Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.
The Commitment
Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor
Chapter 11 : Drunk
WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.
Hari ini tim Cagalli akhirnya akan kembali bertanding. Pertandingan ini adalah semifinal kejuaraan tingkat kota yang diikuti 10 peserta yang terdiri dari tim/perorangan. Jika Cagalli tidak memenangkan pertandingan ini dengan kecepatan tertinggi, kemungkinan besar timnya tidak akan melanjutkan ke babak final. Hal ini dikarenakan tim mereka sempat mengalami kekalahan yang cukup signifikan di pertandingan yang lalu.
"Athha, kau yakin dengan rencana ini? Ini jauh lebih berbahaya dari taktik pertandingan waktu itu, kau juga tahu arena kali ini tidak mudah dilalui." Shinn mencoba memberikan pendapatnya, menurutnya rencana Cagalli sangat berbahaya untuk dilakukan, apalagi arena yang mereka lalui masih sedikit basah, karena baru turun hujan 2 jam yang lalu.
"Ikuti saja apa yang sudah kita rencanakan." ucap Cagalli mantap, tidak ada sedikitpun keinginan untuk mengubah rencananya.
Shinn mencoba lagi, "Apa tidak lebih baik jika aku yang ada di posisimu?"
Sekarang Cagalli menatap tajam ke arah bocah di sampingnya yang walaupun lebih muda, tingginya sudah melampauinya. "Jalankan seperti rencana kita, tidak ada perubahan." Sekali lagi Cagalli mengatakannya dengan tegas. Shinn memang bukan tipe partner yang penurut, bahkan bisa dibilang agak pembangkang. Jadi mau tak mau Cagalli harus bersikap tegas padanya.
"Cagalli!! Cagalli!!" Terdengar suara seseorang meneriakkan namanya dengan keras dari area penonton. Cagalli pun mengalihkan pandangannya, terkejut ia melihat Shiho melambaikan tangannya dengan bersemangat. Sudah lama ia tidak melihat Shiho di arena. Pertandingan masih belum dimulai, maka ia pun segera menghampiri sahabatnya itu.
"Shiho!! Kau datang?" Cagalli menyapa sang sahabat, masih dengan keterkejutannya.
"Ya, dan aku membawa Yzak, tapi dia sedang membeli sesuatu sekarang."
Cagalli heran, bagaimana Shiho bisa berhasil membawa Yzak ke arena balap? Selama mereka pacaran bahkan saat Shiho masih menjadi partnernya, Yzak tidak pernah sekalipun mengunjungi pertandingan balap mereka. Shiho berkata bahwa Yzak tidak suka dengan kebisingan suara motor dan teriakan penonton.
"Aku memaksanya karena aku sedang hamil, mau tak mau dia menyetujuinya." Shiho berkata santai.
Cagalli berhenti sejenak, matanya melebar, ia sadar apa yang baru saja sahabatnya katakan.
"Kau hamil?!" Cagalli setengah berteriak.
Shiho hanya mengangguk sambil terkekeh malu-malu. "Aku ingin memberitahumu secara langsung, hanya saja kita belum sempat bertemu."
"Shiho, selamat! Aku sangat senang mendengarnya!" Cagalli memeluk sang sahabat, tidak menyangka mantan partner balapnya sekarang sudah hamil. Shiho tersenyum dan mengatakan terima kasih atas ucapan selamat Cagalli. Baru saja Shiho mau bertanya kapan Cagalli akan menyusul, Shinn sudah berteriak dari kejauhan.
"ATHHA! Sudah mau mulai!"
"Shi, nanti kita ngobrol lagi." Cagalli pamit, Shiho mengangguk setuju. Cagalli kembali ke arena balap, sekarang ia sudah duduk di atas motornya, di belakang garis start semua peserta sudah bersiap. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari dimana targetnya berada. Ternyata suami kontraknya itu berada selisih satu motor di depannya. Cagalli bertekad untuk memenangkan pertandingan hari ini, artinya ia harus mengalahkan Athrun lagi.
Pertandingan pun dimulai, tidak seperti biasanya, Cagalli langsung menarik gas motornya di kecepatan yang tinggi. Namun caranya berhasil, dalam sekejap ia bisa melewati beberapa motor di depannya, termasuk motor Athrun. Athrun sempat shock dengan cara Cagalli melewatinya, maka beberapa detik ia lupa menarik gas motornya. Tak lama, ia sadar dan segera menarik gas motornya, dengan kecepatan tertinggi. Walaupun Cagalli berhasil mengambil posisi pertama saat ini, tidak ada waktu bagi Cagalli untuk bersantai. Terlihat Athrun yang sudah kembali fokus dan sekarang selisih jarak motornya dengan Athrun tinggal beberapa meter darinya.
