Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 16 : Restless

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.


Setelah Cagalli dan Athrun kembali masuk ke dalam rumah, pesta kecil mereka pun tak lama dimulai. Selesai acara tiup lilin di atas kue, Cagalli segera memberikan hadiahnya kepada Lenore. Tentu saja, sesuai dengan harapan Cagalli, Lenore sangat menyukai hadiah darinya. Saat Lenore membuka hadiah dari Cagalli, matanya bahkan sempat berkaca-kaca, mungkin karena ini pertama kalinya ia diberikan hadiah oleh menantunya setelah sekian lama menunggu putranya untuk menikah. Lenore sebenarnya sangat bersyukur Athrun memilih Cagalli, bukan hanya karena Cagalli adalah anak dari sahabat lamanya, tapi menurutnya, sifat Cagalli yang kontras dengan Athrun, sedikit membawa perubahan pada putranya. Akhir-akhir ini Athrun terlihat sedikit lebih santai, tidak sekaku dulu. Ia juga terlihat lebih banyak tersenyum. Sedikit banyak pastilah Cagalli yang mempengaruhinya. Sayang sekali walaupun begitu, Lenore cukup menyadari bahwa hubungan mereka belum sedekat pasangan suami istri biasa. Athrun memang terlihat meyakinkan, tapi Cagalli bukan perempuan yang pandai berbohong.

"Cagalli, jadi kapan kira-kira kalian akan memakai hadiah pernikahan dari ibu dan ayah?" tiba-tiba Lenore bertanya, membuat Athrun sedikit tersedak. Cagalli yang ditanya, menendang pelan kaki Athrun yang duduk disebelahnya, memberikan kode bahwa ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Lenore.

"Kami masih sibuk Bu, lagipula tanggal berlakunya masih lama kan?" jawab Athrun buru-buru, mengalihkan perhatian ibunya dari Cagalli.

"Iya, tapi sebaiknya jangan terlalu lama ditunda, nanti suasana pengantin barunya keburu hilang." Lenore beralasan sambil tersenyum jahil.

Wajah Athrun sedikit memerah mendengar jawaban sang ibu, "Ya Bu, aku akan segera membicarakannya dengan Cagalli. Sekarang lebih baik kita mulai makan malamnya." ujar Athrun benar-benar ingin segera mengakhiri topik itu.

Setelah acara makan selesai, mereka pun melanjutkan obrolan ringan mereka. Berbeda dengan makan malam keluarga yang selalu terasa berat bagi Cagalli. Makan malam bersama keluarga Athrun terasa lebih menyenangkan. Lenore sama sekali tidak menyebutkan hal-hal yang menekannya seperti Via, sedangkan Patrick lebih tertarik dengan bagaimana perjalanan karir Cagalli saat ini. Rasanya sudah sangat lama Cagalli tidak menikmati momen makan malam bersama keluarga yang menyenangkan seperti sekarang.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Patrick meminta Lenore untuk menyudahi pesta kecil mereka dan beristirahat. Sudah seharian ini Lenore aktif sekali, padahal biasanya dalam sehari waktunya banyak dihabiskan di dalam kamar, mencegah jantungnya bekerja terlalu berat. Cagalli mengerti mengapa Patrick melakukan hal itu. Walaupun Lenore terlihat ceria, namun wajahnya yang tirus dan tubuhnya yang mengurus tidak dapat membohongi bahwa ia tidak dalam keadaan yang sehat benar.

Hanya saja, Lenore tidak langsung menuruti perkataan Patrick, ia meminta agar mereka untuk foto bersama terlebih dulu. Cagalli pun menawarkan diri untuk mengambil foto mereka bertiga yang langsung Lenore tolak, ia berkata bahwa ia ingin mengabadikan foto mereka berempat bukan hanya bertiga. Maka dipanggillah salah satu pelayan keluarga mereka untuk mengambil foto mereka berempat.

