The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family/Slight Humor

Chapter 19 : Berusaha Sebaik Mungkin

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.


"Aku sama sekali tidak menyangka kita akan bertemu disini." Shiho terlihat mengobrol santai dengan pria bersurai jingga dan bermata biru itu. Berbeda dengan sang gadis muda berambut coklat yang duduk di samping si pria, ia tengah sibuk sendiri dengan gawai pintarnya.

"Benar-benar kebetulan. Aku juga tidak tahu akan bertemu denganmu disini." jawab Rusty merasa sedikit gugup, karena sebenarnya apa yang dikatakannya itu hanya setengah benar.

Sama sekali bukan kebetulan bagi Rusty memilih untuk berkunjung ke taman bermain yang sama dengan mereka pada hari itu. Minggu lalu ia tidak sengaja mencuri dengar percakapan Shiho dengan Cagalli di telepon tentang rencana mereka pergi ke taman hiburan bersama. Saat itu ia berpikir, alangkah menyenangkan baginya jika ia bisa bertemu lagi dengan Cagalli. Ia bahkan berniat untuk bertanya pada Shiho apakah Shiho bisa mengajaknya. Namun, logika Rusty saat itu masih bekerja, jadi ia mengurungkan niatnya dan mencoba melupakan apa yang ia dengar.

Akan tetapi, seperti mendukung ide gilanya, beberapa hari kemudian ia tidak sengaja melihat data histori pembelian empat tiket taman bermain di komputer kantor Shiho ketika sedang menyalin laporan pekerjaan. Histori itu lengkap berisi keterangan taman hiburan dan juga hari berkunjung mereka. Merasa yakin bahwa ini adalah kesempatan besar, kali ini logika Rusty pun kalah dengan perasaannya. Tanpa banyak pikir panjang, ia pun membeli dua tiket pada hari yang sama, satu untuknya dan satu untuk dihadiahkan pada adiknya, karena kebetulan sang adik berulang tahun di minggu yang sama dengan jadwal pergi mereka. Ia merasa hal itu bisa dijadikan alasan jika mereka bertemu secara "tidak sengaja".

Sehari sebelum jadwal pergi ke taman bermain, tanpa diduga Rusty malah dipertemukan lagi dengan Cagalli di toko bunga. Tadinya Rusty sudah sempat berpikir untuk membatalkan kunjungan ke taman bermain bersama sang adik, toh ia sudah bertemu Cagalli lagi di toko bunga kemarin. Namun, dari pertemuan mereka di toko bunga, Rusty malah semakin rindu ingin bertemu lagi dengan Cagalli.

Gila, ia sadar dirinya tidak waras. Menyukai seseorang yang sudah bersuami. Sikapnya hampir seperti sebuah bibit yang siap merusak rumah tangga orang. Tapi sebagai pembelaan diri, ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak berbuat apa-apa, ia hanya ingin bertemu dan mengobrol dengan Cagalli seperti seorang teman. Ia tidak akan melakukan lebih dari itu. Ia tidak ada niat menghancurkan rumah tangga siapapun.

Rusty tahu seharusnya ia tidak membiarkan perasaannya terus berkembang. Ia tahu bahwa jika ia membiarkan perasaan ini, ia sendiri yang akan tersakiti, karena sudah Cagalli sudah pernah menolaknya secara halus. Namun, ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada Cagalli dan rasa sukanya itu tidak mudah ia lupakan. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan hilang dalam sekejap. Karena itulah disini ia sekarang, kembali menuruti bisikan hatinya dan berhasil kembali bertemu dengan sang pujaan hati.

"Cags!" Shiho melambaikan tangannya, menyadari bahwa Cagalli dan Athrun sudah kembali.

Saat mereka sudah duduk, Rusty menyadari sikap Athrun yang langsung waspada terhadapnya. Berbeda sekali dengan Cagalli yang hanya terlihat sedikit terkejut dengan kehadiran Rusty, lalu kembali bersikap normal tidak lama setelahnya.

Shiho pun menjelaskan bagaimana Rusty dan adiknya Maki yang masih duduk di bangku SMA itu bisa ada bersama mereka. Athrun terlihat tidak terlalu menanggapi cerita Shiho karena memang sejak awal pertemuan Rusty dengan Athrun, suami Cagalli itu terlihat kurang menyukai Rusty.

Sikap yang sangat berbeda ditunjukkan oleh Cagalli. Setelah mendengar penjelasan Shiho, ia langsung mengucapkan selamat ulang tahun kepada adik Rusty dengan ceria. Dari situ obrolan mereka cukup mengalir dan memakan waktu, Rusty dan Maki pun ikut memesan makanan. Cagalli kelihatannya sudah melupakan apa yang tadi menganggu pikirannya atau mungkin bukan lupa, tapi ia mendapatkan distraksi yang cukup, pikir Shiho. Sambil menyantap makanan, mereka kembali melanjutkan obrolan atau lebih tepatnya, Cagalli, Shiho dan Rusty yang mengobrol dengan sesekali Yzak dan Athrun menyahuti jika ditanya. Setelah hidangan mereka habis, mereka pun berencana menuju wahana berikutnya.

