Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 14 : Masa Lalu Cagalli (part 2)

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.


Selama setengah jam Athrun mencerna semua yang Via katakan padanya. Selama itu juga ia hanya duduk diam tanpa berkomentar. Ceritanya cukup panjang dan dari cerita itu Athrun bisa mengerti kenapa Cagalli menjadi trauma dengan pernikahan, walaupun ada bagian yang Athrun tidak duga sebelumnya. Mau tak mau ia juga menjadi sedikit lebih paham mengapa Via bersikap seperti tadi pada Cagalli. Dari kata-kata Via, Athrun menarik kesimpulan bahwa sebenarnya Via hanya ingin Cagalli benar-benar bahagia. Ibu mertuanya itu mengharapkan, dengan menikah, Cagalli bisa melanjutkan kehidupannya tanpa terus dibayang-bayangi oleh masa lalunya. Via khawatir jika Cagalli terus berkecimpung dalam dunia balap motor. Ia tidak ingin Cagalli mengalami apa yang pernah dialami oleh Kira. Via juga menyayangi Cagalli, itu yang Athrun tangkap. Walaupun cara menyampaikan Via berbeda dengan para ibu biasanya, tapi Athrun bisa merasakan bahwa Via, sebagai ibu, juga benar menyayangi Cagalli, hanya saja mungkin tidak tersampaikan dengan cara yang baik, sehingga terus menimbulkan kesalahpahaman di antara keduanya.

Setelah Via selesai bercerita, tak lama Kira datang kembali. "Aku berhasil membuntuti Cagalli, ia pulang ke rumah kalian, tapi aku tidak mengikutinya masuk, aku rasa sudah saatnya aku melimpahkan tugas ini padamu, Athrun. Kau suaminya sekarang." Kira menjelaskan.

Athrun mengangguk, mengerti maksud kata-kata Kira. Ia pun beranjak dan pamit meninggalkan rumah besar itu dengan mobil yang tadi dikemudikannya. Ia belum tahu akan mengatakan apa jika bertemu Cagalli nanti, tapi yang jelas saat ini Athrun ingin membantu meringankan kesedihan Cagalli sebisanya. Setidaknya begitu.


Kira kini duduk di ruangan makan bersama Ibunya. Suasananya muram. Tidak ada diantara mereka yang menyantap makanannya.

Kira tidak pernah membangkang, ia anak yang bisa dibilang penurut, begitu juga dengan Cagalli dulu. Kira tahu, sangat tahu, cara ibunya memberi kasih sayang pada mereka berbeda. Sejak ibunya bercerai dari sang ayah, Ibunya tidak lagi menjadi wanita lembut yang hanya memendam isi hatinya. Ibunya menjadi wanita yang kuat, menjadi lebih tegas dan selalu menyampaikan isi hatinya dengan jujur. Sayangnya kalimat-kalimat jujur itu jadi terdengar tajam dan sinis, padahal Kira tahu ibunya berkata seperti itu tujuannya sebagai motivasi bagi mereka. Jadi Kira tidak pernah mempermasalahkan perubahan ibunya. Buatnya, kasih sayang sang ibu masih sama, hanya cara ia menyampaikan memang jadi sedikit berbeda. Jadi Kira terus menerima dan tidak terlalu terpengaruh dengan omongan-omongan ibundanya yang tajam, karena ia tahu sang ibu sebenarnya selalu bermaksud baik.

Awalnya Cagalli juga seperti Kira. Namun, saat kejadian dengan Halsten terjadi, sang ibu yang keras tetap tidak melembut. Dia bahkan melakukan hal yang Cagalli rasa sangat di luar batas. Sejak saat itu Cagalli mulai berubah, ia tidak lagi mendengarkan kata-kata Via dan memutuskan untuk pindah dari rumah besar ini.

"Ibu, kau tahu kan betapa menyakitkan baginya jika ia harus mengingat kejadian itu lagi. Kenapa kau terus mengungkitnya?" Kira akhirnya membuka pembicaraan.