Setelah selesai foto berempat, Lenore kembali meminta Athrun untuk foto berdua dengan Cagalli. Awalnya Cagalli merasa canggung karena memang sudah lama mereka tidak pernah foto berdua selain saat "pernikahan" mereka dan waktu Athrun mengambil foto mereka saat membuka hadiah pernikahan. Lenore menyuarakan protesnya, berkata bahwa jarak mereka berdua terlalu jauh. Di saat Cagalli memperkecil jaraknya pada Athrun dengan perlahan, tak disangka pria itu malah menarik bahu Cagalli sehingga benar-benar menghilangkan jarak diantara mereka. Cagalli yang kaget dengan tindakan Athrun menoleh padanya karena terkejut, namun agar tidak dicurigai ia cepat-cepat kembali memfokuskan pandangannya pada kamera. Walaupun sudah beberapa bulan bersama, Cagalli masih saja belum terbiasa dengan sandiwara Athrun selama mereka menikah kontrak. Athrun pun merengkuh pundak, setengah memeluk Cagalli selama berfoto. Setelah Lenore berhasil mengambil beberapa foto mereka berdua, Cagalli melepaskan tangan Athrun dari bahunya dan buru-buru menawarkan dirinya untuk mengambil foto Lenore dan Patrick. Puas berfoto, Athrun dan Cagalli pun akhirnya pamit pulang.


Perasaan Athrun campur aduk setelah pesta berakhir. Di satu sisi, ia ikut senang melihat sang ibu sangat ceria pada ulang tahunnya kali ini. Namun Athrun sadar, ibunya nampak lebih kurus dan pucat, tubuhnya tergerus dan senyum lebar di wajahnya tidak bisa menutupi kenyataan itu. Lenore terlihat begitu menyukai Cagalli, bahkan sang Ayah yang biasanya dingin dan tidak banyak bicara, terlihat sedikit lebih santai saat bersama Cagalli, mungkin Ayahnya juga menyadari betapa Ibunya sangat menyukai Cagalli. Athrun tidak tahu bagaimana respon orang tuanya jika tahu pernikahan mereka hanya kontrak, terutama sang Ibu, dan Athrun sama sekali tidak mau membayangkannya. Ia berharap sang ibu sudah mendapatkan donor jika saat itu tiba dan semuanya akan berakhir dengan baik-baik saja. Hati Athrun mencelos. Benarkah pernikahan kontrak ini akan berakhir dengan baik-baik saja? Lalu bagaimana dengan perasaannya?

"Umurmu baru 30 tahun, kalau kau terus mengerutkan keningmu seperti

itu, kau akan lebih cepat keriput." perkataan Cagalli menyadarkan Athrun dari lamunannya. "Ibumu akan baik-baik saja, berhentilah berpikir negatif." lanjut Cagalli. Athrun tidak mengerti, apa sekarang Cagalli bisa membaca pikiran?

"Apa begitu jelas?" tanya Athrun.

"Kalau soal ibumu, kau benar-benar tidak bisa menyembunyikannya." Cagalli berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kau tahu tidak, aku dengar jika seseorang yang sakit terus diberikan kebahagiaan, ia bisa sembuh dengan ajaib loh! Bahkan kanker sekalipun. Jadi jangan putus asa, aku pasti akan membantumu." ujar Cagalli mencoba menghibur Athrun.

Athrun hanya tersenyum kecil mendengar Cagalli menghiburnya, ia sama sekali tidak yakin informasi yang baru diberikan Cagalli adalah informasi yang akurat, tapi setidaknya perkataan Cagalli sedikit meringankan suasana hatinya.

"Cagalli, kau pernah bertanya 'kan, kenapa aku memilihmu menjadi istri kontrakku?"

"Hmm, ya. Bukankah karena kita sama-sama tidak ingin menikah?"

Melihat persimpangan jalan di depannya, Athrun membelokkan setirnya lalu bertanya, "Apa kau ingat kapan pertama kali kita bertemu?"

Cagalli menengadahkan wajahnya, mencoba berpikir, "Saat di road race, 'kan?"

Athrun menggeleng masih sambil memperhatikan jalan di depannya. "Pertama kalinya aku bertemu denganmu adalah di toko spare part motor. Aku menabrakmu hingga kau jatuh, tapi karena aku sedang terburu-buru aku tidak sempat meminta maaf padamu. Aku memakai masker putih dan jaket, apa kau ingat?"

Cagalli mencoba mengorek memorinya, tak lama ia berkata, "Orang itu adalah kau? Waktu itu aku kesal sekali kau tahu?!" Tidak pernah sedikit pun terlintas di benak Cagalli bahwa Athrun adalah orang yang menabraknya waktu itu. Kejadian itu sudah cukup lama, tapi Cagalli cepat ingat karena menurutnya laki-laki yang menabraknya itu sangat tidak sopan.

