Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.
The Commitment
Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor
Chapter 12 : Ramalan
WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.
10 menit berlalu sejak kejadian di kamar Athrun, Cagalli masih merasakan irama jantungnya belum kembali normal. Yang baru saja terjadi sungguh diluar dugaan. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa jika berhadapan dengan Athrun lagi nanti, haruskah dia marah karena Athrun telah menyentuhnya tanpa ijin? Tapi Athrun juga melakukan hal itu dalam keadaan mabuk. Ia menghela nafas panjang, mencoba melupakan kejadian barusan.
Daripada hanya berdiam diri memikirkan sesuatu yang tidak jelas juntrungannya, akhirnya Cagalli memutuskan untuk menelpon Shiho. Ia memang sudah berencana menghubungi Shiho sejak road race minggu lalu, hanya saja, ia belum sempat untuk benar-benar melakukannya. Tak lama setelah Cagalli menelpon, Shiho mengangkat ponselnya. Awalnya mereka berbasa-basi, tapi tak berapa lama Shiho langsung bertanya apa yang Cagalli ingin bicarakan. Mendengar sang sahabat tak sabar, Cagalli pun mulai membeberkan kejadian yang melibatkan Ahmed dan Athrun minggu lalu. Dengan alasan itu, Cagalli meminta agar Shiho menyembunyikan status pernikahannya. Shiho jelas kaget dengan apa yang Ahmed lakukan, ia merasa skeptis dengan cerita Cagalli dan mengajukan sederet daftar pertanyaan sebelum akhirnya percaya bahwa cerita Cagalli jujur dan ia pun setuju untuk ikut menyembunyikan status pernikahannya. Cagalli sempat kalang kabut dengan pertanyaan-pertanyaan Shiho, pasalnya sahabatnya itu sangat intuitif. Cagalli tidak heran jika Shiho sebenarnya sudah menaruh curiga pada pernikahannya dengan Athrun sejak lama. Namun, Cagalli tetap berharap Shiho tidak menebak bahwa pernikahannya itu hanya kontrak.
Usai menelpon Shiho, Cagalli kembali teringat dengan kejadian di kamar Athrun lagi. Ia menyentuh bagian tengkuk lehernya dan mengusapnya perlahan, seakan menyeka bekas ciuman Athrun tadi. Dengan melakukan hal itu, ia berharap dapat melupakan kejadian tak senonoh itu. Menghela napas panjang, Cagalli pikir mungkin sebaiknya ia menerima saja apa yang terjadi, jika ia memperbesar masalah dengan memberi tahu Athrun apa yang dilakukannya, pasti hubungan mereka akan menjadi kikuk, toh Athrun tidak sengaja melakukannya. Yang jelas kedepannya Cagalli akan berusaha agar kejadian seperti tadi tidak akan terulang lagi.
Athrun terbangun dari tidurnya dengan merasakan sakit kepala yang amat sangat. Pandangannya sedikit kabur, tapi setelah melihat suasana ruangan, ia langsung tahu ia tidak berada di apartemen pribadinya. Ia bangkit, duduk sejenak di atas tempat tidurnya sebelum berdiri mencari air putih di sekitar. Ia pun mendapatkannya di atas meja kerjanya. Setelah minum, pandangannya jadi lebih jelas, kepalanya jadi sedikit lebih ringan, walaupun masih terasa nyeri. Athrun sekarang sadar sepenuhnya bahwa ia sedang berada di rumah tinggalnya bersama Cagalli.
Setelah memahami dimana ia berada, ia melirik jam di atas meja kerjanya menunjukkan pukul 7, namun matahari di luar jendela tidak nampak. Ah, ia ingat, ia mabuk siang hari bolong. Ia juga ingat ia mengajak Dearka, tapi setelahnya ia tidak ingat apa yang terjadi. Mungkin Dearka yang mengantarkannya kesini? Apa Cagalli sedang berada disini? Athrun bertanya-tanya dalam hati. Jika Cagalli ada di rumah ini, artinya Athrun harus segera pergi jika ia tidak ingin bertemu Cagalli.