"Ibu hanya ingin Cagalli melanjutkan hidupnya dengan normal, Kira. Apakah begitu sulit untuk menerima masa lalu? Dia sudah punya Athrun sekarang, untuk apa masih balap motor? Kau bilang balap motor itu adalah cara Cagalli untuk mendistraksinya dari masa lalu 'kan? Lalu untuk apa ia masih balapan jika ia sudah memiliki tambatan hati yang baru? Mau sampai kapan ia terus merasa bersalah?" Ibunya memberikan alasan panjang lebar.

Kira kini menatap sang ibu dengan rasa sedih."Ibu, apakah Ibu pernah tahu alasan apa yang membuat Cagalli ragu dan membatalkan pernikahannya dengan Halsten dulu?"

"Bukankah karena Cagalli memang belum mau menikah?" Ibunya hanya menatap Kira penasaran.

Masih menatap ibunya, Kira menjawab. "Benar, tapi apa ibu tahu apa lagi yang benar-benar melandasi keraguannya?"

Via menggeleng.

Kira berhenti sejenak lalu menatap dalam ibunya,"Itu karena ia tidak ingin pernikahannya berakhir dengan perceraian seperti ibu dan ayah."


Athrun mengemudikan mobilnya secepat mungkin menuju rumah tinggal mereka. Rumah yang jaraknya cukup jauh dari rumah orang tua Cagalli. Namun karena Athrun mengemudi dengan sangat cepat, ia bisa sampai tujuan setengah kali lebih cepat dari waktu tempuh biasanya.

Athrun memarkirkan kendaraannya di depan teras rumah, ia melihat motor Kira yang kemungkinan besar dipakai Cagalli tadi juga terparkir di halaman. Athrun bergegas masuk ke dalam rumah, mendapati Cagalli sedang duduk dengan menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan kedua lututnya. Athrun pun segera mengambil tempat duduk di sebelahnya.

Athrun hanya duduk dalam diam, masih memikirkan apa yang sebaiknya ia katakan. Sedangkan Cagalli yang merasakan tempat duduk di sebelahnya terisi, mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang datang. Cagalli hanya menatap wajah Athrun datar. Tanpa berkata apapun, Cagalli memalingkan wajahnya dan beranjak berdiri dari duduknya. Namun Athrun mencengkram pergelangan tangannya, sambil menatap Cagalli yang sedang berdiri di depannya.

"Kenapa kau kesini?" Cagalli bertanya dingin. "Kalau soal yang tadi, aku tidak seharusnya marah seperti itu padamu. Aku mengerti kau hanya mulai membatasi diri, jadi lupakan saja kata-kataku tadi."

"Aku minta maaf."

Kini Cagalli memandangi Athrun cukup lama. Athrun meminta maaf padanya? Bukankah hal itu terdengar sangat aneh? Semenjak Cagalli mengenal Athrun, pria itu selalu arogan dan berbicara semaunya. Sangat tidak mungkin seorang Athrun Zala meminta maaf. Mungkin ia hanya salah dengar.

"Aku minta maaf." Athrun mengulang kata-katanya."Aku sama sekali tidak tahu hal seperti ini akan terjadi. Ibumu sudah menceritakan semuanya padaku."

Mendengar penjelasan Athrun, Cagalli pun kembali duduk sambil menghela nafas dalam, ia berhenti sejenak lalu berkata,"Halsten, pria yang baik, tapi aku menyia-nyiakannya." Cagalli bergumam sambil memejamkan matanya.


"Kau yakin mau pacaran denganku? Kita kan baru bertemu 2 kali? Sluurp.. Oh iya, aku beritahu dulu ya, kalau kau hanya mengincar kekayaan ayah, sebaiknya kau jangan berharap padaku. Sluurp.. Aku ini hanya anak tiri, lagipula sepertinya kakakku yang akan mewarisi perusahaan." ucap Cagalli santai pada pria berambut perak di depannya. Cagalli sedang asyik makan eskrim. Ia tidak begitu peduli dengan pria yang baru saja menyatakan perasaannya pada Cagalli. Entah apa pria itu hanya mengincar kekayaan ayah tirinya atau ia hanya pria yang mentalnya terganggu. Cagalli tentu saja tidak akan menerima pernyataan perasaan pria yang baru bertemu dengannya dua kali, walaupun mereka bertemu karena orang tua mereka saling mengenal.

