The Commitment

Genre : Drama/Romance/Family

Chapter 20 : Nyaman

WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.


Rutinitas yang selalu Cagalli lakukan ketika bangun tidur di akhir pekan adalah mengecek ponselnya baru kemudian mandi dan makan pagi, atau lebih tepatnya makan menjelang siang, karena ia selalu bangun siang pada hari Sabtu dan Minggu, kecuali memang ada janji atau jadwal sebelumnya. Minggu pagi ini pun tidak jauh berbeda.

Cagalli terbangun ketika jam sudah hampir menuju pukul 11 siang. Setelah terbangun, ia langsung mengambil ponselnya dari atas meja kecil di sebelah tempat tidur, membenarkan posisi duduknya dan mulai menelusuri pesan yang masuk ke ponselnya satu persatu.

Shinn : Athha, kau tahu tidak?! Masa pertandingan final bakal diundur?!

'Diundur?' Cagalli bertanya dalam hati. Dia belum mendengar tentang kabar itu. Lalu dilihatnya ada pesan dari Sai, yang kemungkinan besar isi pesannya ada kaitannya dengan apa yang dikatakan Shinn. Dibukanya segera pesan dari Sai tanpa membalas pesan Shinn.

Sai : [Pengumuman] Untuk seluruh peserta road race yang masuk ke babak final, karena satu dan lain hal, pertandingan final tahun ini akan diundur sampai waktu yang belum ditentukan.

'Wah ini sih payah', Cagalli mengutarakan kekecewaannya dalam hati. 'Sebenarnya ada masalah apa dengan pertandingan Road Race tahun ini? Kenapa bisa sampai diundur begini?' Jujur sebenarnya Cagalli sudah sangat rindu arena balap dan sudah tidak sabar ingin balapan lagi. Ia jadi ingin tahu apa yang menjadi alasan pertandingan mereka diundur. Awalnya ia ingin langsung bertanya pada Sai, namun Cagalli mengurungkan niatnya, mengingat pria itu pernah tertarik padanya. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas. Ia akan menunggu berita dari Shinn saja, biasanya anak itu rajin mencari informasi. Ia menutup pesan dari Sai dan menuju pesan selanjutnya. Dengan membaca nama pengirimnya, tiba-tiba saja jantung Cagalli berdegup sangat kencang, memori hari kemarin seketika terulang kembali di kepalanya. Mengingatkan apa yang sempat ia lupakan saat tertidur tadi malam.

Athrun : Cags, aku membuat spaghetti tadi pagi. Masih ada sisa dan kusimpan di kulkas, kau bisa menghangatkannya untuk sarapan. Maaf, aku tidak sempat memberitahumu kemarin, hari ini aku akan pergi sampai malam karena ada rapat dengan Nicol dan Dearka. Tidak perlu menungguku untuk makan malam.

Tidak tahu kenapa Cagalli merasa isi pesan sederhana itu membuat perasaannya terasa hangat. Memang semenjak kejadian di rumah orang tua Cagalli waktu itu, hubungannya dengan Athrun menjadi seperti ini. Athrun pasti mengabari jika ia tidak pulang atau pulang terlambat. Begitu juga sebaliknya, Cagalli selalu mengabari Athrun jika ia ada lembur atau memilih pulang ke apartemennya. Perasaan hangat ini mungkin muncul karena Cagalli jadi merasa memiliki seseorang lagi setelah sekian lama ia meninggalkan rumah orang tuanya. Bukan berarti Kira tidak pernah menghubunginya. Kakak laki-lakinya itu cukup rajin menanyai kabarnya tapi tetap saja kesibukan pekerjaan Kira ditambah dengan keluarga kecilnya membuat Kira sangat jarang menemuinya. Sekarang apalagi ketika Cagalli sudah menikah, Kira hanya mengunjunginya di hari penting saja. Kehadiran Athrun sekarang seperti seseorang yang datang menggantikan kehangatan keluarga yang sudah lama tidak Cagalli rasakan.

