Disclaimer : GS/GSD bukan milik saya, saya hanya pinjam nama karakternya saja.


The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 17 : Double Date (part 1)

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.


Cagalli buru-buru menegakkan badannya yang tengah terbaring di atas tempat tidur, ia terbangun karena bunyi alarmnya mulai mengganggu. Dilihatnya jam pada ponsel bercasing hijaunya telah menunjukkan pukul 6 pagi. Hari ini adalah jadwalnya berkunjung ke makam Halsten dan ia harus segera bersiap.

Rencananya pagi ini ia akan berangkat menggunakan taksi dan setelahnya pergi bersama Athrun ke taman bermain yang dijanjikan. Biasanya Cagalli selalu membawa motor kesayangannya sendiri, ia juga tidak pernah memberitahu siapapun tentang kegiatan rutinnya mengunjungi makam Halsten. Namun, karena hari ini ada rencana kencan bersama Shiho dan Yzak, jadi mau tak mau Cagalli memberi tahu Athrun agar pria itu bisa menjemputnya nanti.

Setelah selesai bersiap, Cagalli menyambar jaket merah dan sebuket bunga tulip merah yang Rusty berikan padanya juga sebuket lagi bunga mawar merah yang ia beli sendiri kemarin. Bunga-bunga itu akan ia letakkan di atas makam Halsten. Sebelum pergi, Cagalli mengecek kembali barang bawaan di tas ranselnya, memastikan beberapa bungkus keripik kentang untuk bekal ke taman bermain sudah berada di tempatnya. Setelah yakin tidak ada barang yang tertinggal, Cagalli pun tidak mengulur waktu lagi dan meninggalkan kamarnya.


Setelah meletakkan dua buket bunga yang dibawanya, Cagalli pun duduk di samping makam Halsten, seperti biasa ia berdoa dan meminta maaf atas segala kesalahannya pada Halsten di masa lalu, seakan permintaan maafnya bisa membuat pemuda yang sudah tidak dapat ditemuinya lagi itu menjadi lebih tenang.

Jika dibandingkan dengan dulu, Cagalli sudah bersikap jauh lebih baik, dulu seminggu berselang Halsten pergi, ia terus-terusan mendatangi makam hanya untuk meratap, ia terus menyalahkan dirinya atas kematian Halsten. Bahkan ada sedikit tendensi dirinya untuk mengakhiri hidup. Jika Kira tidak memaksanya mengikuti terapi dengan psikolog mungkin ia akan terus dihantui rasa bersalah yang sangat berlebihan dan tidak bisa menjalani hidupnya dengan normal.

Cagalli sangat berterima kasih pada kakaknya, karena kini ia sudah bisa bersikap dengan normal, walau ia masih dihantui rasa bersalah, namun ia tidak lagi terpuruk dan dapat kembali beraktivitas dengan baik. Selain terapi, balap motor adalah salah satu pelarian yang ia temukan saat proses penyembuhan, karena itulah ia setuju menikah dengan Athrun karena selain ia tidak ingin Shinn terkena hukuman, berat baginya jika ia harus berhenti balapan.

"Bagaimana kalau kita latihan beberapa hari ini?" ajak Cagalli.

"Latihan?"

"Ya, aktingku sangat jelek dan Shiho itu sangat hebat dalam membaca bahasa tubuh. Maksudku mungkin sebaiknya kita latihan agar terlihat lebih natural."

"Hmm, tentu saja, aku tidak masalah. Latihan seperti apa yang kau maksud?"

"Hmm, mungkin dengan memulai panggilan yang lebih dekat? atau mungkin berpegangan tangan? Ta-tapi hanya di depan Shiho! Kita tidak perlu melakukannya di depan orang lain!!" Cagalli buru-buru menambahkan.

"Kalau begitu, boleh aku memanggilmu dengan panggilan, sayang?" Athrun bertanya tanpa ekspresi.

Tiba-tiba Cagalli teringat perkataan Athrun beberapa hari yang lalu dan wajahnya pun memerah tanpa sadar. Pria itu benar-benar variabel tidak terduga dalam hidupnya. Athrun, Cagalli tidak tahu sejak kapan, tapi ia mulai merasa nyaman bersamanya. Tidak seperti Ahmed, Athrun terasa lebih dari itu. Ia merasa ia bisa bersandar pada Athrun. Athrun bukan tipe orang yang memaksanya berbicara saat ia merasa sedih atau ketakutan. Athrun tidak banyak bicara, namun Athrun selalu melakukan hal-hal yang membuatnya lebih baik. Mungkinkah ini karena ia sudah lama tidak bertemu Shiho? Lalu tanpa sadar ia mencari orang yang bisa ia jadikan sandaran selain sahabat dan kakaknya? Tapi kenapa rasanya lebih dari itu?

