalli memakan roti coklatnya, ia memperhatikan penampilan suaminya. Ini masih pukul sembilan pagi di hari Sabtu, tapi pakaian Athrun sudah sangat rapi dengan kemeja lengan pendek berwarna biru muda dan celana bahan berwarna hitam, mungkin hari ini ia akan bertemu klien, pikir Cagalli.

Cagalli sadar benar, banyak hal yang sudah ia pelajari tentang Athrun selama mereka mempersiapkan pernikahan dan hampir seminggu tinggal bersama. Pertama, Athrun adalah orang yang sangat terorganisir dan rapi. Semua yang sudah dan akan ia kerjakan sudah ia catat dalam jurnalnya. Jarang sekali Athrun melewatkan sesuatu, bahkan Cagalli sempat terbantu beberapa kali oleh jurnal Athrun. Ia hampir saja melewatkan beberapa hal dari persiapan pernikahan mereka. Kedua, sekali Athrun punya keinginan, ia akan berusaha untuk mendapatkannya, dengan kata lain, dia adalah orang yang keras kepala. Jika sudah memiliki tujuan, ia akan berusaha mendapatkannya. Ketiga, sifat asli Athrun cenderung pendiam, tapi jika sudah berbicara mulutnya sangat tajam dan sedikit arogan. Ia tidak akan beramah tamah kepada orang lain yang tidak memiliki keuntungan baginya, terutama terhadap wanita. Namun saat berhadapan dengan Ibunya dan orang lain yang ia anggap menguntungkan, ia akan berubah 180 derajat menjadi pria yang sangat manis. Ia sangat pandai berakting, bahkan menurut Cagalli akting Athrun bisa jadi mengalahkan aktor-aktor papan atas ORB. Selama persiapan pesta pernikahan kemarin Athrun bersikap sangat baik di depan keluarga Cagalli, sampai ibu Cagalli sempat berkata padanya bahwa ia bersyukur sekali memiliki menantu seperti Athrun. Cagalli yang melihat adegan itu dengan mata kepalanya sendiri rasanya mau muntah, saat itu ia ingin sekali membeberkan pada ibunya sifat asli Athrun seperti apa.

Mengingat akting Athrun, pikiran Cagalli pun sedikit mundur ke acara pertemuan keluarga, saat mereka memberitahu rencana pernikahan mereka.

"Me-menikah? Cagalli dan nak Athrun? Kalian tidak bercanda?" Via terkesiap.

"Kami tidak bercanda, Bi. Kami memutuskan untuk menikah." Athrun menjawab pertanyaan Via dengan tenang.

"Cagalli?" Kira menyangsikannya. "Kau serius? Kau tidak main-main 'kan? Kalian sudah kenal berapa lama? Apa tidak terlalu cepat?" Berentet pertanyaan dari Kira, tidak dapat Cagalli jawab. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Cagalli sadar, walaupun ia sudah latihan berkali-kali untuk menghadapi hari itu. Namun tetap saja, kemampuan berbohongnya memang di bawah rata-rata.

"Kau pasti terkejut ya Kira? Aku mengerti keterkejutanmu. Tapi percayalah, kami sudah membicarakannya dengan serius, ya 'kan Cagalli?" Athrun lagi-lagi menjawab dengan rileks, sungguh luar biasa, Cagalli takjub bukan main dengan akting pria yang duduk di sampingnya itu.

"B-benar Kira, kami sudah membicarakannya." Cagalli memaksa senyumnya. Dalam hati Cagalli ingin memberitahu Kira bahwa ia terpaksa melakukan semua ini. Ia ingin sekali meminta bantuan Kira untuk mengeluarkannya dari situasi ini, tapi lidah Cagalli kelu. Ia ingat ia sudah berjanji dan menandatangani kontrak pernikahan gila itu. Tidak ada jalan kembali baginya.