"Lalu, apa kau sadar, bahwa aku hadir di pesta pernikahan Shiho dan Yzak? Aku hadir karena undangan dari pihak Yzak. Hanya saja kami tidak kenal secara langsung. Yzak adalah klien bisnis perusahaanku, tapi biasanya Nicol yang mengurusnya, waktu itu kebetulan Nicol tidak bisa hadir, jadi aku menggantikannya." Athrun membelokkan setirnya lagi, lalu meneruskan ceritanya."Aku melihatmu, tapi kau sepertinya masih belum mengenaliku walau kita sudah sempat bertemu di road race."

"Benarkah?"

"Hmm, aku yang tidak sengaja menabrak dan menumpahkan wine di blazer pria berambut ungu itu."

"Benarkah?!" Cagalli setengah berteriak, "Berarti kau yang menolongku waktu itu?!"

Athrun mengangguk, "Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku terus mengingatmu, tapi sebaliknya kau tidak pernah mengenaliku."

Cagalli merasa heran, ia tidak tahu mengapa tiba-tiba jantungnya berdebar mendengar cerita Athrun. Ia sama sekali tidak tahu kemana arah pembicaraan Athrun, tapi rasanya ia merasa tidak nyaman dengan percakapan ini.

"Aku tidak tahu arti pertemuan-pertemuanku denganmu waktu itu, sampai kita bertemu lagi di rumah orang tuamu. Aku merasa mungkin, hanya mungkin jika kau orangnya, aku akan bisa membuat ibuku bahagia dengan melihatku menikah. Mungkin buatmu, bertemu denganku adalah sebuah kesialan, tapi buatku, bertemu denganmu adalah sebuah keberuntungan. Terima kasih, Cagalli."

Ambigu, Cagalli tidak mengerti maksud Athrun mengatakan itu semua. Athrun bukan tipikal orang yang banyak bicara, jangankan berbicara panjang lebar dan berterima kasih. Apa yang keluar dari mulut Athrun, biasanya lebih sering membuat diri Cagalli naik darah. Namun, apa yang baru saja Athrun katakan membuat Cagalli merasa aneh, ada apa dengan Athrun?

"Simbiosis mutualisme!" Cagalli melontarkan kata-katanya, tidak ingin membuat suasana di antara mereka menjadi kikuk "Itu yang kita lakukan. Aku pun diuntungkan dengan pernikahan kontrak ini, ibuku atau Kira tidak lagi terus menceramahiku tiap waktu. Jadi tidak perlu berkata seperti itu, aneh, kau terdengar seperti orang lain." Cagalli buru-buru menghadapkan wajahnya ke jendela, pura-pura menguap. "Sepertinya aku mengantuk, izinkan aku tidur sebentar." Cagalli beralasan, ia ingin segera menghentikan obrolan yang membuat perasaannya merasa aneh itu.

Athrun sepertinya mengerti, karena ia tidak lagi melanjutkan obrolannya dan terus mengemudi dalam diam. Otak Cagalli bekerja dengan keras, mencoba mengerti apa maksud Athrun mengatakan semua itu, ia merasa Athrun seperti menyatakan perasaannya, tapi tidak seperti itu juga? Akhirnya Cagalli menganggap bahwa pikirannya berlebihan, pasti ini adalah pengaruh dari ramalan yang ia dengar waktu itu, makanya ia jadi berpikir macam-macam. Mata Cagalli lelah memperhatikan jalanan yang membosankan, tak terasa ia pun terlelap.


Athrun mematikan mesin mobilnya setelah selesai memarkirkannya di halaman rumah. Tidur Cagalli sangat lelap, buktinya ia tidak terbangun walau Athrun sudah mematikan mesin mobil. Setelah Athrun perhatikan, sepertinya Cagalli sangat kelelahan sampai-sampai mulutnya sedikit menganga. Athrun menahan tawanya, ia tidak mau melewatkan kesempatan itu. Mengambil ponselnya, ia segera mengambil gambar Cagalli yang sedang tertidur pulas. Selesai mengambil gambar, ia tidak tega membangunkan Cagalli, maka ia putuskan untuk membopong Cagalli sampai ke kamarnya.