Menghentikan pikirannya, Cagalli sadar bahwa ia sedang duduk di depan makam Halsten berada. Ia menggelengkan keras kepalanya, apa yang sedang dipikirkannya? Apakah efek ramalan itu begitu besar sehingga ia selalu berpikiran yang tidak-tidak tentang Athrun akhir-akhir ini? Melihat makam Halsten Cagalli pun dirundung rasa bersalah. "Tidak. Aku sudah janji padamu." Cagalli tersenyum sedih. "Jadi kau tenang saja, semua akan berakhir hanya dalam beberapa bulan." janji Cagalli.

Tak terasa sudah satu jam berlalu. Terlihat mobil hitam Athrun dari kejauhan datang menjemput sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan. Cagalli pun pamit pada Halsten dan berkata akan kembali lagi tahun depan.

Athrun sedang duduk di kursi pengemudi sambil memainkan ponselnya. Saat Cagalli masuk dan duduk di kursi penumpang, Athrun menyodorkan sebungkus roti padanya sambil berkata, "Kau belum sarapan 'kan? Jangan sampai sakit."

Cagalli memperhatikan Athrun sejenak sambil mengambil roti yang diberikannya, tiba-tiba suasana hati Cagalli menjadi turun, teringat dengan apa yang ia sempat renungkan di makam Halsten tadi. Athrun mulai mengemudikan mobilnya dalam diam sambil memperhatikan Cagalli yang sepertinya tidak bersemangat dari kaca spion mobil. Ia khawatir, tapi ia tidak ingin Cagalli merasa terganggu dengan pertanyaannya. Jadi saat ini ia putuskan untuk tetap diam, sampai Cagalli mau membuka suaranya.

Letak taman bermain yang akan mereka kunjungi agak jauh dari kota, sehingga butuh sekitar 2.5 jam dari makam Halsten untuk sampai kesana menggunakan mobil pribadi.

"Bagaimana jika kau tidur saja? Masih ada 1.5 jam lagi sebelum kita sampai." Athrun menawarkan. Sejak mereka meninggalkan makam Halsten sampai saat ini, Cagalli belum mengeluarkan suaranya.

"Athrun." akhirnya Cagalli mengajak Athrun berbicara.

"Ya?"

"Setelah kita bercerai, apa kita masih akan berteman?" Cagalli menatap Athrun dengan tatapan yang aneh.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" Athrun menjawab sedikit kaget dengan pertanyaan Cagalli.

"Hmm, tidak, lupakan saja." Cagalli membalikkan wajahnya menghadap jendela. Seakan apa yang dikatakannya tadi tidak berarti apa-apa.

Lalu Athrun menghela napasnya, sambil berkata, "Aku harap itu tidak akan terjadi."

Cagalli terbelalak mendengar jawaban Athrun, tapi ia tetap mengarahkan pandangannya keluar jendela. "Ah, begitu." Jawab Cagalli pelan. Timbul sedikit rasa kecewa di benaknya setelah mendengar jawaban Athrun. Itu berarti setelah mereka bercerai, mereka akan bersikap seperti orang asing? 'Yah, mungkin itu lebih baik untuk mereka berdua. Memang lebih baik jika Athrun tidak terus berada di sisinya.', Cagalli meyakinkan diri dalam hati, sambil mulai mengubur dalam-dalam hal yang sedari tadi ia pikirkan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi ketika mereka sampai di taman bermain, namun nampaknya Yzak dan Shiho belum datang. Athrun menawarkan diri untuk membelikan minum dan meminta Cagalli untuk tetap di mobil. Cagalli menolak, ia meminta ikut membeli minum bersama Athrun. Mereka pun membeli minum bersama.

"Kau mau minum apa?" tanya Athrun yang sedang berada di depan sebuah mesin penjual minuman otomatis, melihat berbagai pilihan yang tersedia.

"Apa ada soda lemon?" Cagalli ingin menghilangkan dahaganya setelah dari tadi suasana hatinya terus mendung, soda sepertinya pilihan yang cukup menyegarkan.