Cagalli menyentuh bibirnya sambil memejamkan mata, apa yang harus ia lakukan? Ia merasa bingung. Ia teringat lagi dengan kejadian kemarin. Pernyataan Athrun yang ambigu dan ciuman singkat mereka. Walau hanya sebentar tapi masih terasa sangat jelas di memorinya. Cagalli ingat, sebelumnya Athrun juga pernah mengatakan hal ambigu seperti kemarin. Athrun membeberkan alasannya memilih Cagalli sebagai istri kontraknya. Saat itu Cagalli juga merasa ada yang janggal dengan pernyataan Athrun, sehingga membuat perasaannya tidak nyaman. Kalau ramalan waktu itu benar, sepertinya memang benar Athrun memiliki perasaan padanya. Tapi.. Ada kata tapi yang besar di benak Cagalli. Kalau menurut kontrak mereka, sudah jelas bahwa kontrak mereka bisa dibatalkan jika memang ada yang memiliki perasaan kepada yang lainnya dan dengan ini, Cagalli bisa meminta Athrun segera menceraikannya dan mengembalikan kartu identitas Shinn, karena Athrun sudah melanggar kontraknya. Cagalli juga sudah seharusnya menjaga jarak dengan Athrun, seperti apa yang sudah ia lakukan pada pria-pria yang menjadi mantannya. Ketika mereka mulai mendekat pada Cagalli dengan hati, saat itulah Cagalli menjauh dan memisahkan diri dari mereka. Tapi kenapa? Kenapa rasanya sulit melakukan hal itu dengan Athrun? Cagalli sama sekali tidak ingin ada yang berubah dari hubungannya dengan Athrun. Ia sudah nyaman. Ia tahu ia sudah mulai membuka hatinya untuk Athrun, entah itu karena perasaan sebagai wanita pada seorang pria atau sebatas persahabatan, Cagalli tidak yakin. Apapun itu, untuk saat ini Cagalli masih ingin hubungan mereka tetap seperti sekarang.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya selama Athrun tidak mengatakan apapun tentang perasaannya secara gamblang, Cagalli seharusnya tidak perlu ambil pusing, toh itu masih menjadi spekulasinya sendiri. Hanya saja, ada hal lain. Ada hal lain yang membuat Cagalli was-was, di lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya ia tahu rasa nyaman yang ia rasakan ini berbahaya.

Melihat sekali lagi pesan Athrun padanya. Isi pesan pria itu normal, seakan tidak terjadi apa-apa kemarin. Cagalli menghela nafasnya lalu memutuskan untuk mengetik balasan.

Cagalli: : Oke. Selamat rapat Ath.

Cagalli menambahkan emoticon senyum di belakang kalimatnya, namun kemudian dia buru-buru menghapusnya dan menggantinya dengan dua acungan jempol. Untuk sekarang Cagalli memutuskan akan mengesampingkan rasa was-wasnya dan bersikap normal terlebih dulu.

Shiho : Kapan-kapan kita double date lagi ya? Aku senang sekali kemarin!

Cagalli : Apa sih yang nggak buat sahabatku?

Drrrt drrrrt

Bunyi getar ponsel yang mengabarkan ada pesan baru masuk. Sepertinya Shiho sedang online, jadi ia langsung membaca dan membalas chat dari Cagalli.

Shiho : Cih! Jangan berlagak manis, kalau aku tidak meminta Athrun kau tidak akan mengabulkan permintaanku 'kan?

Cagalli : Hahahaha, maaf maaf.

Cagalli tertawa kecil, Shiho tidak salah. Jika bukan karena Athrun, ia memang tidak akan menyetujui kencan ganda mereka. Setelah itu tidak ada balasan lagi dari Shiho dan Cagalli melihat pesan terakhir yang belum dibukanya. Itu pesan dari ibunya.

