Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.
The Commitment
Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor
Chapter 15 : Pesaing
WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.
Cagalli masih belum selesai menyambangi toko-toko yang berada di pusat perbelanjaan terdekat dengan kantornya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Lenore akan berulang tahun esok hari dan sang ibu ingin merayakannya bersama Athrun dan Cagalli. Patrick awalnya ingin membuat pesta ulang tahun yang meriah dengan kerabat dan keluarga terdekat, tapi Lenore menolaknya, ia bilang ingin merayakan ulang tahunnya tahun ini hanya bersama Patrick, Athrun dan Cagalli.
Sayangnya, sejak diberitahu sampai saat ini Cagalli masih sulit menentukan apa yang harus ia berikan kepada "ibu mertuanya". Maka sekarang Cagalli masih mencari hadiah yang tepat untuk Lenore. Ia sudah bertanya pada Athrun kira-kira hadiah apa yang tepat untuk sang ibu, tapi informasi dari Athrun tidak terlalu membantu. Katanya Athrun biasa memberikan sang ibu karangan bunga jika berulang tahun. Athrun tidak terlalu mengerti jika ditanya tentang brand aksesoris atau pakaian kesukaan sang ibu. Akhirnya bermodal tekad, Cagalli mencoba mencari sendiri hadiah yang tepat untuk Lenore.
Hari sudah cukup malam ketika Cagalli menemukan apa yang ia cari. Namun karena sudah berkeliling selama 2 jam nonstop, Cagalli merasa haus dan memutuskan untuk duduk sebentar di salah satu stall kopi terdekat dari tempatnya.
Ia memesan minumannya di kasir dan setelah mendapatkan minumannya, Cagalli langsung memilih salah satu tempat duduk kosong yang memang disediakan untuk pelanggan stall kopi tersebut. Sebelum mulai minum, Cagalli meletakkan tas belanjanya di kolong meja agar tidak mengganggu, karena meja stall kopi itu tidak terlalu besar.
Sambil mulai minum, Cagalli membaca pesan singkat dari Athrun di ponselnya, pria itu menanyakan kenapa dirinya belum pulang padahal sudah hampir pukul sembilan malam. Athrun sebenarnya sudah menawarkan untuk menjemput dan mengantarkannya mencari hadiah hari ini. Hanya saja, Cagalli tahu menunggu orang berbelanja itu bukan sesuatu yang disukai pria. Lagipula, ia tidak ingin merepotkan Athrun karena jarak kantor mereka juga tidak terlalu dekat. Maka Cagalli menolak tawarannya dan berkata bahwa ia akan cepat pulang. Namun kenyataannya mencari hadiah untuk Lenore tidak semudah itu, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menemukannya. Cagalli pun segera membalas pesan Athrun, mengatakan bahwa ia sudah selesai dan sebentar lagi akan pulang.
"Cagalli?" suara seseorang tak dikenal menyapanya setelah ia selesai menekan tombol mengirim pesan. Dilihatnya dengan seksama pria yang sedang berdiri di depannya itu. "Aku Rusty, teman Shiho, apa kau ingat?" tambahnya.
Cagalli mencoba mengorek memorinya dan tak lama ia pun ingat. Rusty McKenzie, pria berambut oranye yang pernah dikenalkan oleh Shiho di kedai kopi yang sama dengan yang ia kunjungi sekarang.
"Rusty yang sekantor dengan Shiho bukan?" Tanya Cagalli mengonfirmasi.
"Syukurlah kau masih mengingatku." Rusty tersenyum tipis, masih diam di tempatnya. Awalnya Cagalli hanya menganggap Rusty akan segera pergi sambil lalu, tapi sepertinya dari gelagat pria itu, ia ingin Cagalli mengundangnya duduk bersama.
"Erm, duduklah kalau kau mau, tapi sebentar lagi aku akan pergi." Cagalli menggoyangkan gelas minumannya sambil menunjukkannya ke Rusty, memberitahu bahwa minumannya sebentar lagi akan habis.