"Pagi-pagi begini kau sudah ingin minum soda? Nanti kau bisa sakit perut. Bagaimana kalau jus jeruk?" protes Athrun.

Cagalli cemberut, tapi ia juga tidak mau sakit perut, "Okelah." jawabnya.

Athrun membeli satu kaleng jus jeruk dan satu kaleng cappucino dari mesin tersebut. Mereka berdua minum dalam diam, Athrun tidak bertanya mengenai mood Cagalli yang turun di mobil tadi, seperti biasa. Ia hanya menghibur Cagalli dalam diam dan cara itu efektif. Cagalli lebih mengapresiasi cara menghibur seperti yang Athrun lakukan, dibanding dengan mengajukannya berbagai pertanyaan.


"Kenapa mereka berdua lama sekali?" Cagalli mulai kesal, pasalnya sudah 30 menit lewat dari jam janji temu mereka.

"Hai haaaai! Maaf kami terlambat!" Seorang wanita yang perutnya terlihat menyembul menyapa mereka dari kejauhan, diikuti oleh seorang pria berambut silver yang terlihat tidak ramah.

"Hampir saja aku membatalkan kencan bersama kita, Shi." Sarkas Cagalli.

"Oh, tidak mungkin sahabat terbaikku melakukan hal itu, ayo kita masuk, sebagai permohonan maaf karena kami telat, kami sudah membelikan tiket untuk kalian juga!" Shiho menunjukkan 4 tiket di tangannya, lalu menarik lengan Cagalli untuk berjalan bersamanya.

"Ahahaha, aku tidak menyangka mengajak Athrun jauh lebih efektif daripada mengajakmu."

"Ck, kau itu kalau punya keinginan memang tidak bisa dicegah."

"Tentu saja Cagalli, apa kau baru mengenalku?"

Cagalli hanya menggeleng sambil mengikuti sahabatnya yang sedang hamil itu menuju pintu masuk. Di belakang mereka, dua pria yang menjadi pusat perhatian beberapa kaum hawa di sekitar mereka berjalan dengan kikuk.

Yzak, bukan seseorang yang suka beramah tamah, walaupun ia juga bukan seorang pendiam. Sedangkan Athrun memang bukan orang yang banyak bicara. Ketika Cagalli dan Shiho mengobrol dengan asyiknya, mereka berdua hanya diam dalam kesenyapan.

Wahana pertama yang ingin dinaiki Shiho adalah komidi putar, Cagalli hanya bisa menggelengkan gelengkan kepalanya. Temannya yang hampir berusia 30 tahun itu ingin naik komidi putar. Hormon kehamilan mempengaruhinya lebih yang Cagalli duga. Yzak, Cagalli dan Athrun hanya bisa mengikuti keinginan Shiho, beruntung taman hiburan hari itu cukup sepi, sehingga tidak banyak orang yang memandang mereka dengan aneh.

Setelah selesai naik komidi putar, Shiho berkata ia ingin naik sesuatu yang lebih menantang. Mereka pun pergi menuju wahana Roller Coaster. Namun, ternyata naas, mereka semua sepertinya lupa bahwa wanita hamil tidak bisa menaiki banyak permainan di taman hiburan.

"Huaaa, apa-apaan ini? Kenapa aku tidak bisa naik semuanya? Lalu apa yang bisa aku lakukan disini?"

"Sudah jangan menangis," Yzak menenangkan istrinya sambil mengecek daftar wahana yang ada di brosur "Kau masih bisa menikmati bianglala, taman labirin, terowongan cinta, parade dan kembang api."

"Tapi tapi aku juga ingin naik Roller Coaster dan Bumper Car, belum lagi Sky Swinger. Ini tidak adil!"

"Shiho tolonglah, jangan seperti ini. Apa kau tidak malu?"

"Jadi kau malu punya istri sepertiku? Kau jahat sekali Yzak! Huaaaaa.."

Cagalli yang berada di samping mereka hanya bisa speechless melihat apa yang terjadi. Seumur hidup, Cagalli tidak pernah melihat Shiho bersikap manja seperti ini. Jujur, dengan sikap baru Shiho yang seperti ini Cagalli tidak tahu bagaimana agar bisa menenangkan Shiho. Yzak terlihat menghembuskan napas berat, sepertinya ia sudah sangat lelah dengan sikap Shiho.