Pria itu tertawa keras sekali mendengar jawaban Cagalli, seakan itu hal terlucu yang pernah didengarnya.

"Kau benar-benar menarik. Kalau aku sudah yakin, bagaimana denganmu?"

"Hmm, mungkin kita harus bertemu sepuluh kali lagi baru aku bisa menjawab."

"Baik, aku terima tantanganmu, nona Cagalli! Aku akan membuatmu setuju pacaran denganku dalam 12 kali pertemuan!"

"Kau terdengar seperti iklan kursus bimbingan belajar."

Lagi-lagi pria bermata hijau muda itu tertawa, tawanya tergelak-gelak, membuat Cagalli mau tak mau ikut tersenyum melihatnya.

*

"Aaaah, tiga tahun sama sekali tidak terasa ya. Tahun depan aku akan lulus. Lalu, aku akan bekerja sepertimu, jadi kau tidak perlu mengeluh lagi kalau uangmu habis karena mentraktirku. Aku sudah bisa bayar dengan uangku sendiri. Hehe." Cagalli terkekeh sambil berbicara pada pria di sebelahnya, tapi ia sepertinya tidak mendapat respon yang antusias.

"Hmm.. Begitu ya."

"Kau kenapa Hals? Akhir-akhir ini sepertinya melamun terus." Cagalli ikut cemberut melihat kekasihnya tidak terlihat semangat.

"Hmm.."

"Kau tidak mau menceritakannya?" Kini Cagalli benar-benar menatap wajah pria di sampingnya, berharap mendapat jawaban dengan membaca air mukanya.

"Cagalli, sebenarnya ada yang ingin kukatakan." Pria itu menjawab dengan nada terserak, ia tidak lagi menyembunyikan kesedihannya. "Aku akan pindah."

"Pindah?" Keningnya berkerut, tidak percaya dengan berita yang baru saja didengarnya. "Kemana? Ke Heliopolis? Ke Kaguya? Ke Junius Seven?"

Halsten menggeleng, "Perusahaan ayah ingin memperlebar sayap ke Eropa, aku diminta menjadi penanggung jawabnya. Tapi…"

"Eropa? Ke luar negeri?!" Cagalli kaget bukan main. Bagaimana tidak? Berpisah dengan kekasih pastilah membuatnya sedih, lalu bagaimana dengan hubungan mereka nanti? Apa Halsten ingin mereka putus makanya pria itu terlihat tidak antusias akhir-akhir ini?

Tiba-tiba Halsten menegakkan badannya, tatapannya serius mengarah ke Cagalli.

"Cagalli, aku sudah putuskan. Kau harus ikut aku ke Scandinavia."

"Eh?" Cagalli terkejut, matanya berkedip beberapa kali.

"Aku ingin kau menjadi menjadi istriku dan ikut bersamaku Cags." Kedua mata Cagalli kini terbelalak, itu tadi apakah maksudnya Halsten melamarnya?

"Eh? Itu apa maksudnya kau sedang melamarku?"

"Kalau kau mengatakannya seperti itu boleh juga, tapi cincinnya menyusul ya, karena sebenarnya hari ini aku tidak merencanakannya." Sekarang Halsten terdengar mempermainkannya.

"Kau ini main-main ya? Bercandanya tidak lucu." kini Cagalli menyilangkan kedua tangannya di depan perutnya dan memalingkan wajahnya, ia kesal.

Halsten membalikkan wajah Cagalli menghadapnya. "Aku serius dengan ucapanku tadi Cags dan aku tidak menerima penolakan kau tahu?" Pria itu memberikan senyum termanisnya pada Cagalli, membuat bibirnya secara otomatis ikut merekah.