"Bolehkah?" Rusty dengan membawa minumannya tanpa ragu langsung mengambil duduk di seberang Cagalli, memang hanya ada dua kursi di meja itu.
"Ini sudah malam, apa kau sendirian saja?" Rusty langsung membuka percakapan setelah duduk.
"Hmm, iya, rencananya setelah minum kopi ini aku akan segera pulang." Jawab Cagalli datar. Ia sebenarnya agak merasa kikuk, karena waktu pertama berkenalan juga pertemuan mereka sangat singkat.
"Apa kau membawa kendaraan sendiri?"
"Iya, aku lebih nyaman dengan berkendara sendiri."
Rusty mulai meminum minumannya. Hening, terlihat Rusty seperti cemas, memain-mainkan sedotannya sambil mengaduk-aduk es batu.
"Erm, Cagalli, boleh aku tanya sesuatu?" Rusty akhirnya memecah keheningan mereka.
"Ya?"
"A-apa kau sendirian?"
Cagalli menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Rusty. Bukankah memang ia sendirian sampai Rusty datang dan bergabung dengannya?
"Ah, maksudku, apa kau masih sendiri? Apa kau punya pacar?"
Cagalli terkejut mendengar pertanyaan Rusty. Shiho memang pernah mengancamnya akan menjodohkannya dengan Rusty jika ia terus bersikap mencurigakan dengan pernikahannya. Namun Cagalli mengira Shiho hanya bercanda, ia sama sekali tidak tahu kalau Rusty benar-benar tertarik padanya. Sedangkan untuk jawaban pertanyaan Rusty, jawaban mudahnya tentu saja ia tidak punya pacar, tapi statusnya menjadi rumit ketika ia memiliki suami kontrak.
Cagalli berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab singkat, "Tidak." Cagalli tidak bohong, ia memang tidak punya pacar. Hanya saja, jika menjelaskan kalau ia sudah bersuami rasanya agak aneh, karena selama ini ia tidak pernah membeberkan status pernikahannya kepada siapapun kecuali keluarga dan sahabatnya.
"Benarkah?" Kecemasan di wajah Rusty memudar. "Jadi benar 'kan Shiho hanya berbohong padaku? Dia bilang kau sudah menikah." Pria berambut oranye itu terlihat lega.
Cagalli berhenti menyeruput kopinya. Ia tiba-tiba menjadi was-was dengan sikap Rusty yang semakin transparan. Cagalli mungkin hanya menikah kontrak dengan Athrun, tapi tetap saja menurutnya, dekat dengan pria lain saat kontrak mereka berlangsung, agaknya kurang etis. Jika tersebar rumor tentangnya dekat dengan pria lain, Shiho pasti akan semakin menjadi-jadi dan bisa-bisa pernikahan kontraknya akan ketahuan. Selain itu Cagalli sama sekali tidak mau membayangkan apa yang terjadi jika orang tuanya atau orang tua Athrun mendengar rumor tersebut. Cagalli akhirnya memutuskan untuk segera memberitahu Rusty tentang status pernikahannya, toh Shiho juga sedikit banyak sudah memberitahunya tentang statusnya.
"Kalau soal itu benar. Aku memang sudah menikah. Tadi kau hanya bertanya tentang pacar bukan suami." Jawab Cagalli mengelak.
Rusty terlihat kaget mendengar jawaban Cagalli, ekspresi wajahnya terlihat kecewa. Dia sepertinya tidak menyangka Cagalli benar-benar sudah menikah, namun dengan segera ia mencoba menormalkan ekspresinya.
"Apa dia tidak menjemputmu? Ini kan sudah cukup malam. Bukankah akan berbahaya jika seorang wanita pulang sendiri malam-malam begini?"