Athrun menghela nafasnya, sebenarnya dia ini kenapa? Kenapa akhir-akhir ini ia seperti bukan dirinya sendiri? Athrun memejamkan kedua matanya, sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Selama ini ia hanya selalu menepis kenyataan, meyakinkan dirinya bahwa ia tidak memiliki ketertarikan terhadap Cagalli. Athrun tidak mau mengakui bahwa ada perempuan yang bisa masuk ke pikirannya selain sang ibu. Padahal jujur saja, sebelum mereka menikah kontrak, Athrun sudah sering memikirkan gadis itu, bahkan sebelum tahu bahwa orang tua mereka saling mengenal. Semua pertemuan-pertemuannya yang tidak sengaja itu selalu memenuhi lamunannya. Ketertarikan itu juga yang membuatnya mendapatkan ide gila seperti pernikahan kontrak.
Setelah mereka menikah, ketertarikan itu terasa semakin kuat. Apa yang Athrun rasakan terhadap Cagalli sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi lebih dari sekedar ketertarikan. Semua dimulai sejak mereka mengunjungi ibunya yang sedang sakit, saat itu ia merasa Cagalli tulus peduli pada ibunya, bukan hanya pura-pura. Padahal bisa saja Cagalli bersikap sekenanya kepada sang ibu, tapi Cagalli memilih bersikap baik pada ibunya. Lalu ia ingat cerita Kira tentang Halsten, perasaannya gundah mengetahui Cagalli ternyata patah hati karena laki-laki, walaupun ia mencoba menepisnya, cerita Kira kemarin cukup mengganggunya. Terakhir kejadian di apartemen Cagalli kemarin. Semua petunjuk sudah jelas, apa yang sedang Athrun rasakan saat ini.
Athrun sangat malu jika ingat lagi kejadian di apartemen Cagalli kemarin. Sesaat setelah Cagalli tertidur di atas sofa, Athrun memperhatikan Cagalli dengan seksama. Ia sudah lama sadar bahwa Cagalli itu cantik, tapi saat tertidur di sofa kemarin ia terlihat sangat berbeda. Wajahnya seperti menarik Athrun untuk mendekat dan melihatnya dengan lebih jelas. Athrun memindahkan posisi duduknya ke lantai, wajahnya berhadapan dengan wajah Cagalli yang masih terlelap. Athrun merasa bersalah. Kalau saja ia datang lebih cepat, mungkin mantan pacar Cagalli itu tidak akan sempat berbuat hal tak menyenangkan. Tuduhan pria itu pada Cagalli sungguh membuatnya kesal. Alasan Cagalli menikah adalah karena ia yang memaksanya, tidak mungkin Cagalli mau menikah kalau bukan karena Athrun mengancamnya dengan kartu identitas Shinn. Athrun membelai wajah Cagalli, ia tidak pernah melihat wanita itu shock seperti hari ini. Cukup lama Athrun membelai wajah Cagalli, tanpa sadar bibirnya mendekati kening wanita cantik di hadapannya itu. Saat Athrun menyadari apa yang hampir ia lakukan, Athrun langsung menjauh dan duduk ke tempatnya semula. Beruntung Cagalli masih tertidur pulas.
Saat kejadian road race kemarin juga, Athrun sebenarnya sangat marah, ia benar-benar tidak suka dengan apa yang Cagalli lakukan. Sudah dua kali wanita itu melakukan hal yang berbahaya hanya untuk memenangkan pertandingan. Namun, teknik yang dilakukan Cagalli kemarin sangat keterlaluan, salah perhitungan sedikit bisa membuat motornya terguling. Jantung Athrun sempat berhenti berdetak melihat apa yang dilakukan Cagalli di balapan terakhir. Ia tidak mau membayangkan bagaimana perasaannya kalau wanita itu celaka. Ia ingin sekali memarahi Cagalli di depan publik. Namun, otaknya masih jernih. Ia sadar ia tidak punya hak, mereka hanya menikah kontrak dan tercantum pasal untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Selain itu, jika ia terlihat dekat dengan Cagalli, pasti akan menimbulkan masalah baru. Mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan pernikahan mereka sebisa mungkin, jadi pasti tidak ada siapapun di arena balap yang tahu tentang itu. Maka setelah balapan usai, secepat kilat ia segera meninggalkan arena pertandingan dan menenangkan diri dengan pulang ke apartemen atas nama Alex Dino miliknya.