"Kau serius?"

"Seribu rius." Lagi-lagi wajah tampan pria itu dihiasi dengan senyuman, "Akhir-akhir ini aku selalu memikirkan cara yang tepat untuk memberitahumu, tapi aku tidak menyangka jadinya seperti ini."

"Kau memang selalu tidak niat, bahkan saat kau memintaku jadi pacar juga kau tidak niat." Dalam hati Cagalli masih kesal dengan cara Halsten melamarnya, tapi melihat pria itu tersenyum, mau tidak mau ia jadi ikut terbawa suasana dan membalas senyumannya.

*

"Kau tadi darimana saja? Kenapa sulit sekali dihubungi?" Nada itu lagi, nada yang Halsten keluarkan ketika ia merasa curiga pada Cagalli.

"Aku mengerjakan tugas kelompok Hals, aku kan sudah bilang padamu di telepon tadi? Ponselku di dalam tas, aku tidak memperhatikannya."

"Tugas kelompok? Sama siapa? Miguel? Rey? Heine?"

"Sama Juri dan Asagi. Kau kenapa sih akhir-akhir ini jadi aneh?"

Halsten hanya diam, sepertinya ia sadar nada sedikit meninggi.

"Kau kenapa sih akhir-akhir ini jadi curiga terus padaku?" Cagalli mulai dongkol. Akhir-akhir ini Halsten sering sekali mencurigainya untuk hal-hal yang tidak seharusnya. Sejak Halsten dengan resmi melamarnya, ia menjadi agak posesif.

Memang di tingkat akhir perkuliahannya, Cagalli jadi jarang meluangkan waktunya dengan Halsten. Ia sibuk dengan berbagai macam tugas kelompok serta tugas akhir. Waktu mereka bersama jadi berkurang, ditambah dengan sibuknya Halsten akhir-akhir ini karena mempersiapkan kepindahannya. Waktu mereka jarang beririsan. Namun, jujur saja cara Halsten mencurigainya sungguh membuatnya tidak nyaman.

"Maaf. Mungkin aku sedang lelah, urusan kantor benar-benar sedang genting. Mungkin aku rindu padamu, jadi berkata seenaknya." Halsten menangkap nada kesal Cagalli dan segera meminta maaf.

"Hals, kalau kau lelah seharusnya kita tidak perlu memaksakan bertemu. Kau harusnya istirahat."

Halsten menggenggam tangannya. Cagalli yang luluh akhirnya mengesampingkan amarahnya dan mencoba melupakan apa yang baru saja Halsten katakan. Walaupun dalam hati Cagalli mulai merasa sedikit demi sedikit ada rongga yang terbuka di antara mereka.

*

"Ibu tidak percaya! Anak ibu akan segera menikah setelah selesai kuliah."

"Bu, tapi akhir-akhir ini Halsten sedikit berubah dan juga aku jadi sedikit ragu." Cagalli menjawab pelan. Ia tidak tahu kenapa ada keraguan yang tiba-tiba membayangi pikirannya. Sikap Halsten yang posesif adalah satu hal, tappi ada hal lain yang membuat Cagalli berpikir ulang.

"Hmm, berubah bagaimana?"

"Dia jadi sedikit posesif, padahal aku hanya-""

Sang ibu memotong sebelum Cagalli selesai bicara, sepertinya ia tidak terlalu mendengarkannya. "Posesif bagaimana? Itu artinya dia menyayangimu kan? Halsten pria yang baik dan mapan, ia juga sayang padamu, apalagi yang membuatmu ragu?"

Halsten memang sempurna, tapi Cagalli ragu untuk langsung menikah setelah lulus kuliah. Apalagi Halsten langsung membawanya jauh dari ORB, rasanya ia tidak siap. "Iya bu tapi.."

"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Ini namanya sindrom sebelum pernikahan. Banyak pasangan yang merasakan hal seperti ini sebelum menikah."

"Benarkah?"

Sang ibu hanya mengangguk sambil lalu. Kembali sibuk memilih bunga apa yang akan digunakan di acara pernikahannya dengan Halsten nanti.