Cagalli mulai merasa tidak nyaman. Rusty dan dirinya sama sekali tidak dekat, tapi Rusty sudah berani berbicara seakan mereka akrab sekali. Cagalli sama sekali tidak suka mendengarnya.
"Aku yang bilang padanya tidak perlu menjemput, dia sudah menawarkan. Lagipula aku selalu membawa kendaraan sendiri, akan tidak efektif jika ia menjemputku juga." Buru-buru Cagalli menghabiskan minumannya. Ia ingin segera mengakhiri percakapannya dengan Rusty.
Sepertinya Rusty menyadari bahwa Cagalli merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya. Ia pun memutuskan untuk berhenti bertanya. Sebenarnya ia tidak bermaksud apa-apa. Ia memang hanya khawatir jika membayangkan seorang wanita pulang sendirian di malam hari.
"Sepertinya aku harus pulang duluan Rusty." Minuman Cagalli akhirnya habis.
"Ah, iya tentu saja. Hati-hati di jalan Cagalli." Rusty mengeluarkan senyum teramahnya. Membuat Cagalli jadi sedikit merasa bersalah karena bersikap agak dingin. Namun hari sudah malam dan pembicaraan mereka agak canggung untuk Cagalli. Jadi, Cagalli tetap memutuskan untuk meninggalkan kedai kopi dan Rusty yang masih duduk di tempatnya itu secepatnya. Cagalli berjalan buru-buru menuju tempat parkir, melupakan sesuatu yang penting tertinggal di kedai kopi itu.
"Aaak, tidaaak!" Sesampainya di rumah, Cagalli berteriak histeris sambil mengacak-acak rambutnya. Pasalnya ia baru sadar bahwa hadiah untuk Lenore tertinggal di bawah meja kedai kopi yang ia singgahi tadi. Sepertinya karena terburu-buru ia jadi melupakannya.
"Kau kenapa?!" Athrun yang sedang duduk di ruang tamu langsung berlari keluar menghampiri Cagalli yang berteriak dari halaman rumah mereka.
"Hadiah untuk ibumu tertinggal di mal, tapi kalau aku kembali sekarang pasti malnya sudah tutup." Cagalli berkata sambil mengerutkan keningnya dengan bibir cemberut.
Untuk sepersekian detik Athrun tidak mengindahkan apa masalah yang sedang terjadi, malah memikirkan betapa imutnya wajah Cagalli yang cemberut seperti itu.
"Bagaimana ini?" tanya Cagalli padanya dengan nada merajuk.
Sadar bukan waktunya melamun, Athrun segera menepis pikiran anehnya dan mencoba memberikan solusi. "Masih ada waktu besok pagi. Sebelum ke rumah orang tuaku, kita bisa mengambilnya kesana."
Cagalli menatap Athrun dengan sedih, ia benar-benar kecewa karena barangnya tertinggal. Padahal ia ingin meminta pendapat Athrun tentang hadiah yang ia pilih. Hadiah yang ia pilihkan merupakan produk handmade yang unik, jadi kalau barangnya benar-benar hilang, ia tidak akan bisa membeli barang yang sama lagi. Namun Cagalli sadar tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, jadi Cagalli hanya mengangguk kecil dan menyetujui saran Athrun.
Keesokan harinya, mereka datang ke kedai kopi tempat Cagalli meninggalkan barangnya. Anehnya, salah satu petugas yang bekerja di kedai itu mengatakan bahwa tidak ada laporan barang yang tertinggal. Cagalli kecewa bukan main, apa itu artinya barangnya hilang? Ia sangat menyukai hadiah itu, syal biru tua yang senada dengan warna rambut Lenore. Sebuah syal sederhana, tapi berbahan sangat lembut disertai motif yang indah. Sungguh sangat disayangkan jika ia tidak bisa memberikannya pada Lenore.