"Setelah ini kalian akan kemana?" Rusty bertanya.

"Kami akan menonton pertunjukkan sirkus. Kau mau ikut?" tanya Shiho.

Rusty sudah merasakannya, bahwa sejak tadi sikap Athrun padanya tidak terlalu bersahabat. Ia tidak tahu apakah itu karena memang Athrun yang terlalu peka atau memang sifat asli Athrun yang tidak ramah. Padahal Rusty sudah sangat berhati-hati untuk tidak menunjukkan rasa sukanya kepada Cagalli.

"Ah, aku tidak enak, kalian kan sedang double date. Sebaiknya kami segera pergi." Rusty sudah merasa cukup karena sudah bertemu dan mengobrol banyak dengan Cagalli. Selain sikap Athrun yang dingin, ia juga tidak ingin Cagalli merasa tidak nyaman jika ia tidak sengaja menunjukkan perasaannya.

"Ayo Maki, sebaiknya kita segera mengantri Roller Coaster." ajak Rusty pada adiknya yang terlihat masih sibuk dengan ponselnya.

Maki sama sekali tidak lepas dari ponselnya bahkan saat makan. Namun saat mendengar ajakan sang kakak, buru-buru ia menyimpan ponselnya ke dalam tas dan berkata, "Tapi kak, tiba-tiba aku ingin nonton sirkus juga. Aku belum pernah nonton."

"Kita bisa menontonnya setelah naik Roller Coaster 'kan?" ajak Rusty lagi.

"Memang kenapa kak? Kan kita juga bisa nonton sirkus dulu baru naik Roller Coaster. Bukankah semakin ramai semakin seru?" Maki beralasan. Sebenarnya Maki ingin menonton sirkus terlebih dulu karena ia masih belum selesai berbalas pesan chat dengan sahabatnya yang sedang patah hati. Maki merasa tidak ada salahnya jika mereka mengikuti teman-teman kakaknya menonton sirkus terlebih dahulu. Toh mereka membeli tiket terusan yang mana membuat mereka bebas menonton pertunjukan sirkus itu kapan saja.

"Bukankah seharusnya kau mengikuti permintaan orang yang berulang tahun?" Cagalli berkata sambil tersenyum pada Maki. Cagalli sepertinya sama sekali tidak menyadari bahwa Athrun merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rusty. "Yang lain setuju 'kan?" tanyanya lagi.

Rusty tidak menyangka bahwa Cagalli yang akan mengajaknya. Tentu dia tidak ingin menolak ide itu. Hanya saja, tidak seperti dirinya, Athrun kelihatan tidak gembira. Rusty sudah bersiap pergi karena mengira Athrun akan menolak mentah-mentah ide Cagalli, tapi ternyata Athrun tidak mengatakan apapun.

"Aku sih oke-oke saja." Shiho menjawab sambil sedikit melirik pada Athrun, Shiho ingin melihat reaksi suami sahabatnya itu. Jelas sekali Athrun tidak menyukai Rusty, tapi sepertinya Cagalli sama sekali tidak sadar dan itu menjadi sedikit hiburan untuknya.

"Aku juga tidak masalah." Yzak ikut menjawab.

"Kalau begitu, kalian duluan saja menuju pertunjukkan sirkus, aku mau membeli kopi di sana dulu." Athrun tiba-tiba berdiri dan pergi menjauh tanpa mengatakan apa-apa lagi. Cagalli bingung, sesaat tadi Athrun terlihat marah, tapi ia tidak tahu apa yang membuat Athrun marah. Apa itu hanya perasaannya saja? Jujur sejak tadi ia tidak begitu memperhatikan Athrun karena asyik mengobrol dengan Rusty dan Shiho. Athrun memang pendiam kalau di depan orang yang tidak dekat dengannya, jadi Cagalli pikir Athrun hanya tidak tertarik mengikuti obrolan mereka. Namun, melihat wajah Athrun tadi, Cagalli jadi tidak yakin.

"Sebaiknya kau mengikutinya Cags, katakan padanya aku juga ingin pesan coklat dingin dengan whipped cream." Shiho berkata sambil mengisyaratkan bahwa sebaiknya Cagalli harus segera mengejar Athrun. Cagalli pun mengangguk.