Saat Athrun mengira tinggal sedikit lagi ia akan berhasil menyalip Cagalli, Shinn tiba-tiba muncul, menyalip dari sisi kanan, lalu langsung mengambil posisi di belakang motor Cagalli. Motor Shinn sekarang sejajar dengan motor Athrun. Dengan memiringkan motornya ke arah Athrun, Shinn mencoba memojokkan Athrun ke area paling pinggir track balap. Athrun merasa kesal, karena sepertinya Shinn dan Cagalli akan menggunakan cara yang mirip dengan dua pertandingan lalu. Mereka menjebak Athrun. Cara seperti itu memang hanya bisa dilakukan jika memiliki tim.
Athrun sedang berpikir keras saat tiba-tiba Cagalli melambatkan motornya, Athrun lagi-lagi tak siap, ia mengerem perlahan, saat itu Shinn mengambil kesempatan untuk menyalip posisi motor Cagalli, dan dengan kecepatan sangat tinggi ia berhasil melewati garis finish pada posisi pertama. Cagalli masih di depan Athrun. Athrun mencoba memiringkan motornya, mencari celah agar bisa melewati Cagalli. Namun, Cagalli cepat tanggap, ia tidak membiarkan Athrun melewatinya. Saat mereka sudah dekat dengan garis finish, Cagalli kembali mempercepat motornya ke kecepatan yang tertinggi, namun Athrun sudah mengantisipasinya, ia hampir bisa mengambil celah di sisi kiri Cagalli, namun gagal, karena tiba-tiba Cagalli memiringkan posisi motornya yang mana sangat berbahaya karena arena licin dan Cagalli melaju sangat cepat
BRUUUUUUUUUM
Motor Cagalli melaju sangat cepat, Cagalli sempat oleng tapi ia masih bisa bertahan. Athrun yang melihat hal itu tiba-tiba saja menjadi cemas, ia khawatir Cagalli jatuh, maka ia memperlambat motornya, dan dengan mudah Cagalli pun mengambil posisi kedua.
Tepukan tangan penonton dan sorakan yang begitu keras sungguh membuat Cagalli tersenyum sangat lebar. Akhirnya tim ilegalnya benar-benar berhasil lolos ke babak final.
"Kau hebat Shinn!" Cagalli memuji sambil menepuk-nepuk pundak partner balapnya. Shinn hanya memamerkan senyuman sombongnya, ia tahu sekali ia cukup berjasa dalam memenangkan pertandingan hari ini.
"Tapi ingat, kita tidak boleh lengah, masih ada satu pertandingan lagi." Cagalli mengingatkan Shinn yang terlihat sudah besar kepala.
"Jangan ceramah terus Athha, nikmati saja kemenangan ini." Shinn meninggalkan sisi Cagalli dan bergembira bersama para pendukung timnya. Sepertinya bocah itu memang sangat bahagia dengan kemenangan kali ini. Setelah Shinn pergi, mata Cagalli memandang ke sekitar mencari-cari pemuda bermata emerald yang menempati posisi ketiga. Tidak ada penampakan orang itu dimanapun, mungkinkah ia langsung meninggalkan arena seperti biasanya? Cagalli menebak-nebak.
"Cagalli! Selamat! Selamat!" Shiho yang berteriak sambil menghampirinya membuyarkan renungannya.
"Shiho! Terima kasih." Dengan cepat Cagalli memeluk sahabatnya sejenak melupakan apa yang sedang ia pikirkan, "Yzak." Cagalli mengangguk tanda ia menyapa suami sang sahabat sambil melepaskan pelukannya.
"Kemana suamimu?" Shiho langsung bertanya. Pasalnya, Shiho sudah pernah diberitahu Cagalli tentang Athrun Zala, jauh sebelum mereka menikah.
"Mungkin pulang duluan, dia memang biasa seperti itu, tidak pernah berlama-lama setelah bertanding." Cagalli beralasan, mungkin bagi Shiho aneh sekali jika mereka suami istri tapi tidak pulang bersama. Hanya saja, mereka tidak ingin pernikahan mereka diketahui banyak orang, jadi tidak mungkin mereka pulang bersama.