Melihat kekecewaan di raut wajah Cagalli, Athrun segera menyarankan agar Cagalli membeli hadiah yang baru, ia akan coba membantu, ia juga mengatakan tidak masalah jika mereka sedikit terlambat, pasti orang tuanya mengerti. Cagalli menatap Athrun dengan sedih, suasana hatinya menjadi sedikit buruk. Saat ia membeli syal kemarin, ia sudah membayangkan bagaimana syal itu akan sangat cocok dipakai oleh Lenore. Namun sekarang barangnya hilang, dimana lagi ia mencari barang yang sempurna untuk hadiah Lenore?
Trililit trililit
trillilit trililit
Suara ponsel mendistraksi pikiran Cagalli saat mereka masih berada di depan kedai. Cagalli merogoh tas kecilnya dan mengangkat ponselnya, ada telepon dari nomor yang tidak ia kenali. Awalnya ia ragu untuk mengangkatnya, tapi tidak tahu kenapa ia akhirnya tetap menerima panggilan itu.
"Ini dengan Cagalli?" suaranya seperti familiar, tapi ia tidak mengenalinya, pikir Cagalli.
"Ya?"
"Cagalli, ini aku Rusty. Maaf aku baru menghubungimu karena Shiho baru saja memberikan nomormu."
Cagalli bingung, kenapa tiba-tiba Rusty menelponnya? "Oh, Rusty ada apa?"
"Apakah kemarin barangmu ada yang tertinggal di kedai kopi? Jika iya, aku yang membawanya. Kemarin aku takut barangnya hilang, jadi aku bawa saja, takutnya itu punyamu. Kalau bukan, aku akan mengembalikannya lagi ke kedai kopi."
"Apakah tas itu berisi kotak hadiah dan di dalamnya ada syal berwarna biru tua?" Cagalli senang bukan main mendengar ada harapan bahwa syal untuk Lenore tidak hilang.
"Benar, sebuah syal biru tua dengan garis emas tipis."
"Oh, kau penolongku Rusty! Syukurlah, aku membutuhkannya hari ini. Dimana alamatmu biar aku ambil barangnya?"
"Tidak, biar aku yang mengantarkannya. Di mana alamatmu?"
"Kau yakin tidak apa?"
"Iya, aku juga sekalian mau pergi ke luar."
"Kalau begitu, bisakah kau mengantarkannya ke alamat ini?" Cagalli langsung memberikan alamat orang tua Athrun. "Aku akan mengganti ongkosnya, mohon maaf ya merepotkan, itu hadiah untuk seseorang dan rencananya hari ini aku akan memberikannya."
"Tidak masalah, maaf juga aku baru memberitahumu. Oke, sampai jumpa nanti."
Cagalli tersenyum lebar, ia lega karena syal itu telah ditemukan. Ia segera menginfokan pada Athrun bahwa hadiahnya sudah ketemu, jadi mereka tidak perlu mencari hadiah baru dan lebih baik mereka segera berangkat ke rumah orang tua Athrun.
"Rusty! Terima kasih ya, kau benar-benar penolongku." mata Cagalli berbinar saat Rusty memberikannya barang yang belum kembali padanya sejak kemarin.
"Tidak masalah. Aku yang minta maaf karena membawanya dan baru memberitahumu."
Cagalli menggeleng sambil tersenyum, "Tidak, aku sangat bersyukur kau menemukannya, kalau barang ini hilang aku akan sedih sekali, karena aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk mencarinya." Agaknya rasa tidak nyaman Cagalli terhadap Rusty kemarin menghilang begitu saja hari ini.
Rusty merasa ada sesuatu yang bergetar di dadanya saat melihat Cagalli tersenyum, jujur saja ia tidak menyangka Cagalli sudah memiliki suami. Waktu mereka bertemu pertama kali, Rusty langsung tertarik pada Cagalli. Bukan hanya karena cantik, tapi ada pembawaan Cagalli yang berbeda yang membuatnya sangat tertarik. Mungkin benar memang jatuh cinta pada pandangan pertama itu ada, karena ia sedang mengalaminya. Melihat Cagalli tersenyum padanya, rasanya ia tidak ingin menyerah begitu saja. Padahal ia tahu jelas Cagalli sudah ada yang memiliki.