Sebenarnya Shiho senang melihat Athrun cemburu seperti itu, karena Shiho ingat sekali dengan cerita Cagalli saat pertama kali mereka bertemu. Laki-laki itu sangat tidak sopan pada sahabatnya, jadi ini mungkin adalah balasan untuknya. Hanya saja, melihat Athrun pergi dengan tiba-tiba seperti tadi, Shiho menjadi sedikit iba, jadi ia putuskan untuk sedikit membantunya dengan mengirimkan Cagalli. Walaupun jadinya ia harus kehilangan hal seru untuk ditonton.


Untuk kedua kalinya hari itu Cagalli buru-buru pergi dan menyusul Athrun. Ia menengok sekeliling mencari Athrun dan akhirnya menemukan pria itu terlihat sedang berjalan lurus agak jauh di depan terlihat menjauhi restoran tempat makan siang mereka. Hanya saja, anehnya, Athrun sudah melewati kedai kopi paling dekat dari restoran tempat mereka makan siang tadi.


Athrun tidak bisa lagi membendung rasa kesalnya, karena itu ia mencoba menjauh sejenak agar Cagalli dan yang lainnya tidak merasa terganggu. Sejak pertemuan pertamanya dengan Rusty, Athrun sudah curiga bahwa pria itu memiliki ketertarikan pada Cagalli. Namun, semua semakin jelas setelah mendengar obrolan tentang pertemuan Rusty dan Cagalli di toko bunga. Rusty bisa saja memberikan bunga yang salah ia pesan pada orang lain, tapi kenapa harus Cagalli? Walaupun ia beralasan dengan tidak sengaja bertemu, tetap saja jarang sekali ada laki-laki yang memberikan buket bunga kepada wanita yang tidak dekat dengannya, kecuali memang pria itu tertarik padanya. Selain itu ada banyak hal yang membuatnya curiga. Seperti bagaimana bisa Rusty datang ke taman bermain yang sama pada hari yang sama dengan mereka? Kemungkinan yang sangat kecil jika itu adalah sebuah kebetulan. Namun Athrun juga tidak punya bukti bahwa itu bukan kebetulan. Semakin banyak pertanyaan di benaknya, semakin Athrun tidak tahan berlama-lama berada di tempat yang sama Rusty. Itulah alasan ia buru-buru pergi, karena jika tidak, bisa jadi sekarang ia sudah mengajak ribut Rusty.

"Ath, Athrun! Athrun!" Sayup-sayup terdengar suara yang sangat familiar bagi Athrun.

'Haaaah.. Apa aku terlalu menyukainya? Bahkan sekarang aku berhalusinasi mendengar suaranya..' pikir Athrun sambil terus berjalan ke depan.

Greb

"Athrun!" Athrun merasakan bagian lengan kanannya ditarik ke belakang. "Kenapa kau sulit sekali dipanggil?"

Athrun pun menengok ke belakang dan ia hanya bisa mendesah tak percaya. Ternyata mendengar suara Cagalli bukan hanya khayalannya. Cagalli benar-benar ada di sana, sedang menahannya pergi lebih jauh dengan menarik lengannya.

"Kenapa kau mengikutiku? Aku sudah bilang duluan saja." Athrun berkata setenang mungkin, mencoba menyembunyikan kegusaran yang bercokol di hatinya.

"Shiho bilang dia ingin pesan coklat dingin dengan whipped cream." Cagalli beralasan, tatapannya seperti mencoba menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan Athrun.

"Kalau begitu kau kembali duluan saja ke rombongan, aku akan membelikannya untuk Shiho." Athrun menjawab lagi.

"Ath, bagaimana kalau kita bicara sebentar?" kali ini Cagalli tidak ingin berbasa-basi lagi. Jelas sekali Athrun bersikap tidak seperti biasanya.

"Bicara?"

"Ayo duduk disitu."

Cagalli menunjuk lalu menarik lengan Athrun yang sudah ia pegang sejak tadi. Athrun di sampingnya hanya diam sambil mengikuti Cagalli menuju tempat duduk yang ditunjukkannya.

"Bisakah kau ceritakan padaku sebenarnya ada apa?" setelah duduk Cagalli langsung bertanya, tidak memberikan waktu untuk Athrun memikirkan alasan apa yang harus ia katakan.

"Aku kan sudah bilang, aku mau membeli kopi." Athrun menjawab sebisanya.

"Membeli kopi? Tapi kenapa kau melewati kedai kopinya?"

Athrun hanya diam, ia tidak memiliki ide apapun untuk beralasan. Ia sama sekali tidak sadar sudah meewati kedai kopinya.

"Apa kau marah?"

"Marah?"

"Iya. Sebenarnya aku baru sadar kau terlihat marah karena kau langsung meninggalkan kami dengan cepat." jelas Cagalli. "Ada apa? Tidak bisakah kau beritahu aku?" Cagalli bertanya lagi.

"Tidak apa-apa, kau tidak perlu memikirkannya." Athrun berkata sambil tersenyum kecil.