Sejak pertemuan terakhir mereka, Cagalli memutuskan hubungan dengan ibunya. Ia tidak mengangkat telpon dan tidak membalas pesan Ibunya sama sekali. Sampai-sampai Via mencoba menghubunginya lewat Athrun beberapa kali. Untungnya Athrun sangat pengertian dengan tidak meminta Cagalli untuk menghubungi Via. Athrun malah membantunya mencari alasan untuk menghadapi telepon dari Ibu kandung Cagalli itu. Athrun hanya pernah bilang, "Hubungi saja ibumu jika kau sudah siap, jangan dipaksakan. Aku akan bantu sebisaku." Cagalli sangat berterima kasih pada Athrun yang sangat memahami perasaannya. Bahkan Athrun sepertinya bisa menenangkan Via, karena selama beberapa waktu, Via berhenti menghubunginya. Baru hari ini, sang ibu mulai menghubunginya kembali, tapi Cagalli masih belum ada niat untuk berbicara lagi dengan ibunya. Ia masih belum siap, ia merasa ibunya sama sekali tidak mengerti kesedihan apa yang dilaluinya dan ia takut dengan menghadapi ibunya akan semakin mengorek luka lama yang sudah ia coba simpan dalam-dalam selama ini.

Setelah selesai membaca semua pesan di ponselnya, Cagalli bergegas mandi dan setelahnya pergi ke ruang makan, mencari spaghetti di dalam kulkas yang sudah dimasak oleh Athrun. Cagalli menghangatkannya di microwave sebentar lalu menyantapnya. Enak sekali, rasanya mirip dengan hidangan pasta di restoran, pikir Cagalli. Setelah beberapa kali memakan masakan Athrun, Cagalli akui, berbeda dengannya, suami kontraknya itu memang pandai memasak dan ini adalah salah satu keuntungan dari tinggal bersama Athrun.

Setelah kenyang, Cagalli kembali ke kamar mengambil laptopnya dan kembali lagi ke ruang TV di lantai bawah. Ia akan mengerjakan sisa dua artikel yang belum sempat dia periksa untuk besok pagi. Ia juga berencana mencicil beberapa tugas kantor sebagai persiapan cutinya bulan depan. Cagalli menyalakan TV sembari duduk di lantai. Bukan karena dia mau menonton, tapi ia hanya ingin suara televisi menemaninya bekerja.

Setelah selesai mengerjakan semua tugas kantornya, hari sudah mulai petang. Cagalli kembali lagi ke dapur karena perutnya sudah mulai keroncongan lagi walaupun belum saatnya makan malam. Ia memeriksa kulkas, mencari-cari apa yang sekiranya bisa ia makan. Ia menemukan sebuah melon dan beberapa buah apel yang dikirimkan Lenore beberapa hari yang lalu. Ia pun memutuskan untuk memakan buah-buah itu sebelum terlewat matang. Cagalli mengeluarkan dan memotong dadu buah-buahan itu. Menambahkan french yoghurt tanpa rasa dan sedikit madu di atasnya. Cagalli menyantap salad buah itu sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Jika ia hanya berdiam diri di kamar, pasti ia akan kepikiran lagi tentang Athrun. Menghindari itu, Cagalli akhirnya memutuskan untuk menonton film saja. Toh Athrun akan pulang terlambat, pikirnya.

Selesai merapikan bekas makannya, Cagalli kembali ke ruang TV, membereskan laptop di atas meja. Kini ia duduk di atas sofa di depan televisi, membuka aplikasi menonton dan mencari kira-kira film apa yang seru. Cagalli akhirnya menemukan sebuah judul film lama yang cukup populer tapi belum pernah ia tonton sebelumnya. Shiho pernah merekomendasikan film ini, film bergenre keluarga. Judulnya My Sister Keep*r.


"Aku pulang." Athrun menutup dan mengunci pintu masuk ketika ia masuk. Tidak ada jawaban dari dalam, mungkin Cagalli ada di kamarnya, pikir Athrun. Namun aneh, ia mendengar suara isak tangis dari arah ruang tengah.