"Cagalli dan aku sangat menyukai satu sama lain. Jadi, restuilah kami." Lagi-lagi Athrun mencoba meyakinkan keluarga mereka, kali ini ia sambil merengkuh pundak Cagalli. Mungkin agar aktingnya terlihat lebih meyakinkan lagi.

"Oh, nak, tentu saja kalian akan mendapatkan restu langsung dariku! Via, kita akan menjadi besan!" Lenore yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. Awalnya Cagalli merasa Lenore mencurigai mereka karena sejak mereka memberitahu rencana pernikahan itu Lenore diam saja, namun mendengar respon Lenore sepertinya Cagalli salah menduga.

"Baiklah, kalau begitu, saatnya kita mempersiapkan pernikahan! Oh, aku tidak sabar!" Jawab Via dengan wajah paling sumringah yang pernah Cagalli lihat.

Cagalli mendesah, ia jadi teringat saat ia mengabarkan kepada Shiho tentang rencana pernikahannya, reaksi Shiho yang pertama keluar adalah tertawa. Shiho menganggap Cagalli hanya bercanda. Namun, saat Shiho sadar bahwa Cagalli mengatakan hal yang sebenarnya, sang sahabat pun terdiam dan memberikannya berbagai macam pertanyaan tentang hubungannya dengan Athrun secara mendetail. Shiho patut curiga, sebagai sahabat baik Cagalli, Shiho paling mengerti bagaimana sifat dan sejarah percintaan Cagalli. Menurut Shiho rencana pernikahan Cagalli itu sangat tidak logis dan seperti bukan dirinya. Shiho merasa jika Cagalli mau menikah, Ahmed adalah pilihan yang lebih tepat dibanding Athrun yang baru Cagalli kenal selama 2 bulan. Desakan Shiho membuat Cagalli yang tidak terlalu pandai berbohong hampir saja membocorkan rahasianya. Namun, takdir berkata lain, Athrun tiba-tiba datang berkunjung ke apartemen Cagalli, mendistraksi pembicaraan mereka. Setelahnya, Shiho dan Cagalli belum sempat lagi berbicara secara privat.

Merasa ada sepasang mata yang sedang mengintainya, Athrun menoleh ke arah Cagalli. Cagalli yang terkejut karena tertangkap basah sedang memperhatikan Athrun segera memberi pernyataan, "Aku hari ini akan menginap di apartemenku!", ucap Cagalli setengah berteriak. Wajah Athrun hanya memandang Cagalli datar, sedikit mengerutkan keningnya, ia berkata, "Oke."

Lalu keadaan kembali sunyi. Athrun kembali mengetik cepat di atas laptopnya, Cagalli pun meneruskan mengunyah rotinya dalam diam. Jujur saja Cagalli sebenarnya bosan, dia bukan tipe orang yang suka dengan kesenyapan seperti ini, tapi daripada mendengar sindiran-sindiran Athrun yang menyebalkan dan membuatnya naik darah, keheningan seperti ini jauh lebih baik.

"Cagalli." Tiba-tiba Athrun membuka pembicaraan lagi. "Soal hadiah pernikahan yang ada di ruang tamu aku serahkan padamu. Kau mau membukanya atau menyimpannya di gudang itu pilihanmu."

"Sebanyak itu? Aku akan mengurusnya sendirian?" Walau mereka mengundang hanya segelintir orang, namun kerabat dan koneksi Uzumi-Patrick tetap mengirimkan hadiah kepada mereka.

"Apa kau tidak bisa melakukan hal semudah itu?" Alis mata kanan Athrun meninggi.

"Kau harus membantuku, kau tidak lihat berapa banyak hadiahnya? Kalau aku mengerjakannya sendirian bisa-bisa aku menyelesaikannya tengah malam?" Tentu saja Cagalli menolak.

"Hhh, baiklah akan kubantu. Mungkin besok, jam 8 pagi? Hmm, mungkin terlalu pagi, aku tidak yakin kau sudah bangun. Kalau begitu jam 10 pagi saja."

