Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 13 : Masa Lalu Cagalli (part 1)

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.


Hari ini pun tiba. Hari kunjungan ke rumah orang tua Cagalli. Athrun tidak tahu apakah dirinya sudah siap bertemu lagi dengan Cagalli. Namun, siap atau tidak siap, ia harus siap. Via sudah menelponnya berkali-kali dan ia sudah menolak undangan Via sampai tiga kali. Rasanya tidak mungkin jika ia terus-terusan menolak, yang ada Via pasti akan curiga dengan hubungan mereka. Maka, minggu lalu Athrun akhirnya menerima undangan Via dan memberanikan diri untuk menghubungi Cagalli.

Athrun tidak tahu bagaimana Cagalli akan menyikapi dirinya yang menghilang selama hampir tiga minggu kemarin, tapi yang jelas hari ini pun Athrun akan bersikap layaknya ia yang biasa. Asal tidak terlalu dekat dan tidak terlalu mengenal Cagalli, Athrun yakin seiring berjalannya waktu perasaannya akan luntur dan menghilang.

Matahari sudah tinggi ketika Athrun tiba di rumah tinggal mereka untuk menjemput. Cagalli juga sudah siap ketika Athrun datang, sehingga tanpa menunggu lama, mereka langsung berkendara menuju tempat tujuan.

Sepanjang perjalanan mereka hampir tidak berbicara satu sama lain. Athrun tidak menjelaskan kenapa ia menghilang selama tiga minggu, Cagalli pun sepertinya tidak ingin bertanya. Athrun sedikit lega tapi juga sebenarnya kecewa, karena sepertinya Cagalli tidak peduli dengan menghilangnya ia selama hampir 3 minggu.

Tinggal sekitar 10 menit lagi kendaraan mereka akan tiba di rumah orang tua Cagalli, Athrun ingat mereka belum mencocokkan jadwal mereka selama beberapa minggu ini. Mau tak mau Athrun membuka suaranya, "Sepertinya kita sudah mau sampai, sebaiknya kita mencocokan alibi. Aku tidak ingin terlihat mencurigakan di depan orang tuamu."

Cagalli sepertinya cukup terkejut mendengar Athrun mengajaknya bicara. Namun, ia menjawab datar, "Aku kira kita tidak akan bicara sampai batas waktu yang tidak ditentukan?"

Athrun menangkap ada nada sarkas dari jawaban Cagalli. Jangan-jangan Cagalli bukan tidak peduli padanya melainkan marah karena sikapnya? "Apa kau sedang marah?" Athrun bertanya.

"Tidak. Aku tidak marah. Untuk apa marah?" Nada Cagalli masih datar. Ekspresinya tidak dapat Athrun baca, maka Athrun putuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Benar, mana mungkin Cagalli marah, untuk apa dia marah? Pasti itu semua hanya harapannya belaka.

"Kalau begitu, kita bisa katakan pada ibumu, aku sibuk dengan tugas kantor akhir-akhir ini, aku sering keluar kota dan selalu pulang dini hari. Ibumu sudah kuberitahu bahwa aku jarang bersamamu beberapa minggu ini." Athrun menjelaskan panjang lebar yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan.

"Bagaimana denganmu?" Athrun kembali bertanya. Cagalli sangat terlihat tidak antusias berbicara dengannya.

"Tidak ada yang spesial, hanya kerjaan editor biasa." Cagalli menjawab singkat.

Athrun mengangguk dan kembali fokus menyetir sampai mereka tiba di rumah besar Athha. Saat mereka sampai, Athrun bersiap membuka pintu mobil di sampingnya. Namun sebelum Athrun berhasil membukanya, Cagalli tiba-tiba berkata, "Kau memang benar-benar menyebalkan."

Athrun tercengang di kursinya mendengar Cagalli yang tiba-tiba menatapnya marah.

"Kau bahkan tidak berterima kasih padaku karena menjemputmu setelah mabuk! Kau mengabaikan semua pesan dan teleponku tapi tiba-tiba kau menghubungiku dan memintaku datang bersamamu ke rumah Ibu."

Athrun hanya diam mendengar ledakan Cagalli. Ia masih tidak tahu harus merespon seperti apa.

