Thousand of Tears
Chapter 6 Melindungi
Kalau saja pemburu iblis itu datang setengah hari lebih cepat...
Mungkin keluarga Kamado masih bisa diselamatkan.
Shirazumi tidak harus melihat pemandangan neraka. Tidak akan ada darah oni yang mengalir dalam pembuluh darah Shirazumi dan Nezuko.
Kalau saja Tanjiro tidak menuruti Saburo dan tetap pulang pada malam itu, mungkin Tanjiro juga akan melihat pemandangan neraka itu. Mungkin dia akan mati seperti ibu dan adik-adiknya. Mungkin juga Tanjiro akan bernasib sama seperti Shirazumi dan Nezuko.
Kemarahan membara pada diri Tanjiro dan kakaknya. Untuk membuat kemarahan itu semakin pembara, sang pendekar pedang terus memprovokasinya.
Janji palsu tak dapat menyelamatkan dua saudara yang terkontaminasi darah oni. Itu tak akan bisa mengembalikan mereka, ataupun membalas dendam.
Dalam hati, laki-laki yang terus mengacungkan katana miliknya pada Nezuko, ingin membuat Tanjiro dan Shirazumi sadar. Mengubah amarah menjadi kekuatan bukanlah hal yang salah. Selama kemarahan itu bisa dikendalikan, kekuatan yang bisa didapatkan bukanlah hanya angan-angan.
Untuk terus mendorong Tanjiro dan Shirazumi, Laki-laki itu menusukkan katana miliknya pada Nezuko. Dorongan itu membangkitkan Shirazumi yang kemudian melemparkan batu yang ditemukannya di antara salju pada laki-laki itu. Berusaha agar tidak mengenai Nezuko.
Dengan cepat, Tanjiro bangkit dan berlari ke antara pohon, sedangkan Shirazumi masih terus melempari laki-laki itu dengan batu. Dengan salju yang tebal, tak banyak batu yang bisa dia temukan. Dengan mengumpulkan semua kekuatannya, Shirazumi ikut berlari sambil mengambil batu-batu yang dia temukan dan terus melemparnya.
Tiba-tiba Tanjiro juga ikut melemparkan batu. Diserang dengan lemparan batu dari dua arah, laki-laki itu terus menghindari lemparang batu itu. Ada yang dia hindari, ada juga yang ditangkisnya dengan menggunakan gagang katana yang dipegangnya.
Sambil bersembunyi di belakang pohon, Shirazumi memberikan isyarat pada Tanjiro untuk melemparkan kapak miliknya. Mereka bekerja sama. Shirazumi masih melempari batu, sedangkan Tanjiro melemparkan kapaknya ka atas, mengarah pada laki-laki itu.
Tanjiro dan Shirazumi kembali berpencar saat Shirazumi melemparkan batunya yang terakhir, sedangkan Tanjiro menerjang sambil menyembunyikan tangannya. Bertingkah seperti akan menyerang dengan kapak. Padahal, ditangannya dia tak membawa apapun.
Laki-laki itu marah. Dia memang memprovokasi Tanjiro untuk menggunakan amarahnya. Tapi bukan ini yang dia inginkan. Yang dilihatnya hanyalah serangan yang dikerahkan karena emosi belaka. Dia mengira kalau Tanjiro masih memegang kapaknya, sedangkan Shirazuki yang menyerang dari arah samping seperti hanya berlari ke arahnya dan siap merebut Nezuko.
Dengan gagang katana miliknya, dia memukul punggung Tanjiro yang sudah mendekati dirinya. kemudian dengan kakinya dia menendang perut Shirazumi yang hampir memegang Nezuko.
Tanjiro pingsan karena pukulan keras di punggungnya, sedangkan Shirazumi tersungkur di atas salju.
Ekspresi yang diperlihatkan oleh wajah Nezuko saat melihat kedua kakaknnya dikalahkan, tidak ada bedanya dengan ekspresi manusia yang khawatir. Gadis itu melihat ke arah kedua kakaknya tanpa mengeluarkan suara yang sejak tadi dikeluarkannya. Suara erangan tak jelas dari seorang oni.
Tiba-tiba laki-laki itu menyadari sesuatu. Tanjiro yang tak sadarkan diri dengan posisi telungkup, tidak membawa kapaknya. Saat itu juga dia melihat ke atas. Kapak yang tadi dipegang Tanjiro kini berputar-putar di udara. Beberapa detik kemudian. Kapak itu menancap di pohon. Hampir tepat dimana kepala laki-laki itu berada. Dia berhasil menghindari serangan fatal yang dapat dipastikan kalau tak sempat menghindar, kapak itu pasti akan menancap di wajahnya.
Laki-laki itu menyadari. Serangan yang dilancarkan oleh dua bersaudara ini bukanlah rencana acak. Mereka berniat untuk merebut Nezuko setelah Kapak itu melukaiku. Walaupun sebelum itu sang adik laki-laki akan kalah lebih dahulu. Kakak Perempuannya berperan sebagai pengalih perhatian agar dirinya tak menyadari kapak yang berputar-putar di udara.