'Sialan! Lagi-lagi pria ini meremehkanku! Dasar kepala biru!' Cagalli mengumpat dalam hati. Menghela napasnya, ia memutuskan untuk bersikap tenang menghadapi orang di depannya ini, kalau tidak, kepalanya akan cepat panas dan dia akan cepat kalah.

"Besok? Berarti aku tidak jadi pulang ke apartemenku? Asal kau tahu tuan Zala, aku bisa bangun lebih pagi dari yang kau-"

Tiririt tiririt tiririt

Sebelum Cagalli bisa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba bunyi handphone Athrun berdering, menghentikan paksa percakapan mereka. Athrun membaca caller ID di layar handphone nya dan segera mengangkat telepon tersebut.

"Ya, Ayah?"

Lalu sunyi, wajah Athrun yang sejak tadi tenang tiba-tiba berubah gelisah. Ia terlihat cemas dan khawatir. Cagalli hampir tidak pernah melihat Athrun berekspresi seperti itu, kecuali dua minggu yang lalu, saat Lenore mendadak terhuyung ketika menemani Cagalli dan Athrun memilih baju untuk pernikahan mereka. Cagalli ingat sekali, saat itu wajah Athrun berubah menjadi resah.

"Baik Yah. Aku kesana secepatnya." Athrun menyudahi pembicaraan dan menutup teleponnya. Cagalli penasaran dengan apa yang terjadi, tapi tidak berani melontarkan pertanyaannya. Ia takut hal itu menyinggung ranah pribadi Athrun.

"Ibuku masuk rumah sakit." Tanpa ditanya ternyata Athrun memberitahunya."Aku akan kesana sekarang."

"Kalau begitu sebaiknya aku ikut." Cagalli menjawab cepat.

"Ikut?"

"Tidak mungkin sebagai istri barumu aku tidak ikut 'kan? Tunggu aku, hanya 5 menit!" Tidak mendengar respon Athrun, Cagalli menelan semua rotinya dan langsung bergegas menuju kamarnya.


Dalam perjalanan mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Athrun terlihat sangat khawatir dengan keadaan ibunya, ia fokus memperhatikan jalan sambil mengemudi. Cagalli yakin Athrun sangat cemas, suami kontraknya itu bahkan tidak sempat menghabiskan kopinya tadi pagi. Saat Cagalli sudah siap pergi, Athrun sudah berada di dalam mobil, telat sedikit saja, Athrun sudah siap meninggalkan Cagalli di rumah.

"Ibumu sudah baik-baik saja, masa kritis sudah lewat." Patrick memberitahu Athrun sesampainya mereka di rumah sakit. "Aku akan pulang ke rumah untuk mengurus beberapa hal. Aku akan kembali lagi siang hari."

Athrun hanya mengangguk. Setelah Patrick pergi, Athrun langsung terduduk lesu di samping ranjang ibunya yang masih berbaring tak sadarkan diri. Cagalli memilih berdiri di sebelah Athrun, tanpa berkata apapun sambil memperhatikan gerak gerik suaminya. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa pengaruh Lenore sangat besar terhadap Athrun. Ia mengira Athrun hanya laki-laki arogan yang selalu memikirkan diri dan kepentingannya sendiri. Tipe pria seperti itu biasanya tidak terlalu peduli pada orang tuanya. Namun sepertinya lagi-lagi Cagalli salah, Athrun terlihat sangat terpukul melihat kondisi ibunya. Athrun yang bersedih seperti saat ini merupakan pemandangan asing baginya, mau tidak mau rasa ibanya yang sejak tadi sudah muncul, tidak dapat dibendung lagi.

"Kau tidak apa Athrun?" akhirnya Cagalli memberanikan diri bertanya. Sayangnya respon yang ia dapatkan bukan respon yang hangat.