Athrun masuk ke kamar Cagalli dan membaringkannya di ranjang, setelah itu ia melepaskan sepasang sepatu yang Cagalli pakai. Memandang Cagalli yang sedang tertidur, tanpa sadar rentetan pertanyaan yang tadi sempat ia pikirkan saat di mobil datang kembali. Apakah pernikahan kontrak ini akan berakhir dengan baik-baik saja? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan putus kontak begitu saja? Ataukah mereka masih bisa tetap berteman? Akankah setelah mereka bercerai, Cagalli akan kembali menjalin hubungan main-main dengan pria lain? Athrun tidak tahu jawabannya, namun rasanya ia tidak bisa menerima jika hal seperti itu terjadi. Jujur saja, jatuh cinta adalah hal yang baru baginya, ia tidak ingin memaksakan perasaannya pada Cagalli, dengan trauma yang Cagalli miliki, ia takut perasaannya hanya akan menambah beban bagi Cagalli. Hanya saja, rasanya berat jika ia harus melepaskan Cagalli begitu saja.

Cagalli menggeliat dalam tidurnya, membuat Athrun sadar dan terbangun dari pemikiran dalamnya. Athrun tahu, sudah saatnya ia keluar dari kamar itu. Ia beranjak berdiri dari ranjang dan membuka pintu kamar, bersiap untuk keluar. Sekali lagi ia memandang lembut pada wanita yang sedang berbaring di ranjang, tak lama ia pun menutup pintu kamar Cagalli dengan rapat.


Drrrrrrt

Drrrrrrt

Drrrrrrt

Suara getar ponsel yang tidak berhenti bergetar membangunkan Cagalli. Duduk dari posisi tidurnya, Cagalli langsung memeriksa beberapa pesan yang masuk.

Ibu : Cagalli, kita harus bicara.

Cagalli mengabaikan pesan dari ibunya dan menuju pesan berikutnya.

Rusty : Cagalli, bagaimana hadiahnya? Tidak kurang sesuatu pun kan?

Cagalli pun membalas,"Tidak kok, sekali lagi terima kasih ya. Aku masih berhutang padamu."

Shinn : Athha, benar tidak akan ada jadwal tanding sampai bulan depan 'kan? Aku harus pergi ke luar kota untuk kegiatan sekolah selama dua minggu.

Shinn : Hey, jawab!

Shinn : Jangan bilang kau masih tidur? Athha!

Shinn : Ping!

Shinn : Ping!

Shinn : Ping!

Ternyata pesan Shinn lah yang mengganggu tidurnya, dengan cepat Cagalli mengetik balasan. "Kenapa sih kau bawel sekali untuk ukuran laki-laki? Iya tidak ada, jadi pergi dan fokuslah pada kegiatan sekolahmu."

Shinn : Okki dokki!

Shiho : Pokoknya aku nggak mau tahu, kita harus jadi double date. Cepat beritahu aku kapan jadwalmu kosong!

Cagalli menghela nafasnya, Shiho sudah mengajaknya double date berkali-kali, tapi Cagalli masih tidak yakin, maka ia mengetik jawaban main-main agar Shiho tidak terlalu kecewa dengan penolakannya."Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah lagi di lain hari."

Setelah itu Cagalli bangun dari tempat tidurnya. Ia melirik jam dinding di kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Pantas saja perutnya terasa lapar. Cagalli bergegas menuju kamar mandi dan ia menyadari sesuatu. Bahwa ia masih memakai pakaian kemarin dan bukan baju tidurnya. Ia pun ingat bahwa kemarin ia tertidur di mobil.

Wajah Cagalli memadam membayangkan Athrun membawanya dari mobil ke kamar, karena tidak mungkin ia berjalan sendiri dari mobil ke kamar sambil tertidur. Masalahnya, ia jadi sedikit teringat dengan kejadian tidak senonoh yang terjadi di kamar Athrun waktu itu. Menggelengkan kepalanya, Cagalli menenangkan diri, ia yakin tidak terjadi apa-apa karena ia ingat semalam ia hanya tertidur dan sama sekali tidak mabuk. Lagi-lagi ia merasa pikirannya jadi berlebihan sejak mendengar ramalan waktu itu. Ia memutuskan untuk menenangkan pikiran dan memastikannya pada Athrun nanti, sekarang ia akan mandi terlebih dahulu.

Setelah menyelesaikan mandi pagi menjelang siangnya, Cagalli bergegas menuju dapur mencari apa yang sekiranya bisa ia makan karena perutnya sudah meronta kelaparan. Saat sampai di meja makan, ternyata Athrun ada di sana, sedang serius menatap layar laptop sambil mengetik cepat di atas keyboardnya. Wajahnya terlihat gusar, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Sulitkah?" Cagalli yang penasaran bertanya pada Athrun.