"Hmm, tapi kenapa? Kalian 'kan masih baru saja menikah. Pengantin baru itu biasanya menempel terus loh." Shiho bertanya dengan curiga.
Cagalli panik, wajahnya sedikit kaku, ia berpikir keras sebelum akhirnya menjawab, "Oh, kau ini mau pamer ya? Mentang-mentang Yzak sekarang mengikutimu kemana-mana. Sombong sekali." Cagalli berharap taktik distraksinya berhasil. Ia sebenarnya gugup, takut Shiho sadar sebenarnya ia sedang merubah topik pembicaraan, tapi kelihatannya Shiho tidak menyadarinya, ia malah sibuk mengatakan berbagai alasan kalau dia sama sekali tidak pamer. Lalu mereka malah membicarakan hal lain.
"Shiho, ini sudah malam, lebih baik kita pulang sekarang." Tiba-tiba Yzak bersuara menghentikan obrolan mereka. Cagalli tidak pernah terlalu dekat dengan Yzak, setahu Cagalli mereka berdua tidak memiliki masalah. Hanya saja, Cagalli merasa Yzak selalu menjaga jarak dengannya. Cagalli berpikir positif, mungkin ia memang tipe laki-laki yang selalu menjaga imagenya.
"Hmm, baiklah." Shiho mendengarkan Yzak, ia pun pamit dari Cagalli. Namun sebelum Shiho pergi jauh, Cagalli tiba-tiba ingat sesuatu. Walaupun tadinya ia tidak ingin berkata apa-apa pada Shiho, namun untuk keselamatan kontrak nikahnya, sepertinya ia harus menceritakannya.
"Shiho!" Cagalli berteriak sambil menarik tangan sahabatnya menjauh dari Yzak. Ia pun berbisik di telinga Shiho, "Tolong rahasiakan pernikahanku dari orang-orang."
"Hah? Kenapa?! Kemarin aku sempat bertemu Aumbph-" Cagalli dengan cepat menutup mulut sahabatnya.
"Aku akan menelponmu nanti dan menceritakan semuanya." Cagalli berkedip, tandanya ia tidak akan memberitahunya sekarang. Shiho pun mengerti dan ia berbalik menuju Yzak yang sedang menatap Cagalli dengan curiga.
Cagalli pulang ke rumah yang ia tinggali bersama Athrun, karena memang lokasi balap hari ini lebih dekat dengan rumah mereka. Saat Cagalli pulang, rumah mereka gelap, tidak ada tanda kehidupan di sana. Cagalli pikir, mungkin Athrun memang belum pulang. Cagalli pun masuk, ia berencana menunggu Athrun pulang. Sudah beberapa jam berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda Athrun akan hadir di rumah itu, akhirnya Cagalli memutuskan untuk tidak menunggu lagi dan langsung menuju kamarnya untuk tidur. Ada sedikit rasa kecewa yang Cagalli rasakan, ia sebenarnya ingin sedikit memamerkan kemenangannya pada Athrun dan mengatakan padanya bahwa ia juga bisa menang dengan bertim, namun sayang Athrun ternyata tidak pulang ke rumah itu.
Cagalli tinggal di rumah itu selama beberapa hari, masih berharap bisa bertemu Athrun, namun Athrun tidak kunjung hadir. Cagalli jadi sedikit kepikiran, ia ingat ia juga belum sempat berterima kasih dengan baik setelah Athrun menolongnya dari Ahmed minggu lalu. Ia hanya ingat, saat terbangun dari tidurnya di sofa, Athrun langsung buru-buru pamit untuk pergi, seperti tidak ingin berlama-lama tinggal di apartemennya. Dalam hati Cagalli berpikir, mungkin memang Athrun sedang sibuk, namun anehnya ia sama sekali tidak memberikan kabar. Bukankah biasanya mereka saling mengabari jika tidak pulang kesini? Cagalli lagi-lagi kecewa jika memikirkan ia tidak akan bertemu Athrun minggu ini, ia merasa pertemuan terakhir di Road Race kemarin mereka sangat singkat, mereka bahkan tidak sempat mengobrol.
Cagalli menghela nafasnya, apa boleh buat toh memang rumah ini bukan tempat kemana mereka berdua harus pulang, jadi Cagalli tidak bisa berharap Athrun akan sering pulang ke rumah ini. Mereka kan tidak benar-benar menikah. Saat Cagalli baru saja bangun dari lamunannya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara ponselnya yang bergetar.