"Kau sebaiknya pulang. Ibuku masih tidak sadarkan diri, tidak akan ada bedanya kau ada disini atau tidak." jawab Athrun dingin. Cagalli mendesah, ingin sekali rasanya ia mencekik Athrun dan berkata 'Hentikan permainan sok dinginmu itu!' namun tentu saja ia tidak melakukannya, ia masih waras dan memiliki kesabaran yang cukup luas. Cagalli berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya sebelum akhirnya keluar dari kamar rawat itu. Athrun masih terduduk lemas di samping ibunya, tidak terlalu peduli dengan Cagalli yang sudah meninggalkannya. Melihat ibunya terbaring lemah di atas tempat tidur, ia merasa sangat tidak berdaya.


15 menit berlalu sejak Cagalli keluar dari ruangan, terdengar suara pintu ruang rawat terbuka lagi. Athrun pun membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang, agak aneh jika ayahnya yang datang karena baru saja ia pergi. Athrun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Cagalli yang ternyata kembali. Cagalli berjalan menghampiri Athrun dan mengulurkannya sebungkus roti.

"Makanlah, kau hanya minum kopi tadi pagi kan?" Ujar Cagalli. Athrun tidak merespon, ia terlalu kaget, ia mengira Cagalli sudah pulang.

"Tidak perlu berpikir macam-macam. Aku hanya kasihan pada ibumu jika kau ikut sakit karena tidak makan. Ibumu bukannya semakin sehat, pikirannya malah akan tambah terbebani."

Athrun mengalihkan pandangannya ke bungkus roti di tangan Cagalli. Roti rasa peach, roti yang ditawarkan Cagalli adalah roti kesukaannya. Dari berbagai macam roti yang bisa Cagalli berikan, Cagalli membelikannya roti kesukaannya. Roti yang tidak lazim orang membelinya. Sebenarnya memang perutnya sedikit lapar karena sekarang sudah pukul 11 siang dan ia belum makan apapun sejak tadi pagi. Ia bahkan meninggalkan kopinya tanpa dihabiskan. Dengan Cagalli memberikannya roti rasa peach, semakin sulit untuknya menolak tawaran Cagalli. Tanpa sadar ia mengambil roti dari tangan Cagalli dan mulai menyantapnya.

"Kau benar, sebaiknya aku pulang, apartemenku hanya 10 menit dari sini. Kabari aku jika ibumu sudah siuman. Walaupun dia bukan ibu kandungku, tapi beberapa minggu kemarin Ibumu sudah bersikap sangat baik padaku." Athrun tidak merespon pernyataan Cagalli. Cagalli juga tidak mengharapkan respon dari Athrun. Untuknya, Athrun mau menerima roti yang ia tawarkan tanpa berkomentar saja sudah sangat bagus. Memastikan Athrun telah memakan roti darinya, Cagalli pun beranjak menuju pintu keluar. Namun, tangan Athrun refleks menariknya.

"Kau naik apa? Tadi 'kan kau naik mobil bersamaku." Akhirnya Athrun bersuara. Athrun baru ingat Cagalli tidak membawa kendaraan.

"Aku bisa naik kendaraan umum."

"Tunggulah sebentar, sampai ayahku datang, aku akan mengantarmu pulang."

Cagalli melepas cengkraman tangan Athrun. "Aku bukan anak kecil, Zala! Weeek!" Cagalli menjulurkan lidahnya, mengejek Athrun, berharap suasana hati Athrun sedikit lebih baik dengan melihat kelakuannya. Tersenyum kecil, Cagalli pun berbalik, meninggalkan Athrun dan Ibunya di ruang rawat itu. Athrun tertegun melihat apa yang baru saja ia saksikan. Desiran kecil muncul di hatinya, terasa hangat. Cagalli Yula Athha memang aneh pikir Athrun, tapi ia salah, namanya Cagalli Yula Zala sekarang, dan wanita aneh itu adalah istrinya.