Athrun menoleh ke arah Cagalli, lalu ke arah jam tangannya. Sepertinya Athrun tidak sadar bahwa ini sudah pukul setengah 12 siang. Ia pun menutup laptopnya. "Begitulah, aku sedang mencoba memperbaiki bug yang dilaporkan Nicol sejak tadi pagi, tapi masih belum terpecahkan. Mungkin sebaiknya aku istirahat dulu."

"Hmm.." Jawab Cagalli sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh iya, tadi malam, seingatku aku tertidur di mobil, tapi kenapa tiba-tiba aku bisa ada di kamar?"

"Mungkin kau berjalan sambil tidur." ujar Athrun santai sambil meminum kopinya yang masih belum habis sejak tadi pagi.

"Jangan mengada-ada?" Cagalli mengerlingkan kedua bola matanya. Sebenarnya Cagalli merasa sedikit lega karena sepertinya Athrun sudah kembali dengan sikap menyebalkannya. Sekarang ia yakin, bahwa tadi malam pikirannya sangat berlebihan.

"Baiklah, aku yang memindahkanmu kesana. Aku sudah mencoba membangunkanmu, tapi kau tidur lelap sekali, mendengkur dan hampir membasahi tempat dudukmu dengan air liur." Athrun berbohong. Memang benar Cagalli tidur tapi bagian mendengkur dan hampir menumpahkan air liur ia tambahkan hanya untuk mengerjai Cagalli.

"Kau bohong 'kan? Aku tidak mungkin seperti itu." Cagalli tidak percaya, tapi ia pun sebenarnya ragu, jangan-jangan apa yang dikatakan Athrun benar?

"Ini kalau kau tidak percaya." Athrun mengeluarkan ponselnya dan terlihat fotonya yang sedang menganga sangat lebar. Melihat foto itu wajah Cagalli otomatis menjadi merah padam, kenapa Athrun selalu melihatnya di saat-saat terburuknya? Saat ia memakai piyama karakter, saat ia menangisi Halsten dan sekarang saat ia tidur dengan wajah yang sungguh memalukan.

"Sebelum mobilku kotor, aku harus segera memindahkanmu." tambah Athrun, ia senang melihat wajah Cagalli yang terlihat malu dan salah tingkah.

"Kau harusnya bangunkan aku!"

"Aku sudah mencobanya. Aku memanggil namamu berkali-kali, tapi kau tidak bangun juga." lagi-lagi Athrun berbohong, ia tidak memang tidak berniat membangunkan Cagalli kemarin.

"Benarkah?" Cagalli mengerutkan keningnya. "Yah, mungkin aku benar-benar kelelahan." Wajah Cagalli berangsur normal, tidak lagi memerah seperti tadi. Sepertinya Cagalli sudah pasrah jika Athrun yang melihatnya dalam setiap kondisi aneh. "Kalau begitu sekarang hapus foto itu." pinta Cagalli.

"Mohon maaf, tapi aku belum ada niat untuk menghapusnya." lagi-lagi Athrun berkata santai kembali menyeruput kopinya. "Siapa tahu ini bisa menjadi jaminan lain."

"Athrun!"

"Baiklah, aku akan menghapusnya." terdengar nada Athrun menyerah, membuat Cagalli hampir berterima kasih, hanya saja Athrun melanjutkan kalimatnya, "kapan-kapan."

"Athrun!"

"Kalau kau berhasil mengalahkanku di final road race, mungkin aku akan menghapusnya." Athrun tersenyum jahil pada Cagalli, membuat Cagalli terdiam dan menyadari sesuatu. Ia tahu bahwa Athrun tampan, tapi ia hampir tidak pernah melihat Athrun tersenyum seperti itu. Melihat senyuman itu, Cagalli merasa ketampanan Athrun bertambah beberapa kali lipat. Dengan sikap dinginnya saja sudah banyak wanita yang suka padanya, apalagi jika banyak tersenyum seperti itu, pikir Cagalli dalam hati.

"Jangan bohong ya!" ujar Cagalli setelah tersadar dari lamunannya.

"Tentu saja." jawab Athrun sambil meneguk kopinya sampai habis. Setelahnya ia menuju tempat cuci piring untuk membersihkan bekas sarapan dan kopinya.

Cagalli pun mulai mencari apa yang bisa ia makan karena perutnya sudah sangat lapar. Beruntungnya hari itu Athrun sudah memasak sarapan sederhana untuk mereka berdua. Hanya saja karena Cagalli baru bangun, maka sarapan yang Athrun buat ia santap hampir menjelang makan siang.