Drrrtdrrrtdrrrt
Cagalli membaca layar ponselnya, ternyata Athrun yang menelponnya. Panjang umur sekali, baru saja Cagalli memikirkannya, langsung ada telepon darinya. Cagalli pun tanpa ragu segera mengangkat telepon itu.
"Halo?"
"Ah, Cagalli?" Terdengar suara dari seberang telepon, tapi anehnya itu bukan suara Athrun.
"I-iya benar, tapi bukankah ini nomor ponsel Athrun?"
"Cagalli, ini aku Dearka, rekan kerja Athrun, apa kau ingat?"
"Dearka? Ah Dearka Elthman?"Kening Cagalli sedikit berkerut, tidak mengerti kenapa Dearka menelponnya dari ponsel Athrun.
"Benar Cagalli, ini aku Dearka Elthman. Aku minta maaf tapi apakah kau bisa kesini sekarang? Athrun sedang bersamaku disini."
"Kalian dimana? Ada apa?" Tiba-tiba Cagalli sedikit merasa cemas, ia takut terjadi sesuatu pada Athrun.
"Sepertinya Athrun terlalu mabuk untuk pulang sendiri. Aku harus bertemu dengan klien selanjutnya, bisakah kau bantu aku membawanya pulang?"
Cagalli mengerutkan alisnya lagi dan memeriksa jam dinding yang tergantung pada dinding yang ada di depannya. Ternyata masih pukul 1 siang.
"Begitu ya." Cagalli menjawab sambil merasa penasaran, bagaimana bisa Athrun mabuk siang-siang begini? Cagalli menghela nafasnya. "Oke, boleh aku minta alamatnya?"
Cagalli memasuki sebuah bar dengan kaca gelap dan warna dinding yang gelap. Kalau dari luar, sebenarnya penampakannya seperti kafe biasa, kalau ia tidak tahu, ia tidak akan menyangka tempat itu adalah sebuah bar. Mungkinkah ini efek karena mendatangi tempat ini siang hari? Cagalli melihat situasi di dalam bar. Sangat sepi, hanya ada 2-3 orang di sana. Tentu saja, ini masih siang, siapa yang ingin mabuk siang bolong begini. Athrun sangat aneh, pikirnya.
"Cagalli!" Cagalli mendekati sumber suara yang memanggilnya, dua orang pria sedang duduk di meja yang berada di pojok bar. Yang satunya melambai padanya, yang satunya kepalanya sedang tersungkur di atas meja.
"Maaf ya, kalau bukan karena klien, aku pasti sudah mengantarnya pulang, tapi tempat pertemuanku dengan rumah kalian cukup jauh dan beda arah, aku takut terlambat." Dearka langsung menjelaskan kepadanya.
"Tidak apa. Bukan masalah, aku hanya tidak mengerti kenapa dia mabuk siang bolong begini?" Cagalli penasaran, apa yang membuat Athrun sampai mabuk di siang hari.
"Errr, aku kira kalian sedang ada masalah?" Dearka berkata ragu-ragu.
"Hah? Masalah? Denganku?" Cagalli sama sekali tidak merasa ada masalah yang terjadi antara dirinya dengan Athrun. Kalaupun ada, ia sama sekali tidak mengetahuinya.
"Ah, mungkin aku hanya salah dengar, memang dia bicaranya kurang jelas tadi. Baiklah aku pergi dulu ya Cags, terima kasih." Dearka pergi secepat kilat, sepertinya ia memang harus bergegas menemui kliennya. Setelah Dearka pergi, Cagalli duduk di sebelah Athrun, memikirkan cara termudah membawa "suami"nya itu pulang, ia memutuskan untuk memesan taksi. Setelah taksi yang ia pesan datang, ia pun berdiri dengan mengalungkan salah satu lengan Athrun di lehernya. Ternyata Athrun masih bisa sedikit berjalan, walaupun ia seperti mengigau.