Di perjalanan pulang menuju apartemennya Cagalli banyak berkontemplasi, ternyata menjalani pernikahan pura-pura tidak sesederhana yang ia bayangkan. Situasi seperti ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Lalu ia jadi teringat betapa buru-burunya Athrun mengajaknya menikah, apakah hal itu ada hubungannya dengan kesehatan ibunya? Karena kalau diingat-ingat, Athrun tadi tidak menanyakan kepada Ayahnya apa yang terjadi pada ibunya. Mereka seperti sudah saling mengerti apa yang terjadi.

Sampai di apartemennya Cagalli segera menuju kamar tidurnya untuk ganti baju, berbaring sebentar lalu rencananya ia akan mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang tertinggal minggu lalu. Beruntung pertandingan balap masih diadakan dua minggu lagi, jadi selama ia sibuk mengurus pernikahannya, ia tidak terganggu dengan jadwal pertandingan.

Sekitar tiga jam Cagalli mengerjakan pekerjaan kantornya, ia mulai agak lelah dan ingin beristirahat sejenak. Dia pun memilih untuk menonton televisi, sambil menonton televisi ia malah memikirkan pernikahan kontraknya dengan Athrun, apa bisa mereka bertahan selama satu tahun? Dalam jangka satu minggu saja sudah ada masalah. Cagalli sebenarnya berharap mereka bisa menjadi teman, ia berharap dengan berteman, akting Cagalli akan jadi lebih baik. Hanya saja dengan sikap Athrun yang menyebalkan, rasanya ia sulit bersikap normal. Namun, hari ini ia melihat sisi lain Athrun, mungkin sebenarnya ia tidak seburuk itu?

Ting tong

Ting tong

Suara bel apartemennya berbunyi. Cagalli kaget, tidak ada yang tahu ia masih memiliki apartemen lamanya, kecuali Athrun. Dengan hati-hati, ia mengintip dari lubang kecil di atas pintu masuk, melihat siapa yang mengunjunginya. Setelah memastikan siapa yang mengunjunginya, ia segera membuka pintu.

"Athrun?"

"Ikut aku ke rumah sakit sekarang." Wajah Athrun pucat. Cagalli mengerti ada sesuatu yang terjadi, tapi lagi-lagi Cagalli memutuskan untuk tidak bertanya.

Selama di perjalanan perasaan Cagalli was-was, Athrun bisa saja menelepon atau mengirimkan pesan singkat untuk memintanya kembali ke rumah sakit, tapi Athrun menjemputnya sendiri. Air muka Athrun pun lebih lesu dari sebelumnya. Cagalli ingin bertanya, tapi ia tidak ingin Athrun merasa ia terlalu mencampuri urusan pribadinya.

Seperti bisa membaca pikirannya, Athrun tiba-tiba membuka suaranya, "Ibuku memiliki jantung yang lemah. Sudah sekitar tiga tahun belakangan ini beliau sering pingsan karena kelainan jantungnya. Sebenarnya alasan utama orang tuaku pindah ke ORB bukanlah untuk memperluas usaha ayah, tapi pengobatan di ORB jauh lebih maju dan modern dari Plants. Dokter-dokter di Plants sudah angkat tangan, alat-alat medis di Plants sangat terbatas. Mereka menyarankan agar Ibu menjalani perawatan lanjutan di ORB."

Informasi yang baru saja Cagalli dengar, sudah sedikit ia prediksi. Namun, ia tidak tahu bahwa keadaannya seserius itu.

"Ternyata media kedokteran di ORB memang jauh lebih maju. Setelah memasang ring dengan teknologi terbaru yang disarankan oleh dokter di ORB, kualitas hidup Ibu menjadi lebih baik, dia menjadi lebih sehat dan lebih kuat menjalani aktivitas hariannya lagi. Dokter di ORB pun sangat yakin mereka dapat menyembuhkan Ibu dengan transplantasi, hanya saja, tidak mudah mendapatkan donor jantung. Sayangnya ring dengan teknologi baru itu cukup sensitif dan mulai menimbulkan reaksi yang kurang baik di tubuh Ibu. Dokter menyarankan agar Ibu menjalani operasi lagi untuk mengganti ringnya dengan yang baru. Hanya saja.."