Athrun sebenarnya tidak ingin berlarut-larut memikirkan perasaannya terhadap Cagalli. Ia tahu benar salah satu isi pasal pernikahan kontrak mereka melarang untuk mereka untuk jatuh cinta, selain itu, Cagalli sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Ia tidak ingin membuat hubungan mereka menjadi rumit, karena sejatinya ialah yang memaksa Cagalli menikah kontrak dengannya. Maka jalan termudah yang ia bisa tempuh adalah dengan menjauhi Cagalli, mencoba menghentikan perasaannya yang sedang tumbuh. Dalam kontrak pernikahan mereka tidak disebutkan bahwa mereka harus tinggal bersama. Jadi, tidak ada larangan untuk menjalani hidup sesuai keinginan masing-masing. Ia akan menghindari Cagalli sebisa mungkin, berharap lambat laun ketertarikannya terhadap Cagalli berkurang dan menghilang.
Hanya saja walaupun sudah hampir seminggu tidak bertemu ataupun berkomunikasić¼Athrun mengabaikan pesan dan telepon dari Cagallić¼wajah Cagalli masih selalu terbayang di benaknya, apalagi wajahnya saat tertidur di apartemen saat itu. Ia pun tidak tahan dan menelpon Dearka untuk menemaninya minum, sekedar untuk mengosongkan pikiran. Dearka sempat bertanya padanya alasan mengajaknya minum alkohol di siang hari, namun Athrun tidak menjawabnya, setidaknya itu yang ia ingat saat masih sadar. Ah, ia sepertinya harus menghubungi Dearka untuk berterima kasih dan meminta maaf karena sudah merepotkannya kemarin. Athrun memutuskan untuk mandi, tubuhnya mengeluarkan bau alkohol yang sangat menyengat. Setelah itu, ia akan segera pergi dari rumah ini, perasaannya pada Cagalli masih belum berubah, karenanya ia masih harus menghindari Cagalli.
Cagalli merasa aneh dengan sikap Athrun kepadanya. Jelas sekali Athrun sedang menghindarinya. Contohnya saja, setelah Athrun bangun dari mabuknya tempo hari, malamnya ia langsung meninggalkan rumah mereka tanpa berkata apapun pada Cagalli. Padahal Cagalli belum sempat bicara tentang hal tak senonoh yang ia lakukan. Setelahnya, Athrun belum pulang lagi ke rumah tinggal mereka sampai hari ini.
Awalnya memang Athrun selalu bersikap dingin pada Cagalli, tapi belakangan, bukankah hubungan mereka sudah seperti teman? Kenapa Athrun tiba-tiba berubah menjadi menjadi sama sekali tidak menganggapnya ada? Setelah mereka menikah, sedingin apapun Athrun, ia selalu mengabari kemana dia pergi atau jadwal kegiatannya agar kebohongan mereka tersinkronisasi dengan baik, tapi setelah balapan terakhir mereka, Athrun seperti menutup semua komunikasi dengannya. Jangankan bertemu, Cagalli beberapa kali mengirim pesan, tapi tidak pernah dibalas. Telepon juga tidak pernah diangkat. Apakah Athrun marah karena ia memenangkan pertandingan? Tidak mungkin Athrun marah karena hal kekanak-kanakan seperti itu bukan?
Cagalli jadi kesal sendiri, bisa-bisanya Athrun pergi begitu saja tanpa mengucap terima kasih dan minta maaf kepadanya? Walaupun Cagalli berniat untuk melupakan kejadian di kamar waktu itu dan tidak memberi tahu Athrun, tetap saja setidaknya Athrun harus berterima kasih karena ia sudah membawanya pulang bukan? Aaaah, kenapa akhir-akhir ini dia jadi selalu memikirkan Athrun? Padahal biasanya ia tidak peduli Athrun mau jungkir balik di atas pasir atau salto di tengah gurun. Ini pasti karena apa yang pria itu lakukan kemarin. Sepertinya ia harus mencari distraksi, ia merasa waktunya terbuang sia-sia jika terus memikirkan suami kontraknya itu. Cagalli melihat ke atas meja kerja yang terletak di kamarnya. Terlihat menyembul kontrak pernikahan mereka yang berada di dalam laci. Cagalli berjalan menuju meja, meraih surat kontrak tersebut.