"Athrun, katamu kita berteman. Kau sudah mengetahui banyak tentangku, apa aku tidak boleh mengetahui sedikit saja tentang dirimu?" Cagalli mengerutkan keningnya. Ia tidak percaya dengan jawaban Athrun. "Aku tahu kau sudah bilang kau tidak mau lagi berteman denganku jika kontrak pernikahan kita sudah selesai nanti, tapi kalau boleh memilih, sebenarnya aku ingin kita tetap berteman. Kau tahu, kau itu orang kedua setelah Kira yang tahu semua tentang masa laluku, bahkan Shiho saja tidak tahu secara detail." Cagalli menambahkan, terdengar sedikit nada kecewa dari kata-katanya.

Athrun tersenyum kecil. Kata-kata Cagalli terdengar manis sekaligus menyakitkan buatnya. Hatinya menghangat setelah tahu bahwa dirinya teman yang cukup berharga bagi Cagalli. Namun juga sakit karena untuk Cagalli hubungan mereka tidak akan lebih dari sekedar berteman, Cagalli mengatakannya dengan jelas.

"Hanya teman?" tanya Athrun jahil.

"A-apa maksudmu?" Cagalli terbata.

"Yah aku kan sudah tahu banyak tentangmu. Masa aku cuma teman sih? Tidak naik level?" Kali ini Athrun memberikan senyum miring sebelahnya pada Cagalli.

"Ya belumlah! Predikat sahabat masih dipegang Shiho! Kau baru kenal denganku kurang dari setahun, tapi Shiho sudah lebih dari 5 tahun." Cagalli melambaikan 5 jarinya pada Athrun. Menegaskan bahwa Athrun belum ada apa-apanya dibanding Shiho. "Ta-tapi mungkin levelmu di atas teman biasa, karena kau sudah tahu masa laluku. Mungkin?" Cagalli menjawab ragu sambil mengelus-elus dagunya terlihat berpikir.

Mendengar jawaban Cagalli, Athrun tertawa dengan sangat lepas. Jawaban Cagalli kali ini membuatnya sangat terhibur. Ia sampai lupa kalau tadi ia sedang marah.

"Karena kau sudah tertawa nyaring sekali, kau bisa kan memberitahuku ada apa?" Cagalli tidak melupakan tujuannya.

Athrun menatap lurus, memandang Cagalli dalam-dalam. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk mengatakannya, karena jika ia menjelaskan dengan jujur, bisa jadi Cagalli sadar bahwa ia memiliki perasaan yang tidak seharusnya ada.

"Aku tidak menyukai Rusty."

"Hah? kenapa?"

"Sejak pertama bertemu dengannya, sampai sekarang, jelas sekali kalau dia menyukaimu."

"Menyukaiku?" Cagalli tidak yakin dengan arah pembicaraan Athrun. "Tapi sepertinya kau salah paham. Aku sudah pernah menolaknya dengan halus. Dia bilang dia hanya ingin berteman denganku."

"Kau tidak akan mengerti."

"Kalau begitu jelaskan padaku."

"Aku hanya.." Athrun ragu. "Aku hanya tidak suka melihatnya terus mendekatimu yang sudah jelas berstatus sebagai istriku." Athrun kini memalingkan wajahnya, berharap sambil cemas dengan respon Cagalli atas pernyataannya. Lama, Cagalli tidak menanggapinya. Athrun pun kembali menghadapkan wajahnya pada Cagalli.

"Aaah.. Sepertinya aku mengerti maksudmu.." Cagalli menjawab santai seakan pernyataan Athrun tadi tidak mengejutkan. Seakan Cagalli mengerti apa maksud Athrun, tapi nampaknya pengertian Cagalli tidak sama dengan pengertian Athrun.

"Pasti kau merasa kesal karena kau sudah bersusah payah bersandiwara di depan Shiho dan Yzak, tapi kau merasa Rusty terus mendekatiku, walaupun aku tidak yakin dia benar-benar mendekatiku, kau pasti merasa akting kita sebagai pasangan tidak meyakinkan ya?"

Athrun hanya meninggikan sebelah alisnya. Ia tidak tahu bahwa level ketidakpekaan Cagalli setinggi ini.

"Baiklah kalau begitu, kali ini aku harus berperan aktif! Jika aku lebih aktif, Shiho dan Yzak sudah pasti tidak akan curiga dengan akting kita." ujar Cagalli sambil mengelus-elus dagunya lagi.

Athrun tak habis pikir, ia benar-benar terhibur dengan respon Cagalli. Rasa marah dan kecewa yang tadi ia rasakan menguap seketika. Ia sedikit bersyukur, karena Cagalli tidak paham dengan perasaannya, karena jika Cagalli tahu, mungkin ia sudah meminta Athrun menghentikan pernikahan kontrak mereka. Tiba-tiba saja rasa lelah menghampiri Athrun, mungkin tubuhnya tidak bisa dibohongi. Tadi malam ia begadang sampai dini hari untuk membetulkan salah satu website kliennya. Athrun memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di bahu Cagalli.