"Hanya saja?"

"Resikonya cukup tinggi, dokter tidak bisa memastikan keadaan Ibu akan baik-baik saja, sebenarnya keadaan akan lebih baik jika ibu sudah mendapatkan donor."

Cagalli masih diam, ia takut salah merespon.

"Kau pasti bingung kenapa aku menceritakannya padamu? Aku pikir kau berhak mendapatkan penjelasan kenapa aku memintamu melakukan pernikahan kontrak ini sesegera mungkin. Walaupun ia tidak pernah memaksa, tapi aku tahu Ibuku sangat berharap bisa melihatku menikah." Mata Athrun masih fokus pada jalanan di depannya. Ada kesedihan di raut wajahnya. Dugaan Cagalli ternyata benar, Athrun memang melakukan pernikahan kontrak ini karena kesehatan sang Ibu.

"Aku mengerti sekarang. Kau tidak perlu menjelaskannya lagi." Pembicaran tentang ibunya mungkin berat untuk Athrun saat ini, nada bicaranya yang biasa dingin dan merendahkan, berubah menjadi parau dan menyedihkan. Cagalli ingin meraih pundak Athrun untuk menghiburnya, tapi ia urungkan, saat ini ia lebih memilih untuk memikirkan perannya. Dengan keadaan Lenore, sudah jelas tidak mungkin untuknya bersikap pasif dalam permainan ini.


"Bibi Lenore, kau sudah siuman." Cagalli masuk ke ruang rawat dan mendapati Lenore sedang duduk di atas tempat tidurnya, menyantap snack sorenya.

"Cagalli, kau sudah datang rupanya. Kemarilah, nak." Cagalli segera berjalan menghampiri sang mertua dan mendekatkan tubuhnya pada Lenore, Lenore pun segera memeluknya, yang ia balas dengan pelukan juga.

"Panggil aku Ibu Cagalli, aku juga ibumu sekarang." Lenore tersenyum kepadanya, wajahnya sayu. Terlihat sekali ia sedang kurang sehat.

"I-Ibu." Cagalli mencobanya.

"Begitu lebih baik." Lenore memberikan senyuman ramahnya. Cagalli pun ikut tersenyum, ia memberikan senyumnya yang tulus. Cagalli tidak berbohong, ia cukup menyukai Lenore. Selama persiapan pernikahannya kemarin, Lenore sangat suportif dan tidak banyak meminta. Padahal biasanya yang Cagalli dengar, kebanyakan calon mertua akan menuntut banyak hal pada calon menantunya. Berbeda dengan Via, Lenore tidak banyak memaksakan kehendaknya. Cagalli ingat sekali salah satu ucapan Lenore sesaat setelah upacara pernikahannya dengan Athrun selesai minggu lalu.

"Cagalli, aku tidak tahu pasti kenapa kau setuju menikah dengan Athrun dalam waktu yang singkat dan aku tidak akan menanyakan alasannya. Bagiku pernikahan ini sudah lebih dari cukup. Aku berterima kasih kau sudah mau menerima Athrun sebagai suamimu dan aku sangat berharap kalian bisa saling menjaga selamanya." Lenore pun memeluknya.

"Athrun, Patrick, bisa aku bicara berdua dengan Cagalli?" Permintaan Lenore membuyarkan lamunannya.

"Ibu?" Athrun bertanya.

"Sebentar saja nak. Aku tidak akan bertanya macam-macam. Hanya ingin mengenal Cagalli lebih dekat."

Athrun memberikan pandangan tanda tanya ke arah Cagalli. Cagalli membalas pandangan itu dengan ekspresi tidak tahu, karena sungguh ia tidak tahu apa yang Lenore inginkan.