"Cags?" Athrun mengikuti arah sumber suara dan melihat Cagalli sedang meringkuk duduk di sofa dengan tisu di hidungnya. Mata wanita itu sedang fokus memperhatikan film yang sedang diputar di layar TV.

"Huhuhu… Kenapa kakaknya harus berpikir seperti itu? Padahal adiknya juga mau menolongnya.." Cagalli bergumam sambil terisak, sepertinya masih tidak menyadari kehadiran Athrun.

Pemandangan ini sedikit melegakan bagi Athrun. Sejak tadi pagi ia sangat khawatir, bahkan ketika rapat bersama Dearka dan Nicol pikirannya sulit sekali fokus. Ia terus memikirkan apa yang akan terjadi jika dirinya dan Cagalli bertemu lagi setelah kejadian kemarin. Ia tidak ingin mereka bersikap canggung, atau lebih parahnya Cagalli menjauhinya. Rasa khawatirnya sempat sedikit berkurang ketika membaca pesan balasan dari Cagalli tentang sarapan pagi tadi, tapi tetap saja ia tidak tenang. Namun, melihat Cagalli yang malah menonton film di ruang tengah, sepertinya ia tidak perlu khawatir. Gemas sekali rasanya melihat wanita pirang itu menangis sendirian karena menonton. Rasanya Athrun ingin sekali mencubit pipi gadis itu dan menghentikan tangisannya, tapi tentu saja hal itu tidak dilakukannya.

"Kalau kau menonton seserius itu, aku takut jika ada pencuri masuk kau tidak akan menyadarinya." Kini Athrun mengambil duduk di samping Cagalli, sehingga Cagalli mau tak mau menyadari kehadirannya.

"Hah? Ah eh kau sudah pulang? Kok cepat? Katanya pulang malam?" Cagalli yang kaget dengan kehadiran Athrun langsung menekan tombol pause di remote TV. Ia menjawab Athrun terbata sambil menyeka air matanya.

"Hal pentingnya sudah selesai dibicarakan. Hari ini ternyata Dearka ada janji dengan orang tuanya, jadi rapatnya diteruskan besok. Apa kau sudah makan malam?" Athrun merasa agak lapar, ia belum sempat makan malam karena ingin buru-buru pulang untuk memastikan situasi.

"Aku tadi membuat salad buah sih. Masih ada sisa, kau mau?" Cagalli menawarkan.

Athrun mengangguk sambil tersenyum. Ketika ia sudah hampir berdiri untuk mengambil salad buah yang disebutkan, Cagalli menghentikannya."Biar aku yang ambilkan!" Cagalli beranjak dari sofanya dan segera pergi menuju ruang makan, tidak lama ia kembali dengan sepiring salad buah yang tadi ia tawarkan pada Athrun.

"Terima kasih." Athrun tersenyum lembut pada Cagalli dan mengusap puncak kepalanya.


Cagalli buru-buru membalikkan badannya dan memalingkan pandangannya kembali ke televisi, sebelum ritme jantungnya yang sangat cepat terdengar oleh Athrun. 'Athrun benar-benar menyebalkan. Kenapa sih dia harus bersikap sok manis seperti itu? Padahal tadi aku sudah mulai tenang.' Cagalli menghela nafas lagi. Sebenarnya Cagalli hanya beralasan saja mengambilkan salad buah untuk Athrun, ia tadi butuh waktu untuk mengatur ekspresinya karena kemunculan Athrun yang tiba-tiba. Namun dengan senyuman Athrun yang lembut seperti itu, bagaimana ia bisa bersikap biasa saja? Menghela nafas, Cagalli mencoba memfokuskan pandangannya kembali ke televisi dan menekan tombol play, membiarkan Athrun menyantap salad buahnya dalam diam.