"Cagalli-" panggil Athrun. Setelah mencuci piringnya ternyata Athrun tidak langsung kembali ke kamarnya dan malah kembali duduk di meja makan, menemani Cagalli makan siang.

"Ya?"

"Soal hadiah dari ibu dan ayahku, apa kau mau menggunakannya?" Athrun terlihat ragu-ragu.

"Ah, yang kemarin ibumu tanyakan bukan? Memangnya hadiah apa?" Cagalli penasaran sebenarnya hadiah apa yang orang tua Athrun berikan. Waktu mereka membuka hadiah pernikahan bersama waktu itu, Athrun tidak memberitahunya apa-apa.

"Erm, itu paket berlibur." Athrun menggaruk-garuk tengkuknya, ia tidak berani mengatakan bahwa hadiahnya adalah paket bulan madu.

Cagalli menyipitkan matanya dengan curiga, namun akhirnya tidak berkata apa-apa. "Kemana?" tanya Cagalli lagi.

"Kita bisa pilih ke Pulau Kaguya atau Pulau Onogoro."

Mendengar jawaban Athrun, Cagalli pun tersedak. "Uhuk! Ka-kaguya?! Benarkah? Astaga, sudah lama sekali aku ingin kesana! Kudengar pemandangan lautnya sangat eksotis bukan?! Harga liburan kesana bukannya sangat mahal?"

"Hmm, ya? Walaupun aku tidak mengerti kenapa kau bilang mahal padahal keluargamu jauh lebih kaya dari keluargaku."

"Ckckckck," Cagalli mendecak. "Apa kau lupa aku ini anak tiri? Aku tidak mungkin memakai uang saku dari ayah tiriku untuk berlibur setelah keluar dari rumah orang tuaku. Aku masih punya tata krama." Cagalli menggeleng-gelengkan kepalanya, pura-pura kecewa. Athrun sedikit merasa bersalah, ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu.

"Aku tidak-"

"Kita harus menggunakannya!" Cagalli memotong kata-kata Athrun, sepertinya ia tidak sadar bahwa Athrun mau mengatakan sesuatu. "Kau tahu harga paket berlibur kesana setara dengan gajiku selama 3 tahun! Ah, tapi aku harus mengajukan cuti."

Melihat Cagalli yang bersemangat, Athrun menghela nafasnya, sepertinya ia tidak perlu mengungkit topik latar belakang Cagalli lebih lanjut."Kalau begitu bagaimana kalau bulan depan di minggu pertama? Sebelum pertandingan final?"

"Hmm, aku tidak masalah sih, oke kalau begitu!" Cagalli mengacungkan kedua ibu jarinya dengan gembira. Athrun yang melihat keceriaan Cagalli jadi ikut bersemangat, walaupun ia tidak menunjukkannya.

"Ah, Shiho juga menghubungiku, katanya kita akan kencan bersama minggu depan?" Athrun baru ingat isi satu pesan singkat yang baru masuk tadi pagi. Isinya adalah sebuah undangan kencan bersama di salah satu taman hiburan di kota ORB pukul 10 pagi minggu depan. Awalnya Athrun bingung dengan isi pesan itu, tapi setelah membaca nama Shiho di akhir pesannya, Athrun pun mengerti.

Cagalli membulatkan matanya ke arah Athrun. "Apa?! Shiho menghubungimu?"

Athrun mengangguk, dari nada Cagalli yang terkejut, Athrun bisa memastikan Shiho melakukan hal itu tanpa persetujuan Cagalli. "Hanya pesan singkat." ujar Athrun lagi.

"Untuk sekarang kau abaikan dulu pesannya, biar aku bicara pada Shiho terlebih dahulu. Orang itu jika punya keinginan memang sulit dicegah."

"Aku rasa tidak ada salahnya, dia sedang hamil 'kan? Apa kau tidak kasihan padanya?" Athrun berkata sambil pura-pura membaca sesuatu di telepon genggamnya, dia tidak tahu kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Seolah-olah ia memang ingin berkencan dengan Cagalli. Ia merasakan tatapan tajam Cagalli terhadapnya, tapi ia masih tidak berani melihatnya.

"Jangan-jangan kau-" Cagalli mencurigai Athrun. Ia tahu Athrun orang yang dingin dan agak aneh jika ia mengatakan hal seperti itu hanya karena Shiho hamil. Pasti ada hal lain yang membuatnya menyetujui hal itu.