"Pernikahan kita memang kontrak, tapi tolong perlakukan aku seperti manusia." Cagalli kini menatapnya dengan nanar. "Aku bahkan belum berterima kasih padamu karena menolongku dari Ahmed. Kalau kau memang ingin menghindariku, kumohon jangan seenaknya. Kau bisa 'kan bicara baik-baik tanpa memutus kontak secara tiba-tiba? Kau sudah kuanggap teman, Athrun."

Athrun baru mau membuka mulutnya, tapi Cagalli sudah memotongnya, "Setelah makan nanti tidak perlu bercengkrama, kita langsung pulang saja. Bilang saja kau ada pekerjaan atau apapun alasannya." Lalu Cagalli membuka pintu dan keluar dari mobil. Ia menutup pintu mobil dengan sangat keras. Menunjukkan betapa ia sedang marah pada Athrun.

Athrun masih terduduk di kursi pengemudi. Ia sama sekali tidak menyangka tindakannya akan membuat Cagalli marah. Namun, kalau diingat-ingat memang kemarin ia hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan sisi Cagalli. Ia ingin sesegera mungkin menghilangkan perasaannya pada istri kontraknya. Ia tidak tahu kalau Cagalli akan sangat kecewa dengan tindakannya. Melihat sikap Cagalli tadi, Athrun jadi merasa bersalah. Ia sama tidak tahu Cagalli sejak kapan Cagalli menganggapnya teman. Selain saat bertemu kerabat, biasanya mereka hanya melakukan aktivitas masing-masing tanpa mengindahkan satu sama lain, mereka memang berinteraksi tapi tidak banyak. Athrun menganggap hanya dirinya yang akan terpengaruh dengan tindakannya, namun ternyata Cagalli juga. Athrun menghentikan lamunannya, ia tahu sekarang bukan saatnya memikirkan hal ini. Ia pun segera keluar dari mobil dan menyusul istrinya.


Cagalli tidak tahu mengapa ia akhirnya menumpahkan kemarahannya pada Athrun. Mungkin semua ini adalah akumulasi kekesalannya pada pria itu. Sebenarnya sebelum mendengar ramalan kemarin, Cagalli baik-baik saja. Ia hanya merasa sedikit kecewa dengan Athrun yang memutus kontak tanpa berkata apa-apa padanya. Namun, setelah mendengar ramalan itu, pikirannya jadi terus berkutat pada Athrun. Belum lagi sikapnya yang terasa semena-semena kemarin. Athrun menghilang begitu saja, lalu tiba-tiba muncul lagi untuk menemaninya berkunjung ke rumah orang tuanya. Cagalli merasa sangat jengkel, ia 'kan bukan wanita panggilan? Dia hanya terpaksa menikah kontrak dengan Athrun. Bukankah seharusnya Athrun memperlakukannya sedikit lebih baik? Apalagi hubungan mereka sudah seperti teman bukan? Belum lagi ditambah kejadian di kamar Athrun yang masih terus berbekas di ingatannya. Semua hal itu membuat pikirannya terus terperangkap dalam bayang-bayang Athrun minggu kemarin dan membuatnya sangat kesal. Lalu saat di mobil tadi, Athrun bahkan sepertinya tidak berniat menjelaskan apapun padanya. Hal itu membuat Cagalli tidak tahan dan akhirnya hilang kendali dan mengeluarkan curahan hatinya.

"Kita bicarakan lagi nanti." Athrun berkata setelah ia akhirnya berhasil mengejar Cagalli yang sudah berdiri di depan pintu. Cagalli hanya bersikap acuh dan menekan bel rumah yang tak berapa lama disambut oleh Myrna.

Kalau pada kunjungan Cagalli sebelumnya Myrna terlihat sangat antusias, kini antusiasmenya bertambah menjadi dua kali lipat. Myrna lebih cerewet saat melihat Athrun datang bersamanya. Cagalli hanya menggelengkan kepala, mencoba maklum dengan tingkah laku Myrna yang baru pertama kali melihat Athrun lagi setelah pernikahan mereka. Selesai mengantar mereka ke ruang makan, Myrna pun langsung pamit meninggalkan Athrun dan Cagalli, berkata ia memiliki tugas lain.