"Cags, kita pergi ke pulau Kaguya tanggal 3 'kan?" Athrun mengajaknya berbicara ketika makanan di piringnya sudah hampir habis. "Kalau tanggal 3, sepertinya aku tidak bisa pergi ke bandara bersamamu. Ada klien baru yang memintaku menemui mereka secara langsung hari itu. Kau bisa berangkat lebih dulu, nanti aku akan menyusul diantar Dearka." lanjut Athrun.

"Oke, tidak masalah. Kalau begitu aku akan berangkat langsung dari apartemen lamaku yang lebih dekat kantor." Cagalli menjawab tapi pandangannya masih ke arah TV.

"Kau naik apa?" tanya Athrun lagi.

"Hmm mungkin taksi? Kita 'kan akan pergi selama 2 minggu. Koperku lumayan besar kalau dibawa-bawa naik kereta bawah tanah." jelas Cagalli masih tidak memalingkan wajahnya dari televisi.

"Kau bisa menitipkan kopernya padaku." Athrun menawarkan.

"Hmm, baiklah." jawab Cagalli singkat. Mencoba mengakhiri percakapan mereka karena Cagalli masih belum bisa menatap langsung wajah Athrun.

"Walaupun kau berangkat sendiri, mohon jangan terlambat ya." Athrun menyeringai.

Kali ini Cagalli refleks mengarahkan pandangannya ke arah Athrun. Bisa-bisanya pria itu mengejeknya di saat seperti ini. Mata Cagalli mendelik, balasan kata-kata untuk Athrun sudah ada di ujung lidahnya, tapi tidak jadi ia katakan karena pandangannya langsung mengarah ke senyum Athrun dan ia jadi kepikiran dengan bibir yang menciumnya kemarin. Merasakan wajahnya yang memanas, Cagalli pun buru-buru memalingkannya. Menghindari tatapan Athrun yang sedang mengarah kepadanya. Canggung. Cagalli masih tidak tahu bagaimana kembali bersikap normal jika bertatapan langsung dengan Athrun. Cagalli sadar ia belum bisa bersikap biasa saja, mungkin ia harus segera kembali ke kamarnya dan menghindari Athrun untuk sementara waktu, menonton filmnya akan ia lanjutkan kapan-kapan.

"Err, Athrun aku dulua-" Sebelum Cagalli sempat mengutarakan alasan untuk pergi, Athrun menangkap bahunya dan memaksa Cagalli untuk berhadapan langsung dengannya.

"Cags, soal kemarin, aku minta maaf. Itu benar-benar tidak sengaja. Tolong jangan marah atau menghindariku." Athrun seperti membaca pikirannya, sepertinya pria itu menyadari sikap Cagalli yang sedari tadi menghindar dari menatapnya langsung. Wajah Athrun kini terlihat sendu, sama seperti dirinya. Athrun pasti merasa canggung juga dan tetapi pria itu berusaha bersikap normal.

"Aku tahu, aku tidak marah, hanya saja rasanya aneh. Jadi kalau bisa kita lupakan saja ya dan tidak perlu membicarakannya lagi." Cagalli menunduk menyembunyikan wajah merahnya. Ia sedikit merasa bersalah, karena sepertinya Athrun sangat berusaha agar mereka tidak bersikap kaku, tapi ia malah ingin menghindari Athrun. Padahal Cagalli juga percaya bahwa kejadian kemarin itu benar-benar tidak disengaja. Hening. Athrun hanya diam tidak menjawabnya. Untuk beberapa saat hanya suara dari film yang terdengar di ruang tengah itu.