Jantung Athrun berdebar, ia takut jika Cagalli sadar dengan perasaannya, memang akhir-akhir ini ia terlalu menunjukkan perubahan sikapnya. Padahal ia tidak mau Cagalli tahu. Athrun panik, ia takut Cagalli langsung meminta pembatalan kontrak pernikahan jika tahu tentang hal itu.

"Jangan-jangan kau ingin sekali pergi ke taman hiburan karena kau tidak pernah kesana dan kau ingin menggunakan kesempatan ini untuk pergi?" cetus Cagalli mantap. Dari raut wajahnya, Cagalli terlihat sangat yakin dugaannya benar.

Athrun menatap Cagalli dengan tatapan tidak percaya. Ia memang salah besar jika menganggap Cagalli bisa tahu tentang perasaannya, perempuan itu sama sekali tidak sensitif, jangankan menyadari perasaannya. Cagalli saja tidak menyadari pertemuan-pertemuan mereka sebelum berkenalan secara resmi, tapi bagaimana Cagalli bisa mendapatkan kesimpulan seperti itu?

"Jangan gila. Mana mungkin aku tidak pernah ke taman hiburan?"

"Hmm, ibumu sempat beberapa kali memberitahuku tentang masa kecilmu. Katanya dulu kau itu anak yang agak hmm apa ya, murung dan penyendiri? Kalian jarang sekali pergi keluar karena ayah dan ibumu sibuk bekerja bukan? Sebenarnya bukannya aku tidak mau, pertimbanganku hanya aktingku, Ath."

Lalu Cagalli bercerita tentang kejadian di road race lalu dan saat ia berkunjung ke mall bersama Shiho. Tentu saja ia melewatkan bagian tentang ramalan. Ia hanya menceritakan bahwa Shiho sudah sangat mencurigai hubungan mereka berdua, bahkan mengancam menjodohkan Cagalli dengan pria lain.

Ini pertama kalinya Athrun mendengar tentang hal itu dan ia sedikit geram. Ia sama sekali tidak suka mendengar Shiho ingin menjodohkan Cagalli dengan pria lain. Apa sahabat Cagalli itu memang tidak bermoral?

"Kalau begitu bukankah seharusnya kita malah harus menyetujui ajakan itu?"

"Tapi aku tidak yakin dengan kemampuan aktingku. Kalau kita ketahuan, aku takut Shiho tidak akan tinggal diam. Dia itu cukup keras kepala."

"Kau tenang saja, aku akan membuat mereka berdua percaya. Jadi terima ajakan mereka minggu depan."

"Tapi.." Cagalli masih ragu, tapi Athrun terlihat tenang.

"Kalau mereka terus-terusan curiga, pasti akan buruk untuk kontrak kita." Athrun mencoba bersikap tenang, padahal dalam hati ia merasa kesal. Bagaimana tidak? Seenaknya saja Shiho ingin menjodohkan Cagalli dengan pria lain, sedangkan Athrun masih suami sahnya. Walaupun kontrak, tetap saja, di mata orang lain mereka adalah pasangan suami istri sungguhan.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengosongkan jadwalku minggu depan, tapi sebelumnya aku harus pergi ke suatu tempat."

"Kemana?"

"Sudah waktunya aku mengunjungi Halsten."


Hari ini pengajuan cuti Cagalli telah disetujui, saat menandai kalender, ia sadar bahwa besok adalah hari ia harus mengunjungi Halsten, namun ia belum membeli bunga padahal besok pagi-pagi sekali ia harus berangkat.

Sepulang kerja, Cagalli bergegas menuju toko bunga di ruko seberang kantornya, toko bunga yang selalu ramai pengunjung karena terkenal dengan stok bunga segarnya. Walaupun toko bunga itu sangat ramai, hal itu tidak membuat Cagalli menunda rencananya. Ia harus membeli bunga malam itu karena keesokan paginya ia akan berangkat pagi-pagi buta ke tempat yang selalu ia kunjungi satu tahun sekali itu. Cagalli pun menunggu gilirannya dilayani sambil melihat-lihat pemandangan di sekitarnya, mengurangi rasa bosan antri. Cagalli cukup mengagumi variasi bunga yang dijual toko bunga besar ini, karena sepertinya berbagai macam bunga yang kau inginkan bisa kau dapatkan di sana.

"Cagalli?" Sebelum pemikirannya tentang bunga melayang lebih jauh, seseorang memanggil namanya, membuatnya terdistraksi dari apapun yang sedang ia pikirkan saat itu.

"Rusty?" Cagalli merespon dengan sedikit terkejut, namun tidak dalam arti negatif.