Shirazumi merangkak mendekati Tanjiro. Laki-laki yang termenung sesaat itu tak menyadari kalau pegangannya atas Nezuko melonggar. Dengan kesempatan itu, Nezuko memberontak lagi dan menendang laki-laki itu hingga terpental beberapa meter.
Nezuko langsung menghampiri kedua kakaknya.
'Gawat. Dia akan dimakan'
Itulah yang terpikirkan laki-laki itu. Dirinya sadar kalau secepat apapun dia bergerak, tidak akan sempat.
Tapi tiba-tiba, Laki-laki itu terkejut. Apa yang dilihatnya sekarang, adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehnya. Bukannya menyerang, Nezuko menghalangi tubuh kedua kakaknya. Nezuko melindungi kedua kakaknya.
'Bukan Nezuko. Nezuko belum pernah makan manusia!'
Laki-laki itu teringat perkataan Tanjiro.
Shirazumi juga terkejut. Dengan kimono yang sudah terlihat berantakan, Nezuko melindunginya dan Tanjiro. Seperti seekor induk kucing yang melindungi anak-anaknya, Nezuko menggeram dengan memperlihatkan cakar dan taringnya. Kemudian Nezuko menerjang, berusaha menyerang laki-laki itu.
Melihat Nezuko yang seorang oni kini melindungi kedua kakaknya, Muncul perasaan ragu dalam diri laki-laki itu. Katana yang tadinya akan digunakan untuk memenggal Nezuko, dia sarungkan kembali. Dia bertaruh dengan instingnya untuk tidak membunuh Nezuko sekarang.
Dengan menggunakan tangan kosong, laki-laki itu memukul bagian leher Nezuko hingga Nezuko pingsan. Nezuko yang baru semalam berubah jadi oni, belum bisa menggunakan kekuatan oni miliknya secara penuh.
"NEZUKO!"
Teriak Shirazumi melihat adik perempuannya kehilangan kesadaran dan terjatuh di atas salju.
Laki-laki itu kini mendekati Shirazumi yang sedang berusaha membangunkan Tanjiro.
"Manusia yang punya kekebalan tinggi atas darah oni itu sangatlah jarang. Kau bisa mempertahankan kesadaranmu layaknya manusia. Tapi kau yang sekarang bukan manusia. manusia tak bisa menyembuhkan luka parah dalam waktu semalam. Kau dan adimu itu kini aman karena tak ada cahaya matahari. Kalau sampai kena cahaya matahari, kalian akan jadi abu".
Ucap laki-laki itu dengan dingin seperti saat mereka baru bertemu.
"Tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali dan membawa sesuatu untuk adk perempuanmu. Ingat, jangan pergi kemana-mana termasuk dua adikmu itu. Kalau tidak kupenggal kalian!"
Ucap laki-laki itu dingin. Mendengar itu membuat Shirazumi merinding.
Sebelum Laki-laki itu pergi, Shirazumi berkata padanya.
"Umm... Terima kasih... Tidak membunuh adikku... Umm... Nama, Boleh kutanya namamu?"
"Giyuu. Tomioka Giyuu" Jawab laki-laki itu sebelum akhirnya menghilang dengan gerakan yang sangat cepat.
Shirazumi melihat adiknya yang hanya menggunakan kimono tidur. Shirazumi melihat haori yang tadi dipakaikan pada Nezuko tergeletak tidak jauh dari tempat mereka, hampir setengah bagiannya tertutup salju.
Shirazumi bangun dan mengambil haori itu lalu memakaikannya pada Nezuko. Shirazumi menuruti laki-laki yang kini sudah diketahui namanya adalah Tomioka Giyuu untuk tidak pergi kemana-mana. Tidak mungkin Shirazumi akan meninggalkan kedua adiknya ini. Dua anggota keluarganya yang tersisa.
Shirazumi terus memandangi kedua adiknya yang tengah tak sadarkan diri.
Sambil menahan air matanya, Shirazumi memegang masing-masing sebal tangan kedua adiknya. Ucapan maaf, berkali-kali dia ucapkan walaupun Tanjiro dan Nezuko tak bisa mendengarnya.
Walaupun ia tak bersalah. Walaupun dirinya sendiri juga korban.
Tugas orang tua adalah melindungi anak-anaknya.
Tugas seorang kakak adalah melindungi adik-adiknya.
Bukan berarti seorang anak tak bisa melindungi orang tuanya.
Bukan berarti seorang adik tak bisa melindungi kakak-kakaknya.
Semua saling melindungi, saling menyayangi.
itulah keluarga.
TBC
Yui: Akhirnya ada yang review. Hatiku berbunga-bunga bacanya ^_^ . Makin semangat nih :D
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