"Aku pinjam bahumu sebentar saja, aku sangat mengantuk karena baru selesai mengatasi bug dini hari tadi. Aku sedikit lelah." Cagalli hanya terkekeh dan menepuk-nepuk punggung Athrun dengan ragu.

Setelah beberapa menit, Athrun pun bangun dan mengajak Cagalli kembali. Ia tidak ingin teman-teman Cagalli curiga. Cagalli pun mengangguk. Kali ini Cagalli duluan yang menggenggam tangan Athrun, dia bilang dia ingin berperan lebih dan berpegangan tangan bisa menjadi latihannya. Tentu saja sebelum mereka menuju pertunjukkan sirkus, tidak lupa mereka mampir sebentar untuk membeli kopi dan pesanan Shiho.


"Aku hanya.." Athrun terdengar ragu. "Aku hanya tidak suka melihatnya terus mendekatimu yang sudah jelas berstatus sebagai istriku." Cagalli melihat Athrun memalingkan wajahnya yang memerah.

Untuk sepersekian detik mata Cagalli membelalak mendengar jawaban Athrun. Ini kedua kalinya Athrun mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa seperti mendapat pengakuan cinta, tapi tidak seperti itu juga. Ia jadi teringat dengan kata-kata Shiho tadi tentang kebenaran ramalan yang mereka dengar. Tapi tidak mungkin. Athrun tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu kepadanya. Ia buru-buru menormalkan ekspresinya ketika Athrun kembali menghadapkan wajah padanya.

"Aaah.. sepertinya aku mengerti maksudmu.." Cagalli menjawab sesantai mungkin. Ia tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak. Benar, pasti karena hal ini Athrun terlihat marah. Bukan karena perasaan Athrun yang sedang bermain.

"Pasti kau merasa kesal karena sudah bersusah payah bersandiwara di depan Shiho dan Yzak, tapi kau merasa Rusty terus mendekatiku, walaupun aku tidak yakin dia benar-benar mendekatiku, kau pasti merasa akting kita sebagai pasangan tidak meyakinkan ya?" lanjut Cagalli, lebih menegaskan pernyataannya. Cagalli menunggu respon Athrun, namun pria itu hanya terdiam.

"Baiklah kalau begitu, kali ini aku harus berperan aktif! Jika aku lebih aktif, Shiho dan Yzak sudah pasti tidak akan curiga dengan akting kita." ujar Cagalli sambil mengelus-elus dagunya. Padahal dalam hati ia cemas.

Respon Athrun tidak diduganya. Pria itu hanya tersenyum memandangnya. Athrun tidak mengklarifikasi apapun. Athrun tidak mengatakan alasan yang Cagalli utarakan benar atau salah. Pria itu malah hanya memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di bahu Cagalli.

"Aku pinjam bahumu sebentar saja, aku sangat mengantuk karena baru selesai mengatasi bug dini hari tadi. Aku sedikit lelah." Cagalli hanya mengeluarkan kekehan palsu sambil menepuk-nepuk punggung Athrun dengan ragu. Jantungnya berdebar keras karena kedekatan posisi mereka. Ia tidak tahu. Ia merasa cemas dan takut. Ia memang merasa dirinya tidak peka, tapi berbeda jika ada orang menunjukkan rasa suka padanya, ia pasti was was, walaupun belum tentu orang itu memang benar memiliki perasaan padanya. Jika yang memiliki perasaan itu bukan Athrun, Cagalli pasti tidak akan secemas itu, tapi masalahnya ini Athrun.

Selama Athrun memejamkan matanya, Cagalli berpikir keras. Melihat sikap Athrun selama ini, ia tidak pernah merasa pria itu menyukainya. Apa mungkin ia berpikir yang tidak-tidak seperti ini karena kata-kata Shiho? Sepertinya hal itu mungkin. Sebenarnya sejak mendengar ramalan itu, ia jadi sering berpikir yang tidak-tidak dengan perlakuan Athrun padanya. Padahal mungkin itu perlakuan teman seperti biasanya. Benar, Cagalli menghela nafas, menenangkan dirinya. Ia memikirkan alasan-alasan perlakuan Athrun padanya. Ia menyimpulkam bahwa, pertama, Athrun pasti kesal pada Rusty karena takut sandiwara mereka terbongkar. Kedua, Athrun bersikap sangat baik padanya bukan karena perasaan suka tapi karena Athrun sudah menganggapnya teman. Ya, benar. Pasti karena itu, Cagalli meyakinkan dirinya. Tidak. Ia tidak ingin berpikir macam-macam lagi.