Di sisi lain, Rusty menganggap pertemuannya dengan Cagalli hari ini adalah kebetulan yang aneh, kenapa ia harus terus bertemu dengan Cagalli secara tidak sengaja? Apa memang ini permainan takdir? Rusty tahu bahwa dirinya selalu tidak beruntung dalam percintaan, tapi tertarik dengan wanita yang sudah bersuami bukankah sangat tidak adil?

"Kau sedang apa disini?"

"Aku ingin memesan bunga untuk adikku yang berulang tahun hari ini. Kudengar disini bunganya sangat segar, jadi banyak yang merekomendasikan"

"Ya, kudengar toko bunga ini memang cukup populer, tapi aku kesini karena toko bunga ini dekat sekali dengan kantorku." Cagalli lalu menunjuk ke sebuah gedung yang berada di seberang ruko tempat mereka belanja bunga. Lalu mereka sedikit mengobrol tentang kantor mereka masing-masing, sampai salah satu kemudian pegawai toko mendekati Rusty dan memberikan pesanannya. Sayangnya wajah Rusty tak tampak gembira saat melihat buket bunga yang hendak diberikan sang pegawai.

"Saya tidak pesan tulip dengan warna merah, saya pesan warna kuning." Rusty terdengar kecewa.

"Ah, benarkah? Kalau begitu saya minta maaf tuan. Biar saya ganti segera. Bunga tulip merahnya saya gratiskan karena kesalahan dari saya."

"Hhhh.." Rusty menghela nafasnya, "Tidak apa, biar saya bayar. Tolong buatkan satu lagi dengan warna kuning ya."

"Tapi tuan.."

"Sudahlah, sepertinya toko memang sedang sibuk sekali, jadi kesalahan mudah terjadi. Kalau anda menggratiskan ini, anda pasti akan rugi." Rusty tersenyum kecil, sepertinya ia kasihan pada sang pegawai yang sudah terlihat kelelahan.

Rusty mengambil buket bunga tulip merah yang sudah berbentuk itu, sambil melihat Cagalli yang masih sibuk melihat-lihat bunga.

"Cagalli, apa kau suka bunga?"

"Hmm, tidak terlalu, kenapa?"

"Ah ini, pegawai tokonya salah memberikan buket bunga. Sepertinya hari ini sangat ramai. Ini untukmu saja."

Cagalli memandang buket bunga tulip merah yang disodorkan kepadanya. Serpihan kenangan bersama Halsten terlintas di benaknya. Tulip merah, adalah bunga yang selalu Halsten berikan padanya. Halsten bilang, dia tidak mau memberikan mawar merah pada Cagalli karena terlalu mainstream. Cagalli tersenyum sedih mengingat kenangan itu.

"Tidak apa 'kan? Ah, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya merasa sayang, tidak ada lagi yang bisa kuberikan. Kalau kau mau memberikannya pada orang lain juga aku tidak keberatan." Rusty gugup, ia takut Cagalli kembali menganggap ia hanya mencoba mendekatinya. Walaupun memang hal itu tidak sepenuhnya salah, tapi Rusty sama sekali tidak berniat menjadi penghancur rumah tangga seseorang. Ia masih bermoral.

"Kalau begitu terima kasih. Bolehkah aku memberikannya pada orang lain?" tanya Cagalli sambil tersenyum samar padanya. Ia sama sekali tidak mencurigai maksud Rusty, karena saat ini pikirannya sedang penuh dengan Halsten.

"Tentu saja." Rusty agak kecewa, tapi ia tidak terlalu memikirkannya, pasti Cagalli merasa tidak enak jika menerima bunga itu, namun ia juga tidak enak jika langsung menolaknya. "Aku duluan ya, adikku pasti sudah menunggu. Sampai jumpa, Cagalli."

"Ya, sampai jumpa."


A.N : Halo semuanyaa, apa kabar? Masih sabar dengan drama korea mix bollywood versi AsuCaga ini? Hehehe, maaf ya lama banget updatenya, kemarin sempet writer block banget buat yang ini. Saya tak tahu mau dibawa kemana cerita ini. Jadi kalau udah ga sanggup sebaiknya, ditinggal saja, tapi aku tetep usahain buat namatin dan thank you banget buat yang selalu setia baca dan review. GWS Naachaan, semoga terhibur, dan buat semua temen-temenku yang lagi berjuang mencari sesuap nasi, tetep semangat, semoga sukses buat semua urusannya ^^