*

"Mempercepat pernikahan? Kenapa? Tapi bagaimana dengan kuliahku?" Tanya Cagalli. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Halsten ingin mempercepat pernikahan mereka.

"Ternyata kepindahanku dipercepat, beberapa hal di Scandinavia harus segera ku urus dan aku tidak tahu kapan bisa kembali ke ORB."

Cagalli berkontemplasi sejenak, lalu apakah ia harus langsung ikut Halsten ke Scandinavia? "Aku tidak bisa, aku belum lulus Hals, aku ingin fokus menyelesaikan studiku dulu."

"Cagalli, tapi kalau kita tidak mempercepat pernikahan, aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini. Apa kau mau menunda pernikahan kita selama itu? Tidak bisakah kau mengerti?"

"Maafkan aku Halsten tapi aku benar-benar ingin menyelesaikan studiku terlebih dulu. Oke?"

Halsten menghela nafas berat, "Baiklah, semoga ayah bisa membantuku dulu."

*

"Halsten, aku-" Cagalli tahu ini sesuatu yang berat diucapkan. Pernikahan mereka tinggal 3 bulan lagi, tapi Cagalli benar-benar merasa ragu dan rasanya ia ingin menunda pernikahan ini selama mungkin. "Aku ingin menunda pernikahan ini lagi. Bisakah kau menunggu sampai aku membuktikan diri dan berkarir? Aku ingin mencoba berusaha dengan tenagaku sendiri. Kalau aku langsung menjadi istrimu, aku merasa aku akan sangat bergantung padamu."

"Menundanya lagi?! Cagalli kau bercanda kan?"

"Halsten aku tau ini-, aku minta maaf tapi aku pikir aku benar-benar ingin meniti karirku dulu, baru aku bisa menikah dengan lega. Kau tahu kan yang terjadi pada ibu dan ayah kandungku?"

Halsten terdiam sejenak, entah apa yang ada di pikirannya hingga ia berkata hal yang sangat menyakiti hati Cagalli. "Kau tidak menunda pernikahan ini karena kau mengkhianatiku 'kan?"

Hati Cagalli mencelos. Dengan susah payah ia mengutarakan alasannya di depan Halsten, tapi semua itu sepertinya diabaikan Halsten. Cagalli hampir merasa tidak mengenal siapa yang sedang berbicara di depannya. Apa ini benar-benar Halsten kekasihnya sejak 3.5 tahun yang lalu?

"Cagalli, jawab aku!"

"Halsten!"

"Ma-maaf, aku berbicara sembarangan lagi. Tapi aku benar-benar tidak bisa menundanya lagi. Aku tidak tahu kapan kembali lagi ke ORB."

"Aku hanya tidak ingin seperti ibu, ayah langsung menikahinya setelah lulus SMA, dulu ia sangat bergantung pada ayah. Lalu lihat hubungan mereka? Aku tidak ingin berakhir seperti itu."

"Tapi aku tidak seperti ayahmu Cagalli, kau juga tidak seperti ibumu. Kita berbeda. Bagaimana kalau kita menikah dulu lalu kau menyusul?"

"Aku takut aku tidak fokus pada karirku nanti Hals."

"Lalu kau ingin kita putus?"

Cagalli hanya diam tidak bisa menjawab. Ia tidak ingin putus, ia tahu ia mencintai Halsten, tapi ia juga ingin merasakan menjadi wanita yang mandiri, tidak langsung menjadi seorang istri yang bergantung pada suaminya.

"Kita istirahat sebentar?" Hanya itu yang bisa Cagalli katakan.

*

Sudah satu minggu mereka tidak bertemu. Halsten terus menghubungi Cagalli, meminta Cagalli untuk memikirkan lagi rencananya. Halsten sangat yakin, bahwa yang terjadi pada ayah dan ibu Cagalli tidak akan terjadi pada mereka. Cagalli menjadi tidak tega dan mengusulkan jika pernikahan mereka tidak ditunda, Halsten akan membiarkannya tinggal di ORB selama beberapa tahun.