Memasuki ruang makan, sudah ada ibu Cagalli yang duduk di salah satu kursi meja makan. "Ah aku sangat senang. Athrun akhirnya bisa berkunjung juga kesini." Via menyambut Athrun dengan sangat ramah.

"Bukan masalah besar tante." Athrun menjawab sambil duduk di salah satu kursi di hadapan Via. Cagalli duduk di sampingnya.

"Tante? Ibu! Apa kau lupa karena tidak pernah mengunjungiku?" ucap Via pura-pura jengkel.

"Ah ya, Ibu maaf. Aku belum terbiasa." jawab Athrun ragu, ini pertama kalinya ia bertemu lagi dengan Via setelah menikah dengan Cagalli. Sebelumnya ia selalu memanggil Via dengan sebutan tante.

"Pasti nak Athrun sudah lapar ya? Seharusnya Kira sudah datang, tapi ternyata belum. Sepertinya masih sibuk di bengkel." Via berdecak sambil melihat jam tangannya. "Tapi tak apa, ayo kita makan duluan."

Cagalli menatap sebal pada ibunya, melihat tingkah sang ibu yang begitu ramah pada Athrun, ia tidak tahu siapa yang anak kandungnya disini.

"Ayo nak Athrun minum dulu, pasti lelah sekali perjalanan dari rumah kalian."

Athrun menegak air putih dari gelas di depannya. Sebenarnya ia tidak terlalu haus, namun ia tetap minum untuk menghormati perintah ibu Cagalli. Keadaan sedikit canggung, karena Athrun merasa Cagalli sama sekali tidak ingin ikut berbicara dalam percakapan antara ia dan Via.

"Jadi Cagalli sudah hamil belum?" Pertanyaan itu datang begitu saja tanpa peringatan. Mengejutkan Athrun sehingga ia tersedak.

"Uhuk uhuk." Athrun terbatuk karena sedakan air putih tadi. Athrun sudah tahu sifat Via yang blak-blakan. Tapi mereka belum ada 5 menit duduk, tiba-tiba pertanyaan itu sudah muncul. Athrun melirik cepat ke arah Cagalli, tapi wanita itu hanya diam saja, sambil meneguk cairan dalam gelas miliknya.

"Oh nak, maafkan Ibu, kau kaget ya?" Pertanyaan Via terkesan pura-pura.

"Bagaimana tidak? Kami belum ada 5 menit duduk di ruangan ini, Ibu sudah bertanya seperti itu." Cagalli mendelik, akhirnya ikut merespon sang ibu. Sebenarnya ia sudah biasa dan sudah tahu pertanyaan seperti itu akan muncul. Makanya ia tidak bereaksi seperti Athrun, yah walaupun jujur ia sempat kaget, tapi ia tidak seterkejut Athrun.

"Ya, Ibu kan hanya mengharapkan. Kasihan Lenore, sudah sangat mengharapkan cucu pastinya. Ohiya, bagaimana kabar Lenore, Athrun?"

"Oh, baik Bu. Setelah operasi terakhir, aktivitasnya sudah mulai kembali normal. Hanya memang terbatas sekali."

"Syukurlah, rasanya aku sedih sekali mendengar Lenore sakit. Namun, aku yakin dia itu kuat, kau tidak perlu khawatir Athrun, ibumu pasti akan sembuh seperti sedia kala." Kini Via tersenyum tulus. Sedangkan Athrun hanya tersenyum tumpul. Cagalli tahu topik kesehatan Lenore sangat sensitif untuk Athrun. Ia juga tahu, kesehatan Lenore memang sudah memulih, tapi resikonya masih tinggi sebelum ia mendapatkan donor. Maka Cagalli mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya dimana sang ayah. Ibunya berkata Uzumi sedang mengurus bisnis di luar kota, jadi dia tidak ada hari ini. Setelah itu mereka pun mulai makan sambil mengobrol hal ringan seputar pekerjaan.

Makan siang mereka baru saja mulai terasa nyaman, namun bukan Via kalau ia tidak membuat komentar-komentar miring untuk Cagalli.