"Jadi berapa ongkosnya? Biar aku ganti?" tanya Cagalli lagi.
"Tidak perlu, aku memang kebetulan sedang keluar rumah." jawab Rusty.
"Hei, jangan begitu. Aku jadi tidak enak."
"Tidak, tidak, tidak perlu." Rusty menolak. "Aku tidak rugi kok. Baiklah aku pergi dulu, sampai jumpa lagi kapan-kapan Cagalli."
"Kau yakin?" Cagalli jadi merasa agak bersalah kemarin bersikap dingin pada Rusty.
"Cagalli, kenapa lama sekali?" Athrun tiba-tiba keluar dari dalam rumah orangtuanya dan melihat Cagalli sedang bercengkrama dengan seorang pria yang tidak dikenalnya. Cagalli tadi memang meminta ijin keluar untuk mengambil barang, tapi karena terlalu lama, ibunya meminta Athrun untuk melihat keluar. Mendengar suara Athrun, Cagalli menoleh dan melambaikan tangan padanya, mengajaknya mendekat. Athrun pun menghampiri Cagalli.
"Athrun, ini Rusty, teman Shiho, dia yang menemukan hadiah untuk ibu yang tertinggal kemarin." jelas Cagalli. Sebenarnya Athrun tidak mengerti kenapa bisa teman Shiho itu menemukan barang milik Cagalli. Apa mereka bertemu di kedai kopi kemarin?
"Kami kemarin tidak sengaja bertemu di kedai kopi yang sama. Cagalli pulang lebih dulu dan sepertinya kelupaan dengan tasnya, jadi aku membawanya." kini Rusty yang menjelaskan, sepertinya ia menyadari kebingungan Athrun.
"Rusty McKenzie." Rusty menyodorkan tangannya di depan Athrun.
"Athrun Zala." Athrun membalas jabatan tangannya cukup lama, menyadari ada yang aneh dengan pernyataan Rusty. "Aku berterima kasih karena kau sudah mau repot membawanya kesini. Tapi aneh sekali ya, kenapa kau harus membawanya? Bukankah menitipkannya pada pegawai kedai sudah cukup?" kata Athrun yang akhirnya lebih dulu melepaskan jabatannya.
Rusty mendengar sedikit nada sinis dari Athrun. "Aku hanya takut tas ini berisi barang berharga. Jadi kuputuskan untuk membawanya, kita tidak pernah tahu niat orang 'kan?"
"Ya, kita tidak pernah tahu niat orang seperti apa." Athrun menatap tajam pria di hadapannya sebentar sebelum beralih ke wanita di sampingnya yang sedang sibuk mengecek isi tas yang baru diberikan Rusty. Sepertinya Cagalli sama sekali tidak sadar dengan suasana tegang yang baru saja terjadi di depannya. "Cagalli, Ibu sudah mencarimu, makanya aku keluar."
"Iyakah? Kalau begitu aku harus segera masuk." Cagalli merespon.
"Kalau begitu aku pamit dulu Cagalli."
"Baiklah, sekali lagi terima kasih ya, Rusty." ucap Cagalli.
Rusty pun menaiki motornya dan tak lama kemudian menghilang dari pandangan mereka. Sedangkan Athrun memandang kepergian Rusty dengan sedikit perasaan was-was.
A. N : Thank you semuanyaa yang udah review, akhirnya aku putuskan untuk lanjut. Jujur emang sebenarnya masih panjang ceritanya, cuma takutnya dah pada bosen huehuehue. Ini chapter ringan aja ya, semoga terhibur. See you in the next chap :D