"Kau tahu tidak pertandingan final road race diundur?" Cagalli kembali mendongak dan mencoba menatap Athrun, menghilangkan kesenyapan di antara mereka. Kali ini, ia tidak menghindar lagi. Athrun tersenyum kecil, ia pun menanggapi pertanyaan Cagalli. Ia mengatakan bahwa ia juga mendapatkan pesan dari Sai. Athrun mengatakan bahwa sepertinya saat ini urusan perizinan untuk pertandingan balap semi profesional agak dipersulit. Pemerintah setempat mulai memintai dana yang besar untuk pertandingan, karena mereka melihat pasar road race semi profesional ini cukup diminati. Cagalli pun mengangguk-angguk setuju, mungkin benar apa yang dikatakan Athrun. Tapi Cagalli tidak terlalu peduli tentang itu sekarang, karena yang penting mereka tidak lagi membicarakan tentang kejadian kemarin dan kecanggungan di antara mereka sepenuhnya hilang.

Setelah itu mereka pindah ke topik berikutnya dan berikutnya. Mencoba melupakan kejadian kemarin sepenuhnya. Hari Minggu itu mereka berdua lalui dengan baik. Akhirnya tanpa insiden apapun, seperti hari normal mereka biasanya. Semua aman terkendali. Cagalli berpura-pura melupakan apa yang sudah terjadi pada kencan ganda mereka kemarin. Athrun pun sepertinya akan mengikuti permainan Cagalli.


Senin paginya Athrun menawarkan tumpangan pada Cagalli. Ia bilang hari ini ia akan bertemu klien di daerah yang sama dengan kantor Cagalli. Awalnya Cagalli menolak tawaran Athrun karena kalau diantar artinya nanti ia harus pulang naik kereta atau taksi, namun Athrun mengatakan bahwa ia juga akan menjemput Cagalli jadi ia tidak perlu khawatir. Cagalli tidak tahu mengapa ia menerima ajakan Athrun tanpa banyak berdebat. Mungkin saja karena sebenarnya dijemput dengan mobil itu nyaman, jarak dari kantor Cagalli ke rumah mereka cukup jauh, jadi naik motor agak sedikit melelahkan. Sebenarnya Cagalli bisa saja memilih untuk terus tinggal di apartemennya, tapi-

"Cags, kau dipanggil bu Erica ke kantornya."

Kepala salah satu rekan kerjanya menyembul di balik pintu kantor Cagalli. Panggilan itu membuyarkan lamunannya.

"Ah, baik. Terima kasih infonya, Tolle."

Cagalli beranjak dari tempat duduknya dan dengan langkah tegap ia berjalan menuju kantor bosnya. Sambil melangkah, Cagalli mencoba memprediksi beberapa topik yang akan dibicarakan oleh bosnya. Mungkin saja tentang tugas yang baru ia submit tadi pagi, mungkin ada kesalahan yang ia tulis di salah satu artikel atau mungkin bu Erica memiliki tugas perjalanan ke luar sehingga lagi-lagi ia harus menggantikannya menangani beberapa pekerjaan selama bosnya itu tidak ada atau beberapa kemungkinan lainnya. Cagalli terus memikirkan berbagai kemungkinan sehingga tidak terasa ia sudah sampai di depan pintu kantor bosnya.

"Bu Erica, anda memanggil saya?"

"Ah, Cagalli. Masuk dan duduklah." Bu Erica Simmons, atasan Cagalli yang berusia awal 50-an itu masih terlihat segar dengan lipstik merahnya walau hari sudah cukup siang. Cagalli mengangguk dan mengambil tempat duduk di hadapan atasannya segera setelah menutup pintu ruangan itu.

"Apa kau tahu alasan kenapa aku memanggilmu?"

"Erm, apa ada artikel yang saya kerjakan bermasalah?" Cagalli menebak.

"Tidak. tidak." Erica tersenyum lebar sekali ke arahnya. "Sudah berapa tahun kau bekerja disini, Cagalli?" Erica bertanya sambil membolak-balik halaman buku yang terlihat seperti jurnal.

"Hmm. Sekitar 3 tahun?" Cagalli mengernyit, agak penasaran dengan arah pembicaraan mereka.