"Cagalli, kumohon pikirkanlah lagi? Apa bedanya kita menikah jika kau tidak disisiku?" Halsten menelpon lagi. Ini sudah ke 5 kalinya hari ini.

"Halsten, aku sudah menyerah, aku akan menikah setelah lulus, tapi aku minta aku tidak langsung ikut ke Scandinavia, apa itu sulit?"

"Sulit, untukku sangat sulit, satu minggu tidak bertemu denganmu rasanya sangat menyedihkan. Aku akan menemuimu hari ini."

"Tidak, tolong jangan temui aku dulu. Kalau bertemu langsung kau hanya akan marah padaku. Aku sudah setuju menikah setelah lulus, hanya saja aku tidak langsung ikut denganmu. Tolong pikirkan permintaanku, kalau memang sulit, lebih baik kita batalkan saja pernikahan ini."

"Cagalli!"

Tin tin tin tin tiiiiiiiiin

Bising suara klakson yang sangat keras terdengar dari sisi Halsten.

"Kau sedang dimana? Kau menelpon sambil menyetir lagi? Kau tahu itu bahaya kan?!"

Jedaaaaaaaar! Krieeeeeeet...

"Hals? Halsten? Hals?!"

Tut tut tut tut..


"Keraguanku muncul bukan karena aku merasa tidak lagi mencintainya tapi ketika ia berubah menjadi seorang yang cukup egois menjelang pernikahan, mau tidak mau perasaan ragu pun muncul. Aku teringat pertengkaran ibu dan ayahku banyak terjadi karena ibu merasa terkungkung menjadi ibu rumah tangga tanpa pernah merasakan menjadi wanita dewasa yang bebas." Cagalli terdiam sebentar, lalu melanjutkan,"Namun, saat aku menjelaskan alasanku, ia seperti tidak peduli."

"Aku sungguh menyesal, kalau aku tahu itu kali terakhir aku mendengar suaranya, aku tidak akan pernah berkata seperti itu." Athrun menatap wajah Cagalli. Ternyata Cagalli menangis dalam diam. Tidak terdengar isakan, tapi air matanya jelas mengalir di kedua pipinya. "Sejak kejadian itu aku banyak mengurung diri dan menyalahkan diriku. Beruntung aku memiliki Kira, dia yang perlahan-lahan membantuku kembali normal. Namun rasa bersalahku tak pernah hilang. Aku selalu merasa akulah yang secara tidak langsung membuatnya kecelakaan." Cagalli tidak tahu kenapa ia menceritakan hal ini pada Athrun. Sejak 5 tahun yang lalu, ia telah menutup rapat semua dalam pikirannya. Bahkan Kira dan Shiho tidak pernah mengungkit hal ini. Ia sama sekali tidak tahu kenapa ia malah menumpahkan semuanya pada Athrun. "Balap motor adalah caraku untuk tidak terus memikirkan rasa bersalahku dan alasanku tidak mau menikah karena aku merasa sangat tidak adil pada Halsten. Padahal dia mati karena hampir menikahiku. Walaupun aku juga belum menemukan orang yang bisa menggantikannya." Cagalli menunduk, menyeka air matanya yang sedang mengalir. Athrun meraih pundak Cagalli dan meremasnya, ia tidak tahan melihat Cagalli bersikap kuat, seakan apa yang ia ucapkan tidak berarti apa-apa, padahal sudah jelas lelehan air matanya begitu deras. Ia ingin merangkul Cagalli, tapi hal itu pasti akan membuat Cagalli tidak nyaman.

"Ibu seperti biasa tidak pernah berempati padaku, ia malah sempat mencoba menjodohkanku lagi hanya selang beberapa bulan setelah Halsten meninggal. Saat itu aku benar-benar marah dan akhirnya pergi dari rumah, karena tidak tahan dengan sikap Ibu. Kau beruntung punya ibu seperti tante Lenore, Athrun." Wajah Cagalli menatap kosong ke arah kakinya. Athrun ingin sekali menghibur Cagalli tapi ia tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Via ada benarnya, Cagalli seharusnya tidak terus-terusan memikirkan Halsten. Rasa bersalah itu akan membuatnya berjalan di tempat yang sama dan terus menyiksa dirinya.