"Kudengar kau masih balapan ya?" Via bertanya pada Cagalli.

Mata Cagalli menyipit. "Iya." Cagalli menjawab singkat, ia ingin topik ini segera diakhiri.

"Bukankah sebaiknya kau akan menyusul kakakmu dan Shiho resign dari dunia balap motor? Kau 'kan sudah menikah, kau harus mulai membaktikan diri pada suamimu."

Alis Cagalli kini naik, "Dulu ibu bilang, hanya ingin setidaknya melihatku menikah, kenapa sekarang ibu memaksaku untuk berhenti balapan juga?"

"Bukan begitu, Ibu hanya memberi saran. Mungkin kau ini belum hamil karena kau sibuk dengan urusan balapmu."

"Kalau begitu terima kasih sarannya Bu, namun sampai waktunya pensiun, aku tidak akan meninggalkan hobi balapku. Athrun juga sudah mengerti akan hal itu sebelum kami menikah." Makan Cagalli mulai terasa hambar. Setiap datang ke rumah ini selalu topik itu yang diungkit. Cagalli tidak tahu kenapa ibunya tidak pernah bosan membahasnya.

"Kenapa? Apa masih karena Halsten?"

Cagalli membeku, ia meletakkan sendok dan garpunya di sebelah piring. Kini nafsu makannya benar-benar hilang.

"Kau mengharapkan apa Nak? Memutar balik waktu? Secepat apapun motormu melaju, kau tidak akan pernah bisa menghapuskan kenanganmu. Belajar menerima Cagalli. Hiduplah dengan normal. Athrun sudah ada disampingmu sekarang. Jangan menyia-nyiakannya." Via memandang Cagalli, menatap putrinya dengan iba.

Cagalli membalas tatapan sang ibu dengan tajam. Kenapa, kenapa harus hari ini ibunya mengungkit tentang Halsten? Kenapa saat suasana hati dan pikirannya sedang tidak baik?

"Memang keluar dari sini 5 tahun yang lalu adalah keputusan terbaik yang pernah aku lakukan." Cagalli beranjak dari kursinya, pergi meninggalkan ruang makan. Athrun hendak mengejar, tapi ditahan oleh Via.

"Biarkan dia. Aku masih ingin bicara denganmu Nak."

Athrun bimbang, ia sempat melihat wajah Cagalli yang benar-benar marah dan kecewa karena kata-kata Ibunya. Ia ingin mengejar Cagalli, tapi kenapa Via menahannya?

"Bu, ada apa dengan Cagalli? Dia pergi terburu-buru, dengan meminjam kunci motorku." Tiba-tiba Kira menginterupsi. Sepertinya ia baru saja sampai. Tidak ada jawaban dari Via atas pertanyaan Kira.

"Ibu?" Kira kembali bertanya.

"Ibu mengungkit tentangnya." Via akhirnya buka suara.

"Ibu! Kenapa?! Ah selalu seperti ini. Aku akan mengejarnya." Kira bergegas meninggalkan ruang makan. Lagi-lagi Athrun ingin menyusul, tapi Via masih menahannya.

"Athrun, maaf, aku tahu kau khawatir pada Cagalli, tapi aku ingin menceritakannya padamu. Tentang masa lalu Cagalli. Sudah lama aku ingin memberitahumu." Via terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Aku selalu merasa hubungan kalian dibatasi oleh sesuatu. Aku mengira ini ada hubungannya dengan masa lalunya. Jadi tolong dengarkanlah."

Athrun menimbang-nimbang sejenak apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi ia ingin mengejar Cagalli, di sisi lain, ia sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan Cagalli di masa lalu. Ia akhirnya memutuskan untuk duduk, ia harus tahu tentang masa lalu Cagalli, setelah itu ia baru akan menemuinya. Di dalam hatinya ia berdoa Kira berhasil mengejar Cagalli.


A.N : Tadinya mau masukin cerita masa lalu Caga disini, cuma ternyata kepanjangan haha, jadi saya bikin 2 part saja ya.

Buat Cle09, Shinku dan Guest makasih ya reviewnya. Kalau ada yang aneh please kasih tau huhu, makasih semua, ditunggu next chapternya