Ia membaca ulang kontrak mereka. Kalau melihat isinya sebenarnya Athrun lebih banyak menguntungkan Cagalli. Jujur saja sampai sekarang ia masih bingung kenapa Athrun bersikeras meminta dirinya menjadi istri kontraknya. Jika menurut pada surat kontrak mereka, memang sah-sah saja jika Athrun tidak menghubunginya sama sekali, karena ada salah satu pasal yang mengatakan bahwa mereka boleh saja melakukan apa mereka suka dan masing-masing tidak boleh mencampurinya. Cagalli mendesau, dia ingat, tidak seharusnya ia mengharap terima kasih dari Athrun, toh pria itu juga sudah menolongnya dari Ahmed tempo hari. Harusnya mereka impas. Namun, kenapa rasanya aneh saja tidak bertemu dan tidak mendengar kabar Athrun selama hampir seminggu lebih?
Cagalli mendesah lagi, tinggal sembilan bulan lagi kontrak ini berlaku. Selama itu, ia harus bersabar jika Athrun melakukan hal-hal seenaknya tanpa menganggapnya ada. Cagalli hanya perlu memiliki mindset yang sama.
Cagalli merogoh saku celananya dan mengambil telepon genggam yang berada di dalamnya. Ia menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepalanya.
"Shi, ada waktu weekend depan?"
"Yo! Disini Shiho!" Cagalli melambaikan tangannya. Shiho menemukan Cagalli sedang duduk dengan sebuah minuman dingin di atas mejanya. Shiho bergegas menghampirinya.
"Tumben? Mendadak sekali ingin bertemu? Aku kira kau sudah sibuk dan aku sudah tidak dianggap?" Nada Shiho mengejek sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Cagalli.
"Ibu hamil itu memang suka berlebihan ya? Bukannya kau yang sibuk terus kemana-mana dengan suamimu?" Cagalli membalas Shiho.
"Bukannya kau yang pengantin baru? Harusnya aku yang bilang begitu 'kan?" Shiho menaikkan sebelah alisnya.
Kini Cagalli cekikikan, sungguh debat pembuka yang tidak penting. "Maafkan aku kalau begitu sahabatku Shiho, ibu hamil paling cantik se ORB." Shiho hanya memutar bola matanya mendengar Cagalli menutup debat mereka.
Shiho sudah merasa lapar, mereka pun segera memesan makanan dan langsung membicarakan banyak hal. Seperti dispensasi untuk waktu-waktu mereka tidak bertemu akhir-akhir ini. Dimulai dari membicarakan kehamilan Shiho yang sudah menginjak 4 minggu. Setelahnya Shiho meminta Cagalli menceritakan kejadian Ahmed dengan lebih detail. Disini Cagalli sempat berkeringat dingin, karena ia lupa untuk melewatkan detail lokasi kejadian yang mana adalah apartemen lamanya.
"Jadi untuk apa kau kembali ke sana? Bukannya kau sudah menjual apartemen itu?"
"Er, itu soalnya ada barangku yang ternyata tertinggal di sana. Naas sekali ya ternyata Ahmed datang di hari yang sama." Mendengar jawaban Cagalli yang terdengar ragu, Shiho hanya menatapnya tajam tanpa memberikan komentar.
Lalu tiba-tiba Shiho mengubah topik pembicaraan, ia bilang ia ingin sekali mengajak Athrun dan Cagalli kencan bersamanya dan Yzak. Cagalli tersenyum, ternyata setelah menikah temannya ini berubah menjadi girly sekali, apa ini ada hubungannya dengan hormon kehamilan? Cagalli hanya mengangguk-angguk setuju, menanggapi rencana Shiho sekenanya. Ia pikir, sangat tidak mungkin mengajak Athrun kencan seperti itu, ia tidak mungkin mau. Apalagi sekarang Athrun sedang memutus komunikasi dengannya. Mereka terus mengobrol dan mengupdate berita masing-masing, sampai Shiho mengangkat topik tentang temannya, Rusty.