"Bu, Cagalli-"

"Tidak apa Athrun, aku yakin Ibu tidak akan bertanya yang aneh-aneh." Cagalli berusaha memainkan perannya. Dengan kesehatan Lenore diujung tanduk, Cagalli sadar ia tidak bisa bersikap pasif. Akan berbahaya jika Lenore mengetahui bahwa pernikahan mereka hanya pura-pura.

"Lihat! Cagalli pun mengerti aku. Jangan terlalu overprotektif pada istrimu Athrun. Kau benar-benar seperti ayahmu." Lenore tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

"Baiklah, 5 menit saja ya Bu." Dengan itu Athrun dan Patrick keluar meninggalkan ruangan.

"Cagalli, terima kasih sudah meyakinkan Athrun."

"Bukan apa-apa Bu."

"Cagalli, karena waktu kita tidak banyak, aku ingin langsung masuk ke inti pembicaraan kita." Cagalli mengangguk, jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba memainkan perannya, tapi ia juga sebenarnya takut.

"Seperti yang kau lihat, sebenarnya aku tidak terlalu sehat. Patrick bersikeras pindah ke ORB untuk merawatku. Athrun pun sampai ikut pindah kesini untuk ikut mendukungku." Lenore melanjutkan. "Mereka berdua adalah hadiah yang terindah untukku dari Tuhan."

Cagalli hanya mendengarkan dengan seksama tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.

"Aku sempat pesimis, apakah aku bisa melihat Athrun menikah sebelum ajal memanggilku, tapi lagi-lagi Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihatnya menikah. Aku sangat bersyukur dengan hal itu." Lenore memandang Cagalli dengan penuh harap. "Cagalli, aku tahu perkenalan kita sangat sebentar, tapi kau sudah kuanggap anakku sendiri, tujuanku meminta bicara denganmu adalah aku ingin meminta kemurahan hatimu untuk berjanji kepadaku."

"Janji?" Alis Cagalli naik.

"Benar, janji. Janji yang sangat egois dan aku minta maaf aku harus memintanya kepadamu."

"Ibu- tapi aku-"

"Hanya Cagalli, yang ibu bisa percaya. Bisakah kau berjanji?"


A.N : Hmmm hmmm, saya gatau kenapa ceritanya jadi begini? Mana panjang lagi, semoga ga bosen T_T. Mau curcol dulu, ini chapter awalnya saya mau kasih scene nikahan, tapi pas bikin setengahnya, saya ga suka flownya. Trus akhirnya ganti scene ini. Monmaap para readers kece klo kecewa sama chapter ini, aku pikir harus ada alasan kan biar hubungan mereka berkembang? Masa udah 9 chapter ga ada perkembangan ehehehe. So, what do you think? Give me your honest opinion. Next chap semoga bakal light lagi situasinya.

Unlimited Lost Works : Rahasianya ya itu, dia suka bersikap seenaknya ke cewek yang dijodohin sama emaknya. Ga jelaskah? Huhuhu maaf ya mungkin agak ngebingungin bahasanya. Kedepannya dicoba lebih diperbaiki.

LaNiinaViola : Kontraknya ga dijabarin dulu ya, takut penulisnya kacau , udah tau ya kenapa si abang buru-buru?

JusticeRouge : mereka hampir dipertemukan secara resmi, tapi cagalli kabur ehehehe. Doakan wangsit apa pangsitnya lancar.

Elc90 : maap dilewat scene nikahannya, sekali lagi punten qaqaa

Panda Nai : iya kaan imut kan? Apalagi yang pake Cagalli imut bgt (yhaa malah fangirling). Itu mksdnya athrun bucin le cagalli teh, athrun bucin ke cagalli kan? Sesaat saya membaca le cagalli saya teringat le mi******

Oke deh sampai jumpa next chapter semuanyaa, hontou ni arigatou reviewnya, tagline author pada reviewers : aku tanpamu bagai butiran debu.