"Bodohnya.. tidak takut celaka.." Samar-samar Cagalli mendengar gumaman Athrun saat mereka berdua sudah berada di dalam taksi. Cagalli memperhatikan wajah Athrun yang sedang tidak sadarkan diri. Athrun terlihat tampan, rambutnya biru tuanya yang segelap malam cukup kontras dengan kulitnya yang putih. Mata Athrun terpejam, tapi Cagalli melihat ada garis-garis hitam halus di bawah matanya, ia kelihatan seperti orang yang kurang tidur. Tanpa Cagalli sadari tangannya hampir saja membelai wajah Athrun, namun sebelum sempat menyentuh wajah Athrun, ia tersadar dan buru-buru mengembalikan tangannya ke tempat semula. Dia menolehkan wajahnya ke kaca jendela. Dia merasa tidak waras, apa yang baru saja ia hampir lakukan?
Cagalli segera membaringkan Athrun di kamarnya. Itu kali pertama ia masuk ke dalam kamar Athrun. Kamarnya benar-benar rapi, di atas standar laki-laki kebanyakan. Ahmed dan Kira misalnya, kamar pribadi mereka sungguh tak beraturan, berbagai perabot dan pakaian tercecer dimana-mana. Jadi ia cukup terkesima dengan keadaan kamar Athrun. Apa ini karena Athrun juga jarang tinggal di rumah beberapa hari ini? Namun, bisa jadi memang Athrun orangnya rapi, kalau melihat jurnal Athrun, Cagalli bisa percaya kalau Athrun bisa memiliki kamar yang rapi.
Cagalli membuka kedua sepatu Athrun, setelahnya ia duduk di samping ranjang untuk melonggarkan leher Athrun dengan membuka salah satu kancing kemejanya. Setelah itu ia bersiap pergi dari kamar Athrun. Saat Cagalli baru mau beranjak pergi menjauhi tempat tidur Athrun, ada sesuatu yang menahannya. Ternyata Athrun meringkuk ke arahnya sambil memeluk pinggangnya dari belakang.
Cagalli membalikkan badannya, ia melihat Athrun mata Athrun masih terpejam. Cagalli berpikir Athrun tidak sadar sedang memeluknya. Cagalli mencoba melepaskan pelukan Athrun pelan-pelan. Ia tidak mau membangunkan Athrun, pasti akan sangat kikuk jika Athrun bangun dalam posisi mereka sedang seperti ini. Hanya saja bukannya lepas, malah pelukan tangan Athrun semakin kuat. Ia bahkan berhasil menarik Cagalli untuk ikut berbaring bersama di sebelahnya.
Wajah Cagalli merah padam, ini pertama kalinya ia berbaring di atas ranjang bersama laki-laki yang bukan kakaknya. Apa-apaan Athrun, dalam hatinya ia mengutuk Athrun yang sangat kuat merengkuhnya walaupun ia sedang tidur. Cagalli lagi-lagi mencoba membuka pelukan Athrun di perutnya. Namun kali ini ia menyadari sesuatu yang membuat wajahnya semakin memerah. Athrun sepertinya tidak sengaja mencium tengkuk lehernya dari belakang, Athrun memeluk Cagalli lebih dekat dan bibirnya menempel tepat di belakang leher Cagalli.
"Cagalli.. Jangan lakukan hal-hal bodoh.." Terdengar Athrun kembali mengigau.
'Ini gila, sebenarnya siapa yang sedang melakukan hal bodoh?' pikir Cagalli, ia tidak tahu harus berbuat apa, jika ia bergerak, ia takut Athrun malah tambah melakukan hal-hal di luar dugaannya. Ia putuskan untuk diam sejenak, ia berharap setelah beberapa menit, Athrun benar-benar tertidur lelap sehingga ia tidak akan bergerak lagi.
Posisi macam apa ini? Cagalli menghela nafas berat, ia sedikit merasa terlecehkan. Mereka memang suami istri, tapi tetap saja semua itu kontrak. Ia memutuskan setelah ini ia akan mereview kembali isi kontrak mereka dan menambahkan kesepakatan dimana mereka tidak boleh melakukan sentuhan fisik. Namun, bagaimanapun juga, sepertinya hal itu tidak akan berpengaruh, karena saat ini Athrun sama sekali tidak sadar dengan yang ia lakukan.
Sudah 15 menit berlalu, Cagalli sekali lagi mencoba melepaskan rengkuhan Athrun perlahan. Akhirnya ia berhasil, Athrun sudah terlelap, tidak ada lagi gerakan aneh yang menahannya. Cagalli berlari keluar dari kamar Athrun, ia ingin segera kabur. Jantung Cagalli berdebar cepat, ia tahu ia tidak akan bisa tidur nyenyak malam itu.