"Cags, kau ingat tidak dengan Rusty McKenzie?" Shiho berkata setelah menyesap minumannya.
"Yang mana?" Cagalli sama sekali tidak ingat.
"Itu, temanku sesama programmer yang waktu itu berkenalan denganmu di mall."
Cagalli mencoba mengingat-ingat nama Rusty di memorinya. "Aaah, yang rambutnya oranye itu?"
"Benar!" Shiho terdengar terlalu heboh dan hal itu sedikit mencurigakan buat Cagalli.
"Memang ada apa?" Cagalli penasaran.
Shiho lalu bercerita bahwa pria yang bernama Rusty itu sangat tertarik pada Cagalli. Shiho bahkan sempat bilang kalau Cagalli sudah menikah, tapi Rusty malah tertawa dan menganggap Shiho hanya bercanda.
"Katanya kau kelihatan masih sangat muda." Shiho memberikan detail.
"Pria yang aneh, mana mungkin tertarik hanya dari sekali lihat. Pria seperti itu wajib dihindari." Cagalli menyilangkan kedua tangannya di depan Shiho. "Lagipula muda dari mananya? Coba kau suruh dia periksa ke klinik mata."
"Hahaha, komentarmu selalu sadis seperti biasanya. Tapi kudengar dari teman-teman kantor, Rusty itu laki-laki yang baik lho. Hanya saja sepertinya dia memang kurang beruntung sih dalam percintaan. Kau mau ku kenalkan secara resmi padanya Cags?" Shiho terdengar serius. Cagalli jadi sedikit was-was. Kenapa Shiho tiba-tiba mengatakan hal seperti itu padanya? Bukankah Shiho selalu menjunjung tinggi hubungan yang baik, maka dari itu ia sering protes jika Cagalli terlalu sering gonta-ganti pacar. Kini status Cagalli sudah menikah, tapi kenapa Shiho malah mau menjodohkannya dengan pria lain?
"Kau mau menjodohkan sahabatmu yang sudah menikah dengan orang lain? Dimana nilai moralmu Shiho Joule?" Cagalli mencoba bercanda untuk meringankan flow pembicaraan mereka. Shiho hanya melihat tajam ke arahnya sambil berkata. "Apa pernikahan kalian sungguhan Cagalli Yula?"
Skakmat. Shiho benar-benar mencurigai pernikahannya, tapi kenapa tebakannya bisa sangat tepat?
"Te-tentu saja! Kenapa kau bertanya hal aneh seperti itu?!" Cagalli mencoba menutupi kebenaran yang ia tidak tahu bisa meyakinkan Shiho atau tidak.
"Berhenti berpura-pura Cags, kita sudah berteman sangat lama. Aku tidak melihat diantara kalian ada apa itu namanya, percikan? Chemistry? Spark? Ya, kau mengerti kan maksudku?" Tentu saja Shiho tahu, ia tahu benar bagaimana sikap Cagalli jika sedang jatuh cinta. "Lalu setiap kita membicarakannya, kau seperti tidak antusias dan sesegera mungkin mengubah topik pembicaraan dan segala kata-katamu yang tidak match setiap kita membicarakan tentang Athrun dan pernikahan kalian." Shiho kembali menyesap minumannya kali ini agak banyak, mungkin ia merasa haus karena sudah bicara panjang lebar.
"Shiho, pernikahan kami sungguhan." Cagalli tidak berbohong, mereka memang benar-benar menikah secara legal.
Shiho memiringkan kepalanya lalu menyanggahnya dengan satu tangan, "Sungguhan? Hmm, benarkah? Yah, walaupun aku tidak terlalu tahu pasti apa yang terjadi di antara kau dan Athrun tapi aku tahu ada yang tidak beres dengan pernikahan kalian, sehebat apapun akting pria itu, kau tidak bisa mengimbanginya. Jangankan aku, Yzak saja curiga."
"Yzak?"
"Iya, Yzak. Ia mengatakan kalau kau hanya berbohong minggu lalu, dia sadar kau hanya mendistraksiku dari pertanyaan tentang Athrun."