Saat Cagalli mau membuka suara untuk membantu menenangkan Shiho, Yzak menarik tangan Shiho dan langsung mendekapnya. Yzak membelai lembut rambut dan punggung Shiho di hadapan Cagalli dan Athrun.

"Sssshh.. Sssshhh.. Kau bisa melakukannya setelah melahirkan, oke? Aku janji kita akan kesini lagi dan melakukan semua yang ingin kau lakukan."

"Tapi… tapi.."

"Shiho.."

"Baiklah…" Akhirnya tangis Shiho mereda. Namun public display of affection mereka tidak berakhir di sana. Kali ini Shiho mengecup pipi Yzak sambil tersenyum.

Sungguh, Cagalli dibuat malu melihat mereka. Bagaimana Yzak dan Shiho bisa menunjukkan hal-hal seperti itu di depannya tanpa merasa malu?

"Maafkan aku ya, terkadang moodku sangat mudah turun seperti ini karena hal-hal sepele. Untungnya Yzak sudah terbiasa dan bisa menenangkanku. Ya, itulah gunanya suami di saat seperti ini, kau juga sering manja seperti ini 'kan Cagalli?"

"Erm, iya tentu saja." Jawab Cagalli ragu, mana mungkin ia menjawab tidak pernah? Pasti Shiho akan mencurigainya habis-habisan.

"Se-sebaiknya kita langsung ke taman labirin!" Cagalli mengalihkan pembicaraan dengan gugup. Kalau bisa berlari, Cagalli rasanya ingin berlari secepat kilat meninggalkan Shiho dan Yzak sejauh mungkin. Cagalli baru saja akan melangkah cepat, tapi sebuah tangan besar dan hangat menggenggam tangannya.

"Jangan jalan terlalu cepat. Kau bisa jatuh." Athrun dengan akting briliannya tampak tidak begitu terpengaruh dengan pertunjukkan kasih sayang yang Shiho dan Yzak baru perlihatkan. Athrun memegang tangan Cagalli erat tanpa terlihat kaku dan gugup. Matanya memandang Cagalli dengan hangat. Merasakan tangan Athrun di tangannya, wajah Cagalli merah padam, 'Ini aneh! Ini kan hanya pegangan tangan, kenapa rasanya aku begitu berdebar?'

"AAAHKAU BENAR, AYO!" Cagalli mencoba menyembunyikan kegugupannya namun sepertinya gagal total. Bukannya bersikap biasa Cagalli malah setengah berteriak. Beruntungnya tidak ada yang berkomentar tentang hal itu, walaupun Shiho sudah terlihat mengilatkan mata ke arahnya dengan curiga. Rasanya Cagalli ingin menenggelamkan diri karena akting buruknya. Sudah pasti kemampuan bersandiwara di bawah rata-ratanya itu membuat Shiho semakin mencium kebohongan mereka.

"Sayang, kau tidak apa? Daritadi kau tidak bersuara." Athrun berkata sambil menatap dalam ke arah Cagalli. Cagalli membisu, walaupun mereka sudah latihan satu dua kali, tapi Athrun tidak pernah memanggilnya sayang sambil menatapnya seperti itu. Jantung Cagalli berdebar sangat cepat, ia tidak tahu jika panggilan sayang seperti ini bisa membuat perasaannya kacau. 'Oh Tuhan, apa ia sanggup terus berpura-pura sampai kencan ini berakhir?' Cagalli melolong dalam hati.


A.N

: Hai hai saya kembali XD, padahal rencana mau hiatus eh tapi ga jadi, suka gemes liat cerita belum kelar hiks, tapi sekali lagi mohon kesabaran ya untuk updatenya.
BTW, ada yang mau dipeluk juga ama bang Yzak? Yang dipeluk mbak Shiho kok saya yang baper ya? wkwkwk (abaikan author notes ga penting ini.)
Besok udah tahun 2022, kalau mengikuti kata om TM Revolution, movienya keluar tahun 2023, jadi ada perpanjangan waktu sampai 2023 buat saya untuk nerusin fic-fic yang belum selesai. Jadi buat temen-temen yang masih baca apalagi review, arigatou gozaimashita. It means a lot to me, karena review kalian membuat saya pengen nerusin nulis. Gitu aja deh, gausah panjang-panjang dah kayak pidato kelulusan. See you next year, stay healthy semua!