"Kau ingat tidak? Dulu awal-awal kau pernah memintaku untuk dimutasi karena kau tidak tahan dengan gangguan Yuuna?" Erica bertanya sambil tertawa kecil. Mungkin mengingat Cagalli yang di awal sangat terganggu dengan kehadiran Yuuna. Bahkan dulu sempat beberapa kali ia bersembunyi di kantor rekannya yang lain untuk menghindari Yuuna.

"Bukankah itu sudah lama sekali Bu? Sekarang saya sudah agak terbiasa walau masih merasa terganggu." Cagalli ikut tersenyum, kalau diingat lagi, dia memang sempat sangat takut dengan Yuuna.

"Hahaha, benarkah?" Kali ini Erica memandang serius ke arah Cagalli, "Kalau begitu, apa kau sekarang sudah benar-benar tidak punya keinginan untuk mutasi lagi?"


Cagalli cemas bukan main, pasalnya tinggal 10 menit lagi waktu keberangkatan pesawat mereka ke pulau Kaguya, namun Athrun belum menunjukkan batang hidungnya. Cagalli sudah menelpon Athrun berkali-kali, tapi tidak tersambung. Sepertinya ponselnya mati. Gate tempat keberangkatan pesawat Rouge Air RX451 sudah sepi. Tidak ada lagi penumpang yang mengantri. Sekali lagi petugas memanggil nama Athrun, namun sampai sekarang orang yang dipanggil masih belum menampakkan diri.

Getar ponsel Cagalli menghentikan rentetan pikirannya sejenak. Ia membaca dengan cepat siapa yang menelpon dan langsung mengangkatnya.

"Cags.." suara orang di seberang telepon terdengar parau. Tanpa pikir panjang, Cagalli pun buru-buru ke luar bandara, ia berlari menuju pangkalan taksi terdekat. Ada untungnya juga koper ia titipkan pada Athrun, jadi ia bisa bergerak dengan leluasa. Untungnya saat itu tidak ada antrian jadi ia langsung masuk ke taksi yang sedang standby.

"Pak, ke rumah sakit Olofath. Secepatnya ya."

Taksi itu pun langsung melaju mengikuti instruksi penumpangnya. Cagalli mencoba menahan air matanya yang sudah di ujung tanduk, tapi ia berjanji tidak akan menangis sebelum memastikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri.

"Pak lebih cepat ya."

"Ini sudah cepat nona, kalau lebih cepat dari ini, bisa-bisa kita berdua yang diantar ambulans ke rumah sakit."

Lelucon sang supir terdengar hambar bahkan terasa sedikit tidak sopan bagi Cagalli, padahal mungkin saja sang supir hanya melontarkan lelucon ringan untuk mencairkan suasana. Taksi itu terasa berjalan sangat lambat bagi Cagalli. Hitungan menit seperti hitungan jam. Cagalli mengalihkan pandangannya ke arah jalan, karena ia tidak ingin berpikiran macam-macam. Jalan yang dilewatinya sekarang adalah jalan yang cukup familiar, jalan yang sering ia lewati ketika ingin pulang ke apartemennya. Tangan Cagalli terkepal, matanya ia pejamkan. Di saat itu ia hanya bisa berharap.


ShinkuAlice : Makasih banyak ya Shinku reviewnyaa ^^ Maki gatau kok, cuma dia secara tidak sengaja membantu kakaknya hehehe

TenriSakura : Tenri makasih banyak reviewnya ^^, aduh maaf ya chapter ini lama banget up ya. sebenernya udah buat sampe akhir plotnya cuma ya gitu waktunya huhuhu, doakan bisa tamat ya.

Makasih buat yang masih baca dan review padahal cerita ini absurd bin ajaib. Baca review kalian selalu bikin aku semangat namatin. Maafkan jika banyak salah-salah kata yang banyak di cerita ini karena sesungguhnya pembuat fic ini hanya amatiran yang suka sama pair asucaga dan hanya banyak pengalaman menulis diari sendiri~~ see you next chap!