Ah, karena itukah Yzak menatap tajam padanya kemarin? Cagalli berpikir keras, ia harus mencari cara agar Shiho tidak mencurigainya lagi. "Hmm, kau memang hebat Shi. Baiklah, aku mengaku, aku memang sedang ada masalah dengan Athrun, tapi pernikahan kami itu memang sungguhan."
"Hmm?"
Lalu Cagalli menceritakan tentang Athrun yang tidak pulang selama hampir dua minggu setelah road race terakhir. Athrun juga tidak membalas pesan dan telpon darinya. Shiho terlihat fokus mendengarkannya. Cagalli sedikit merasa bersalah dengan membohongi Shiho seperti ini, tapi untuk saat ini ia tidak bisa memberitahu Shiho yang sebenarnya. Selesai Cagalli cerita Shiho lagi-lagi menyedot minuman yang tersisa dari gelasnya, sambil berkata santai. "Cerita yang sangat bagus Cagalli, lebih bagus kalau kau memberikan sedikit ekspresi rasa sedih yang sesungguhnya dalam suaramu. Kau hanya terdengar sedikit kecewa, padahal suamimu tidak kembali dalam dua minggu dan tidak mengabari sama sekali." Skakmat dua kali. Benarlah ia tidak bisa berbohong pada Shiho, wanita ini terlalu mengenalnya.
"Aku tidak akan memaksamu menceritakannya sekarang. Tapi ingat Cagalli Yula, kalau terus-terusan berbohong, aku akan menjodohkanmu dengan Rusty! Ehem, dan aku tidak bercanda." Shiho mengedipkan sebelah matanya.
Cagalli lagi-lagi menanggapi dengan candaan, walau dalam hatinya mencelos. "Dasar wanita gila! Kalau aku disebut tidak bermoral, pasti kaulah penyebabnya." Shiho selalu sangat mudah membacanya, hanya tinggal waktu sampai Shiho berhasil memojokkan dirinya untuk menceritakan kebenaran pernikahannya dengan Athrun. Sampai saat itu tiba, Cagalli akan bertahan sebisa mungkin itu menyimpan kebenaran, sesuai yang sudah dijanjikan dalam kontrak pernikahannya.
Setelah itu, mereka pun melanjutkan obrolan ringan lainnya sampai makanan mereka habis.
Cagalli dan Shiho tidak langsung berpisah setelah makan siang bersama. Shiho meminta Cagalli menemaninya mencari beberapa pakaian baru untuk persiapan kehamilannya. Sebenarnya Cagalli agak enggan, karena ia sangat tidak suka berbelanja. Namun mengingat temannya sedang hamil, ia tidak tega dan setuju menemani Shiho belanja.
"Nona rambut pirang!" Ada sebuah suara memanggil, saat Shiho dan Cagalli sedang menyusuri lorong menuju toko yang mereka tuju. Merasa terpanggil karena warna rambutnya yang pirang, Cagalli menengok dan mendapati seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam panjang tertutup sehelai kerudung kecil sederhana di atas kepalanya. Wanita itu memberikan isyarat tangan, mengajak Cagalli untuk mendekati tempat duduknya. Cagalli juga bertanya padanya melalui isyarat tangan, menunjuk-nunjuk ke dirinya sendiri, apakah maksud wanita itu adalah dirinya? Wanita berkerudung itupun mengangguk. Shiho yang penasaran, menarik Cagalli mendekati wanita yang sedang duduk di dekat pojokan dinding itu.
"Nona rambut pirang, aura anda sangat kuat, boleh saya coba ramal? Kalau anda puas, anda boleh bayar, jika tidak puas, anda tidak perlu bayar." Ucap wanita berambut hitam itu. Setelah mendekat, Cagalli sadar bahwa wanita ini sepertinya seorang peramal karena di depan tempatnya duduk ada sebuah meja yang berisi, beberapa kartu dan mangkok, yang serimg ia lihat digunakan untuk meramal.
Cagalli orang yang cukup skeptis dengan hal-hal supranatural, tidak perlu ditanya, Cagalli akan langsung menolak tawaran itu. Namun, Shiho berbeda, ia terlihat sangat antusias mendengar tawaran itu. Matanya seperti berbinar-binar.