Setelah beberapa menit berlalu, Athrun pun bangun dan mengajak Cagalli kembali. Ia berkata bahwa ia tidak ingin teman-teman Cagalli curiga. Cagalli pun mengangguk, merasa lebih tenang dengan kesimpulan yang sudah ia tarik sendiri.


Sampai di depan wahana pertunjukkan sirkus, Athrun melihat Rusty dan adiknya masih ada di sana. Tidak ingin menimbulkan masalah lagi, Athrun bertekad menyembunyikan rasa kesalnya kali ini. Ia pun bersikap sedikit lebih cair, tidak seperti saat makan mereka tadi.

Seusai pertunjukkan sirkus, Rusty dan adiknya tidak langsung pamit tapi malah terus mengikuti mereka. Kata Maki, ia masih butuh membalas pesan chat temannya. Mereka jadi menghindari wahana-wahana ekstrim, yang kebetulan sama dengan tujuan Shiho. Rusty kali ini tidak menolak, ia mengikuti apa yang diinginkan adiknya. Walau Athrun tidak suka dengan itu, dia tetap berusaha sebaik mungkin menahan kekesalannya.

Selama perjalanan itu, Athrun merasa bukannya Rusty lebih menjauhi Cagalli, tapi ia semakin merajalela. Seperti membelikan Cagalli soda dingin. Lalu meminjamkan topinya agar tidak kepanasan. Ya, walaupun dia juga basa-basi dengan menawarkan Shiho, tapi Athrun bisa melihat ekspresi mata Rusty yang berbeda setiap ia memandang Cagalli. Rusty bahkan memilih posisi di dekat Cagalli saat duduk atau berjalan. Tapi kali ini Athrun sedikit lebih lega, karena sesuai janji, Cagalli lebih aktif merespon Rusty dengan penolakan yang halus. Cagalli juga lebih sering mengajak Athrun bicara ketika Rusty ada bersama mereka, dengan tangan mereka masih bertaut satu sama lain. Seakan menunjukkan pada Athrun bahwa Cagalli akan menepati janjinya untuk berusaha sebaik mungkin.

Menjelang petang, mereka semua menaiki wahana terakhir yang belum sempat mereka coba yaitu terowongan cinta. Cagalli malas sekali ketika diajak naik, alasannya wahana itu hanya cocok untuk remaja bukan orang dewasa seperti mereka. Tapi bukan Shiho Jule namanya jika ia menyerah begitu saja, perempuan yang bahkan bisa menaklukan pria sekeras batu seperti Yzak. Shiho membeberkan seribu satu alasan menaiki wahana itu, yang salah satunya adalah challenge yang diadakan khusus di wahana ini. Jika terpilih dan menang, mereka akan mendapatkan hadiah yang sangat menarik.

"Bagus-bagus kan hadiahnya Cags? Tuh lihat!" Shiho menunjuk ke layar kecil 24 inch yang menggantung tak jauh dari antrian yang sangat mengular. "Wow! Bahkan ada handphone couple keluaran terbaru! Merk ternama pula! Eh ada laptop juga! Wow sekali!" seru Shiho. "Katanya setiap hari kesempatannya hanya dikeluarkan 10 kali, yah tapi sangat random sih, hadiah utamanya tidak dikeluarkan setiap hari. Lebih sering hadiah hiburan. Tapiiiii.. tetap saja, kalau kita tidak mencoba kita tidak akan tahu 'kan?" Shiho mengedip-ngedipkan matanya dengan cantik.

"Kau lihat daftar itu 'kan? Kemungkinan kita terpilih kecil sekali. Selain itu kita tidak tahu apa isi tantangannya!" Cagalli berargumen sambil menunjuk ke layar di sekitar tempat antri. Di layar itu ditunjukkan beberapa orang yang mendapat tantangan, yang berhasil dan yang tidak.

"Jangan pesimis dong! Kita kan belum mencobanya, Cags." Shiho tak mau kalah.

"Haaah…" Cagalli menghela napas berat, lelah menghadap keinginan sahabatnya yang sedang hamil itu. "Kalau begitu kau dan Yzak saja yang masuk, aku akan menunggu disini."

"Jangan begitu dong, kita kan kencan bareng, double date! Masa aku masuk berdua saja dengan Yzak?!"

"Tapi wahana itu lebih cocok untuk remaja!"

"Cags, ayolah demi aku? Demi calon keponakanmu? Hmm?" Akhirnya Shiho membujuk dengan jurus andalannya.

"Kau selalu menggunakan kartu itu!" Cagalli geram tapi akhirnya ia menyerah dan menarik Athrun untuk ikut antri dengan sedikit kesal. Rusty tadinya tidak mau ikut, tapi lagi-lagi Maki memaksanya. Akhirnya Rusty dan Maki pun ikut mengantri di belakang Cagalli dan Athrun.