"Dia ibumu juga." tiba-tiba Athrun berucap pelan. Untuk pertama kali sejak Cagalli mencurahkan perasaannya, Athrun mengeluarkan suaranya.

"Hmm?" Cagalli tidak terlalu jelas mendengar Athrun.

"Ibuku, ibumu juga kan?"

Cagalli tidak tahu harus merespon seperti apa, ia kaget dengan ucapan Athrun. Lenore memang ibu mertuanya, tapi bukan mertua sungguhan. "Maksudku, kau juga diminta memanggilnya ibu kan?" Athrun menambahkan buru-buru.

"Benar." Jawab Cagalli singkat, wajahnya masih tanpa ekspresi.

"Aku akan tinggal disini lagi, jika kau tidak keberatan." Athrun akhirnya memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan. Ia tahu ia bukan pemberi nasihat yang ulung.

"Sudah ku bilang lupakan saja kata-kataku tadi. Aku sebenarnya mengerti kalau ingin membuat batasan. Mungkin aku juga akan tinggal di apartemenku saja, rumah ini terlalu besar untuk ku tempati sendiri."

"Jangan!" Athrun buru-buru berucap. Sekarang ia bingung bagaimana menjelaskan maksud larangannya.

"Hah?" Kini Cagalli menengok ke arah Athrun, ingin mengonfirmasi maksud jawaban Athrun. Athrun benar-benar mendistraksinya.

"Aku sudah putuskan untuk tinggal disini lagi." Athrun memutar otaknya, memikirkan alasan yang tidak mengada-ada."Ibuku- terus-terusan menanyakanmu. Seharusnya aku memang tidak menghilang begitu saja. Sekali lagi aku minta maaf. Kita mulai lagi dari awal. Dengan berteman?"

"Kau yakin?"

Athrun mengangkat satu tangan dan mengajaknya bersalaman. "Ya, perkenalkan namaku Athrun Zala, senang berteman dengan Anda."

Cagalli pun tersenyum, menjabat tangan Athrun. Sejenak hilanglah semua yang ia pikirkan tadi. Mungkin inilah mengapa Cagalli menumpahkan perasaannya pada Athrun, Athrun memiliki efek menenangkan. Athrun tidak pernah memaksanya bercerita, ia tidak pernah berkata ia ingin tahu, tapi dari ekspresinya, Cagalli tahu Athrun peduli, sama seperti saat ia menolongnya dari Ahmed. Dengan mengubah topik pembicaraan tadi, Cagalli yakin, Athrun tidak ingin Cagalli berlarut-larut dalam tangisannya, hanya saja ia tidak tahu kata-kata apa yang seharusnya ia ucapkan.

Athrun sadar mungkin hal ini akan mengecewakannya kelak, perasaan yang ia rasakan untuk Cagalli akan semakin berkembang kedepannya, dan ia tahu akan sulit perasaannya untuk berbalas. Namun untuk saat ini, ia tidak berharap perasaannya berbalas. Ia hanya berharap ia bisa membantu Cagalli sembuh dari masa lalunya. Belum tahu apa yang akan ia lakukan, tapi ia akan mencoba, setidaknya sampai saat akhirnya kontrak mereka selesai nanti.


TAMAAAAAAAT (?)

Kalau tamatnya begitu aja gimana mentemen?

Monmaap kalau ga puas sama chapter ini, jujur yg ini susah banget buatnya, sampe ngedit berkali-kali huhu, jadi maaf kalo agak gimana gitu ya. Lanjut atau nggaknya cerita ini tergantung yang baca. Kalau udah pada bosen sy berhenti, kalau masih pengen diterusin nanti sy lanjut. Stay safe semua dan semoga terhibur yaa.