"Bisa bertanya apa saja?" Shiho bertanya sebelum Cagalli sempat menolak.
"Tidak semua, tapi kau boleh mencoba." Wanita paruh baya itu tersenyum tipis.
"Kalau begitu, apakah temanku ini sudah menemukan jodohnya?" Shiho menyeringai, ia tidak menyangka bisa memiliki kesempatan langka seperti ini di saat ia sangat mencurigai hubungan Cagalli dan Athrun. Selain ingin tahu apa yang akan dikatakan sang peramal, Shiho ingin melihat ekspresi Cagalli tentang ramalan hubungan pernikahannya dengan Athrun.
Sang peramal meminta tangan Cagalli untuk dibaca, Cagalli memberikannya dengan enggan. Wanita peramal itu menyentuh garis-garis yang ada di tangan Cagalli, sepertinya untuk membacanya. Lalu ia melepaskan tangan Cagalli dan mengambil beberapa kartu yang ada di atas mejanya. Kemudian ia menjawab, "Sudah. Nona ini sudah menikah bukan?"
Cagalli tersenyum, ah pasti wanita ini peramal palsu. Ia yakin peramal itu menyimpulkan ia sudah menikah dari cincin yang tersemat di jari kirinya. Shiho terlihat kecewa, ia sepertinya tidak mau mendengar kalau Athrun itu jodoh Cagalli. Namun, ternyata sang peramal belum selesai bicara.
"Tapi kulihat disini, suaminya yang lebih dulu tertarik padanya. Haha, tapi sepertinya perlu perjuangan untuk mendapatkan hati nona ini, masih ada cinta di masa lalu yang terus membayanginya." Cagalli langsung menarik tangannya. Tidak hanya Cagalli, Shiho nampak terkejut dengan penjelasan peramal itu. "Tapi mimpi-mimpi itu, sudah menjadi pertanda mereka berjodoh. Nona ini juga akan mencintai suaminya suatu saat nanti." Peramal itu melanjutkan.
Cagalli tercengang dengan penjelasan sang peramal yang bertubi-tubi, ia memutuskan untuk tidak mendengarnya lagi dan segera pergi dari tempat itu. "Ini uangnya, terima kasih atas ramalannya." Cagalli buru-buru meletakkan uang di atas meja sang peramal dan menarik Shiho pergi dari tempat itu.
"Benang merah kalian terikat sangat kuat! Kalian sudah pasti berjodoh!" Peramal itu berteriak dari tempatnya duduk, walaupun mereka sudah berjalan agak jauh, kalimat terakhir sang peramal masih terdengar jelas olehnya.
Takjub, Cagalli takjub dengan hasil ramalan tadi. Bagaimana bisa peramal itu tahu tentang mimpi-mimpinya? Selain itu, cinta masa lalunya? Halsten? Dari mana peramal itu bisa tahu? Cagalli mengerutkan keningnya, ia sudah tidak fokus menemani Shiho berbelanja. Pikirannya terus tertuju pada omongan peramal tadi. Tidak, pasti semua hanya omong kosong belaka, peramal itu pasti punya template sendiri untuk membuat orang terkejut. Selain mimpi dan cinta masa lalu, kata-kata peramal tadi tidak masuk akal. Athrun tertarik padanya? Mana mungkin? Orang yang bahkan tidak memberinya kabar selama dua minggu, mana mungkin tertarik padanya kan? Cagalli sedikit bernafas lega, sekarang ia cukup kalau kata-kata peramal tadi tidak perlu dipercaya.
Di sisi lain, Shiho juga sama terkejutnya dengan ramalan wanita tadi, bagaimana peramal itu bisa tahu tentang cinta di masa lalu Cagalli? Tapi hal lainnya? Masih ambigu. Mimpi apa? Lalu apa Athrun benar-benar menyukai Cagalli? Shiho menggelengkan kepalanya, ia akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan omongan peramal tadi dan kembali pada tujuannya, yakni berbelanja. Ia memutuskan untuk tetap percaya pada intuisi awalnya.