Terowongan cinta, wahana yang berbentuk gua besar yang panjang dengan air menggenang di bawahnya. Orang-orang naik ke atas perahu-perahu kecil yang hanya muat dua orang atau dengan kata lain dengan pasangannya untuk menyusuri terowongan itu. Di kanan kiri jalur perahu, terdapat layar-layar sangat besar yang menyajikan pemandangan yang indah. Di sekeliling layar, terdapat pepohonan dan berbagai tanaman bunga palsu yang cantik untuk menghiasi terowongan. Konsepnya, mereka yang naik wahana ini akan merasa seperti sedang berkencan dengan view yang sangat indah sambil ditemani lagu-lagu romantis yang mendayu-dayu. Di tengah perjalanan, jika mereka beruntung, mereka bisa mengikuti tantangan untuk mendapatkan hadiah.

Cring Cring Cring

Selamat! Anda berdua berkesempatan mendapatkan tantangan hadiah!

Apakah kalian akan menerimanya?

Monitor di atas perahu Cagalli dan Athrun berkedap kedip, menunjukkan mereka terpilih untuk mendapatkan tantangan. Di dekat monitor ada beberapa tombol diantaranya bertuliskan Ya dan Tidak. Cagalli dan Athrun saling bertatapan.

"Tidak ada salahnya kita coba?" tanya Cagalli ragu-ragu pada Athrun. Athrun mengangguk setuju. Cagalli pun menekan tombol Ya.

Selamat!

Anda berdua berkesempatan mendapatkan smartphone couple tipe A533 SAMSANG!

Tantangannya adalah saling mencium bagian wajah pasangan anda selain di bibir dan kami menampilkannya di layar terowongan cinta!

Smartphone tipe terbaru dari merk yang ternama, siapa yang tidak tergiur? Kalau mereka pasangan sesungguhnya pasti tidak akan menolak. Hanya saja mereka bukan pasangan sungguhan.

"Ayo kita lakukan." ajak Athrun

"A-apa?! Kau gila!?"

"Ini hal yang mudah 'kan? Hanya saling mencium? Aku bisa mencium keningmu seperti saat pernikahan kita dulu. Kau bisa mencium pipiku seperti salam perpisahan biasa."

'Mudah? Memang dituliskan sih kalau tidak boleh di bagian bibir. Kalau di pipi atau kening saja sih memang mudah, tapi tetap saja..." Cagalli bimbang.

"Ta-tapi kan kita bisa memilih untuk tidak melakukannya!"

"Tapi kita akan ketahuan oleh Shiho. Di layar tempat dekat antrean ada rekaman orang-orang yang gagal dan berhasil mendapatkan tantangan. Shiho sangat antusias dengan hadiahnya, pasti dia akan bertanya-tanya kenapa kita tidak menerima tantangannya? Apalagi ini termasuk tantangan yang mudah untuk pasangan suami istri seperti kita."

Athrun benar, tadi Cagalli sempat melihatnya, tapi sejak tadi ia lihat tidak ada tantangan yang mencium pasangannya. Apakah itu karena hadiah mereka cukup bagus? Cagalli berpikir keras, jika mereka tidak melakukannya pasti Shiho akan berkomentar, padahal tadi dia sudah berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu sandiwara mereka.

"Baiklah, kau bisa mencium pipiku seperti salam perpisahan di luar negeri." Cagalli berkata sambil menutup matanya dan menyodorkan pipinya pada Athrun. Setelahnya ia yang akan mencium pipi Athrun karena bunyi tantangannya adalah saling mencium. Hatinya berdegup kencang, mereka hanya berteman, ini hanya ciuman yang mudah yang orang-orang luar negeri sering lakukan. ucap Cagalli dalam hati. Sudah lama ia tidak dicium oleh laki-laki di luar keluarganya. Kira sering mencium kening dan pipinya waktu kecil. Lalu, selain Kira hanya ada Halsten. Ayah tirinya tidak pernah memberikan kasih sayang semacam itu. Mantan-mantannya pun tidak pernah ia ijinkan untuk menciumnya. Selain itu tidak ada lagi.

Sudah beberapa detik tapi Athrun masih belum mencium pipinya. Cagalli menoleh untuk memastikan apa yang sedang Athrun lakukan. Cup. Bibir mereka bertemu. Athrun memejamkan matanya sambil mencium bibirnya dengan lembut. Mata Cagalli membulat, ia sangat terkejut. Athrun sadar dia bukan mencium pipi Cagalli melainkan bagian yang lain. Athrun membuka matanya pelan-pelan dan buru-buru menjauhkan bibirnya.