Hari sudah malam ketika Shiho selesai belanja, mereka pun memutuskan untuk pulang. Cagalli hari ini membawa mobil, ia memang berencana mengantarkan Shiho pulang. Makanya ia meminta Shiho tidak membawa kendaraan sendiri. Di jalan pulang dari rumah Shiho, ponsel Cagalli tiba-tiba berdering. Ia tidak sempat melihat siapa yang menelponnya, langsung mengangkat telepon dengan menekan tombol headset di telinganya.
"Halo?"
"Cagalli, ini aku, ibumu kemarin menghubungiku, meminta kita untuk berkunjung ke rumahnya. aku sudah bilang iya. Kau ada waktu weekend depan?" Athrun ternyata adalah orang yang menelponnya. Walaupun ia sudah meyakinkan diri untuk tidak percaya dengan kata-kata peramal tadi, jujur saja ia masih shock, sekarang mendengar suara Athrun jadi membuatnya kaget.
Saking kagetnya Cagalli melewatkan fakta bahwa ibunya menghubungi Athrun secara langsung untuk membuatnya datang ke rumah, bukan dirinya. "Ya, aku rasa ada."
"Kalau begitu sampai jumpa minggu depan." Athrun langsung menutup telponnya tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan Cagalli yang sedang tercengang setelah dua minggu tidak mendengar suara pria itu. Cagalli memutuskan menghentikan mobilnya sejenak, ia merasa jantungnya berdebar cepat sekali setelah mengangkat telpon dari Athrun. Anehnya, ia tidak begitu yakin apa yang menjadi penyebabnya.
A.N : WARNING! Author mau curcol panjang, jadi skip aja yang ga suka baca curhatan XD.
Hai-hai semua, mohon maaf ya chapter ini malah kepanjangan trus momen asucaganya sedikit huehuehue.
Guests : Makasih untuk semua tamu-tamu yang baik banget udah ngasih review, makasih ya udah baca fic saya
LaNiinaViola : Saya juga ragu tadinya mau bikin Ahmed begitu, tapi ga ada lagi yang cocok buat peran itu selain Ahmed XD, makasih reviewnya Niina, saya appreciate banget karena selalu bikin semangat. ^^
Lacushelen : Wah salam kenal, makasih udah baca karya-karya saya yang super amatir. Terharu banget ada yang masih baca padahal ceritanya ngalor ngidul kayak kereta wisata. Semoga ga bosen bacanya yaa. Oiya buat Runaway Princess sabar2 ya, itu emang paling lama updatenya XD
Shinku Alice : Selalu deg-degan di review sama author favorit saya. Makasih Shinku karena tahan baca fic-fic aku dan mau review ^^
Elc90 : Athrun itu EQnya agak rendah katanya, karena mungkin IQnya ketinggian? Kemarin sempet ada yang bahas di grup hahaha. Jadi dia rada emosional? Jadi disini saya bikin mabuk aja. Nyambung ga sih? Mengada-ada banget kayaknya wkwkwk, maap yah XD
Tenrisakura : Salam kenal, makasih ya udah review fic ini, semoga ga bosen sama jalan ceritanya yang absurd dan ala-ala drakor XD
Sekali lagi terima kasih yang udah review dan baca fic ini. Saya sebenernya sadar gaya bahasa cerita saya ini bertele-tele, tapi awal-awal saya buat fic itu pernah ada yang bilang bahasa saya kayak skrip naskah drama kebanyakan percakapan, jadi saya mencoba lebih mendeskripsikan adegan setelah itu. Tapi jadinya begini, mungkin ada yang punya masukan gimana biar ga terlalu bertele2? hehe.
Jelas tulisan saya ini banyak kesalahan, jadi jangan ragu ditulis di review atau misal ada pertanyaan tentang plotnya juga boleh banget. Pengumuman Movie SEED sedikit banyak membuat saya lesu, sempet mikir udah ga pengen nulis lagi, tapi baca review-an dari readers dan rasa cinta saya yang terlalu ekstrim sama asucaga, bikin semangat lagi buat nulis lanjutannya, jadi makasih banyak banget buat yang udah review ya, kalian membuat saya semangat :"). Semoga sabar menunggu lanjutan ceritanya, see you di chap selanjutnya ^^