"Kalian berdua bagaimana sih, masa disuruh jangan ciuman di bagian bibir, malah melakukannya seperti itu! Itu 'kan sebenarnya mudah!" Shiho berteriak gemas saat melihat tantangan sahabatnya ditayangkan di layar terowongan, tapi mereka gagal. Sebenarnya Shiho sangat menyayangkan karena Cagalli dan Athrun tidak mendapatkan hadiahmya, tapi ada sedikit perasaan lega di hatinya. Ia sempat mengira bahwa sahabatnya hanya pura-pura menikah, karena kalau dipikirkan, pernikahan mereka berdua sangat tidak logis. Jika Cagalli ingin menikah, akan lebih cocok dengan Ahmed yang terakhir kali menjadi pacarnya. Namun, melihat mereka sepanjang hari, ternyata kekhawatirannya mungkin berlebihan. Mungkin hanya Cagalli belum sadar, pikirnya. Di sisi lain Shiho merasakan Rusty yang tadinya banyak bicara menjadi lebih pendiam setelah mereka turun dari terowongan cinta. Sebenarnya dia iba melihat Rusty, tapi bagaimanapun juga perasaan tidak bisa dipaksakan. Mungkin setelah ini ia harus menjodohkan Rusty dengan temannya yang lain.

Hari semakin gelap. Yzak mengajak Shiho untuk pulang lebih dulu, karena ia khawatir istrinya kelelahan. Padahal masih ada festival kembang api malam itu, tapi Shiho yang sudah cukup lelah mengikuti saran suaminya. Rusty dan Maki pun pamit, Maki berkata bahwa ia ingin menaiki berbagai wahana yang belum ia coba. Kali ini, gawai pintarnya sudah tidak lagi mendistraksinya.

"Kalau begitu aku dan Yzak berpisah disini ya. Sampai jumpa lagi!" Shiho mengucapkan salam perpisahannya. Rusty dan Maki juga menjauh setelah berpamitan. Meninggalkan Athrun dan Cagalli berdua yang masih terlihat sedikit linglung.

"Kau juga mau pulang sekarang?" tanya Athrun, ini pertama kali Athrun mengajak Cagalli berbicara sejak kejadian tadi.

"Oke." Jawab Cagalli singkat. Sama sekali tidak terpikir olehnya tentang festival kembang api, karena pikirannya sedang dipenuhi dengan hal lain.

Keduanya menutup mulut rapat-rapat sambil berjalan menuju tempat parkir mobil mereka. Kepala keduanya seperti penuh tapi tidak ada satupun yang berhasil keluar dari mulut mereka. Mereka terus berkendara sampai di rumah tanpa berkata satu kata apapun. Sesampainya di rumah mereka saling mengucapkan selamat malam dengan singkat dan langsung masuk ke kamar masing-masing.


Rasanya Cagalli ingin berteriak sekencang-kencangnya. Ada apa dengan pria itu? Kemarin Athrun tidak sengaja mencium tengkuknya, lalu hari ini tidak sengaja juga mencium bibirnya! Seharusnya ia marah bukan? Tapi kenapa dia hanya diam saja tadi? Tapi bagaimana ia bisa marah jika jantungnya saja tidak berhenti berdebar kencang sejak mereka berciuman sampai sekarang. Gila gila gila, ia tidak bisa berhenti memikirkannya. Bersentuhan dengan Athrun saja ia sudah salah tingkah, tapi tadi malah bibir mereka yang bertemu. Cagalli memejamkan matanya, memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Ia tahu sebenarnya kenapa ia tidak marah. Tapi ia takut, ia sangat takut, ia tidak mau, ia tidak ingin mengakui bahwa pintu hati yang selama ini sudah dia kunci dengan sangat rapat, kini mulai terbuka sedikit demi sedikit.


Athrun tidak bisa tidur, bagaimana bisa ia tidur setelah apa yang terjadi. Ia tidak sengaja. Ia sedang mempersiapkan diri mencium pipi Cagalli, dia butuh waktu, tapi tidak disangka Cagalli malah menoleh di saat ia mulai maju. Bibir itu tipis namun terasa sangat manis. Walaupun hanya sebentar, Athrun sulit melupakannya. Ia ingin merasakannya lagi. Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak ingin melepaskan Cagalli, tetapi ia juga tidak mau memaksakan perasaannya karena ia tidak ingin Cagalli kembali trauma seperti masa lalunya. Athrun mencoba memejamkan matanya. Ia harus tidur, ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Ia kelelahan. Ia bertekad akan mulai mencari cara besok jika ia memang benar-benar ingin terus bersama Cagalli. Untuk itu ia memaksakan dirinya untuk tidur, dan memblokir semua pikirannya tentang Cagalli hari ini.


A.N : Halo? Masih adakah yang membaca ini? Maaf ya aku lama banget update, tapi sekali lagi aku selalu usahain lanjutin walaupun aku tulis sedikit demi sedikit pas aku ada ide atau sedang lowong. Thanks buat yang udah selalu review dan baca, I really appreciate it.

Shinku : nggak kok ga ada chara baru, Maki disini hanya cameo. Hehe. Thank you karena masih baca drakor ini ya 3